Monday, April 18, 2022

Profesi Terhebat yang Tak Pernah Diimpikan

Profesi Terhebat yang Tak Pernah Diimpikan

Sharing By Rey - Judulnya kayak surga yang tak dirindukan ya, tapi sebenarnya ada kemiripan di dalamnya, bahkan bisa juga diganti dengan judul tersebut, Surga yang Tak Lagi Diimpikan Wanita Zaman Now.

Kok bisa sih, emang sehebat apa profesi tersebut, sehingga bisa dikaitkan dengan surga, namun tak lagi diimpikan?

Ialah, profesi ibu rumah tangga.

Zaman sekarang, sepertinya jarang banget kita bisa menemukan seorang ibu rumah tangga yang benar-benar menikmati dengan bahagia profesi tersebut.

Meskipun pada kenyataannya, makin banyak wanita yang akhirnya mundur dari karirnya, dan memilih jadi ibu rumah tangga, di rumah saja membersamai anak-anak, tapi kebanyakan wanita yang menjadi ibu rumah tangga tersebut, tak benar-benar menikmati dan fokus untuk itu.

Kebanyakan masih membagi fokusnya untuk hal lain, bahkan tidak jarang karena fokus terbagi, terjadilah raga di dekat anak, pikiran di luar sana.

Dan begitulah, meski ada ibunya di rumah, anak-anak gagal mendapatkan perhatian secara penuh, karena ibunya juga punya kesibukan lain, yang harus dikerjakan secara profesional, meski dari rumah saja.

Ebentar, sapa tuh yang kayak gitu, Rey?
Ya sapa lagi kalau bukan si Mamak Rey ini, hahaha.


Ibu Rumah Tangga adalah Profesi Terhebat Sejak Dahulu Kala


Saya sedang membaca, eh mendengarkan bacaan di Storytel, sebuah aplikasi yang akhir-akhir ini banyak direview teman-teman blogger.

Si Rey nggak dapat job kerja sama aplikasi tersebut, tapi jadinya teracuni sendiri karena membaca tulisan teman-teman lainnya, hahaha.

Dan begitulah, saya membaca, eh salah lagi, mendengar!
Sebuah buku berjudul Ayah, yang bercerita tentang kisah Buya Hamka, yang ditulis oleh anaknya, Irfan Hamka.

Buya Hamka dan anak istrinya
Source: wikipedia

Meskipun buku itu, mostly bercerita tentang Buya Hamka, tapi saya malah fokus ke ibunya, Sitti Raham, wanita luar biasa yang mendampingi Buya Hamka sejak kehidupan mereka masih dipenuhi kesulitan.

Kita semua pasti tahu, bagaimana hebatnya Buya Hamka, bagaimana pula hebatnya sang Buya di mata anak-anaknya.
Tapi yang jarang kita sadari adalah, bagaimana bisa seorang ayah terlihat hebat di mata anaknya, sementara kebanyakan orang hebat itu, pasti sibuk di luar rumah.

Buya Hamka, juga presiden RI pertama, Soekarno adalah sosok-sosok hebat, bukan hanya di mata masyarakat, tapi juga di mata anak-anaknya.

Dan semua hal tersebut, tak akan mungkin bisa terjadi, tanpa adanya sosok wanita tangguh di belakangnya, sang istri, yang tentunya lebih fokus di rumah, memastikan sang suami selalu sehat dan tercukupkan kebutuhannya, juga memastikan rumah serta anak-anak tumbuh sehat dan baik, meski sang ayah mungkin jarang di rumah.

Iya, seorang istri yang lebih memilih fokus pada rumah tangga, fokus mengurus suami, fokus mengurus anak-anak agar tumbuh dengan baik, yang tetap menghormati sang ayah, meski sang ayah jarang di rumah dan nggak punya waktu banyak buat mereka.

Oh tidak!
Tulisan ini, sama sekali tidak mengerdilkan pilihan wanita yang bekerja di luar.
Karena saya sangat menyadari, semua wanita punya alasan tersendiri dalam memutuskan akan menjadi ibu rumah tangga, atau wanita karir yang bekerja di luar rumah.

Kita fokus membahas ibu rumah tangga dan kirpahnya aja, tanpa membandingkan dengan profesi ibu lainnya ya!

What i'am trying to say adalah, bahwa profesi ibu rumah tangga, yang seringnya dipandang remeh oleh banyak orang, termasuk juga banyak wanita di zaman sekarang, sesungguhnya merupakan profesi terhebat yang telah ada sejak dahulu kala.

Hanya saja, jarang yang mau membahas atau mengakui hal tersebut, sehingga munculnya emansipasi wanita karenanya.


Ibu Rumah Tangga adalah Profesi Terhebat yang Tak Pernah Diimpikan


Saya sendiri, sejujurnya juga baru menyadari hal ini setelah sekian lama menjadi ibu rumah tangga.
Profesi ini bahkan sama sekali tak pernah ada di benak saya sejak kecil.

Profesi Terhebat yang Tak Pernah Diimpikan

Dibesarkan oleh ibu yang bekerja kantoran, membuat saya tumbuh menjadi anak perempuan yang punya cita-cita jadi wanita karir yang sukses.

Kerja di gedung tinggi, mengenakan setelan jas dengan sepatu pantovel yang keren, itulah yang ada di benak saya sejak kecil. 

Entahlah, saya dulu bahkan sama sekali nggak pernah berpikir, bagaimana kalau nantinya saya menikah dan punya anak?

Padahal ya, dulunya saya sering banget kelaparan sepulang sekolah, hanya karena mama belum pulang ngantor, dan belum ada yang masak.

Saya bahkan tumbuh, dengan diam-diam kagum sama wanita bekerja, dan merasa kalau seorang ibu bekerja di luar itu level kerennya jauh lebih tinggi.

Saya seolah lupa, ketika malam-malam harus tidur ketakutan bersama almarhum adik saya, hanya karena mama harus meninggalkan kami, untuk menolong orang melahirkan di rumahnya masing-masing.

Saya juga seolah lupa, bagaimana rasanya takut, bingung dan kesepian, ketika mama harus menginap karena ada kegiatan kerjaannya di tempat lain.

Yang ada di benak saya, adalah heran dan kesal melihat bapak selalu marah, ketika mama selalu pegi malam-malam meninggalkan kami, karena menolong ibu melahirkan.

Sampai akhirnya saya kenal keluarga sang pacar, ibunya adalah seorang ibu rumah tangga, dan sang pacar dibesarkan oleh seorang ibu rumah tangga.

Dan ada satu momen, di mana saya merasa kalau ternyata mama saya yang merupakan ibu bekerja atau wanita karir, bukanlah satu-satunya yang keren dengan profesinya.
Tapi, ibu si pacar yang merupakan ibu rumah tangga juga hebat, bahkan terhebat dalam pikiran saya.

Keluarga si pacar tumbuh dalam kehangatan keluarga yang di mata saya jauh lebih utuh.
Di mana, ada ayah yang bertanggung jawab dan penuh wibawa.
Ada ibu yang memastikan si pacar dan saudara-saudaranya selalu sehat dan nggak kekurangan apa-apa setiap saat.

Cerminan keluarga yang sempurna di mata saya.
Lalu, pikiran saya kembali ke masa lalu, masa kecil saya sebelum mama menjadi wanita karir.

Dulu, ketika masih tinggal di Minahasa, mama adalah seorang istri yang keseharian di rumah saja.
Bapaklah yang bertanggung jawab mencari nafkah.

Karenanya, masa kecil sebelum mama bekerja adalah, sebuah masa yang indah dalam pikiran saya.
Mama selalu mengurus saya dan kakak dengan baik.
Gigi susu kami tumbuh sehat, rambut kami juga bagus.

Ketika malam, mama sering menceritakan kami dongeng yang biarpun diulang-ulang, selalu terasa asyik untuk didengarkan.

Ketika mulai bersekolah, selalu semangat berangkat sekolah, karena perut kenyang oleh sarapan yang enak, berangkat dengan mengenakan pakaian bersih, rapi, dan tampilan menarik dengan rambut rapi karena diikat oleh mama.
Dan semua hal itu, tak lagi bisa saya rasakan, ketika mama mulai harus bekerja di luar rumah.   

Belum ketambahan, karena bapak jadi makin sering marah-marah, yang setelah dewasa saya mulai memaklumi, beliau marah karena merasa stres sendiri, sebagai kepala keluarga, tapi nggak bisa lagi menafkahi sepenuhnya, seperti ketika masih di Minahasa.

Mungkin hal tersebutlah, yang membuat saya, memberanikan diri, menjadi ibu rumah tangga.
Setelah si Kakak lahir, dan setelah berbagai drama anak sakit, nggak ada yang jaga, telah saya lalui.


Perjalanan Profesi Ibu Rumah Tangga Hingga Saat Ini


Memilih dan memutuskan sendiri, menjalani profesi yang tak pernah ada di benak saya sedikitpun sejak kecil, tak membuat saya serta merta menjadi bahagia akan hal tersebut.
Berbagai perasaan harus saya hadapi, karena ternyata tantangannya sungguh luar biasa.
 
Profesi Terhebat yang Tak Pernah Diimpikan

Ternyata, bukan hanya saya yang sebelumnya menganggap, kalau profesi ibu rumah tangga itu biasa aja. Tapi banyak banget yang menganggap demikian, sehingga membuat saya jadi nyaris depresi karenanya.

Belum lagi tantangan menerima kondisi ekonomi yang tentunya nggak lagi sama, seperti ketika saya masih bekerja.

Hal itu membuat saya, tak pernah bisa dengan ikhlas menjalani profesi ini, ada saat saya menyesali mengapa kok bisa-bisanya memilih profesi ini.
Tapi saya sadari, kalau sebenarnya profesi ini awalnya memang bukan pilihan, tapi kondisi yang mengharuskan.

Maka, tak pernah lagi ada jalan lain, selain berusaha menerima kondisi termasuk profesi ibu rumah tangga.

Tuhan tak pernah membiarkan hamba-Nya terpuruk dalam sebuah kondisi yang sebenarnya mulia, menjadi ibu rumah tangga.

Dan begitulah, sedikit demi sedikit saya diberikan petunjuk, untuk mensyukuri bahwa betapa saya beruntung banget saat ini bisa membersamai kedua buah hati saya karena saya ada di rumah selalu, menjadi ibu rumah tangga.

Dan saya bisa memastikan, tak pernah si Kakak merasakan khawatir, ketika pulang ke rumah, rumah sepi karena nggak ada orang.
Tidak, perasaan kalut saya ketika kecil itu, insha Allah tak akan pernah anak-anak saya rasakan.

Saya ingin memastikan, anak-anak tumbuh dalam rasa aman dan tenang, karena maminya selalu ada di samping mereka.
Dan saya bersyukur karena hal itu.

Demikianlah, ibu rumah tangga, adalah profesi terhebat buat saya, yang awalnya tak pernah saya impikan, namun ternyata profesi ini adalah yang terbaik untuk saya.


Sidoarjo, 18 April 2022

Note: Tulisan ini diikut sertakan dalam 'BPN 30 DAY RAMADAN CHALLENGE 2022' Day 18 dengan tema 'Ceritakan Tentang Profesimu'. Tulisan lainnya bisa dibaca di label 'BPN Ramadan 2022' 

3 comments :

  1. IRT itu capek lo
    sayang banyak orang yang memandang sebelah mata
    belum lagi dengan kondisi saat ini yang membutuhkan ekstra
    makanya di beberapa iklan ada sosok supermom yang mengangkat derajat IRT ini

    ReplyDelete
  2. Saya merasakan hal yang sama bu. Bedanya, mama saya sudah bekerja di luar rumah sejak saya bayi (lepas cuti 3 bulan yak, kalau gak salah), tapi di rumah saya ada nenek dan atuk. Itupun kadang nenek dan atuk ke ladang, jadi tetap ada momen saya ditingal di rumah.
    Saya setujuuu banget sama pemikiran ini. Saya nggak mau punya waktu yang sedikit untuk keluarga seperti mama saya. Waktunya lebih banyak di luar ketimbang di rumah. Bedanya, saya belum ketemu pasangan hidup, hehe

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Back to Top