Tuesday, April 19, 2022

5 Hal yang Menyedihkan Bagi Ibu Rumah Tangga

5 Hal yang Menyedihkan jadi Ibu Rumah Tangga

Sharing By Rey - Saya pernah menuliskan tentang 5 hal menyenangkan jadi ibu rumah tangga, tapi belum pernah membahas tentang hal menyedihkan jadi ibu rumah tangga.

Sepertinya, hal ini pas banget buat tema #BPNRamadan2022 hari ini, yaitu 'Hal-hal yang membuatmu sedih atau bahagia'.

Menjadi ibu rumah tangga itu, sebenarnya sangat membahagiakan, meski hal ini saya sadari setelah lama galau jadi IRT dan merasa ada yang kurang dari hidup saya.

Meskipun up and down dalam menjalani dan memaknai profesi hidup saat ini sebagai ibu rumah tangga, kenyataannya memang kalau dipikir-pikir, banyak hal yang membahagiakan dalam menjadi ibu rumah tangga.

Meskipun demikian, bukan berarti menjadi ibu rumah tangga atau IRT atau stay at home mom itu nggak ada hal-hal yang menyedihkannya, ada juga kok, bahkan dulunya sih banyak.
Namun seiring waktu, hal lainnya telah bisa diatasi dengan accept, yang tertinggal hanya hal-hal seperti ini, yang memang sangat menyedihkan ketika menjadi ibu rumah tangga.


1. Ketika anak-anak sakit


Kalau hal yang paling membahagiakan saya sebagai ibu rumah tangga adalah ketika melihat anak-anak sakit, off course hal yang menyedihkan buat saya adalah, ketika anak-anak sakit.

Ketika anak-anak sakit
Canva

Bukan hanya menyedihkan sih ini, tapi kadang masih juga bikin panik dan over thinking.
Karena saya kan mengasuh anak-anak seorang diri, jadinya selalu ketakutan sendiri kalau anak sakit.
Antara kasian melihat anak kesakitan, ditambah over thinking mau ke dokter atau mendapatkan pengobatan ingat biayanya yang lumayan.

Selain itu, saya punya pengalaman nggak baik tentang pengobatan ketika anak sakit, ketika si Kakak sakit di masa dia masih bayi dan balita.

Hal itu yang bikin saya sedikit kehilangan kepercayaan terhadap dokter-dokter anak di Surabaya. Jadinya udah berlipat-lipat deh over thinking-nya.

Untuk mengatasi hal tersebut, saya memang lebih peduli dengan kesehatan anak-anak, karena buat saya, lebih baik mencegah daripada mengobati.


2. Nggak Punya Uang Seperti Waktu Jadi Working Mom


Ini mah kayaknya yang paling banyak para ibu takutkan ketika harus memilih resign dan jadi ibu rumah tangga ya.

Buat saya awalnya ini terasa sangat menyedihkan, sekarangpun masih, meski nggak lagi bikin yang benar-benar down sih, karena masih bisa punya duit meski harus jungkir balik karenanya.

Hal ini dikarenakan ketika bekerja dulu, gaji saya juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga, alhasil ketika saya harus resign, keuangan jadi kacau balau.

Namun, sebenarnya nggak terlalu jadi masalah sih, karena Tuhan benar-benar menepati janjinya, bahwa rezeki keluarga itu nggak akan habis hanya karena ibu nggak lagi bisa kerja kantoran.

Jadi, meski sempat kacau balau, tapi akhirnya semuanya berjalan dengan baik lagi, karena rezeki keluarga yang biasa Tuhan titipkan ke saya, dialihkan ke papinya anak-anak.

Yang masih menyedihkannya adalah, memang kerasa sih kalau pas kerja tuh, uang bukanlah suatu hal yang terlalu dipikirkan, bebas beliin sesuatu yang anak butuhkan.

Setelah jadi IRT, saya harus benar-benar bisa memilah hal yang paling penting untuk didahulukan dalam kebutuhan anak, dan melihat salah satu anak harus menunggu dulu karena keuangan saya jadi sangat terbatas, itu menyedihkan buat saya.

Seperti keingat masa kecil dulu, di mana saya sebagai anak tengah, seolah terlupakan kebutuhannya, huhuhu.


3. Sering Merasa Diremehkan Keluarga atau Orang Lain 


Ini mungkin hanya perasaan saya, tapi memang ini ganggu dan menyedihkan sih.
Sejak jadi ibu rumah tangga, kerasa banget semacam diskriminasi orang lain kepada saya.

Diremehkan keluarga karena jadi IRT
Canva

Bukan dari hanya orang lain ya, bahkan keluarga atau pasangan sendiri pun beda banget terhadap saya, kalau dulunya pas masih kerja, pasangan tuh nggak pernah kekurangan kesabaran menghadapi saya, sekarang rasanya perasaan saya jadi nggak penting lagi buat pasangan.

Demikian juga oleh keluarga, keluarga papinya anak-anak misalnya, beda banget perlakuan yang saya rasakan ketika masih kerja dan udah jadi ibu rumah tangga.

Bahkan kerasa banget, menantu yang bekerja, jauh lebih diperhatikan ketimbang menantu ibu rumah tangga.
Namun ini mungkin bukan kesalahan keluarga ya, mungkin saja saya yang baper, tapi demikianlah yang saya rasakan.

Bukan hanya keluarga pasangan, bahkan keluarga sendiripun demikian, kerasa banget perlakuan orang tua saya, terhadap anak-anak saya dengan anak-anak kakak saya yang notabene kakak saya adalah working mom.  

Orang lain pun sama, duh ketika mereka mendengar kenyataan bahwa saya jadi ibu rumah tangga, tanggapan meremehkan selalu saya dapatkan, masih mending sih sekarang, meski saya ngaku ibu rumah tangga, lalu ketika mereka akhirnya tahu saya seorang blogger, baru deh tanggapan mereka berbeda.

Begitu amat ya profesi ibu rumah tangga itu, hahaha.


4. Sering Baper Terhadap Keuangan


Saya rasa hal ini dirasakan oleh banyak ibu rumah tangga lainnya kali ya, di mana salah satu pertanyaan yang bikin sensitif dan baper adalah,
"Loh uangnya sudah habis? dibelikan apa aja?"
hahahaha.

Itu rasanya kayak penghakiman bahwa saya ini boros banget, iya nggak sih?
Padahal kenyataannya, saya udah jungkir balik mikirin cara biar lebih irit lagi, mikirin cara biar pas ke pasar nggak habisin duit banyak.

Kenyataannya, setelah nanya ibu-ibu lainnya, ya memang biaya hidup ya segitu, apalagi zaman sekarang harga-harga bahan pokok makanan pada naik, yang nggak naik cuman harga diri doang, *loh, hahaha.
Itu rasanya kepala serasa mau meledak mikirin cara buat hemat.

Alhasil, demi menghindari kebaperan sendiri, sebisa mungkin saya juga mencari uang sendiri, meski harus jungkir balik karena pekerjaan jadi ibu rumah tangga tanpa asisten rumah tangga itu, mengurus 2 anak sendiri, mengurus rumah sendiri, tanpa dibantu siapapun 24/7, sudah sangat melelahkan dan menyita banyak waktu.


5. Ketika Menyadari, Ibu di Rumah, Tapi Tidak Jiwanya


Gara-gara saya harus ikutan mencari uang dari rumah, untuk kebutuhan pokok dan juga kebutuhan khusus anak-anak lainnya, yang belum bisa di-cover oleh papinya anak-anak, alhasil saya harus benar-benar serius dalam mencari uang.

Ibu bekerja dari rumah
Canva

Dan, saya nggak tahu ya kalau buat orang lain, tapi buat saya, mencari uang dari rumah sambil mengasuh anak itu berat banget.

Apalagi, saya mengerjakan semua seorang diri, nggak ada yang bantuin sama sekali, kami bertiga, saya dan 2 anak saya di rumah sepanjang waktu.
Nggak ada siapapun yang bisa bantuin, ketika sakitpun harus mengurus diri sendiri dan anak-anak juga.

Hal ini tentu saja berat, dan akhirnya banyak hal yang harus dikorbankan, baik itu waktu istrahat saya, juga waktu buat anak-anak.

Jadi, demikianlah, meski saya jadi ibu rumah tangga, yang stay di rumah aja sepanjang waktu seolah menemani anak, tapi seringnya jiwa saya nggak ada di rumah menemani anak.

Anak-anak tetap harus main seorang diri atau berdua, karena saya masih sibuk fokus bekerja.
Alhasil sering banget mereka caper aka cari perhatian, dengan sering berantem, jejeritan yang bikin kuping nyaris budek, hahaha.

Hal itu nggak bakal terjadi, kalau saya ada di antara keduanya, menemani main dengan fokus.
Tapi, kalau saya sibuk fokus nemanin anak-anak main, yang ada kerjaan saya nggak pernah bisa saya lakukan.
  

Demikianlah, complicated sebenarnya.
Tapi, bukan berarti nggak bisa dihadapi.

Hal-hal di atas terasa sangat menyedihkan buat saya, namun selalu ada hal-hal lain yang bisa saya lakukan, agar kesedihannya nggak melulu saya rasakan, di antaranya:
  • Lebih serius dalam memperhatikan kesehatan anak-anak dan juga diri sendiri, saya selalu menerapkan pikiran bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati, sehingga masalah nutrisi anak, masalah waktu istrahat dan semacamnya, selalu jadi hal penting yang saya perhatikan, biar kata untuk itu saya jadi sungguh sangat cerewet, hahaha.
  • Lebih bijak dalam mengatur keuangan pribadi, baik masalah pengeluaran maupun terhadap masalah pemasukan. Dengan demikian, saya bisa punya dana buat jaga-jaga ketika anak sakit, atau saya sendiri sakit.
  • Belajar menerima (accept) kondisi di sekitar saya, bahwa saya nggak bisa menyetir perbuatan, perasaan hingga perkataan orang terhadap saya, karenanya saya atur pola pikir, bahwa tak mengapa orang berpikiran meremehkan saya, asal saya nggak demikian, toh juga saya nggak benar-benar rugi dengan kelakuan orang yang buruk demikian terhadap saya. 
  • Terus menerus, tak pernah lelah untuk berusaha manajemen waktu, sesulit apapun itu, saya jalani dengan mencoba mengikuti manajemen waktu yang disiplin, karena sebenarnya sih kuncinya disiplin, meski godaannya banyak banget, akrena saya bekerja di dunia internet, yang distraksinya banyak banget, hahaha.
  • Berusaha untuk tak pernah lupa akan balance life, jadi meski mungkin ada saatnya jiwa saya nggak di rumah melulu menemani anak, tapi tentu saja ada waktu di mana jiwa saya seutuhnya bersama anak-anak.
  • Memberikan pengertian kepada anak-anak, agar mengerti posisi saya yang bekerja dari rumah untuk mereka juga.

Hal-hal yang menyedihkan, sejatinya nggak hadir tanpa mengajarkan kita sesuatu.
Jadi, hadapi saja, nikmati saja agar kebahagiaan terasa lebih maksimal.
Bukankah, tak akan pernah ada bahagia, jika kita tak pernah merasakan kesedihan?

How about you, Temans?


Sidoarjo, 19 April 2022

Note: Tulisan ini diikut sertakan dalam 'BPN 30 DAY RAMADAN CHALLENGE 2022' Day 19 dengan tema 'Hal hal yang Membuatmu Sedih atau Bahagia'. Tulisan lainnya bisa dibaca di label 'BPN Ramadan 2022' 




4 comments :

  1. Sedihnya itu sama tetangga kadang dianggap orang kaya krn ga ke mana-mana alias di rumah aja.

    Kok ga enak dianggap kaya? Iya, soalnya kl 'orang kaya' tuh seolah boleh diporotin duitnya. Pdhl aku mah apa, duit cuma numpang suami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin yang kenceng aja saayyy wkwkwkwkw :D

      Kalau saya masalah tetangga atau orang lain sih Alhamdulillah jarang, saking ngga punya tetangga, wkwkwkwkwk :D
      Atau nggak pernah ketemu orang lain, ngendon aja di rumah :D

      Delete
  2. Kalo keluargaku malah kebalikan Rey 🤣. Papa itu konservatif ya luar biasa. Dia memang wajibkan anak2nya sekolah setinggi mungkin, tapi ga pengen anaknya kerja 😅. Dulu pas msh kerja, aku berkali2 diminta resign Ama papa, Krn dia ga mau anak2 jadi kurang perhatian, apalagi mereka full Ama babysitter. Aku kerja dari subuh pulang malam. PDA akhirnya aku memang resign, tapi sbnrnya LBH Krn ga cocok Ama prinsip baru di kantor 🤣. Bukan karena nurutin papa juga. Cuma si papa LGS seneng banget itu, sampe ngucapin Alhamdulillah wkwkwkwkwkwk.

    Kalo mertua beda, pengennya jgn sampe aku resign. Tapi untungnya mereka tipe yg berpikiran terbuka. Kalopun resign, ya gapapa juga asal keinginan yg memang sudah dipikirkan masak2.

    Aku sih blm ngerasa ya ada yg underestimate dgn status skr yg udh IRT. Atau mungkin aku aja yg ke PD an ga ngerasa hahahahaha. Maklumlah, biasa aku ga peduliin orang2 Julid begitu 🤣.. anggab aja ga ada Rey. Emangnya mereka yg biayain hidup kita. Coba aja sendiri cari duit dari rumah, bisa ga tuh... Blm tau mereka susahnya kalo harus kerja sbgai IrT plus cari uang juga

    ReplyDelete
  3. Setelah keluar dari pekerjaan atau resign mbak Rey dapat perlakuan beda dari tetangga bahkan keluarga sendiri ya, padahal jadi ibu rumah tangga itu capek lho.

    Mungkin mikirnya kalo mbak Rey punya duit kan bisa ikut nebeng kali ya.😂

    Aku sendiri sejak menikah penginnya istri di rumah saja, urus rumah tangga, urus anak dan urus suami, biar kalo aku pulang kerja ada yang kasih kopi.😁

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Back to Top