Thursday, October 27, 2016

#ReyStory - Tentang Keluarga Dan Masa Kecilku #01

Sekarang ini, ada banyak banget psikotes pengenalan diri.
Namun, berhubung ikut hal demikian tidak gratis, jadi sebaiknya saya mulai mengenal diri sendiri saja dulu :)

Saya di lahirkan oleh 2 orang tua 'ajaib'

Ajaib karena ayah saya yang biasa saya panggil bapak (atau bapa tepatnya, bukan bapa yang itu yaaa :D)
adalah seorang yang punya dua kepribadian yang bertolak belakang.
Di satu waktu bapak bisa sangat humoris, membuat kami sekeluarga bahkan orang lain tertawa terpingkal-pingkal, namun di lain waktu saya harus gemetar ketakutan saat beliau marah, membentak kami semua dengan suaranya bernada tinggi bahkan membanting banyak barang-barang di dekatnya, juga tak jarang memukuli kami anak-anaknya.

Ibu saya yang biasa saya panggil mama, adalah seseorang yang sangat sabar menghadapi bapak saya, namun di balik kesabarannya, beliau adalah sosok yang sensitif tingkat dewi, manja dan suka tidur terlalu sore (apa hubungannya ya? hehehe)

Saya sendiri adalah anak kedua dari 2 bersaudara (sekarang), dulunya saya anak kedua dari 3 bersaudara, sebelum adik saya, Maykel berpulang duluan kepada Allah tahun 2009 lalu (kisahnya sudah pernah saya tulis di sini )



Kakak saya perempuan bernama Jouke (di panggil Yuke), lahir 1,5 tahun sebelum saya.
Jangan tanya mengapa namanya seperti itu, menurut cerita, nama kami, saya dan kakak saya di berikan oleh tetangga kami di Manado.
Kakak saya awalnya bernama Youke, namun saat membuat akte kelahiran namanya di tulis pakai abjad kuno"Jouke" .
Jadilah hingga kini dia di panggil Jouke, namun saya dan ortu selalu memanggilnya Yuke.

Saya dan kakak sama-sama di lahirkan di Manado, di Kecamatan Kauditan tepatnya.
Sebelnya lagi, dalam Akte lahir di tulis bukan nama kota kelahiran, tapi kecamatannya yaitu Kauditan.
Alhasil saat verifikasi data, semua orang kebingunan, daerah mana tuh Kauditan dan saya selalu nyaris bosan menjelaskan panjang lebar :'D

Menurut mama, kami lahir di sebuah daerah terpencil di kaki gunung Klabat, setelah saya googling, ternyata gunung Klabat itu ada di Kabupaten Minahasa Utara dan lumayan jauh banget dari kota Manado.


Tidak ada yang terlalu melekat di ingatan tentang masa kecil saya di Manado.
Saya hanya ingat beberapa hal saja seperti sering terjadi gempa bahkan kadang rumah tempat kami tinggal berguncang hebat.
Hal itu sering terjadi karena kami tinggal tepat di lereng gunung Klabat.

Saya juga ingat ayam pedas, yang saking pedasnya jika ingin memakannya, mama terlebih dahulu mencucinya hingga bersih dari cabai dan kami memakannya meski hambar hanya tersisa rasa pedas.
Belakangan saya tau ternyata itu adalah ayam rica-rica, yang di masak dengan cabai rawit hingga seliter per ekor ayamnya...huuuffff...

Saya juga ingat, kami tinggal di rumah panggung, rumah yang terbuat dari kayu yang ada kolongnya.
Rumah kami sangat jauh dari rumah tetangga, maklum sepertinya kami tinggal di hutan muahahaha.

Saya juga masih ingat, kami memelihara banyak kucing dan anjing.
Kucingnya saya lupa, namun anjingnya hingga kini masih teringat, namanya PUTRI.
Si Putri adalah anjing yang paling pengertian, dia sering banget berburu burung liar yang namanya burung Weris.
Baiknya juga jika sudah menemukan hasil buruan nya, tidak semuanya di makan sendiri.
Sebagian 1 atau 2 ekor di bawah pulang dan di taruh di tangga depan rumah kami..

Aaahh so sweet...
Sepertinya dia ingin berbagi rezekinya bersama kami.
Si Putri akhirnya hamil dan melahirkan beberapa anak anjing yang lucunya kebangetan.
Anak2 anjing lucu itu gendut2 banget, saking lucunya saya sering menggendong dan diam-diam menciumnya :'D (ampuni saya ya Allah :'D )

Saya juga ingat kami tak pernah punya teman lain, beruntunglah saya dan kakak saya usianya tidak terpaut jauh. Jadilah saya hanya bermain bersama kakak saya.

Masa kecil saya di Manado terasa indah, mungkin karena saya masih terlalu kecil untuk mengingat hal-hal yang menyedihkan, karena ternyata kata kakak saya hidup kami kadang menyedihkan, terutama saat bapak yang memang pemarah sedang marah dan uring-uringan, hiks

Saya tidak ingat persis apa alasannya, tiba-tiba di suatu hari kami berbenah-benah, mama dan bapak membungkus semua barang kami, lalu kami berangkat ke pelabuhan dan naik kapal selama beberapa hari yang ternyata kami pulang ke Buton, tempat asal dan kelahiran mama dan bapak saya.
Belakangan saya baru tahu, ternyata alasannya karena kakak saya sudah memasuki usia sekolah, rumah kami jauh dari sekolah dan mama saya saat itu tengah hamil adik saya.
Mama saya berpendapat, sudah waktunya kembali ke Buton, di mana tempat banyak keluarga berada.

Dan bergitulah kami, setelah terombang ambing berhari-hari di terjang ombak besar, saking besarnya bapak yang tak pernah sampai mabuk lautan, saat itupun akhirnya ikutan mabuk lautan karena goncangan ombak.
Beruntung Allah masih melindungi kami sehingga kami masih bisa sampai di Buton dengan selamat.

Bersambung...

TPJ 27 Oct 2016

Reyne Raea

No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...