Monday, January 25, 2021

Cuma Ibu Rumah Tangga Biasa

Cuma Ibu Rumah Tangga Biasa

Sharing By Rey - Selama ini, saya tidak pernah memikirkan, jika seandainya, saya bukanlah saya sekarang.

Saya adalah seorang ibu rumah tangga biasa, di mana saya tidak punya keahlian atau hobi seperti yang dilakukan IRT-IRT zaman now.

Saya tidak pandai merangkai kata, saya tidak terbiasa melakukan hal yang ngoyo.
Saya punya suami, yang menginginkan saya fokus mengurus anak dan suami.

Hidup saya sih tidak mewah, tapi Alhamdulillah cukup.
Suami setia dan sayang pada saya serta anak-anaknya.
Namun, hidup saya ya monoton, sebatas jadi ibu rumah tangga biasa, dan istri yang patuh.

Saking patuhnya, bahkan semua mengikuti kata suami, termasuk financial.
Saya hanya kebagian di rumah aja, financial suami yang urus.

Waooo, sejujurnya, saya pernah sih berpikir seperti itu, hahaha.

Anyway, itu adalah curhatan seorang ibu di email saya beberapa waktu lalu.
Dan melalui postingan ini, saya meminta maaf kepada teman-teman yang mungkin udah sempat mengirimi saya email, dan belum saya balas huhuhu.

Maafkeun..
Sejujurnya, bahkan mau balas chat aja saya malas, eh bukan malas, tapi saya lebih memprioritaskan hal yang harus dikerjakan, because i am a mom, jadi, kebanyakan saya tidak membalas email yang masuk, tapi tetep saya baca kalau malam.

Dan biasanya, saya bakalan balas di postingan saya seperti ini.


Cuma Ibu Rumah Tangga Biasa dan Merasa Kosong


Jadi gitu ya, ada sebuah email yang masuk, dari Bunda unknown (sebut aja gitu, hehehe).
Si Bunda ybs curhat, dan mengatakan betapa saya beruntung, punya hobi yang bisa menghasilkan uang.
Bisa menulis karena hobi, dan akhirnya memperoleh uang, bisa pegang uang sendiri intinya.

Ini karena cuap-cuap saya juga di IGS kapan hari keknya deh, di mana, saya bilang kalau uang itu bisa membeli kebahagiaan, asalkan uang sendiri, bukan uang suami.

Dasar si Rey, kagak mikirin, bagaimana kalau memang yang baca itu, memang kondisinya kek yang saya tulis di atas itu.

Padahal ya sejujurnya, waktu pertama kali bacanya, saya langsung nyelutuk tuh dalam hati, duh enak dong, kalau semua suami yang urus, saya tahu beres aja, tiap hari fokus mengurus anak, bikin goalnya ke anak-anak.

Dasaaarrrr hidup sawang sinawang (eh bener ya gitu, sawang sinawang? bukan sanang sinawang? hahaha).
Karena sejujurnya, kadang saya kesal, capek banget cari duit, eh habis buat kebutuhan rumah, hahahaha *plak, minta dikeplak memang nih mamak Rey.

Udah woi Rey, fokus ke masalah utama.

Jadi, saya lalu merenung.
Mencoba meraba-raba kondisi si Bunda itu, menaruh posisi saya di posisinya walau dalam hayalan.
Si paksu punya kerjaan tetap, setiap pagi dia berangkat kerja, saya sudah menyiapkan bekal (sesuatu yang nyaris sama sekali tak pernah saya lakukan selama hampir 12 tahun menikah, karena paksu kerjanya di lapangan dan ribet kalau bawa bekal, hahaha).

Setelah suami berangkat saya kudu nunggu bapak-bapak jualan lewat, lalu mengira-ngira belanjaan hari ini, menyesuaikan dengan jatah yang dikasih suami (suatu hal yang tak mungkin langsung bisa saya lakukan, karena saya belanjanya pakai tunjuk, alias tunjuk ini itu ini itu, lalu nanya totalnya, karena hitung-hitungan saya sangaaaatt payah, hahaha).

Lalu saya masak, sambil ngurus anak, ajarin anak belajar online, mengurus ini itu, masak, nyuci, nyetrika, beberes, sorenya nunggu suami pulang, malamnya mijetin suami (hal yang jaraaanggg banget saya lakukan, yang ada saya 3 kali pijetan, suami balas 1 jam pijetan sampai terkantuk-kantuk, wakakakaka) 

Terus beberes lagi, sampai akhirnya tidur, pagi bangun aaannndddd repeat.
Bayangin aja, saya udah mulai sesak nafas deh, hahahaha.

Apalagi si Bunda ya, wajar sekali jika si Bunda merasa bosan, merasa hidupnya kurang berarti, pengen kayak saya yang punya hobi dan punya power sendiri untuk menentukan apa yang harus saya lakukan.

Iya, manalah pernah si paksu mendikte saya, selain blio nggak berani, blio juga nggak punya jawaban kalau saya balik menyerang, hahaha.

Jadi, mungkin saya beruntung sekali, seperti kata si Bunda, kalau saya still have my ownself *halaaahh, keminggris wakakakak.
Dan membaca komentar di post saya pada blog parenting tentang 'Mengemis Cinta Suami'.
"para suami juga wajib tahu, bahwa istri punya hobi yang bisa bikin dirinya tetap menjadi dirinya, bukan sebagai istri X, ibunya A"
Jadi, sampai di sini, saya memahami banget, kalau si Bunda kadang merasa kosong, merasa hidupnya nggak berarti, bahkan kadang ketakutan jika nanti suami kenapa-kenapa, bagaimana caranya dia melanjutkan hidup bersama anak-anak (ini keknya, karena iklan para pebisnis MLM deh, hahaha)
"Istri itu jangan cuman nadah tangan ke suami, karena suami kalau nggak diambil Tuhan ya diambil pelakor" 
Hayooo, siapa yang suka beriklan kek gitu? hati-hati, tulisan adalah doa loh, hihihi.

Terlebih lagi, dia sering secara tidak sengaja melihat postingan beberapa ibu rumah tangga yang tak biasa katanya, tak seperti dia, ibu rumah tangga yang punya penghasilan sendiri, seperti saya (ecieeehh, berasa saya gajian mulu tiap saat, padahal ya enggak, hihihi)

Makin merasa dirinya tak berartilah si Bunda.

Mungkin orang lain bakalan berkata, ya usaha dong Bund, lakukan hal-hal yang bisa menghasilkan dari rumah.
Tapi, orang lain mungkin nggak sadar, bahwa tidak semua kondisi orang itu adalah sama.

Untuk si Bunda tersebut, sudahlah dia tak punya sama sekali keahlian yang bisa dijual, selain mengurus rumah tangga, pun juga suaminya melarang keras dia melakukan hal-hal di luar kewajibannya sebagai ibu dan istri.

Nah, kalau udah punya suami kek gitu, apalagi suaminya tetap bertanggung jawab, ya wassalam sih ya.
Karena, bahkan suami yang masih mau mendengar permintaan istri aja, seringnya tetap mengedepankan egonya, sebagai kodrat laki kali ya.

Apalagi, kalau memang punya suami yang tegas, dan keras.
Yang ada, kalaulah si Bunda mau berusaha, hanya akan membuat rumah tangga yang awalnya adem meski istri merasa kosong, jadi lebih runyam.

Ye kan, nasib jadi perempuan memang gitu, hiks.

 

Ibu Rumah Tangga Biasa, Nilainya Tak Biasa


Namun, benarkah seperti itu?
Benarkah seorang ibu rumah tangga, yang kerjaannya cuman mengurus rumah dan anak serta suami, hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa?

Cuma Ibu Rumah Tangga Biasa

Menurut saya tidak!
Ibu rumah tangga biasa, justru nilainya sungguh tak biasa.
Karena, balik lagi, hidup ini sesungguhnya hanyalah sawang sinawang.

Menjadi ibu rumah tangga yang menurut orang, bukan ibu rumah tangga biasa, karena punya penghasilan sendiri itu, juga bukan sesuatu hal yang luar biasa.
Mungkin hanya terlihat saja, tapi sesungguhnya nilainya ya sama aja dengan ibu rumah tangga yang nggak punya penghasilan uang sendiri.

Kok bisa?
Karena tidak ada seorang pun di dunia ini, yang benar-benar bisa mengerjakan semuanya seorang diri dengan sempurna.
TIDAK ADA!

Ibu yang bisa menyeimbangkan karir dan keluarga itu, adalah hoax (menurut pengalaman saya).
Pastilah ada yang dikorbankan, antara keluarga atau pekerjaannya, yang biasanya sih dilakukan secara bergantian.

Misal, hari ini milih lebih fokus urus anak, yang ada pasti kerjaan yang bakal dikorbankan.
Atau hari ini fokus di kerjaan, pasti keluarga yang dikorbankan.
Atau, kalaupun bisa keduanya meski nggak sempurna, saya yakin banget, dirinya sendiri yang dikorbankan, salah satunya waktu tidurnya, kayak si mamak Rey ini, hahahaha.

So, sesungguhnya, nggak ada yang harus disesali, nggak ada yang harus dibiarkan 'kosong'.
I mean, sesekali merasa kosong itu manusiawi, sesekali merasa iri dan berhayal jadi orang lain itu sangat manusiawi.

Namun, bisa kembali secepatnya ke dunia nyata, melakukan apa yang kita hadapi saat ini dengan penuh keikhlasan, saya rasa itu jauhhh lebih berarti, lebih berisi, lebih hebat dari ibu manapun di dunia ini.

Karena setelah saya hidup puluhan tahun di dunia ini, saya menikah belasan tahun, saya udah tahu, bahwa semua manusia di dunia ini udah punya jatah rezeki, semuanyaaaa...

Semuanya pula dibagi rata oleh Allah, tidak ada yang berat sebelah.
Trus mengapa ada yang kaya, ada yang kurang kaya?
Ya karena selain usahanya, orang yang kaya itu sesungguhnya memikul banyak banget jatah rezeki orang yang dititipkan melalui dia.

Sama aja, orang yang kekurangan, mungkin karena usahanya kurang, sehingga jatah rezekinya ditahan oleh orang lain.
Usaha apa?
Apapun!

Kalau ibu rumah tangga ya, melakukan semua kerjaan rumah tangga dengan ikhlas dan penuh seksama itu juga termasuk usaha dan kerja loh, insha Allah rezeki bakal menghampiri, meskipun melalui orang lain, mungkin suami, mungkin keluarga lainnya, tetangga dan lainnya.

Juga, bisa jadi rezekinya dalam bentuk hal lain, misal kesehatan, suami yang setia dan baik, anak-anak yang penuh perhatian, sopan dan tumbuh dengan sehat dan cerdas.
Siapa yang nggak pengen coba kayak gitu?
Saya rasa itu adalah dambaan semua ibu, meski balik lagi, ada yang beneran mau berjuang untuk itu, ada yang cuman pengen doang, tapi nggak mau capeknya, hahaha.

Iya, ibu rumah tangga biasa yang setiap harinya hanya mengurus anak dan suami, sungguh luar biasa, dan betapa beruntungnya suami dan anak yang memiliki wanita itu.

Ada seseorang yang selalu mengurusi mereka siang dan malam, menyediakannya makanan bergizi, peduli dengan tumbuh kembang anak dengan seksama, bukan sesekali doang kek si Rey karena dia sibuk menulis dan menulis, dan foto-foto, dan bikin konten, hahahaha.

Jadi, Bunda.
Merasa kosong itu tak masalah.
Tapi jangan lama-lama.

Segeralah isi kekosongan itu dengan apa yang ada saat ini.
Anak-anak yang sehat, suami yang selalu bahagia.
Itu tidak terjadi begitu saja loh Bund, itu adalah mahakarya luar biasa dari pekerjaan Bunda, yang merupakan ibu rumah tangga biasa itu.

Jadi, kata siapa cuman ibu rumah tangga biasa itu biasa?
Ibu rumah tangga biasa juga punya kelebihan, yaitu punya anak dan suami yang lebih terurus ketimbang ibu rumah tangga yang punya penghasilan sendiri kayak saya.

Iya, saya sih punya uang sendiri.
Tapi sering banget anak-anak hanya bisa saya  bacain dongeng paling lama 10 menit saja, saking tugas udah memanggil hahahaha.
Memang, anak-anak di dekat saya, tapi mereka tidak bisa memiliki saya, seperti anak-anak Bunda memiliki Bundanya.

Can you believe that
Di mana, anak-anak yang tak pernah kekurangan cinta dan kasih ibunya sedetikpun, karena ibunya punya lebih banyak waktu bersama anak-anaknya, ketimbang ibu rumah tangga, yang waktunya masih harus terbagi untuk klien, atau menjaring klien.

Demikianlah.

Sidoarjo, 25 Januari 2020

Sumber: pengalaman dan opini pribadi
Gambar: Canva dan dokumen pribadi 

20 comments :

  1. Deep post Rey... #kemelinggis ikutan...😁😁😁😁

    "Ketakutan" yang sama yang dialami si Yayang Rey. Dia juga hanya ibu rumah tangga biasa saja. Dia meninggalkan pekerjaannya dulu karena kami sepakat tidak ingin meninggalkan si Kribo cilik kepada kakek neneknya atau ART.

    Ia pun pernah mengalami sindrom serupa karena ia tidak lagi menghasilkan uang, tidak aktif seperti wanita karir dan juga punya pikiran "Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada suaminya?", "Mampu kah ia bertahan?"

    Butuh waktu lumayan lama untuk ia akhirnya memahami bahwa saya sebagai suami punya keinginan untuk menjadikannya benar-benar "tuan putri" saya. Yang kalau perlu dimanjakan dan tidak melakukan hal-hal yang sebenarnya berat, seperti pulang pergi dan menghabiskan waktu di jalan demi uang.

    Dengan begitu waktu dari si tuan putri ini, yang berharga bisa dicurahkan ke "hal paling berharga" bagi kita berdua, anak, si Kribo.

    Ketika belum ada si kecil, ia tetap bekerja, tetapi menjelang kelahirannya, kami sepakat ia harus fokus pada hal utama. Bagian mencari uang itu bagian saya.

    "Tuan putri" saya diberikan tugas yang paling berat dan paling penting, merawat dan mengurus tanggung jawab yang diberikan kami dalam bentuk manusia kecil yang lucu.

    Itu alasan kenapa ia saya minta berhenti bekerja. Tugasnya luar biasa penting.

    Butuh waktu untuknya menerima perubahan kondisi itu. Butuh juga saya untuk terus menjelaskan bahwa "bukan dilarang", tetapi hanyalah pembagian tugas antara saya dan dia. Saya bertugas di luar rumah, dia mengurus bagian dalam rumah.

    Tugas saya dan dia sejajar, sama pentingnya.

    Saya sering bilang kepadanya bahwa saya bisa tenang bekerja mencari nafkah karena tahu ada rekan satu tim terpercaya saya di rumah, yang akan menangani segala hal dan mengurus "yang paling berharga" dengan baik.

    Tanpa itu sih, saya tidak akan pernah bisa bekerja dengan tetang.

    Saya bisa seperti sekarang karena ada dia menopang saya.

    Rasa kekosongan seperti si ibu unknown pada dasarnya wajar dan dugaan saya sama seperti yang terjadi pada si "Tuan Putri" saya.

    Bosan.

    Yah, wajar saja karena tugasnya memang berada dalam ruang yang "kecil", tugasnya seperti itu-itu saja, dipandang sebagai lebih rendah dari wanita karir. Perasaan itu pasti lama kelamaan akan hadir.

    Mungkin itulah juga kenapa saya sering mengizinkannya untuk bermain bersama ibu-ibu yang lain dan saya mengambil tanggung jawab selama ia bermain. Karena saya berharap bisa "mengurangi" rasa kebosanannya. Ia juga butuh bersenang-senang dan refreshing sebelum kembali ke tugas monotonnya.

    Rasa bosan itu wajar. La ya saya yang banyak keluar saja kerap merasa bosan dan kosong. Manusiawi banget dah.

    Jadi tidak perlu terlalu "overthinking". Kalau memang merasa demikian, bicaralah dengan paksu dan minta sedikit waktu untuk refreshing, me time, karena setiap orang butuh itu.

    Walau saya rasa paksu si ibu unknown akan menjadi overthinking juga nantinya dan bertanya-tanya, "Istri gue kenapa yah?" Tapi sekali sih wajar saja untuk melepas kepenatan.

    Tapi yang jelas, jangan pernah berfikir kalau bu unknown melakukan tugas yang tidak penting. Saya pikir justru sebaliknya, banyak pak su yang seperti saya, yang memandang kalau ada tugas yang terpenting yang harus dilakukan dan itu diserahkan kepada seorang ibu.

    Saya yakin juga banyak paksu juga yang memandang istrinya sebenarnya sebagai "Tuan Putri" yang harus dijaga dan dilindungi dan dibuat senyaman mungkin.

    Cuma biasanya banyak paksu yang tidak mengutarakan sehingga bu is menjadi merasa tidak dihargai dan menjadi berpikiran terlalu jauh.

    Kalau saya, mungkin agak kreatif sedikit, jadi caranya, yah saya ungkapkan selalu sama dia kalau saya sayang sama dia, saya yang mijetin dia (dibalik). Semua itu karena saya pingin ia tahu kalo dia itu Tuan Putri saya, dulu dan sekarang dan ia orang penting dalam keluarga kami.

    Upps jadi panjang euyyy...🤣🤣🤣🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca pengalaman Mas Anton dan Istri bikin aku salut. Bagaimana Mas Anton bisa tetap terbuka dan memberikan kebebasan utk Istri dalam aktualisasi dirinya. Sebab biasanya seperti cerita Mba Rey, ibu rumah tangga bisa jadi hanya fokus disitu. Seolah2 hal-hal sekitar seperti ketemu ibu-ibu lainnya ga bisa di lakukan. Hebaat Mas Anton 👍

      Delete
    2. Sudah siap mau komentar tapi sepertinya 11 12 sama engkong Anton diatas...Jadi yaa sudah misi aahh!😁🚶‍♀️🚶‍♀️🚶‍♀️🚶‍♀️🚶‍♀️

      Delete
    3. Seperti biasa angguk2 baca postingan mba rey yg panjang n banyak benernya. Eh dibawah baca komen Pak anton yg ga kalah panjangnya juga 😂😂 Pd jago2 bgd sih nulisnya sampe sepanjang2 itu semua..

      Btw, setuju Semua wanita itu spesial.. Mau di rumah, di rumah dg jobbu, working mom, semua punya struggle nya masing2. Tidak ada yg lbh baik karena smua sama baiknya.. Tinggal bagaimana komunikasi antar pasangan yg hrs selalu terjaga buat saling menguatkan..

      Delete
    4. Apa-apaan ini Bapak, kenapa menyaingi isi tulisan saya? hahahaha.

      Tengkiuuuu so much Bapak atas sharingnya, saya tuh merasa terharu dan bahagia banget kalau lagi bahas sesuatu, terus dikasih insight dengan pengalaman pribadi pembaca *halah pembaca, hahahaha.

      Saya rasa, selain kebesaran hati istri Bapak, juga karena tindakan Bapak juga sih ya, yang begitu sabar menghadapi masa-masa transisi Mba Hes, saya rasa itu luar biasa, mengingat kalau nggak salah Mba Hes itu anak pertama ya? udah biasa sejak dulu jadi semacam panutan dan sering memikul tanggung jawab.

      Tapi sampai akhirnya bisa berdamai dengan status barunya untuk menjadi ratu di rumah demi anak tercinta, itu luar biasa banget.

      Saya aja, sejujurnya sampai sekarang masih berkutat dengan rasa itu, meskipun udah bukan pengen balik kerja sih. tapi pengen tetap punya penghasilan, karena kadang saya dipaksa jadi sesuatu yang saya benci dengan hanya berharap di orang.

      Semoga si Bunda tersebut membaca tulisan bapak juga ya, karena kalau saya baca ceritanya, itu hanya karena si Bunda bosan aja, dan juga terditraksi dengan medsos yang isinya kebanyakan pencitraan hahahaha.

      Delete
  2. Jadi ibu rumah tangga itu berat ya, Mbak. Mungkin karena itu aku betah jadi jomblo.


    Setuju banget kalau hidup ya sawang sinawang. Kita lihat hidup orang lain kayaknya kok asik banget ternyata ya enggak seasik itu. Orang lain lihat hidup kita asik padahal ya nggak asik-asik banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, banget Farida, tapi bukan berarti jadi takut juga kok, intinya ada komunikasi, dan sebijaknya di awal sebelum menikah :)

      Delete
  3. ibu rumah tangga itu, zaman now tak hanya melulu tentang masak dan merawat rumah. melainkan membantu suami dan berkembang seperti kupu kupu, kreatifnya

    ReplyDelete
  4. Mbaa Reey ibu rumah tangga yang serba bisaa. Kadang aku mikir Mba Rey punya waktu 24 jam tapi bisa posting tulisan di blog tiap hari, urus rumah dan anak, tapi tetap semangaat.

    Kadang rumput tetangga memang lebih menarik yaa Mba. Liat orang lain sesama ibu rumah tangga kok kesannya lebih menyenangkan. Padahal semua sama ajaa. Tetaap hebat semuanyaa. Mba Rey jugaa hebaat dan keceee 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba rey sawang sinawang alias rumput tetangga terlihat lebih menarik. Dan akhirnya muncullah perasaan "iri"
      kalau dibilang ibu RT biasa ini agak ambigu juga mbak, maksudnya ambigu :
      pertama : biasa, mungkin buat beberapa orang terkesan seperti nggak ada apa apanya si ibuk ini
      kedua : padahal ibuk ibuk di rumah punya power kayak sailor moon
      bagi waktu buat kerjaan, buat anak juga, sama kayak mba devina bilang diatas
      bener juga ya dibalik sampul ibuk ibuk yang punya power gede tadi, ada hal lain yang "dikorbankan" juga seperti waktu tidur mba rey yang cuman beberapa jam aja
      dan mungkin bisa dibilang 24 jam sehari ini kayak kurang

      Delete
    2. Betul banget, mamak-mamak di rumah itu sebenarnya hanya dengan urus rumah dan urus anak, waktu udah habis, kalau bisa cari duit ada yang dikorbankan :D

      Sayang nggak semua orang paham hal itu ya :)

      Delete
  5. Mba Reyyy, aku baru aja nulis tentang hal berkaitan dengan ini. Menurutku, ibu rumah tangga yang mulai merasa "hidupnya gini-gini aja", mungkin saatnya mereka butuh sesuatu yang baru atau melakukan something yang tadinya sudah dikerjakan, namun karena satu dan lain hal (seringnya sih tanggung jawab domestik) they stop doing that.

    Berkaca dari pengalaman pribadi yang pernah di posisi tersebut, aku selalu berusaha untuk "mengisi diri" supaya hidupku nggak monoton. Tentunya dukungan suami sangat diperlukan juga. Masing-masing pasangan pasti punya cara tersendiri sih tentang hal ini, yang penting dikomunikasikan dengan baik aja (: dan yang pasti, jangan sampai membandingkan diri dengan emak-emak lain deh, ruwet 😂 fokus aja untuk mengembangkan potensi diri hihi

    Thank you, Mba Rey sudah sharing tentang ini. Hidup emak-emak! 😜

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah bener banget nih Jane, jangan membandingkan, kalau iya, yang ada nggak pernah bakal bisa merasa bahagia :D

      Delete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. Menjadi rumah tangga itu bukanlah sebuah pekerjaan mudah yang kita bayangkan seperti ibu-ibu, ternyata mengurusi pekerjaan rumah tangga itu juga sama-sama sulit seperti pekerja kantoran, mbak ;((

    ReplyDelete
  8. Namun sayang sekali jika seorang perempuan hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga saja, banyak sekali tokoh-tokoh inspiratif dari kalangan perempuan yang memperjuangkan hak-hak perempuan itu sendir yang bukan hanya mentok di ibu rumah tangga wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apakah ibu rumah tangga tidak bisa jadi tokoh inspiratif? Pandangan terkonyol yang pernah saya baca di zaman sekarang. Rupanya masih banyak orang yang hidup di gua kebodohan dan bangga dengan itu.

      Delete
    2. Tokoh perempuan yang paling inspirasi di dunia? ibu dong :D

      Apalagi ibu rumah tangga.
      Yang bisa menciptakan anak-anak sholeh dan menjadi generasi emas di masa mendatang.

      Justru dengan itu, anak-anaknya bakalan memperjuangkan hak-hak perempuan, karena mereka tahu mereka bisa hebat karena ibunya :)

      Delete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Back to Top