Friday, May 29, 2020

Meaningful Dalam Memperlakukan Pasangan

Meaningful Dalam Memperlakukan Pasangan

Sharing By Rey - Meaningful dalam memperlakukan pasangan ini sungguh bikin saya sedikit mengernyitkan dahi, karena saya googling dan tidak menemukan satu artikelpun yang membahas hal serupa.

Saya lalu bertanya-tanya, benarkah istilah ini yang saya dengar kapan hari?

Lalu saya tanya google translate, dan memang benar, meaningful itu artinya berarti, dan itu serupa dengan yang saya dengar dari seorang psikolog beberapa waktu lalu.

Jadi, 2 hari menjelang lebaran kemaren, saya berkesempatan cuhat online kepada seorang psikolog yang bernama Maharani Octy Ningsih, M.Psi, atau yang biasa dipanggil Mba Rani.

Maharani Octy Ningsih, M.Psi
Mba Rani bersama suami, sumber IG @maharani_octy

Saya beruntung banget menjadi salah seorang yang terpilih untuk mengadakan konseling lanjutan, setelah saya mengikuti kulwap mental health yang diadakan oleh Blogger Crony Community.

Ah, sungguh saya berterimakasih kepada para kakak-kakak di BCC, Kak Anesa, Kak Wawa.
Mereka tahu banget saya butuh konseling tersebut, padahal waktu kulwap-nya saya sama sekali nggak ikutan curhat, karena saya terdiam pas baca curhatan teman-teman lainnya, yang ternyata juga punya masalah yang tidak ringan juga huhuhu.

Tapi entah mengapa, kakak-kakak BCC malah memilih saya, mungkin karena mereka sering baca curhatan galau saya di medsos, hahaha.


Konseling Bersama Mba Rani


Setelah mendapatkan email dari Mba Anesa, saya kemudian menghubungi Mba Rani di nomor yang diberikan melalui email.

Saya menghubungi lewat chat WA, dan setelah beberapa waktu, akhirnya dijawab sama Mba Rani lalu kami mengatur waktu untuk konseling tersebut, karena konselingnya diadakan dengan tatap muka via zoom awalnya, dan terealisasi melalui WA Video call, hahaha.

Meaningful Dalam Memperlakukan Pasangan

Dan dengan sesekali terputus-putus, karena pas lagi hujan dong.
Sinyalnya buruk banget, gregetan juga rasanya ngobrol tapi keputus-putus, hampir menyerah dan meminta by voice note saja, akan tetapi saya merasa, konseling sambil tatap muka itu sungguh beda effort-nya dibanding dengan by chat.

Dan begitulah, meski sempat terputus setengah jam, dan kemudian mba Rani menelpon lagi, dan kami menghabiskan waktu sejam lebih dong, padahal jatah saya cuman 1 jam doang huhuhu.

Sungguh betapa Allah selalu baik banget sama saya selama ramadan kemaren.
Meskipun saya galau dengan beban yang terasa menghimpit, Allah selalu nggak pernah ingkar dengan janjinya, di mana ada kesulitan, di situ kemudahan pun menyertai.

Demikianlah, saya ngobrol banyak banget, Mba Rani begitu perhatian dan tahu betul apa yang saya butuhkan.
I told you, ngobrol sama psikolog itu enaaakkk banget!

Bahkan ngobrol sama psikolog laki saja asyik, seperti saat saya konseling di unair beberapa bulan lalu, apalagi sama psikolog perempuan.

Bukan hanya itu, perempuan juga jauh lebih perhatian dan nggak bikin awkward momen sih menurut saya, mba Rani masih terus mencari tahu berita saya loh saat lebaran dia mengirim pesan dan saya nggak balas.

Seolah tahu tengah terjadi sesuatu pada saya, dan memang waktu lebaran saya down banget, namun saya belum mau bercerita tentang hal itu, lain kali saja dulu hehehe.
Dan ketika membaca pesan mba Rani saya jadi lebih semangat, merasa diri jadi lebih berarti, huhuhu.
Thanks mba Rani.


Meaningful Dalam Memperlakukan Pasangan, Poin Penting Dari Konseling Bersama Mba Rani


Sebelum saya video call dengan mba Rani, saya diminta menuliskan masalah saya, dengan alasan agar kami tidak menghabiskan banyak waktu sia-sia selama masa konseling.

memaafkan suami yang egois

Saya rasa ini brilian banget.
Saya tahu banget bagaimana rasanya curhat dikejar-kejar waktu saat konseling di Unair beberapa bulan lalu, karena si bapak psikolog bahkan sama sekali nggak tahu masalah saya apa, hahaha.

Saya rasa, sebaiknya jika kita bikin janji konseling dengan psikolog, mungkin kita bisa mengirimkan terlebih dahulu poin-poin masalah kita, jadi baik psikolog maupun kita sebagai klien lebih terarah apa yang bakal dibahas, bukan hanya semacam curcol sambil kongkow hahaha.

Jadi, meskipun saya diminta menuliskan poin besar masalah saya, yang ada saya nulisnya poin panjang kayak novel hahaha.
Terimakasih lagi kepada mba Rani yang begitu sabar membaca semua masalah saya dengans seksama, dan tidak lupa memberikan saya semangat bahkan sebelum kami mulai konseling.

Dan sesi konseling kami, dibuka dengan beberapa pertanyaan mba Rani, tentang masalah yang saya tulis, off course masalah dengan papinya anak-anak yang nggak pernah pulang selama ramadan.

Lalu mendengarkan semua keluh kesah saya, menerima semua keluh kesah saya, mendukung saya sehingga saya merasa apa yang saya rasakan adalah hal penting.

Ciri khas kita kalau curhat sama psikolog, kita didengarkan, diterima bahwa it's oke bagi kita merasa itu adalah masalah, dan memang itu masalah.

Lalu perlahan mengarahkan saya menuju sebuah solusi yang paling sesuai dengan yang saya butuhkan saat ini, terlebih di bulan ramadan dan menjelang idul fitri, yaitu berbaikan.

Dan seni berbaikan itu dimulai dengan saya punya goal agar papinya anak-anak bsia kembali melihat anak-anaknya dulu, dengan cara saya kudu meaningful dalam memperlakukan pasangan.

Jujur awalnya itu berat banget! hahaha.

Meaningful artinya memperlakukan pasangan kita sebagai orang yang sangat berarti bagi kita, sementara jujur saya udah sampai di tahap ilfeel sama papinya anak-anak.

Entahlah, dengan sifatnya yang kekanak-kanakan, egois berlebihan, lupa kalau dia seorang ayah itu, bikin saya kehilangan alasan untuk mau memperbaiki hubungan lagi.

Bahkan saya merasa dia sungguh racun buat saya.
Akan tetapi, saya seorang ibu, dan saya tahu banget betapa anak-anak, khususnya si kakak butuh papinya.

Mungkin itulah yang namanya pengorbanan seorang ibu, bukan hanya mampu mengorbankan impiannya, seorang ibu juga mampu mengubah kebahagiaannya dengan menyesuaikan jadi kebahagiaan anak.

Dengan kata lain, asal anak bahagia, seorang ibu bisa jadi ikutan bahagia.
Dan kebahagiaan itulah yang mendorong seorang ibu melunturkan semua rasa kecewanya, membasuhnya dengan banyak pengertian, dan mencoba untuk memperlakukan suami dengan meaningful.

memaafkan suami yang egois dan kekanak-kanakan

Memang kalau dipikir-pikir, papinya anak-anak kabur karena saya idealis.
Meskipun sejujurnya bertentangan dengan hati nurani saya, i mean, saya berdiri di jalan yang lurus, menginginkan papinya anak-anak untuk sadar bahwa dia bukan seorang lajang lagi.

Yang mana, seharusnya kami bahu membahu mengorbankan semua kebahagiaan kami, dengan menggantinya dengan kebahagiaan anak.

Akan tetapi, ternyata hal tersebut sulit diterapkan pada seorang ayah.
Makanya sering ada pepatah mengatakan, kasih ibu sepanjang jalan, sedang kasih ayah sepanjang.... entahlah, hahaha.

Yup, intinya saya harus mengalah, menurunkan sedikit keidealisan saya, demi anak.
Yup anak memang satu-satunya penyemangat untuk saya bisa melakukan apa saja.
Seperti yang saya lakukan 6 tahun lalu saat rumah tangga kami diterpa badai.

Mengalah, dan kemudian memuja suami.
Mengatakan bahwa saya nggak bsia hidup tanpa dia.
Sungguh awalnya bikin saya merinding, hahahaha.

Sisi keidealisme saya memberontak.
Dan memang, akhirnya suami bisa pulang ke rumah, tapi kami ya berantem lagi, hahaha.

Sampai akhirnya saya berdoa memohon dikuatkan oleh Allah, sehingga perlahan saya bisa sedikit menerima, bahwa hidup memang kadang tidak adil, dan it's oke jika memang seperti itu.

Berusaha berpegang pada Allah, melakukan yang terbaik semata karena Allah dan anak, sehingga semua jadi terasa sedikit lebih ringan.

Pada akhirnya kita memang harus mengakui, bahwa jodoh adalah cerminan kita.
Kata-kata tersebut dilontarkan mba Rani dan menjadi penyemangat buat saya.

Saya jadi merasa lebih ikhlas untuk 'merendah', lebih ikhlas untuk menjadi makmum meski kadang hati nurani masih memberontak, karena merasa jalan yang dipilih imamnya sedikit nyeleneh.

memaafkan suami yang egois dan kekanak-kanakan

Kembali lagi, sikap meaningful saya terhadap suami.
Mencintainya dengan ikhlas karena Allah, dan anak-anak.
Insha Allah jika dekat Allah, tidak akan ada hal yang berat yang tidak bisa kita taklukan, termasuk rasa egois kita serta idealisme tingkat dewa kita.

Demikianlah.

Sidoarjo, 29 Mei 2020

Reyne Raea untuk #FridayMarriage

Sumber : Pengalaman pribadi
Gambar : Canva edit by Rey 

24 comments:

  1. Apa haru mewujudkan pasangan ideal juga ga sih mba? atau sudah cukup menerima apa adanya aja hehe. Yang penting ikhlas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak harus ideal sih menurut saya, asal masih berada di dalam batas-batas kompromi dan kewajaran.
      Tentunya, kita juga kudu mengukur kemampuan kita, biar meaningfulnya bisa bermanfaat.

      Kalau meaningful tapi sulit ikhlas dan bikin kita makin parah, mau nggak mau memang kudu ada jalan lain :)

      Delete
  2. ehem...resep jitu memperlakukan pasangan terima kasih nasehatnya

    ReplyDelete
  3. Baca artikelnya mbak Rey memang kadang seperti baca novel.🤣

    Jadi intinya mbak Rey mengalah demi kebahagiaan anak anak ya. Kasihan, apalagi si kakak yang butuh papinya. Eh, emang si kakak ngga butuh emaknya ya.😂

    Berarti benar kata pepatah, kasih ibu sepanjang jalan, kasih ayah sepanjang... Ah sudahlah.😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurunkan ego tepatnya hahaha.
      Meski sulit, ibu selalu rela melakukan apa saja demi anaknya :D

      Delete
  4. Waah semangat terus mbak Rey.. Noted buat pelajaran penting saat besok udh berkeluarga. Huhu
    Keren ya program konseling BBC

    ReplyDelete
  5. Saya termasuk salah satu silent reader mbak Rey, hanya bisa mendoakan agar mbak Rey dan anak-anak selalu diberi kesehatan dan panjang umur oleh Allah, aamiin. Ah, gimana lagi cara ikutan konseling BBC. Pingin banget ikut gabung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. aamiin, makasih banyak yaaa...
      Konseling tersebut dari kulwap yang diadakaan BCC di bulan Ramadan kemaren, coba deh gabung di BCC, ada banyak kegiatannya :)

      Delete
  6. paling nggak konseling ini udah bikin plong ya mba
    aku ngebayangin kalo konseling sama pakarnya gini kayaknya ngalir aja dan psikolognya lancar banget ngasih masukan, solusi
    life must goes on, semangatt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, asyik banget curhat ama psikolog :)
      apalagi Mba Rany sangat perhatian :)

      Delete
  7. Semoga usaha mba nggak sia-sia, dan membuahkan hasil yang maksimal, selama dilakukan untuk kebahagiaan keluarga (anak-anak tepatnya), pasti akan selalu ada jalan. Semangat mbaa ~ ehehehe, by the way bicara soal meaning saya jadi ingat percakapan saya sama si dia dulu banget waktu awal-awal kenal hahahaha dia juga pernah bahas meaning yang sempat membuat saya bingung dan nggak paham :D tapi berjalan dengan waktu, saya jadi mengerti maksud dari meaning apa :>

    Teruntuk mba Rey, jangan menyerah <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...

      Makasih banyak ya kesayangan.
      Jujur, saat saya mau menyerah, banyak bayangan teman-teman yang berkelebat di depan saya, salah satunya Eno, meski saya nggak pernah tahu wajah Eno seperti apa, tapi perhatian dan dukungannya selalu menyemangati.

      Tengkiuuu yaaaakk :*

      Delete
  8. Bisa terpilih menjadi salah satu peserta konseling by BCC adalah salah satu hal yang sangat disyukuri di bulan Ramadan kemarin.

    Semoga setelah konseling,Mba Rey dan suami bisa mendapatkan solusi dari masalah yang ada untuk kebahagiaan keluarga. Tetap semangat ya, Mba.^-^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Alhamdulillah Mba, setidaknya ada semangat selalu :)

      Delete
  9. Baca tulisan ini bikin aku terdiam beberapa menit. Satu sisi aku kagum Mbak Rey bisa menceritakan apa yang dialami Mbak Rey sendiri, yang mana aku tau ini nggak mudah, tapi salah satu sisi aku bersyukur bisa membaca pengalaman ini karena aku juga bisa mengambil hikmahnya (:

    Semangat terus yaa, Mbak Rey! Percaya semua akan ada jalan keluar yang terbaik. Bukan kebetulan juga rasanya Mbak Rey yang terpilih untuk melakukan sesi konseling ini, berarti memang saatnya Mbak Rey dan pasangan bisa mendapatkan solusi terbaik. Semangat semangat!

    Oh ya, selamat hari Raya Lebara jugaa ya, Mbak Rey (:

    ReplyDelete
  10. Semoga Mbak Rani bisa membantu apa yang Mbak butuhkan dan perlukan terkait mencari solusi dari masalah yang Mbak hadapi.

    Saya tahu tiada manusia yang sempurna, namun berbuatlah yang terbaik buat " Arjuna Mbak ".

    Kalau menurut saya lelaki bisa dikendalaikan oleh Wanita walau hanya dengan kalimat sederhana.Walau caranya bakal bertentangan dengan Hati, tapi cobalah....... saya yakin Mbak bisa menguasai keadaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul ya, ada caranya meski kadang mengorbankan hati :D

      Delete
  11. Mba Rey semangaaat!! Insya Allah itu jalan yang ditunjukkan Allah melalui tangan Bu psikolog Rani. Semoga setelah itu Mba rey diberikan kekuatan, ketabahan, dan kebahagiaan yaa.. Semoga semua masalah dg suami juga segers mendapatkan jalan keluar ya Mba 😊

    ReplyDelete
  12. Huhuhu mbaak... sebagai sesama cewek keras kepala, ku merasakan banget yaa, menerima itu kok ya susah banget. Padahal masih hijau, masih banyak yang bisa disesuaikan, tapi aku tuh ngototnya nggak kira-kira. Dan mikir pasangan nggak memikirkan kita. padahal kalo dipikir-pikir, yaaa, kita juga yang nggak memikirkan mereka dan kurang sabar.

    (lah jadi curhat. tapi kapan saya nggak curhat di komen orang?)

    Senang mbak Rey bisa mendapatkan sesi konseling yang menyenangkan. Semoga dilancarkan selalu ya, dan diberikan solusi terbaik!

    ReplyDelete
  13. Mbak reeeeeey, aku salut banget lho, sama Mbak Rey. Mbak Rey kuat banget. Kalau aku jadi Mbak Rey mungkin aku juga udah gak kuat. Apalagi aku orangnya tertutup, punya masalah apapun pasti aku pendam sendiri karena gak punya keberanian buat cerita ke orang lain, bahkan ke orang terdekat seperti orang tua atau saudara aja aku gak berani cerita..

    Semangat terus ya, Mbak Rey. Semoga masalahnya segera membaik.🙏

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)