Namanya Juga Punya Anak Kecil

anak jadi alasan

Sharing By Rey- Namanya juga punya anak kecil
Sounds so familier bukan?

Saya hanya sedikit geli melihat beberapa postingan-war (hadeh, istilah apa pula itu) di grup FB KBM, memang ya itu grup anti mainstream banget, khas emak-emak banget.



Setiap kali ada topik sensitif, meski tulisannya bikin mata sakit plus otak belibet bacanya, tapi respon pembaca banyak, dan dijamin postingan balasan bakal muncul berjilid-jilid.

Iya, beberapa waktu lalu banyak beredar postingan bertema rumah berantakan karena punya anak kecil, bermula dari postingan seorang ibu muda satu anak, yang mengatakan, meski punya anak, dia selalu mengutamakan kebersihan dan kerapian rumah.

Bukan untuk melarang anaknya explore, tapi mengarahkan anaknya untuk explore lebih positif dan bertanggung jawab.


Karuan saja si ibu tersebut diserang banyak emak-emak, yang kayaknya sih rumahnya kayak kapal pecah, lol.
Saya, meskipun rumahnya juga kadang mirip kapal pecah, tapi malah jadi pendukung tulisan tersebut, soalnya memang sayapun nggak suka rumah berantakan.

Jadi, anak-anak selalu boleh main, tapi mereka mengerti konsekwensinya, yaitu wajib beberes setelah main, tidak boleh coret-coret sembarangan, dan bahkan si kakak sudah punya tugas wajib setiap pagi dan sore, yaitu ngelap debu dan menyapu dalam dan luar rumah.

Jadi, off course rumah kami nggak melulu berantakan, malah seringnya rapi, karena memang si kakak sering lebih suka baca, dan siadik mulai mengerti, mainnya sedikit ngeluarin mainan, kalau mau ganti mainan, mainan yang berserakan diberesin terlebih dahulu.

Jadi, meski nggak sekinclong rumah kayak iklan obat pel lantai, tapi setidaknya saya masih dengan mudah menemukan beberapa barang-barang penting yang kececer di lantai.

Lalu apakah hal demikian disebut mematikan kreatifitas anak? saya rasa enggak juga sih, anak-anak saya tetap main kok, kadang mainnya sama saya.
Main mobil-mobilan yang dibarisin lalu dikelompokan warnanya.
Kadang juga main gunting-guntingan, main tempel-tempelan.

Tapi setelahnya, saya biasain wajib beresin keberantakan itu.
Sisi positifnya? si kakak tumbuh jadi anak yang lumayan mencintai kerapian.
Dia satu-satunya siswa di kelasnya yang lebih peduli akan barang-barang di kelas harus rapi.
Dia rajin menyusun sandal teman-temannya, hingga berderet rapi.

Dan bayangin, dalam sekelas ada 30 anak, di usia rata-rata 8-9 tahun, belum ada satu orangpun yang sepeduli si kakak dong.

Lalu bagaimana dengan cerminan ibu galak?
Oh kalau itu sih jujur ada benarnya juga.
Saya bukanlah malaikat, pernah juga mengajarkan anak dengan suara mezzosopran (eh bener nggak istilah karangan saya itu? lol), seringnya sih mengingatkan anak dengan aluran musik RAP, bahahahahaha.

Dan saya rasa, bukan hanya ibu pecinta kerapian dan kebersihan kayak saya aja yang gitu, ibu pecinta keberantakan juga sering berbuat hal itu, salah satu contohnya adik ipar saya (semoga dia nggak baca, lol)


Benarkah Rumah Berantakan Selalu Dikarenakan Punya Anak Kecil?


Yang bikin saya geli itu adalah, ketika semua ibu eh maksudnya, sebagian besar ibu mem-bully tulisan tentang rumah yang rapi tersebut, berkilah kalau mereka nggak sanggup beresin rumah, anak terlalu aktif, jadi berdamai dengan keberantakan demi kewarasan.


Jujur, saya jadi penasaran pengen nanya deh, tapi kalau tanya di grup KBM selalu banyakan hebohnya duluan, ketimbang jawaban jujur.
Jadi saya jadi pengen nulis pertanyaan saya di sini aja, entah ada yang mau jawab atau enggak.
"Memangnya, para ibu yang katanya berdamai dengan rumah berantakan, dengan alasan punya anak kecil itu, waktu gadis/singlenya gimana? pecinta kerapian dan kebersihan kah? rajin beberes rumah kah?"
Ye kan, jangan-jangan memang dari sononya yang 'selalu berdamai dengan keberantakan' alias malas hahahaha. Saya tahu banget beberapa orang wanita, yang dulunya ampun deh magernya alias malasnya.

Ada yang pulang kuliah, sampai sudah kerja, pulang kerja, masuk rumah lepas sepatu gitu saja, duduk di depan TV, buka kaos kaki, sebelahnya lempar ke kanan, sebelahnya dibiarin gitu saja dilantai.
Tasnya? ya terserak gitu saja di lantai, langsung ambil HP nyekrol-nyekrol, puas nyekrol nonton berita gosip.

Setelah lewat Magrib, baru beranjak mandi, tas dan segala kaos kaki? ya dibiarin sajalah, hahahaha.
Kamarnya? ya gitu deh, 2 minggu sekali bisa sedikit rapi itu udah Alhamdulillah banget.

Ada pula anak kos-kosan, yang CD bekasnya numpuk sampai berlusin-lusin, kadang 2 minggu sekali baru nyuci, kalau kehabisan CD ya beli lagi selusin hahahaha.
Kamarnya gimana?
Tisue bekas campur CD bekas, BH bekas, kaos kaki bekas, ada di segala sudut.

Ih cewek kok gitu joroknya?
Iya, ada dan banyak kok, hahahaha.

Nah yang gitu-gitu, saya sempat tahu kabarnya sampai sekarang, sudah menikah dan punya anak.
Apakah berubah jadi rajin?
Dari Hongkong?

Beruntunglah berjodoh dengan suami pengertian, dikasihnya orang yang bantu-bantu di rumah, kalau enggak?
Bahkan mau cari bantal saja kayaknya nggak nemu saking berantakannya rumahnya hahahaha.

Maksud saya adalah, kadang orang yang rumahnya berantakan itu bukan melulu karena alasan ada anak kecil yang aktif, tapi memang sejak gadisnya udah terbiasa gitu alias malas.
Meskipun saya mengerti sekali, kalau punya anak kecil mah sulit mau mempertahankan rumah tetap rapi.

Tapi kalau yang sejak gadisnya sudah rajin, saya rasa bisa sedikit mengurangi keberantakan rumahnya, minimal mengajak anak-anaknya mencintai kerapian dan kebersihan.


Bagimu Rumah Berantakan Dan Bagiku Rumah Rapi, Tak Perlu Saling Membandingkan.


Iya, sebijaknya sih kita nggak perlu membandingkan rumah kita rapi, rumah orang berantakan.
Terus orang beralasan 'karena punya anak kecil'.
Selama anak kecilnya nggak berantakin rumah kita tiap hari, ya udahlah, biarin saja.


Demikian pula, kalau kita yang rumahnya sering berantakan, sementara lihat rumah orang rapi, ya biarin saja, nggak usah disimpulkan yang aneh-aneh, apalagi yang negatif kayak anaknya kurang kreatif, ibunya kayak Hitler.

Atuh mah, selama ibunya nggak Hitler in anak kita, ya biarin aja napah! hahaha.

Orang yang rumahnya rapi, tidak selamanya hanya galak kayak Hitler aja, bisa jadi dia berusaha lebih keras untuk menciptakan rumah yang rapi demi keamanan dan kenyamanan anak-anaknya.

Ye kan, musim hujan gini, rumah berantakan? dijamin nyamuk dan tikus berpesta dan betah tuh dalam rumah, lebih parah lagi ketambahan ular yang ikutan nimbrung hahaha.

Daripada hal kayak gitu terjadi, ya ibunya memilih berusaha lebih keras membersihkan dan merapikan rumah, setidaknya ada waktunya berantakan, ada waktunya rapi.
Atau bisa juga sang ibu melibatkan anak-anaknya dalam merapikan rumah, sekalian mendidik anak mengenai tanggung jawab dan mencintai kebersihan dan kerapian.

Demikian juga ada yang rumahnya kayak sarang anaconda, baju kotor bertebaran di mana-mana, mainan ada yang masuk freezer, di lemari baju ada potongan ayam goreng, hahaha.

Ya dimaklumi saja, kita tidak pernah tahu bagaimana situasi dan kondisi orang lain kan.
Kali aja rumah gitu karena ibunya mudah kelelahan, dan sudah nggak punya tenaga membereskan rumah saat anak-anak tidur.

Demikian juga mendidik anak mencintai kebersihan.
Mungkin ibunya pakai sistem bertahap, menanti anak setelah benar-benar mengerti diarahkan, karena kalau anak udah mengerti diarahkan, akan lebih paham apa perintah ibunya.

Setiap ibu punya hal prerogatif dalam mengasuh anak-anaknya, bahkan jangankan orang lain, suami yang tidak pernah ikut andil dalam mendidik anak, dilarang ikut campur hahaha.
Apalagi orang lain yang cuman modal komentar doang!

Bagimu rumahmu yang berantakan dan bagiku rumah yang rapi atau sebaliknya.
Mari kita lebih bijak dengan memberikan kebebasan pada orang lain menentukan jalan hidupnya.

Yaaa..
Kecuali kita mau bantuin seminggu sekaliii aja panggilin dan bayarin Go-Clean, lololol.
Atau minimal, seminggu sekali ajak pergi tuh semua anaknya, biar mamaknya beresin rumahnya, bahahaha.

Ah begitulah, sungguh postingan ini sedikit gaje. tapi semoga bisa diambil hal positifnya, dan negatifnya plis kita buang aja ya.

Sidoarjo, 22 Januari 2020

@reyneraea

Sumber : pengalaman pribadi
Gambar : dokumen pribadi edit by canva

26 komentar :

  1. Rumah berantakan membantu proses kreativitas anak ? Pemikiran paling absurd dari para ibu untuk mencari pembenaran terhadap ketidakmampuan mereka memanage situasi.

    Proses kreativitas tidak melulu harus sama dengan berantakan. Banyak orang kreatif tetapi tetap rapi.

    Cuma orang bodoh yang berani bilang bahwa orang yang terbiasa rapi berarti tidak kreatif. Sepertinya ibu2 yang seperti itu kurang melihat dunia dan kenyataan di lapangan.

    Kalau malas beresin, bilang saja malas daripada mencari alasan yang tidak masuk akal untuk membenarkan kemalasannya. Lebih baik bilang capek, malas, daripada mencoba mencari tameng.

    Sesuatu yang sebenarnya menunjukkan mereka juga tidak kreatif dalam berpikir dan mengatasi masalah.

    Atau mungkin para ibu itu kebanyakan makan cekokan teori soal masalah kreativitas dari para motivator yang sebenarnya juga kadang tidak jelas apakah mereka sudah bisa mendidik anaknya menjadi kreatif atau tidak.

    Masalah kreatif sendiri sebenarnya manusia itu selalu punya dua sisi. Ada saat dimana dia menjadi sangat kreatif, terutama kalau dihadapkan pada situasi atau kondisi yang disukainya,tetapi menjadi sangat tidak kreatif kalau di dalam lingkungan yang tidak disukainya.

    Jadi, jangan pernah berpikir bahwa seorang anak bisa jadi kreatif di segala sisi. Mereka akan memiliki saat dimana otak mereka membeku dan tidak bisa menelurkan ide, tetapi di saat lain menjadi begitu encer.

    Tidak mungkin manusia bisa kreatif terus menerus.

    We are just human. Cuma karena kebanyakan ibu2 sekarang terlalu mudah menelan apa yang dikatakan para "motivator", influencer, atau apalah namanya, mereka sebenarnya menjadi sangat tidak kreatif dalam berpikir. Sedikit-sedikit akan melandaskan pada pemikiran "Kata si A harusnya begini dan begitu"

    Justru pola yang seperti ini yang bikin anak ga kreatif karena mereka hanya harus mengikuti pola yang diajarkan ibunya, yang menelannya dari orang lain.

    Rumah berantakan bisa terjadi karena banyak hal, rumah rapi juga begitu...

    so apa hubungannya dengan kreativitas..

    Bener-bener ibu-ibu yang ga kreatif dalam berpikir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, paling suka baca komentar Pak Anton :D

      Tapi benar banget Pak, zaman sekarang yang namanya influencer itu benar-benar kayak virus di pikiran banyak orang khususnya ibu-ibu.

      Udah deh, jadi kiblatnya banget, sehingga tidak jarang, kebanyakan ibu-ibu kehilangan jati diri, selalu hidup atas arahan influencernya hihihi

      Padahal, sebagai ibu punya perasan besar banget dalam perkembangan anak, kasian aja gitu anak dididik berdasarkan influencer hihihi

      Hapus
  2. saya pernah baca postingan teman saya yang sehari bisa beberes rumah sampai 7 kali! gara-gara punya anak kecil (entah dua atau tiga), emang rajin banget emak satu itu. Kalau saya daripada capek saya lebih memilih beberes setelah anak tidur. emang sih rumah jadinya berantakan banget hahaha tapi semakin besar lama-lama mereka mengerti bahwa mainan harus dibereskan sehingga rumah bisa cantik wkwkwkwk. Semoga para emak diberikan kekuatan untuk beberes rumah yang berantakan hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi iya Mba, mungkin kayak saya tuh, sejak kecil terbiasa rapi, jadinya depresi aja rasanya kalau liat berantakan nggak pernah rapi sama sekali.

      Sejak kecil sih, saya bahkan lebih milih beres-beres dulu, meski ngantuk.
      Nggak bisa tidur kalau masih berantakan.

      Dulu bahkan sewaktu masih ngekos, kalau memang capek banget, semua yang berantakan saya kumpulin di sebuah sarung, di buntel gitu, baru deh saya bisa tidur hahaha

      Hapus
  3. Rumahku gimana, ya? Rumahku rapih soalnya aku datangin dua minggu sekali dan sebelum pergi kami beberes. Hahhaa

    Kalau skrg kami tinggalnya sama Mama jadi ya rapih dan ya..Zafa biasa beresin mainannya sendiri daripada nanti pindah ke tong sampah.

    Kalau dibilang mematikan kreatifitas ya tidak juga, galak juga tidak, aku pikir melatih anak beberes mainannya sendiri itu baik. Karena kadang kita bertamu anak main sama si anak tuan rumah trus mainan ga diberesin itu agak gimana gitu....

    Beda kalau dibiasain, kan?
    Anak partner suka kalau Zafa yg pinjem mainannya karena selesai main pasti rapih. Cuma rapihnya Zafa ini kadang lupa naruh di mana, pas butuh semua jadi ikutan sibuk.

    Btw, Mom War mah ada saja ya yg diributkan? Hahahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah bener tuh, saya cuman khawatir kalau anak terbiasa nggak diarahkan di rumah, terus dia terbiasa gitu di rumah orang, kan malu hahaha.

      Nambahin list momwar aja yak :D

      Hapus
  4. saya beda kalau anaksaya malah suka bersih-bersih akunya yang bikin berantakan

    BalasHapus
  5. Waduuuh, saya kira blog ini adalah media yang beda jauh dari instagram (di mana selalu ada yang komentar soal apa yang kita tulis atau kerjakan)~ ternyata di blog sama saja ya, ada juga yang conter attack tulisan kita. Saya memang kurang jauh mainnya :">

    Bisa dibilang, saya kecilnya itu nggak punya banyak mainan. Ortu saya bukan tipe ortu yang selalu kasih saya mainan, karena ortu saya nggak suka rumah berantakan dan mereka sepertinya berpikir kalau saya dikasih banyak mainan pasti rumah akan berantakan karena mainan saya hehehe. Alhasil dari balita, saya lebih banyak 'main' dengan barang apa saja yang ada di rumah. Dan meski ingatan saya nggak banyak soal masa balita saya (yaiyalah bagaimana bisa ingat :p), tapi saya tau kalau rumah ortu saya dari dulu memang terkenal rapinya berdasarkan testimoni keluarga besar :)))

    Tapi meski begitu, I mean, meski ortu saya orangnya rapi, dan saya pun nggak punya banyak mainan untuk merangsang kreativitas saya pribadi saat kecil.. saya tetap tumbuh sebagai anak yang kreatif. Bahkan, hidup saya most of the time ada sangkut pautnya dengan dunia kreatif hingga saat ini hehehe. Jadi saya rasa, rumah rapi itu bisa membuat anak nggak kreatif sama sekali nonsense. Kreativitas seorang anak nggak bisa dipatok standar hanya dari rumah yang berantakan~

    Andaikata pun memang betul adanya bisa menciptakan anak-anak kreatif dari rumah yang berantakan, buat apa kalau side effectnya menciptakan anak yang jorok dan nggak bisa belajar merapikan. Especially karena kebersihan adalah sebagian dari iman. Yang mana bersih dan rapi itu juga untuk kepentingan dan kesehatan bersama :D

    Well, semoga meski setiap ibu punya sudah pandang berbeda, tetap bisa saling menghargai satu sama lainnya. Kaget saya kalau sampai ada post berbalas hanya karena nggak setuju dengan apa yang ibu pertama tuliskan. Sepertinya, kita harus belajar lebih banyak untuk menerima opini masyarakat luas, dan kenyataan bahwa setiap masing-masing dari kita memiliki prinsip hidup yang berbeda :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, itu di grup facebook kok, grup miliknya Mba Asma Nadia dan suaminya, dulu tuh grup dibuat untuk kita-kita belajar nulis, eh sekarang jadi tempat posting war hahahaha

      Hapus
  6. Wadaw...kesindir mbak rey nih daku. Hahaha...kl aku ga sanggup beberes, bilangnya tenagaku terbatas. Gitu aja lah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahahahaha, iya Mba, tiap orang beda-beda batas lelahnya ya :D

      Hapus
  7. Saya emang suka rapi, mba. Pala pusing kalau lihat rumah berantakan. Mungkin ini turunan dari bapak saya yg juga rapi.

    Setelah punya anak, jujur sih rumah sering berantakan. Tapi berhubung tinggal di apartemen mungil, mau ga mau harus dirapikan tiap berantakan karena kalau ga rapi ga ada tempat, hahaha.

    Saya santai aja ngurus rumah,nggak ngoyo.

    Mba tahu ga, saya bener2 ga tau apa2 soal grup2 gituan. Tahu grup2 WAG yg saling komen ama grup KBM malah dari blognya mba Rey, haha. Makasih banyak lho mba info2nya. Kudet banget akutuuuu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi sama Mba, bapak saya juga orangnya rapi dan bersih, jadinya beliau nggak suka liat berantakan, kami pasti kena marah kalau berantakan, makanya sejak masuk SD semua mainan disingkirkan ama bapak

      Hapus
  8. sesekali bener mba bsa pake jasa go clean :D
    bukan nya males sih beresin rumah, tapi niat berbagi rejeki jga sama org yg kerja di go clean hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia, saya kadang emrasa terganggu dan malah nggak nyaman sendiri kalau ada orang asing di rumah.
      Selama masih bisa saya kerjakan sendiri, saya milih kerjain sendiri :)

      Hapus
  9. Wah sungguh luar biasa
    Yang baca, khususnya emak-emak jadi tersindir dan ada yang termotivasi.
    Ya, itulah seni dan nikmatnya punya anak.
    Yang tidak atau belum punya anak saja iri lo. Dan dihatinya rela dan senang jika rumah atau kamarnya berantakan, asal anaknya bahagia dan senang.
    Apalagi, yang sudah punya anak harus lebih senang. Tanpa menyudutkan keberadaan anak itu sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, ibu juga manusia :D
      Meski punya anak, bukan berarti apa yang ibu rasakan harus diabaikan.
      Sebijaknya diarahkan untuk win-win solution.

      Misal, udah punya anak, tapi sejak kecil terbiasa rapi, sulit loh berdamai dengan berantakan itu.

      Akan lebih baik jika perasaannya tersebut diperhatikan, diajak untuk mengajak anak bertanggung jawab juga terhadap kebersihan rumah :)

      Hapus
  10. Haduhh aku paling males liat yang serba berantakan. Langsung ilfil kalo masuk rumah yang notabene gedongan tapi kok berantakan. At least bisa kan nyuruh ART beresin. Aku aja yang tanpa ART gini berusaha gimana cara biar rumah rapih. Rumah mungil tak apa, yang penting rapihhh

    Pola kita gini memang otomatis nular ke anak-anak, sampe rumah langsung pada naro sepatu di tempatnya, abis mandi naro baju kotor di wadahnya. Ya meski pernah juga emaknya ini butuh naik suara ampe 7 oktaf, wkwkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah betul tuh Mba, memang terlihat jahat, tapi setidaknya kita udah menyelamatkan anak-anak agar lebih mudah menjalani hidup di depannya lagi, lebih mandiri, lebih punya tanggung jawab juga :)

      Hapus
  11. kalo dari asalnya berantakan ya emang susah :D

    alhamdulillah, untungnya saya dapat istri yang tipikal rajin bersih2, kalo dapat tipikal "kemproh" ya mungkin rumah saya jadi tumpukan sampah hehe

    setelah punya anak 3, cukup mumet karena selalu berantakan rumah, sampe stres dia liat rumah berantakan gara2 anak2 :D

    sampe kadang saya harus menghibur istri, kalo memang rumah beresiko jadi berantakan karena punya anak banyak

    tapi seiring anak mulai agak besar, mereka sudah bisa diajak bersih2 mainannya sendiri, dan sekarang sudah ga berantakan banget, karena memang ada beberapa hal yang ga bisa dikerjain anak kecil, misal ngepel cairan tumpah

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwkw poin tulisan di atas ya itu Mas.

      Maksud saya, kadang mamak-mamak lupa, kalau sebenarnya ya memang dari sononya malas dan suka berantakan sejak gadis.

      Terus sekarang berantakan malah cuman nyalahin anak, lebih parah lagi ketambahan nyinyirin rumah ibu lainnya yang rapi :D

      Tapi memang sulit loh berdamai dengan berantakan kalau sejak kecil memang senang kerapian.

      Salah satu cara bijak ya mengajak anak ikutan beberes, jadi anak juga diarahkan untuk lebih baik :)

      Hapus
  12. Istri saya waktu belum ada anak dulu suka yang rapi dan selalu bersih. sekarang setelah punya anak, anak dibiarkan main walau berantakan, tapi yang saya lihat tanpa sadar dia selalu berusaha merapikan walau sedikit mainan yang sudah tidak digunakan oleh anak saya.

    BalasHapus
  13. Penomena rumah berantakan karena si anak suka obok - obok mainan dan isi rumah merupakan hal yang sering saya lihat.#saya ketika masih kecil kayaknya kayak gitu juga.hihihi.

    Namun apakah rumah bakal rapi kembali setelah anak bermain ? nah ini dia point yang seru dan mendapat perhatian saya.

    kalau emaknya tipikal rajin beberes rumah, biasanya bakal situasi rumah bakal rapi, namun kalau si emaknya rada - rada sibuk, sibuk selonjoran gitu, biasanya akan bersembunyi dibalik " aksi heroik anaknya " .

    mungkin aslinya agak males. mungkin pula ngak biasa beberes, atau mungkin senang kerja borongan , pas sudah berantakan banget baru beberes....hihihi,mungkin ngak yah seperti itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha, betul Kang, kalau udah mager, terpaksa alasannya ada anak *kabooorrrr

      Hapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)