Monday, March 30, 2020

Hanya Ingin Dicintai Tanpa Alasan

hanya ingin dicintai

Saya hanya ingin dicintai tanpa alasan, itu saja cukup, dan saya merasa punya kekuatan seluruh planet untuk menaklukan dunia ini.

Warning!
Ini curhatan orang galau, skip aja, jangan dibaca!

Saya lagi galau, semalaman belum tidur, saya ngantuk, tapi nggak bisa tidur, saya sudah curhat di facebook, dan banyak teman menanggapinya.

Terimakasih banyak temans.
Saya sungguh tidak bisa menggambarkan, betapa berartinya kalian di hidup saya, sebagai pengingat saya untuk tetap waras.

Tak berhenti dan bosan membaca dan merespon semua keluh kesah saya, meski mungkin terlihat norak bagi kebanyakan orang.

Curhat rumah tangga kok di media sosial?


Tapi saya memang seputus asa itu temans.
Tak punya siapapun yang bisa meringankan beban saya.
Bahkan orang tua dan keluarga.

Karena sejak 10 tahun lalu, saya bagaikan Ale ke Anya di Critical Eleven.
Di mana saya menikah dengan suami, saya membakar jembatan saya kepada keluarga saya, sehingga saya nggak punya jalan untuk kembali.

Kalaupun kembali, saya butuh banyak kekuatan untuk membangun jembatan tempat saya menyebrang pulang kembali.

Saya mengerti, seharusnya saya fokus pada solusi, berhenti meratapi nasib yang tidak seindah kisah dongeng, meski diawali dengan seindah dan senaif dongeng-dongeng.

Tapi begitulah saya, yang hanya manusia biasa.
Setidaknya saya sekarang masih loading, berusaha memahami dan menerima kenyataan yang menyakitkan ini.

Oh tidak!
Suami saya kemungkinan tidak selingkuh (saya bilang kemungkinan karena saya nggak tahu kehidupannya di luar sana).
Tapi itu yang malah bikin saya semakin sedih.

Karena suami berulang kali mengatakan, bahwa DIA TIDAK PUNYA PERASAAN LAGI SAMA SAYA.

Naif bukan?
Bukankah banyak terjadi masalah seperti ini?
Saat waktu berlalu, perlahan semua perasaan terkikis beban hidup.
Dan perlahan rasa itu hilang.

TAPI MENGAPA TIDAK DENGAN SAYA?

Saya jujur juga tidak tahu, apakah saya juga masih mencintai suami, kadang malas banget liat wajahnya, merasa tenang saat dia tidak ada di rumah.

TAPI MENGAPA SAYA SAKIT HATI SEKALI SAAT DIA BERULANG KALI BILANG TERANG-TERANGAN KALAU DIA SUDAH MALAS HIDUP DENGAN SAYA.

Entahlah, saya merasa seolah kehilangan pegangan hidup, kehilangan semuanya.
Berharap itu hanya mimpi, dan mendapati suami datang dan memeluk saya.

So naif bukan?


Mungkin karena saya lebih dari cinta


Mungkin kali ya.

Waktu kecil saya jujur kekurangan cinta.
Tumbuh besar dalam kesepian dan keterabaian.
Orang tua selalu tidak peduli dengan saya.

Karena keadaan mungkin.
Namun sayangnya saya anak kecil, yang kadang tidak bisa paham dengan keadaan.
Saya kehilangan cinta orang tua saya.
Bahkan berdoa jauh dari mereka.

Bertahun kemudian, saya bertemu dengan lelaki biasa.
Dia biasa.
Dia pendiam
Dia bukan seseorang yang bisa dibanggakan
Tapi cintanya luar biasa.

Meskipun, jujur saya yang pertama kali memperjuangkannya.

Saya jatuh cinta pada lelaki itu.
Tergila-gila dengannya.

Saking cintanya, saya rela kembali ke Surabaya menjalani masa depan yang nggak pasti.
Butuh waktu bertahun-tahun orang tua dengan segala macam cara membuat saya kembali ke Buton agar punya pekerjaan tetap.
Orang tua juga kurang setuju saya dengan lelaki tersebut, karena dia tidak punya kerjaan tetap.

Tapi saya sudah terlalu terbuai cinta.

Meskipun demikian, saya masih kurang yakin menikah dengannya.
Saya trauma melihat pernikahan orang tua yang selalu cekcok.

Dan saya menghabiskan waktu kami pacaran selama 8 tahun untuk mengetes, sejauh mana kesabarannya.

Dan dia tidak pernah berubah, meski saya sering menyakiti dia.
Demikianlah, saya yakin menikah dengannya, bahkan mengajak dia menikah.

Iya, satu hal yang luput dari penilaian saya adalah, dia hanya bertahan, tapi tidak pernah benar-benar berjuang.
Sayalah yang selalu berjuang.


Sesungguhnya perjalanan kami tidak mudah


Sesungguhnya perjalanan kami menikah tidak mudah, orang tua saya yang memang tidak sreg dengan lelaki tersebut semakin kecewa karena tidak ada komunikasi khusus dari si lelaki.
Belum lagi masalah adat istiadat yang beda, mahar yang bikin nangis.

Orang tuanya juga semacam tidak setuju dengan kami.
Dan saya sempat ingin membatalkan pernikahan karena itu.

Tapi lelaki tersebut akhirnya mau berbicara dengan orang tuanya.
Dan begitulah, dengan semua drama dan air mata, kami menikah juga.

Setelah menikah kami memulainya dengan minus.
Karena kami beda pulau, butuh dana besar setidaknya untuk transportasi dan sebagainya.

Mulai dari kami ngekos di rumah petak, membeli barang rumah tangga dengan uang THR saya waktu kerja.

Kami menikah saat saya sudah kerja, tapi lelaki tersebut masih kerja harian di proyek yang mana gajinya sungguh belum memenuhi, terlebih harus membayar hutang terlebih dahulu.

Saya ingat betul, pertama kali kami pindah ke kos.
Kami cuman punya 1 kasur kecil dari rumah ortunya.

Kami lalu mencicil barang sedikit demi sedikit.
Melengkapi dengan gaji saya yang juga masih kecil.

Mulai dari kasur, lemari, kompor hingga lainnya.
Sampai akhirnya kami pindah ke kontrakan, saya hamil dan akhirnya punya anak.

Kehidupan kami belum banyak berubah, si suami masih kerja dengan gaji minim yang sering molor pembayarannya.
Saya masih kerja karena butuh duit buat melahirkan.

Sampai akhirnya saya terpaksa melahirkan sesar dan kami tak punya dana, karena dana yang disiapkan hanyalah dana lahiran normal.
Beruntung rezeki si kakak berasal dari mama saya yang saat itu masih kerja.


5 tahun pertama yang berat


5 tahun pertama pernikahan kami lumayan berat, meski saya bersyukur suami selalu sabar dan selalu meminta maaf.

Ada waktunya saya nekat resign meski suami saat itu masih bergaji yang kecil, rasanya tidak bisa mencukupi hidup kami.

Tapi Allah selalu memberikan keajaibanNya.
Saya mendapatkan uang dari bos meskipun saya sendiri yang minta resign.

Selanjutnya, hidup kami masih begitu terus, jujur masih kekurangan.
Tapi kami masih bisa tertawa, meski kadang juga menangis.

Sampai 5 tahun pertama pernikahan, kami punya masalah besar.
Pak suami tidak pernah bilang kalau ternyata dia punya hutang.
Dia punya beberapa CC dan tidak disiplin menggunakannya, sehingga akhirnya terbelit hutang yang besar.

Saya?
Bahkan sampai sekarang nggak berani ambil cicilan KPR karena takut nggak bisa bayar cicilan, lalu tiba-tiba punya hutang yang tidak sedikit?

Rasanya saya mau mati saja!
Bukan hanya itu, suami juga terlibat masalah di kepolisian karena sesuatu yang salah.
Karuan saja saya ingin teriak, ingin marah, tapi nggak tahu pada siapa?

Yang jelas, demi membantu suami, saya lakukan semua hal.
Saya jual cincin kawin, emas satu-satunya yang saya punya.
Termasuk cincin-cincin si kakak yang merupakan pemberian kakak saya.
Saya kuras semua isi rekening saya, sampai semua benar-benar kosong melompong.
Demi membantu suami agar bisa melunasi hutang-hutangnya.

Setelah uang saya habis?
Masalah kami malah semakin besar.
Saya pulang ke Buton sementara.
Dan dia ternyata malah sibuk curhat-curhatan sama mantan-mantannya di Surabaya.
Hal itu dia lakukan, setelah pertama kalinya mengucapkan kalimat yang bikin saya hampir mati.
Katanya, dia sudah malas hidup dengan saya lagi.

Hancur rasanya hati ini, seumur-umur itu pertama kalinya dia berkata setega itu sama saya.
Ibarat kehilangan arah, ingin menyerah saja.
Terlebih kedua orang tua mendukung saya untuk berpisah.

Sayangnya, si kakak menangis dalam tidurnya saat diejek saudaranya, kalau dia tidak punya papi.
Seketika saya memutuskan, untuk merebut lagi perhatian suami, agar anak masih punya ayah.

Saya pulang ke Surabaya dan menemukan kenyataan pahit betapa dia memang benar-benar berniat meninggalkan saya.
Dia mengejar semua mantan-mantannya.
Bukannya fokus kerja demi melunasi hutangnya.

Sayangnya, ternyata tidak semudah itu, saya bagaikan orang gila saat itu.
Menangis, menjerit, bahkan nurut saja saat diajak dibuatin air yang didoa-doa oleh ayahnya yang katanya bisa menerawang.

Padahal saya sungguh eneg dan nggak percaya hal demikian.
Saya lakukan semua perintah ayah sahabat saya tersebut, bukan karena percaya air itu bisa mengubah suami jadi lebih peduli.
Tapi menganggap air tersebut adalah sahabat yang menguatkan saya untuk merebut perhatian suami kembali.


Dia kembali..
Tapi bukan karena air atau apapun.
Dia kembali, karena saya kembali bekerja dan membantunya membayar semua hutangnya.


Salahkah saya meminta cinta?


Apa sih hubungannya semua cerita ini dengan judulnya?
Saya cuman ingin bertanya pada universe!

Saya sudah melakukan semuanya, sebisa yang saya lakukan.
Menemaninya dalam kesederhanaan bahkan kekurangan.

Setelah 5 tahun itu, perjalanan ke 10 tahun pernikahan pun tidak mudah.
Keadaan kami tidak sama sekali berubah.
Ekonomi naik dan turun.

Saya kadang lelah dengan keadaan tersebut.
Saya ingin seperti wanita lain, yang fokus mengurus anak dan suami serta rumah, tanpa perlu dipusingkan dengan keuangan.
Setidaknya keuangan rumah tangga.

Tapi, keluhan hanyalah sebatas keluhan.
Toh saya masih di sini.
Sampai akhirnya dia berkali-kali jobless, kerja on off terus.
Sementara si kakak butuh uang sekolah yang tidak sedikit.

Banyak yang gemas melihat saya.
Tapi menikah dengannya adalah pilihan sendiri.
Dan saya tidak mungkin mundur karena lelah hidup susah.

Hingga hampir 10 tahun berlalu.
Harta saya bahkan hanya 2 anak lelaki yang mulai terganggu mentalnya karena orang tuanya bertengkar terus itu.
Terganggu mentalnya karena diasuh oleh ibu yang depresi dan sibuk menyembuhkan diri sendiri.

Sejujurnya kami nggak punya apapun.
Jangankan rumah, bahkan uang untuk bayar kontrakan pun nyaris nggak punya.

10 tahun wahai dunia...
10 tahun saya meng'hamba' pada lelaki tersebut.

Menerima keadaan dan kemampuannya.
Berjuang mencari uang meski itu sulit bagi saya yang tidak bisa keluar rumah, dan tak punya keahlian lain selain menulis.
10 tahun, bahkan emas nikah saja saya jual buat bantuin dia.

10 tahun, mengorbankan semua kesempatan saya untuk sukses, demi setia padanya.

Dan yang saya butuhkan HANYA CINTA!

Sungguh hanya cinta..

Tak mengapa 10 tahun belum punya harta apa-apa.
Tak mengapa 10 tahun masih kesulitan membayar kontrakan.
Tak mengapa 10 tahun membuat saya semakin sulit melihat orang tua saya.
Tak mengapa rasa rindu kepada orang tua saya singkirkan.

Asal dibalut dengan cintanya.
Rasanya saya tidak pernah merasa takut dengan masa depan.

Saya cuman ingin dicintai.
Saya cuman ingin dipeluk dan diberitahu dengan lembut.

"Jangan takut Rey, saya tak pernah berhenti mencintaimu dan mengharapkanmu di sini."
 Itu saja!

Dan apakah itu terlalu berlebihan?

Saya tidak memintanya membelikan saya mobil dan rumah dalam waktu dekat.
Karena saya tahu kemampuannya sejak awal saya kenal dia.

Well, saya juga iri sama teman-teman yang bahkan KPR rumahnya sudah lunas karena udah menikah 10 tahun.

Tapi itu hanya sebatas perasaan saja.
Tak akan bisa menguarkan perasaan keterikatan saya kepada lelaki yang dulu sangat mencintai saya itu.

Apakah telalu berlebihan?


Saya tahu, saya harus tegar!


Pada akhirnya, sedalam apapun saya merasa down.
Seperih apapun perasaan saya.

Tidak ada jalan lain.
Saya harus bangkit dan tegar, demi anak-anak.

Ah, apalagi sih yang bisa saya lakukan?
Seluruh hidup ini rasanya sudah saya gadaikan untuk anak-anak
Apapun akan saya lakukan demi anak-anak.

Dan memang akhir-akhir ini, saya tidak lagi melihat kedamaian dari suami meski ke anak-anaknya.
Dia jadi pilih kasih, selalu kasar pada anak.
Dengan alasan mendidik, tapi didikannya sungguh bikin anak mendendam.
Seperti yang saya tuliskan di status facebook ini



Saya mendapatkan banyak masukan di sana, belum termasuk dari teman-teman yang menghubungi lewat japri.

Memang sepertinya saya harus tegas pada diri sendiri.
bangkit berdiri di atas kaki sendiri.
Mencintai diri sendiri.

Karena saya berhak dicintai.

Saya tidak akan lagi mau berjuang untuk cinta orang.
Meskipun mungkin seandainya kami masih berjodoh.
Sepertinya saya memang harus terbangun dari semua roman picisan yang terdengar abege ini.

Banyak yang menyarankan saya pulang ke rumah orang tua.
Meskipun jujur opsi ini bikin saya sooo broken hearted banget!
Karena saya pasti mencorengkan arang lagi ke wajah orang tua.

Selain orang tua juga sedih dengan nasib saya yang menyedihkan ini.


Tapi, seorang sahabat berkata pada saya,
"Mungkin sudah waktunya Kak Rey pulang mengurus orang tua, sudah terlalu lama Kakak meninggalkan mereka demi laki-laki yang selalu tidak menghargai ketulusan Kakak"

Sahabat lainnya berkata,
"Jangan takut dengan penghasilan, saya kenal kamu Rey, kamu pasti bisa dengan semua kemampuanmu"

Dan masih banyak masukan dan support dari teman-teman lainnya.

Terlebih dari status saya yang ini,


Banyak masukan yang berimbang, baik yang A maupun yang B.
Yang A kebanyakan mengingatkan akan surganya istri.
Yang B mengingatkan akan kebahagiaan diri adalah kebahagiaan anak.

Saya terbalik deh kayaknya selama ini, inginnya anak bahagia sayapun ikut bahagia.
Kenyataannya, semua tidak semudah itu.

Ah andai tidak ada virus corona ini, mungkin memang sebaiknya saya pulang dulu.
Tapi saya nggak tega pulang ke orang tua, yang sudah tua dan takutnya saya malah terpapar virus di perjalanan.

Jadinya harus menunggu lagi deh, sembari meminta petunjukNya.
Iya, saya galau karena memang lagi nggak sholat.
Semoga bisa segera sholat, saya selalu kehilangan arah kalau nggak sholat :(

Terimakasih semua sahabat.
Masha Allaaaahh, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan saya lakukan dalam kekalutan jika bukan karena semua masukan kalian semua.

Bahkan saya hampir berpikir, ingin mengajak anak-anak memaparkan diri di luar sana, astagfirullah...
Saya memang seputus asa itu, huhuhu.

Hanya karena cinta..

Duh, semoga blog ini masih terus ada hingga 5 tahun mendatang, agar suatu saat saya membaca ini sambil tertawa dan mual-mual.

Ya elah Rey, hanya karena cinta kamu harus merasa kehilangan arah?
Bagaimana dengan cinta orang tuamu yang telah ada dan sebenarnya tak pernah hilang, bahkan sampai sekarang?

Bagaimana bisa kamu menangisi cinta lelaki yang sebenarnya nggak ada hebat-hebatnya sama sekali.

Agama? sangat kurang!
Ekonomi dan masa depan? ya gitu deh!

Lalu apa yang kau tangisi?

Berdirilah Rey!
Menangislah dengan keras.
Lalu usaplah air matamu.

Dunia masih berputar, meski cinta lelaki itu sudah pergi dan virus corona masih bertebaran.

Masih ada orang tua yang masih sangat mencintaimu.

Masih banyak sahabat yang amat sangat peduli dengan kebahagiaanmu.

Kau kuat Rey!
Ingatlah, bapakmu mendidikmu seperti itu bukan?

Maka, tegarlah dan bahagialah..

Sekali lagi, terimakasih temans semua...
Terimakasih buat yang mau baca curhatan gaje ini dan masih bertahan nggak mual bacanya sampai akhir ini, hehehe.


Sidoarjo, 30 Maret 2020

Reyne Raea



  

39 comments:

  1. Tetap semangat mb Rey.
    Insya Allah tetap akan ada jalan keluar yang terbaik

    ReplyDelete
  2. Banyak2 berdoa mbak, saya turut mendoakan dari jauh agar bisa berkumpul lagi dan harmonis lagi. Tapi kalau mbak sudah tidak kuat, berpisah dulu sementara agar bisa sama2 saling merenung. Mungkin masing2 butuh waktu untuk memikirkan ulang semuanya apa harus diteruskan atau menyerah karena sudah tidak sanggup. Hanya mbak sendiri yg tahu kesanggupan mbak sampai dimana. Setelah berusaha dan berdoa

    ReplyDelete
  3. Aku jadi nangis bacanya hiks, Km gak sendiri mbak. Banyak yang sayang sama mbak.

    Ya Allah, kuatkan mba Rey hadapi ini semua.. Peluk erat mbak Rey :'(

    Berbahagialah dengan caramu mbak. Kamu berhak bahagia. Jaga kesehatan ya mbakku.

    ReplyDelete
  4. Badai pasti berlalu...semangat...

    ReplyDelete
  5. I pray for you, mbak.

    Semoga kabar baik yang segera terdengar, yang membahagiakanmu dan keluargamu.

    Aaamiiin.

    ReplyDelete
  6. Aduh mbak Rey, 5 tahun pertama yang berat, sungguh sangat mewakili sikon saya saat ini, hihi..

    Semnagat kita doong!!

    ReplyDelete
  7. Ya Alloh mbeseseg hatiku bacanya kak rey :'(

    Hanya bisa kirim peluk virtual, mudah-mudahan segera Alloh berikan petunjuk apapun yang akan Kak Rey putuskan nantinya, semoga setelah ini akan ada skeneraio terbaik dari Alloh untuk Kak Rey sekeluarga
    Kuatlah selalu untuk dirimu dan anak-anak ya Kak Rey....

    Lalu kalau sedang merasa sendiri, Kak Rey harus ingat bahwa Kak Rey masih ada yang sayang yaitu Alloh yang sedang mengangkat derajat kak Rey, orang tua kak Rey, dan teman-teman semua yang suport dan selalu tak henti mendoakanmu. Apapun itu kami selaku pembaca setia blog kakak selalu doakan semoga nantinya berujung baik untuk semuanya... amin ya rob

    Satu hal lagi, mudah2an setelah selesai masa periodnya, Kak Rey kembali diberikan kejernihan dan ketenangan hati lebih dan lebih lagi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Opo itu mbeseseg Mbul hehehe.
      Terimakasih Mbul sayang :*

      Aamiin ya Allah :)

      Delete
  8. Saya turut sedih mendengar kisah kehidupan nya, semoga mbak Rey kuat ya, tetap semangat mbak karena masih banyak teman yang sayang sama mbak.😊

    ReplyDelete
  9. Jadi ikut sedih baca ini. Saya nggak bisa saran soal bertahan dengan suami atau nggak, karena yang bisa ngejawab hanya kamu sendiri. Satu yang pasti, kamu harus tetap berdiri tegak demi anak-anak. Jangan pernah bilang, "Keahlian saya cuma menulis." Kan kita juga tau kalo dijalani dengan serius, udah banyak orang yang jadi kaya dari menulis. Kamu itu bloggingnya jago banget, coba bikin kelas blogging kecil-kecilan. Mulai dari bikin blog sampai naikin da/pa, belajar seo,merampingkan alexa rank dan lain-lain yang tekbis-tekbis itu. Kamu jago banget bagian begitu dan punya banyak sekali teman. Insha Allah dari yang banyak itu akan ada sebagian yang mau belajar dengan biaya terjangkau. Biasanya orang lebih suka dengan yang waktu belajarnya lebih longgar dan bisa tanya jawab terus.

    Coba belajar untuk tidak menyesali yang udah lewat, yang nggak bisa kita rubah. Fokus sama yang di depan mata, yang masih bisa kita rubah. Orang secerdas kamu pasti bisa memikirkan banyak peluang. Bahkan curhatan-curhatan kamu kalo dijadiin cerpen atau novel udah bisa jadi duit.

    Keluar dari masalah emang nggak gampang, jalannya susah dan berdarah-darah. Selama kita mau berusaha, berdoa dan berserah diri, insha Allah ada jalan keluar. Come on, Rey, udah waktunya kamu bangkit. Jangan lagi ngarepin yang nggak jelas ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. huhuhu, makasih banyak Mbaaa, langsung auto membesar hidung ini dipuji-puji hihihi.

      Iya juga ya, saya rencananya mau bukuin status-status di facebook, cuman mau lihat dulu, kira-kira ada yang baca enggak ya hahahaha

      Delete
  10. Aku bagai nelayan yang kehilangan arah dan tak tahu kemana....Hooww..Wow!! Ku harus melangkah oooh tuhan tolonglah tunjukan jalan pada diriku.😂😂😂

    Haaduuhhh!! Uni Rey kau buat ambo sedih sajo..😂😂

    Betul tuh kata mbul Nita...Masih ada Tuhan yang selalu menyertaimu.

    Setiap orang berumah tangga pasti punya problem serta latar belakang kedua pasangan tersebut. Tetapi selalu berbeda-beda.

    Karena masalah dalam hidup rumah tangga itu berbeda-beda...Terkadang seseorang jika mengalami problem hanya dirinyalah yang menderita, Orang lain tidak. Padahal tidak seperti itu. Karena sederhana orang berumah tangga punya cara tersendiri menghadapinya.😊

    Yaa yang terpenting ikhlaskan semuanya kepada Allah.S,W,T karena disitulah tempat kita mengadu apapun kepeluhan kita....Meski terkadang manusia suka lupa kalau lagi senang.😊😊

    Dan dalam rumah tangga memang terkadang kemapanan serta uang selalu jadi utamanya.....Meski menurut saya uang itu tidak ngejamin juga.😊

    Ngalamin soalnya punya kerjaan enak, Duit banyak ....Tetapi semuanya bikin ngebhatin yaa akhirnya berhenti kerja solusinya..Jadi itupun tak jaminan orang bahagia.😊😊

    Yaa apapun masalahnya diri kita sendiri yang bisa merubahnya dengan tegas tanpa harus plin-plan dengar kata sianu & sipea....Yakinkan Allah.S,W,T selalu disamping kita. Amiin!!.🙏🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow, kang satria pernah ngalamin punya kerjaan enak duit banyak.

      Jaga lilin memang enak dan dapat duit banyak kang, tapi ingat dong sama akhirat.😂

      Akhirnya sekarang ngga jaga lilin tapi mangkal ya kang, syukurlah insaf.😁

      Delete
    2. Eaalaahh Bujug...Tuh temen ente dibawah gw, Lihat sudah mau siap2 mangkal buruan luh jalan bareng sana..Tuh dibawah sudah Nungguin tuh.👇👇👇👇👇👇

      Delete
    3. hiks aslinya saya sedih, tapi baca lagunya Nike itu ya kok jadi ngakak ya hahaha.

      Terimakasih banyaaakk yaaa, kalian memang sahabat-sahabat yang tak terlihat nyata di depan mata, tapi selalu nyata saling support :)

      Delete
  11. Harus kuat, tegar kak Rey.

    Jangan kalah sama beban pikiran yang menumpuk dan seolah derita tiada akhir.

    Cobalah tanya ke batin kak Rey sendiri pilihan jalan mana yang terbaik.

    Pikirkan matang2 baik dan buruknya bagaimana nantinya.
    Tentunya tetap dipikirkan dengan hati yang tenang, jangan terbawa emosi, ya.

    Kubantu doa dari sini agar kak Rey kuat tegar dan menemukan jalan pilihan yang terbaik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiinn!! Mas Hino...🙏🙏


      Oiya tuh sih Agus ngajakin mangkal dilampu merah...Buruan dandan mas..🤣🤣🤣🤣🏃🏃🏃🏃

      Delete
  12. Aku bingung mau komen apa
    Sedih sekali bacanya
    Rey, kita semua berhak bahagia
    Sebagai istri, sebagai ibu, sebagai perempuan
    Kalau salah satunya hilang, mungkin saatnya mempertimbangkan dua kebahagiaan lainnya : kebahagiaan seorang ibu dan kebahagiaan pribadi sebagai perempuan

    Apapun nanti jalan dan keputusan yang kamu ambil, doa terbaikku untukmu ya
    Selalu ada jalan

    Peluuuuuk

    ReplyDelete
  13. Yang kuat, yang tegar, tetep semangat menjalani hidup

    *big virtual hug dari jember*

    ReplyDelete
  14. Semangat ya mba Rey, saya tau mba Rey pasti kuat sementara fokus aja dulu sama kebahagiaan diri dan anak2, jangan pikirkan orang yg tak memikirkanmu :)

    ReplyDelete
  15. Mba Rey, be strong mbaaa :)

    Ibu saya pernah bilang, kita boleh mencintai makhluk ciptaan-Nya, tapi jangan sampai lupa kalau kita harus mencintai lebih besar lagi kepada sang pencipta :D saya mungkin nggak bisa betul-betul merasakan apa yang mba rasakan, meski saya waktu baca tulisan ini pun ikut terenyuh dan sesak napas :(

    Saya berdoa, semoga mba bisa bahagia apapun keputusan mba kelak, karena buat saya, prinsipnya tetap sama, kita harus bahagia dan cinta diri kita dulu, sebelum membuat bahagia dan mencintai orang lain. Saya yakin anak-anak mba bisa bahagia kalau mba Rey as maminya juga bahagia <3 semangatttt mba ~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin aamiin, makasih banyak doanya kesayangan, i know i am bless to know you, huhuhu

      Delete
  16. Saya jd gregetan bgt, tapi gak enak klo mo cerita di kolom komen 😂 saya pernah kenal dengan tipikal orang yang kelakuannya mirip seperti suaminya mba rey, tp gak enak mo ngomong disini

    ReplyDelete
  17. Mbak Reeeeeey, aku jadi ikutan sedih bacanya. Mbak Rey yang kuat ya. Gpp, Allah sayang kok sama Mbak Rey. Aku yakin banyak orang yang sayang juga dengan Mbak Rey. Semangat ya, Mbak, semoga semua masalahnya cepat berlalu. 🙏

    ReplyDelete
  18. peluk hangat dari jauh makrey,insha allah ujian ini segera berlalu, apapun nanti keputusan yang diambil semoga jadi jalan terbaik.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)