Monday, August 27, 2018

Rahasia Yang Jarang Terungkap Dari Kerugian Bisnis Oriflame, Berdasarkan Pengalaman Pribadi


Assalamu'alaikum :)

#MondayBusiness
#MonBizByRey

Yeah, ketemu lagi di 'Monday Business' ala Rey.
Bagi yang baru berkunjung ke blog saya, sebagai info, setiap harinya ada tema berbeda yang saya bahas di sini, dan salah satunya di hari Senin dengan Tema Bisnis atau Usaha.

Disclaimer : tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi, tanpa bermaksud menjelekan pihak lain, mohon maaf jika ada pihak yang tersinggung, mohon di baca dengan seksama agar tidak sakit hati :)
 
Semua tulisan di sini, insha Allah 90% merupakan pengalaman pribadi saya, jadi hal yang bakal saya bahas pastinya hal yang sudah pernah saya jalani, bukan hanya teori semata, atau katanya ini dan katanya itu.

Untuk itu, kali ini saya bakal membahas salah satu topik yang sebenarnya rada sensitif, tapi demi motto saya di blog ini, bahwa sharing is caring, jadi gak masalah kali ya, asal ditulis dengan sopan berdasarkan pengalaman sendiri.

Oh ya, buat yang baru kenal saya, mungkin belum tahu, saya adalah pebisnis Oriflame, mulai menjalankan Oriflame saat tahun 2014.
Namun, setahun kemudian, saya memutuskan berhenti dari bisnis tersebut karena sesuatu hal dan akhirnya saya balik bekerja kantoran.

Ternyata, nasib saya dalam dunia perkantoran tidaklah mulus, hanya setahun bekerja kantoran, saya akhirnya resign (lagi) karena anak yang sering sakit-sakitan dan galau maksimal ninggalinnya.
Baca : Dua Tahun Menjadi Stay At Home (Lagi)
Karena itulah saya memutuskan untuk kembali menekuni bisnis Oriflame dari jaringan yang berbeda dari sebelumnya.
Qadarullah, baru saja sampai tahap manager, saya Alhamdulillah diberi kepercayaan hamil lagi, dan karena keadaan tidak memungkinkan, saya akhirnya break sebentar, dengan keadaan (yang mana gak boleh ada excuse dalam dunia bisnis) waktu tidak memungkinkan.

Meskipun demikian, waktu yang sekitar 2 tahun dalam berbisnis Oriflame, saya jalankan dengan sepenuh hati dan seserius mungkin, hingga ilmu-ilmu yang saya dapatkan Alhamdulillah juga sudah sangat banyak.
Thats way saya bisa menyesuaikan dengan cepat, saat memutuskan menekuni blogger di tahun 2018 ini. Penyebabnya ya karena ilmu dari bisnis Oriflame saya terapkan di blogger ini.

Oke sekian pembukanya, mari kita masuk dalam pembahasan yang sensitif ini.

Mengapa membahas kekurangan bisnis Oriflame itu jadi sensitif?


Tidak lain dan tidak bukan karena memang dalam sebuah bisnis, apapun itu (terlebih bisnis jaringan atau MLM) membahas kekurangan itu sama saja mengemukakan excuse atau alasan, dan alasan hukumnya haram dalam dunia bisnis!, yup... sekeras itu kalau kita beneran mau sukses.

Tapi..
Menurut saya, gak ada salahnya berbagi pengalaman saya sendiri, karena saya yakin banyak orang yang masih mikir panjang jika diajak berbisnis Oriflame, salah satunya ya karena banyaknya bisik-bisik yang mengatakan bisnis Oriflame itu gak baik, buruk, merugikan. Namun jarang sekali ada yang berani menuliskannya, takut diserbu Oriflamers hahaha.

Kok kamu berani bahas, Rey?

Karena insha Allah saya bakal menuliskannya sesopan mungkin berdasarkan pengalaman sendiri tanpa merugikan nama baik orang lain atau pihak lain.

Seperti Apa sih Bisnis Oriflame Itu?


Sebelumnya, mungkin ada banyak orang yang belum tahu tentang bisnis Oriflame, mungkin ada satu dua orang teman dalam dunia maya menawarkan ikutan bisnisnya, tapi takut penipuan.

Jadi, Oriflame adalah sebuah perusahaan dari Swedia yang menjual produk kecantikan, baik kosmetika, perawatan tubuh, parfum dan sebagainya.
Dalam menjual produknya, Oriflame tidak membuka toko atau agen seperti perusahaan sejenis lainnya, namun lebih menyerahkan pada personal atau orang umum, dengan sistem direct selling atau penjualan langsung dan juga dalam sistem jaringan atau MLM (Multi Level Marketing).

Karena banyaknya penipuan dengan sistem penjualan MLM, penilaian masyarakat jadi buruk terhadap citra MLM, dan itupun berdampak pada nama Oriflame sendiri yang memang bersistem MLM.

Selain itu, kelakuan terlalu keblabasan dari beberapa eh banyak member atau pebisnis Oriflame yang menjalankan bisnisnya penuh dengan pamer-pamer segalanya termasuk harta dan uang, bikin banyak orang eneg hahaha.

Padahal ORIFLAME SENDIRI ADALAH BISNIS YANG MURNI PENJUALAN ATAU MARKETING. Hanya sistemnya saja yang beda dari sistem kebanyakan yang mana produknya dijual via toko atau agen.

Jadi apa kerugian berbisnis Oriflame?


Sebenarnya untung rugi itu relatif sih ya, jadi mungkin lebih tepatnya saya sebut KEKURANGAN berbisnis Oriflame.

Tidak ada satu usahapun di dunia ini yang tidak memiliki kekurangan, semua pasti ada kekurangan atau minusnya, hanya saja bagaimana pandai-pandainya kita menyikapi agar kerugian/kekurangan tersebut bisa tertutupi dengan keuntungan/kelebihannya.

Selama 2 kali berbisnis Oriflame, menurut saya ada beberapa kerugiannya, yaitu :

1. Waktu semua terkuras untuk bisnis, sampai lupa tujuan berbisnis Oriflame adalah agar bisa selalu dekat dan ada waktu buat anak.

Bisnis Oriflame adalah bisnis jaringan independent, yang mana kita bekerja dengan orang-orang dengan beragam latar belakang kehidupan.
Ada ibu RT, ada ibu pekerja, ada anak sekolah, ada mahasiswa, dan lainnya.
Thats way, kita harus bisa menyelaraskan waktu dengan baik untuk bisa berkomunikasi dengan semuanya.
Baca : Istri Berbisnis Oriflame, Keluarga Bahagia Atau Terabaikan?
 Beberapa leader berpengalaman memilih jalan tengah dengan memaksa semua leader untuk mengikuti waktu kerjanya.
Jadi gak peduli, siang ada yang masih kerja kantoran, ada yang masih ini itu, POKOKNYA harus ikutan.

Di sisi lain, memang benar sih, kalau yakin pengen memetik hasil dari bisnis Oriflame ya mau gak mau harus ngorbanin hal lain, gak mungkin bisa kita hebat dalam 2 hal bersamaan, misal kerja kantoran dengan kinerja hebat, Oriflame pun jalan dengan keren.
Imposible we try deh, kalau kata Kerani di My Stupid Boss, lol.

Demikian juga dengan ibu rumah tangga, terlebih kalau punya anak, dan gak punya ART karena mungkin belum sanggup bayar ART.

Gak perlu nambah ngerjain Oriflame saja sudah bikin para IRT-IRT darah tinggi karena kecapekan dengan kerjaan rumah yang gak pernah berakhir, anak yang always selalu minta perhatian dan lengket kayak lem alteco, apalagi harus standby liat HP mulu, takut upline marah lalu nyindir bahkan ngetag di status Efbi karena chatnya gak cepet di balas, atau takut donwline kabur karena chatnya lama diliat. Serius! kalau gak kuat iman, bisa gila hahaha.

Thats way, banyak orang yang kabur dari bisnis Oriflame, karena sesungguhnya tantangannya jauh lebih berat dibanding cerita kesuksesan upline hehehe.

SOLUSI (1) : 
Berbisnislah dengan tegas, tentukan waktu kerjain Oriflame yang kita bisa, dan patuh serta tegaslah atas keputusan kita.
Iya, benar! Sukses di bisnis apapun memang tidak datang dengan mudah, butuh perjuangan berdarah-darah (lebay!). Tapi kembali lagi ke niat awal tadi, kita berbisnis untuk apa? untuk siapa?
Kalau untuk keluarga, terus ternyata ngototnya kita bisnis malah bikin keluarga kita hancur, anak gak keurus, suami kesal dan marah, keluarga jadinya hancur.
Laluuu, buat keluarga yang mana lagi kita bekerja?

Jadi aturlah waktu berbisnis kita dengan bijak dan, ingat-ingat deh batasnya, biar gak keblabasan.

2. Rentan terkena penyakit hati, seperti iri dan kesal terhadap rekan bisnis.

Yang namanya berbisnis MLM, ya sudah pasti hasil kerja kita bakal dinikmati oleh orang yang ada di atas kita, mau pakai embel-embel adilpun, tetep hasil kerja kita juga dinikmati oleh upline berlapis di atas kita.

Jadi, modal hati yang ikhlas dan teguh itu butuuuuhhh banget, jauh lebih butuh daripada menjadi seorang ibu zaman now, lol.

Harus ikhlas dan teguh pendirian mempertahankan pemikiran positif saat upline marah-marah dari yang nyindir di status hingga negur langsung karena kita gak capai target, yang berarti target mereka juga gak tercapai, hilangkan jauh-jauh deh pemikiran "ih enak aja nih orang, kerjanya marah-marah saja karena saya gak naik level, padahal dia belum tentu mikirin kita beneran, tapi mikirin targetnya yang sudah dia bikin dari jumlah target kita.

Harus ikhlas juga dan teguh pendirian, saat disuruh-suruh upline padahal dia sendiri butuh hasil kerja kita.

Jangankan berbisnis MLM yang mana hasil kerja keras kita plus pakai kena semprot upline itu dinikmati upline langsung, dan bukan upline pula yang bayar kita, tapi Oriflame.
Bahkan dalam suatu karir kantoran, yang mana kita kerja team, lalu ada satu orang yang belagu meskipun hasil kerja kita gak bisa dia nikmati, tapi lumayan bikin pengen koyek juga kan orang kayak gitu.

SOLUSI (2) :
Ademkan hati dengan terus ikhlas.
Jaga hati agar bisa terus ikhlas, dengan komunikasi, tegas dan mandiri dalam semua hal.
Jika memang sifat upline membuat kita gak nyaman, ya komunikasikan.
Jika gak ada jalan tengah ya tegaslah dan mandirilah.
Toh sebenarnya upline juga hanya membantu kita dengan memberi ilmu, jika upline gak mau kasih ilmu, ilmu lainnya bertebaran kok di dalam bisnis Oriflame, hampir tiap minggu setiap manajer cabang selalu memberikan seminar online yang bisa diikuti semua member Oriflame.
Selain itu kesuksesan bisnis Oriflame itu bukan terletak pada upline, TAPI PADA DIRI KITA SENDIRI!
So mengapa harus tergantung pada upline yang selalu bikin keikhlasan tercemar?

Apa? upline bukan letak kesuksesan kita?
Iya, bukan!
Menurut pengalaman saya, gabung di jaringan mana saja juga sama aja kok, kecuali kita berada tepat di bawah seorang leader yang sudah sukses.
Dengan begitu, sang leader bakalan benar-benar membantu membesarkan jaringan kita, itupun bisa dipastikan dengan tekanan yang amat sangat besar.
Kalau mentalnya cemen ya dijamin langsung kabur hahaha.

Tidak ada yang gratis kawan!

3. Rentan dimusuhi teman bahkan keluarga kita.

Saya jadi ingat, sebenarnya saya sudah lama banget pengen gabung KEB atau Kumpulan Emak Blogger, tapi pas baca syaratnya adalah gak boleh ada jualan terlebih MLM di blognya.
Langsung deh saya keder, lalu butuh beberapa lama sampai akhirnya saya menghapus semua embel-embel Oriflame, mulai dari link katalog, sampai banner landing page dan semacamnya.

Setelah terhapus, barulah saya pede minta bergabung di komunitas blogger mana saja.

Kalau dipikir-pikir, kok bisa segitunya sebuah komunitas memusuhi MLM?
Ya tiada mungkin atau tiada bukan karena memang MLM itu ya marketing, dan you know lah, marketing semenyebalkan itu hahaha.
Dunia marketing itu identik dengan prospek, dan ditambah MLM merupakan bisnis yang dijalankan dengan semangat penuh (gegara mupeng liat si anu udah jalan-jalan keluar negeri, si itu udah punya bonus puluhan juta perbulan) jadilah prospek yang dijalankan selalu membabi buta.
Baca : Bisnis MLM, menambah teman atau memutuskan hubungan pertemanan?
Tiada lagi ketulusan dari sebuah pertemanan, selalu berakhir dengan prospekan, daaaaannn yang bikin makin eneg adalah, saat menghadapi penolakan, si pebisnis MLM langsung baper dan mulai deh menjalankan gencaran kesalnya di status media sosialnya.
"Ditolak teman? saya gak baper, karena kalau saya sudah sukses mereka yang bakal menyesal telah menolak saya"
Demikian curhatan para pebisnis MLM amatiran di status medsosnya.
Katanya sih gak baper, tapi tulisannya baper, hehehe.

Gara-gara hal demikian, orang yang awalnya kesal karena diprospek, malah makin eneg sama pebisnis MLM, terlebih tulisannya copas punya upline mulu yang mana rata-rata pamerin pencapaiannya.

Well, memang sih pencapaian dalam bisnis MLM itu WAJIB DIPAMERIN, dengan tujuan menginspirasi, tapi kadang saking sering dipamerin, antara menginspirasi sama narsis jadi beda tipis hahaha.

SOLUSI (3) :
Cerdaslah dalam menjalankan bisnis, upgrade pengetahuan agar menemukan cara kerja yang lebih elegan, menginspirasi tanpa pamer berlebihan.
Karena kalau pamer mulu, bukan orang awam saja yang eneg, downline juga lama-lama kesal dan iri dengan pikiran "Kerjanya nyuruh-nyuruh mulu, tapi bonusnya banyakan dia" lol.

Prospeklah tanpa memaksa, memang MLM ya kerjaannya prospek, eh bukan MLM aja sih, semua marketing juga prospek mulu kerjaannya.

Tapiiii, jika tau caranya, orang di sekeliling kita gak bakal eneg kok, malahan bakal nyerahin diri buat diprospek sendiri hahaha.

4. Mengejar Target Kadang Mengabaikan Logika, lalu berakhir kecewa dan trauma

Karena bekerja secara team, yang mana teamnya gak sama rata alias berjenjang.
Otomatis, tekanan dalam mengejar target semakin besar.
Dari sisi upline, target kita adalah kumpulan target mereka juga, kalau gak tercapai sekali dua kali sih bakalan disindir doang, lama-lama sindirannya bakalan pedas hahaha.

Bukan salah upline juga sih (terutama upline yang benar-benar BEKERJA dalam membesarkan jaringan di bawah kita).

Dalam segi downline juga kita mati-matian mengejar target untuk memberi BUKTI kepada mereka agar semangat downline tetap terjaga.

Saya benar-benar merasakan dampak dari bukti target tercapai.
Saat saya berhasil mengumpulkan poin jaringan hingga membawa saya di level manajer pertama kali, tiba-tiba saja 75% downline yang tidur langsung terbangun, semua pada minta dibimbing lagi, bahkan yang sering dicolek untuk dibimbing tapi malah cuek saja, lol.

Karena target demi upline dan downline lalu diri sendiri itulah, kunci terjadinya hal-hal di poin sebelumnya.
Daaannn bahkan lebih dari poin di atas, demi mengejar target, apapun dilakukan, termasuk menumpuk produk yang sama sekali gak terpakai di rumah, apalagi terjual.

Saya sering banget dapat curhatan mengenai hal ini, katanya suaminya marah gegara istrinya ngabisin duit belanja buat beli produk Oriflame demi tupo atau tutup poin.
Baca : Mengungkap Rahasia TUPO
Selain untuk tupo, kadang produk ditumpuk demi memenuhi target, misal untuk mencapai level tertentu si pebisnis kurang beberapa poin, karena sudah kehabisan akal membujuk downline untuk menuhi poin tersebut, habis pula akal membujuk bahkan memalak teman/saudara demi membeli produk tertentu agar poin yang kurang terpenuhi.
Terpaksalah si pebisnis tersebut membeli produk tertentu untuk dirinya sendiri.
Mirisnya lagi, bahkan bonus yang didapatkan gak sampai setengah dari nilai produk yang dia tumpuk.
Thats way ada banyak curhatan mengenai MLM yang bukannya untung malah buntung.
Baca : Bisnis MLM, Untung Atau Buntung?
SOLUSI (4) :
Jangan malas menyusun target di awal banget, lalu evaluasi per bagian waktu.
Misal, target di dalam bisnis Oriflame itu adalah selama bulan berlangsung.
Jadi, di awal bulan segera bikin target, bulan tersebut kita bisa menjual produk berapa banyak dengan poinnya?
Lalu bikin strategi dan evaluasi setiap minggunya.

Dengan begitu, gak ada lagi drama kejar-kejaran di akhir bulan demi menuhin poin, dan memenuhi poin masih bisa kita lakukan dengan akal sehat dan terhindar dari hal nekat dengan menumpuk produk yang tak terpakai bahkan mengorbankan uang belanja rumah tangga pula.

Selain itu, kembali lagi pada semua solusi yang saya tegaskan di atas, TEGASLAH!
Jangan mau dipaksa melakukan hal-hal yang merugikan keluarga kita, misal menumpuk produk dengan uang belanja sehingga uang belanja kurang, lalu ngeluh ke suami lalu suaminya malah emosi.

Solusi umum dari semua kekurangan / kerugian bisnis Oriflame 

Well, meskipun di tiap poin kekurangan atau kerugian bisnis Oriflame sudah saya beri solusi, namun ada solusi umum yang diperlukan agar terhindar dari  segala kerugian tersebut yaitu :

MILIKI MODAL!

Meskipun mungkin sering kita membaca bahwa Oriflame adalah bisnis tanpa modal, saya kurang setuju tentang itu.
SEMUA BISNIS MEMERLUKAN MODAL YANG LUMAYAN BANYAK, tidak luput pula Oriflame.

Kita wajib banget memiliki modal untuk beberapa hal seperti :
  • Bayar ART atau asisten rumah tangga. Ini penting banget! jika kita seorang istri dan ibu yang berbisnis Oriflame, segera deh cari ART, agar rumah gak kayak kapal perang diserbu bom saking kita BENAR-BENAR GAK ADA WAKTU buat bersihin rumah.
  • Modal beli produknya buat dicoba dahulu, agar lebih yakin jualnya. Bagaimana kita bisa menjual sebuah produk, sedang kita sendiri sama sekali belum pernah cobain? Jalan satu-satunya adalah dengan mencobanya terlebih dahulu.
  • Beli kuota yang memadai. Karena sekarang bisnis Oriflame dilakukan banyak secara online, jadinya mempunyai kuota yang cukup dan kekuatan sinyal yang bagus itu wajib hukumnya, dan untuk itu, mengupgrade paketan data internet kita adalah wajib juga.
  • Beli peralatan yang lebih memadai. Beli laptop karena butuh buat online dan bikin persentasi, meskipun mungkin di HP bisa, tapi lebih memadai jika pakai laptop. Ganti pula gadgetnya dengan yang lebih bagus agar gak ada kendala saat online melalui gadget.
  • Biaya transportasi dan akomodasi saat prospek offline. Jangan hanya mengandalkan prospek online, sekali-kali prospek offline bakal memperluas kesempatan kita bisa merekrut lebih banyak.
Oke, segitu saja dulu sharing saya tentang kekurangan bisnis Oriflame, lengkap dengan solusinya.

Bagaimana? sound menakutkan kah?
Jangan khawatir, buktinya saya masih bertahan di bisnis Oriflame, meski saat ini masih break (bertahan apaan tuh Rey, pakai break segala, hahaha).
Intinya, bukan hanya kekurangannya, Oriflame juga sama seperti bisnis lainnya yang pastinya punya segudang kelebihan.
Makanya Oriflame terus tumbuh di Indonesia meski zaman sekarang, serbuan berbagai merk kosmetika impor maupun lokal dengan kualitas di atas Oriflame dan harga di bawah Oriflame melanda Indonesia.

Semoga bermanfaat ya, dan semoga menjawab kegalauan hati orang-orang yang banyak masuk ke blog ini dengan kata kunci " kekurangan Oriflame ".
Hampir tiap hari, ada saja yang masuk ke blog ini demi mencari kekurangan Oriflame, karena setahu saya hanya segelintir orang yang mau menulisnya dengan jujur di blog.

Padahal yang kecewa berbisnis Oriflame sampai trauma itu banyak loh.

Bahkan pebisnis yang sudah berada di level Saphire Director, yang mana satu tangga lagi bakal dapat CRV gratis, dan bonus per bulannya sudah mencapai 20 juta bahkan lebih, ada juga loh yang memilih mundur dan tenang serta nyaman memilih berbisnis kuliner.

Mungkin orang-orang gak berani atau malas menuliskan semua unek-eneknya, karena malas diserbu dengan perkataan "makanya gak sukses-sukses, orang kebanyakan alasan" hahaha.

Oke deh, yang mau sharing di komen boleh banget kok.

Sidoarjo - 27 Agustus 2018

Wassalam

Reyne Raea

 

20 comments:

  1. Tulisannya bagus mbak Rey, kalau bisa pengen nulis topik ini versi sendiri hahaha.. Memang sih dalam semua bisnis itu ya memerlukan modal, bahkan saya pernah baca ada status upline menyarankan 'pakai jatah bayar listrik dulu untuk membeli barang di awal bulan, kemudian setelah barang terjual baru kita bayarkan di akhir bulan'. Ya masih mending kalau terjual semua, giliran customer yang hit and run, kan bisa berabe jadinya hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe makasih :)

      Waaahhh, kalau saran saya, jangan campurkan keuangan rumah tangga dengan bisnis, jadinya kacau.
      Apalagi uang untuk membayar hal yang urgent dan wajib kayak gitu :)

      Delete
  2. yang namanya bisnis memang perlu kerja keras ya. tapi memang kalau bisnis MLM ini bagian yang lumayan nyebelinnya pas diprospek. heu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bangeettt mba, saking nyebelinnya, kalau ada temen yang MLM, langsung males kalau diajak ketemuan hahaha

      Delete
  3. Dari pertama kenal MLM aku juga sering ragu sih buat ikutan, mental ku belum siap soalnya hahaha. Bagus mbak tulisannya, ga cuma sekedar curhat, tapi juga dicantumin solusi nya gimana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mba, mental adalah modal utama untuk masuk bisnis MLM, karena godaan untuk bikin hati kesalnya banyaakkk hahahah

      Delete
  4. Wow... Ternyata juga gak seindah status ef be para pebisnis MLM yg katanya bs kerja di rumah sambil momong anak. Padahal jg penuh target

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, kalau saya malah ga suka kerja sambil momong anak, yang ada anaknya gangguin bikin gak fokus dan anak juga kadang kesal merasa kita abaikan.

      Tapiiii nilai positifnya, anak jadi lebih menghormati kita kalau pegang HP, tinggal bilang mami kerja, padahal emaknya scroll IG gaje juga aman hahahah

      Delete
  5. Beberapa kali nyoba MLM..termasuk Oriflame juga, tapi entah kenapa saya nyerah akhirnya..
    Ternyata tantangannya memang enggak main-main, musti diseriusin kalau niat nyemplung di bisnis..apapun itu
    Jadi kalau baca cerita jungkir balik begini, cuma satu kata untu dirimu, Mbak Rey..: S A l U T!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaahhhh pernah ikutan juga ternyata mbak? hihihi
      Emang butuh mental dan niat yang kuat sih mbak, saya sendiri kadang gemes, sudah usaha jungkir balik, adaaaaa aja halangan yang kata orang excuse hahaha.

      Tapi gapapa deh, mungkin belum jodohnya merasakan hasil uang di Oriflame, tapi Alhamdulillah ilmu nya banyak dan bisa dibagikan ke semua orang :)

      Delete
  6. Salut deh mba berani membahas ini, semoga nggak diserang para member ya mba, hihi. Oriflame itu produknya bagus lho, dulu saya suka tendercare dan parfumnya. Tp jadi males beli karena orangnya maksa jd member padahal kepengennya cuma beli tanpa terikat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wakakakakka...
      Insha Allah enggak diserang kok, kan sekufu hahahaha..
      Waahhh pecinta Oriflame juga yaa..., saya mah make semuanya hahaha.
      Kalau bagus enggaknya sih belum terlalu tau, soalnya belum pernah nyoba produk impor lainnya.
      Cuman Oriflame kalah di kemasan, lebih ringkih dibanding produk lain.
      Beli ke member baru aja mba, biasanya mereka seneng kok kalau nerima orderan tanpa harus maksa jadi member :D

      Delete
  7. hehehe...saya paham sepenuhnya isi tulisan ini, saya toh pernah jadi member oriflame juga

    ReplyDelete
  8. Aku juga member oriflame. Tpii, aku ga berniat mau seriusin bisnisnya . Dari awal daftar, aku udh bilang ama upline,"saya daftar member krn saya pake bberapa produk oriflame. Jd kalo saya member, saya bisa dpt harga member yg jelas lbh murah. Tapi saya ga tertarik utk serius di bisnis ini, krn gaji dr kantor saya udah lebih dari cukup, ga perlu tambahan ini. So saya ga mau dipaksa ato disuruh ikutan segala meeting ato apapun Itu ya mba"

    Dan uplineku ga bisa ngomong apa2 lagi :D. Malah kdg, dia nawarin aku beli produknya lwt dia aja, jd dia ngejar poinnya doang, sementara aku ttp bisa beli dgn hrg member. Buatku ga masalah sih. Toh sbnrnya yg aku incer cuma produk dgn hrg membernya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, sebenarnya yang bikin males orang daftar jadi member karena setelah daftarpun masih diribetin ikut ini itu hahaha.
      Cuman ga bisa disalahkan juga sih, biasanya para leader bakal kena teguran kalau gak ngajak ikut seminar atau lainnya.

      Jadi emang sebaiknya tegas dari awal, biar ga diribetin :D

      Delete
  9. wiih makasi sharingnya mba. aku jadi inget kakak kelas SMA yg pernah nawarin aku bisnis oriflame. aku tolak karna masih cupu bgt waktu itu wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, udah lama dong ya ditawarin mba?
      Kalau saya malah dulu join karena kemauan sendiri, biasanya ditawarin ogah, eh malah nyerahin diri sendiri, hahaha

      Delete
  10. setuju banget mbae, hihi. aku dari jaman entahlah selalu ditawarin join tapi ga ada yang berhasil. karena aku paham banget, seperti di poin 1, bahwa semakin tinggi level ya semakin sibuk lah. mereka bilang kalau join bakal bebas bisa cari duit dari rumah. padahal kenyataannya engga. justru akan ada meeting, seminar atau apalah itu. sekarnag malah teman2 yang aku kenal dulunya member bahkan smpek manajer udah mundur dan memilih kerja beneran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener mba, bahkan yang selangkah lagi dapat CRV ada loh yang mundur hehehe :D

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...