Wednesday, August 22, 2018

Ketika Darrell Mencintai Masjid


Assalamu'alaikum :)

#RabuParenting
"Mi, Darrell boleh gak sholat di masjid?"
"Iya, boleh" (bukan iklan produk susu anak ya, hihihi)
Lalu, berikutnya.
"Mi, Darrell pengen sholat di masjid ya?"
"Iya, segera siap-siap biar pas adzan langsung berangkat ya"
"Baik mami"

Ibu mana yang gak  meleleh terharu melihat anak mencintai masjid?
Terlebih seorang ibu yang basic agamanya sangat lemah seperti saya?
Sungguh nikmat karunia yang selalu saya syukuri, melihat kenyataan si sulung, kakak Darrell, sejak masuk SD jadi begitu mencintai masjid.

Yup, sudah setahun lebih terakhir ini, kakak Darrell jadi mencintai masjid.
Di mulai dari mengunjungi masjid untuk sholat Jumat walaupun sendirian, karena papinya harus bekerja.
Hingga akhirnya menambah waktu sholat Magrib dan Isha di masjid karena ikutan ngaji di masjid.

Terharu..

Namun, semuanya tidak terjadi begitu saja, dan tanpa alasan.

Sejujurnya, saya lupa waktu pastinya, kapan si kakak mulai mencintai masjid.
Yang jelas, sejak dia mulai tertarik main di luar rumah, lol.
Iya, alasan kakak Darrell mencintai masjid sebenarnya bukan berawal dari penyebab dia alim banget.
Agak berlebihan mengharapkan anak jadi alim banget, melihat papinya jarang bisa nemanin dia ke masjid karena kesibukan bekerja.
Serta maminya yang gak punya ilmu mumpuni tentang agama Islam.

Membuat kakak Darrell bisa bersosialisasi


Masa kecil kakak Darrell dihabiskan berdua saja bareng maminya, saya di rumah. Berhubung papinya kerja di proyek, waktu kerjanya amat sangat kurang manusiawi. Dari pagi sampai nyaris pagi, hiks. All in alias tanpa uang lembur pula (curhat! lol).

Jadilah, selama Senin - Sabtu saya bersama si kakak, ngendon saja dalam rumah, nonton TV, temanin main, dan sama sekali gak pernah keluar rumah, karena maminya gak suka ikut ngerumpi bareng tetangga.
Baca : Jangan Diskriminasi Aku, Wahai Para Ibu Yang 'Beruntung'
Gara-gara hal tersebut, kakak Darrell tumbuh besar jadi anak yang gak mau ngomong sama orang lain, selain mami papinya.
Bahkan kami berinisiatif memasukan dia ke PG sewaktu usianya belum 3 tahun, demi mengajarkannya berani ngomong dengan orang lain, dan juga bisa ketemu orang lain.
Tapi tetap si kakak gak mau ngomong.

Sampai akhirnya di awal tahun 2015 saya memutuskan kembali bekerja, dan si kakak terpaksa dititipin (berasa barang yak) pada sebuah daycare.
Baca : Pengalaman Menitipkan Anak di Day Care
Alhamdulillah, meskipun butuh waktu beberapa bulan, akhirnya si kakak mau juga berkomunikasi dengan orang lain.
Dan dari daycare tersebutlah, dia belajar bersosialisasi dan akhirnya jadi pandai berteman dengan para teman sebaya di komplek tempat tinggal kami.

Sejak lulus TK, kakak Darrell kami masukan ke sekolah berbasic Islam yang masih lumayan dekat dari tempat kami.
Baca : #DiaryDarrell - Dari Biaya dan Test Masuk SDI Raudlatul Jannah Yang Penuh Drama
Alhamdulillah, keputusan kami memasukan si kakak di sekolah tersebut ternyata gak salah, si kakak tumbuh menjadi anak yang mengerti ilmu agama Islam lebih mendalam ketimbang mami papinya.
Meskipun awalnya kami deg-degan, melihat biaya uang pendaftaran yang We o We banget, plus SPP perbulan yang jauh lebih mahal ketimbang biaya SPP saya waktu kuliah dulu, lol.

Dari sekolah, setiap hari di tempa dengan ilmu agama Islam yang baik.
Bahkan dengan kemajuan teknologi seperti sekarang, bahkan di akhir pekanpun, para ustadzah atau miss di sekolah masih juga mengingatkan para orang tua murid tanpa capek, agar anak-anak tetap diberi semangat untuk rajin sholat tepat waktu, dan berbuat baik lainnya.

Ditambah dengan lingkungan yang Alhamdulillah baik, karena dekat masjid.
Alhamdulillah, kakak Darrell bisa melewati masa kanak-kanaknya dengan penuh nilai-nilai keIslaman.

Tips Membuat Anak Mencintai Masjid, dari pengalaman pribadi


Berdasarkan pengalaman tersebut, saya ingin berbagi kepada ibu/mama/bunda lainnya, tentang bagaimana caranya kakak Darrell, si sulung saya tumbuh jadi anak yang mencintai masjid hingga saat ini :
  1. Ajak anak dalam kegiatan sholat dan ngaji di rumah. Meskipun saya gak punya basic agama yang mumpuni, namun Alhamdulillah, sejak kakak Darrell kecil, saya selalu mengajaknya sholat bareng, minimal pada waktu Dhuhur, Ashar, Magrib dan Isha. Tidak jarang pula, saya mengajak ngaji bareng, alias saya ngaji dan si kakak cuman liatin saja dan kadang dia ikutan pura-pura ngaji pakai Alquran yang kecil hahaha. Dengan kegiatan bersama tersebut, akan terekam dalam ingatan anak, bahwa sholat dan ngaji itu penting.
  2. Ajak anak berdoa bareng. Salah satu kegiatan bersama yang paling kami sukai waktu kakak masih kecil adalah, berdoa bareng khususnya selepas sholat. Dengan iming-iming beragam, misal "kakak mau jajan? yuk kita berdoa biar Allah ngasih rezeki buat beli jajan". Setelah berdoa, saya kirim pesan ke papinya buat beliin jajan kalau pulang kerja, dan kalau papinya pulang bawa jajan, saya selalu bilang, "Alhamdulillah, doa kita terkabul" . (maminya licik, demi anak cinta meminta pada Allah, lol).
  3. Filter lingkungan dan teman mainnya. Meskipun zaman sekarang banyak orang tua yang punya paham liberalisme dengan cara mengajarkan anak untuk tidak pilih-pilih teman. Saya tetap bergeming dengan pendapat, kalau teman itu harus dipilah atau minimal difilter dengan baik. Mungkin karena sewaktu kecil saya dididik dengan cara tersebut oleh bapak saya, dan Alhamdulillah saya merasakan dampak positif dari peraturan yang dulunya bikin saya kesal, karena bapak akan marah besar kalau saya berteman dengan anak yang kurang pintar atau berprestasi di sekolah hahaha. 
  4. Berikan pendidikan dini dengan basic agama Islam yang penuh. Saya dan suami sepakat, bahwa memilih PG/TK dan SD bahkan SMP harus di sekolah yang berbasic Islam penuh. Mengapa? karena usia PG, TK, SD dan SMP itu adalah usia yang sangat tepat untuk menyelipkan agama Islam dalam kehidupannya, karena seperti yang kita tahu, di usia segitu otak anak merespon semua informasi bagai spons kering, semua teresap dengan baik, dan bakal menjadi panutan hidupnya hingga dewasa nanti. Selain itu, dengan menyekolahkan anak di sekolah Islam, akan ada orang lain yang bisa mengajarkan dan mengingatkan anak tentang Islam, selain kita orang tuanya.
  5. Batasi waktu sosialisasinya. Apa? kok dibatasi? bukannya sosialisasi itu penting?. Iya memang sangat penting, tapi yang namanya anak-anak, mana ada sih yang langsung tumbuh mencintai Islam dengan baik sedang Islam mengajarkan kita untuk disiplin waktu dengan waktu sholatnya yang sehari ada 5 kali. Dengan dibatasi, si kakak jadi mencari alasan untuk bisa ketemu teman-teman, jadinya dia memakai waktu ke masjid sebagai cara tepat bisa keluar rumah. Awalnya memang terasa aneh, ke masjid bukan karena mencintai sholat. Tapi biarkan saja, dengan rajin ke masjid dan sholat berjamaah setiap hari, insha Allah akan menjadi kebiasaan baginya hingga dewasa nanti. Tak masalah alasan awalnya mungkin bukan karena Allah, namun ketemu teman di masjid. Namun dengan rajin ketemu teman di rumah Allah, insha Allah bakal membuat dia semakin dekat dengan Allah, aamiin.
  6. The parenting is never ending sounding. Yup, karena parenting terbaik adalah, dengan tak pernah berhenti atau capek mengingatkan anak, hingga semua kecerewetan orang tua seolah merasuk di dalam pemikiran anak dan menjadi kebiasaan baik untuk anak hingga dia dewasa nanti. Namun pastikan cara soundingnya dengan baik dan lemah lembut ya, jangan kayak Rey yang kadang masih kelepasan, gegara kurang sabar hahaha.

Alhamdulillah, dengan cara sederhana tersebut, kakak Darrell bisa mencintai masjid hingga saat ini.
Meskipun dia belum sepenuhnya jadi anak yang manis, masih selalu bikin maminya naik darah saat memintanya sholat Subuh, tapi bukankah dia masih anak-anak?
Semoga nanti kakak Darrell selalu mencintai masjid hingga dewasa nanti, menjadi anak yang sholeh dan bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa.
Serta selalu menjadikan alasan untuk orang tuanya agar bisa menjadi orang tua yang lebih baik lagi.
Aamiin..

Semoga manfaat :)

TPJ AV - 22 Agustus 2018

Wassalam

Reyne Raea

8 comments:

  1. Makasih sudah berbagi mba, beberapa poin sudah saya terapkan tp ada juga yg belum. Semoga anak-anak kita kelak menjadikan masjid tempatnya untuk melepas penat, mencari ketengan, bukan hanya sekedar untuk ibadah.

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah anak saya 15 bulan hampir tiap hari ke mesjid, dia senang sekali, tfs ya mba😗

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, semoga jadi anak sholeh yang mencintai masjid selalu aamiin :)

      Delete
  3. Subhanallah, baca ini sejukkkkkknya mbaaa

    ReplyDelete
  4. terimakasih mbak Rey, sudah berbagi cerita ini. saya noted ya, mungkin nanti bisa dipakai untuk mengenalkan masjid kepada anak saya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mba, semoga anak-anak kita menjadi sholeh/a dan mencintai masjid selalu, aamiin :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...