Friday, September 27, 2013

Jangan Diskriminasi Aku, Wahai Para Ibu Yang 'Beruntung'

Jadi, cerita ini terjadi ketika aku harus ngalah dari suami yang akhirnya memutuskan berhenti jadi wanita karir dan menjadi IRT serta mengikuti suami ke tempatnya bekerja. Yup, dengan sangat berat hati aku harus meninggalkan kota favoritku, Surabaya meskipun hanya sementara waktu.

Aku akhirnya menetap sementara di kota Jombang, Jatim yang berjarak kurang lebih 100 KM dari kota Surabaya. Awal - awalnya hal tersebut sangatlah berat, gimana gak? lebih 10 tahun aku udah terbiasa dengan kota yang gak pernah sepi, penduduknya yang cuek namun ramah, serta bebas menjadi diri sendiri.

Hal tersebut gak aku temukan di kota Jombang, dari kotanya yang cepat tidur namun bangun lebih lama (aktifitas toko), makanannya yang tidak bersahabat di lidahku serta bahasa masyarakatnya yang begitu sopan namun sungguh bikin rasanya aku ingin sekali mengunduh kamus bahasa Jawa kedalam otakku agar bisa memahami bahasanya.

Awal kepindahanku ke kota Jombang sungguh berat, setiap sabtu siang bahkan kadang Jumat sore kami langsung bergegas kembali ke Surabaya, kangen aja ama kota itu. Namun lama kelamaan aku tersiksa sendiri oleh rasa capek yang mendera akibat harus pulang pergi Surabaya - Jombang di setiap weekend tiba.

Sedikit demi sedikit aku mencoba mencintai takdir aku, bersahabat dengan kota ini, masalah keperluan mendesak di malam hari terselesaikan dengan adanya minimarket Indomart 24 jam meski lumayan jauh dari rumah kontrakan kami. Masalah makanan yang tidak bersahabat dengan lidah, terselesaikan dengan terpaksa belajar masak sendiri agar bisa menikmati makanan sesuai dengan keinginan lidah sendiri (meskipun tidak seenak makanan yang enak, namun lumayan lah, ketimbang harus kena busung lapar :D).



Dari hasil belajar masak itu juga akhirnya aku mencoba membuat usaha online berjualan camilan, meskipun akhirnya semangat sedikit kendor karena kecapekan sendiri :D.
Yup, waktu berlalu gak terasa sudah dua tahun aku tinggal di kota Jombang ini, sedikit demi sedikit aku mulai beradaptasi, serta niat ingin balik ke Surabaya dan menjadi wanita karir sedikit demi sedikit terkikis oleh senyum dan tingkah pola anakku yang cakep dan bermata bundar itu :D.

Namun ternyata ada saja masalah yang mengganggu.

Hal itu terjadi ketika Minggu lalu, yang mana kami sedang sibuk - sibuknya beberes dan bersiap - siap untuk belanja bulanan ke Surabaya, tiba - tiba beberapa ibu - ibu tetangga di komplek kami tinggal (Perum Jaya Abadi, Jombang - Jatim) datang dan memaksa bertemu aku. Dengan sedikit risih aku akhirnya menemui mereka, dan jadilah aku seperti pesakitan yang diadili oleh 7 orang hakim dan jaksa hanya karena tidak mau mengikuti keinginan mereka.

Para ibu tersebut adalah tetangga kami yang terkumpul dalam ibu - ibu Dasa Wisma atau RW atau apalah namanya (maklum aku gak pernah punya waktu ikut hal - hal begituan)
Awalnya mereka menasehati aku dengan bahasa Jawa yang hanya bisa ku artikan sepatah dua patah, agar membeli sebuah tong sampah agar diletakan di depan pagar, aku langsung mengiyakan dan berjanji mengusahakan secepatnya membeli tempat sampah tersebut.

Setelah itu seorang ibu langsung menagih iuran Dasa Wisma serta denda karena tak pernah ikut kerja bakti hari Minggu, karena malas berdebat dan kami sedang terburu - buru akhirnya semua kulunasin tanpa bertanya ini itu (meskipun sebenarnya kesal banget karena iuran di daerah ini banyak dan macam - macam).

Aku pikir setelah hal itu mereka akan pergi, eh ternyata aku salah, mereka masih aja betah mendikte dan memaksa aku untuk ikut arisan tiap bulan, dengan senyum kukatakan insya Allah kalau ada waktu aku ikut (salah sih sebenarnya perkataanku, mestinya bukan kalo ada waktu, tapi kalo ada kesempatan). Eh karena jawabanku seperti itu mereka langsung jutek dan ketus, mereka bilang semua orang disini juga sibuk mbak, ini ada yang guru, ada yang bla bla bla (intinya semuanya adalah PNS). Giliran aku yang sedikit tersinggung, ya iyalah apa coba maksudnya mendata pekerjaan mereka ke aku? mau pamer mereka itu wanita karir dan aku wanita IRT yang bodoh? (maklum, IRT galau yang pengen jadi wanita karir, jadinya sedikit sensi kalo ngebahas pekerjaan :D).

Aku mulai memperlihatkan wajah tidak sabar dan terkesan terburu - buru, eh dasar para ibu - ibu 'keren nan pintar' PNS sejati (itu bukan pujian ya! itu sindiran tau! :D), tetaaaapp aja mereka nekat ngomooonggg gak berhenti, mereka tetap memaksa aku HARUS KUDU MUTLAK ikut arisan, apapun alasannya gak bisa diterima, bahkan seorang ibu (lupa namanya, eh emang penting ya nghafalin namanya? :D) mengatakan kalo di Jombang, khususnya Perum Jaya Abadi semua warga kudu ikut aturan mereka (dasa wisma), jadi selain arisan aku juga kudu luangkan waktu untuk keluar bercengkrama dengan tetangga.

Seorang ibu lalu berkata "mbak udah berapa lama, tinggal di sini? udah lama ya? aku loh belum pernah tau, baru tau sekarang malah"
Aku cuman senyum sopan, namun dalam hati "WOIIIII, MASALAH BUAT LOE?? NGACA DONG? EMANG LOE TUH RAJA PENGUASA KOMPLEK INI? EMANG KOMPLEK INI PUNYA NENEK MOYANG LOE SEMUA????" uhhhh. sayang ya aku gak bilang langsung gitu (eh gak sopan tau, Rey :D)
Aku hanya menjawab, kalo aku akan main - main ke tetangga kalo ada waktu (waktu lagi, makanya tuh ibu - ibu makin kesal), juga mereka memerintahkan agar kami membersihkan selokan di depan pagar, katanya nanti airnya nyumbat, dan ibu yang memerintahkan tersebut langsung diam setelah melihat selokannya kering kerontang.

Aku ingin sekali menjelaskan permasalahanku, namun jadi urung oleh beberapa hal. Pertama, kami sedang terburu - buru, takutnya kesiangan dan panas di jalan. kedua, wajah beberapa ibu - ibu tersebut sudah keliatan semakin jutek dan kesal sejak aku menjawab semua pertanyaan mereka dengan bahasa Indonesia yang formal (eh gak formal sih sebenarnya, emang gaya bicaraku seperti itu, namun beberapa orang di kota ini mengatakan gaya bicaraku formal banget, hmmmm...).

Kira - kira hampir 15 menit mereka menginterogasi aku dengan semua 'dikte' dan 'paksaan' serta 'hakiman' (halah... apa pula itu? :D) akhirnya mereka mau juga untuk memberikan aku kesempatan beres - beres rumah karena terburu - buru.

Akhirnya aku bisa bebas lagi melanjutkan tugasku, namun gara - gara teguran mereka, aku jadi terus menerus menjawabnya di dalam pikiranku, bener2 merusak mood dan pikiran deh.

Aku benar - benar merasa terdiskriminasi dan terintimidasi!!!

Gimana gak?? seumur - umuran tinggal di Jawa baru kali ini ketemu orang norak kayak gitu, keluar main ke tetangga bersosialisasi? kurang kerjaan banget ya tuh ibu, kata siapa sih aku gak pernah keluar? aku sering juga kok nongkrong di depan pagar, menikmati udara luar sambil mengawasin anak main, tapi ya saat aku keluar orang2 udah pada diam di rumah masing2, soalnya kan aku keluar pas malam setelah Isya :)
YA IYALAAAHHHH, suami kan kerja di kontraktor swasta, yang mana sebenarnya kontraktor itu gak punya waktu libur, sebagai wanita yang mencoba jadi istri yang baik, pastinya aku males dong keluar jika suami gak ada di rumah, jadinya aku keluar bareng ama suami jika dia udah pulang kerja. Pastinya beda dong ama waktu santai mereka yang 'beruntung' menjadi PNS, ihhhh....
Mereka mah pukul 3 sore kebanyakan udah pada sampai di rumah, ato paling gak pukul 4 lah udah paling telat banget, kalo kerja di swasta? pulang pas Magrib tuh udah 'ajaib' banget dah.

Selain harus gak nyaman keluar rumah saat suami gak ada, aku juga terus terang bingung ngatur waktu di rumah, makanya kadang2 'salut' banget deh ama tuh ibu2 yang 'beruntung' karena punya waktu untuk ngerumpi nambah2 dosa dengan rumpiin tetangga lain atau orang lain dengan tetangga.
Aku ya, bangun tidur siapin sarapan, siapin anak sekolah, trus jemput dan pulang pukul 10 pagi, nyampe rumah harus masak untuk makan siang, lalu nyuapin anak lalu ngelonin anak agar mau tidur siang yang kadang2 aku udah tertidur anak belum tidur, pas anak tidur, aku gunakan untuk nyetrika, beres2 yang belum sempat diberesin, dan kadang online seperti saat ini (itupun udah melanggar beberapa waktu beberes lainnya). gak kerasa udah pukul 3 sore, sholat, lalu nyapu dan siram halaman depan, halaman belakang, cuci piring, nyapu rumah, nyuapin dan mandiin anak lagi, dan gak kerasa udah Magrib lagi, bahkan jarang banget aku bisa mandi sebelum adzan magrib. Lah gimana coba diriku 'punya waktu untuk mengunjungi tetangga yang enak2an ngumpul rumpi2 ama ibu2 lainnya, sementara ART yang beresin semua tugas rumah mereka, serta anak mereka yang sudah bisa sedikit mandiri ketimbang anakku yang jalan aja suka kesandung, ckckckck....

Jika aku maksain keluar ikutan rumpi ama yang lain, pastinya butuh waktu minimal sejam, orang rumah kontrakanku berada di ujung gang yang mana rumah di samping dan depannya pada kosong, jadinya kan aku harus jalan sedikit jauh untuk berkumpul dengan mereka, hadeeeehhhh.....

Lalu perkataan mereka tentang wajib ikut arisan, aku udah beberapa hari ini dipenuhi oleh pertanyaan gila 'ada gak sih, UU yang mengatur wajibnya ikut arisan dasa wisma? gimana gak? para ibu itu meWAJIBkan tanpa nerima alasan apapun tentang waktu arisan itu, kebayang dong kalo seandainya aku kerja, (pastinya di swasta dong), masa iya aku harus izin ama direktur gitu, pak saya harus pulang cepat hari ini, soalnya ada arisan Dasa Wisma, PLIISSSSSSSSSSSSSSSSSSS DEEEEEEEEEHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Adanya aku langsung dibayar pake yuen ama bos, (yuen eling) hahahahahaaa......

Yang lain lagi masalah kebersihan halaman, sori dori mori stroberi yeeee, aku mah dari kecil terbiasa hidup bersih dan sehat. jadi yang namanya apa2 tuh harus bersih, liat aja tuh kegiatanku beberes mulu sampe gak punya waktu rumpi2 ama mereka. Tiap sore semua sudut halaman aku bersihin dan disiram, lah kalo luar pagar emang kadang seminggu sekali, pas hari Sabtu jika suami pulang agak siangan, ya iyalah aku kan risih gitu keluar pagar nyapu2 trus diliatin suaminya orang, euuuhhhh......
Lagian ye, kami tuh cuman ngontrak di sini, asal mereka tau yaaa, sewaktu kami pertama kali tinggal di sini, rumah ini gak beda ama hutan, selokannya kotor penuh daun, sampah serta tumbuhan liar, taman samping pagar ditumbuhin tanaman yang hampir sekarat karena gak terawat, itu baru luar pagarnya, apalagi halaman dalam pagarnya? weh kayak hutan deh!
Nah saat kayak hutan itu, kemana aja tuh para ibu2 yang katanya rajin bersih2 bareng? yang sampai2 aku ditagih kena denda karna gak ikut bersih2 bareng???? Gak usah deh bersihin dalam pagar, cukup luar pagar, kan seharusnya mereka bersyukur kami bisa nempatin rumah ini, jadinya kan lumayan rapi ketimbang kosong gak berpenghuni, lagian ye, kalo mau protes tuh mestinya ama pemilik rumah, bukan ama kami yang cuman nempatin sementara, eeuuuhhhh, sok pengen keliatan berwibawa deh, ihhhhhh..

Lalu mengenai bahasa, hellooooo!!!! ini memang Jombang, Jawa Timur, Tapi ini masih wilayah negara Indonesia kan?? mereka mestinya wajib marah jika aku berusaha ngomong ama mereka ngotot pake bahasa Buton (Daerah asal Ortuku), katanya ibu2 gaul? tapi kok malu pake bahasa persatuan? ihhhh......

Inilah yang menjawab pertanyaanku yang terheran2 melihat banyaknya rumah kosong di daerah ini, terang aja orang gak betah tinggal sementara tapi di diskriminasi seperti itu.

Intinya ya, jangan ngerasa hebat dan bangga karena kita kerja dan ibu yang lain hanya menjadi ibu rumah tangga (eh diriku bukan IRT biasa dong, aku IRT gaul, meski jarang keluar tapi pengetahuanku masih bisa bersaing dengan para ibu2 sok wibawa itu,dan jangan nganggap aku jauh2 dari Sulawesi datang ke sini bertujuan merantau aja yaaa, tujuan awalku ke sini cuman main, tapi takdir memposisikan aku harus kuliah, kerja dan menikah serta menetap di Jawa...
Dan jangan menganggap aku aneh karena gak mau berbaur, helllooo..... kalian tuh yang aneh! ngerumpi itu dosa tau! dosa kok bangga!
Dan jangan bangga karena aku menyebut kalian 'beruntung' jadi PNS, ihhhh.... kata siapa cuman kalian yang bisa jadi PNS? aku juga bisa jadi PNS kalo aku mau, ya sejak dulu aku pulang aja ke Buton dan menuruti kemauan orang tua, tapi aku lebih suka menjadi diri sendiri dan bekerja menggunakan kemampuanku sendiri.

Aku gak pernah menyesal meski gak bisa jadi PNS seperti yang diidamkan banyak orang, termasuk ortuku. Bagiku bekerja di swasta tuh jauh lebih menarik dan keren. Ya iyalah! di Swasta kamu gak akan bisa naik pangkat kalo gak punya kemampuan, tapi di PNS pangkat bisa naik seiring waktu. Para pekerja swasta tuh selalu bergelut dengan otak mereka dengan target yang selalu mengejar mereka yang pastinya itu akan membuat otak jadi berkembang, bukan hanya mengerjakan pekerjaan yang itu2 saja apalagi sambil ngerumpi dengan pikiran, mau gimana juga gaji pasti keluar...ihhhh...

Merasa aku sok tau? yeee, mama dan kakakku PNS dong, banyak juga saudaraku yang menjadi PNS...

Jadi aku tau bagaimana kerjaan mereka dibandingkan dengan apa yang aku kerjakan ketika menjadi wanita karir dulu.

Oh ya, tulisan ini bukannya penghakiman bahwa PNS itu malas, gak punya kemampuan dsbnya, tulisan ini ditujukan bagi ibu2 PNS yang terlalu merasa sombong dan meremehkan IRT, apalagi ngremehin IRT kayak aku, hadeeehhh... diriku IRT gaul, cantik, pintar, tinggi, 'lumayan langsing', (sudaaahhhh, sombongnya ikutan keluar dah, di stop aja deh, hahahahaaaa :D)..

Anyway, ini tulisan galau, coretan dari hati yang merasa tertekan :) Harap maklum dan kalau gak bisa maklum, diabaikan saja ya:) piisssss

Hargailah Privacy orang lain :)

2 comments:

  1. Ini di perumahan yg sama dengan yg kejadian diserang bapak2 itu bukan? Kalau iya, duh mendingan pindah aja kali ya☺ status ngontrak justru lebih memudahkan kalau ingin pindah-pindah. Beda kalau udah rumah sendiri, betah gak betah harus dibetah2in😭 *ikut-tjurhat

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi beda mba, ini masa-masa galau dulu waktu ikut suami kerja di luar kota.

      Kalau yang ini malah emak2nya yang resek.
      Maksa ikutan semua acara mereka :D

      Delete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...