Thursday, September 12, 2013

Antara Kebutuhan Hidup dan Kebersamaan

Seminggu yang lalu ketika sedang asyik bersiap membuat kukis chocochip dengan tujuan selain buat camilan kami juga untuk menghabiskan bahan kue yang karena kegemaranku membeli beragam bahan kue yang akhirnya numpuk dan mendekati masa kadaluarsanya, tiba - tiba aku dikejutkan oleh berita duka dari BBM seorang teman kerja dahulu, Ste.

"Mbak, ada berita duka, mas Irfan Kalteng meninggal dunia tadi" begitu kira2 pesan singkat dari si Ste.

Sontak aja aku terkejut, gimana gak, mas Irfan tuh teman kerja aku sewaktu masih kerja di PT Agrabudhi dan mengerjakan pelebaran Jalan Tol Dupak - Waru tahun 2007 lalu.
Mas Irfan adalah Site Manager dari PT Agrabudhi yang pastinya atasan aku yang saat itu direkrut sebagai drafter namun dengan job desk drafter, administrasi dll.

Sedih banget rasanya mendapat kabar tersebut, mas Irfan masih belum termasuk golongan berumur lanjut, masih di bawah 40 tahun, orangnya baik banget pula :(. Dulu semasa hidupnya sering banget bantuin aku, sejak masih kerja bareng di Pelebaran Jalan Tol yang selalu siap membantu jika aku butuh data pekerjaan yang kurang untuk laporan, siap jika aku meminta tolong di anterin ke mana2 untuk menyelesaikan pekerjaan baik di kantor maupun proyek, bahkan sering banget siap jadi supir nganterin aku pulang ke kos, padahal saat itu aku ngekost di daerah Gubeng Kertajaya dan kantor proyek tersebut ada di pintu tol Waru, jauh banget kaaannn???
Bersama mas Irfan dkk, tahun 2007

Eh gak seperti kebanyakan cowok yang sering di minta tolong oleh seorang cewek, mas Irfan tuh selalu sopan ama aku, gak pernah ada ucapan maupun tingkah aneh, bahkan aku ngerasa dia sosok yang sangat pas banget untuk seorang kakak.

Oh ya, mas Irfan tuh aslinya dari Jawa tengah, dia sudah lumayan lama kerja di PT Agrabudhi dan sudah mengikuti proyek Agrabudhi di berbagai tempat. Mas Irfan sudah beristri dan setau aku udah mempunyai seorang putra yang terpaksa sering ditinggal demi pekerjaan. Anak dan istrinya menetap di Jawa Tengah.

Terakhir, mas Irfan sudah beberapa tahun kerja di Kalimantan Tengah pada proyek pembangunan jalan.

Karena pekerjaan, mas Irfan jadi jarang bertemu anak istrinya, dia harus berpisah berbulan - bulan lamanya sebelum akhirnya bisa bertemu langsung pada saat waktu cutinya tiba.
Memikirkan itu jadi makin sedih deh, kasian anak istrinya yang jarang bertemu dengannya :(

Sebenarnya mas Irfan bukan satu2nya teman aku yang harus berpisah lama dengan anak istri / suaminya demi pekerjaan.Ada banyak banget dari teman2 yang harus terpisahkan dengan keluarganya demi pekerjaan, demi masa depan, dan demi kebutuhan hidup.

Aku juga dulu harus berpisah sebentar, setidaknya 3 hari sekali untuk bisa bertemu suami tercinta, pada awalnya sih aku merasa sangat sedih dan kesepian dan berpikir hal tersebut akan hilang setelah punya anak. Namun ternyata hal itu salah, aku tetap aja ngerasa ada yang kurang jika suami harus berpisah sejenak dengan suami, mungkin aku yang kelewat lebay, tapi itulah yang kurasakan.

Rasanya terlalu berat jika harus berpisah dengan suami meskipun mengatas namakan "demi kebutuhan hidup". Masa sih gak bisa menuhin kebutuhan namun gak harus berpisah sampai lama untuk bisa berkumpul lagi lalu berpisah lagi?

Terlebih lagi, ketika mengingat kepergian mas Irfan. kasian banget ya istri dan anaknya, rasanya waktu mereka bersama hanya sedikit sampai akhirnya harus berpisah selamanya :(

Hal tersebut membuat aku merasa bersyukur sekarang bisa sering berkumpul dengan anak dan suami, meskipun sering ditinggal lembur, tapi paling gak setiap hari selalu bertemu, meski hanya beberapa jam :)
Pengennya bareng2 terus seperti ini :)

Awalnya sih aku juga merasa takut dan waswas ketika memutuskan untuk berhenti kerja dan mengikuti suami di tempat kerjanya, namun karena keadaan yang memaksa serta ketidak nyamanan yang aku rasakan karena harus sering berpisah dengan suami serta ditinggal di rumah mertua, akhirnya dengan Bismillah akhirnya aku nekat berhenti juga.

Awal2nya sih senang banget karena bisa seharian bersama si kecilku, main bareng, ngajarin si kecilku sesuai keinginanku, dan pastinya bisa ketemu suami tiap hari.
Lama2 rasa bosan mulai menghampiri jiwa yang sebenarnya cinta banget ama dunia kerja, namun Alhamdulillah, setiap kali rasa ingin kembali ke dunia kerja datang, berbagai cara Allah selalu mengantarkan aku untuk kembali fokus mengurus anak dan suami, entah tiba2 anak jadi sakit, atau anak gak ada yang jaga, dll.

Mengenai masalah kebutuhan hidup, awalnya sih sedikit tenang karena masih ada sedikit isi rekening, namun tetap aja khawatir mengingat sewaktu aku bekerja aja kami masih sering kali 'kekurangan' apalagi jika sekarang penghasilan hanya dari suami seorang. Namun jika niat kita memang baik, Allah selalu memberikan jalan yang terbaik. Alhamdulillah beberapa waktu setelah aku berhenti bekerja, gaji suamiku merangkak naik, Alhamdulillah.

Selanjutnya kurang lebih hampir sama dengan keadaan saat aku sedang bekerja, bahkan bisa dibilang lebih baik, karir suami terus menanjak, penghasilannya pun ikut menanjak, kami masih bisa melakukan hal2 seperti pada saat aku sedang bekerja, bahkan lebih.

Alhamdulillahnya lagi, si kecilku tumbuh menjadi anak yang cerdas serta bisa berkembang sesuai yang kami inginkan, misalnya memanggil kami dengan panggilan mami papi (sebelumnya sewaktu di jagain eyangnya, sering banget diajarin manggil ayah dan mbok, hiksss)

Yup, hidup memang harus penuh perjuangan, perjuangan sengit demi 'tuntutan kebutuhan hidup', namun hidup juga pasti akan berakhir, jadi gunakan waktu hidup kita sebaik mungkin, jangan sampai mengorbankan waktu demi 'tuntutan hidup' yang kita tau semua itu ada yang mengatur.

Mari rajin meminta pada yang Maha Kaya, tanpa harus mengorbankan kebersamaan, insya Allah, jika niatnya baik, semuanya akan baik2 saja, aminnnn :)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...