Sunday, August 12, 2018

Bukan Salahku Jika Terlahir Introvert

 

Assalamu'alaikum :)

"Rey, kamu ngumpul-ngumpul sini loh, jangan ndekem aja dalam kamar!"
"Gak usah malu-malu di sini, Rey. Anggap saja rumah sendiri!"
"Kenapa sih Rey gak pernah mau membaur? saya aja bisa loh membaur di manapun!"

Perkataan di atas sering banget saya dapatkan, terlebih jika sedang berada di rumah mertua, gak tau kenapa, semua seolah memaksa saya 24 jam bercengkrama dengan semuanya, seolah saya benar-benar gak mau dan gak suka bercengkrama.

Dulunya saya mengira, diri ini memang pemalu.
Terutama karena memang tumbuh besar dalam keluarga yang kecil, gak pernah atau jarang banget bersosialisasi karena dilarang bapak saya.
Sehingga keadaan tersebut membuat saya jadi wanita yang minder dan pemalu.

Sampai saya mendapatkan sebuah kata INTROVERT.


Apa itu Introvert?

Introvert adalah kepribadian manusia yang lebih berkaitan dengan dunia dalam pikiran manusia itu sendiri. 
Jadi seseorang introvert ini lebih cenderung menutup diri dari kehidupan luar dan asyik dengan dunianya sendiri.

Orang dengan kepribadian introvert lebih senang menyendiri, menikmati kesunyian, bahagia dalam keheningan.
Istilah Introvert sendiri dipopulerkan oleh Carl Jung, seorang psikiater dari Swiss.

Masa kecil yang kurang indah dan tertutup

Terlahir dari seorang ibu yang sensitif dan bapak yang pemarah, membuat masa kecil saya terasa kurang indah. Mama yang sering ngomel dan menyalahkan kami atas ketidakbahagiaannya.
Bapak yang sering marah-marah dan ikut mengatakan bahwa gegara kami dia hidup susah, membuat saya tumbuh jadi anak yang minder.
Baca : Happy Birthday Rey! Jadilah Wanita Yang Ikhlas
Hal tersebut semakin diperparah, karena masa kecil saya dihabiskan dengan kurangnya bersosialisasi dengan dunia sekitar.
Saya hanya bisa ketemu orang lain saat sekolah, thats way saya suka banget ama sekolah. Karena bakal ketemu teman-teman.

Selain sekolah atau disuruh mama/bapak ke warung, saya gak boleh keluar, even itu keluar pagar.

Jangan harap bisa ketemu saudara dalam acara arisan keluarga, seingat saya hingga detik ini mama gak pernah ikut arisan, thats way juga saya gak suka ikut arisan, gak suka kumpul-kumpul, terlebih kumpul di rumah masak-masak dan makan-makan, sungguh saya benci hal tersebut.

Masa penyesuaian yang penuh tantangan

Setelah masa kecil yang penuh dengan pengasingan tersebut, saya akhirnya seolah menemukan jati diri ketika akhirnya bebas, jauh dari orang tua dan keluarga saat akhirnya bisa ngekost saat kuliah.
Sebelum bisa ngekost, hidup saya sama saja kayak di rumah, tinggal di rumah om yang mana tantenya cerewet banget ngalahin mama saya.
Begini gak boleh, begitu gak boleh. Pulang harus tepat waktu, bahkan ke warung saja butuh alasan kuat baru dibolehin.
Dan saat itu usia saya sudah 18 tahun, Oh em Ji!!

Setelah bisa ngekost dan berakibat tante kesal pada saya, rasanya kebebasan dimulai.
Saya bisa punya pacar, yup... saya punya pacar pertama kali saat kuliah, penyebabnya ya gegara takut orang tua dan keluarga serta minder.

Bisa berinteraksi dengan banyak teman.
Yup, saya adalah introvert yang berusaha banget bisa jadi orang 'normal' , just like other people yang ternyata mereka ekstrovert (kebalikan dari introvert). Dan minimal saya bisa menjadi ambivert (separuh introvert dan ekstrovert).

Bukan main tantangan yang saya rasakan saat penyesuaian.

Saya memaksakan diri ikut kegiatan kemahasiswaan.
Dan saya begitu norak ketika itu.
Ada momen, saya nangis gegara merasa gak diperhatikan, jadi nangisnya semacam caper, ya Allah hahaha.
Ada momen saya harus berpura-pura jadi orang lain agar saya diterima oleh orang banyak.

Yup, saya berusaha sangat keras untuk mendobrak sikap introvert saya yang diperparah dengan masa kecil yang menyedihkan itu.

Bahkan, saya sempat jatuh sakit-sakitan saat memutuskan menjalin hubungan serius bagaikan orang lain seperti berpacaran, jatuh cinta pada orang yang salah dan semua dibuat terlalu dramatis.

Ahhh sungguh saya selalu berusaha kok, hanya saja orang lain gak bisa mengerti arti perjuangan saya.

Pada akhirnya, introvert tetaplah introvert.

Setelah perjuangan saya untuk menyesuaikan diri, agar saya tidak terlihat seperti orang aneh, agar saya bisa diterima banyak orang.
Pada akhirnya, saya bisa 'naik kelas'.
Bisa punya banyak teman, saking banyaknya teman yang ada maunya saja tetep saya anggap temen hahaha.
Bisa punya daya tarik tersendiri dan disukai banyak teman pria karena selalu bisa masuk ke obrolan mereka.
Bisa jadi teman yang ramai, yang kocak, yang suka menghibur.

Yup, saya seolah 'naik kelas' jadi ambivert.

Jadi, kalau ketemu orang baru, awalnya diam, tapi kalau sudah ngobrol bakalan jadi orang yang rame banget, selalu menciptakan kehangatan dalam obrolan.

Dalam keluarga baru alias keluarga suamipun gitu.
Meskipun sebenarnya saya gak nyaman karena gak terbiasa punya banyak saudara di rumah, dan suami punya seabrek saudara.
Saya tetap berusaha masuk, ikutan ngobrol, ikutan bikin kocak, meskipun akhirnya garing hahaha.

Dan setelah lelah dengan semuanya.
Pada akhirnya, saya tetaplah saya.
Seorang yang introvert.
Seorang yang sebenarnya menyukai kesendirian, menyukai keheningan, menyukai kamar sendiri.
Seorang yang menganggap me time terindah itu adalah nonton DVD sendirian, ngemil sendirian, browsing sendirian, baca buku sendirian.

Jadi, di akhir situasi melelahkan jika di rumah mertua, dipastikan saya bakal masuk kamar dan bahagia dengan kegiatan menyusui demi menyendiri sementara.

Bahagia dengan berkomunikasi via chat, even sama suami sendiri.
Jadi i hate so much orang yang suka nelpon terlebih untuk hal yang kurang penting.


Apakah itu semua salahku?
Saya rasa bukan!
Sayapun ingin terlihat 'normal' seperti yang orang lain katakan normal.
Dan saya sudah berusaha keras untuk itu, dan itu sangaaaattt lah melelahkan.

Sungguh melelahkan memaksakan diri jadi orang lain.

Dan bukan pinta saya menjadi seorang introvert.

Btw, kalau teman baik yang sangat kenal saya pasti gak percaya kalau saya orang yang introvert, karena di depan mereka saya bagai badut yang suka menghibur mereka.

Tapi inilah saya, seorang yang terlahir introvert.
Dan bukan mau saya menjadi seperti itu.

TPJ AV - 12 Agustus 2018

Love

REYNE RAEA

16 comments:

  1. ya mungkin bisa diubah sedikit demi sedikit ya krn temanku juga sekarang sdh mulai bisa terbuka, tapi perubahannya lama dan dia juga gak memaksakan diri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya saya Alhamdulillah udah bisa berubah banyak, bahkan orang yang kenal saya gak percaya kalau saya ini introvert.
      Saking saya terlalu rame ngalahin orang yang memang ekstrovert, mbak hehehe

      Delete
  2. ini jg persis sm kyk saya mba, masa kecil dgn ortu yg hampir sama:D bapak yg pemarah, jd saya lbh memutuskan hidup di luar, lulus SD lbh pilih sekolah di pesantren sampai lulus kuliah saya ga pernah tertarik sekolah dan tinggal di rumah, milih merantau, sendirian. semenjak menikah saya byk belajar dr suami yg pny sifat kebalikan, minimal kalau sedang berkumpul dgn keluarga besar(yg kadang buat saya membosankan) krn ujung2nya obrolan yg unfaedah, saya bs menempatkan diri aja, punya dunia sendiri, kyk nulis2 di blog jg jd terapi buat saya sosialisasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Andaaaiiii saya dulu punya pilihan hidup jauh dari ortu hehehe.
      Tapi Allah memang maha adil ya, kita dijodohkan dengan orang yang ekstrovert, jadi kita bisa membaurkan sifat kita :)

      Delete
  3. sampai sekarang aku menganggap ak introvert mba rey, karena merasa nyaman ketika didalam bubble sendiri, tapi setelah itu bingung, karena ketika di luar/keramaian saya juga bisa merasa cukup nyaman,bersosialisasi / interaksi dan mrasa mendapat energi, walaupun lebih cenderung menyepi dan mengamati - apa saya terlalu sungkanan/pemalu aja ya..hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin mba Mega seorang ambivert, jadi di satu waktu bisa nyaman dengan kesendirian, tapi di lain waktu juga senang terbuka seperti layaknya ekstrovert :)

      Delete
  4. Duluuuuu zaman aku masih kecil sampai SMP kira2...aku termasuk introvert. Tapi seiring berjalannya waktu aku belajar lebih membuka diri dan banyak teman. Ternyata menyenangkan banget kalau kita bisa bersosialisasi, dimulai dari kenal 1 orang lama2 banyak deh. Dicoba aja, bisa pecaya sama teman sendiri dulu deh hehee.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah keren bisa beradaptasi akhirnya mba, saya bisa sih beradaptasi, kalau ketemu teman juga bisa jadi orang yang rame banget.
      Tapi ya gitu, saya lebih nyaman saat sendiri :)

      Delete
  5. Kalau aku bisa dibilang semi-introvert.
    Sekali waktu aku senang menyendiri, apalagi saat ' me time ' seperti : menulis dan perlu rileksasi pikiran.
    Dan sesekali waktu aku mendadak bisa rame kumpul bareng teman-teman, sampai kebanyakan temanku pada bilang kalo ngga ada himawan kurang rame 😅

    Ayo kak Reyne ..., tetap semangat 👌.
    Coba ikuti saran dari kak Nurul diatas untuk pelan-pelan 'memberanikan' diri ngobrol dengan orang baru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe sebenarnya sama kok, saya sekarang udah banyak berubah, sejak jauh dari ortu tepatnya :)

      Delete
  6. Kebalikan banget sama aku mbaa
    Kalau di rumah mertua meskipun anggotany banyak tapi sepiii karena seramerameny mereka masih tergolong pendiem
    Jadi aku mo rame sendiri juga sungkan wkkk
    Tau diri mode on
    Sebaliknya kalau di rumah ortuu... orangny dikit tapi dah kayak pasar dan aku bisa ekspresif
    Pun sama tetangga sekitar
    Baca blog mba jadi semacam tahu sisi lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi aneh juga ya kalau orangnya banyak tapi sepi, sibuk sendiri-sendiri dong.
      Kalau di rumah orang tua saya, saya sendiri sebenarnya termasuk yang rame, berisik meskipun kami cuman berdua, hahaha.
      Tapi kalau di rumah orang, terlebih mertua saya malah sungkan, mungkin karena ga biasa kumpul banyak orang di rumah ortu hehehe :)

      Delete
  7. Mb salfoks, dirimu di foto yg paling atas mirip salmafina yg artis itu wahaha

    E sama banget deh, aku jg paling takut denger suara dering telepon, ga ada sebab khusus sih aneh ya...tp beneran rasanya mualaaas bgt klo ada yg call liwat telepon, aku lebih suka baca sms ato pesan email klo dicall orang yg ga gitu dekeeet bgt macem kluarga inti...haha

    Nah iya ni, di lingkungan setelah nikah juga modelnya sering kumpul2, makanya kdg rada kagok gitu walo mau ga mau kudu nimbrung juga biar sah dibilang ngguyubi, meski bukan aku bgt hahaha..,kdg kyk musti berkamuflase gitu kan pdhl kita orang introvert emang sukae lebih di keheningan wkwk

    Jd kujuga takut garing tapi ga enakeun klo ga nimbrung, yah walo kdg mengorbankan sisi zona nyaman sementara huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi mba Nita bisa aja, saya sampai Googling yang mana sih Salmafina itu, abis kudet sayanya hahaha :D

      Kalau saya gak suka terima telpon sejak punya anak, dan semacam trauma juga sih karena dulu temen suka nelpon lamaaaaaaaaa banget.
      Bikin bete, ngabisin waktu hahaha.

      Nah itu deh, saya sering banget menghadapi suasana garing lalu krik krik gegara saya salah tingkah hahaha

      Delete
  8. Introvert memang sering dikaitkan dengan sombong. Buat saya nggak masalah, karena memang susah juga buat saya bisa hahah heheh dengan semua orang, haha... Ternyata pengaruh masa kecil yang kurang indah bisa pengaruh juga ya, Mba.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...