Wednesday, April 11, 2018

Dua Tahun Menjadi Stay At Home Mom (Lagi)


Assalamu'alaikum :)

Gak kerasa (beneran) ternyata dipikir-pikir saya sudah dua tahun lamanya menjadi ibu rumah tangga (lagi) atau bahasa lainnya Stay At Home Mom.
Sebenarnya ini yang kedua kalinya saya jadi IRT, sebelumnya saya memutuskan jadi IRT kala tahun 2011 lalu, dan kembali bekerja saat tahun 2015.

Ternyata, hanya berselang setahun balik menjadi ibu bekerja kantoran dan sungguh saya sangat bahagia ketika di kantor, saya akhirnya memutuskan kembali menjadi ibu rumah tangga (lagi).


Daftar Oriflame
Berbeda dengan kebanyakan orang lain saat memutuskan jadi IRT dengan pemikiran panjang dan matang (saking panjangnya gak jadi-jadi resign hahaha), saya malah selalu terkesan nekat.
Iya, saya memang orangnya gak suka kebanyakan mikir, karena emang saya terlalu berlebihan kalau sedang mikir, dan dijamin saking kebanyakan mikir, gak berani mulu ngambil keputusan.

Saya resign kedua kalinya nyaris sama dengan yang pertama kalinya.
Yup, resign karena waktu dan kondisi yang sangat pas.
Kondisi kakak Darrell yang bolak balik bikin saya harus mandi air mata sepanjang perjalanan ke kantor, di tambah suasana kantor sudah gak sehat, akhirnya saya memberanikan diri untuk memberikan surat resign tepat di awal bulan April 2016 lalu.

Lalu apa saja yang terjadi pada saya selama 2 tahun menjadi IRT (lagi)?

Ada banyak hal yang terjadi, baik yang positif maupun negatif.
Positifnya sih kebanyakan di pihak anak, negatifnya ada di pihak saya sendiri.

Hal-hal positif semenjak jadi IRT lagi


1. Anak jadi jarang langganan dokter spesialis anak.

Ini adalah hal positif yang paling saya syukuri.
Alasan terbesar saya berani memutuskan jadi IRT padahal aslinya keadaan ekonomi kami masih jauh dari penilaian seattle bagi orang awam adalah, karena kakak Darrell dulu bolak balik langganan dokter spesialis anak hingga profesor segala.

Nyaris tiap bulan saya harus mengajaknya antri ke dokter spesialis anak, dan setiap itu pula dia harus mengkonsumsi antibiotik.
Puncaknya saat kakak Darrell terkena sariawan hebat dan di over diagnosa kalau sakit Kawasaki,
dan membuat dia harus mengkonsumsi obat TB tanpa pemeriksaan yang detail.

Saat itu saya mulai berpikir, untuk apa saya capek-capek cari uang dengan bekerja di luar rumah, kalau gajinya tiap bulan saya pakai untuk membayar dokter dan obat-obat yang tidak terbilang murah itu?. Belum lagi galaunya hati saat harus menitipkan dia even dia lagi sakit karena pekerjaan tidak bisa ditunda.

Semenjak saya resign dan mengasuh serta mengurus kakak Darrell sendiri, Alhamdulillah dia jadi jarang pergi ke dokter spesialis.
Bahkan di akhir tahun 2016 kakak Darrell terkena penyakit cacar, Alhamdulillah saya bisa merawatnya sendiri dan sembuh tanpa penanganan dokter.

Selama dua tahun saya kembali menjadi IRT, kakak Darrell hanya sekali mengunjungi dokter umum karena dia jatuh dari sepedanya dan gusinya luka parah, serta 2 kali mengunjungi dokter gigi umum untuk kontrol giginya yang tanggal, plus 1 kali mengunjungi dokter gigi anak untuk konsultasi gigi lanjutan.

Semuanya terjadi bukan karena penyakit, tapi karena tingkahnya yang super aktif.

2. Punya bayi lagi.

Ini memang impian saya banget sejak menjadi ibu rumah tangga pertama kali, pengennya sih segera diberi bayi lagi biar sekalian ngurusnya mumpung jadi ibu rumah tangga.
Selama menjadi IRT pertama kali, saya berkali-kali di PHP oleh rasa akan hamil.
Nyatanya sampai saya memutuskan balik bekerja (lagi) si bayi yang diimpikan belum juga kunjung diberi.

Allah memang maha tahu kemampuan hambaNya.

Gak sampai setahun saya memutuskan jadi IRT, dipercayailah saya oleh Allah untuk mempunyai bayi lagi. Dan kesemuanya berada di waktu yang sangat pas.
Pas hamil dan mabok berat, pas juga jadi IRT, pas juga kakak Darrell sudah lumayan mandiri.
Masha Allah Walhamdulillah.

3. Bisa mendidik anak dengan lebih baik.

Sewaktu saya memutuskan kembali bekerja di tahun 2015 lalu, kakak Darrell saya titipkan di daycare.
Alhasil, saya lumayan terkejut melihat perubahannya yang banyaknya sih menjurus ke arah yang negatif.
Dari suka berbahasa yang kasar, bertingkah laku yang tidak sopan seperti suka menjulurkan lidah dan memamerkan pantatnya sambil tertawa.

Usut punya usut, ternyata hal tersebut dia contek dari teman TK nya dan teman-teman di daycare.
Sedih banget sih, terutama saya gak punya waktu yang lebih banyak untuk membentenginya agar pengaruh saya lebih kuat dari pengaruh teman-temannya.

Syukur Alhamdulillah, sejak saya resign kakak Darrell jadi balik seperti sebelumnya.
Karena waktu bersama saya jauh lebih banyak ketimbang bersama teman-temannya.
Sehingga pengaruh dari saya lebih merajainya ketimbang pengaruh buruk dari teman-temannya.

4. Bisa menjalankan bisnis dari rumah.

Sebenarnya sejak menjadi IRT pertama kali dulu, saya juga sudah memulai bisnis yang akhirnya kandas di tengah jalan.
Di awal tahun 2016 saya kembali memutuskan untuk meneruskan bisnis jaringan saya, Oriflame.

Saat itu saya masih bekerja kantoran, bukan main rasanya menjalankan Oriflame sambil bekerja kantoran, terlebih saya bekerja di perusahaan kontraktor yang mana kalau lagi ada penawaran atau tender, that means saya harus bawa pulang kerjaan.
Sementara itu ada jaringan yang harus di urusin plus dikembangkan.

Setelah resign, waktu untuk berbisnis jadi semakin luas, meskipun tetap saja dibatasi oleh pekerjaan mengasuh anak dan membereskan rumah.
Karena memang sejatinya saya bekerja untuk anak, jadilah anak adalah prioritas utama.

5. Bisa sering masakin anak.

Waktu kerja dulu, saya jarang masak di rumah.
Paling hanya masak untuk sarapan dan setiap hari Sabtu dan Minggu jika kami gak ada jadwal keluar rumah.
Saya gak masak juga karena memang gak ada yang bakal makan.

Saya dulu dapat makan siang di kantor, suami juga. Kakak Darrell dapat makan di daycarenya.
Sorenya, saya sudah terlalu capek untuk masak, demikian juga kakak Darrell kadang seharian gak mau tidur siang, alhasil gak sanggup lagi menanti saya masak sejenak.
Dan jawaban tersimple adalah kami beli saja makanan buat makan malam hehehe.

Setelah resign, Alhamdulillah saya bisa memastikan kakak Darrell makan makanan yang sehat, mungkin itu alasannya mengapa dia jarang sakit yang aneh-aneh lagi.


Hal-hal negatif semenjak jadi IRT lagi

Gak cuman hal positif, menjadi IRT juga membawa dampak negatif buat saya, seperti :

Saya jadi malas dan susah disiplin

Ini hal yang paling saya kesalin saat menjadi IRT, dulu saat bekerja kantoran, saya selalu setia pada waktu, setiap pagi bangun pukul 3 atau 3.30.
Bisa sholat Tahajud, bisa masak sarapan dan beresin segala sesuatu dengan baik.
Saya tidur jam berapapun juga, setiap hari bakal terbangun di jam segitu.
Dan itulah yang membuat saya, papi dan kakak Darrell gak pernah telat berangkat ke kantor / sekolah.

Setelah jadi IRT?
Masha Allaaaahhh, saya jadi malas dong!
Rasanya gak sanggup lagi tidur hanya 4-5 jam kayak waktu kerja kantoran.
Kalau saya telat tidur sedikit, dijamin besoknya molooooorrrr banget.
Terlebih kayak sekarang ada bayi, dijamin kakak Darrell berangkat sekolah, kamipun molor sampai siang hahaha.

Selain itu, saya jadi sulit mengikuti jadwal yang saya buat sendiri.
Sering begadang karena menganggap besoknya bisa molor atau tidur siang.
Suka menunda-nunda pekerjaan, terlebih ada godaan HP.

Rasanya, saya ingin lagi bekerja di luar, biar bisa disiplin kayak dulu.

Apapun yang telah saya jalanin selama 2 tahun ini menjadi IRT, baik bahagia maupun galau karena ngiler liat teman-teman bisa cantik-cantik dan sibuk bekerja di kantor.

Saya bersyukur telah berani mengambil keputusan ini.

Keputusan yang gak semua wanita BERANI mengambilnya.

Kebanyakan orang beralasan ini itu, ada cicilan lah, ekonomi belum stabil lah, biaya ini itu mahal lah.

Padahal biaya daycare juga mahal hahaha.

Keberanian saya juga lumayan ekstrim karena sebenarnya kami juga belum mempunyai perekonomian yang settle.
Salah satu hal yang bikin saya berani hanyalah KARENA ALLAH semata.

Saya yakin, Allah gak mungkin membiarkan saya memikul beban yang gak bisa saya pikul.
Dan beban gak bisa hangout, dandan cantik, ketemu teman tiap hari, pamer foto cantik tiap hari itu saya anggap hal yang sangat remeh dibanding menjaga AMANAH ALLAH meskipun saya sering ingin balik bekerja.

Karena ibu bahagia itu bukan ibu yang mencari kebahagiaan sendiri tanpa anak.
Namun ibu yang menemukan dan menciptakan kebahagiaannya sendiri di tengah wajah kusut masai karena gak sempat dandan, bau ASI karena si bayi nyusu sesukanya, kulit kering karena jarang pakai lotion, sampai lotionnya dijadikan give away hahaha.
Dan kebahagiaan yang saya temukan ditengah pekerjaan rumah yang tiada ada habisnya.
(kata bapak teman kerja saya dulu, kalau kerjaan habis itu berarti kita udah mati, hehehe)

Dan menurut saya, jika kita hanya merasa bahagia dengan harus bekerja di luar rumah, meninggalkan anak dan memaksa anak mengerti keadaan kita.
Itu bukanlah kebahagiaan seorang ibu, tapi seorang kebahagiaan seorang wanita.

Dan saya sekarang bukanlah wanita, I AM a MOM and I am Proud About It.

Jadi, mari kita selalu bersyukur dan berbahagia di tengah drama mengasuh dan mendidik anak di rumah.

Semoga manfaat.

*PS : Tulisan ini hanyalah opini saya semata, tanpa bermaksud menyinggung atau menyepelekan pihak lainnya. Biar bagaimanapun saya juga pernah menjadi ibu bekerja di luar rumah.


TPJ AV - 11 April 2018

Love

6 comments:

  1. Segala hal memang ada positif dan negatif nya yaaa. Itu juga tergantung cara pandang sih :)

    semangaaat. Adek2 pasti seneng karena mama nya selalu di rumah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mba, tergantung bagaimana kita menyikapinya :)
      Alhamdulillah, bisa selalu mendampingi anak setiap hari :)

      Delete
  2. Sebenarnya ga ada yang mau mengatakan menjadi ini lebih baik atau lebih buruk dari yang lain ya mba.... Hanya saja memang pilihan selalu beserta konsekuensinya.... Semoga kita menjadi ibu yang terbaik utk anak2 kita apapun kondisinya :D btw, aku malah suka kebangun jam 2 malam walau cuma irt, krn saat itulah aku bisa nulis, hehe, salam ya mba sesama mom blogger stay at home :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, selalu diekorin konsekwensinya masing-masing ya.
      Wah kebalik, saya malah jadi IRT jadi sering begadang, jam segitu belum tidur hiks

      Delete
  3. Selalu salut kok ama semua ibu yg memutuskan resign dan menjadi IRT . Aku sendiri blm berani mba, krn aku tahu kerjaan IRT itu beraaaat. Belum sanggub sih. Utk saat ini sih aku yakin bakal stress berat kalo maksain utm resign. Mungkin nanti, tp yg pasti belum untuj sekarang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Peluukk, insha Allah segera diberanikan mba.
      Sebenarnya sama aja sih jadi IRT atau working mom, tergantung sitkom aja, kalau saya memang sitkom nya mengharuskan jadi IRT meskipun sebenarnya sitkom mengharuskan jadi ibu bekerja juga ada :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...