Menerima Masa Lalu, Part : Makanan

menerima masa lalu

Ada beberapa hal yang tanpa disadari, sepertinya saya sudah berada di tahap menerima hal itu, sehingga hal-hal demikian tak lagi menjadi sebuah hal yang harus dipermasalahkan.

Namun, memang sih, bagian dari menerima masa lalu ini, tidak terjadi begitu saja, tergantung dari kondisi masa lalu dan bagaimana kita menyikapinya di saat ini. Contohnya, makanan.

Saya sering banget membaca beberapa tulisan atau melihat konten di media sosial, yang isinya tuh kayak 'balas dendam' akan masa lalu, khususnya pada makanan.

"Ternyata nggak apa-apa loh, makan ayam goreng tanpa nasi"

"Ternyata nggak masalah loh, makan kue buatan ibu yang nggak gosong atau hancur"

"Ternyata makan opor, boleh bukan saat lebaran saja!"

Lalu di kolom komentar bermunculan cerita-cerita pedih di masa kecil dan balas dendam di masa sekarang,

"Aku dulu makan indomie 1 bungkus dibuat ber-4, sekarang balas dendam, makan indomie 4 bungkus sendirian!"

"Aku dulu makan nasi sama ikan asin, sekarang balas dendam makan stik ikan salmon di kafe terkenal"

"Aku dulu pernah makan cuman nasi sama kerupuk!"

Dan lain sebagainya. 

Tiba-tiba saya teringat akan curhatan seorang sahabat kos saya dulu, yang bercerita tentang masa kecil pacarnya yang menyedihkan.

Katanya si pacar ini sangat menghargai makanan, karena di masa kecil mereka kesusahan, sampai-sampai makan nasi cuman sama kerupuk.

Saya ketika itu hanya mendengar, tidak berkomentar yang gimana-gimana, bisa-bisanya saya nggak ikut adu nasib, saya lupa waktu kecil juga pernah mengalami hal ngenes tentang makanan.


Cerita Makan Nasi Campur Batu Kecil dan Makan Jagung Pakai Sayur

Gara-gara keseringan liat konten kesedihan akan makanan di masa kecil, lama-lama saya jadi keingat juga cerita masa kecil, yang sejujurnya saya udah lupakan.

Bahkan ketika akhirnya saya mengingatnya lagi, tidak ada dendam atau rasa gimana di hati, cuman sebuah rasa syukur akan keadaan saya saat ini yang ternyata jauh lebih baik, masya Allah walhamdulillah.

Saya ingat, ketika sampai di Buton, dari tanah kelahiran di Minahasa, semua usaha bapak selalu gagal. Satu persatu barang yang dibawa dari Minahasa habis terjual, termasuk perhiasan emas mama.

Lalu akhirnya habis sama sekali.

Ketika itu, mama belum jadi PNS.

Saya tidak mengetahui ceritanya secara lengkap, maklum saat itu saya masih SD. Tapi saya ingat, mama pernah menyuruh saya beli beras 1 liter (di Buton beras dijual per liter) dengan uang yang pas.

Namun, namanya juga anak kecil ya, kebanyakan gaya. Ketika pulang dari warung, entah saya kesandung atau gimana, jatuhlah saya, dan beras 1 liter itu tumpah.

Saking takutnya, saya cepat-cepat memungut beras yang jatuh tersebut, dan membawa pulang.

Saya lupa juga, sepertinya saat itu saya sudah bisa memasak nasi, atau kakak yang masak. Nyatanya beras itu memang berhasil dimasak, tapi masih penuh bebatuan kecil, karena saya pungut dari tanah.

Marahlah mama karena saya nggak mau jujur, dan langsung memasak beras satu liter itu. Meski demikian, kami sekeluarga tetap memakan nasi itu, karena nggak ada lagi beras lainnya.


Saya juga jadi ingat, ketika kecil dulu, kami sering kekurangan makanan, berkali-kali karena mama nggak punya uang buat beli beras, akhirnya kami makan jagung rebus.

Eits, jangan bayangkan jagung rebus yang muda dan enak itu ya. Jagung yang kami makan itu, jagung keras yang biasa buat ayam itu loh. Jagung itu dimasak sampai lunak, lalu dimakan dengan garam.

Kadang juga cuman pakai sayur rebus, kayak pepaya muda yang direbus begitu saja, di sana namanya naasu opa (kalau nggak salah).

Bahkan ketika mama sudah jadi PNS, tapi gajinya masih sangat kecil, kami memang bisa selalu makan nasi karena dulu PNS dapat jatah beras dari pemerintah. Meskipun kualitasnya ya gitu deh, hahaha.

Tapi masalah lauk kami tidak selalu beruntung.

Masih enak mah orang yang mengeluh makan nasi cuman sama ikan asin dan kerupuk, padahal ikan asin itu enak ya, hahaha.

Kalau kami, dulunya sering banget makan nasi sama garam doang.

Biasanya, nasi putih hangat disiram minyak kelapa asli, ditambah garam, itu aja udah nikmat.

Kadang mama petik pepaya muda trus direbus lalu dimakan sama sambal dan nasi.

Anehnya, meski dulu itu keadaan makanan kayak gitu, saya sama sekali nggak merasa dendam untuk makanan loh.


Ini Alasan Saya Tidak Dendam Pada Kondisi Kesusahan Makanan

Kalau dipikir-pikir, mengapa saya nggak pernah dendam pada kondisi kesusahan makanan itu, mungkin salah satunya, karena bapak selalu memberikan kami makanan yang berlimpah, meskipun ini berdampak kurang baik juga sih ya.

Maksudnya gini, entah memang karena sifat lelaki yang lebih suka hanya memikirkan hari ini. Demikian juga bapak saya dulunya.

Meski kami sering kesusahan makanan, tapi beliau selalu berusaha untuk memberikan kami makanan yang bisa beliau kasihkan secara melimpah.

Misal, ketika musim mangga datang, kami sering kan ikut teman-teman menanti mangga jatuh di bawah pohon mangga orang lain.

Karena bapak kesal, tebak apa yang beliau lakukan?

Bapak manjat pohon mangga di hutan dong, terus dia bawa pulang tuh mangga sekarung, dan nyuruh kami makan sampai puas, hahahaha.

Demikian juga dengan buah lainnya, yang bisa beliau ambil di hutan, pasti bakal dibawa pulang, dan enggak sedikit, minimal sekarung, wakakakak.

Sampai eneg seenegnya dah kami makan.

Dulu bapak juga sering berteman dengan polisi yang bertugas di daerah tersebut, mereka sering berburu di hutan. Dan jika berhasil memburu rusa hutan, kami pun bebas makan daging sepuasnya.

Dulu sering banget saya liat mama cemberut melihat sikap bapak yang seakan tidak peduli akan hari esok itu. Tapi sekarang saya baru sadar, mengapa banyak anak yang seolah dendam dengan makanan di masa lalu, ya karena makannya selalu dibatasi.

I know, sisi positifnya adalah mengajarkan anak untuk makan secukupnya, ingat akan hari esok, seperti yang sering mama saya ucapkan. Tapi siapa sangka, hal itu juga memberikan dendam di hati banyak orang.

Kalau cuman dendam makanan dan sesekali balas dendam sih nggak masalah, tapi kalau balas dendamnya berlebihan kan sama aja bohong ya apa yang sudah diajarkan sejak kecil, agar hemat dan mengingat atau memikirkan hari esok juga.

Apalagi kalau kebiasaan yang dibawa anak jadi berlebihan dan merugikan orang lain, misal beberapa orang yang memutuskan hidup dengan frugal living, tapi pakai atau mengambil hal orang lain. 

Atau jadi dendam dan kebawa di alam pikirannya sebagai beban hidupnya, seperti yang sering saya liat di medsos itu.

Hidup memang bukan hanya untuk makanan atau makan, tapi jangan sampai kita menjadikan makanan sebagai luka batin dari masa kecil di masa dewasa. Mengingatnya selalu, dan menjadikan beban di hati kita hingga dewasa.

Sehingga hal itu membawa dampak negatif dalam mendidik anak-anak, misal memberikan anak makanan yang berlebihan, hanya karena di masa kecil hidup kita menderita dan kekurangan makanan.

Mari kita hidup dengan memaafkan dan menerima masa lalu, agar hidup kita lebih baik lagi. Termasuk menerima masa ketika kecil kita makan hanya nasi dengan ikan asin.

Ih itu enak, tauk! hehehe. 


Surabaya, 28 Maret 2024

1 komentar :

  1. Aku memang suka makan, tp bukan berarti jadi pengen balas dendam saat dewasa bisa makan seenaknya. Mungkin krn udh peduli ama kesehatan juga ya Rey. Kalo dulu bolehlah gampang ngiler lihat makanan viral dan lainnya. Kalo skr, liat menu baru cromboloni atau aneka makanan tinggi gula atau yg full kolesterol, aku malah eneg 🤣🤣🤣. Boro2 jadi ngiler.

    Lebih suka icipin dikit aja, biar ga penasaran. tapi ga tertarik untuk makan sebanyak2nya, atau icipin semua rasa. Udah ga kesitu mindsetku. Terkadang kalo liat video YouTube mukbang, aku malah kasian ama creatornya. Makan sebanyak atau sepedas itu apa ga masalah lambungnya nanti.. Mungkin bukan sekarang, tp di masa tua.

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)