Ketika Bosan Ditanya Kapan Mudik dan Disuruh Rajin Liat Mama

sedih ditanya kapan mudik

Sejujurnya ya, semakin bertambahnya usia, semakin malas pula saya  baper kepada orang lain, untuk masalah apapun itu. Selain ke papinya anak-anak dan juga pra bocil, tentunya.

Etapi, ternyata saya nggak sepenuhnya kayak gitu, masih ada juga loh 'bocor tipis' merasa baper karena bosan sampai tahap eneg dengan pertanyaan dan nasihat beberapa orang. Terutama nasihat anjuran rajin mudik menjenguk ortu

Padahal ya, untuk kehidupan sekarang tuh, saya sudah lebih rapat mengunci diri dari hal-hal yang melibatkan kebersamaan dari orang lain. 

Alasannya, ya saya malas baper, malas overthinking, karena otak saya udah penuh dengan semua hal yang riuh rendah berputar di otak setiap hari.

Tak mau lagi saya menambahkan dengan pikiran-pikiran akibat perkataan orang lain.

Karenanya, saya menikmati banget kehidupan sekarang. Jarang ketemu orang lain yang kenal, satu-satunya teman ngobrol intens secara langsung ya cuman si Dea Merina. Itupun kalau nggak sengaja kami ketemu di perpustakaan daerah Jatim.

Atau, ngobrol via chat dengan mamak 3F Diahalsa. Si blogger asal Kendari yang memang humble dan jadi teman ngobrol sejak lama.

Selain daripada itu, nggak ada lagi orang lain yang sering ngobrol sama saya. Dan jujur, saya menikmati hal tersebut, karena bikin pikiran lebih tenang, nggak overthinking setiap saat.

Eh, tepatnya, nggak nambahin overthinking saya sih, karena si Rey mah selalu bersahabat dengan OT, hahaha. 


Ketika Bosan Mendengar Nasihat Anjuran Rajin Mudik Jenguk Ortu

Tapi, se'ansos-ansos' (anti sosial: read) saya, se 'menutup diri'nya saya.

Kenyataannya, saya masih sering terbuka melalui medsos, ye kan si Rey ini butuh branding, biar orang-orang kenal blog dan akun IG saya, uhuk.

bosan ditanya kapan mudik

Dan dari situlah, terutama di facebook, saya mendapatkan celutukan yang jujur, meski awalnya cuek, tapi kalau keseringan mendengar kalimat itu, lama-lama eneg dan bosan juga ya.

Nganu, kalau yang lain eneg dengan pertanyaan,

"Kapan nikah?"

"Kapan punya anak?"

"Kapan punya anak 2?"

"Kapan punya anak laki/perempuan?"

Dan lainnya.    

Pertanyaan di atas, sering dan pernah juga sih saya dengarkan, ditujukan ke diri saya. Tapi emang respon saya selalu santai, malah bikin bete orang yang nanya, hahaha.

Nah, ternyata tidak dengan pertanyaan atau tepatnya sebuah pernyataan bernada nasihat, seperti,

"Rey, kapan pulang ke Buton?"

"Rey, kapan jenguk mama?"

"Rey, lebaran nanti mudik kan?"

Tapi itu nggak seberapa, yang bikin eneg itu adalah nasihat tambahannya.

"Selagi ortu masih ada, rajin-rajin dijenguk, uang bisa dicari lagi, tapi momen bisa melihat mama itu nggak bisa lagi kalau udah nggak ada di dunia!"

Sekali dua kali sih masih mending ya, masih bisa saya tanggapi dengan senyuman nyengir. Tapi kalau udah berkali-kali, ternyata eneg banget.

Terlebih saya menyimpan sebuah alasan penting yang mendasari kenyataan 'mengapa saya sekarang udah jarang membahas masalah mudik'.

Masalahnya ini sebenarnya personal ya, dan takut saya ungkapkan, entar yang dengar menyampaikan ke mama, dan saya kasih tahunya dalam bentuk 'singkong rebus'. Eh yang sampaikan udah dalam bentuk tape singkong rebus, tapi yang udah kadaluarsa, saking berlebihan materi yang disampaikannya.

Duh, saya mah udah 'khatam' banget masalah begitu. Di mana dulunya paling sering terjadi di antara keluarga kami.

Jadi, saya kan sebenarnya punya keluarga dekat di Surabaya dan juga Krian. Dulunya ada adik kandungnya mama di daerah perum AL dekat Kenjeran sono.

Terus, saya juga punya kakek, meskipun itu kakek dari mama, di mana kakek itu, saudara tirinya ayah kandung mama. Bahasa mudahnya adalah, kakek tersebut adalah om mama saya, tapi saudara tiri ayahnya.

Tentu saja, saya punya saudara sepupu di Surabaya, punya tante dan om meski hubungannya udah agak jauh.

Dulunya, karena sering dinasihatin ibunya si Kakak pacar aka menjadi almarhum ibu mertua saya. Di mana blio sering nyuruh saya rajin-rajin bersilaturahmi ke saudara mama, om dan tante saya di dekat Kenjeran itu.

Maka pergilah saya ke sana.

Tapi, tau nggak apa yang terjadi?

Suatu saat, ketika masih kuliah dulu, saya pernah mudik ketika lebaran. Yang namanya mudik, saya pastinya wajib mengunjungi rumah om dan tante kan, baik dari pihak mama maupun bapak.

Lalu, saya mengunjungi salah satu kakak mama di BauBau, dan you know? betapa terkejutnya saya, karena boro-boro menyambut keponakannya ini saat lebaran yang mau mencium tangannya.

Eh yang ada saya diusir, dimaki, dikata-katain dan segalanya.

Shock-lah saya.  

Masalahnya adalah, saya benar-benar nggak tahu, apa sih kesalahan saya?

Sampai nanya ke tante lainnya, apakah tante itu marahan sama mama saya, lalu melampiaskan ke saya? 

Dan ternyata you know apa masalahnya? 

Ternyata, tante yang galak itu salah paham, dia dapat omongan dari tante saya di Surabaya sini (istrinya om), yang mana ucapannya dilebih-lebihkan, seolah saya menjelekan tante tersebut.

Astagfirullaaaaahhh.

Sejak saat itu, saya membatasi banget berkunjung ke rumah om dan tante Surabaya itu. Terakhir kali saya berkunjung di sana, ketika si Kakak masih berusia 6 tahunan keknya. Dan itupun meninggalkan kemarahan lagi dari keluarga Buton, lantaran si tante saya melebih-lebihkan obrolan kami.

Ya ampuuunnnn.

Dan begitulah, sejak saat itu, saya benar-benar malas banget ngobrol masalah keluarga ke siapapun, khususnya orang Buton.

Karena itu tadi, saya ngobrolin jagung rebus, eh disampaikan ke yang lain, jadi jagung basi, hahahaha.

Itu jugalah yang bikin saya jadi malas banget, menjawab pertanyaan-pertanyaan orang, khususnya yang kenal keluarga kami, tentang pertanyaan ini itu, termasuk pertanyaan kapan pulang itu.

Karena, ya untuk mengantisipasi menu yang saya obrolin jadi menu basi, hahaha.

Akan tetapi, kalau didiamkan mulu, kok rasanya bete juga ya lama-lama. Apalagi, seringnya pertanyaan yang sama itu, berasal dari orang yang sama juga.

Nggak bosan apa ya dia, nanya hal yang sama setiap saat?. Atau jangan-jangan dia nggak bosan, karena memang nggak pernah puas dengan jawaban saya yang selalu cuman kasih senyum nyengir (😄😆😜 gitu ajah).

Lalu terpikirkan, ih kenapa saya nggak tulis aja ya jawabannya di blog. Jadi, kalau ada yang nanya berulang kali, tinggal dikasih url blogpost-nya aja, wakakakak.


Alasan Sekarang Jarang Bahas Mudik Jenguk Ortu

Jadi sebenarnya ya, saya tentu saja tetap memikirkan niatan mudik, meskipun sejujurnya nggak lagi seintens dulu.

sedih ditanya kapan mudik

Alasannya:


1. Ongkos mudik ke Buton itu MAHAL!

Untuk mudik ke Buton, kita bisa menggunakan beberapa pilihan transportasi. Bisa pakai pesawat ataupun lewat laut, naik kapan Pelni.

Sayangnya opsi naik kapal Pelni ini belum sanggup saya lakukan, karena tidak seteratur naik pesawat. Opsi naik pesawatlah yang paling memungkinkan.

Dan harganya, silahkan cek sendiri di Traveloka, berapa tiket pesawat Surabaya - BauBau, jauh lebih murah ke Singapura atau Malaysia, ketimbang ke Buton deh, hahaha.

Kalau nggak salah, tiketnya 3 jutaan perorang.

Andai kami mudik 4 orang, itu berarti 3x4x2 = 24 juta, hanya tiket pesawat pulang pergi, belom lainnya.

Duh, ambil di mana akoh duit sebanyak itu? kalaupun ada, saya pakai buat membayar banyak keperluan anak-anak sekolah aja dulu deh.

Saya udah sering nulis kan, bahkan branding di media sosial, how bokek i am, wakakakakak. 


2. Sudah waktunya fokus ke kebahagiaan diri dan anak-anak

Hhhhmmm.... *sigh!

Ini bakalan menguras energi saya untuk mengeluarkan kejujuran diri, bahwa...

You know? saya tuh ya, menghabiskan waktu belasan tahun untuk hanya fokus ke membahagiakan ortu dengan harus selalu mudik. Meskipun nggak bisa mudik setiap tahun karena how bokek i am itu, hahaha.

Tapi, percayalah, saya baru tersadar loh, khususnya setelah bapak meninggal, dan mama cuek bahkan seolah memutuskan hubungan dengan saya. Bahwa saya hanya terobsesi dengan mudik menjenguk ortu mulu.

Dan obsesi itu benar-benar membuat kebahagiaan kami terganggu. Dan membuat hati saya juga selalu sulit untuk bahagia.

Saya kesal, jika kami sering ke rumah mertua, kesal berbuat baik sama mertua, hanya karena iri, kok kami hanya peduli sama keluarga paksu aja, sama ortu saya kok enggak.

Saya melewati belasan puasa dan lebaran ketika nggak bisa mudik ke Buton, dengan bersedih, marah, ngamuk hanya karena nggak bisa merayakan di samping mama bapak.

Padahal ya, mau gimana pun juga, saya udah memilih, bahwa sekarang saya udah nikah dan ikut suami. Dan emang nggak bisa mudik setiap lebaran, bukan karena dilarang mudik, eh iya, dilarang mudik sih, sama isi rekening tapinya wakakakakaka.

Itulah mengapa saya pikir, cukup sudah.

Sudah waktunya saya bahagia menikmati momen saat ini, bahagia menikmati apa yang bisa saya nikmati. Dan merelakan apa yang belum bisa saya nikmati.

Karena itulah, saya sekarang tak pernah lagi memikirkan hal-hal tentang mudik dengan terlalu diambil pusing. Tetap niat sih pengen pulang jenguk mama dan kakak. Tapi diserahkan aja ke Allah, kapan tuh waktunya.

Karena yakin banget, kalau Allah mengiizinkan, pasti bisa mudik kok. Kayak pas mudik terakhir kali, mudik di masa pandemi. Bayangin aja, saya nggak punya uang tabungan, pas pandemi pulak. Tapi saya bisa pulang naik pesawat sama anak-anak.

Bayangkan! Kalau bukan karena Allah mengizinkan saya mudik, manalah bisa?.

Duit dari mana?


3. Tidak ada alasan kuat lagi yang memaksa saya harus selalu mudik

Sebenarnya masalah utamanya, mengapa sekarang saya tidak segetol dulu untuk mudik adalah karena merasa nggak ada alasan kuat yang seolah menjadi chemistry tertentu untuk mudik.

Penyebabnya udah pernah saya tuliskan di tulisan dengan judul 'hal-hal menyedihkan yang bikin malas mudik'.

Intinya, semua bermula dari mudik terakhir saya yaitu mudik saat pandemi dulu. 

Ketika itu, saya mudik dibiayai oleh ibu mertua saya, alias pakai duit beliau, masya Allah. Alasannya, karena kakak ipar saya bolak balik menelpon, mengabarkan bapak saya yang sudah sakit-sakitan terus.

Saya sedih banget dan sering ngamuk ke suami tentang itu, akhirnya paksu cerita ke ibunya dan si almarhumah merelakan uang tabungannya buat beli tiket saya dan anak-anak.

Bayangkan ya, saya bisa mudik itu, udahlah biaya tiketnya pemberian mertua yang sebenarnya beliau juga ngumpulin uang itu dengan susah payah. Meskipun paksu janji bakal gantiin duitnya, kenyataannya sampai blio meninggal, tuh duit keknya belum diganti (kayaknya sih).

Dan ketika itu, musim covid lagi tinggi-tingginya, saya mudik bersama anak usia 10 dan 3 tahun. Pesawat delay lama banget di Makassar, anak-anak kebanyakan tingkah, sementara saya tuh takut minta ampun tertular Covid.

Saya berangkat dari Sidoarjo pukul 2 malam udah di bandara. Sampai di rumah mama pukul 6 sore, pas magrib, dan waktu itu juga pas puasa.

Tebak apa yang terjadi.

Saya sudah mengabari mama, kalau kami bakalan pulang sejak kemarinnya. Dan bisa-bisanya mama sama sekali nggak melakukan apapun untuk menyambut kami.

I mean, lupakan dululah saya ya. 

Tapi saya pulang bersama 2 cucunya loh, salah satu cucunya, si Adik, bahkan belum pernah mereka liat.

Kami sampai bertepatan waktu buka puasa, dan mama bahkan nggak masak nasi lebih untuk saya dan anak-anak. Untung saya mampir beli lauk di jalanan, jadi meski oleng jetlag oleh perjalanan jauh sejak pukul 2 pagi, sampainya pukul 6 sore, segera saya ke dapur sambil menahan air mata, cepat-cepat masak nasi lagi.

Tidak ada apapun di rumah mama, bahkan air putih juga habis.

Bayangkan! bayangkan!

Saya udah 4 tahun nggak pernah pulang loh. Saya adalah anak kandung mereka, udah 4 tahun nggak pernah menampakan wajah di hadapan orang tua.

Sungguh tega, bahkan untuk menyambut kedua cucunya saja, mereka ogah.

Maafkan jika saya akhirnya membandingkan dengan ibu mertua saya. 

Sejujurnya, kedua mertua saya bukanlah tipe mertua yang baik banget ke saya. Sering juga saya dicuekin, sering dikecewakan.

Tapi, seumur-umur, saya nggak pernah kecewa dengan pelayanan ibu ke anak-anak saya, ke cucu-cucunya. Bahkan ketika ibu sakitpun, ketika kami datang, sekuat tenaga blio menyeret kakinya ke dapur, untuk menyiapkan makanan apapun, setidaknya buat cucunya.

Padahal, sejarang-jarangnya kami ke rumah ibu dulu, paling lama ya sebulanan nggak ketemu ibu. Lah, mama saya, mama kandung saya, udah 4 tahun nggak ketemu saya.

Sebegitu pentingkah egonya dipertahankan, dibanding menyambut cucu-cucunya?.

Masalah besarnya adalah, beberapa hari kemudian kakak saya dan anak-anaknya datang berkunjung ke rumah mama. Dan tebak apa yang terjadi, sekuat tenaga saya menahan air mata, memperlihatkan senyum merekah, ketika melihat mama sedemikian antusiasnya menyambut 3 cucu dari kakak saya.

Padahal, cucu yang itu selalu ketemu setiap seminggu sekali.

Ya Allaaaah, sesungguhnya saya sudah berjanji untuk melupakan hal ini, tidak mengingat kejadian menyedihkan ini. Mengubur dalam-dalam rasa kecewa yang juga teramat dalam di hati saya.

Terlebih, bukan hanya ketika datang saja saya kecewa enggak disambut, minimal masak nasi kek, itu bulan puasa, dan kami semua pasti capek dan lapar setelah perjalanan panjang.

Ketika pulang pun sama, tidak ada sorang pun yang mengantarkan saya ke bandara. Saya dan anak-anak bersiap sendiri ke bandara. Beruntung masih ada sahabat baik saya, Mila, yang mengantarkan saya ke bandara.

Setelah Mila balik, saya benar-benar nggak bisa lagi menyembunyikan air mata. Sedih itu bukan karena mikirin diri sendiri, tapi sedih melihat anak-anak saya tidak diperlakukan dengan peduli oleh neneknya.

Dan ceritanya nggak cuman sampai di situ dong. Hingga detik ini, baik mama maupun kakak nggak ada yang peduli sama saya. I mean, bukan peduli yang gimana ya. Bahkan nomer saya diblokir dong oleh kakak. Dan mereka sengaja menggantikan nomor HP mama, hanya agar saya nggak tahu dan nggak bisa menghubungi mama via chat.

Jadi, siapa nih yang sering bilang,

"Pulang aja Rey, tinggalkan suamimu kalau dia nggak peduli sama kamu!"

Pertanyaannya adalah, EMANG AKOH BISA PULANG KE MANA?

I AM COMPLETE BENAR-BENAR SENDIRIAN LOH!

Meski sakit hati dan kecewa, pada akhirnya saya belajar menerima semua itu. Belajar menyerahkan semua ke Allah.

Tak masalah, jika memang mereka nggak mau lagi berhubungan dengan saya. Tak masalah, jika mereka memutuskan hubungan silaturahmi dengan saya.

Saya akan tetap merayu Allah, agar melunakan hati mereka. Allah Maha Pembolak balik hati manusia, bukan?.

Yup, saya udah belajar berdamai dan menerima, kalau sekarang saya sendirian. Terlebih, saya mengatakan sendiri, setelah usaha terakhir saya juga membina hubungan baik dengan keluarga suami, dan gagal, malah berakhir bikin trauma.

Karena itulah, saya akhirnya menyerahkan semua ke Allah. Biar Allah yang atur, karena toh saya sudah berusaha maksimal.

Saya sudah berusaha menghubungi kakak, tapi memang nggak pernah nyambung karena nomor saya diblokir. Saya tetap rutin mengirimkan SMS ke nomor lama mama, meski sedikitpun nggak pernah digubris.

Saya juga sudah berbaik-baik maksimal dengan keluarga suami, hingga akhirnya gagal. Setidaknya saya udah berusaha kan.

Begitulah cara saya berdamai dan menerima keadaan. Dan sebagai salah satu efek yang dirasakan keluarga kandung saya, mama dan kakak adalah, saya sudah tidak se-effort itu lagi memikirkan mudik.   

  

Jangan Terus Menanyakan Kapan Mudik! Hati Saya Sedih Mendengar Itu!

Udah tahu kan alasannya, mengapa saya belum bisa mudik. Dan mengapa tidak se-effort dulu ngomongin mudik?.

kapan mudik

Plis, nggak usah menasihati saya lagi, tentang bagaimana seorang anak harus berbakti ke ortu, dalam hal ini mama yang tinggal sendiri di sana.

Kalian tidak pernah tau, dibalik si Rey yang super ceria ini, tersembunyi hatinya yang terluka, dan berusaha setengah mati dibasuh dan dirawat sendiri sampai sembuh.

Yang perlu dunia ketahui, saya tak pernah dendam kepada siapapun. Kepada mama, kepada kakak atau siapapun. Saya memaklumi mereka, bahkan ingin meminta maaf kepada mereka.

Tapi memang saya tidak lagi bisa se-effort dulu untuk mudik. Setidaknya doa bisa mudik, yang dulu pernah ada di urutan ke-tiga setelah doa untuk anak-anak dan minta rezeki berkah kepada Allah. Sekarang turuuunnn sampai di dasar prioritas.

Saya bahkan, tak pernah lagi membahas masalah keluarga kandung ke papinya anak-anak. Semua saya tanggung sendiri, hati kecewa saya, air mata saya.

Tapi tak masalah, ada blog kesayangan ini yang selalu setia mendengarkan semua cerita saya, keluhan, kebahagiaan, maupun kegundahan hati.  

Namun, kalau bisa, bolehkah saya meminta, agar kurang-kurangi deh menasihati saya tentang bagaimana harus bersikap ke ortu. Bagaimana saya harus sering menemani mama karena blio udah tua.

Jangan!

Kalian bahkan, mungkin tak akan mampu bertahan jika ada di posisi saya. Setidaknya kalian mungkin akan dendam.

Tapi saya tidak.

Saya hanya lebih damai menerima dan menikmati apa yang dikasih Allah saat ini. Ada uang dan waktu yang tepat, ya saya mudik.

Kalau nggak ada, ya udah lah ya...

Saya toh udah minta sama Allah, semoga masih dipertemukan dengan mama dan kakak dalam kondisi sehat dan damai. Kalaupun nanti tak sempat ketemu lagi, mungkin itulah jalan yang diberikan-Nya.

Demikianlah. 


Surabaya, 03 Maret 2024

5 komentar :

  1. Wahhhh saya juga akhir-akhir ini ditanyakan oleh keluarga dirumah atau pun saudara yang ada dikampung halaman terkait kapan mudik, lebaran nanti apakah akan pulang atau tidak, dan lain sebagainya.

    Tapi kalau dilihat-lihat memang harga sudah semakin tinggi, apalagi kalau sudah ada keluarga sendiri dan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal lama. Jadi menunggu moment dulu sajalah, kalau memang bisa mudik pasti akan mudik nantinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadinya kayak ada beban ya ditanyain gitu.

      Kalau saya yang nanya malah orang lain.

      Keluarga justru cuek 😅

      Hapus
  2. wah mba rey semangat. Aku kalau diposisi mba rey sih ngga kuat dan dijamin dendam. Tp mba Rey ngga dendam. Hebat lo.

    BalasHapus
  3. Duh saya haru banget baca cerita mudiknya Mbak sama anak-anak waktu covid itu. Sudah mengabarkan tapi sambutan di rumah...ah gak terbayang betapa hatimu Mbak...
    Apapun semoga ke depan hubungan keluarganya beranjak membaik Mbak.

    Salam,

    BalasHapus
  4. Peluk dulu Rey 🤗😞. Sedih aku bacanya... Ga kebayang sih kalo sampe cucu juga ga dipeduliin nenek sendiri.

    Itulah kenapa aku ga mau ikut campur atau bertanya2 ttg privacy question ke teman2. Teman deket aja ga mau, apalagi yg aku ga terlalu kenal. Kuatirnya ya begini, ada background atau history yg aku ga tau.

    Bukannya berkesan care krn mau kasih nasehat, tapi jadi kepo dan nyinyir buat yg ditanyain kan.

    Semoga yaaa hati mama melembut nanti 🤗🤗

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)