Curhat Nggak Penting, Mati Rasa, Hingga Jatuh Cinta Pada Bule

curhat kepincut bule

Ooooohhh emmmmjiiii.. Si Rey ada-ada saja, tengah malam malah nulis hal beginian, bukannya sibuk perbaiki banyak PR di blog beauty yang baru dibalikin ke blogspot.

Tapi, sebenarnya tulisan ini, hanya sebagai alasan, eh apa ya sebutan yang tepat? teman bicara kali ya. Karena merasa lagi butuh banget teman ngobrol yang asyik.

Warning, ini curhatan gaje, nggak usah dibaca!


Iya, bukannya nggak punya teman ngobrol dalam dunia yang sebenarnya ya. Ada sih, sebut saja si mamak 3F, Diahalsa. Tapi, saya udah setuwah ini, tentu saja mengerti dengan kondisi masing-masing, di mana semua pasti udah sibuk dengan urusan dan masalahnya sendiri.

Karena, in the end, sebagaimanapun kita curhat ke orang lain, ya ujungnya memang kita sendiri juga yang harus 'berani' bangkit dan menghadapi masalah sendiri.

Nah, blog adalah satu-satunya teman saat ini, yang selalu siap 24 jam mendengarkan semua keluh kesah, cerita keseharian dan banyak lagi.

Saya juga bebas 'memuntahkan' semua yang ada di kepala, tanpa perlu sungkan kalau kita jadi terbebani. Ah how lucky i am bisa mengenal blogging.


Jadi, malam ini tuh saya habis menuliskan tentang masalah suami yang tidak mampu menafkahi anak istrinya dengan uang yang cukup.

Dan karena itulah, saya jadi teringat akan kisah lama yang menyakitkan. Tentang perjalanan diri dalam menikah dengan papinya anak-anak.

Eh sebenarnya sih saya sudah merasa terlatih banget menjalani hidup yang menyakitkan ini, karena saya yakin semua akan ada ujungnya.

Tapi, pas lagi menulis, saya iseng buka YouTube untuk intip sesuatu tentang acara sekolah TK si Adik. Dan ayo tebak apa yang muncul di beranda YouTube saya?.

Yup, video tentang si Pita, dalam chanel 'Pita's Life', khususnya tentang ketika dia menjemput suaminya di bandara Manado.

Btw, saya sering menonton video si Pita sih, karena kagum dengan cerita hidupnya. Dan jujur, 'jatuh cinta' dalam harfiah yang bukan mencintai suami orang loh ya.

Tapi jatuh cinta dengan sosok lelaki kayak Travis.

Mengapa?

Karena saya jadi teringat akan suami sendiri.


Tentang sikap blio yang berkali-kali menyakiti hati saya.

Dari sikap yang bisa-bisanya dia ngomong 'udah malas hidup sama kamu, Rey'. Dulu saya tuh sakit hati dan merana banget setiap kali teringat momen itu.

Sekarang, saya merinding sendiri mengingatnya, hahaha.

Setelah sikap-sikap lainnya yang dia lakukan untuk berkali-kali mematahkan hati ini.

Yang paling sulit diterima adalah, sikapnya yang diam ketika ada masalah.

Eits, tapi dulu tuh saya pikir, hal menyakitkan adalah ketika ada masalah, tapi dia malah kabur entah ke mana?.

Masih kurang ternyata.

Sikap suka kaburnya itu, yang (mohon maaf yak ibu mertua, tapi saya sungguh benar-benar tak mengerti, bagaimana cara mendidik anakmu, sampai jadi) sepengecut itu, sudah mendarah daging.

Karena, sering banget loh dia menghilang, baik ada masalah, maupun nggak ada masalah.

Saya ingat banget di awal tahun 2023 lalu, ketika pertama kalinya dia datang mencium kaki saya (IYAAAAA, DIA MENCIUM KAKI SAYA!).

Dia meminta maaf atas semua luka yang udah dia torehkan beberapa tahun belakangan ini dengan terang-terangan.

Iya, lukanya sangat dalam, entah disadari atau enggak oleh si paksu.

Karena sesungguhnya dia adalah sosok yang menjadi 5/6 diri ini sebenarnya, setidaknya dahulu ya.

Bayangkan, jika orang lain mengatakan bahwa pasangannya adalah separuh jiwanya, saya dong 5/6 jiwa saya keknya.

Si paksu itu, adalah pacar, sahabat, orang tua, kakak, adik dan segalanya buat saya.

Bukan karena saya hanya bucin, tapi memang jalan panjang hubungan kami, sejak kenal dan menjalani masa 8 tahun pacaran, adalah hal yang benar-benar luar biasa.

Bukan indah ya, tapi indah karena kami bagaikan pasangan yang luar biasa dalam menghadapi semua tantangan hidup.

Sampai akhirnya kami bisa menikah, dengan perjuangan yang amat sangat luar biasa, menjalani kehidupan setelah menikah dengan luar biasa.

Sampai akhirnya 5 tahun pertama berlalu, ketika itulah sikapnya berubah dan pertama kalinya menyakiti hati saya dengan benar-benar mendalam, dan keterusan.


13 tahun diratukan lelaki yang luar biasa, yang mampu menjadikan saya sebagai sosok perempuan yang merasa beruntung, berasa kek menemukan sosok kayak si Travis Henderson, suami si Pita.

Lalu akhirnya dia berubah, mulai dari berani menyakiti hati saya dengan perkataan nggak mau hidup dengan saya lagi.

Dilanjutkan dengan sikap 'selalu kabur dan diam'nya ketika ada masalah, dan bertambah lagi bahkan ketika nggak ada masalah, pokoknya sesuka hatinya.

Kau tahu gimana rasanya?

Mungkin ini bisa menggambarkan perasaan dan hidup saya sekarang.

Saya, seolah bertahun-tahun diratukan, lalu kemudian dibuang begitu saja di lautan lepas.

Btw, saya nggak bisa berenang, saya takut banget sama air yang dalam. Dan kebayang nggak, dalam ketakutan itu, saya malah dibuang begitu saja ke situ.

Rasanya, luar biasa sakit, megap-megap, mau nyerah membiarkan diri tenggelam, tapi ternyata itu nggak mudah. Mati, ternyata tidak semudah itu, Temans, hahaha.

Saya udah pernah berkali-kali minum obat dosis tinggi, yang ada saya cuman mabok dan ngantuk, serta badan rasanya nyeri.

Susah amat yak, hahahaha.


Lalu, suatu malam di bulan Januari 2023 lalu, ketika itu dia sedang nganggur, saya stres minta ampun karena nggak ada pemasukan, pas banget ketika dia nganggur, saya selalu juga ikutan sepi pemasukannya, huhuhu.

Dan si paksu itu? dia keluar rumah, dan nggak ada kabar sampai berhari-hari.

Luar biasa bukan?

Tapi ketika itu, saya cuek, udah terlalu malas menyikapi sikap pengecutnya. Jadi, terserah dia mau ke mana kek, sampai berapa lama kek. Nggak mau kasih tahu kek, izin kek, whatever.

Palingan kalau butuh uang, si Kakak yang saya suruh hubungi bapakeh.

Setelah pergi berhari-hari, tiba-tiba tengah malam terdengar suara motornya datang, membuka pagar, lalu masuk.

Dia buru-buru mandi, lalu shalat.

Saya hanya sekilas melihat dari ujung mata, karena sedang sibuk menulis di blog juga.

Dan ternyata, setelah shalat dia datang, duduk di lantai di bawah kursi saya, memegang kaki saya, mencium kaki saya, sambil meminta maaf.

Ampuunn dah hati akoh

Dasar lemah hati, seketika saya nangis, nggak bisa berkata-kata, dan hanya bilang,

"Aku nggak mau lagi ngatur kamu, terserah kamu mau ngapain, kalau kamu mau berubah kembali kayak dulu, silahkan, aku nerima!"

Kira-kira begitu deh perkataan saya.

Dasar lemah emang si Rey, bagaimana bisa langsung diterima begitu saja, setelah luka yang ada di hati ini berkerak dan meninggalkan lubang yang lebih dalam dari scar di wajah?.

Dan nggak lama kemudian saya tahu apa alasannya sampai minta maaf, ternyata ibunya sakit keras, sampai nggak sadar, sampai nggak bisa makan.

FYI, si paksu ini memang sayang banget sama ibunya, meski cuman omongan aja sih, tindakan enol, karena toh sampai ibunya meninggal, nggak ada tindakan membahagiakan ibunya yang nyata.

Dan karena alasan itu juga kali saya luluh.

You know lah, saya tuh sosok manusia kekurangan cinta dari keluarga sendiri, jadinya super rakus dengan cinta bahkan setetes pun dipungut dan disimpan.

Ibu mertua bukanlah sosok luar biasa yang mencintai saya, tapi sikap beliau yang meskipun mungkin cuman baik di depan saya, tidak bisa saya lupakan dan abaikan.

Jadi begitulah, meski saat itu, saya bahkan berselisih dengan semua keluarganya. Bahkan sama ibunya, kakaknya, apalagi bapaknya.

Besoknya, saya langsung ngajak ke rumah ibunya, buat jenguk ibunya.

Sampai di sana, sayapun kebagian tugas merawat ibu yang sakit, ya gantiin popok, bersihin badannya.

Saya pikir, situasi itu merupakan titik balik dari kehidupan rumah tangga kami.

Sudahlah, lupakan semua luka yang ada, saya bakal operasi hati secara mandiri, agar scar-nya akibat luka menjadi hilang.

Meskipun keadaan kami saat itu memang luar biasa amburadul ya. Si paksu nggak ada pemasukan, bahkan nggak punya tabungan, saya nggak tahu, uang bonus akhir proyek yang biasa diterima para pekerja proyek, ke mana?.

Tapi, saya nggak gentar, tetap tenang menjalani kehidupan, meskipun super lelah karena harus bolak balik ke rumah mertua, mengurus ibu yang sakit.

Namun ternyata, harapan yang baru mulai menyala di hati, harapan akan masa depan yang lebih indah, karena paksu bakalan balik ke mode awal kami kenal. Hanyalah sebuah harapan palsu buat saya.

Hanya berselang beberapa hari, lagi-lagi dia menghilang tanpa kabar.

Yang bikin sakit hati tak terkira adalah, ketika itu di pagi harinya, saya ngajak paksu ke rumah kakak ipar, buat bawain obat karena dia ngeluh sakit kepala.

Setelah membawakan obat, saya drop si paksu di jalanan buat naik gojek aja untuk menuju sebuah tempat di mana dia bakal wawancara kerja katanya.

Kami berpisah di situ, saya sempat mencium tangannya, dan si paksu berpesan bolak balik, untuk hati-hati, dan berjanji akan mengabari kalau udah sampai.

Dan you know apa yang terjadi?   

Dia menghilang setelah itu.


Dia tak pernah ngabarin setelah sampai di tujuan, sampai sore saya tungguin, hingga berganti malam. Dan tengah malam saya nggak sabar, kemudian saya WA deh, nanya dia di mana? masih hidup kah?.

Nggak dijawab dong, dibaca aja enggak!

Saya telpon bolak balik, eh ujungnya nomornya mati.

Sampai besok, belum ada kabarnya, sampai malam lagi, akhirnya saya putuskan menghubungi kakaknya. Dan tebak apa jawaban kakaknya.

Katanya dia ada di rumah ibunya kok, kemaren abis jaga ibunya.

YA ALLAAAAHHHHHHH!!!!!

SAKIT HATI BANGET SAYA!

APA MAKSUDNYA DIA NGGAK KASIH KABAR, NGGAK JAWAB SEMUA CHAT SAYA MAUPUN ANAKNYA?

Toh kami nggak ada masalah lagi, saya pun tak pernah melarang atau mempermasalahkan dia jagain ibunya yang sakit?.

Dia akhirnya pulang setelah 3 malam tanpa kabar di rumah ortunya.

Dan sampai di rumah, juga nggak ada omongan apa-apa, kayak nggak terjadi apa-apa.


Nggak perlu saya jembrengin lagi bagaimana sakit hatinya saya.

Lebih sakit hati lagi, ketika akhirnya ibunya meninggal dan saya yang paling heboh ke rumahnya, bahkan akhirnya mau aja tinggal menemani bapaknya berakhir pelecehan yang saya terima.

Bahkan setelah saya dengan penuh ketakutan dan air mata menceritakan pengalaman dilecehkan itu kepadanya. Nyatanya nggak ada sikap apapun yang dia lakukan.

Sampai akhirnya saya nggak kuat lagi, dan pergi dari rumah bapaknya itu. Dia diam saja loh.

Saya kebingungan minta ampun, mencari tempat tinggal di Surabaya. Nggak punya tabungan, sementara kontrakan sangat gila-gilaan di Surabaya.

Mau cari di pinggiran juga tidak memungkinkan, karena anak-anak udah mulai bersekolah di Surabaya.

Entah sikap pengecut dari mana yang dia warisi dalam darahnya, sampai bisa-bisanya diam saja tidak peduli saya dan anak-anak tinggal di mana?.

Dia lalu pulang 2 bulan kemudian, dan santai aja datang ke kontrakan yang akhirnya bisa saya bayar berkat pinjaman dari seorang teman di Hongkong. Seolah nggak terjadi apa-apa.


Lalu, akhirnya saya memaafkan dia (lagi), demi anak-anak bisa merasakan punya mami papi yang akur. Terlebih si Adik ya, sejak dia lahir rasanya dia tak pernah seberuntung kakaknya melihat maminya diratukan papinya.

Lalu akhirnya dia kembali lagi di tempat kerjaannya, lalu hilang kontak lagi.


Ya, sama seperti saat ini saya menuliskan cerita ini, setelah saya lelah menulis chat hampir seribu kata kali ke dia. Tapi nggak dibaca sama sekali.


Dan lucunya, sebelumnya kami nggak ada masalah loh, sempat ngobrol dikit pulak, hahaha.

Sungguh lucu sih ya.


Sejujurnya, saya udah terbiasa dengan masalah kebiasaan suka ngilangnya itu, tauk deh dia ngilang karena pengecut, atau karena ibunya gagal mendidik dia jadi manusia, atau bapaknya yang jadi contoh bobrok (maapkeun, saya kesal!).

Dan karena itulah saya sengaja menyimpan nomornya di chat arsip, sehingga saya tak perlu sakit hati ketika liat nggak ada jawabannya berhari-hari.

Saya juga udah terbiasa menghadapi semuanya sendirian, masalah apapun di sini, saya tanggung. Sedih ya nangis sendiri. Anak sakit ya nangis sendirian.

Anak bermasalah dengan temannya ya ngamuk dan nangis sendirian.

Semua saya pikul sendiri, demi menjaga kewarasan mental sendiri.

Tapi, saya sungguh tetap sakit hati ketika butuh banget masalah uang, tapi nggak dijawab WA saya.

Uang itu, untuk biaya hidup anak-anaknya loh, bukan buat kebutuhan saya.


Dan intinya, jika pembaca mengatakan, 

"Bangun, Rey! sadarlah dari mimpi panjang dan harapanmu, dia sudah tidak mencintai kamu lagi!" 

Sejujurnya, saya sudah tidak peduli dengan hal itu, meskipun saya begitu fakir cinta, hahaha.

Tapi, you know lah, hati manusia bisa berubah, apalagi ketika berkali-kali disakiti dengan cara yang sama.

Seharusnya sih saya move on, but sejujurnya i am move on!

Dengan bahagia hidup bersama anak-anak, tidak perlu ngobrol sering dengan dia, udah nggak jadi masalah loh.

Bahkan, ketika orang lain khawatir, pasangannya setia nggak di sana, atau jangan-jangan udah menikah lagi?.

Jujur, saya sedemikian tenangnya akan hal itu, ya apalagi kalau bukan karena hati yang sudah mati suri, hahaha.

Tapi tetap ada sebenarnya di sudut lain, berharap dia menyadari kalau anak-anak kami itu berhak dapat hidup lebih baik dari dia. Dan kemudian kami bisa memperjuangkan hubungan lebih baik.

Namun, itu hanyalah sebuah harapan, tak lagi menjadi sebuah obsesi.

Saya bahkan tidak pernah lagi sibuk berharap akan cinta, that's why saya bilang, betapa saya nggak pernah merasa kesepian, meski jauh dari papinya anak-anak.

Saya justru merasa nggak tenang, bahkan ketika mendengar kabarnya akan pulang. Bagi saya yang udah bertahun-tahun terbiasa sendiri, mengharapkan dia pulang bukan lagi sebuah hal yang membahagiakan.

Saya bahkan tak lagi percaya sama lelaki manapun, even yang branding sebagai lelaki paling baik. 


Tapi, seringnya saya memasang harapan agar bisa berjodoh dengan lelaki bule yang baik dan cocok buat saya demi sebuah kemustahilan.

Iya kan, takutnya saya bilang nggak mau suka lelaki lagi, lah besoknya berjodoh dengan suami orang. Makanya, saya bikin satu perkataan yang mana kata orang jadi doa, tapi mustahil rasanya, hahaha.

Iya, saya mendambakan lelaki asing, dari Amerika atau Eropa, yang karakternya seperti suami Pita.


Ada yang pernah atau sering melihat YouTube Pita's Life?

Jujur, saya takjub banget sama si Pita, dia menjalani kehidupan yang tidak mudah sejak kecil. Kalau liat dari banyak ceritanya di YouTube, saya bisa bilang kalau masa kecil kami mirip, adalah anak yang kurang kasih sayang dalam pengabaian ortu.

Bukan karena ortu jahat ya, tapi karena ortu nggak mampu mencintai anaknya seperti yang anak butuhkan.

Beruntungnya Pita, dia menemukan lelaki bule yang sempurna di mata saya. Meski saya menyadari sih, dia nggak sesempurna itu.

Tapi biarkanlah saya menyebutnya sempurna.


Si Travis Henderson, merupakan pria berkebangsaan Amerika yang menjadi seorang tentara Angkatan Udara Amerika Serikat.

Selain fisiknya yang tinggi dan masuk kategori tampan, kecerdasan dan sikap mandiri-nyalah yang bikin saya 'merasa iri' dengan si Pita.

Iyaaaa, saya tahu...

Bahwa hidup Pita sekarang, tidak melulu bagaikan dongeng Cinderella yang happy ending forever. Justru, kehidupannya sangat berat.

Btw, sekarang tuh Pita hidup di Inggris, karena suaminya ditugaskan di sana.

Mereka punya 4 orang anak, dan beberapa ekor anjing. 

Hidup di luar negeri itu, nggak melulu semudah kayak di Indonesia. Nggak ada ART yang bisa bantuin dia, sementara suaminya, si Travis, sering bepergian meninggalkan Pita sendirian tanpa siapapun selama berbulan-bulan.

Hidup Pita sungguh berat, mengurus 4 anak kecil sendirian, mengurus banyak anjing yang mereka punyai. Bahkan, dibanding dengan hidup saya, keknya si Pita jauh lebih sibuk dan berat.

Tapi mengapa saya 'merasa iri' dengannya?


Karena hingga saat ini, 12 tahun menikah, Pita mungkin sangat kelelahan dengan pekerjaan sebagai ibu dan istri di rumah. Tapi batinnya selalu kenyang dengan cinta suaminya yang besar.

Travis adalah sosok suami dambaan banyak orang, termasuk saya.


Yang cerdas.

Saya pernah melihat salah satu video si Pita yang menceritakan bagaimana karir suaminya bisa cepat naik karena kecerdasannya.


Yang selalu bilang I Love You dan I Miss You.

Hampir di setiap momen mereka, kalimat love you selalu jadi sesuatu yang wajib. I know, ini mungkin karena kebiasaan para bule, tapi jujur karena itulah saya jadi pengen punya suami bule kayak si Travis, wakakakakak.


Yang selalu mencium dan memeluk istrinya tanpa nafsu

Saya nggak tahu wanita lain ya, tapi jujur saya nggak suka sama lelaki yang memeluk istrinya cuman ketika nafsu saja.

Saya ingin dipeluk, dicium, digandeng tangannya oleh suami setiap saat, untuk menunjukan how he loves me, bukan saat nafsu doang.


Ketika sedang di rumah, Travis selalu ikut andil dalam pekerjaan rumah secara benar

Sering banget liat Pita yang bercerita bahwa suaminya baru belanja ini itu, buat persiapan musim dingin atau semacamnya.

Ini jarang ya, bahkan lelaki bule kebanyakan juga jarang yang bisa memikirkan kebutuhan rumah dalam jangka panjang. 

Mungkin karena si Travis ini cerdas kali ya.


Dan masih banyak hal-hal yang bikin istri lain iri.


I mean, gini loh.

Saya dan si Pita itu miripnya adalah sama-sama meninggalkan keluarga, dan tidak menjadikan keluarga sebagai tambahan beban masalah rumah tangga.

Pita, ke Amerika, meninggalkan keluarga kandungnya. Bahkan ketika ayahnya meninggal, dia tidak bisa pulang melihatnya.


Sayapun demikian, meski beruntung ketika bapak meninggal, saya ada di sampingnya, meski terlalu di samping beliau juga, sampai bikin trauma.

Tapi, keputusan jauh dari keluarga kandung itu sebenarnya berat banget loh.

Apalagi, ketika suami nggak mau bisa adil yaitu sama-sama jauh dari keluarganya juga.


Alasannya?

Saya menjauhi keluarga, sebagai bentuk perlindungan saya kepada suami, agar dia nggak sakit hati dengan sedikitpun tindakan dan omongan keluarga saya.

Nggak bisa dibayangkan kalau dia hidup dengan keluarga kami, dengan tampang dan keuangannya yang bobrok, dijamin dia dihina mulu sama keluarga kami, hehehe.

You know lah, keluarga kami kebanyakan PNS, apalagi kakak saya PNS, suaminya tentara.


Tapi, dia sama sekali nggak pernah menganggap serius perasaan saya. Bahkan sejak dulu saya mengatakan, nggak suka ke rumahnya, karena saya tertekan menjaga diri, perkataan dan sikap, demi menyenangkan dan sesuai keinginan mereka. 

Dia juga nggak peduli bagaimana perasaan minder saya ketika kumpul dengan saudara-saudaranya. Dalam ber-7, keknya dia yang paling bokek.

Hanya saya yang nggak punya perhiasan emas sama sekali. Apalagi lebaran ya, bahkan kakak ipar saya memakai semua perhiasannya sampai tangannya penuh, saya, bahkan cincin nikahpun nggak ada. Dulu ada sih, tapi saya relakan dijual, demi bayarin hutangnya, hahaha.

Saya juga minder, melihat baju para ipar, minder karena hampir semua punya mobil. Dan minder ini sebenarnya bukan mikirin perasaan diri, tapi kasian aja liat dia paling bokek di antara lainnya.

Tapi ternyata dia cuek tuh, membiarkan saya dengan rasa minder itu.


Itulah mengapa, saya selalu berpikir dapat suami bule aja. Yang baik kayak si Travis.

Lalu saya mengikuti dia ke luar negeri, tapi kami hidup mandiri, nggak dekat keluarganya. 

Menjalani hidup kayak Pita dan Travis, susah senang ribet bahagianya ditanggung bersama.

Ketika lelah mengurus anak dan rumah, saya bisa berhenti sejenak, bersantai di kamar, menelpon suami, dan menangis puas melampiaskan perasaan lelah itu.

Lalu, suami bule saya akan mendengarkan dengan baik, kemudian berkata,

"Oh honey, aku minta maaf karena tidak berada di sana, aku minta maaf karena membuatmu lelah sendirian hingga sedih. Aku akan berusaha pulang segera, untuk menghapus air matamu.

I love you honey!"

Oke, i know ini lebay, tapi membayangkan di kondisi pusing dengan nggak ada uang, capek dan super lelah mengurus anak, tapi di malam hari gini, bisa meluangkan waktu buat curhat ke suami.

Masya Allaaaaahhh, surga seperti apalagi yang saya butuhkan di dunia ini?.


Iya, saya lebay, saya terlalu terobsesi dengan cinta, tapi bukankah hidup memang tak bisa kita kendalikan harus banyak uang terus?.

Karenanya, menggantungkan kebahagiaan kepada uang itu melelahkan. Hanya cinta yang bisa menghapus lelah dan sedih, dengan instan.

Allah, bolehkah saya bermimpi menemukan jodoh lelaki bule muslim sebaik dan setampan Travis Henderson?

Bolehkah saya merevisi doa yang dulu saya paksakan, agar dijodohkan dengan si Ade K, sekarang ganti dijodohkan dengan bule muslim, baik, cerdas dan tampan kayak Travis?

Boleh dong Allah, karena sungguh, saya lelah. Jadinya aneh-aneh permintaannya, hehehe.


Surabaya, 09 Maret 2024

1 komentar :

  1. Peluk dulu rey πŸ€—πŸ€—πŸ€—. Ga ada yg ga mungkin baginAllah. Apalagi jodoh itu urusan Allah semata. Jadi boleh2 aja kalo kita mau berharap apapun. Aku cuma doain kamu dapat yg terbaik. Segala sedih, susah, semoga bisa terbayar dengan ending yang bagus ya rey.

    Salut sih, karena kamu bener2 kuat jalanin semua itu. Ga semua orang akan bisa😞..

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)