Tuesday, September 01, 2020

Mempersiapkan Mental Di Dunia Maya

Mempersiapkan Mental Di Dunia Maya

Sharing By Rey - Mempersiapkan mental yang kuat di dunia maya itu penting banget loh.
Karena efeknya tuh jauh lebih merasuk ke jiwa, ketimbang dunia nyata.

Ya mungkin karena saya jarang bersosialisasi kali ya, bisa dibilang ansos, hahaha.

Tapi sesungguhnya ansos itu ada plus minusnya kok, sama aja dengan prosos (astagaaaa, istilah apaan itu, hahaha).

Kalau di dunia nyata, palingan omongan bikin kesal hati kita bisa dengarin kalau kita dengarin si tukang gosip.

Tapi kalau di dunia maya?
Even kita diam aja, orang-orang bakal datang masuk ke 'rumah' kita, lalu dengan kurang bijaknya berkomentar tentang hidup kita.

Mungkin karena itulah, salah satu alasan, kebanyakan orang takut menuliskan dengan jujur apa yang ada di benaknya, daripada kena bully-an?

Padahal, rasanya di-bully itu? nggak enak banget!
Setidaknya saya udah 3 kali deh kalau nggak salah, pernah merasakan yang namanya bully-an di medsos.

Bahkan yang pertama tuh terjadi, pas saya sedang hamil si adik.
Waktu itu ada viral kasus seorang gadis remaja yang curhat di facebook, karena dia kesal, tempat duduknya diambil sama seorang ibu hamil.

Duh karuan aja, netizen yang sucinya melebihi malaikat itu, mem-bully-nya, dari yang kasar, sampai yang sangat kasar, hahaha.

Saya, meskipun sedang hamil, merasa sebenarnya si gadis remaja itu nggak sepenuhnya salah.
Karena menurut saya, dia kesal itu, bukan karena ibu hamilnya, tapi karena sikap ibu hamil yang kadang terlihat arogan dalam 'mentang-mentang hamil'nya.

I mean, mbokya meski hamil, belajarlah untuk sungkan merepotkan orang lain, dengan cara meminta maaf dan berterimakasih karena sudah diberi kursi prioritas, meski mungkin itu kursi buat bumil loh ya, apa salahnya sih say thank you and sorry?.

Mempersiapkan Mental Di Dunia Maya

Apalagi kalau disertai senyum tulus, itu langsung ngademin banget siapapun yang liat loh, dan bikin anak remaja yang belom pernah hamil juga belajar menghormati ibu hamil, bukan belajar merekam bahwa jadi bumil boleh seeenaknya.

Tapi ya gitu, mamak-mamak seolah menemukan orang lain buat di-bully, langsung deh mereka membully, saya, memaki, mendoakan yang buruk-buruk buat saya.
Terus saya gimana? bunuh diri ya?

YE KAGAKLAH?
Saya baca aja, saya balas kalau sempat, dan membiarkan nggak saya hapus sampai detik ini, hahahaha.

Biarin aja, besok-besok anaknya udah gede, terus facebook masih ada, terus anaknya stalking akunnya maknya, trus malu karena mamaknya nulis kasar banget!

Bukan hanya mamak-mamak, bahkan saya pernah loh dibully para bapak-bapak driver taksi online .
Ya saya biarin aja, sama sekali nggak saya hapus, masih ada tuh di facebook saya sampai sekarang, hahaha.


Bekerja Di Dunia Maya? Siapin Mental Itu Mutlak!


Kemaren sempat lewat juga di beranda, masalah bully-ing yang KATANYA berakhir dengan suicide.
Udah deh orang-orang pada sibuk share postingannya, sambil memaki para netizen yang maha benar.

Seperti biasa, saya baca dengan seksama postingan itu, lalu saya merasa aneh.
Katanya bunuh diri, tapi nggak dijelasin, bunuh dirinya kek gimana?
Gantung diri kek?
Minum racun kek?
Berdarah-darah kek?

Mempersiapkan Mental Di Dunia Maya

Katanya, pacarnya datang ke rumahnya, dan melihat si JJ udah suicide, lalu menangis sejadi-jadinya.
Agak aneh bacanya, lalu baca masalahnya adalah PLAGIARISME!
Ya makin kurang semangat lah, saya bacanya.

Meskipun saya tetap share, dengan menuliskan agar stop bully-ing, namun juga persiapkan mental sebelum menulis di dunia maya.
Dan keesokan harinya, benar banget.
Netizen kena prank lagi sodarah!
Persis kek kasus #JusticeForAudrey dulu.

Yang bikin saya pengen ngakak, kenapa sih kebanyakan orang mudah terpengaruh dengan berita-berita seperti itu? 
Eh tapi bagus juga sih sebenarnya, kan biar kita-kita para buzzer atau influencer ini berhasil campaign-nya *plak! hahaha.

Saya jadi teringat juga, beberapa hari lalu, saya mengirimkan tulisan tentang kartu kredit di komunitas belajar menulis, gara-gara saya terpancing dengan sebuah tulisan berjudul Riba-Riba Club, enaknya punya kartu kredit.

Saya risih liat kolom komentar jadi arena bertarung kaum pro kartu kredit dengan kaum kontra kartu kredit dengan atas nama agama.

Lalu saya menuliskan kisah pengalaman saya tentang CC, murni berbagi, sama sekali nggak menyinggung orang lain, sama sekali nggak membawa pesan bahwa CC itu riba dan harus dihindari, tidak!

Saya rasa masalah riba itu nyata, tapi memang masih sulit diterima banyak orang, jadi yang bisa saya lakukan adalah membagikan kisah saya aja, biar orang yang mutusin, mau ikutan kek saya? atau mencegah? atau apalah nantinya.

Saya publish dengan deg-degan, besoknya semua komentar baik semua, selain mengkritik beberapa typo yang sebenarnya kadang saya sengaja, saking kebawa gaya menulis di blog ini, seperti off course jadi offkors. Juga which is, jadi wic is atau wich is

Tapi menjelang 24 jam masuklah sebuah komen yang mendikte, katanya saya jualan kartu kredit.
Saya menghasut orang agar berbondong-bondong pakai kartu kredit, saya menyebarkan riba.
Saya lalu garuk-garuk kepala, sambil memperhatikan, kali aja ketombenya berguguran *eh, hahaha.

Enggak, i mean, saya akhirnya tersadar, bahwa yang namanya medsos itu, mau kita jalan di tengah-tengah sekalipun, cari amannya pun, TETAP AJA ADA YANG MENGANGGAP KITA SALAH!
Dan untuk itu, ya menyiapkan mental itu amat sangat penting.
  
Kebayang nggak sih?
Saya yang udah menuliskan sebaik mungkin, senetral mungkin, nyata sesuatu yang saya alami dan rasakan sendiri.
Ternyata masih juga salah, hahaha.

Apalagi, ada yang berani melakukan kesalahan, dengan plagiarisme?
Sungguh benar-benar cari mati itu mah!
Udah gitu, mental kek kerupuk pula, lalu akhirnya playing victim.

Mempersiapkan Mental Di Dunia Maya

Duh maaf saya nyinyir di postingan ini, karena kadang gemes aja gitu ya, sama orang-orang yang nggak tahu batas dirinya, lalu menyalahkan orang lain.

Mental yang kuat!

Itu mutlak dalam dunia maya.
Bukan hanya menyerukan say no to bully-ing, tapi menyiapka mental kita dan orang-orang terkasih kita juga penting.

Karena saya rasa, bully-ing dalam dunia maya itu tak akan pernah benar-benar hilang.
Kalau nggak percaya?
Coba deh jalan-jalan ke twitter, atau ke grup komunitas belajar menulis di facebook, di sana cerminan nyata, bahwa bully-ing itu nggak akan pernah bisa hilang, hahaha.


Tips Mempersiapkan Mental Di Dunia Maya A La Rey


Mau jualan online kek, apalagi jadi blogger ataupun penulis di dunia maya.
Mental itu wajib dipertebal.

Biar nggak ngeprank suicide demi menghentikan bully-an *eh. :D

Sebagai bloggerpun, kita harus bersiap dengan mental, ketika memperoleh komentar yang tidak sesuai dengan keinginan kita.
Terlebih kalau yang nulisnya rada-rada berani kek saya, hahaha.

Padahal ya, saya mah berani, tapi ngomongin diri sendiri, gitu aja masih ada juga satu dua komentar yang kurang mengenakan, yang biasanya pakai anonim, hehehe.

Tapi percaya atau enggak, justru saya menjadikan hal itu sebagai salah satu cara saya mempertebal mental, hadapi aja terus komentar yang tidak sesuai dengan ekspektasi saya.
(Nggak semua buruk sih, kadang komentar yang masuk baik, tapi kontra dengan pikiran saya).

Sama dengan sesekali saya melatih mental di grup KBM, biar salah satu huruf aja dikritik.
Meski kritikan itu benar, tapi percaya deh, hati kita kadang jleb aja gitu ya kalau membaca kritikan.
Tapi kalau kita hadapi terus, ya lama-lama jlebnya jadi beasah ajah, hahaha.

Mungkin karena saya udah mempersiapkan mental di dunia maya, dengan cara: 


1. Kenali Batas Mental


Itulah mengapa, kita wajib banget mengenali batas kekuatan mental kita sebelum beraksi di dunia maya, seperti di media sosial.
Jangan tertipu oleh semua tulisan kita yang terlihat sepi like komen.

Mempersiapkan Mental Di Dunia Maya

Bukan berarti, postingan kita sepi like, komen atau reaction itu, berarti nggak ada yang baca sama sekali.
Tetap ada kok, hanya saja sebagian orang malas membaca hal-hal yang standar, kebanyakan hanya suka mempelototin hal-hal yang luar biasa anehnya, hahaha.

Karenanya, hati-hati menulis, pikirkan feed back yang akan terjadi ke kita.
Even niat kita memang biar terkenal ya, beware!
Jangan sampai pengen terkenal tapi setelah terkenal malah bunuh diri saking nggak kuat dibully, hahaha.

Kayak kejadian banyak publik figur zaman now itu.
Di mana rotasi kejadiannya..
Bikin rame - shock dengan komentar pedas - minta maaf - netizen lupa -  andddd...repeat, hahaha.

Begituuu saja, sampai daun singkong berbuah duren, hahaha.
So, kenali batas mental kita sebelum menorehkan sesuatu di dunia maya, entah itu tulisan di blog, atau medsos, maupun mungkin konten video.


2. Latih perlahan mental dengan ikutan nimbrung secara netral


Siapa nih blogger yang masih bertahan di grup KBM?
Grup tersebut memang fenomenal banget, udah banyak banget menelurkan ragam viral di medsos.

Dari yang kasus layangan putus, itu 'hebat' banget, ceritain kisah diri di grup yang isinya kebanyakan kek bensin menyambar itu.
Saya juga pernah dan kadang seperti itu sih, yang berteman dengan saya di facebook, pasti sering membaca saya curhat galau di facebook.

Kebayang nggak sih, kalau kisah saya itu saya masukin ke grup KBM?
Kayaknya si paksu auto kabur ke gua di tengah hutan, gakuat dibully, hahahaha. 

Meksipun grup tersebut kek berenang di bensin, isinya kebanyakan mamak-mamak beberapa kubu saling serang.
Udah jarang banget memperhatikan kaidah menulis seperti tujuan utama grup tersebut.
Tapi jujur saya belajar banyak hal di sana, baik hal menulis, terlebih adalah untuk melatih mental.

Mempersiapkan Mental Di Dunia Maya

Meskipun demikian, saya nimbrung perlahan, nggak langsung kurang kerjaan kek mamak-mamak di sana, yang sukanya nulis kontroversial, abis itu dihapus, saking nggak kuat dibully (sungguh orang yang aneh, dia yang ngundang dibully, dia juga yang menangis dibully, hahaha)

Bukan hanya nimbrung sebenarnya, melototin komen-komen di postingan yang ada di grup tersebut, lalu menahan diri untuk nggak ikutan komen yang aneh-aneh juga udah masuk kategori melatih mental.


3. Belajar cuek


Yang terakhir adalah, belajar cuek.
Menganggap komen yang kontra itu adalah biasa aja, atau sekalian nggak usah dibaca, nggak perlu dihapus juga sih, biar ngasih pelajaran buat yang nulis (kalau saya sih).

Karena tulisan buruk itu, jika kita baca setahun atau 2 tahun mendatang, percayalah, kita bakalan malu banget karena pernah menulis hal itu.

Masih untung mah saya biarin aja, kalau di medsos masih bisa dia hapus sendiri.
kalau saya capture, terus upload di blog?
Yang ada tulisan kasarnya abadi selamanya, hehehe.

Tapi itu saya sih ya, yang lama kelamaan udah kebal aja dengan komentar kontra hingga bully an.
Meskipun saat membaca pertama kali, memang pastilah ada rasa kesal dari dalam hati.
Tapi reaksi yang saya keluarkan, mungkin udah lebih berbeda dengan teman-teman yang belum terbiasa dengan hal demikian.

Atau teman-teman yang nggak bisa cuek jika membaca hal-hal yang negatif atau kontra tentang dirinya.


Know your limit aja sih ya, menurut saya, persiapkan mental dulu, biar action dalam dunia maya, entah itu mau iseng, atau bekerja, akan lebih lancar dan nggak mengganggu kesehatan mental.
 
How about you, temans?


Sidoarjo, 01 September 2020


Sumber : pengalaman dan opini pribadi
Gambar : canva edit by Rey

24 comments:

  1. KBM itu apa ya mbak Rey..jadi kebayangnya kegiatan belajar mengajar..����

    Di medsos saya hanya pos yg ringan2 selalu memposisikan diri low profile nggak menyolok jadi alhamdulillah nggak pernah merasakan di bully..iseng banget kalau sampai ada ����


    Soft spoken juga menghindari kalimat bersayap yg bisa ditafsirkan macam2...

    Saya nggak mau ya terlalu serius berkomentar di medsos karena udah ngertilah disana itu semacam tempat sampah/sambat bagi beberapa orang.. Kalau mau fokus diskusi berbobot di blog...��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bantu jawab, KBM itu komunitas Belajar Menulis di FB mba :D. Para membernya diminta tahan banting di sana hahahahah

      Delete
    2. Terima kasih mbak Fanny infonya. Waduh dibanting-banting...kok seperti klub judo...

      Delete
    3. "Soft spoken juga menghindari kalimat bersayap yg bisa ditafsirkan macam2"

      Nah bener banget nih, kadang kalau kita menulis tuh, maksud kita apaaaa, eh ditafsirkan dengan apaaaa..

      Etapi kalau di grup KBM mah, mau kita nulis dengan very very soft kagak ngaruh, hahaha.

      Bener kata Mba Fanny, semuanya kudu tahan banting, makanya di sana tuh, kayaknya lebih banyak member dengan akun palsu, ketimbang akun asli.

      Karena mereka sukanya memancing keributan, tapi ngehek kalau dikejar.
      Sadis-sadis tauk, sampai di inbox bahkan di komen ke akun pribadinya, hahaha.

      Makanya, banyak banget orang yang akhirnya left grup itu, padahal dulu tuh grup itu kece banget, saya belajar banyak banget tentang menulis di sana.

      Dulu Asma Nadia dan suaminya rajin banget menulis tips di sana, sekarang kayaknya juga masih rajin, tapi ketutup postingan berantem para mamak-mamak dan bapak-bapak hahahaha.

      Sadis, tapi juga seru hahahaha.
      CUman yang mudah kepikiran, mending jangan deh :D

      Delete
    4. "Dikejar sampai inbox dan akun pribadi"--) dikejar sampai luar arena.Bayangan klub judo di kepala saya pecah berkeping-keping berubah jadi klub wrestling. XDXD

      Langsung lihat ke TKP deh...OMG

      Delete
  2. Nggak maen medsos Rey...

    Cuma apa itu PLAGIATISME ya , apa maksudnya PLAGIARISME. nyari di Google istilah ini ga nemu..

    Kalau saya mah santuy ajah Rey.. ga usah siap siapin mental. Hahahaha.. kalau ada yang nantang perang begitu, ya tinggal milih, mau dijabanin atau kagak.. Kalau kagak mau ya diem ajah, kalau mau ya terusin..

    Easy saja...

    Mungkin karena mentalitas saya sudah terbiasa dengan yang seperti itu, saya pikir ya tidak usah terlalu dibawa ke hati. Namanya omongan orang, jangankan di medsos di kehidupan sehari-hari saja banyak.. Jadi kenapa dibikin pusiaanng..

    ReplyDelete
  3. saya sendiri cenderung orang yang "cari aman", gak terlalu vokal di medsos karena rasanya ngga siap kalau dibully banyak orang.. mereka2 yang suka bikin sensasi mungkin sudah memikirkan berbagai konsekuensinya, toh ntar juga netizen lupa, seperti mbak bilang --> Bikin rame - shock dengan komentar pedas - minta maaf - netizen lupa - andddd...repeat

    ReplyDelete
  4. belajar cuek.... intinya yang tidak dimasukkan ke hati .... heheh jangan baper

    ReplyDelete
  5. Iya mbak, di dunia maya memang tidak boleh baper. Berbeda opini atau pandangan ya lumrah saja. Tidak semua hal harus dipaksa menjadi satu persepsi. Apalagi banyak netijen yang kalau tidak cocok, langsung hujat. Kalau diladeni, malah makin semangat mereka.

    Tapi saya cukup 'beruntung', akun medsos, blog atau youtube saya, sepi dari komentar buruk. Jangankan buruk, yang komentar saja tidak ada. Hahaha.

    Cuma memang betul kata mbak, mungkin yang datang berkunjung tidak berkomentar. Jadinya tetap saja apda tujuan awal untuk beraktivitas di dunia maya, menyenangkan diri sendiri sekaligus menawarkan konten yang mungkin baik bagi yang baca.

    ReplyDelete
  6. Aku sepertinya ga kuat kali ya Rei, makanya kluar dr KBM :D. Niat hati dulu mau belajar menulis memang, tapi baca banyak komen yang sangar2 dan saling serang, kok urut dada sendiri wkwkwkwkwk. Lgs out jadinya. Padahal aku cm baca doang selama jd member, blm prnh publish tulisan :D.

    Tapi bener siiih, kalo siap bermedsos, sebenarnya harus siap juga dengan resiko di bully. Nulis sesuatu di blog sendiri aja kdg di serang :p. Aku bbrpa kali ngalamin, kebanyakan soal review hotel ato kuliner. Padahal kalo ngereview sesuatu yg negatif, aku ga pernah pake kata kasar. Pasti dgn halus. Ttp aja orangnya ga trima, pake kata2 ngancem bakal bawa orang sekampung mau nyerang aku wkwkwkwkwk. Kayak tau aja rumahku di mana. Bukannya aku anti kritik sih, tapi kalo kritik pake kata2 makian dan ancaman, yg ada aku tendang ke spam komennya. Ato block orangnya. Percuma ladenin org begitu Rey :D. Yg ada aku emosi hahahah.

    ReplyDelete
  7. Saya jg seorang yg bisa dikatakan.. Ansos.
    Ada tetangga yang berantem n ribut. Aku ga tau dan ga peduli, eheehehe.
    Well, sebenarnya aku g mau tau urusan orang, sih. Itu kenapa aku ga mau ikut campur n seolah ga peduli :D

    ReplyDelete
  8. Kalau di medsos saya pilih nyari aman bukan takut dibully tapi malas nimpalinnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh ada suhu Herman, sungkem guru.

      Mendingan cari aman saja ya hu.:D

      Delete
  9. Aku si gak pernah pengin ikut komen2an di face book ato medsos lain yg kelihatannya menantang banget, lagi rame, heboh... rasanya cuman buang2 energi.

    Aku juga cuek, kagak ngurusin yg gitu2 hehe...
    Gak suka cari masalah, tar ilang dame hati.

    Aku juga sama ma mas Anton pas baca ada kata "PLAGIATISME" aku searching di google tapi gak nemu hihihi...

    ReplyDelete
  10. hehe terkadang kita udah coba utk kuat, dan yakin dengan usaha di dunia maya. yaa ada aja yg nyinyir. ga bsa enak banget emang.. semoga deh dengan saya buka jasa backlink bsa survive sementara sembari menunggu pekerjaan mba hehe.

    ReplyDelete
  11. Hahaha aku juga ketawa baca komentar komentar di KBM itu waktu mbak Rey share pengalaman pakai kartu kredit. Menurutku memang mbak Rey murni hanya bagikan pengalaman memiliki CC tapi tetap saja di bully. Padahal disitu sudah dijelaskan tentang untung rugi pakai CC.

    Aku masih di KBM sih tapi cuma lihat lihat saja, malas nulisnya.:D

    ReplyDelete
  12. Rasanya sebelum mengenal dunia maya, sebaiknya latihan mental dulu. Agar tahan banting dan masa bodoh dengan serangan yang ada. Di dunia maya itu ada istilah "selalu ada celah untuk membuatmu menjadi salah"
    Entah apapun yang dilakukan akam selalu tampak salah bagi sebagian orang. Mungkin banyak orang iseng atau kehidupan nyata yang terlalu berat, akhirnya ditumpahkan di dunia maya.

    Kalau aku tidak tertarik mengomentari sesuatu yg lagi viral, lebih memilih santai dalam menghadapi berita apapun di dunia maya. Aku lebih tertarik kalau ngobrol langsung.

    Sungguh melelahkan jika menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk ribut-ribut di dunia maya. Salah atau benar, kita akan selalu terlihat salah. --"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya belajar jadi pengurus RT bisa jadi medan latihan tuh.. wkwkwkw.. Bener aja dikomplen, apalagi salah.. (pengalaman pribadi) wwkwkwkwk

      Delete
    2. Terus berlatih dan menyiapkan mental, hingga tetangga bilang "DASAR!!! Ga becus jadi pengurus RT" hahhahahaa

      Delete
    3. Wakakakaka.... bener banget tuh... tapi mental terlatih dan kuping jadi tebal lama kelamaan

      Delete
  13. Saya tipe yang menulis aman, mba πŸ˜‚ mungkin mental saya masih tiarap hahahaha. Makanya nggak berharap terkenal dan lain sebagainya. Menulis pun lebih suka cerita standar daripada bahasan kontroversial. Jadi saya bersyukur, selama ini blog saya nggak ada komentar menyakitkan πŸ™ˆ kalau ada maybe saya langsung stop menulis daripada kepikiran hahahahaha.

    Dalam bermain medsos pun saya lebih suka agree instead of argue, jadi kalau ada satu tulisan berisi beberapa poin kontra dan beberapa poin agree maka saya hanya fokus bahas yang agree daripada habiskan energi untuk argue poin kontra πŸ˜‚ segitu hati-hatinya saya memang, karena saya selalu diingatkan agar jangan sampai menyinggung orang. Hehehehehe. So, saya salut sama mba Rey yang bermental baja. Keep being strong ya, mba 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga sama seperti kak Eno *ikut-ikutan*
      Tapi aku pribadi nggak nyaman untuk membuat post yang kontroversial gitu, hanya penikmat aja kalau ada drama #plakk
      Maka dari itu, aku jarang menulis hal-hal yang kontroversial, hanya yang standar aja supaya tidak menyinggung siapa-siapa πŸ˜‚

      Delete
  14. ibaratnya berani berbuat berani bertanggung jawab. kalau kita berani menulis hal hal yang menurut kita sebenernya biasa, kita nulis karena ingin menyampaikan pendapat yang ada di dalam kepala saja, tapi bisa saja menurut orang yang baca persepsinya berbeda
    kalau kita berani menulis hal yang "vulgar" secara pemikiran, dan ada pihak yang bertentangan, tentu kudu siap sama komen komen yang menyudutkan atau bully-an tadi
    aku setuju dengan siap mental tadi, kalau ga berani siap mental, berarti jangan nulis yang aneh aneh juga
    cuek juga tuh, selama nggak merugikan dan pendapat bisa dipertanggungjawabkan sama diri sendiri, show must goes on

    ReplyDelete
  15. Kalau saya dibully di medsos kayaknya saya...
    Hem... Mungkin stress jugaπŸ˜‚ tapi saya males sih nanggepin hal-hal kayak gitu. Jadi inget saya pernah membagikan link tulisan di komunitas di fb gitu eh ada yang komen kalau tulisan saya nggak dihapus nanti kena jigling, terus saya tanya, kok bisa? Ada dua orang yang balas pokoknya hapus aja. Antara takut dan males nanti berkelanjutan akhirnya saya hapus deh. Soalnya sebelum kejadian komen itu saya juga udah kena jigling. Sehingga saya jadi curigaπŸ€”
    Suudzon terus sih sayaπŸ˜‚
    Tapi memang bullyan di medsos itu dampak ke kehidupan nyatanya besar. Wong yang bulli kadang selalu keroyokan terus viral.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)