Ajarkan Anak Untuk Tidak Jadi Pelaku Maupun Mengundang Bullying

bullying di sekolah

Sharing By Rey - Bullying, diduga kembali merenggut nyawa seseorang. Dialah Sulli, seorang aktris cantik dari Korea Selatan.

Menurut berita yang berhembus, aktris cantik tersebut meninggal karena gantung diri di kediamannya.


Dan melihat rekam jejak kesehatannya, diduga kuat, penyebab bunuh dirinya karena depresi dengan beragam bully-an dari netizen.

Begitu dahsyatnya pengaruh bullying tersebut.

Terlebih di zaman serba online seperti sekarang, rasanya sangat mudah bagi siapa saja untuk menuntaskan ketidak bahagiaannya dengan sibuk nyinyirin orang lain melalui medsos.


Iya, i called orang-orang suka asal nyablak di komen postingan orang lain itu, dengan sebutan orang kurang kerjaan yang hidupnya menderita, sama sekali nggak bahagia, lolololol.

Ye kan, kayak nggak ada kerjaan lain banget gitu loh, sempat-sempatnya kerjaannya cuman ketak ketik komen di postingan orang, untuk menjatuhkan orang pula.
Duhhh... gemessss!!!!

Saya sendiri, juga pernah mengalami bullying, baik secara nyata maupun di dunia maya.

Di dunia nyata, saya rasakan sewaktu saya kecil dahulu.
Sebagai anak tengah yang kurang eh bahkan nyaris nggak diperhatikan orang tua, saya tumbuh jadi anak yang sering makan hati, dan kurus ceking.

Alhasil, saya sering banget diejek oleh teman-teman, kalau saya jelek, kurus kurang gizi, betis belalang (saking kecilnya betis saya, dan sekarang malah jadi kelebihan saya, di mana semua orang betisnya kek pemain bola, saya malah punya betis jenjang yang menyamarkan BB saya, lolololol)

Seorang teman lelaki di waktu SMP yang memang terkenal nakal bahkan sering mengatakan pada saya, bahwa saya itu jelek banget, nggak bakal ada laki-laki yang mau sama saya.

Tentu saja saya marah, saya balas mengejeknya dengan mengatakan dia juga jelek, badannya gemuk tapi isinya ing*s, saking teman tersebut sering ing*san meski sudah SMP, sepertinya dia terkena sinusitis.

Meskipun saya bisa balas mengejeknya, tapi ternyata omongan berulang dari teman tersebut, menempel di hati selama bertahun-tahun.

Saya tumbuh jadi gadis remaja yang amat sangat minder.
Saya sensitif, tidak percaya diri dan sering menyalahkan Tuhan, mengapa saya diberi wajah dan tubuh seperti ini.

Betapa dahsyatnya ucapan negatif bernama bullying itu ya!


Di dalam dunia maya, saya juga pernah mendapatkan bullying di status media sosial facebook saya.
Bukan hanya sekali, tapi 3 kali dong.

Hanya saja, saya beryukur dan berterimakasih atas hidup yang kadang saya keluhkan berat sejak kecil ini, ternyata perjalanan hidup saya yang 'berat' menempa saya jadi sosok yang lebih kuat.
Salah satunya, dengan bijak menyikapi bullying di media sosial.


Mengajarkan Anak Hal-Hal Tentang Bullying


Sesungguhnya, hingga saat saya menulis postingan ini, di tengah malam buta ini, hati saya terasa bagai tertusuk sembilu.
Betapa tidak?

bullying pada anak

Saya teringat lagi, betapa saya bahkan sering membully anak sendiri.
Ya Allah... maafkan mami anak-anak tersayang.

Padahal, saat si kakak pertama kali masuk SD, hal utama yang saya takutkan adalah bullying.
Saya takut si kakak di-bully teman-temannya dan dia jadi tertekan.
Dan saya takut kalau-kalau malah si kakak yang jadi pelaku bullying.


Namun, satu hal yang saya syukuri adalah, Allah begitu sayang pada saya, sehingga selalu saja menegur saya dengan caraNya.

Misal, dengan mengirimkan ide menulis tentang ini di pikiran saya, lalu saya seolah tersadar, betapa saya telah menjadi bagai seorang ibu monster bagi anak sendiri, huhuhu.

Semoga, tulisan ini, membuat saya selalu ingat,
"Rey, mereka anak-anakmu, bukan teman dewasamu, lakukanlah mereka, layaknya seorang ibu terhadap anaknya!"
Alhamdulillah ya Allah.


Mendidik anak bahwa membully itu dosa besar


Selama si kakak sekolah SD, sudah 3 kali saya mendapat teguran wali kelasnya, hanya karena si kakak bikin gara-gara.

Padahal, semua yang dilakukan si kakak bermula karena sikapnya yang amat sangat suka bercanda.
Sungguh, saya terlalu sering gemas dengan kebiasaan si kakak yang bercanda secara berlebihan.

Sehingga karena itu, dia pernah membuat teman perempuannya menangis, karena dia bercanda hingga membuka kerudung temannya tersebut.

Astagfirullah...

Karuan saja saya campur aduk rasanya.
Antara marah, malu dan ingin nangis, eh udah nangis sih.

Sejujurnya, bukan semata marah. malu karena si kakak, tapi marah kepada diri sendiri, yang tidak sanggup mendidik si kakak agar lebih kalem, hiks.

Sejak saat itu, saya berusaha keras untuk lebih menyediakan waktu buat si kakak, meskipun jujur itu sangat sulit.
Tapi harus!


Yang saya lakukan hanya bisa sounding tanpa henti pada si kakak, bahwa mengganggu teman atau siapapun, mengejek dan semacamnya adalah dosa besar.

Pun juga menyediakan waktu dan telinga mendengarkan keluhannya, karena biasanya dia bertingkah berlebihan seperti itu hanya dianya dipancing terlebih dahulu.


Mendidik anak agar menghindari dan melawan bullying 


Salah satu alasan mengapa saya melarang si kakak sering-sering keluar bermain bersama teman-temannya di kompleks adalah, karena selalu berakhir dengan si kakak pulang sambil nangis.

bullying terjadi di sekolah

Kadang dia takut mengadukan hal itu ke saya, karena reaksi saya selalu berlebihan.
Ya Allah, mohon ingatkan saya selalu agar bisa lebih bijak, aamiin.

Si kakak nangis karena ada seorang anak yang memang nyebelin di kompleks kami, saya bilang nyebelin, karena anak itu ya ampuuunnn mulutnya pengen saya lakban rasanya, lol.

Nggak tahu kenapa, bahkan kepada sayapun dia berani melawan.
Pernah si kakak pulang nangis, eh dia datang juga dong, mengadukan ke saya bahwa si kakak yang cari gara-gara.

Nggak salah sih, saya bahkan mengapresiasi tingkah si anak tersebut karena berani bertanggung jawab dengan menjelaskan.
Namun yang bikin saya pengen lakban mulutnya adalah, ampun deehh, saya berasa ngomong ama emak-emak.

Dia nyerocoooosss aja nggak kasih kesempatan saya bertanya sama sekali, bener-bener minus sopan santun dah.

Karena sering terjadi si kakak pulang nangis karena anak itu lagi...anak itu lagi..
Saya kesal dong, dan akhirnya melarang si kakak main dengan anak tersebut.

Saya ingin, agar si kakak memilih jalan damai, dalam mengatasi bullying, salah satunya dengan menghindari biang kerok.

Karena kebanyakan bullying terjadi, karena sudah tahu si anak itu biang kerok, eh tetep aja ditemanin.
Padahal, bukan hanya sikapnya yang nyebelin, pun mainannya bikin geleng-geleng kepala, youtubaaaannn aja teroosss.

Kata-katanya pun bikin merinding, entah dia dengar dari mana.
Astagfirullah, mengapa saya jadi gibah hahahaha.

Intinya, saya ingin si kakak bijak mengatasi bullying, lebih baik menghindar jika memang tidak berkepentingan.
Dan jika sudah dihindari tetap dihampirin, maka si kakak boleh melawan, setidaknya berani menceritakan kepada orang dewasa.


Mendidik anak agar tidak mengundang bullying jika tak sanggup menghadapinya


Dengan tidak menyalahkan para korban bullying, namun kadang bullying sebenarnya bermula dari 'undangan' kita.


Seperti saya yang di-bully di medsos, nggak mungkin banget saya menuai banyak makian, kalau saya memilih nggak menulis hal-hal yang kontroversial, meskipuuunnnn.... sejujurnya apa yang saya tulis itu sama sekali tidak salah, dan saya menulisnya dengan sesopan mungkin.

Namun, karena saya memilih jalan yang benar tapi jarang dilalui orang, karena kebanyakan orang memilih jalan yang dibiasakan meski salah, jadilah saya panen makian dan bully-an.

Akan tetapi, saat saya menuliskan hal tersebut, saya sudah punya bayangan, seperti apa nanti reaksi pembaca, meskipun jujur, saya nggak terpikirkan ada netizen yang sampai nggak malu menuliskan kata makian.

Karenanya, sebelum saya menekan tombol publish, saya sudah mengira-ngira bahwa hati saya BISA MENGATASINYA.

Iya..
Bullying itu salah besar!
Dosa besar!

Tapi para teman setan itu (read : orang yang suka nyinyir tanpa mikir, lol) persis kayak setan, nggak pernah habis di muka bumi ini, bahkan hingga para korban bullying berjatuhan bunuh diri karenanya, mereka masih saja melenggang tanpa dosa.

Karenanya, penting bagi anak untuk mengetahui dampak dari keputusan atau sikapnya.
Dengan dia mengetahui resikonya, dia bisa mengira-ngira apakah hati dan mentalnya mampu menanggung semua itu?
Jika tidak, sebaiknya hindari!

Jangan mati konyol hanya demi 'jadi diri sendiri'.

Karenanya, jadilah saya seorang ibu yang cerewet buat si kakak, selalu detail memperhatikan kebutuhan si kakak, tapi bukan melayani, tapi menyadarkan agar si kakak melakukan hal itu sendiri.

Misal, mandi yang bersih, gosok gigi yang bersih agar nggak bau dan nggak diejek teman-temannya.
Mengajarkan adab yang baik, sopan santun, agar nggak diejek teman-temannya.

Meskipun jujur, kadang saya takut berlaku too much sehingga si kakak malah menganggap segala sesuatu dinilai dari penampilan.

Duhh, sesungguhnya, menjadi orang tua, khususnya ibu adalah tantangan terbesar dalam hidup saya.
Karena masa kecil anak semacam masa pondasi untuk hidupnya.

Saya sering mempelajari pondasi rumah harus kokoh agar rumah kuat dan awet.
Namun membangun pondasi kokoh pada anak, sungguh formulanya nggak bisa ditakar pakai rumus mekanika rekayasa serta integral berlapis sekalipun.

Apapun itu, saya selalu memohon kepada sang Maha Pencipta, agar menguatkan saya dalam menjadi ibu yang amanah.
Semoga saya dan kita semua, bisa menciptakan anak-anak sholeh/ah, anak-anak yang bukan pelaku bullying, namun juga bukan pengundang bullying, serta mampu menghadapi bullying dengan bijak, aamiin..aamiin..aamiin

Sidoarjo, 16 Oktober 2019

Reyne Raea

Sumber : Pengalaman pribadi
Gambar : dokumen pribadi

2 komentar :

  1. dulu pas sekolah dari SD sampe SMA aku tuh korban bullying. ngenes sih..
    tapi untung ku cuek bebek, jadi gak kepikir bunuh diri segala. hihihi

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)