Friday, October 04, 2019

Jangan Anggap Ibu Mertua Seperti Ibu Kita Sendiri, Ini 3 Alasannya!


Tentang Kiasan "Anggap Ibu Mertua Sebagai Ibu Sendiri"


ibu mertua seperti ibu kandung


Assalamu'alaikum :)

Sharing By Rey - #FridayMarriage - Jangan anggap ibu mertua sebagai ibu kita sendiri loh!
Enggak!
Temans enggak salah baca kok, beneran itu mah!

Bukan juga niat bikin judul yang kontroversial, tapi memang sedang ingin sharing bahwa sebijaknya kita tidak menganggap ibu mertua layaknya ibu kita sendiri.

Kok bisa sih Rey?
Sesat banget kamu, Rey!

Saat menikah itu, kita tidak hanya menikah dengan lelaki pujaan kita saja, tapi juga semua keluarganya, terutama ibunya.

Dan menikah adalah, masuk ke dalam keluarga suami, sebagaimana aturan dalam Islam yang mengharuskan istri ikut suami.


Makanya, kita sebagai menantu kudu bisa berbaur dengan keluarga suami, dan anggap ibu mertua seperti ibu kita sendiri.

Seharusnya begitu ya, saya rasa semua orang (meskipun nggak semua-semua amat sih ya) sangat setuju dengan kiasan 'anggap ibu mertua bagai ibu kita sendiri'

Oh iya, sebelum bahas lebih jauh, sepertinya saya kudu menjelaskan lebih detail, biar nggak pada ngamuk semua, hahaha.
"Tulisan ini berdasarkan pengalaman dan opini saya sendiri, tentu saja tidak sama terjadi di semua orang"

Sebagian besar orang setuju dengan kiasan di atas, anggap ibu mertua adalah ibu kita sendiri, tapi anehnya, amat sangat jarang seorang menantu bisa akrab dengan mertuanya, khususnya menantu perempuan dengan ibu mertua.

Ada banyak kisah ngenes antara hubungan mertua menantu ini, meskipun juga ada kisah bahagia dalam hubungan itu.

Kalau saya?

Alhamdulillah, tantangan saya udah banyak, jadi Allah karuniakan saya ibu mertua yang pengertian.
Nggak kayak malaikat juga, tapi nggak kayak ibu tiri yang digambarkan hubungan ngenes mertua menantu di sinetron televisi itu.

Sayapun, bahkan sejak menikah, selalu dinasehati baik ibu mertua maupun bapak mertua,
"Nggak usah sungkan Rey, anggap ibu ini kayak mamamu sendiri loh!"
Dan seperti biasa, saya cuman senyum-senyum aja.
Mana bisa saya menganggap ibu mertua kayak mama saya, beda lah!

Saya terbiasa dididik disiplin oleh orang tua, sementara ibu mertua terkesan lebih santai.
Rasanya kagok aja, terbiasa disiplin, jadinya santai, saya bisa jadi malas banget entar, lol.


Jangan Anggap Ibu Mertua Seperti Ibu Kita Sendiri, Ini Alasannya!


 Jadi, opini saya yang tidak setuju bahwa kita harus menganggap ibu mertua itu sebagai ibu sendiri sudah sejak dahulu kala, tapi tulisan ini baru tergerak saya posting, setelah siang tadi membaca sebuah status facebook yang menjelaskan tentang hubungan mertua menantu.


Dalam statusnya yang sungguh panjang mengalahkan status facebook yang sering saya tulis itu, si mba tersebut memberikan tips agar kita para menantu perempuan tidak depresi atau bahkan bercerai karena ibu mertua.

jangan anggap ibu mertua seperti ibu kandung

Dan salah satu tipsnya adalah, jangan anggap ibu mertua seperti ibu kita sendiri, dan iyessss... saya sangat setuju!

Alasannya?


1. Ibu mertua dan ibu kita adalah sosok ibu yang beda.


Bagaimana bisa ibu kandung kita tergantikan? seburuk apapun (misalnya), ibu kandung tetaplah ibu kita, yang sikap dan karakternya tentu saja beda dengan ibu mertua.

Jika kita berlaku sama di hadapan keduanya, jangan harap bakal mendapatkan reaksi yang sama seperti yang ibu kandung kita lakukan.

Misal, di rumah kita biasa jutek ama ibu kandung, dan ibu kita selalu bisa maklumi.
Coba saja kita samain jutek ama ibu mertua, yang mungkin karakternya lebih tegas dalam sopan santun, sehari kita bakal dicemberutin, dua hari kepala kita bakalan digetok tuh ama ibu mertua.

Hari ketiga, kita dipecat dari status menantu, hahahaha.

Makanyaaa.... Jangan samakan ibu mertua seperti ibu kita sendiri!


2. Pola asuh ibu mertua dan ibu kita nggak selalu sama


Ye kan, kita ketemu ibu mertua setelah kita dewasa, yang mana sudah pasti kita membawa karakter dan habbit dari pola asuh ibu kandung kita.

Tentu saja kita nggak bisa paksain karakter kita terhadap mertua, terlebih kalau kitanya masih tinggal di rumah mertua.

Nggak heran deh, kita masuk headline "menantu ngenes diusir mertuanya karena kurang ajar!"
Hahahaha.

Makanyaaa.... Jangan samakan ibu mertua seperti ibu kita sendiri deh!


3. Kebiasaan ibu mertua beda dengan ibu kita sendiri


Di rumah ibu kita biasa santai, bangun pagi santai sejenak, duduk-duduk nonton TV sejenak, nantilah kalau waktu udah mepet baru tergopoh-gopoh.


Pulang ke rumah, santai sejenak dulu, buka sepatu, lempar kaos kaki kanan di sebelah timur, kaos kaki kiri di sebelah barat, tas lempar begitu saja di lantai, lalu santai di sofa leyeh-leyeh melepas lelah sebentar atau mengatur nafas sebentar maksudnya.

Biasanya di rumah kan gitu, dan ibu kita paham akan hal itu.

Sementara, ibu mertua adalah seseorang yang disiplin.
Bangun pagi ya langsung bergerak cepat, kalau mau santai, nanti saja setelah semua siap, dan masih ada waktu sebelum berangkat.

Pulang ke rumah, harus ganti baju dulu, semua barang diletakan dengan rapi secapek apapun.
Begitulah kebiasaan si ibu mertua.

Lalu kita mau menganggap ibu mertua kita bagai ibu sendiri? Yang hanya maklum dengan sikap malas kita itu?

CARI MATI KAMU MARIMAR! hahahaha.

Makanyaaa.... Jangan samakan ibu mertua seperti ibu kita sendiri ya!


Ibu Mertua Dan Ibu Kandung Adalah Sosok Yang Beda, Maka Jadilah Bunglon!


Saya bersyukur banget (sekarang bersyukur, dulu sebal minta ampun, lol) karena dididik dengan keras oleh orang tua saya.
Jadinya saya tidak butuh usaha keras lagi untuk 'tau diri' di hadapan mertua.

jangan anggap ibu mertua seperti ibu kandung

Dan bersyukur banget, saya dijodohkan dengan lelaki yang ibunya terkesan lebih santai, jadi lebih mudah dalam beradaptasi dengan mertua.


Sejak kecil, mama dan bapak selalu mengharuskan saya jadi wanita yang nggak hanya harus pintar, tapi juga tahu tata krama dan tahu diri di rumah orang.

Orang tua memaksa saya untuk hidup dengan disiplin, sejak SD nggak boleh berangkat ke sekolah kalau belum mengerjakan tugas saya yaitu nyapu rumah.

Pun juga saya dididik agar lebih rajin, sopan, nggak malas di rumah orang.
Meskipun akhirnya saya jadi malas di rumah mertua, karena sungguh selera kami berbeda, hahaha.

Meskipun saya jarang masuk dapur di rumah mertua, saat tinggal di rumah mertua saya nggak cuman ngendon enak-enakan di kamar dan tahu makan saja.

Setidaknya saya bantu mengerjakan hal lain selain masak (i hate ikut masak di rumah orang, hahaha), misal nyapu lantai, beresin yang kotor, cuci piring, daaann tentunya ngasih duit belanjalah ke ratu dapur aka ibu mertua.

Intinya jadilah bunglon saat dekat mertua, belajar menyesuaikan diri, tahu diri, tahu kondisi.
Kalau tetap merasa nggak cocok sama mertua, ya pakai cara lain misal, diskusi ama suami untuk tinggal secara mandiri.

Kalau kondisinya suami adalah anak lelaki satu-satunya yang diharapkan menemani ibunya, ya mau nggak mau harus bisa paham hal tersebut.

LAGIAN, UDAH TAHU SUAMI ANAK LELAKI SATU-SATUNYA SI IBU MERTUA, NGAPAIN MAU NIKAH AMA DIA MARIMAR? hehehe

Etapi, kalau udah terlanjur nikah, dan suami nggak boleh jauh dari ibunya, ya ambil cara terbijak, misal kontrak rumah dekat rumah mertua, jadi suami bisa setiap hari menjenguk ibunya.

Dulu saya pernah punya tetangga depan rumah yang seorang nenek-nenek usia sekitar 70an tahun.
Si nenek tersebut tinggal sendirian di rumahnya yang lumayan besar.

Tapi setiap pagi si nenek sibuk nyiapin sarapan, soalnya anak lelakinya yang sudah meikah dan tinggal di gang sebelah selalu mampir ke situ sebelum berangkat kerja, si anak juga bakalan mampir di situ saat pulang kerja, begitu selalu setiap hari.

Dan agar anak lelakinya selalu mampir ke rumahnya setiap hari, mobil milik si nenek itu dipakai anaknya untuk berangkat kerja setiap hari.
Karenanya, setiap hari si anak pasti mampir di situ.

Win-win solution yang bijak sih menurut saya.
Mertua nggak ngenes kesepian
Menantu juga nggak ngenes maksain diri tinggal di rumah mertua.

Begitulah..

So, masih mau menganggap ibu mertua sama seperti ibu kita?
Saya sih enggak, kecuali memang teman-teman yang punya ibu mertua yang asyik abis, jadi mertuanya selalu ngalah dengan sikap menantunya yang mungkin kurang berkenan di mertua.

Semoga ada manfaatnya.

Sidoarjo, 04 Oktober 2019

Source : pengalaman pribadi
Pic : rd.com , mamainthenow.com , istockphoto.com

24 comments:

  1. Wah.. Iya ya mbk, nggak bisa nyamain ibu kandung sama ibu mertua. Tetap beda. Saya berharap banget ntar dapat ibu mertua yang pengertian juga😊
    Ngomong-ngomong saya malah fokus sama gambar ibu mertua yang lihat anak menantunya bertengkar di atas. Serem banget mukanya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi iya, setidaknya kita tahu diri, biar aman :)

      Delete
  2. Hahaha bener banget mbak Rey. Jangan samakan dgn ortu sendiri. Saya di hari pertama tinggal di rumah mertua sudah kena semprot, karena menganggap ortu sendiri xixixi. Ceritanya saya pulang kerja, trs salim. Eh disemprot, karena cuma salim saja, nggak cium tangan beliau. Lah saya kebiasaan dgn ortu cm salim saja.

    ReplyDelete
  3. Iya banget mbaaaa. Ya walaupun Bunda (mertuaku) lebih ramah dan dekat sama anak, dibanding Mami aku yang sibuk sedari muda dan semakin besar aku boro-boro bisa curhat karena beliau sibuk ngurusin pasien mulu, tapi mami tetap segalanya. Karena Mami yang membentuk saya jadi Acha yang seperti saat ini.

    ReplyDelete
  4. aku jg ga menganggab mereka sama, tapiii jujurnya aku lbh deket ama mertua drpd mama sendiri. mertua lbh santai, dan hobinya sama ama aku mba. Dia suka traveling dan suka kulineran. tiap aku ajak makan di tempat baru, mama mertua pasti happy.

    tp kalo yg aku ajak mama,wuaahhhh, banyak ntr kritikannya... "makanan apa ini, kurang bumbu" "mama bisa masakin yg lbh enak dr ini", dan lain lain alasan yg kdg bikin aku ragu mau ajakin mama lg. kemarin diajakin ke jepang ama adekku, sebulan di sana, mama malah bilang, "ga ada jajanan enak di sini.ga ada bakso" .huuftttt... agak susah memang mama beradaptasi

    beda bangetttt ama mertuaku. mungkin krn dia istri diplomat yg udh sering pindah2 tugas negara, mama gampang kalo adaptasi.. makanya aku jauuh lbh deket dgn beliau dr mama sendiri. dan kalo diajak ngobrol soal yg berat, mama mertua enak diskusinya. ga menjatuhkan, semua based on fakta.

    kalo ajakin mama kndung diskusi, beuuugh, semua based on suka, tidak sukanya dia terhadap topik itu. wkwkkwkw..yg ada emosi sendiri. jd aku sangaaaat menghindari bucara soal topik sensitif ama mama. Makanya kalo diliat, aku lbh pendiam kalo udh ketemu mama kandung, dan lbh cerewet kalo udh ama mertua :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha, emang beda kondisi jadinya beda karakter juga mba, kalau saya masalah ngobrol, mama saya lebih suka diam, nggak suka berdebat.
      kalau saya mertua, saya lebih suka jadi pendengar, berjam-jam pasang telinga mendengarkan cerita yang bahkan udah diulang untuk kesekian puluh kalinya wakakakakakak

      Delete
  5. Assalamu'alaikum.
    Salam kenal mbk Rey.
    Membaca tulisan mbk Rey ini benar2 membuat saya tidak bisa tidak untuk komen. Saya setuju banget mbk, soalnya saya pernah membuat kesalahan yang tidak disengaja kepada ibu mertua saya dan hasilnya beliau "pundung", (tersinggung, kesel, atau ngambek mungkin).
    Beda ketika saya melakukan kesalahan kepada ibu kandung, beliau tetap bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal kesalahan itu saya lakukan dengan tidak sengaja lho, hanya saja saya lupa kalau saat itu saya bukan sedang bersama ibu kandung saya. Yah mau gimana lagi memang karakter orang itu berbeda-beda ya?! Tulisan mbk Rey beuuhhh, selalu top dan menjadi pelajaran buat saya. Terimakasih mbk, sekali lagi salam kenal buat mbk Rey dan blogger2 lainnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal mba.

      Bener banget, beda banger ibu dengan ibu mertua.
      Kan memang juga karakter beda dan kondisi hidup juga beda :)

      Delete
  6. Doaku semoga besok kl dh nikah dpet ibu mertua yg asyik biar bisa nyaman kek nyender ke ibu kandung. Huhuhu

    ReplyDelete
  7. "Anggap ibu mertua sama kayak ibumu sendiri" itu menurutku kiasan aja sih. Bukan berarti maksudnya kita bisa bersikap semena2 ke ibu mertua layaknya ibu kandung yang slalu bisa memaklumi hihi :))

    Tapi kiasan itu maksudnya agar kita tuh SAMA-SAMA sayang dan hormatnya ke mertua kayak kita ke ibu sendiri gitu. Dengan ga membedakan, kita akan tetep sayang ke mertua, kita tetep hormat, tetep mendoakan sebagaimana sikap kita ke ibu kandung hehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah ini bener, hanya saja banyak orang yang salah mengartikan hehehe

      Delete
  8. Mereka memang dua pribadi yang berbeda tapi mereka adalah bagian dari hidup kita.

    Saya memang sering melupakan mereka seperti apa. Adik adik kandung sendiri pasti bedalah sepanjang itu karakter individual mereka sendiri.

    Dan memahami semua itu bagus... Namun perlakuan kita adalah standard dan kualitas diri kita sendiri 😊

    ReplyDelete
  9. iyahh yahh memang bedaa sihh mbaa, tapi tergantung kitanya, yang pentin gkita bisa beradaptasi dengan baikk dengan keluarga mertua

    ReplyDelete
  10. aku belum nikah ya mbak, tapi kalau kata bapak.. kalau kita marah sama ibu kandung dalam hitungan menit atau detik udah lupa tuh marah2nya, tapi kalau sama mertua kata bapak kelar hidupmu nak he he he he

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahhahaa iyaaa, biar bagaimanapun beda kok antara anak kandung dengan menantu :D

      Delete
  11. Saya sangat setuju dan sependapat.
    Dengan adanya perbedaan seperti itu, sehingga menantu akan tetap punya rasa sungkan dan malu.
    coba kalau benar-benar menganggapnya sebagai ibu sendiri. Wah bisa songong itu menantu. Mertuanya sudah bangun pagi, eh menantunya bangunnya kesiangan.
    Untung saja, saya masih bujang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha, nah itu dia, di rumah asal aja, bangun kesiangan, langsung makan, pas di rumah mertua langsung di usir tuh :D

      Delete
  12. Setuju mbak Rey. Misalnya saya sama mama sendiri bisa minta pijit terus dipangku, kalau sama mertua ya sungkan begitu. Tapi prinsip saya itu kalau belum bisa bahagia-in minimal nggak nyakitin. Jadi kalau nggak bisa bermanis kata, yang penting nggak mengeluarkan kata-kata yang nyelekit. Kalau nggak bisa bermanis sikap, minimal bisa ngingatin suami untuk terus berbakti sama ortunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setujuuu banget!
      Saya memang udah dididik sejak kecil untuk takut sama ortu, jadi sekesal apapun saya sama mertua, saya nggak berani marah, bahkan berwajah jutek saja enggak :)

      Delete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, spam, link hidup dan unknown, auto klik spam :)