Etika Berkomentar Di Status Media Sosial Orang Lain

komen di media sosial

Sharing By Rey - Zaman sekarang, banyak banget orang yang pamer 'kebodohan' di status media sosial orang lain.

Lihat teman update status, langsung gatal banget pengen komen.
Udah gitu, komen asal nyablak pula.

Tulisan ini sebagai pengingat untuk diri sendiri juga!

Suatu ketika ada teman yang menulis status di akun facebooknya.
"Adik kena cacar, GWS sayang"
Kalau dibaca dengan seksama, status tersebut cuman semacam curhatan saja, namun seketika diserbu banyak orang dalam komennya.
"Kasih jagung mba, biar nggak bekas"
"Kasih bedak bun, biar cepat kering"
"Kasih ini mom, biar sembuh"
Dan masih banyak juga.

Masha Allah, saya yang baca jadi pengen ngakak, itu teman-teman apa nggak malu ya, dibaca orang lain, karena cara-cara yang mereka sebutkan itu justru berakibat buruk.


I mean, meskipun mungkin itu  metode penyembuhan zaman baheula, tapi plis lah, zaman now ilmu pengetahuan sudah berkembang, dan membuktikan bahwa apa yang mereka katakan itu justru memicu infeksi pada cacar.

Atau bisa dikatakan dengan, komen sotoy sehingga tanpa sadar pamer pengetahuan kita yang cuman sesempit itu. *sigh.

Di sisi lain, ada lagi status galau dari teman facebook seperti,
"Sebal dengan hidup ini, ingin pergi jauh rasanya"
Langsung kebanjiran komen dari orang-orang bijak,
"Alhamdulillah kamu masih diberi kesehatan, banyak orang sakit di luar sana"
"Jangan ngeluh terus, bersyukur lebih baik!"
 endebrai enbdebrei..

Padahal ya si pengunggah status sama sekali nggak butuh itu, dia cuman butuh pelukan, terlebih kalau yang mengunggah itu seseorang yang sudah sangat dewasa.
Dia juga bisa berpikir kaliii..

Kalau pikirannya tenang, sooo... yang dia butuhkan adalah bantuan kita agar pikirannya tenang, jikaaaa memang kita benar-benar ingin membantu.


Komen Kita Cerminan Pengetahuan Kita


Tenang!
Saya nggak bermaksud menyindir orang lain saja kok, justru saya sedang mengingatkan diri sendiri agar lebih bijak dan malu pamer kebodohan di status media sosial orang lain.

etika komen di media sosial

Saya juga sering kali, asal nyamber aja di status orang lain, meskipun jujur sejak berbisnis online hingga saat ini saya jauh lebih bisa menahan diri, meskipun juga sering kelepasan, khususnya komen di tulisan-tulisan yang ada di grup FB KBM yang memang isinya seringnya memancing emosi pembaca, lol.


Meskipun akhirnya diakhiri dengan penyesalan karena malu seolah saya pamer kebodohan saya di tulisan orang lain.

Iya kan, cuman orang bodoh yang mau ikutan berdebat kusir tak berujung di media sosial, menghabiskan waktu hanya untuk kegiatan nirfaedah semacam itu.
Daripada saling comment war, mending kan nulis di blog, tsah!

Selain itu, tulisan kita di kolom komentar status orang, secara tidak langsung mencerminkan isi pikiran dan pengetahuan kita.
Malu banget kan ye kalau ketahuan pengetahuan kita picik dan sempit


Malulah Pamer Kebodohan Di Status Media Sosial Orang Lain


Iya, saya sungguh malu pamer kebodohan di status orang lain.
Di mana seharusnya orang berlomba-lomba pamer kepintaran, lah saya malah pamer kebodohan, dengan sok tahu, sok bijak dan sok paling hebat.

cara komen di media sosial

Biarkanlah orang lain memiliki timeline sosial medianya sendiri.
Kalau nggak suka? ya skip saja kan bisa!

Ada banyak pilihan, dari 'hide' , 'snooze  akunnya', 'unfollow akunnya', hingga unfriend atau blokir sekalian, hahaha.

Mengapa juga kita harus menambah kegalauan orang lain dengan pamer kebodohan kita di statusnya?
Mengapa pula kita harus menambah kesedihan orang dengan menghakiminya bertopeng 'nasehat'.


Tidak temans, seringnya, orang yang update status di medsos itu, hanya ingin meluapkan perasaannya melalui tulisan.
Jika kita tidak bisa menghiburnya, setidaknya tahanlah keinginan kita untuk menghakimi meski dengan halus sekalipun.

Jika memang berniat menasehati, alangkah baiknya jika hal itu dilakukan melalui inbox atau chat tertutup.

So, siapa nih yang sama kayak saya, kadang gatal komen sotoy di status media sosial orang?

Sidoarjo, 8 Oktober 2019

Reyne Raea

Source : pengalaman pribadi
pic : unsplash

14 komentar :

  1. Mereka hanya bermaksud memeberikan perhatian, tapi itu tadi yaaah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, namun tanpa sadar perhatiannya malah bikin... ya gitu deh hahahaha

      Hapus
  2. Saya saat ini relatif pasif untuk komen di medsos, karena belakangan merasa makin sulit membedakan komentar orang-orang, walaupun saya tahu orangnya sekalipun.

    Sulit membedakan mana komentar yang memang bodoh, mana yang bodoh-bodohan karena bercanda, mana yang sebenarnya tulus tapi malah terlihat bodoh, mana yang sarkasme, dll. Bingung saya, haha.

    Kadang maksud hati bercanda, eh dianggapnya serius. Sebaliknya komen serius malah dibecandain. Jadi saya milih diam aja ketimbang ujung-ujungnya diserang netijen budiman, haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha banyak ya macamnya.
      Sebenarnya yang saya tahu biasanya komentar dari orang yang nggak kita kenal dekat pasti serius, beda dengan teman yang biasa kita interaksi, bisa jadi dia bercanda.

      Nah beda dengan status, suliiitt banget ditebak, yang nulis itu lagi galau, atau lagi digalau-galauin, atau gimana.

      Kalau komen di akun teman saya biasanya lebih banyak bercanda sih, Alhamdulillah mereka pada kenal karakter saya, jadi nggak masalah.
      Nah yang komen di status orang yang kurang kenal nih yang kudu di rem biar aman :D

      Hapus
  3. Menurut mereka itu tidak bodoh. Bagi mereka itu adalah tanda dan bentuk perhatian terhadap orang yang sedang mengalami kesusahan.

    Banyak yang memandang cara seperti yang rey sebut adalah salah satu bentuk berbagi.

    Tapi, memang pastinya ada yang menganggap itu sebagai sebuah kebodohan.

    Bagi saya sendiri, yang seperti itu hanyalah sebuah komentar saja. Tidak kurang tidak lebih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi iya pak, sebenarnya hanya terbaca bodoh kali ya.
      Perhatiannya kadang lebay, nggak liat sikon, ah sama kayak di dunia nyata sih, emang butuh banget empati dan kepekaan khususnya bagi kami kaum wanita emak-emak yang asal nyablak hahahaha

      Hapus
  4. Soal cacar air, saya pernah berbagi pengalaman dengan air rebusan serutan kayu secang. Saya kira tidak bermaksud pamer kebodohan atau pengetahuan, hanya ingin membantu saja karena sebelumnya sudah baca referensi tentang manfaat air rebusan kayu secang. Yang saya bingung, napa harus pakai jagung? Apa faedahnya? Apakah tidak akan bikin gatal. Duh, capek jika harus googling dulu soal jagung, hi hi.
    Di medsos memang banyak yang gimana, gitu. Syukurnya saya jarang dikomentari orang jika nulis status, mungkin karena saya jarang interaksi, paling like doang dan cuma sesekali komen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha, kalau mba Roh mah saya sangat yakin bukan pamer kebodohan, karena udah terbiasa menulis, dan pengetahuannya luas.

      Yang pamer itu maksudnya kayak pamer hal2 yang (terkesan) bodoh, karena di zaman sekarang ini kebanyakan masih percaya mitos semata, tanpa cari kebenaran, tapi bangga dibagikan hahahahah :D

      Hapus
  5. Kalau saya jarang banget komen mbak, palingan kalau suka like, kalau nggak suka ya udah tinggal....
    Beres deh...😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha kalau saya kadang komen sih, soalnya komen memperluas engangement akun kita :D

      Hapus
  6. 'khususnya komen di tulisan-tulisan yang ada di grup FB KBM yang memang isinya seringnya memancing emosi pembaca' hahahaha.. kirain cuma aku yg mikir giru, mba rey juga ternyataa 😂 tooss

    BalasHapus
  7. "Padahal ya si pengunggah status sama sekali nggak butuh itu, dia cuman butuh pelukan,.."

    Mana bisa mba Rey, kalo sampe saya memberikan pelukan itu bisa2 saya tidur di sofa terus di rumah

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)