Friday, September 14, 2018

3 Sikap Mertua Yang Jadi Sumber Pertengkaran Dalam Rumah Tangga


Assalamu'alaikum :)

#FridayMarriage

Sering berantem gegara mertua?
Menyedihkan banget gak sih?
Seolah pasangan kita diharuskan memilih, antara orang tuanya atau anak istri/suaminya?.

Itu rasanya, nano-nano banget!

Alhamdulillahnya, saya menikah dengan suami yang sebelumnya sudah dekat selama 8 tahunan, sudah kenal keluarganya, dan keluarganya pun sudah kenal saya, tabiat saya, sifat saya.
 Baca : Rempongnya Pernikahan Beda Suku/Pulau/Logat Bahasa
Alhamdulillah, karena itulah saya masuk ke dalam golongan istri yang begitu beruntung, tidak diuji dengan masalah mertua.
Demikian pula suami, sejak sebelum menikah saya selalu melindungi beliau dari keluarga saya, saking terlalu saya lindungi, sampai-sampai suami gak pernah 'meminta' saya secara resmi pada orang tua saya, hiks.

Sejak awal dekat dengan suami hingga saat ini, Alhamdulillah keluarga saya tidak pernah mencampuri urusan rumah tangga kami, dan mungkin juga karena kami tinggal jauh dari orang tua saya, jadi sama sekali gak pernah ada hal dari orang tua saya yang menjadi penyebab pertengkaran kami.

Demikian juga dengan mertua, meskipun saat pertama kali hendak menikah sempat terjadi drama (because i am a queen of drama, lol), namun Alhamdulillah, seiring waktu, berkat perjuangan saya, semua jadi lebih membaik dan lebih pengertian.
Bahkan, saya pernah tinggal di rumah mertua dan Alhamdulillah tidak pernah terjadi konflik sama sekali dengan mertua maupun keluarga suami.

Baca juga : Tinggal Di Rumah Mertua? Asyik Aja Asal Kamu Memperhatikan Beberapa Hal Ini!

Namun, ternyata saya hanyalah sedikit wanita yang berstatus istri dan tidak diuji dengan masalah mertua (iya, soalnya diujinya masalah lain, lol).
Di luaran sana, masih banyak wanita yang tidak seberuntung saya, mungkin juga teman yang sedang membaca tulisan ini.

Benar kan?

Jangan sedih kawan, saya beruntung diberi orang tua dan mertua yang pengertian, tapi mungkin saya gak seberuntung kalian di masalah lainnya.
Everybody has their own battle, right?

Menurut pengalaman saya, permasalahan yang muncul dalam rumah tangga karena mertua, bukanlah tanpa sebab. Bahkan, kadang masalah tersebut sudah terlihat atau bahkan dibuat sendiri sejak sebelum menikah.

Masalah-masalah tersebut adalah :

Sandwich Generation


Sandwich generation adalah, sebutan bagi seorang yang harus menanggung orang tuanya sedang dirinya sendiri punya tanggungan anak.
Himpitan 2 'beban' di atas ada orang tua, di bawah ada anak, menjadikannya bagai sandwich yang dilapisin 2 roti.

Yup, masalah ini sangat berkaitan dengan ekonomi atau uang, orang tua pasangan tidak bisa membiayai hidupnya lagi, maka mau gak mau anaknya, yaitu pasangan kita wajib membantu orang tuanya.

Sebenarnya, hal ini tidaklah menjadi masalah, malah wajib khususnya untuk seorang laki-laki.
Biar bagaimanapun juga, dalam agama Islam, seorang anak laki-laki WAJIB menanggung orang tuanya, thats way dalam Islam, anak lelaki wajib diutamakan dan diberi warisan 2 kali lipat dibanding wanita.

Namun, hal tersebut akan sangat jadi masalah jika sang anak yang sudah menikah tersebut, tidak punya kondisi ekonomi yang baik.
Sehingga jangankan menanggung orang tuanya, bahkan menanggung anak istrinya saja masih ngos-ngosan.

Saya tidak akan membahas lebih dalam dari sisi agama, yang mana jika seorang anak lebih banyak dan ikhlas menanggung orang tuanya, maka rezekinya akan jadi lebih banyak lagi.

Saya hanya akan membahas mengenai masalah ini yang menjadi penyebab utama pertengkaran dalam rumah tangga.

Kalau menurut saya, tidak ada cara lain dari masalah ini, selainnnn....
Dibicarain sejak sebelum menikah.
Baca juga : Hal-Hal Penting Yang Harus Di Bicarakan Sebelum Menikah
Tapi bagaimana kalau sudah menikah, baru sadar?

Well, melihat dari pengalaman kami, yang mana orang tua saya juga gak kaya, bahkan melewati masa tuanya dengan amat sangat pas-pasan. Demikian juga mertua, melewati masa tuanya dengan sakit-sakitan dan pastinya butuh dana.
Tidak ada cara lain selain dikomunikasikan baik-baik bagaimana jalan keluarnya.

Untuk kami, terpaksa memilih untuk lebih mementingkan kebutuhan keluarga terlebih dahulu.
Dan Alhamdulillah, orang tua mengerti, demikian pula mertua.

Memanjakan Mertua Saat PDKT Hingga Terbiasa


Sering terjadi, saat masih PDKT atau pacaran, kita tanpa sadar ingin mengambil hati pasangan beserta orang tuanya dengan hal yang berlebihan.
Memberi hadiah mahal, membantu semua pekerjaan mertua, memanjakan saudara pasangan.
Pic : Pinterest

Alhasil, mertua dan keluarganya jadi terbiasa.
Dan setelah menikah, hal tersebut terus ditagih.

Kita mungkin berkata "mestinya kan mertua dan keluarganya sadar, kami sekarang sudah menikah dan punya anak, jadi gak bisa seroyal dulu lagi"
Baca juga : Tidak Ada Suami Yang Baik Di Dunia Ini
Iyaaa.. harusnya gitu.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu.
Mertua dan keluarganya sudah terbiasa kita manjain dengan hadiah-hadiah dan perlakuan yang membahagiakan mereka.
Jadinya, sudah sulit mengukur, apakah mertua dan keluarganya menyayangi kita karena diri kita pribadi, atau karena hadiah kita.

Kalau saya, selama 8 tahun menjalin hubungan sebelum akhirnya menikah, tapi gak pernah sama sekali jaim di depan keluarganya.
Jaim yang dimaksud di sini adalah, jarang ngasih hadiah, jarang bantuin kerja di rumah calon mertua, yang ada saya malah pernah main ke rumah camer, yang lain sibuk masak, saya main PS hahahaha..
(plisssss, jangan dicontoh yaaa).

Karena hal tersebutlah, bukan masalah aneh lagi kalau saya terlihat 'malas' di rumah mertua, orang sebelum nikah juga kayak gitu. Lagian saya terlihat malas bukan berarti karena saya beneran malas.
Tapi emang bingung ikutan masak, karena selera masak saya beda dengan mereka (bilang saja kalau gak pintar masak, Rey, lol!)

Lalu bagaimana kalau ada yang sudah terlanjur menikah, dan kelakuan mertua dan keluarganya yang selalu minta ini itu, baik duit maupun nyuruh masak dan beberes atau apapun tanpa melihat keadaan kita?

Menurut saya, mau gak mau, tiada cara lain selain DI KOMUNIKASIKAN.
Hehehe, emang masalahnya cuman komunikasi ya, meskipun demikian, kadang komunikasi itu gak semudah ditulisa atau dibaca doang, lol.

Jadi, bagi teman-teman yang belum menikah, please jangan lebay cari perhatian yang mengakibatkan boomerang terhadap diri sendiri setelah menikah.

Mertua Dan Keluarganya Suka Ikut Campur Urusan Rumah Tangga Kita

 

Masalah ini sepertinya dialami oleh banyak pasangan.
Karena, setidaknya telinga saya sudah penuh dengan kisah-kisah seperti ini dari sahabat saya.
Itulah keuntungan sekaligus kerugian suka sedekah kuping, jadinya punya banyak cerita tentang masalah pernikahan, dan saya gak perlu mengalami sendiri untuk bisa lebih bijak mengatasi masalah tersebut, sekaligus tanggung jawab menyimpan rahasia orang jadi besar, lol.
Pic : Pinterest

Tapi, insha Allah saya sudah izin, sehingga sahabat-sahabat saya yang curhat tersebut merelakan kisah mereka saya bahas di sini, toh namanya gak diposting di sini, lol.

Terus terang, masalah seperti ini, saya hanya lihat di sinetron saja (saat gak sengaja liat sinetron di rumah mertua, lol).
Rumah tangga baik-baik saja, suami pengertian, eh mertua rada-rada 'nyebelin' karena hobi banget ngurusin rumah tangga kita.
Mending juga tinggalnya serumah, wajar kali ya karena berdekatan melulu.

Lah ini, rumah aja pisah jauh, tapi si mertua rajiiinnnn banget datang ke rumah, dan protes ini itu.
Dari masakan yang gak sesuai seleranya, cara mendidik anak, dan sebagainya.

Ya ampuuunnn, pas dengar cerita dari para temen saya yang curhat, saya rada-rada shock.
Ternyata di dunia nyata ada loh yang kayak gitu.
Kirain cuman sinetron saja, lol.
Baca juga : Tentang Uangku, Uangmu Dan Uang Kita
Untuk masalah ini saya rasa ada 2 cara yang bisa dilakukan :

  1. Kalau selama ini, kita hidup mandiri, tinggal di rumah sendiri, hidup dengan duit sendiri, gak pernah bebanin mertua, ya kita berhak dong protes. Tapi protesnya yang 'kaleman' dikit deh, meskipun mertua juga nyebelin banget, plis berlaku sopanlah pada beliau, biar bagaimanapun modelnya hihihi, beliau tetep orang tua yang berjasa bagi kita, yang telah melahirkan, mendidik dan membesarkan lelaki yang baik dan menjadi teman hidup kita hingga tua di dunia ini. Jadi, sebaiknya komunikasikan ke suami agar suami bisa menjelaskan dengan baik ke orang tuanya. Kalau suami gak bisa jelasin? ya terus komunikasikan biar suami bisa jelasin hehehe.
  2. Kalau selama ini tinggal di properti milik mertua, hidup masih di support mertua, ya gimana yaa?? Kayaknya siapin selang aja di kuping, jadi pas mertua ngomong, masuk telinga kiri, langsung keluar di kanan, gak nyangkut di hati biar gak jadi beban hati, lol. E tapi bener loh, ada temen saya yang kayak gitu, hidup di support mertua terus, tinggal di rumah mewah tapi punya mertua, meskipun gak serumah dengan mertua, tapi mertuanya rajin banget 'survey' ke rumahnya, lol. Dan butuh waktu bertahun-tahun sampai akhirnya teman saya itu lulus ujian tersebut, sekarang mah dia cuek, mau mertuanya ngomel kek, yang penting dia bobo nyenyak dan gak kelaparan, anak-anaknya pun terjamin, hahaha.

Meskipun masalah mertua menantu ini selalu jadi hal yang sensitif untuk dibahas, namun ternyata tidak selamanya mertua menantu bagai kucing dan tikus loh, ada beberapa sahabat yang malah bersyukur punya mertua, karena bukan saja jadi pengganti orang tua, bahkan jauh lebih baik dari orang tuanya sendiri.

Bahkan, ada juga hubungan mertua menantu yang malah jadi bisnis yang sukses besar, seperti bisnis brownies kukus Amanda, konon nama Amanda itu diambil dari singkatan ANAK MANTU DAMAI.
Keren juga ya idenya, membuat kedamaian menjadi bisnis yang menasional.

Inti dari pembahasan saya kali ini adalah, apapun yang terjadi, sebisa mungkin komunikasi di kedepankan.
Jika pasangan sulit diajak berkomunikasi, pakai komunikasi lain, misal bahasa tubuh atau semacamnya.

Well, gak mudah sih...
Tapi, bukankah menikah itu adalah ibadah??
Mana ada ibadah yang mudah?
Kalau mudah pasti hadiahnya sandal jepit hihihi..

Tapi, kita gak mau dapat hadiah hanya sebatas sandal kan ya?
Kita maunya hadiahnya Surga, so... perjuangan menuju surga itu gak mudah.
Tapi, mungkin banget, asal kita usaha.

Jadi, masihkah kita sedih gegara mertua??

Kalau saya kesal sama mertua, biasanya saya paksa hati sendiri untuk berpikir ke depan.
Saya gak mau nantinya menantu saya kesal ama saya, jadi saya bakal menghibur hati saya untuk memaklumi mertua.
Dan mendidik anak-anak saya menjadi lelaki yang bertanggung jawab, yang nantinya bisa berlaku adil bagi istri dan ibunya.
Semoga ya, aamiin.

Semoga manfaat, dan semoga bisa menghibur teman-teman yang sedang punya masalah mengenai mertua, aamiin


Sidoarjo, 14 September 2018

Wassalam

Reyne Raea

12 comments:

  1. waduh mba malah main PS klo jd camernya wes tak cucup palamu wkwkwk *kidding* tapi inilah nasipku bermasalah sama mertua padahal udah mandiri tapi mertua n ipar ikut campur segala urusan RT. Krn saya bekerja sll jd bahan pembicaraan cape, lelah daku mba tapi sejak ngeblog sih da banayk kesibukan skrg sih BODO AMAT who care :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkkwkw... ampuuunnnnn maaakkk :D

      Iya ya, untung keluarga suami sabar-sabar ya, kalau enggak, udah disiram air hahahaha

      Emang salah satu cara biar gak jadi masalah dengan masang selang di telinga yak, biar omongan cuman lewat aja, jadi ga nyangkut di hati alias cuek hahahaha

      Delete
  2. ia banyak mertua kadang yg suka ikut campur urusan anaknya walau udah nikah n pisah rumah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena masih gak rela jauh2an ama anaknya :D

      Delete
  3. Aku jadi keinget si mbahku yang nggak suka sama emakku (mertua tak suka sama menantu). Kalo diberi makanan langsung dibuang. Tapi giliran si mbahku sakit-sakitan cuma emakku yang berstatus anak mantu yang mau ngurusin. Padahal anak mantu si mbahku ada banyak. Tapi cuma emakku yang mau ngurus si mbahku. Udah macam kayak drama sinetron aja deh si mbahku.Nah, loh aku malah curhat. Semoga nanti aku nikah dengan orang yang tepat plus dapat mertua yang nggak rewel. Susah dong kalo tiap hari drama mulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hhiihihi iya ya, kayak sinetron tuh.
      Menantu yang tak diakui justru kadang yang paling peduli.

      aamiin, drama mertua itu banget deh bikin puyeng :)
      Semoga saya bisa menjadi mertua yang baik seperti mertua saya di kemudian hari, aamiin :)

      Delete
  4. Mbak Rey apakah blogger surabaya juga? kayak pernah ketemu di event cuma rada lupa hehe
    maaf mbak mampir baliknya lama banget karena baru sempet huhu

    ReplyDelete
  5. menginspirasi banget mba tulisannya. Kebetulan saya termasuk orang yang masih tinggal di properti milik mertua dan kadang memang ada sikap atau omongan mertua yang mungkin maksudnya baik, tapi cara penyampaiannya kurang berkenan di saya. Setelah baca ini jadi dapet sedikit pencerahan. thanks for sharing ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mba, semoga selalu diberi kesabaran mba, sebenarnya ga ada mertua yang jahat, hanya saja kadang penyampaiannya yang kurang memperhatikan orang lain :)

      Delete
  6. Ibu-mertua saya, dulu tidak suka kepada ibu-mertuanya sendiri (alias ibu dari ayah-mertua saya). Sampai kedua mertuanya sudah meninggal pun, ibu-mertua saya masih saja cekcok dengan keluarga ayah-mertua saya.

    Sekarang, ibu-mertua saya tidak akur juga dengan saya. Sekarang saya sedang berjuang supaya tidak lagi tinggal di properti mertua saya. Karena memang betul, keberadaan mertua dalam rumah tangga anaknya sebetulnya mengandung risiko ketidakmandirian pada anaknya yang sudah berkeluarga sendiri itu.

    Saya punya banyak sekali tante yang sudah jadi janda, lalu hidup menumpang pada anak-anak mereka. Saya sih melihatnya, tante saya tak mau ikut campur pada rumah tangga anaknya. Menurut saya, tidak mudah untuk mengedukasi para lansia supaya mau ikhlas untuk tidak ikut campur urusan anaknya.

    Saya sekarang berusaha keras mengajari anak saya mandiri. Supaya dia tidak merasa tergantung kepada saya. Supaya saya juga tidak merasa harus posesif terhadapnya terus. Karena saya ngerti, pada masa lanjut usia nanti, penyebab mertua merusak rumah tangga anaknya itu memang cuma 2:
    1. Lansia yang masih merasa harus mengasuh anaknya (yang notabenenya sudah punya pasangan hidup)
    2. Anak yang masih saja tergantung kepada orangtuanya (meskipun anak ini sebetulnya sudah punya pasangan hidup sendiri)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sharing mbak dokter :D

      Saya juga belajar banyak hal dari mertua saya, yang akhirnya bisa benar-benar menghargai saya sebagai menantunya dan mengerti serta memahami saya.

      Semoga besok saya juga bisa begitu pada menantu saya, terlebih anak saya cowok dua-duanya hahahaha.

      Memang iya sih, banyak orang tua, khususnya ibu, tanpa sadar membuat rumah tangga anaknya kacau gegara 2 hal itu.

      Semoga anak-anak kita bisa tumbuh jadi anak mandiri, dan kita juga bisa jadi ibu yang ikhlas jika saatnya tiba, anak pergi bersama keluarganya sendiri.

      Ahhh jadi melow sendiri mikirinnya, padahal anak masih piyik semua hahaha

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...