Wednesday, September 19, 2018

Dampak Nyata Dari Kehilangan Tahap Merangkak Pada Anak


Assalamu'alaikum :)

#RabuParenting

Satu hal yang sangat saya sesali sekarang adalah, kurangnya ilmu saya dalam mengasuh si kakak sejak bayi.
Well, sebenarnya sih sejak dulu saya selalu bergantung pada artikel parenting by googling.

Apa-apa Googling. Anak batuk, Googling. Sebelum ke DSA, Googling biar bisa diskusi ama DSAnya, padahal di depan DSA ya 'krik krik' doang, lol. Sebelum nebus obat dokter, Googling. Ya kan, paling parno ama antibiotik.

Tapi, ternyata Googling mulu itu gak baik, semakin dicari tahu penyebab dan testimoni orang mengenai pola asuh dan penyakit anak, semakin ngeri dan gak bisa tidur kepikiran macem-macem. Sehingga saya memutuskan untuk mengurangi mencari ilmu di Google, biar gak aneh-aneh mikirnya.

Mungkin karena hal tersebut, saya melewatkan masa penting dalam tumbuh kembang si kakak Darrell, yaitu si kakak GAK PERNAH MERANGKAK sewaktu bayi.

Jadi, si kakak memang agak lambat pola tumbuh kembangnya dibanding adiknya (bandinginnya ama adiknya aja ah, biar yang lain gak baper, lol).
Entah karena memang si kakak lahir prematur di usia kehamilan saya 36 minggu, gegara si dokter SPOG yang entah salah diagnosa.
Baca : Ketika Kakak Darrell Lahir
Atau mungkin alasan lain, si kakak bahkan baru bisa tengkurap di usia sekitar 6 bulanan. Bahkan di usia 9-10 bulan, dia belum bisa menapakan kakinya apalagi berdiri tegak.

Saya agak lupa, maklum gak pernah nulis tumbuh kembangnya, namun kalau gak salah, dia baru bisa duduk tegak di usia 9 bulanan deh, bertepatan dengan dia belajar merayap.
Setelah itu dia hanya mau merayap, langsung belajar berdiri tanpa sama sekali mau merangkak.

Dulunya saya sama sekali gak ngeh, kalau ternyata merangkak itu aadalah sebuah fase yang wajib dialami oleh bayi, karena berpengaruh banyak pada keseimbangan otak kanan dan kirinya.
Saya beranggapan kalau setiap bayi itu unik, beda-beda tahapannya, gak mungkin sama.
Dan cuek saja meski banyak orang yang heran si kakak cuman mau merayap saja.

Waktu berlalu, saya dan si papi terheran-heran, karena si kakak sangat buruk dalam hal keseimbangan.
Sejak usia setahun lebih, dia sering banget jatuh tersungkur dengan posisi pasrah mencium haribaan bumi, hhhhh..

Belum genap 2 tahun, saya dan si papi juga 'ganjen' banget pakai acara beliin kuda-kudaan yang dari karet dan bisa dinaikin.
Hasilnya? dia nekat naik sendiri, dan sukses jatuh mencium lantai dengan kondisi gigi depannya retak dan berdarah serta bibirnya juga luka.

Hadeeehhhh...
Shock emaknya.

Tapi, saya sama sekali belum ngeh kalau itu karena pola tumbuh kembangnya yang gak sempurna, terlebih saya memang agak musuhan dengan dokter anak sejak berkali gonta ganti DSA dan gak ada yang memuaskan.
Jadi, males banget deh untuk sekadar berkunjung pada ahli tumbuh kembang anak.
"Kayak anak cacat aja sampai harus ke tumbuh kembang anak", demikian pikir saya.

Berikutnya, sering banget dia jalan atau lari lalu jatuh tersungkur, lagi-lagi mulut atau giginya kena, saya sampai terheran-heran, anak ini kok pasrah ama saat jatuh, bahkan sekadar reflek menjaga wajahnya saja enggak.
Saya malah hanya sibuk menyesali diri, karena merasa selalu sangat melindungi si kakak, sehingga dia gak tau cara melindungi diri sendiri.

Sudah gak terhitung berapa kali dia jatuh dengan posisi wajah luka, paling sering sih di bagian mulut dan gigi.
Bahkan gigi susu depannya yang rapi dan membanggakan karena gak rusak sama sekali itu, copot sebelum waktunya karena dia jatuh tersungkur dan kena giginya berkali-kali.
Puncaknya, saat sedang ompong karena gigi susu depannya tanggal sebelum waktunya, eh dengan pedenya dia naik sepeda kencang-kencang dan sukses menabrak mobil yang sedang diparkir di pinggir jalan, dan sukses mencium plat mobil tersebut dengan gusi depannya.

Langsung gusinya sobek lebar.
Gak usah nanya bagaimana perasaan saya, hampir saja saya melahirkan saat itu pas liat si kakak pulang dengan mulut berlumuran darah.
Waktu itu saya sedang hamil tua dan tinggal menunggu HPL saja.
Baca : Pengalaman dan Biaya Konsultasi Ke Dokter Spesialis Gigi Anak Di Surabaya


Saya mulai curiga dan ngeh kalau semuanya karena kurangnya keseimbangan tubuhnya dikarenakan kurang lengkap fase tumbuh kembangnya dahulu alias melewatkan fase merangkak, setelah kakak masuk SD dan ada sesi tanya jawab dengan psikolog anak di SDnya.

Saat itu, entah si kakak di test apa, sehingga si psikolog tersebut tahu kalau si kakak sangat kurang dalam keseimbangannya, dan menanyakan kepada saya tentang tumbuh kembangnya.
Baca juga :  Drama Masuk SD
Waktu itu saya kesal banget sama si psikolog tersebut karena beliau seolah menuduh saya gak becus menjaga anak saya. Dan tetep menganggap kalau setiap anak itu unik.

Tapi, karena kejadian si kakak terjatuh berkali, lama-lama saya jadi curiga juga dan akhirnya Googling juga, laluuuu... ternyata benar sodara, hiks..
(Saya mah gak percayaan, nanti cek sana sini dan nemu beberapa testimoni yang sama, baru deh mulai percaya hahaha.

Sedih ya..

Terlebih semuanya sudah terlambat.

Pentingnya Fase Merangkak Pada Bayi


Fase merangkak adalah salah satu tonggak perkembangan motorik bayi di usia 7 hingga 8 bulan. Menurut teori, merangkak adalah sikap refleks alami yang membantu bayi mengontrol tubuhnya untuk berpindah tempat, sebelum bisa berjalan dengan baik. 

pic : Pinterest

Lalu, bagaimana kalau bayi hanya merayap saja, seperti kakak Darrell dulu?

Pada awalnya, sebelum bisa merangkak, bayi terlebih dahulu mengawalinya dengan ketrampilan merayap.
Merayap adalah gerakan homo lateral alias satu arah (tangan kiri maju, kaki kiri maju), sedang merangkak adalah gerakan kontra lateral atau menyilang (tangan kiri maju, kaki kanan maju).

Gerakan merangkak yang benar adalah bayi menggunakan kedua tangan dan lututnya untuk bergerak seperti hewan berkaki empat sedang berjalan (tangan kanan dan kiri beserta tungkai kanan dan kiri bergerak bergantian secara simultan).

Untuk bisa merangkak, sebelumnya bayi harus bisa menahan kepala tegak tanpa bantuan dan memiliki otot tangan dan kaki yang kuat untuk menahan berat badannya.

Jadi, meskipun bayi melewati fase merayap seperti kakak Darrell, namun tetap tidak mau merangkak, maka keseimbangannya tetap kurang.

Selain harus melewati fase merangkak, bayi juga harus merangkak dengan benar, yaitu maju ke depan. Bukan hanya mundur, mengesot, atau berguling.
Karena kesemuanya berkaitan dengan perkembangan otak, mungkin ini kali ya yang sempat dicurhatkan mbak Novri di status facebook saya kemarin tentang anaknya yang masih kurang dalam hal baca tulis dengan kecurigaan karena melewati tahapan merangkak.


Sebuah penelitian juga mengaitkan antara berjalan dini (lebih cepat jalan) atau tidak merangkak di usia bayi akan mengalami kesulitan akademis di kemudian hari.
Hasil penelitian menunjukkan, anak-anak yang tidak merangkak atau hanya merangkak sebentar (cepat jalan), mencapai nilai lebih rendah dalam uji kemampuan anak prasekolah.

Dampak nyata dari pengalaman kakak Darrell yang tidak mau merangkak saat bayi


Keseimbangan amat sangat kurang.

Si kakak sudah memperlihatkan keadaan seperti ini sejak mulai belajar jalan di usia setahun lebih. Berkali terjatuh dan sedihnya lagi, refleknya sangat kurang sehingga jatuhnya pasrah saja tanpa ada usaha melindungi diri dengan reflek pakai tangannya.

Kosentrasi yang agak kurang.

Satu hal yang bikin saya kadang gak sabaran adalah, si kakak sulit diajak kosentrasi, alhasil dia sangat kurang di pelajaran Mate-Matika atau berhitung.
Awalnya saya pikir hal tersebut karena menurun dari saya yang memang kurang di perhitungan.
Tapi setelah membaca banyak artikel dan testimoni, saya jadi curiga penyebabnya adalah karena gak merangkak juga.

Apakah tidak mau merangkak itu menurun dari orang tua juga?

Entahlah, karena setelah saya pikir-pikir saya juga kurang banget dalam segi keseimbangan dan konsentrasi, saya jadi curiga mungkin dulu saya juga gak pernah merangkak.
Sayangnya nanya ke mama saya, beliau sudah lupa, bener-bener deh tuh emak saya.

Apakah bayi tidak merangkak berakibat kesulitan dalam belajar?

Tidak juga!
Kakak Darrell Alhamdulillah masih bisa mengikuti pelajaran yang ada, hanya saja kekurangannya di kurangnya konsentrasi.

Apakah bayi tidak merangkak jadi gak suka baca?

Menurut teori, anak yang tidak melalui tahap merangkak akan mengalami gerakan konvergensi (pemusatan pandangan) yang terganggu, sehingga penglihatannya jadi buram, letih, atau nyeri kepala, Hal tersebut membuat anak jadi tidak suka baca karena kepala jadi pusing.
Baca juga : Paperless Di Sekolah Dasar, Tanggung Jawab dan Kebijakan Penggunaan Gadget Pada Anak
Tidak terjadi pada kakak Darrell !
Si kakak malah sangat suka baca, sama kayak maminya.
Tapi memang sih, kadang-kadang dia ngeluh matanya sakit, namun belum bisa dipastikan itu penyebab dari melewatkan tahap merangkak, karena si kakak kalau sudah baca, lupa daratan, mau di ruangan gelap, dia teta[ ngotot baca sambil didekatkan wajahnya ke buku.
Wajarlah matanya jadi lelah.

Well, semua tulisan ini basic dari pengalaman anak saya pribadi.
Untuk lebih jelasnya, sebaiknya konsultasikan ke ahli tumbuh kembang anak SEJAK BAYI.

Menurut saya, salah satu penyebab si kakak dulu gak mau merangkak adalah, karena kurangnya stimulasi yang saya berikan.
Ittupun juga beralasan, dulu saya begitu parno anak ditaruh di lantai, secara dulu kami masih tinggal di rumah mertua dan banyak orang mondar mandir di sana, sayanya jadi parno takut si kakak diare kalau merangkak di lantai, terlebih memang si kakak sejak kecil bermasalah dalam pencernaannya.
Kasian deh si kakak.
Kadang saya pikir semua itu karena terlahir permature.

Selain itu, baby walker sepertinya memegang peranan penting dalam membuat bayi malas merangkak.
Si kakak dulu sejak kecil lebih banyak diletakan di baby walker, secara maminya lebay kalau lihat anak duduk atau beraktivitas di lantai yang kotor.

Mengapa saya menyimpulkan baby walker memegang peranan juga?
Karena si baby Adean sama sekali gak pernah pakai baby walker, dan dia tumbuh jadi anak yang kuat ke sana ke mari merangkak dengan cepat dan tanggap.

Bunda / mom / mama / mami / mommy semua, yuk perhatikan tahapan tumbuh kembang si kecil.
Jangan sampai ada tahap yang terlewatkan.
Dan agar lebih baik lagi, perhatikan tumbuh kembangnya sejak 1000 hari usia pertama anak.
Agar anak bisa tumbuh sehat, kuat dan optimal.

Ada yang senasib dengan saya, anaknya gak melewati tahap merangkak waktu bayi?
Share di komen yuk, apa efeknya setelah dia besar?

Semoga manfaat.


Sidoarjo, 19 September 2018

Wassalam

Reyne Raea

18 comments:

  1. wah ternyata pengaruhnya ke keseimbangan ya. dulu salah satu sepupuku nggak mengalami fase merangkak juga tapi dia ngesot tapi ya dulu kan aku masih nggak ngerti tumbang anak. he. kalau anakku alhamdulillah melewati fase merangkak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, saya juga baru tau setelah anak gede heheheh

      Delete
  2. tahapan fase pertumbuhan alami anak ternyata penting banget ya, kalo ada yang terlewat berpengaruh di kemudian hari, makasih, pengetahuan parenting yang bermanfaat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penting banget deh, jadi nyesal saya taunya telat

      Delete
  3. Anakku ga merangkak dan ga pakai baby walker. Dari ngerayap, tahu2 udah berdiri aja. 😂😂 Dia tetep lincah sih. Cuma kayaknya masih perlu diamati lagi. Kalau kelewat gitu solusinya gimana bun?? Apa harus latihan merangkak lagi walau sudah besar? Saya kebayangnya memang kalau ga terbiasa memakai pergelangan tangan untuk nahan tubuh, pas jatuh refleknya jadi ga make perglangan tangan buat nahan badan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, refleknya yang kurang, karena gak terbiasa gunakan pergelangan tangan.

      Seharusnya sih dibawa ke ahli tumbung kembang anak, cuman belum sempat2, saya hanya googling2, salah satu caranya melatih keseimbangan dengan kegiatan ekstra.
      Atau bisa juga main merangkak2 gitu

      Delete
  4. Anak-anak saya bersekolah di sekolah inklusi. Ada beberapa ABK di sana. Waktu saya ngobrol dengan salah satu guru, katanya dari cerita orangtua murid ABK, salah satu sebabnya adanya tahapan tumbuh kembang yang terlewatkan, seperti tidak merangkak. Dulu saya pikir anak seperti itu karena lebih pintar, mungkin seperti kelas akselerasi seperti itu. Ternyata malah kurang baik, ya. Makasih sharingnya, Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, saya juga berpikiran kurang lebih sama, malah bangga anak gak pakai merangkak langsung berdiri hahaha :D

      Delete
  5. Anakku kurang merangkak terapisnya bilang ayo diulang moment merangkaknya kurang lebih seperti itu

    ReplyDelete
  6. Baca tulisan ini aku langsung sakit perut. Keinget bunda mertua yang betah ngediemin anakku di baby walker. Di rumah memang nggak pake, tapi dia sering banget dipinjam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya gapapa kayaknya, asal bayi masih mau belajar dan agak lama merangkak.
      Kalau anak saya emang pakai baby walker dan saya kurang meng stimulasi, jadi pas dia gak mau merangkak ya saya cuekin saja :)

      Delete
  7. Dua dari tiga anakku nggak melewati fase merangkak. Tapi alhamdulilah sama dengan kakaknya yang melewati fase merangkak. Sekarang usianya 11 tahun dan alhamdulilah sama dengan kakaknya yg 12 th. Yg kecil 2 th juga nggak merangkak. Tapi mungkin tiap anak beda beda ya Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah mba :)
      Iya, tiap anak memang beda-beda mba, semua anak sudah diberi hal yang sama oleh Allah, namun dengan stimulasi dan perkembangan sesuai hal yang normal membuat anak tumbuh maksimal :)

      Delete
  8. Mommy sabar ya, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri yg penting sudah belajar dari kesalahan. Yg penting kakak darel sehat walafiat, banyak berdoa sama Allah, semoga datang keajaiban, kakak darel bisa menjaga dirinya sendiri, doa orgtua diijabah. Amiin

    ReplyDelete
  9. Orang tua belajarnya tanpa henti ya mbak, anakku dlu melewatkan masa krusial pengenalan tekstur kasar MPASI, keterusan deh sampe bisanya makan lembut mulu hihi :)

    Sehat selalu ya mas Darel, jangan jato2 lagi hehe. Duh kemaren ketemu di PTC kayak udah punya ABG nih mba Rey. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener ya, harus selalu belajar tanpa henti.
      Si Darrell mah menjulang saja, tapi kuyus hiks

      Delete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...