Wednesday, April 03, 2019

Mama, Terimakasih Sudah Menolak Mengasuh Cucumu


Support Nenek


Nenek mengasuh cucu
pixabay


Assalamu'alaikum :)


Sharing by Rey , #RabuParenting - Kadang iri banget dengan teman-teman yang masih bisa eksis bekerja di kantoran, masih bisa menikmati serunya kerja kantoran, hang out sesekali bareng teman kerja, bahagia menerima gaji dari hasil kerja sendiri, selalu dandan cantik dan wangi setiap hari.

Semua itu terjadi, karena ada ibu yang meng-support mereka, mau bantu menjaga anak-anak mereka, baik jaga langsung, maupun hanya mengawasi saja.
Meskipun, ada juga beberapa orang yang masih bisa bekerja kantoran tanpa harus di-support ibunya.



Nenek mengasuh cucu sudah seperti hal yang lumrah di zaman sekarang, bahkan sejak dahulu kala. Meskipun selalu marak bahasan tentang hukum anak di asuh nenek menurut Islam, karena orang tua sejatinya bukan pengasuh anak kita dengan memilih anak dititip ke nenek.


Mama Menolak Mengasuh Cucunya


Masih teringat jelas di pikiran, saat mama memberikan ultimatum yang sedikit eh banyak ding, membuat hati sedih.
"Nanti kalau mama sudah pensiun, mama tidak mau jaga cucu ya, mama mau menikmati hari tua mama dengan tenang, mempersiapkan saat dipanggilNya nanti"
Gak usah ditanya bagaimana reaksi saya dan juga kakak saat mendengar kata-kata beliau, sedih banget. Terlebih, mama bukanlah sosok yang peduli kami sebagaimana ibu lainnya peduli pada anaknya.
Baca : Happy Birthday Rey! Jadilah Wanita Yang Ikhlas
Mama adalah sesosok ibu yang selalu mengandalkan uang untuk menutupi keluhan kami.
Kalau kayak ibu-ibu lainnya yang setiap kali anaknya butuh uang, langsung dikasih sih masih mending ya.Tapi mama adalah tipe ibu yang selalu diam saja saat kami mengeluh dan saat beliau gak punya uang, huhuhu.

Tidak, bukan beliau yang salah.
Hanya saja mama terlahir sebagai anak yang manja dulunya, separuh jiwanya mewarisi sifat ibunya, nenek saya yang juga terlahir sebagai wanita manja, sejak kecil dimanjakan orang tuanya, setelah menikahpun dimanjakan suami dengan segala kemudahan baginya.

Allah maha adil, tak mungkin bisa seorang manusia menjalani hidup yang indah-indah saja, sehingga ketika pernikahannya memasuki tahun belasan, sang suami, kakek saya, ayah dari mama saya, akhirnya dipanggil Allah, dan meninggalkan kesulitan bagi nenek yang memang tak pernah punya keahlian semasa hidupnya.

Sejak kecil, rasanya kami kekurangan perhatian mama, beliau tak pandai memperlakukan kami seperti ibu lainnya memperlakukan anaknya.
Mama tidak pernah memeluk kami sepanjang ingatan saya, tidak pernah peduli dengan kebutuhan kami, bahkan sampai sekarangpun, saat kami pulang ke rumah mama, dengan harapan seperti lainnya, kangen masakan mama atau semacamnya.

Eh yang ada, mama langsung siap sedia menodong kami untuk segera masak enak, hiks.

Dalam keadaan seperti itu, ditambah dengan ultimatumnya yang seperti membenarkan pikiran kami bahwa mama gak suka punya anak, gak suka direpotkan anak semacam benar adanya.

Sedih banget!


Ketika Penolakan Mama menjadi Keberkahan (Insha Allah)


Actually, dulunya saya begitu mencintai anak kecil.
Suka banget!

Sewaktu adik saya (almarhum) masih kecil, sayalah yang sering menggantikan mama menggendongnya tiap saat.
Iya, mama saya sepertinya memang kurang begitu pandai mengurus anak hahaha.
Bahkan anak kesayangannya, adik saya, pun jarang digendong mama.

Kasih sayang beliau pada anak, hanya ditunjukan dengan memenuhi semua kemauan anaknya.
Demikianlah, adik saya dulu adalah seseorang yang beruntung gak pernah dipaksa-paksa mama.
Asal gak sakit, mama rasanya cukup dengan itu.

Jadinya?
Adik saya tumbuh dengan badan kurus, karena memang gak pernah dipaksa makan.
Giginya rusak, karena mama gak peduli kalau adik saya gak mau gosok gigi, hahaha.

Justru saya sebagai kakak yang lebih peduli padanya.
Saya selalu galak, mengajarkan adik saya untuk tidak manja, tidak selalu bergantung pada orang lain, dan berakhir dengan mama saya ngomel panjang lebar karena saya begitu kejam katanya, huhuhu.

Iya, saya sejak kecil suka terhadap anak kecil, peduli pada mereka, sampai-sampai saya sering dititipin anak orang untuk dijaga.

Saya pernah menjaga sepupu saya selama ibunya bekerja.
Di sekolahpun, saya dititipin anak guru yang ikutan mama bapaknya ngajar.
Sungguh saya begitu manis bukan? hahaha.

Sampai akhirnya saya punya anak sendiri.
Dan uwow!!!
Ternyata tidak semanis yang dulu saya alami.


Punya anak sendiri itu berarti...

  • Kudu rela multitasking yang mana agak sulit bagi saya melakukan hal itu.
  • Say babay terhadap tidur nyenyak di malam hari
  • Say babay terhadap tidur cukup
  • Say babay terhadap mandi dengan nyaman
  • Say babay dengan sholat khusuk, apalagi ngaji?
  • Dan berbagai kerempongan lainnya, yang terus terang gak pernah saya rasakan sebelumnya, even saya sering menjaga anak kecil dulunya.

Dari berbagai kerempongan tersebut, saya kembali teringat akan mama.

Memang sih, di sepanjang hidup kami, sepanjang ingatan kami, kasih sayang mama tidak seperti kasih sayang ibu lainnya.
Ingin banget saya juga dimanja mama.
Ingin juga saya tidur dipangkuan mama, dibelai-belai mama, curhat dengan puas pada mama.
Ingin dimasakin makanan kesukaan seperti ibu mertua saya memperlakukan anaknya.

Tapi, saya juga tahu, betapa mama mengorbankan banyak hal semasa membesarkan kami, salah satunya adalah hubungannya dengan sang pencipta, Allah.

Mama tidak pernah sholat sepanjang ingatan kami, sampai adik saya meninggal.

Dulu, saya kadang merasa kalau mama begitu kafir, tidak pernah sholat, apalagi puasa.
Beliau baru mau kenal sholat saat adik saya telah meninggal, saya pikir mama baru sadar akan kematian, tapi sepertinya saya salah.

Jawabannya saya dapat setelah punya anak sendiri, dan ampun deh, sulit banget bisa khusuk beribadah, padahal saya masih sangat beruntung, minimal saya menjaga anak, ditemani popok sekali pakai, TV, youtube dan mainan lainnya.

Sedang mama saya?
Boro-boro!
Baca : Ramadhan Dalam Memori Masa Kecil
Bagaimana bisa khusuk beribadah, sedang kami selalu memberikan najis melalui pipis maupun pup kami tanpa pernah memakai pospak?
Bagaimana bisa sholat? sedang kami nempeeelll aja sama mama, karena mama gak bisa menyetelkan TV apalagi youtube? untuk memalingkan perhatian kami sejenak.

Mama akhirnya sholat, karena bebannya sedikit berkurang.
Adik saya meninggal saat saya berusia 17 tahun.
Itupun saya sempat menemani mama setahun, rela menunda masuk kuliah demi menemani beliau agar tak begitu kesepian selepas kepergian adik.

Tapi mama hanya bisa sholat tepat waktu, dan puasa sebulan penuh di waktu bulan Ramadhan.
Mama belum mau mengaji, atau lebih tepatnya belum bisa mengaji sama sekali karena tak tahu menahu dengan Al Quran.

Sampai akhirnya beliau pensiun, dan suatu hari, mama meminta saya membelikan Alquran yang ada pen buat belajar mengaji.
Baca : PT Pos Overload Job?

Saya membelikannya, dan setahun pasca saya mengirimkan Alquran itu, saya begitu terharu saat mudik ke rumah mama, mendengar beliau mengaji di tengah malam bolong.

Masha Allah, Walhamdulillah.

Beliau akhirnya bisa mengaji.
Dan menjalani harinya dengan mendengarkan kajian dari TV, mengaji setiap saat, sholat tahajud disambung tadarusan sampai Subuh.

Ya Allah...
Betapa jalanMu begitu indah.

Rasanya, hilang semua kekecewaan di hati karena mama seolah tidak peduli dengan cucunya.


Jika mama harus mengasuh cucu-cucunya, mungkin sampai detik ini beliau belum bisa mengaji.
Meskipun sejujurnya saya tidak akan tega, seandainya mama mau menjaga anak saya berarti semua pekerjaan bakal dilakukan beliau.

Saya sebenarnya hanya butuh mama mengawasi anak-anak yang bakal dijaga oleh ART.
Tapi, mana mungkin beliau bisa konsen belajar mengaji dan semacamnya, kalau anak-anak selalu mengganggu beliau.

Manalah mungkin juga beliau tega membiarkan ART menjaga anak-anak, sedang anak-anak ingin digendong oleh neneknya?

Saya rasa, tidak ada seorang nenek yang gak suka terhadap cucunya saat memutuskan gak mau jaga cucu. Mereka hanya ingin sedikit istrahat dari tugas menjadi ibu sejak kita kecil.

Saya tahu banget betapa berat dan membosankan menjaga anak sendiri itu, apalagi ibu kita yang zaman dahulu pastinya tidak semudah kita dalam mengasuh anak-anaknya.

Masa iya kita tega menambah lagi buntut beban mereka, dengan mengasuh anak-anak kita?

Mama..
Terimakasih sudah menolak mengasuh cucu-cucumu, sehingga dosa anakmu ini tidak semakin panjang, karena membuatmu tak punya waktu sedikitpun untuk hidupmu, untuk bekalmu saat berpulang nanti.

Semoga #RabuParenting ini bermanfaat :)

Sidoarjo, 03 April 2019

Wassalam

Reyne Raea

36 comments:

  1. kalau masalah mama saya tidak bisa komentar sis pinginnya mewek saja bawaannya

    ReplyDelete
  2. Ada baiknya juga ya mbak Rey...anak-anak jadi ga 'spoiled' sama neneknya...anak-anak yang deket ama neneknya minta ampun deh, jadi egois banget...karena si nenek balas dendam kalo dulu ia ga bsa mencurahkan cukup perhatian ke anak-anaknya dan beliin ini dan itu karena ekonomi keluarga saat itu tidak stabil...begitu dapat cucu, habis deh semua dicurahkan ke cucu...segala perhatian dan energy yang tersisa....si cucu mau apa aja dikasih, dibawa liburan kemana-mana...kompakan, pake baju warna yang sama...liburan juga kompak ke Disney land pake baju dan luggage mickey mouse... Tapi mbak Rey, jangan dikirain si Mama happy, dia suka marah ama si nenek karena sudah mendidik anaknya jadi hambur uang dan manja...tapi nenek bilang "ah kamu jeles aja"....So, mbak Rey benar, apa pun dia, selalu ada hikmah di baliknya...:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar juga sih mba, karena kadang juga pola didik ortu ama nenek itu beda, maklum beda generasi hehehe.

      Selalu ada hikmah apapun itu ya :)

      Delete
  3. anak kkit bukanlah tanggungan untuk orang tua, sesibuk apapun kita haruslah bisa mengurus anknya sendiri karena dulu juga orang tua kita selalu mengurusi kita dari kecil hingg dewasa baik sesibuk apapun mereka, jadi menurut saya ad baiknya seorang anak menjadi pribdi yang mendiri terutama ketika berumah tangga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget sih, cuman dulunya baper, maklum belum memahami banget hhahaha

      Delete
  4. Dibalik itu ada sisi positifnya, kak Rey.
    Kak Rey diajarkan secara tidak langsung jadi pribadi yang lebih tegar dan peka kedekatan psikologis dengan anak sekaligus dididik mandiri.

    Meski mamanya kak Rey menolak mengasuh anaknya kak Rey, tapi aku yakin dalam hati mamanya kak Rey itu menaruh kasih sayang sangat besar kepada cucunya.

    ReplyDelete
  5. Hummm komentarku masuk gak yah. Soalnya td gagal kirim

    ReplyDelete
  6. Ternyata enggak masuk.

    Humm meski mamanya kak Rey bilang ndak mau ngasuh, tapi dlm hatinya pasti pengen. Gak ada nenek yg gak sayang sama cucu dan anaknya. Kdang cucu itu jd obat mujarab buat kakek neneknya. Semacam hiburan yg gak pernah bsa dbeli hehe..
    Humm kalo ibuku, malah pengeb ngasuh cucunya kalo aku dah punya anak nanti. Meski aku gak mau sepenuhnya biarin ibuku ngasuh hehe...

    Semoga Allah ridho dg niatan mama kak Rey untuk mendekatkan diri sama Allah.
    Mama bukan gak penhen ngasuh, tp waktunya dh gk terlalu tepat untuk ngasuh, krna harus lebh dekat sama Allah. Smoga aja slalu ada jalan untuk anak" kak Rey agar dekat dengan neneknya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa mba, Alhamdulillah juga karenanya mama saya jadi lebih baik dalam beribadah sekarang :)

      Delete
    2. Iyaa kak dan itu kan patut dsyukuri banget😉

      Delete
  7. Mbak Rey, aku pgn bgt nangis bacanya, sampe nunda makan gara2 langsung tertarik buat ke blog ini waktu baca captionnya di IG. Aku salut bgt sama mbak Rey yg selalu bisa mengambil sisi positif dari setiap permasalahan, kalau ibuku yg bilang "Nanti kalau mama sudah pensiun, mama tidak mau jaga cucu ya, mama mau menikmati hari tua mama dengan tenang, mempersiapkan saat dipanggilNya nanti" mungkin aku bisa nangis 7 hari 7 malem, karena sebelum aku merit aja ibuku udh bilang "kalau km mau nanti anakmu kirim ke kampung aja, biar ibu yg ngasuh, km sm suamimu fokus kerja aja"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awww makasih sayyy..

      hehehe, mungkin karena saya emang sudah terbiasa ga mendapatkan kasih sayang seorang ibu layaknya ibu lainnya kali ya, kecewa sih, tapi gak terlalu juga.

      Dan coba berpikir positif, syukurlah mama saya akhirnya memilih hidup untuk lebih mendekatkan diri kepadaNya :)

      Delete
  8. wah iya memang merepotkan nenek kalau dimintai tolong untuk mengasuh cucu, bisa kasihan nggak bisa tenang, apalagi cucunya bandel ya kak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sih, kasian juga kalau nenek langsung mengasuh cucu, terlebih neneknya udah gak kuat dan si cucu aktif :)

      Delete
  9. Kasih ibu memang sepanjang masa...

    ReplyDelete
  10. Mba Rey kok aku berkaca2 yaa bacanyaa.. aku lemah klo udah urusan parenting dan anak2 gini, bawaannya baper.. semoga mama dan mba rey sekeluarga diberikan keberkahan dan kesehatan terus yaaa..

    ReplyDelete
  11. duh awal baca sempat suujon ma mamanya... semua ada hikmahnya kata orang2 yah. Semangat mba

    ReplyDelete
  12. Bagus banget nih, mamanya mbak rey memberi kesempatan mbak rey untuk : menjadi ibu dan istri yg multitasking, mempertimbangkan keluarga. Masalah pola asuh, dan aturan ttg anak2 lebih terbuka untuk diatur sendiri oleh mbak rey dan suami. Rela menurunkan ego untuk berkarya dari rumah/ tidak bekerja. Suami juga jadi lebih banyak mengerti kondisi mbak rey.

    Karna begitu yg kualami. Dulu saat ada mertua dirumah, suamiku juga sering lepas tangan. Mulai dari pulang kerjanya makin malem, karna merasa istri ada temennya dirumah. Terus dirumah juga ngegame doank karna anakku asyik main sm kakek neneknya. Pas mertuaku pulang, semua kembali seperti sedia kala. Suamiku pulang cepat, bermain sm anak dirumah, jarang ngegame, kali ada waktu luang palingan bantuin nyuci piring sama motong2in sayur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe iya mba, kadang juga kalau ada temen, atau yang diandalkan, suami jadi lebih gak peka ya hahaha

      Delete
  13. Sedih bacanya mbak Rey :(
    Mamaku juga baru bisa ngaji itu setelah selesai proses kemoterapi di Jakarta sekitar tahun 2000an... dan mamaku juga pernah bilang katanya mendingan capek kerja didapur daripada jagain anak kecil wkwkwk soalnya jagain anak kecil capeknya berlipat ganda hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ya, ortu kadang terlalu rempong urus anak sampai ga sempat bisa dekat dengan Allah huhuhu

      Delete
  14. terharuuuu banget bacanya mba :). syukurlah mama skr udh lebih rajin dalam solat dan ibadah2 lain yaaa..

    aku sendiri memang ga mau juga ngasih anak ke ortu ato mertua untuk di jaga. lebih krn sadar diri mereka udh tau.. ga mungkin sanggub lagi... makanya untuk anak2 aku cari babysitter yg ngasuh mereka selama aku di kantor. lagian mama kandungku di medan.. ga mungkin lah ngirim anak2 sejauh itu ;p..

    ibu mertua sih rumahnya deket banget ama aku. tp ya ituuuu, namanya ibu mertua yaaa bok, ga mungkin aku suruh2 hahahahaha .. drpd perang dunia ntr...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha, sama mba, saya juga jauh sih makanya gak mungkin banget nitip terlebih udah di ultimatum hahaha

      Dan iyes, mending mandiri cari nany gitu lebih aman dunia ya hahaha

      Delete
  15. Ini juga ibuku banget, Mbak Rey. Beliau bilang, "ibuk udah tua, udah gak kuat. Wes gak wayahe momong putu" (Mbak Rey, you do understand Boso Jowo kan? Hehe..)
    Ya maka inilah ku langsung resign begitu Baby Sha lahir, karena udah gak ada adik2ku yang bisa jaga kayak waktu Anak Mbarep dulu aku tinggal kuliah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkw andersteeenn mbaaak hahaha
      tapi salut loh ama ibu yang berani ngomong gitu, kebanyakan soalnya anak bakal kecewa dengarnya, padahal ya mereka emang udah tua, kasian kalau diminta momong cucu :)

      Delete
  16. Saya setuju kalo kita nggak boleh ngerepotin orang tua dengan nitipin anak setiap hari dari pagi sampe sore. Dulu dia ngasuh anaanak tiap hari nggak pernah ngeluh, masa udah tua musti jaga cucu lagi? Kalo nitip anak sama pembantu atau baby sitter dan nenek cuman ngawasin doang masih mending deh, walaupun capek juga karena si nenek pasti ikut ngurusin juga karena nggak percaya ama kerjaan si pembantu.

    Nggak semua nenek metasa ngurus cucu itu sebagai beban, lho. Ada temen saya jagain dua cucu (5 th dan 1,5 th) dan dia happy banget, sering ceritain kelakuan dua cucunya itu. Dia malah bilang, "Saya heran sama orang yang nggak mau ngurus cucu. Padahal kan seneng banget."

    Anak saya paling gede, cewek, umur 26 tahun. Mungkin kalo sebentar lagi dia menikah baru deh saya bisa buktiin, masuk kelompok yang seneng ngurus cucu apa yang anti.



    ReplyDelete
    Replies
    1. hehhe iya mba, sebenarnya mama saya ngomong gitu, karena dia tahu kalaupun kami anaknya gak tega biarin diajaga cucunya, dan nyariin pembantu, tetep juga mama ikutan jaga :)

      Delete
  17. Waktu cepat berlalu koq Mbak Rey. Bentar lagi krucil2 Mbak Rey dah jadi remaja. Pasti kangen kerempongan ini, hihi.

    Dinikmati mbak, aslii kalo dah pada gedhe rumah jadi sepi, loh. Kangen masa kecil krucil2 ini.

    Btw alm ibuk waktu itu juga masih aktif menjadi guru sd, beda kota pula dengan tempat tinggal kami. Jadi si kecil dalam asuhan kami dibantu ART yg sering bongkar pasang ini.

    Sisi positifnya, si kecil jadi tumbuh lebih dekat ke kami daripada kakek neneknya. ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, banyak yang bilang gitu ya, jadi penasaran, hehehe
      Semoga saya dan para ibu lainnya selalu diberi kekuatan dan keikhlasan :)

      Delete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, spam, link hidup dan unknown, auto klik spam :)