Ketika Orang Lain Ribut Meski THR Puluhan Juta, Saya Sibuk Memilih Antara Makan atau Baju Anak

orang ributin thr

Sepertinya udah banyak yang terima THR ya?, saya liat curhatan tentang tunjangan hari raya dan gaji di aplikasi Threads soalnya. Dan baru ngeh, iya ya sekarang tanggal 26, dan pastinya udah banyak yang baru gajian, sekalian cair buat lebaran dan bonus juga.

Saya yang bahkan.... ah sudahlah. Intinya saya tetap ikut berbahagia melihat riuh rendah orang-orang mulai bikin post-post keuangan buat lebaran. Namun lumayan shock juga ketika membaca curhatan beberapa pasangan suami istri yang berantem gegara uang THR dan bonusnya.

Yang bikin shock itu bukan karena mereka terima THR, sementara saya bahkan gaji aja masih di awang-awang, padahal gaji saya imut banget, Alhamdulillah, hehehe.

Namun melihat dari jumlah THR dan gajinya tuh sebenarnya mencapai belasan juta, bahkan ada yang lebih.

Eitsss, tahan dulu tuduhan kalau saya tidak berempati, insya Allah saya paham, kalau masalah mereka, lebih dari sekadar tuduhan orang-orang bahwa tak bersyukur.

Justru yang pengen saya ambil hikmahnya di sini adalah, untuk lebih menyadari, bahwa ada uang tak selalu bikin masalah hidup jadi simple. Banyak juga yang ketika ada duit, masalahnya tetap berat.

Baca juga : Orientasi Sama Duit? So What?


Saya jadi ingat beberapa hari kemaren, sempat liat postingan video podcast Bilal dan Vivia di Suara Berkelas. Di situ Vivia mengatakan bahwa ternyata orang-orang yang punya privilege itu, bukannya tanpa beban. Mereka juga punya beban yang sama beratnya meski beda nominal dari orang yang nggak punya hal tersebut.

Vivia menceritakan, ketika mereka punya kegiatan untuk jualan sebesar 250 ribu, salah seorang teman Vivia yang merupakan anak orang berada malah ngomong,

"Bukannya kalau cuman 250ribu, malah bikin orang tua tersinggung nggak sih?"

Wao, bisa menghasilkan uang segitu, buat sebagian orang tua udah sangat membanggakan. Tapi buat anak yang punya privilege ternyata itu sangat kurang, mereka harus punya target lebih besar untuk bisa membahagiakan orang tuanya.

Saya pikir ini mirip dengan kondisi yang saya sering lihat di mana-mana ini.


THR Banyak, Pengeluaran Lebih Banyak

Tadi saya sempat sekilas baca keluhan seorang istri yang berantem dan balikin uang THR suaminya sekitar 16 jutaan. Menurut dia, uang segitu nggak cukup untuk biaya lebaran.

Mulai dari mudik, pakaian, dan lainnya. Termasuk THR buat anak-anak atau keponakan.

Been there, meski udah beberapa tahun terakhir ini, setidaknya sejak si Adik lahir, saya udah nggak pernah merasakan dikasih uang lebih berupa THR oleh papinya anak-anak. Tapi jauh sebelumnya, papinya anak-anak selalu setor THR ke saya semuanya.

Dan setelah duit di tangan, saya jadi puyeng. Saking banyak yang mau dibeli, hahahaha.

Cuman untungnya, saya dan papinya anak-anak tuh bukan termasuk orang yang memaksakan diri harus ikut semua tradisi lebaran. Kalau nggak cukup duitnya ya, nggak usah beli baju lebaran untuk semuanya.

Nggak perlu beli kue lebaran, bahkan nggak usah masak masakan lebaran.

Yang penting adalah, kebutuhan urgent udah dipisahkan, dan THR buat keponakan harus disiapkan. Merepotkan? enggak sih menurut saya.

Karena memang udha jadi tradisi di keluarga papinya anak-anak, kalau lebaran tuh mereka ngasih keponakan. Bahkan anak-anak sendiri dapat THR banyak dari pakde budenya. Otomatis saya kan harus balas ngasih keponakan juga, biar anak-anak semua sama bergembira di hari lebaran.

Kalau pengeluaran utama dan urgent udah dipisah, dan duit masih bisa dikeluarkan, baru deh digunakan untuk hal lain yang butuh tapi nggak terlalu urgent.  

Tapi itu kami, terutama saya yang memang introvert, nggak suka terlalu heboh menyambut lebaran. Terlebih kami juga hampir dibilang nggak pernah menerima tamu saat lebaran. Seringnya juga lebaran di rumah mertua, jadi ya pengeluaran masih bisa dibatasi sesuai budget aja. 

Akan tetapi, sama kok, awalnya dipenuhi dengan drama saya ngambek dulu. Beruntung papinya anak-anak selalu sabar dan ngasih ide ini itu agar ngambeknya nggak berlarut-larut.

******


Intinya, saya ingin menjelaskan kalau saya juga pernah ada di posisi tersebut, ketika THR masuk, uangnya lalu dibagi untuk semua post-post perencanaan, dan sering banget lebih banyak post-nya, ketimbang duitnya, hahaha.

Apalagi di zaman sekarang kan ye, kalau kata netizen 'in this economy!', jumlah pengeluaran tiap post itu makin meningkat. Sementara ekspektasi orang tua, keluarga, serta kebiasaan yang sudah seperti kewajiban, tak berkurang, bahkan bertambah jumlahnya.

Misal, kebiasaan ngasih THR ke anak-anak, kebiasaan beli baju lebaran, kebiasaan mudik bawa oleh-oleh yang double pulak, perginya bawa oleh-oleh, pulangnya juga, hahaha.

Hal seperti ini biasanya bikin para perempuan jadi pusing tujuh keliling. Di sisi lain, bingung memilah mana yang perlu dan mana yang nggak perlu. Sementara di sisi lain, keuangan juga tak mencukupi. Apalagi kalau ada cicilan atau wishlist yang harus dibeli.

Dan semua kenyataan tersebut, menyadarkan saya dengan sangat telak.

Baca juga : Uang THR Dan Cara Bijak Menggunakannya Ala Rey


Diuji Kekurangan, Tapi Diajari Arti Cukup

Fyi, beberapa hari ini saya puyengnya kebangetan. Ya apalagi sih yang bikin saya puyeng selain duit, hahaha. Kayaknya in this age, satu-satunya yang bikin saya puyeng tuh cuman duit ya, ah terima aja Rey, dan latih dirimu agar nggak perlu terlalu panik.

Jadi, seperti yang saya ceritakan di postingan-postingan sebelumnya, bahwa meski sekarang saya sudah bekerja di sebuah klinik medis. Tapi gajinya sangat imut dan terbengkalai karena kebetulan penghasilan perusahaan lagi bermasalah.

Sehingga bukan hanya gajinya yang sangat imut, tapi bahkan pembayaran salary tertunda mulu. Boro-boro mengingat tentang THR, berharap gaji imut segera dibayar aja kayaknya nyaris nggak berani kami lakukan, hahaha.

Masalahnya adalah, (sekali lagi saya ceritakan bahwa) saya habis kena musibah barang-barang semuanya ikut terbakar di rumah mama. Masih mending mah saya dan si Adik sudah sempat mengambil beberapa baju dan semacamnya untuk di bawa ke Baubau. Nah si Kakak tuh enggak, hampir semua bajunya musnah terbakar.

Beruntung orang-orang di tempat mama tuh pada peduli, mereka bahu membahu membantu mama dan kakak Darrell. Sehingga kakak Darrell bisa punya baju-baju lagi, baju sekolah, baju rumah bahkan sampai pakaian dalamnya.

Masalahnya adalah, kan nggak mungkin semua dikasih, ada beberapa kebutuhan yang nggak dia dapatkan. Misal baju koko, dan banyak hal lainnya.

Ketika memasuki bulan ramadan ini, bukan main puyengnya saya, memilah-milah uang yang masih tersisa, untuk diputuskan apakah ini buat makan atau beli baju buat kakak, karena butuh.

Hal ini semakin menambah puyeng, ketika mendengar kakak sahabat yang sangat baik hati meminjamkan kamarnya untuk saya tinggali, katanya mau mudik dan tentunya kamarnya dipakai.

Itu berarti saya harus memerlukan dana untuk kos baru.

Akan tetapi, dengan semua kepuyengan tersebut, nyatanya saya akhirnya bisa melewatinya dengan menemukan solusi-solusinya.

Mulai dari membelikan si Kakak baju bekas, yang mana si Kakak juga nggak masalah untuk itu. Setidaknya dia bisa ke sekolah dengan pakaian yang lebih memungkinkan, bukan pakai seragam sekolah di saat teman-temannya memakai baju koko.

Lalu kakak sahabat yang menenangkan saya untuk akan cari solusinya bareng-bareng, lalu Allah kirimkan rezeki-rezeki dari berbagai arah yang Alhamdulillah bikin saya dan anak-anak masih bisa makan dan berteduh di tempat yang nyaman hingga kini.


Kebayang nggak sih, bagaimana perasaan saya ketika melihat curhatan orang lain, di mana mereka menerima THR yang di luar gaji, hingga belasan dan puluhan juta, tapi mereka nggak bahagia banget. Bahkan beberapa di antaranya malah mengalami pertengkaran sampai besar-besaran, padahal di bulan ramadan.

Ini sama dengan situasi, ketika saya dengan terdiam mendengarkan semua keluhan kakak saya, yang saya tahu persis keadaannya, mereka punya tabungan, sudah punya rumah, nggak punya tanggungan cicilan, punya gaji dari dia dan suaminya, THR dan bonus juga ada.

Tapi mengeluh bahkan berargumen gegara uang. Dan dilakukan di depan saya yang cuman bisa mendengarkan dan mengvalidasi semua keluhannya.

Dalam hati saya cuman bisa ngakak, begini amat ya kita jadi manusia. Ketika manusia lainnya bahkan untuk makan aja bingung, boro-boro mikirin baju lebaran anaknya.

Bahkan berharap agar lebaran nanti nggak usah ada liburnya, jadi saya bisa tetap ke klinik, anak-anak juga ikut ke klinik, biar mereka nggak minder ketemu saudaranya yang baju lebarannya berpasang-pasang. Atau temannya yang pakai baju lebaran terbaru, HP baru dan banyak hal lainnya.


Semua ini menyadarkan saya, bahwa ternyata uang tak serta merta bikin kita merasa happy dan nggak ada beban. Dan uang seringnya datang bersama dengan keinginan mengeluarkan uang lebih besar.

Seperti sekarang, saya nggak berani bermimpi dapat THR, saya juga bahkan tak berharap lebaran harus gimana-gimana, dan semua ini sudah saya bicarakan dengan anak-anak, dan mereka oke-oke saja.

I know anak-anak bukannya beneran oke-oke saja, tapi mereka lebih ke pengertian sama maminya. Dan saya bersyukur selama ini nggak pernah membiasakan anak-anak punya ritual tertentu ketika lebaran.

Nggak membiasakan lebaran kudu beli baju baru, sampai-sampai tahun lalu mereka dikasih rezeki beli baju baru, anak-anak nggak terlalu happy menerimanya, bahkan menganggap momen beli baju lebaran itu membosankan.

     

Yup, bener, rasa syukurlah yang bikin manusia itu kaya. Rasa syukur yang bikin hati kita tenang, bukan uang yang banyak. Karena toh uang yang banyak tanpa rasa syukur, hanya akan memberikan lebih besar beban hati. Seperti yang banyak teman-teman di Threads alami, atau bahkan di sekeliling kita.

  

Kesimpulan dan Penutup

Dari semua cerita ini, saya akhirnya belajar satu hal penting, di mana ternyata bukan jumlah uang yang menentukan berat atau ringannya hidup. Namun bagaimana cara kita memandangnya. 

Uang memang bisa mempermudah banyak hal, tapi tidak otomatis membuat hati tenang. Sebaliknya, kekurangan pun tidak selalu identik dengan penderitaan, jika masih ada rasa cukup, rasa syukur, dan orang-orang baik di sekitar kita.

Ramadan kali ini mungkin bukan Ramadan yang paling mudah buat saya. Keuangan menipis, kebutuhan banyak, dan masa depan masih penuh tanda tanya. Tapi justru di situ saya merasa sedang diajari untuk kembali ke hal-hal yang paling mendasar, yaitu, bertahan, menerima, dan bersyukur.

Saya tidak punya THR, tidak punya rencana lebaran besar, bahkan tidak berani berharap macam-macam. Saya hanya punya anak-anak yang pengertian, teman yang peduli, dan pertolongan Allah yang datang lewat cara-cara yang sering tidak terduga. Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup.

Semoga Ramadan ini bukan hanya tentang apa yang kita terima, tapi juga tentang apa yang kita sadari. Bahwa cukup itu bukan angka, melainkan rasa di dalam hati. Dan semoga, kita semua diberi kelapangan hati untuk merasakannya.

Kalau Temans, apa kabar nih THR dan persiapan lebarannya?.


Baubau, 26-02-2026

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)