Jadi Sarjana Ibu Rumah Tangga Itu Aib, Jika Begini, Makanya Begitu!

sarjana ibu rumah tangga itu aib

Lagi trending nih di media sosial, tentang konten IRT atau ibu rumah tangga yang bangga akan prestasinya ketika menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri di Semarang, mendapatkan teguran dari petinggi kampus tersebut.

Bukannya dihujat, pemilik konten tersebut Artiyan Angeliza, malah mendapatkan banyak dukungan dari berbagai pihak, khususnya para ibu rumah tangga.

Sebagai *who called mantan IRT*, tentunya saya juga tertarik memberikan opini dan pemikiran tentang hal tersebut. 


Cerita Konten IRT Bangga Terhadap Almamater, Berujung Teguran dan Take Down

Jadi ceritanya, konten kreator yang memang sering bikin konten tentang kehidupan IRT tersebut, membuat konten yang menceritakan betapa bangganya dia merupakan IRT sarjana lulusan terbaik dari PTN di Semarang tersebut.

Ternyata konten sampai di pihak kampus, sehingga seseorang yang mengaku seorang petinggi PTN tersebut mengirimkan pesan via DM.

Dalam pesannya, petinggi tersebut menyampaikan keberatannya, jika nama kampus dibawa-bawa, dan meminta untuk dipertimbangkan take down. Menurut pesannya, konten tersebut terkesan merendahkan kampus karena lulusannya hanya IRT. 

Dengan kooperatif, konten tersebut pun diturunkan, namun kronologinya sempat dibagikan melalui akun instagramnya, dengan tulisan yang intinya dia meminta maaf, bukan maksud merendahkan kampus, hanya merasa bangga karena pernah menjadi alumni kampus tersebut.

Sontak saja curhatan tersebut mendapatkan banyak tanggapan beragam dari netizen. Ada yang kontra dan menganggap konten-kontennya memang terkesan menunjukan keseharian IRT yang ngenes (muka pucat, baju dasteran atau nggak rapi, dan semacamnya).

Namun, lebih banyak yang pro dan balik menyerang pihak kampus yang terkesan meremehkan profesi Mengurus Rumah Tangga yang tertulis di KTP atau lainnya itu.

Baca juga : Bangga Menjadi IRT Sekaligus Blogger 


Jadi Sarjana Ibu Rumah Tangga Itu Aib, Jika Begini!

Gegara konten curhatan  Artiyan Angeliza tersebut, netizen bereaksi beragam,  bukan hanya menyerang pihak kampus, tapi banyak yang mulai membahas lebih mendalam tentang IRT.

Beberapa IRT juga mulai ikutan curhat, kalau menurut mereka, kehidupan IRT itu membosankan, nggak punya pencapaian, diremehkan orang.

Banyak juga perempuan yang terpaksa jadi IRT bercerita bahwa mereka sangat down selama menjadi IRT, apalagi kalau melihat pencapaian teman-teman lainnya yang berkarir. Bahkan melihat fenomena yang ada di sekelilingnya, di dalam rumahnya.

Suaminya yang makin sukses dan semua orang memuji betapa hebatnya suaminya. Anak-anaknya tumbuh dengan cerdas, dan orang-orang melupakan jasanya dalam membersamai anak-anaknya.

Well, ben there sih sebenarnya.  

Saya udah melewati masa-masa demikian, ketika dulu pertama kali menjadi IRT setelah bertahun-tahun berkarir kantoran, karena anak tak ada yang urus atau jaga dengan baik.

Awalnya sih saya excited, betapa nggak ya, akhirnya saya bisa mengurus anak sendiri sebaik-baiknya. Apalagi si kakak memang terlahir prematur, dan mengkonsumsi susu formula. Karena itulah si Kakak melewati masa kecil dengan sakit-sakitan melulu.

Nyatanya, semua rasa excited saya bisa mengasuh anak sendiri itu nggak berlangsung lama. Tak lama kemudian saya merindukan dunia kerja kembali. Apalagi ketika itu suami bekerja di proyek jalan tol, di mana saya pun sebelumnya pernah bekerja di bidang tersebut.

Perjalanan panjang saya menjadi IRT tak selamanya panjang. Maksudnya, saya tak pernah benar-benar menjadi IRT sepenuhnya, ada waktunya saya kembali ke dunia kerja. 

Ada pula waktunya saya berusaha melakukan sesuatu untuk menghasilkan uang. Rasanya, tak ada masa saya menjadi IRT, hanya benar-benar menjadi IRT.

Karenanya, saya paham banget bahwa IRT, terutama seorang sarjana yang memilih atau terpaksa memilih jadi IRT itu bisa menjadi aib.

Loh, kok bisa?


Tentu saja, jadi sarjana ibu rumah tangga itu aib, jika:


1. Hanya Bermalas-Malasan Di Rumah

Iya sih, kadang seorang IRT menjadi malas bukan karena malas, tapi karena stres dengan kehidupan baru yang tak biasa untuknya.

Menurut saya, hal tersebut adalah lumrah terjadi, ketika seseorang yang telah lama bekerja di kantoran, tiba-tiba di rumah saja karena menjadi ibu rumah tangga. 

Mereka harus menyesuaikan berbagai perubahan yang ada. Mulai dari perbedaan rutinitas yang ada. Di mana tak perlu lagi dikejar waktu masuk kantor, tak ada tuntutan harus dandan rapi dan cantik. Semua itu seringnya bikin perempuan biasanya 'kaget' dengan situasi yang lain tersebut.

Akan tetapi, jangan kelamaan juga kali, stresnya.

Kalau kelamaan, jadinya sulit dibedakan, itu stres atau memang malas?. Dan wajar sih jika publik menganggap sarjana IRT yang malas itu aib.

Ye kan, seharusnya kelebihannya dengan menjadi sarjana tuh, harusnya menjadikannya punya sarana yang sangat bisa digunakan dalam kegiatan di manapun, termasuk di rumah. 


2. Lebih Suka Bergosip Tak Jelas 

Sejujurnya, yang bikin profesi seorang ibu yang mengurus rumah tangga itu buruk, gegara stigma masyarakat sejak dulu, di mana kebanyakan tuh ibu-ibu yang nggak kerja kantoran, sukanya ngumpul-ngumpul di teras rumah, saling cari kutu, sambil ngerumpiin tetangga lainnya.

Nah, zaman dulu mungkin wajar kali ya, karena mereka nggak punya akses untuk berpikir lebih bermanfaat dari sekadar duduk mengobrol menceritakan aib orang lain.

Masa iya, udah kuliah dan apalagi jika memang berprestasi di kampusnya, pas lulus malah jadi IRT yang cuman bisa ngumpul sambil ngerumpi nggak jelas di luar?.

Kalau kayak gitu mah, wajar juga sih dibilang sarjana IRT aib. 


3. Hanya Meratapi Diri

Di zaman sekarang, banyak hal yang bisa dengan mudah kita akses, rasanya adalah aib bagi seorang ibu rumah tangga hanya bisa duduk meratapi nasibnya yang terlihat tak punya pencapaian seperti perempuan berkarir di luar sana.

Merasa stres atau bahkan depresi, seharusnya kan bisa mencari pertolongan untuk mengatasi hal itu. Pakai pikiran dan instuisi sebagai sarjana untuk melakukan sesuatu.

Baca juga : Dua Tahun Menjadi Stay At Home Again 


Agar Tidak Jadi Sarjana Ibu Rumah Tangga yang Aib

Lalu gimana sih agar kita tak menjadi sebuah aib meski menjadi sarjana ibu rumah tangga?.


1. Bangkit, Do Something Positive

Yup, bangkit, do something positive.

Come on, kita kan seorang sarjana, sudah melewati pola pikir yang lebih baik tentunya. Punya ilmu yang lebih juga dibanding dengan yang bukan sarjana.

Masa iya semua pengalaman kuliah sampai menjadi sarjana itu nggak bisa menimbulkan satu pikiran lebih untuk melakukan sesuatu?.

Alih-alih hanya memelihara stres hingga depresi, atau bermalas-malasan tanpa akhir. Atau lebih parah lagi, waktu kita hanya habis buat ngerumpiin keburukan tetangga semata.

Duh.

Banyak hal positif yang bisa dilakukan dari rumah loh, banyak banget!. Apalagi di zaman sekarang ya, banyak hal yang bisa kita akses, bahkan hanya di rumah saja. 

Apalagi jika punya privilige yaitu suami sudah memenuhi semua kebutuhan rumah, jadi ibu rumah tangga hanya perlu fokus ke masalah anak dan rumah saja.


2. Belajar Manajemen Waktu, Emosi dan Keuangan

Sudah jadi sarjana kan, masa iya pengalaman kuliah sampai memperoleh gelar nggak menghasilkan hal yang lebih baik dari kebanyakan IRT biasanya?.

I know, kerjaan IRT itu buanyak, terlebih yang nggak punya ART ya. Saya udah pernah ngalamin juga, ada masa saya ngamuk-ngamuk minta ART sama suami, padahal ketika itu anak baru satu, hehehe.

Setelah beberapa lama, saya menyadari kalau sebenarnya masalahnya bukan di 'nggak ada ART atau asisten rumah tangga', tapi karena nggak bisa manajemen dalam rumah tangga.

Nah menurut saya, manajemen dalam rumah tangga yang penting tuh ada 3, ada manajemen waktu untuk bikin kita punya waktu melakukan hal positif lainnya selain ngedapur atau ngebibik every single day yang membosankan itu.

Dan menurut pengalaman saya juga, manajemen waktu yang diterapkan secara disiplin itu, adalah kunci utama menjadi IRT yang bahagia.

Selain manajemen waktu, IRT juga harus belajar manajemen emosi, karena jujur dunia IRT itu banyak macamnya, apalagi ketambahan hal-hal lain yang merupakan nilai tambah. Karenanya IRT rentan stres dan marah-marah ke anak maupun suami.

Hal lainnya yang tak kalah penting adalah, belajar manajemen keuangan, agar penghasilan suami bisa dikelola sebaik mungkin. 

Bukankah semua hal tersebut merupakan ciri khas IRT yang berdaya?. Bagaimana bisa IRT berdaya dikatakan sebuah aib?.


3. Menerapkan Parenting Terbaik Buat Anak

Sudah jadi sarjana IRT, masa iya anaknya tumbuh asal-asalan?, rugi dong ya. 

Anak-anak dari IRT sarjana, tentunya lebih beruntung karena diasuh oleh ibunya langsung yang merupakan seorang sarjana.

Karenanya, menjadikan titel sarjana buat penyemangat dalam menerapkan parenting terbaik buat anak adalah sebuah keharusan.

Nggak perlu terlalu menerapkan hal yang sampai harus wao banget sih. Cukup dengan menerapkan standar minimal, anak-anak tumbuh menjadi anak yang sehat jiwa dan raganya, mencintai tuhan-Nya, punya etika dan kebiasaan yang baik.

Itu adalah standar paling bawah ya, namun percayalah hal tersebut tak semudah kelihatannya. Ada banyak strategi dan contoh konsisten dari ortu, khususnya ibu dalam membersamai mereka. Dan mencontohkan tersebut, tak mudah.

Apalagi menciptakan anak-anak yang bukan hanya sehat jiwa raganya, mencintai Allah dengan rajin beribadah yang khusyuk serta menjauhi larangan-Nya. Anak-anak yang selalu beretika baik dan membanggakan, di tengah dar der dor nya dunia zaman sekarang.

Dan  ketambahan anak-anak demikian juga punya prestasi yang membanggakan baik di sekolah atau di luar sekolah. Itu adalah sebuah pencapaian menjadi sarjana IRT yang keren.

Lalu. bagaimana bisa sarjana yang menjadi IRT tapi menciptakan anak-anak hebat demikian adalah sebuah aib?.

Baca juga : Anak adalah Achievement dan Investasi Terbaik Saya, Ini Maksudnya! 


4. Menjadi Support Sistem Terbaik Buat Suami

Bukan hanya menciptakan anak-anak yang berkualitas, tapi menciptakan suami yang berkualitas juga bisa menjadi sebuah pencapaian dari sarjana yang menjadi ibu rumah tangga.

Menjadi support sistem terbaik suami dalam hal apapun, sehingga menciptakan rumah tangga yang menenangkan, dan suami bisa lebih fokus memberikan yang terbaik untuk keluarga.

Ketika suami semakin sukses, hal itu tidak dijadikan sebagai sesuatu yang menyedihkan karena membandingkan dengan diri sendiri yang 'cuman jadi IRT', tapi sebagai kebanggaan karena bisa menjadi sesuatu dalam kesuksesan suami. 

Pemikiran seperti ini, tentunya hanya bisa dilakukan oleh perempuan dengan pemikiran terbuka.


5. Memanfaatkan Waktu Luang untuk Upgrade Skill

Menjadi ibu rumah tangga itu bukanlah sebuah aib, apalagi ketika kita bisa memanfaatkan waktu luang untuk hal-hal yang positif, salah satunya dengan selalu semangat upgrade skill yang ada. 

Biasanya untuk memudahkan hal ini, bisa dimulai dari hal-hal kecil yang menjadi hobinya. 

IRT yang suka menulis seperti saya misalnya, bisa menggunakan waktu luang untuk latihan menulis. Entah menulis di jurnal atau diary, menulis di blog, atau sekalian ikut kelas-kelas menulis untuk meningkatkan skill menulis tersebut.

Yang suka memasak, bisa dengan menyediakan makanan-makanan bergizi, sehat dan lezat buat anggota keluarga. Tentunya bisa juga di-upgrade dengan mengikuti kelas masak-memasak, kelas baking atau semacamnya.

Atau yang suka hal-hal tentang anak, bisa terus mendalami parenting dengan mengikuti kelas-kelas parenting modern yang banyak beredar di zaman sekarang. Dan lain sebagainya,

Dan masih banyak lagi, sesuai dengan minat dan kesukaan masing-masing.

Semua skill tersebut, pastinya akan bisa bermanfaat di kemudian hari, terutama ketika masa anak-anak membutuhkan ortu secara intens berlalu.

Ketika anak-anak sudah sibuk dengan dirinya dan dunianya, dan mulai berjarak dengan ortu, maka saat itu tak akan ada drama ortu, khususnya ibu yang kesepian. Karena dia bisa lebih menekuni dengan serius apa yang sudah dia pelajari selama menjadi IRT sambil mengurus anak-anaknya bertahun-tahun.


Dam masih banyak hal-hal positif lainnya yang bisa dilakukan agar seorang ibu rumah tangga dengan titel sarjana, bukanlah terasa aib.


Penutup dan Kesimpulan

Pada akhirnya, polemik konten IRT sarjana ini membuka mata kita semua, bahwa persoalannya bukan pada status ibu rumah tangga-nya, juga bukan pada gelar sarjananya. Masalah sebenarnya ada pada cara pandang kita atau kebanyakan orang. Baik cara pandang institusi, masyarakat, maupun cara pandang seorang perempuan terhadap dirinya sendiri.

Menjadi sarjana yang memilih atau terpaksa menjadi ibu rumah tangga bukanlah sebuah aib. Ia baru terasa menjadi aib ketika gelar itu dibiarkan mati, ketika akal sehat tak lagi digunakan, ketika waktu habis untuk meratapi nasib, bergosip, atau menyerah pada keadaan tanpa upaya bangkit.

Sebaliknya, seorang sarjana yang kemudian menjadi ibu rumah tangga yang berdaya, yang mau belajar, mengelola diri, membesarkan anak dengan sadar, mendukung pasangan dengan matang, dan terus meng-upgrade diri. Justru menjadi sebuah bentuk pencapaian yang sering luput dari sorotan.

Pencapaian seorang perempuan, seharusnya tak selalu terlihat di CV atau Curiculum Vitae-nya, tapi nyata dampaknya dalam sebuah keluarga dan generasi yang sedang dibesarkan.

Demikianlah, berangkat dari konten Artiyan Angeliza, sorang konten kreator yang selalu rajin membagikan konten bertema ibu rumah tangga, terlepas dari pro dan kontranya. Setidaknya telah memantik diskusi penting di antara perempuan. 

Bahwa perempuan tak pernah kehilangan nilai hanya karena ia memilih tinggal di rumah saja. Bahwa profesi ibu rumah tangga tidak lebih rendah dari profesi apa pun, asalkan dijalani dengan kesadaran, tanggung jawab, dan keberdayaan.

Dan mungkin juga, sudah saatnya kita berhenti sibuk mempertanyakan, 

“Kok sarjana tapi hanya jadi IRT?”

Lalu mulai bertanya lebih jujur, 

“Sudahkah kita memanusiakan pilihan hidup perempuan?”

Karena sejatinya, gelar sarjana bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk dipertanggungjawabkan, di mana pun peran itu dijalani, termasuk di dalam rumah.

Bagaimana menurutmu, ladies?


Baubau, 03-02-2026

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)