Bukan Pelakor, Bukan Perempuan Murahan: Ini Realita Single Mom

Single mom atau janda seringnya dipandang rendah atau negatif oleh banyak masyarakat. Bukan hanya para lelaki, para wanita pun banyak yang punya pikiran serupa (negatif).

Pandangan ini, bukan semata bahwa janda, terlebih yang mengalami cerai hidup adalah sosok yang problematik. Tapi juga karena menurut banyak orang, janda tuh sangat berpotensi sebagai pelakor.

Sebuah anggapan yang sangat merugikan perempuan ya sebenarnya. Sedih dan mirisnya, bahkan sesama perempuan pun berpikiran negatif tentang single mom

Baca juga : Film Vietnam Tentang Single Mom yang Menyayat Hati


Cerita Menjadi Pra Single Mom 

Buat yang belum kenal, btw saya adalah seorang perempuan dengan gelar pra single mom atau janda. Kok bisa?.

Ya karena saya sudah berpisah tanpa ada komunikasi dengan papinya anak-anak hingga setahun lebih. Namun, sampai saat ini masih punya buku nikah.

Kok bisa, Rey?.

It's a long story buanget.

Tapi ada kok ceritanya di blog ini, terutama di label 'Empower Woman' dan 'Diary Rey'. Dan juga di blog parentingbyrey.com.

Intinya saya masih mempunyai buku nikah karena it's very complicated story, dan juga karena saat ini fokus saya tuh lebih ke bagaimana agar bisa menghidupi diri dan anak-anak sendiri, setelah bertahun-tahun jadi IRT plus plus.

Dengan kondisi demikian, saya (bisa dibilang) hijrah back, eh tepatnya balik ke daerah orang tua saya, tempat saya tumbuh remaja, di pulau aspal, Buton.

Dan seperti yang sering saya tuliskan di beberpa postingan lainnya, kalau actually i have no idea or clue mau ngapain di sini.   

Awalnya sih keluarga, mama dan kakak berharap saya bisa bekerja di sebuah perusahaan tambang aspal yang ada di pulau ini. Eh ternyata nggak (atau belum) jodoh, jadinya luntang lantung nggak jelas, dan berakhir bisa diterima bekerja di sebuah klinik medis.

Well, meskipun secara penglihatan orang, kayaknya udah aman nih, padahal ya (tanpa mengurangi rasa syukur), belum sih.

Sementara profesi saya yang bertahun-tahun dibangun di Surabaya, menjadi blogger dan influencer mikro sudah sepi banget. Dan yes, over all tak ada yang bisa saya lakukan selain tetap bersyukur. 

Selain bersyukur, hal utama yang dilakukan adalah berusaha, dan dalam usaha itu termasuk di dalamnya selalu mencari peluang melalui banyak cara, salah satunya melalui relasi.

Btw, saya seseorang dengan background pendidikan lulusan teknik sipil, punya pengalaman bekerja di kontraktor jalan dan jembatan serta rumah mewah. Karenanya hal pertama yang saya lakukan ketika sampai di Buton adalah, mencari lowongan pekerjaan di bidang tersebut.

Ternyata nggak semudah itu, banyak teman yang menolak permintaan saya untuk bisa bergabung di proyeknya. Salah satu alasannya adalah karena status perkawinan saya yang nggak jelas.

Awalnya, saya kesal banget dengan alasan tersebut, maksudnya alasan itu nggak make sense sama sekali nggak sih. Apa hubungannya perempuan yang suaminya nggak bertanggung jawab, tapi ketika perempuan tersebut mau melanjutkan hidup dengan menafkahi dirinya dan anaknya, malah ditolak dalam bekerja.

I mean, kecuali perempuan tersebut memang nggak bisa bekerja, nggak punya skill atau nggak mau kerja, baru deh masuk akal ditolak.

Sampai suatu hari terkuak permasalahan dengan kakak saya, banyak kata-kata yang dikeluarkan baik kakak maupun ipar yang benar-benar menyadarkan saya, bagaimana penilaian orang (setidaknya di Baubau) terhadap perempuan yang tidak bersuami.

Dan jujur ini adalah hal baru buat saya, karena selama bertahun-tahun di Surabaya, baik ketika masih single, menikah, hingga seperti pra janda, nggak ada tuh hal-hal kayak gini yang mengganggu.

Setelah kejadian tersebut, suatu hari saya diajak ketemuan dalam mini reuni dengan teman-teman leting STM saya. Karena alumni STM jurusan Bangunan Gedung, off course kebanyakan teman laki dong ya. Dan iyes, anak-anak STM tuh jujur lebih bandel ketimbang anak SMA lainnya. Setidaknya dulu, kalau sekarang kan udah beda lagi.

Saya yang paham tentang berada di Baubau itu means saya hidup berdekatan dengan banyak keluarga. Tentunya saya nggak mau menimbulkan fitnah kalau ada yang liat saya kumpul teman-teman laki. Jadinya saya pikir, mending dipublikasikan aja biar orang paham kalau itu hanya sekadar pertemuan biasa, nggak ada yang ditutup-tutupin.

Ternyata saya salah dong, beberapa hari kemudian beredar berita yang mengatakan kalau saya memang perempuan nggak baik. Salah satu penyebabnya adalah karena saya berteman dengan orang yang menurut mereka punya nama yang tak baik di penilaian orang-orang. Apalagi status saya yang seorang pra janda.

Ketika mendengar berita itu seperti biasa, saya cuek saja. Sayangnya ternyata beritanya nggak sekadar dibicarakan satu dua orang, tapi banyak orang yang bikin beberapa teman saya juga terlihat kurang nyaman berteman dengan saya.

Ampuuunnn deh.

Padahal ya, status saya tuh pra janda, berasa saya ini perempuan nggak benar, yang bakal merebut suami orang. 

Luar biasa banget memang the power of penilaian orang terhadap single mom, even masih pra single mom.

Baca juga : Dear Kartini, Dunia Kerja Menolak Saya Karena Saya Single Mom dan Perempuan


Status Single Mom atau Janda Sering Dipandang Negatif, Ini Alasannya!  

Dari pengalaman saya, dan beberapa cerita teman-teman lainnya, serta pengamatan langsung, saya bisa menyimpulkan, bahwa status single mom atau janda itu jadi sering dipandang negatif karena beberapa hal ini:


1. Karena Otak Kotor Lelaki

Yup, percaya atau tidak hampir semua lelaki berpikiran kalau single mom atau janda itu gampangan. Mereka pikir janda kan tidak punya pasangan untuk menyalurkan syahwatnya, jadi mereka butuh penyaluran tersebut. 

Karenanya, alih-alih mudah diajak buat make love, bahkan banyak lelaki yang berpikir kalau janda itu malah berharap diajak, bahkan menggoda.

Duh, bahkan menuliskan ini sudah bikin saya mual banget dong!

Sedihnya, bukan hanya lelaki yang nggak jelas yang berpikiran demikian, bahkan teman-teman dekat juga berpikir demikian. Lebih parah lagi, bahkan keluarga berpikiran demikian.

Karena pemikiran demikian, banyak orang yang berpikir


2. Karena Ketakutan Wanita Bersuami

Poin kedua ini sebenarnya berhubungan dengan poin nomor 1, di mana gara-gara banyak lelaki yang berpikir dengan otak kotor kepada janda, membuat istri dari lelaki-lelaki tersebut jadi ketakutan suaminya kepincut janda.

Ini nggak adil banget ya buat para janda, di mana mereka sendiri (kebanyakan lelaki) yang menciptakan pemikiran jorok di otaknya. Lantas istrinya jadi ketakutan sendiri, trus yang disalahkan para single mom.

Kan aneh ya.

Akibat dari ketakutan tersebut, banyak perempuan yang memandang rendah para janda, semacam janda itu aib, apalagi kalau janda cerai hidup. 

Bahkan tak jarang para single mom ini dipaksa menikah lagi secepatnya dengan duda yang mau sama mereka. Dan single mom bahkan diharuskan untuk tak boleh pilah pilih jodoh, karena statusnya yang udah janda, apalagi kalau punya anak.

Berbagai alasan dikemukan oleh para perempuan bersuami untuk menyuruh single mom segera menikah lagi.

"Biar ada yang jagain"

"Biar ada yang lindungin!"

"Biar ada yang sayang!"

"Biar nggak diganggu banyak laki-laki iseng!"

Sekilas semua perkataan itu terasa tulus ya, padahal banyak juga yang mengatakan demikian dengan maksud agar suaminya nggak kepincut pada si janda.

Sungguh tak adil rasanya, ketika para single mom harus mengikuti perintah segera menikah lagi tanpa pilah pilih. Seolah tak peduli dengan nasib single mom, selama suaminya aman dari 'godaan janda', padahal yang terjadi seringnya 'menggoda janda' karena otak kotornya.


3. Syahwat Single Mom / Janda

Tidak dipungkiri sih, salah satu penyebab mengapa single mom dipandang negatif oleh masyarakat kebanyakan, dikarenakan ulah dari sedikit janda yang gagal mengendalikan syahwatnya.

Hal ini saya ketahui dari testimoni seorang yang bisa dibilang single mom atau pra single mom. Si (sebut saja) X ini memang sudah berpisah lama dengan suaminya. 

Si X ini bercerita blak-blakan kepada saya bagaimana dia tak bisa benar-benar berpisah dengan suaminya, karena butuh menyalurkan syahwat. Bahkan, dia berkata hingga saat ini dia masih sering bertemu dengan lelaki itu untuk saling menyalurkan syahwat.

"Itu kebutuhan utama, dan itu normal!" katanya.

Dia juga blak-blakan mengatakan, bahwa kadang dia menuruti saja ajakan teman-teman lelaki lainnya, ketika dia tak mampu mengendalikan kebutuhan tersebut.

Astagfirullah.

Saya baru sadar, ternyata benar juga mengapa ada lelaki yang berpikir jorok terhadap perempuan dengan status janda. Karena memang ada loh perempuan yang memang kesulitan mengendalikan kebutuhan syahwatnya.

Dan ketika itu terjadi, mau nggak mau dia bisa saja meladeni ajakan zinah dari lelaki yang dia pikir 'aman' untuk melakukan hal itu.

Meski demikian, tidak semua janda atau single mom berkelakuan demikian ya. Justru kebanyakan single mom punya manajemen pengendalian diri akan kebutuhan syahwat yang sangat baik.

Dan perempuan yang seperti ini sebenarnya sangat banyak, bukan hanya janda, bahwa perempuan yang masih bersuami pun ada, bahkan banyak.

Nggak heran banyak istri-istri yang menolak melayani kebutuhan syahwat suaminya, karena mereka memang tak menganggap hal tersebut adalah kebutuhan pokok bagi mereka. 


4. Ketidak Mandirian Financial Single Mom / Janda 

Hal berikutnya yang bikin status janda dinilai negatif oleh kebanyakan masyarakat adalah, karena ketidak berdayaan mereka dalam hal financial.

Ini tentunya sering terjadi saling berkaitan dengan poin 1 dan 2.

Nyatanya banyak lelaki iseng dengan otak kotor yang mendekati janda tuh dengan strategi membantu finansial. As we know ya, zaman sekarang yang namanya uang tuh memang sulit banget ditolak, apalagi kalau butuh.

Ini akan sangat krusial ketika ada di posisi seorang single mom dengan anak. Apalagi anaknya masih kecil-kecil, nggak ada support sistem dari keluarga atau orang terdekat, lengkap sudah.

Akan hadirlah lelaki iseng yang bertopengkan pahlawan, memberikan banyak bantuan khususnya dalam financial. Bahkan bukan hanya memanjakan single mom tersebut, tapi juga anak-anaknya.  

Hal seperti ini akan menjadi sebuah hutang budi di hati si janda, dan saat ada perasaan tersebut, akan lebih mudah bagi lelaki iseng untuk melancarkan aksinya mendekati janda, hanya untuk bersenang-senang.

Demikianlah awal mula seorang single mom menjadi seorang pelakor. Di mulai dari ketidak berdayaan dalam finansial, lalu dimanfaatkan oleh lelaki iseng. Setelah masuk perangkap dengan modal uang, lelaki iseng tersebut melancarkan aksinya.

Sementara itu si janda yang merasa sudah nyaman, akhirnya nggak mau melepaskan si laki, meski dia laki orang. Dan begitulah, kadang membuat seorang lelaki meninggalkan dan melupakan anak istrinya, demi 'menyantuni janda dan anaknya'.

Bukan hanya didekati secara asal oleh lelaki iseng ya, seringnya hal ini juga dimanfaatkan lelaki iseng dalam dunia kerja atau saat sedang berusaha mencari nafkah.

Seorang single mom harus benar-benar menguatkan iman dan memilih jalan yang straight ketika ada rekan kerja, apalagi atasan, ataupun klien bisnis yang penting, yang ingin mendekati karena status single mom, untuk bersenang-senang.

Bayangkan jika seorang single mom punya kemandirian finansial, tentunya akan punya lebih banyak power untuk menolak keisengan lelaki-lelaki tersebut.


5. Tak Punya Support Sistem

Selain masalah kemandirian finansial yang membuat single mom mudah dimanipulasi dan diajak melakukan zinah, kondisi tak punya support sistem juga punya andil besar dalam hal ini.

Menjadi seorang single mom, apalagi punya anak (bahkan lebih dari 1 anak), dan sebelumnya tak punya karir, setelah jadi janda pun tak ada yang bisa membantunya untuk bangkit. Nah perempuan seperti ini akan menjadi bulan-bulanan para lelaki hidung belang.

Biasanya, poin ini berkaitan dengan poin nomor 4 di atas, di mana mereka akan didekati melalui bantuan finansial.

Karenanya, betapa penting bagi kita semua memberikan support sistem kepada para single mom. Agar mereka bisa berdaya, dan tak hanya berakhir menjadi incaran para lelaki hidung belang lalu berakhir sebagai pelakor.

      

Jika membaca semua hal yang tertulis di atas, bisa dikatakan bahwa citra negatif para single mom di mata masyarakat ini memang bermula dari pikiran kotor lelaki hidung belang.

Mereka-mereka ini, bahkan seringnya merupakan seorang suami dan ayah bagi anak-anaknya. Yang entah mengapa masih berpikir untuk mendekati seorang single mom untuk bersenang-senang.

Lalu, beberapa kondisi akan memudahkan atau melancarkan atau juga mewujudkan pikiran negatif para lelaki tersebut terhadap single mom.

Dan ketika itu terkuat, standar ganda yang selalu dipikul perempuan masih berlaku buat seorang single mom. Perempuanlah yang akan disalahkan, padahal seringnya terjadi dimulai dari aksi lelaki dengan pikiran kotornya.

Baca juga : E-Book Diary Parenting Single Fighter Mom, Lahir Berkat KLIP   


Penutup dan Kesimpulan

Pada akhirnya, menjadi single mom atau janda bukanlah sebuah dosa, apalagi aib. Status itu hanyalah kondisi hidup yang terjadi karena banyak sebab, entah itu dimulai dari sebuah pengkhianatan, kegagalan sistem keluarga, ketidakbertanggungjawaban pasangan, atau pilihan hidup yang terpaksa diambil demi keselamatan diri dan anak. 

Sayangnya, masyarakat sering kali malas memahami konteks, dan lebih memilih menghakimi dari status semata.

Citra negatif terhadap single mom tidak lahir dari satu sebab tunggal. Ia tumbuh dari pikiran kotor sebagian lelaki, ketakutan perempuan bersuami yang salah sasaran. Ketidakmandirian finansial yang dimanfaatkan, absennya support sistem, hingga ulah segelintir perempuan yang memang gagal menjaga batas. 

Namun dari semua itu, satu hal yang nyaris selalu sama, perempuanlah yang paling sering disalahkan, sementara lelaki dengan pikiran dan perilaku bermasalah kerap lolos dari sorotan.

Padahal, mayoritas single mom justru adalah perempuan yang sedang berjuang mati-matian menghidupi anak, menata ulang hidup, memulihkan luka batin, dan menjaga harga diri di tengah tekanan sosial yang kejam. 

Mereka bukan ancaman, bukan penggoda, dan bukan perusak rumah tangga orang lain. Mereka adalah manusia yang layak dihormati, didukung, dan diberi ruang untuk bangkit.

Mungkin sudah saatnya kita, sebagai masyarakat, berhenti melabeli perempuan dari status pernikahannya. 

Berhenti menjadikan single mom sebagai kambing hitam dari ketakutan dan ketidakmampuan kita mengendalikan diri. Dan mulai belajar satu hal sederhana tapi penting: menilai manusia dari akhlak dan perbuatannya, bukan dari label sosial yang menempel padanya.

Karena perempuan yang berdaya, punya batas, dan punya support sistem yang sehat, baik dia menikah, single, atau janda, bukanlah ancaman bagi siapa pun. 

Justru sebaliknya, merekalah bukti bahwa perempuan bisa tetap bermartabat, meski hidup tidak berjalan sesuai rencana.


Baubau, 01-02-2026

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)