Saya lagi kesal banget dengan hidup ini, mungkin karena saya sedang sangat lelah. Alhasil saya jadi sering marah-marah ke si Adik.
Bahkan kesalahan sekecil apapun, menjadi pemicu untuk saya menjadi emosi banget. Terutama ketika si Adik selalu berkeliaran di sekitar saya yang sedang pengen serius kerja.
Tapi, ketika dia menjauh dari saya, dipastikan dia akan berbuat sesuatu yang ujungnya bikin saya kesal juga. Karena dia bakal main pasir di luar kos, padahal di pasir itu ada pup kucing, kebayang nanti kuman-kuman pup kucing masuk ke kukunya, lalu dia nggak cuci tangan dengan bersih sebelum makan.
(Iya, i know saya overthinking banget!).
Atau dia main air, sampai lantai basah kuyup, kadang sepatu kerja saya juga basah kena air. Hal-hal yang bikin saya makin kesal.
Lalu akhirnya ketika saya marah, si Adik akan duduk diam di dinding, sampai akhirnya saya tersadar seolah merasakan kesedihan hatinya, yang berkata,
"Perasaan kalut mamiku, seharusnya bukan tanggung jawabku seorang!"
Iya sih, ini semua bukan kesalahan si Adik, tapi kesalahan ah nggak tau ya. Mungkin kesalahan saya, sedikit bercampur dengan kesalahan papinya anak-anak yang enggak bertanggung jawab memenuhi kebutuhan anak-anaknya dengan cukup.
******
Iya, saya hanya sedang lelah, lelah dengan hidup ini.
Lelah karena merasa dipermainkan oleh kehidupan, lelah karena harus mengurus 2 anak sendiri, harus bertanggung jawab sendiri dengan sikap dan perilaku anak yang dituntut harus sempurna.
Rasanya ingin teriak, tapi nggak bisa karena ah, entahlah.
Di antara lelah ini, kadang saya pengen marah dengan kehidupan, i mean, saya kan udah dipaksa bertanggung jawab dengan 2 anak sendiri. Kenapa kok kehidupan saya juga masih sulit juga.
******
Btw, saya pulang ke Buton tuh karena dijanjiin untuk bisa bekerja di sebuah perusahaan aspal, kebetulan perusahaan itu dekat rumah mama.
Tapi sayang nasib baik belum berpihak pada saya, ternyata boro-boro keterima kerja di perusahaan tersebut, yang ada malah perusahaannya tutup.
Setelah kebingungan mau ngapain di daerah pelosok tersebut, ditambah mama yang sering ngomong di belakang saya tentang saya yang boros, suka jajan dan lainnya.
Akhirnya saya muak tinggal sama mama, dan memaksa pergi.
Saya kemudian tinggal 70 KM dari mama, sayangnya cari kerja di Baubau itu susah. Menjalankan profesi yang sudah saya bangun lama di Surabaya juga nggak memungkinkan. Apa yang bisa diharapkan dari kota kecil dengan persaingan 'ytta' kayak gini?.
Alhamdulillah saya bisa menikmati masa nganggur dengan keterima bekerja di sebuah klinik swasta. Sayangnya yang terlihat tak seperti yang terjadi.
Pekerjaan tersebut masih sangat jauh dari yang namanya bisa diandalkan. Jangankan bisa diandalkan untuk menghidupi anak-anak, buat menghidupi diri sendiri aja, belum bisa.
Sudah 6 bulan bekerja, nggak ada perubahan. Yang ada saya terpaksa berpisah dengan si kakak, dan saya bahkan nggak bisa membayangkan apa saja yang dilakukan si Kakak tanpa pengawasan saya.
Si Adik juga nggak kalah menyedihkan, dengan kebiasaannya mulai berani ngomong kasar, bahkan berani berbohong tentang shalat dan wudhu.
Semua itu benar-benar menyakitkan buat saya, really break my heart so much lah.
Akan tetapi, semua itu ternyata belum seberapa dibanding ketika mendengarkan omongan orang,
"Dayyan kok makin kurus ya?"
"Bajunya kok kotor banget!"
"Darrell tuh kerjaannya main HP saja!"
"Kasih tahu Darrell mandi yang bersih, itu udah kena gatal-gatal!"
"Bilangin Darrell nilai-nilainya harus bagus loh!"
"Darrell nggak bisa bersihin kamarnya!"
Dan semua hal kritikan untuk anak, tapi dibebankan ke saya seorang.
Rasanya lelah banget menanggungnya sendiri.
Itu belum ketambahan omongan-omongan,
"Kamu udah terlalu tua, Rey!"
"Lagian, setelah tua baru sadar!"
"Masalahnya umurmu terlalu lanjut!"
Dan semacamnya.
Di saat yang lain,
"Nggak apa-apa anak pindah-pindah sekolah, daripada bapaknya tidak peduli sama anaknya!"
Giliran anak pengen kubawa ke keluarga bapaknya,
"Kamu nanti nyesal karena anak jauh dari ibunya!"
I know, orang-orang memang cuman asal ngomong, nggak bermaksud menyepelekan perasaan saya, tapi entah mengapa semua ucapan mereka tuh melekat di kepala dan tersimpan di memori, merasuk ke dalam hati, keluar dalam bentuk output marah-marah ke anak.
Marah-marah ke dunia juga.
Kadang saya kesal banget dengan dunia, mengapa kok sesulit ini. Mengapa seolah dunia mempermainkan saya.
Bayangkan, saya berusaha menjadi perempuan yang benar seumur hidup.
Hidup lurus-lurus saja, bahkan berusaha tak mendekat ke riba, apalagi dosa lainnya. Saya memilih mengalah dari suami, menjadi IRT demi anak-anak bisa tumbuh dengan aman.
Memutuskan anak kedua juga bukan hanya keinginan saya semata, papinya anak-anak juga setuju dan menginginkan anak kedua.
Dia sangat bahagia ketika saya hamil kedua kalinya, tapi setelah adik lahir dan melewati tahun pertama punya 2 anak, tiba-tiba dia mulai kehilangan tanggung jawab.
Dan gara-gara itu, saya merasa semuanya kok diserahkan ke saya.
Bayangan seperti ini selalu menyeruak dari dalam hati, keluar bersama rasa iri kepada papinya anak-anak. Apalagi ketika saya benar-benar kelelahan dan jumpalitan urus anak.
Misal, lagi capek banget dengan urusan anak, antar jemput, atau baru buka laptop buat nulis, eh udah waktunya antar jemput anak, waktunya masak, waktunya ini itu.
Atau baru aja tidur, eh udah harus bangun buat siapin anak berangkat sekolah, dan lainnya.
Rasanya pengen meledak mengingat enak banget ya papinya anak-anak, dia bisa tiduran sampai puas, bangun tidur nggak repot, langsung mandi dan berangkat kerja. Nggak perlu sibuk harus bangun meski masih ngantuk.
Atau ketika dia masih kerja, nggak ribet dengan kepikiran, anak belum dijemput, anak harus dianter sekolah. Anak belum makan dan lainnya.
Kalau udah seperti ini, biasanya saya langsung terpikir untuk mengirim anak-anak ke keluarga papinya, nggak peduli mereka bakal dirurusin atau enggak.
Toh anak-anak bukan tanggung jawab saya semata.
Saya pengen fokus mengejar karir di usia saya yang udah sangat late buat perempuan ini. Dan sudahlah se-late ini, dan sebutuh banget ini, ketika ada kesempatan atau peluang, ujungnya hanya bisa saya skip karena alasan anak.
Sudah tua loh saya, seperti kata beberapa orang, dan setua ini saya masih harus berjuang dari awal untuk membiayai 2 anak.
Betapa hidup ini nggak adil banget, bagaimana bisa saya dikasih tanggung jawab mengurus 2 anak sendiri, tapi nggak dikasih modal rezeki atau pekerjaan yang menghasilkan uang yang cukup.
Mengapa. Hah. Mengapa?
*******
Dalam kekalutan, tiba-tiba saya teringat sama almarhum Bapak.
Tahun 2014 silam, saya pernah pulang ke Buton ketika bermasalah dengan papinya anak-anak. Kala itu saya menelpon mama karena si Kakak Darrell demam dan papinya kabur entah ke mana.
Ortu yang kaget mendengar hal itu, juga marah kepada sikap pengecut papinya anak-anak. Dan segera saya disuruh pulang ke Buton.
Saya nurut, tapi nggak berani pulang sendiri, maka saya cariin dia ke mana-mana dan ketemu di tempat kerjanya. Lalu saya minta agar dia izin ke tempat kerjanya, biar bisa anter saya ke Buton.
Dan ya, kamipun pulang ke Buton.
Bapak terlihat kesal ketika melihat saya datang bersama dia, tapi tetap menghargai saya dan papinya anak-anak. Dengan senyum disambutnya kami.
Seminggu di Buton, papinya anak-anak balik ke Surabaya dan ke bandara dianter oleh bapak.
Kami baik-baik saja, namun sesampainya di Surabaya, nggak ada kabarnya sama sekali. Boro-boro telepon berterima kasih ke bapak, bahkan mengirimkan pesan ke saya pun, enggak.
Bukan main kesalnya saya, lebih kesal lagi setelah saya konfirmasi, dia cuek aja. Dan ketika saya bersikeras pengen balik secepatnya di Surabaya, dia melarang keras.
Saya udah merasa ada sesuatu dengannya, tapi saya nggak bisa pulang ke Surabaya, karena nggak punya uang, dan dia nggak mau usahakan uang untuk ongkos balik.
Kesal, saya menangis sejadi-jadinya di depan bapak dan mama, di mana itu adalah kali pertama saya berani menangis langsung kayak gitu.
Mama dan bapak nggak bisa berbuat apa-apa, hanya bapak yang kesal melihat saya menangis.
"Lain kali kalau dia kurang ajar, kamu pulang aja sendiri, anakmu kasih ke dia, biar dia tahu susahnya urus anak!", demikian kata bapak.
Beberapa hari kemudian bapak tampak sibuk ke sana ke mari, lalu tak lama kemudian suatu siang dia pulang sambil berwajah ceria.
Bapak memanggil saya dan menyerahkan uang segepok ke saya.
Ternyata bapak mondar mandir ke sana ke mari itu untuk mencari orang yang mau membeli tanahnya, dan beliau menjual tanah tersebut di bawah harga banget.
Lalu, semua uang penjualan tanah itu diserahkan langsung ke saya.
"Ini, buat ongkos pulang ke Surabaya!", kata bapak.
Air mata saya menetes, nggak nyangka banget, bapak yang terlihat cuek, setidaknya demikian penilaian saya sepanjang saya hidup hingga saat itu. Berkat labeling yang dikatakan mama selalu, katanya bapak cuman peduli dengan dirinya sendiri.
Nyatanya, beliaulah yang paling peduli ketika anak perempuannya menangis.
*******
Maju lagi ke masa kini.
"Kasian kamu, Rey, gara-gara bapak nggak bisa diandalkan, jadinya kamu fatherless, perkataan lelaki terlalu mudah bikin kamu keplek-keplek!"
Orang-orang menyalahkan saya, seolah saya tuh bucin sampai bodoh kepada papinya anak-anak karena saya fatherless.
Nyatanya bapak adalah orang tua yang sedemikian pedulinya terhadap anak-anaknya, hanya saja in his way.
Bapak memang temperamental, suka mukulin saya waktu kecil. Tapi, kalau dipikir-pikir bapak tuh jauh lebih perhatian ke saya, ketimbang mama.
Dia selalu mengusahakan sebisanya untuk anaknya, dan nggak pernah merasa menyerah meskipun harus rugi karena itu. Salah satunya ketika beliau menjual tanah dengan harga yang sangat di bawah harga pasar, lalu diberikan ke saya semua untuk biaya pulang ke Surabaya.
Jadi sebenarnya, saya tuh nggak fatherless dan menganggap semua kasih sayang papinya anak-anak itu, adalah sebuah hal akibat fatherless.
Nyatanya dia memang sebaik itu dulunya, sebelum akhirnya dia kabur dari tanggung jawab.
Saya lalu membayangkan, andai bapak masih ada, apakah hidupku sesulit sekarang?. Sepertinya enggak ya!. Beliau akan mengusahakan yang terbaik agar saya nggak nangis.
Sayang, bapak tak bisa lagi melihat saya menangis. Bapak nggak tahu betapa saya sekarang bukan hanya sedih, tapi merasa sangat lelah.
Andai bapak masih ada, saya akan membayangkan, bapak akan keliling sana sini untuk mengusahakan saya punya penghasilan atau bisa meringankan beban saya.
Tapi, bapak udah nggak ada.
Nyatanya, saya harus menerima bahwa sekarang saya harus berjuang sendiri, di tengah tempaan kata-kata yang seringnya bikin overthinking dan melukai hati saya.
Harus merindukan sendiri, dan berharap? apakah saya bisa kembali ke Surabaya?.
Jujur saya lelah sekali di sini, semacam nggak ada jalan lain yang bisa saya tempuh selain hancur mendengarkan kata-kata yang menusuk hati.
Di Surabaya, saya punya opsi menyerahkan anak-anak ke papinya atau keluarganya, untuk saya bisa lebih fokus dalam mencari nafkah.
Karena saya butuh itu, dan saya rasa sudah waktunya saya fokus ke usaha mencari uang karena butuh banget.
Udah di usia segini, tapi saya nggak punya tempat berteduh, nggak punya kerjaan yang bisa diandalkan untuk berteduh dengan anak-anak, dan masih juga belum punya waktu fokus memanfaatkan peluang yang ada.
******
Siang tadi, sebuah telpon masuk mengabarkan ada lowongan kerja di dekat rumah mama. Saya menyambut gembira meskipun dengan 1001 overthinking menyertai.
Hah? balik ke rumah mama?, itu berarti si Adik harus pindah sekolah lagi.
Kasian banget dia mondar mandir bolak balik pindah sekolah melulu.
Dan yang paling bikin overthinking, aslinya saya nggak betah di rumah mama, apalagi rumah itu bukan milik saya.
Lucu kan, saya yang nggak punya apa-apa, diminta pulang ke Buton, tapi nggak punya kerjaan, tinggal di rumah mama yang bukan buat saya, tapi buat kakak.
Saya tetap dikasih bagian tentunya, tapi berupa tanah yang nggak rata.
Bayangkan saja berapa biaya pondasi dll, dan bayangkan saja saya tuh nggak punya pekerjaan tetap untuk bisa membangun rumah dan membiayai diri sendiri dan anak.
Jujur, saya ingin balik ke Surabaya, memaksa papinya untuk bertanggung jawab ke anaknya. Toh sama aja, di sini saya nggak bisa menghidupi anak-anak sendiri, bahkan nggak bisa menghidupi diri sendiri.
Tak punya juga keluarga yang support tanpa pamrih, support yang diberi mungkin ada, tapi nggak seberapa dibanding dengan bayaran mental down yang saya alami.
Ya Allah, saya nggak pengen mengeluh sebenarnya, tapi muak juga dengan kondisi yang tak pernah membaik.
Apalagi kalau teringat, sekarang kami tuh nggak punya apa-apa, nggak punya barang-barang sama sekali karena kapan hari kebakaran di rumah mama.
Sejak di Buton, saya jadi miskin banget rasanya, nggak bisa beli ini itu, karena mahal dan nggak punya uang masuk kayak di Surabaya.
Di Surabaya dulu, saya punya barang-barang karena dapat dari hasil kerja sama dan semacamnya. Nah sekarang semua barang itu habis terbakar, dan saya yang nggak punya duit untuk beli barang-barang yang dibutuhkan.
Saya juga lelah banget mendengarkan kata-kata manis orang,
"Sabar ya, insya Allah akan diganti lebih!"
Masalahnya adalah, mana tuh gantinya?
******
Pada akhirnya, semua tulisan saya di atas itu hanyalah sebuah pemikiran di saat saya merasa sangat capek dengan kehidupan ini.
Namun, in the end saya akan kembali semangat kok.
Saya biasanya akan bernafas dengan panjang, menghembuskan dengan panjang juga. Lalu berikutnya saya akan menyelipkan narasi positif di kepala saya, untuk masa depan atau setidaknya hari esok yang lebih baik.
Dengan kalimat-kalimat yang menjadi mantra positif dan penyemangat diri.
"Rey, jangan khawatir, kau sudah meminta pada Allah, agar diizinkan untuk punya rumah sendiri segera. Kau juga sudah minta pada-Nya, untuk diberikan kesuksesan sebelum waktunya kembali. Kamu tahu kan, Allah Maha Kaya, Maha Kuasa. Tentunya tak ada yang tak mungkin dengannya!"
Atau narasi yang biasanya work juga,
"Besok rekeningmu terisi, Rey. Allah Maha Kaya!"
Atau juga narasi,
"Kehidupanku akan baik-baik saja, anak-anak akan jadi anak-anak yang sukses dan bahagia, mereka akan mengerti perasaan dan kondisi maminya!"
Dan masih banyak narasi-narasi positif, yang work banget buat saya.
Demikianlah, pada akhirnya saya cuman mau menyampaikan, bahwa tulisan ini memang nggak jelas, tapi ditulis dari dalam hati yang terdalam.
Alhamdulillah bikin sedikit lega, namun saya berharap semoga tulisan ini nggak bikin teman-teman eneg.
Baubau, 01-02-2026
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)
Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)