Pagi ini saya keluar kos pukul 06.50, ngebut di jalan sambil sesekali ngomel, astagfirullah. Padahal sedang puasa loh, maafkan ya Allah. Hanya sekitar 7 menit, akhirnya kami sampai di tempat tujuan.
Yup, saya ngebut karena mengejar jadwal bus yang akan berangkat ke arah rumah mama. Sesuatu hal yang paling saya benci karena sudah lama banget nggak pernah ribet kejar-kejaran jadwal kendaraan umum karena keterbatasan.
Hal begini yang bikin saya kangen bahkan pengen balik ke Surabaya, karena di sana rasanya hidup lebih praktis, banyak pilihan, nggak perlu kejar-kejaran dengan hal-hal seperti ini.
Kalau nggak ada bus yang satu, kan nanti juga ada bus lainnya. Kalaupun bus lainnya juga nggak ada, masih ada banyak pilihan lainnya.
Intinya, hidup dengan banyak pilihan itu jauh lebih menyenangkan.
Tapi kan kamu kesulitan ekonomi di sana?.
Ye kan sama aja, di sini juga iya!.
*******
Sudah setahun lebih sejak kepulangan saya dan anak-anak ke Buton, di mana di bulan Januari 2025 lalu sampai ke Buton karena dipanggil pulang oleh mama.
Sejujurnya, ketika mama meminta hal tersebut, saya kebingungan.
Di sisi lain, saya tahu kalau di Buton saya nggak betah karena keterbatasan kehidupan. Ditambah tak ada yang bisa saya lakukan untuk menghasilkan uang.
Akan tetapi, momennya kok ya bisa dibilang pas enggak pas.
Saat itu, kebetulan saya sedang berjuang dengan kasus penelantaran keluarga yang dilakukan papinya anak-anak. Kebingungan dengan masalah duit, nggak ada tempat tinggal dan lainnya.
Baca juga : Stop Penelantaran Keluarga, Kenali Bentuknya!
Saya bukannya melihat kalau ajakan mama adalah sebuah jalan keluar dari masalah tersebut, tapi lebih semacam ujian, apakah saya mau menjadi anak yang 'nggak nurut orang tua' lagi?.
Fyi, keberadaan saya di Surabaya sebenarnya tak disetujui oleh keluarga, termasuk mama. Mereka semua ingin saya di Buton saja. Tapi, saya memang memilih tinggal jauh dari keluarga dengan banyak alasan.
Lalu, dengan keadaan seperti itu, tiba-tiba mama mengajak pulang lagi, saya merasa khawatir kena 'kualat' lebih, hehehe.
Terlebih saya mendapatkan kabar, bahwa ada lowongan yang bisa saya masukin di Buton. Tepatnya di sebuah perusahaan pengelola tambang aspal, yang lokasinya dekat rumah mama.
Saya bepikir, mungkin memang sudah seharusnya saya 'menyerah' dalam perjalanan hidup menjauh dari keluarga. Apalagi ada harapan bisa kembali bekerja dan menghasilkan uang secara stabil setiap bulannya.
Yang menjadi masalah, saya sepertinya lupa untuk shalat istikharah. Hanya berbekalkan, 'nurut orang tua adalah terbaik', dan saya pikir hal itu tentunya juga sama baiknya dengan pilihan Tuhan.
Dan begitulah, dengan berbekalkan mindset tersebut, saya berkemas dan mengurus semuanya. Anak-anak saya sounding, dan mereka yang awalnya sedikit protes, pada akhirnya nurut aja apa yang maminya lakukan.
********
Nyatanya, sebulan dua bulan di Buton, belum juga ada panggilan kerja. Padahal ketika di Surabaya, besar harapan saya, maupun keluarga kalau saya segera keterima bekerja di perusahaan tersebut.
Meskipun usia saya memang udah di atas rata-rata, tapi dengan skill yang saya miliki, saya yakin bisa dengan mudah beradaptasi dan bekerja dengan baik di perusahaan tersebut.
Terlebih, saya mengandalkan relasi untuk masuk ke dalam perusahaan tersebut, dan relasinya termasuk orang yang berpengaruh banget, dan nggak cuman satu atau dua orang.
Dengan kondisi demikian, pastinya peluang bisa keterima bekerja tentunya lebih besar kan?.
Tapi kenyataannya, bulan berganti bulan, belum juga ada kabar baik yang saya terima. Bahkan yang lebih mengejutkan, setelah lebaran saya mendengarkan kabar, kalau perusahaan tersebut merumahkan hampir semua karyawannya.
Hilang sudah semangat saya menanti pekerjaan tersebut, boro-boro diterima bekerja, justru perusahaan mengurangi banyak karyawan.
Saya kemudian mencoba cara lain, dengan pindah ke kota Baubau untuk bisa meneruskan profesi blogger saya.
Nyatanya, meski berada di kota, keadaan tidak bisa sama seperti di Surabaya. Selain memang job blogger semakin sepi jika mengandalkan kerjasama backlink semata. Pun juga kota Baubau belum menjaring target market dari blog.
Orang-orang lebih banyak yang memilih konten video, seperti YouTube dan TikTok untuk pedoman mencari sebuah informasi.
Untungnya saya bisa diterima bekerja di sebuah klinik medis swasta, melalui relasi juga.
Selesai dong masalahnya?.
Baca juga : Perempuan Wajib Menguasai Bahasa Inggris
Oh tentu belum.
Gaji yang saya terima dari pekerjaan tersebut jauh di bawah UMK Baubau, yang tentunya belum mencukupi kebutuhan hidup kami.
Boro-boro kebutuhan hidup kami bertiga ya, kebutuhan saya dan si Adik aja belum bisa terpenuhi jika mengandalkan gaji tersebut.
Saat ini, saya bisa bertahan karena mendapatkan bantuan dari teman yang masya Allah baiknya. Jadi, karena dia tinggal di Bali, dan punya kamar di rumah mertuanya di Baubau, dan kamar itu kosong setelah ditinggalkan, jadi dia menawarkan saya untuk tinggal di kamar tersebut secara gratis.
Jadi, saya bisa menghemat biaya tempat tinggal yang juga lumayan mahal di kota seribu benteng ini. Saya hanya perlu mengeluarkan biaya untuk listrik dan air saja.
Akan tetapi, sudah berbulan-bulan saya tinggal di kamar tersebut, belum juga ada perubahan nasib saya. Jujur saya malu banget menumpang tanpa bayar seperti itu. Tapi, mencari tempat tinggal lain juga tak semudah itu.
Selain duit saya sangat terbatas, pun juga sulit mencari kos dengan kamar yang sedikit luas untuk ditinggali bersama 2 anak.
Dalam ketidak nyamanan hati saya karena menumpang melulu, tiba-tiba saya mendapatkan kabar kalau kakak tersebut akan pulang ke Buton di waktu lebaran ini. Itu berarti mereka bakal pakai kamar tersebut.
Seketika makin puyeng lah kepala saya.
********
Dengan keadaan seperti itu, ditambah berbagai masalah yang menimpa, misal anak-anak yang semakin dewasa semakin sulit dikendalikan. Mulai dari si Kakak yang memang tinggal bersama neneknya, dan tanpa kontrol yang lebih seperti yang saya lakukan selama ini.
Alhasil, setelah saya nggak tinggal sama dia, si Kakak mulai malas-malasan dan sering main HP tanpa kenal waktu.
Dia tentu saja masih mendengarkan perintah neneknya, tapi semuanya harus disuruh. Itupun, suruhan untuk mengurus dirinya tak dilakukan dengan baik.
Alhasil, kamarnya bau banget, badannya bau, bahkan sempat gatal-gatal, mukanya penuh jerawat, giginya kotor.
Malas cuci baju, sehingga bajunya dicuciin neneknya.
Dan semua itu tak luput dari pengetahuan tantenya, kakak saya. Dinasihatin, iya-iya mulu, tapi nggak dikerjakan.
Alhasil, kakak saya bolak balik menegur saya karena sikap si Kakak Darrell.
Jujur ya, being a single fighter mom itu, dikasih nasihat atau perintah,
"Kasih tahu dong anakmu!"
Dan itu berulang kali, bikin saya kesal dan stres banget.
Tak perlu diingatkan berulang kali, karena saya juga termasuk ibu yang super disiplin dan galak sebenarnya. Jika si Kakak seperti itu, karena memang dia nggak tinggal sama saya.
Dan saya sebagai ibunya udah ngasih tahu berulang kali, bahkan pakai cara yang keras pun, tetap tak bisa diindahkan seperti saat saya ada di sampingnya.
Bahkan ketika liburan seperti ini, si Kakak datang ke Baubau, dan itupun saya stres berat melihat sikapnya yang banyak berubah, malas mengurus diri, padahal dia udah masuk usia remaja.
Bukan hanya kakak Darrell, Adik Dayyan pun dengan semua ujiannya buat saya. Mulai dari sikapnya yang sangat aktif, sementara dia mengikuti saya ke mana-mana.
Di kos, ketika saya lengah dikit, dia udah menghilang ke luar kamar, lalu tiba-tiba pemilik kos (adik ipar teman saya), datang menegur dia yang katanya mainin pasir sampai berserak ke mana-mana.
Udah gitu, si Adik berbohong pula, nggak mau ngaku. Bukan main marahnya saya.
Di kantor pun sama, saya tak bisa bekerja dengan fokus. Fokus sedikit berarti saya lengah, dia bakal pakai komputer di samping saya sampai berjam-jam lamanya.
Ketika saya larang, dia bakal ngambek lalu menghilang. Ujung-ujungnya saya temukan dia lagi nonton atau main komputer di Apotek yang memang agak jauh dari ruangan saya.
Kalau enggak bisa pakai komputer, dia bakal mengambil HP UGD buat main, astagfirullah.
Nggak cuman di situ, ketika saya larang semua aktifitasnya di HP maupun komputer, dia akan ngambek sejenak. Namun itu nggak bertahan lama, setelahnya dia bakalan keluyuran di semua ruangan klinik, dan jika sudah begitu, saya was-was takut dia merusak alat-alat yang ada.
Kadang dia masuk ke ruang dokter ketika kosong, nyalain AC lalu tiduran di bed pasien. Di lain waktu dia menghilang dan ternyata masuk ke ruang dokter kandungan, dia mau mainin alat USG dong.
Ampun deh.
*********
Baca juga : Muhammad Dayyan Khairullah
Dengan semua masalah tersebut, ditambah dengan kelakuan anak-anak, saya jadi sering uring-uringan. Dan ujungnya berpikir semacam ada penyesalan dalam hati, mengapa sih harus pulang ke Buton?.
Karena kalau dipikir dan dilihat, tak ada perubahan dalam hidup kami, yang ada hanya kemunduran.
Di Surabaya, kami juga kekurangan ekonomi, tapi jika disiasati dengan cari sekolah negeri dan kontrakan di pinggir kota, sebenarnya masalah ekonomi masih bisa ditekan.
Pun juga di kota tersebut, saya masih bisa membangun blog dengan baik dan berpeluang lebih besar. Dari kerjasama blog maupun akun media sosial, saya bisa memberikan anak-anak pilihan yang lebih banyak.
Anak-anak bisa ikut les coding dan robotica gratis, bisa coba bimbingan belajar gratis, bisa cobain banyak hal gratis dengan berbekalkan kerja sama maminya dengan klien-klien yang ada.
Dan masih bisa dengan mudah meminta pertanggung jawaban papinya, dengan bantuan UPTD PPA bahkan Polrestabes Surabaya.
Intinya, daripada hidup susah tanpa masa depan di sini, mendingan di Surabaya dengan banyak peluang untuk anak-anak kan ya.
Di sana, pendidikan jauh lebih lengkap dan bagus, kualitasnya juga jauh lebih bagus, fasilitas sekolah jauh lebih lengkap, akses ke buku-buku di perpustakaan lebih mudah, jadi anak-anak bisa punya kegiatan lain selain buka HP melulu.
Toh hidup saya juga sama aja, di sini memang dibantuin mama dan kakak sesekali, tapi bantuan tersebut ibarat hutang yang ditumpuk, untuk menunggu waktunya diungkit bahkan bisa jadi ditagih.
Saya juga nggak punya rumah di sini, bahkan sampai detik ini saya menulis curhatan ini sambil pusing mikirin gimana nih, mau tinggal di mana setelah pemilik kamar kami datang?.
Beberapa teman saya mengatakan, mengapa sih saya nggak tinggal di rumah mama saja?.
Selain rumah mama jauh dari kota Baubau, sekitar 70KM, pun juga rumah mama itu bukan buat saya, tapi diwariskan ke kakak saya.
Saya tetap dapat warisan, tapi sebidang tanah yang butuh timbunan, dan banyak uang untuk bisa dibangun.
Lalu, dengan keadaan saya seperti sekarang, bisa dijelaskan bagaimana caranya saya membangun rumah dengan biaya yang sangat mahal (di sini tuh membangun rumah mahal, mulai dari bahannya mahal, harga tukang pun mahal dan ribet, karena kebanyakan tukang harus dikasih makan atau dimasakin).
Kalaupun tanah tersebut dijual, harganya juga nggak bisa nutupin biaya beli rumah di kota Baubau.
Terus, dengan keadaan demikian, apa gunanya saya pulang ke Buton, tanpa ada yang bisa saya lakukan?.
Anak-anak saya tumbuh jadi anak yang tak lagi disiplin seperti di Surabaya, sekolah seadanya, nggak pernah lagi ada pilihan kegiatan ekstrakurikuler yang bisa mereka ikutin.
Kerjasama dengan klien maminya pun semua batal dilakukan, karena lokasi domisili saya yang jauh dari pulau Jawa.
Ah pusing.
Kesimpulan dan Penutup
Hidup memang sering membawa kita pada pilihan yang terasa benar saat dijalani, tetapi baru terlihat konsekuensinya setelah waktu berjalan.
Seperti kepulangan saya ke Buton berawal dari harapan akan stabilitas dan kedekatan dengan keluarga. Kenyataannya justru menghadirkan banyak keterbatasan, baik secara ekonomi, peluang, maupun ruang tumbuh bagi anak-anak.
Akan tetapi, dari perjalanan ini saya belajar bahwa tempat tinggal bukan sekadar soal dekat dengan keluarga atau mengikuti arus keadaan, tetapi juga tentang peluang hidup, akses masa depan, dan ruang berkembang bagi diri sendiri serta anak-anak.
Memang ya, seringnya keputusan terbaik bukan yang paling “nurut”, tapi yang paling memberi harapan.
Mungkin sampai hari ini saya masih sering mengeluh, masih sering rindu Surabaya, dan masih sering bertanya-tanya apakah dulu saya salah memilih jalan. Tapi satu hal yang saya tahu, perjalanan ini belum selesai.
Selama masih ada niat untuk bangkit, masih ada langkah kecil yang bisa diambil, dan masih ada doa yang dipanjatkan, selalu ada kemungkinan untuk mengubah arah hidup. Entah kembali ke Surabaya, atau menemukan jalan lain yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Untuk sekarang, saya hanya ingin terus berjalan, pelan-pelan, sambil mencari pintu yang benar-benar terbuka untuk saya dan anak-anak.
Dan begitulah alasannya, mengapa saya susah move on dan selalu ingin kembali ke Surabaya.
Baubau, 21-02-2026

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)
Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)