Siang tadi saya iseng membuka aplikasi Threads di sela-sela menunggu rekan kerja yang hendak mengunjungi kantor dari sebuah program untuk perempuan dan anak di kota Baubau.
Saya tertegun membaca salah satu utas yang berbunyi,
"Setelah jadi janda, saya jadi tahu ternyata banyak laki yang nggak setia!"
Bukan masalah kalimat ini sih yang menarik perhatian, tapi ada sebuah komen yang bikin saya jadi berpikir, ternyata ada loh janda yang nggak digodain laki hidung belang.
"Alhamdulillah, udah 7 tahun menjanda dan baru tau hal itu. Semoga kita bisa menjaga diri agar tak bersahabat dengan lelaki!"
Komentar itu di like dan komen banyak orang, dan beberapa balasan bikin saya makin berpikir.
"Janda mahal nih!"
Jujur, saya yang sering berteman dengan kebanyakan laki, merasa tersindir, merasa diri ini janda murah (eh padahal saya masih pra janda, hahaha).
*****
Kenyataannya saya nggak cuman asal dan pick me, sehingga berteman dengan banyak teman laki, selain karena teman-teman sekolah saya kebanyakan laki.
Sebagai info lagi nih, saya sejak SD teman sekelas cewek tuh dikit, SMP juga sama. Pas lulus malah masuk STM, malah makin dikit kan teman perempuannya. Lalu melanjutkan kuliah di jurusan teknik sipil, serta bekerja di bidang teknik sipil.
Begitulah teman-teman saya jadinya kebanyakan laki, lebih sering berinteraksi juga dengan laki. Justru saya punya teman perempuan atau sering berinteraksi dengan perempuan tuh, akhir-akhir ini.
Dan saya jadi bisa merasakan bener, apa sih perbedaan berinteraksi dengan laki dan perempuan.
Berinteraksi Dengan Teman Laki-Laki
Well, sebenar saya mulai banyak berinteraksi dengan lelaki itu, dimulai sejak bekerja sih. Sebelumnya, meski teman perempuan saya dikit, tapi saya tetap memilih berteman dengan perempuan saja.
Maklum ya, saya tumbuh besar di daerah yang masih menganggap kalau perempuan berinteraksi dengan lelaki itu, nggak baik.
Anggapan tersebut melekat di dalam kepala saya, sampai akhirnya bahkan sudah kuliah di Surabaya pun, saya membatasi interaksi dengan lawan jenis.
Terlebih, ketika kuliah saya udah mengenal si pacar, yang mana dia memang nggak pernah melarang saya berteman dengan lawan jenis secara terang-terangan. Tapi dia selalu menghabiskan waktunya bersama saya, jadinya nggak pernah lagi punya waktu lain yang bisa digunakan berinteraksi dengan teman laki, kecuali untuk urusan kampus.
Setelah lulus dan bekerja di bagian teknik sipil, tentunya mau nggak mau interaksi dengan lawan jenis tak bisa lagi dielakan. Saya bekerja di kontraktor, dan mostly rekan kerjanya ya laki.
Maka dimulailah era baru beradaptasi dengan rekan-rekan lawan jenis, dan Alhamdulillah sih, lancar-lancar saja.
Menurut pengalaman saya, ada beberapa hal yang menjadi kelebihan dan kekurangan kita eh maksudnya saya, sebagai perempuan single / menikah / pra single lagi dalam berinteraksi dengan lawan jenis.
Kelebihan Berinteraksi dengan Teman Laki-Laki Ala Rey
1. Bebas Drama!
Buat saya pribadi, kelebihan utama berinteraksi atau berteman dengan lawan jenis atau lelaki adalah, bebas drama. Ketika berinteraksi dan berkomunikasi dengan rekan lelaki, jarang banget ada yang tersinggung dan berakhir drama.
Dengan demikian saya bisa dengan bebas bercerita, tanpa was-was kalau over sharing dan menyinggung perasaan teman ngobrol. Dan biasanya bahan obrolan juga banyak, luas dan bisa beragam. Nggak perlu ngomongin orang lain, bahkan bahannya cenderung ke arah yang bikin insight kita sebagai perempuan bertambah.
Berinteraksi dengan rekan lelaki juga lebih simple, di mana saja nggak masalah. Nggak perlu ada perlengkapan ini itu, juga bisa.
2. Sudut Pandang Lain
Pola pikir perempuan dan laki-laki tuh berbeda, jadi ketika kita berinteraksi dan ngobrol dengan teman lelaki, tentu saja saya bisa mendapatkan insight pemikiran yang berbeda.
Saya jadi paham, ternyata lelaki tuh cara berpikirnya beda sama perempuan, sehingga ketika kita membahas satu topik dengan lelaki, akan menghasilkan pemahaman yang berbeda dari pemikiran perempuan.
Jadinya, sudut pandang kita dalam memahami sebuah masalah tuh jadi lebih luas, nggak terpaku dari pikiran sebagai perempuan semata. Karena lelaki biasanya memang lebih tertarik pada hal-hal yang lebih luas, tak melulu tentang seseorang.
3. Lebih Jujur
Nggak tahu ya kalau yang lain, tapi kalau pengalaman saya, memang nggak ada teman perempuan yang blak-blakan jujur menilai diri kita atau masalah yang sedang dihadapi.
Berbeda dengan ketika ngobrol dengan lelaki, mereka tuh cenderung blak-blakan, mungkin karena lebih sering menggunakan logikanya ketimbang perasaannya.
Jadinya, untuk poin ini memang bisa dibilang kelebihan atau juga kekurangan ya. Tergantung mental seorang perempuannya, kalau udah biasa berinteraksi dengan para lelaki, seharusnya sih udah biasa mendengarkan komentar atau masukan blak-blakan yang kadang bikin hati nyes juga, hehehe.
4. Anti Ribet
Kebanyakan lelaki tuh hidupnya simple, nggak ribet, harus begini harus begitu. Kalau mau kumpul-kumpul, di mana saja juga jadi.
Intinya kebanyakan para lelaki tuh lebih praktis tanpa banyak pertimbangan untuk melakukan apapun. Sehingga keseruannya lebih terasa.
Bukan hanya tempatnya yang simple, pemikirannya juga simple. Buat saya ini juga baik buat perempuan yang suka overthinking, karena bisa diajak berpikir lebih logis.
Kekurangan Berinteraksi dengan Teman Laki-Laki Ala Rey
Nggak selalu penuh dengan nilai positif, berteman dengan lelaki juga ada banyak nilai minus atau kekurangannya, di antaranya:
1. Potensi Baper
Namanya manusia dewasa yang berbeda kelamin dan normal, seringnya interaksi keduanya diwarnai dengan hal-hal yang 'terbawa perasaan' atau baper. Entah itu dimulai dari perempuannya, ataupun lelakinya.
Lebih seringnya sih dimulai dari lelaki yang memiliki perasaan lebih. meski awalnya hanya sekadar berteman.
Sebuah study menunjukan bahwa banyak laki-laki sering menganggap pertemanan dengan lawan jenis punya potensi romantis. Sedangkan perempuan lebih sering menganggap hal tersebut adalah platonis (murni teman).
2. Stigma Sosial yang Buruk
Ini sih yang paling saya rasakan, khususnya di daerah-daerah tertentu, persahabatan bahkan sekadar kumpul-kumpul sesekali dengan teman-teman lelaki, luar biasa memantik stigma negatif di masyarakat.
Apalagi karena status saya yang pra jendes ini, hahaha. Bergerak dikit, kena gosip negatif.
Bahkan saking stigma tersebut sangat kuat, di beberapa daerah kota-kota kecil hingga pelosok, perempuan khususnya pra janda, tak diterima bekerja di perusahaan atau usaha yang melibatkan banyak lelaki.
Di kota Baubau misalnya, citra saya yang mati-matian saya bangun sebagai blogger lulusan teknik sipil, ditolak mentah-mentah untuk bekerja di bidang teknik sipil.
Jujur saya hampir putus asa melawan stigma yang merugikan saya sebagai perempuan ini. Bagaimana bisa seorang perempuan bukan hanya dianggap nggak mampu bekerja di antara para lelaki. Justru ditolak seolah perempuan tuh nggak baik buat perusahaan.
Itu dalam dunia profesional ya, apalagi hanya sekadar kumpul-kumpul dengan rekan lelaki.
Hmmm...
3. Pasangan Cemburu
Biasanya ini sih dialami oleh pasangan perempuan. Misal saya punya pasangan, dan saya sering berinteraksi dengan banyak teman lelaki. Maka siap-siap saja pasangan saya jadi cemburu.
Mungkin karena seperti poin nomor 1, di mana para lelaki tuh paham banget bagaimana mereka ketika berinteraksi atau bersahabat dengan lawan jenis dan selalu ada peluang baper.
Meski demikian, kecemburuan pasangan dari lelaki juga tak kalah banyak terjadi. Apalagi dengan status single fighter mom, dan berinteraksi dengan rekan lelaki yang punya pasangan atau istri. Tentu saja pasangannya punya potensi cemburu juga.
Berinteraksi Dengan Teman Perempuan
Persahabatan saya dengan rekan atau teman perempuan yang sehat tuh baru saya alami setelah dewasa dan punya anak.
Sebelumnya, saya merasa persahabatan saya tuh kayak ada perasaan 'takut tak punya teman', jadi teman-teman yang ada tuh nggak semua terlihat tulus.
Saya pernah menuliskan cerita tentang bagaimana saya yang terlihat dimanfaatkan oleh teman kuliah perempuan.
Baca juga : Pengalaman Menghadapi Teman yang Nyebelin
Setelah lulus kuliah, saya jadi jarang berinteraksi luas dengan teman perempuan khususnya secara intens ya. Karena saya bekerja diperusahaan yang pekerjanya kebanyakan laki-laki.
Nantilah ketika saya kembali ke Buton, dan kesulitan mencari pekerjaan di bidang teknik sipil. Oleh kakak saya dicariin peluang di bidang medis karena kakak saya seorang tenaga kesehatan.
Dan begitulah, ketika saya bisa bekerja di sebuah klinik medis swasta, maka otomatis kebanyakan rekan kerja saya adalah perempuan.
Di sinilah petualangan persahabatan saya dengan banyak teman perempuan dimulai, sehingga saya bisa membandingkan apa-apa saja kelebihan dan kekurangan berteman dengan sesama perempuan.
Kelebihan Berinteraksi dengan Teman Perempuan Ala Rey
1. Lebih Bebas Dari Stigma Negatif
Yup, tentunya berteman dengan sesama perempuan tuh bebas dari stigma negatif seperti kita berteman dengan rekan laki-laki ya.
Meskipun ada juga sih peluang digosipkan lesbian, ketika saya dekat banget dengan teman perempuan yang sangat baik.
Namun secara keseluruhan, pertemanan dengan sesama perempuan tuh lebih damai, nggak bakal jadi overthinking karena gosip-gosip miring yang beredar di masyarakat.
2. Lebih Saling Memahami
Mengobrol dengan sesama perempuan tuh asyiknya selalu nyambung, namanya juga sama-sama jenis kelaminnya ya. Kalaupun ada perbedaan pendapat, ya bedanya nggak jauh-jauh amat.
Nggak kayak bedanya pemikiran lelaki yang lebih sering menggunakan logikanya.
Meskipun tetap saja ada beberapa orang perempuan yang punya pemikiran praktis layaknya lelaki, tapi sebagian besar ya masih dipengaruhi oleh perasaan.
Karena itulah, sesama perempuan tuh lebih sering mudah dalam saling memahami.
3. Support Sistem yang Asyik
Karena pertemanan dengan perempuan selalu lebih mudah, lebih kecil dikenai stigma negatif dari masyarakat, dan juga bisa lebih mudah saling memahami. Jadinya, perempuan tuh bisa jadi support sistem yang lebih asyik ketimbang lelaki.
Terutama jika kita mengobrol tentang masalah hati, teman perempuan cenderung memberikan ruang validasi yang kuat ketimbang lelaki.
Kekurangan Berinteraksi dengan Teman Perempuan Ala Rey
Meski demikian, pertemanan dengan rekan perempuan juga ada banyak kekurangan atau hal-hal yang terbilang negatif kali ya. Di antaranya:
1. Berpotensi Drama
Ya Allaaaaah, saya lelah banget nih masalah drama pertemanan atau interaksi dengan rekan perempuan. Lupakan pick me, sepertinya saya memang nggak cocok terlalu sering berteman atau berinteraksi dengan perempuan.
Sejak pulang ke Buton, nggak terhitung berapa kali saya harus berurusan dengan 'salah bicara' lalu harus konfirmasi sana sini.
Rasanya pertemanan dengan perempuan ini kok ribeeeett buanget. Yang diomongin seringnya sesama kita-kita, eh giliran setelahnya tiba-tiba yang diomongin kok bisa tahu apa yang kita obrolin. Lalu dituntut harus menjelaskan maksud pembicaraan tersebut.
Jujur saya lelah banget dengan masalah beginian.
2. Jadi Suka Bergosip
Hal lainnya yang bikin persahabatan dengan perempuan jadi terasa minus adalah, ketika mengobrol seringnya yang dibahas ya masalah orang lain.
Nggak tahu kenapa ya, kebanyakan perempuan tuh lebih tertarik membicarakan hal-hal tentang orang lain, udah gitu hal negatif pula.
Aib orang tuh rasanya mendominasi percakapan sesama perempuan. Dan ini keterusan dengan poin pertama. Ketika ada pihak yang tidak bisa menjaga isi pembicaraan tersebut, lalu akhirnya empunya aib mendengarkan, lantas bingung sendiri kita jadi nggak enak harus klarifikasi masalah tersebut.
Sering saya berpikir, keseringan kumpul dan mengobrol bersama perempuan itu, bikin dosa kita semakin banyak. Karena dijamin kita bisa lebih banyak tahu tentang aib banyak orang.
Dan yang lebih menyedihkan, ketika ternyata kita juga nggak bisa menahan diri untuk tidak membahas hal tersebut kepada orang lain, Jadilah gosip beredar luas, dan dosa kita bertambah besar juga.
3. Berpotensi Salah Ngomong
Karena perempuan cenderung menggunakan hatinya, jadinya lebih sensitif dan berpotensi salah ngomong lantas menyinggung perasaan teman sendiri.
Kadang juga dari percakapan biasa, berkembang jadi sebuah celah di hati masing-masing yang mengganjal. Dan sedihnya biasanya hal ini akan terbawa sampai lama.
Kalau kita terbiasa berkomunikasi dengan teman lelaki, rasanya kita bakal jadi sering bermasalah ketika harus ngobrol dengan teman perempuan. Karena ketika kita terbiasa berbicara secara blak-blakan dengan tujuan jujur, eh nyatanya lawan bicara kita lebih sensitif.
Ini juga jadi masalah besar saya setelah sering mengobrol dengan teman perempuan ketika di Buton. Karenanya ketika di kantor, saya lebih suka menghabiskan waktu luang dengan menulis di komputer. Demikian juga, ketika sedang kumpul teman atau keluarga perempuan, saya lebih memilih jadi pendengar yang baik saja, daripada bermasalah karena salah ngomong.
Penutup dan Kesimpulan
Pada akhirnya, berteman, baik dengan laki-laki maupun perempuan, bukan soal siapa yang lebih benar atau lebih salah. Semuanya kembali pada batasan, kedewasaan, dan niat masing-masing individu.
Pengalaman hidup membuat saya sampai pada satu pemahaman sederhana, tidak semua interaksi harus dicurigai, dan tidak semua kedekatan harus dimaknai lebih jauh.
Berteman dengan laki-laki memberi saya ruang berpikir yang lebih logis, sederhana, dan minim drama. Sementara berteman dengan perempuan menghadirkan rasa dipahami, divalidasi, dan disokong secara emosional. Keduanya sama-sama berharga, sekaligus sama-sama punya tantangan.
Yang melelahkan bukan pertemanannya, melainkan stigma sosial yang sering kali datang tanpa mau memahami konteks dan perjalanan hidup seseorang.
Sebagai perempuan dewasa, dengan latar hidup, pekerjaan, dan pengalaman yang membentuk saya. Saya belajar bahwa menjaga diri bukan berarti membatasi diri secara berlebihan. Dan Saya juga belajar bahwa nilai diri saya tidak ditentukan oleh siapa teman saya, melainkan oleh bagaimana saya bersikap, mengambil keputusan, dan menghormati diri sendiri.
Mungkin yang perlu kita perbaiki bukan cara perempuan berteman, tetapi cara masyarakat memandang perempuan. Karena pada akhirnya, pertemanan yang sehat tidak pernah menjadi masalah, yang bermasalah adalah prasangka yang dibiarkan tumbuh tanpa empati.
Baubau, 07-02-2026
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)
Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)