Anak Perempuan dan Luka yang Mungkin Dianggap Lebay

Pukul 07.36, saya memutuskan membuka laptop untuk menuliskan sedikit kegundahan hati pagi ini. Sebenarnya saya berencana sudah keluar sejak pukul 7 tadi, tapi dasar saya nggak suka liat ada pekerjaan numpuk.

Pas masuk kamar mandi liat ada pakaian yang direndam, saya buru-buru nyuci dulu deh setelahnya baru mandi. Pas selesai semua liat jam, astagfirullah udah mendekati pukul 7 pagi.

Secepatnya saya menyelesaikan persiapan untuk berangkat, tapi hati terasa nggak enak karena liat di luar kok gelap, mendung terlihat menggelayut di langit kota Baubau.

Dan kekhawatiran saya terbukti, hujan lalu turun membasahi bumi, membuyarkan semua rencana saya yang seharusnya berangkat anterin si Adik Dayyan ke rumah tantenya pagi ini.

Seketika juga bad mood melanda, apalagi ketika melihat si Adik yang slow motion, duh!.

Akan tetapi setelah saya hembuskan nafas kencang, seketika udara yang menggumpal di dada *halah, keluar dan melegakan dada.

Sebenarnya bad mood saya pagi ini bermula sejak kemarin. Ketika saya merencanakan pagi ini bakal ke rumah mama. Entah mengapa saya tuh malas banget ke rumah mama.

Apalagi belum juga ke sana, kakak udah menyiapkan berbagai hal yang harus saya lakukan di sana, salah satunya bersihin kamar Kakak Darrell.

Jujur saya pengen nangis, ke rumah mama naik motor sejauh 70 KM itu saja sungguh menyiksa, apalagi ketambahan sampai di sana kerja berat lagi.

Saya merasa kesal karena sepertinya mereka nggak paham kalau saya ini udah berumur, udah nggak sanggup kerja fisik yang keras. Apalagi saya memang sejak dulu nggak kuat fisiknya untuk bekerja keras gitu.

Alasan lain, saya sebenarnya ke rumah mama buat nganterin surat lamaran kerja yang akan dititipin di tetangga mama. 2 hari lalu saya ditelpon oleh tetangga mama untuk menanyakan apakah mau masukin lamaran kerja di sebuah perusahaan dekat sana.

Akan tetapi, selain syaratnya banyak, termasuk kakak nyuruh saya bikin surat domisili sana, yang mengganggu pikiran saya tuh, kalau memang misalnya bisa masuk kerja di sana, itu berarti pindah lagi dong ke rumah mama.

Jujur saya nggak betah tinggal sama mama, nggak kuat beradaptasi dengan mama yang maunya banyak, sensitif dan pokoknya bikin nggak nyaman lah.

Selain itu, jika saya pindah ke sana lagi, itu berarti si Adik bakalan pindah ke sana lagi.

Ya Allah, selain kasian dia pindah-pindah mulu, jujur menyedihkan kalau anak-anak saya bersekolah di pelosok, hiks.

Saya paham betul bagaimana rasanya, tertinggal dalam hal apapun, padahal saya bukan pejabat di sini. You know, kalau kamu nggak punya siapa-siapa di sini, akan sulit berkembang.

******


Akhirnya dengan pikiran galau, saya memutuskan tetap berangkat, dan sampai pukul 10.30an. Ini kecepetan sih, Alhamdulillah saya selamat.

Pas nyampe, mama lagi masak dan si Kakak Darrell belum pulang sekolah. Mama lalu meminta saya sekalian minta bikin surat keterangan domisili, sayangnya mati lampu, jadi nggak bisa langsung jadi.

"Tumben juga nih lampu mati, biasanya udah lama tak pernah mati", kata mama, seolah-olah saya takut saya mengeluhkan keadaan itu.

Dulu ketika saya pindah ke Baubau dari rumah mama, saya memang beralasan nggak betah di rumah mama karena sering mati lampu dan sering hilang sinyal internet.

Sepertinya mama sedih saya pindah, dan berharap saya kembali di rumah itu.

"Mama mau kasih telur ayam ini buat si Mas ah, mau ambil hatinya!", mama berjalan sambil memegang telur ayam kampung yang diambilnya dari kandang ayam peliharaannya.

Mas yang dia maksud adalah seorang site manajer di sebuah perusahaan aspal yang rencananya saya bakal masukin lamaran kerja di sana.

Hati terenyuh, sepertinya mama serius pengen saya kembali ke rumah tersebut. Rumah yang mungil dan gerah karena atapnya pendek dan tanpa plafon. 

Sejak kebakaran beberapa bulan yang lalu, mama dibantu beberapa dana bantuan, kembali membangun rumah tersebut, meskipun lebih kecil dan sederhana.

Saya juga berpikir, apakah saya betah tinggal di situ kembali? sementara sebelumnya rumah mama memang sudah sangat tua, tapi lumayan luas dan lebih adem.

"Memangnya langsung pulang kah? tidak nginap?", kembali beliau bertanya sambil hati-hati menyusun telur ayam kampungnya di dalam kulkas kesayangannya.

"Iya Ma, adek tadi nggak bawa baju sekolah buat besok di rumah tantenya", jawab saya pelan.

"Memangnya besok masuk kerja kah?", tanya mama lagi.

"Enggak sih, cuman saya ada target nulis yang harus selesai malam ini", jawab saya.

Mama lalu terdiam, sementara saya meneruskan beberes kamar si kakak yang bau apek banget, juga ruangan lainnya yang penuh debu.

******


Sekarang pukul 21.58 WITA, saya udah di kamar kos lagi, tadi pulang dari rumah mama pukul 4 sore, dan Alhamdulillah saya bisa ngebut dan tiba dengan selamat pukul 17.30an.

Mampir sejenak buat beli ikan di pasar dadakan dekat kos, lalu pulang dan mengirim pesan ke kakak bahwa saya udah di kos, agar dia bisa anterin si Adik yang pulang sekolah mampir ke rumahnya.

Perjalanan hari ini menyisakan mixed feeling di hati saya. Di satu sisi berpikir kalau mama tuh sebenarnya pengennya saya tinggal dengan dia di sana, tapi di sisi lain saya juga sadar kalau nggak betah dengan mama.

I mean, beliau mungkin sayang sama saya, tapi beliau nggak tahu kalau saya udah dewasa dan butuh menjadi diri sendiri.

Mama juga mungkin nggak paham, bahwa pola pikir kami sangat berbeda, hanya saja saya tak seperti kakak saya yang seringnya nggak pandai menjaga perasaan orang lain, sehingga apapun yang ada di hatinya langsung diungkapkan begitu saja, nggak peduli mama tersinggung.

Sementara saya beda, saya hanya akan tersenyum, atau paling banter kalau udah capek ya diam aja. Terus lama kelamaan malas makan, sampai mama sibuk membeli makanan apa saja buat ditawarin ke saya.

Karena itulah sepertinya mama tak paham, kalau saya butuh space untuk menjadi diri sendiri. Saya nggak suka dipaksa harus se'sabar' mama. Saya juga nggak suka dipaksa untuk se'irit' mama.

Alasannya klasik, saya tak menganggap mama itu benar-benar sabar, menurut saya beliau hanya lebih suka diam, bukan sabar.

Dan menurut saya, mama juga nggak benar-benar irit dengan bijak. Terbukti sudah bertahun-tahun beliau hidup dengan irit, nyatanya beliau juga nggak pernah benar-benar bisa nabung.

Pola pikir kami berbeda, ketika mama meminta saya irit dengan kadang terbilang ekstrim buat saya. Sementara saya malah lebih suka mencari tambahan pemasukan untuk memenuhi yang kurang.

Mama yang selalu memaksa saya untuk sabar, tapi sebenarnya itu bukan sabar, tapi itu adalah pembungkaman terhadap kebebasan bersuara.

Hal lain yang juga bikin saya kecewa dengan mama, adalah ketidak punyaan prinsip terhadap anak-anaknya. Beliau hanya membela anak yang bisa membantunya dengan uang.

Ketika saya dan kakak berseteru, mama bahkan tega memaki dan mengusir saya. Bahkan sengaja mengeluarkan kata-kata yang bikin hati saya terluka,

"Harusnya adikmu itu tidak usah pulang ke Buton, saya sudah anggap mati kok anak itu, saya haramkan tubuh saya disentuh adikmu saat saya meninggal!"

Kalimat itu disampaikan kakak saya ke saya, dan ketika saya konfirmasi, katanya betul karena mama marah sama saya, saat kami berseteru masalah ipar yang ganjen itu.

Kebayang nggak sih bagaimana kecewanya hati saya.

Sejujurnya semua kekecewaan ini sudah lama ada sejak saya di Surabaya. Bayangkan bertahun-tahun mama nggak mau balas pesan atau angkat telpon saya. Sampai yang awalnya saya sedih, sampai akhirnya mati rasa.

Dan karena itulah saya juga menganggap diri kalau udah yatim piatu dan sebatang kara. Sampai akhirnya keluarga dari pihak bapak menasihati kakak untuk meminta mama agar nyuruh saya pulang ke Buton.

Lalu, setelah sejak dulu saya katakan, kalau saya nggak mau pulang karena nggak nyaman dengan ipar yang ganjen itu. Tapi tak seorangpun yang percaya, bahkan menuduh saya ke-GR-an.

Kemudian setelah pulang dan terbukti ganjennya, kenapa semua malah marah pada saya?. Dan begitulah, saya selalu yang salah.

Tidak berlebihan dong ya kalau hati saya semacam mati terhadap keluarga, hanya karena saya memang terbiasa nggak tegaan, makanya saya masih begitu perhatian kepada mama dan kakak. 

******


Ah, sesungguhnya semua tulisan saya di atas hanyalah sebuah keluhan sisi hati saya yang penuh. Pada akhirnya saya hanya mengeluarkan hal itu untuk membuat hati saya lebih ringan dan legowo.

Apapun itu, saya tetap mencintai mama dan kakak dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Se'luar biasa anehnya' mereka, hanya mereka berdualah keluarga saya sekarang.

Dan se'nggak jelas' pikiran mereka terhadap saya, yakin banget kalau dalam hatinya masih cinta tulus untuk saya, anak perempuan keduanya dan adik perempuan satu-satunya.

Kami hanya tinggal bertiga sekarang, andai bapak masih ada, mungkin beban kami bisa terbagi juga dengan bapak, sehingga lebih ringan.

Nyatanya, se'mengecewakan' saya di hati mama, yakin juga kalau mama masih punya rasa sayang buat saya, juga anak-anak saya.

*******


Kadang saya berpikir, apakah ini sesuatu buat mama atau juga buat saya sebagai anaknya?.

FYI, dulu ketika bapak masih hidup, kami semua mengira mama lah yang akan duluan meninggalkan kami. Alasannya karena mama 'terlihat' sabar menghadapi bapak.

Meskipun setelah dewasa saya akhirnya paham, kalau sebenarnya mama nggak sesabar itu, dia hanya nggak mau berantem langsung.

Mama bahkan pernah atau sering berkata ketika sedang kesal,

"Besok-besok kalau mama sudah nggak ada, kalian akan rasakan gimana susahnya hidup sama bapakmu!"


Nyatanya, ternyata bapak yang duluan berpulang, lalu mama akhirnya kewalahan menjaga anak-anak perempuannya. Bahkan kalau dilihat-lihat, beliau nggak menjaga kami, tapi memaksa kami menjaga beliau.

Andai bapak bisa melihat kami sekarang, dia mungkin akan sedih, atau mungkin menertawakan mama kali ya?.

"Tuh lihat, emangnya mudah menjaga anak-anak perempuan?"

Semasa hidupnya, meski kata mama bapak tuh nggak peduli sama anaknya, lebih suka peduli ke dirinya sendiri, tapi sebenarnya bapaklah yang benar-benar mengusahakan apapun untuk kami.

Eh, setidaknya saya sih.

Seperti ketika saya bermasalah dengan papinya anak-anak 10 tahun lalu, beliau rela menjual tanahnya di bawah harga pasaran demi bisa memberikan saya uang untuk balik ke Surabaya.

Sejujurnya, ada satu momen yang bikin saya percaya dengan ucapan mama bahwa bapak tuh hanya peduli kepada dirinya sendiri.


Kejadiannya ketika adik bungsu saya meninggal dunia, kala itu saya baru lulus STM. Suatu ketika adik pulang dan mengeluh pusing, badannya juga agak hangat.

Eh nggak taunya malamnya adik langsung koma.

Mama lalu panik dan meminta dokter untuk bisa mengantarkan adik dirujuk ke rumah sakit. Ketika kami sibuk mempersiapkan ini itu, eh bapak malah sibuk mempersiapkan baju-bajunya sendiri, menyikat sepatunya.

Kala itu saya kesal, bisa-bisanya kami semua panik, tapi bapak masih sempat menyikat sepatunya biar kinclong. 

Butuh waktu puluhan tahun sampai saya memahami bahwa apa yang bapak lakukan saat itu adalah hal yang normal.

Ye kan, kami harus membawa adik ke rumah sakit yang jauh dari tempat kami. Saat itu kendaraan sulit, keuangan juga kurang. Jadi ide bapak malah sibuk menyiapkan bajunya sendiri tak sepenuhnya salah. Bahkan ketika bapak sibuk menyikat sepatunya.

Sepatu tersebut masih ada loh di bawah ranjang bapak, setidaknya sebelum rumah mama kebakaran. Pernah suatu ketika saya membersihkan kamar bapak, di bawah ranjangnya saya temukan sepatu itu yang sudah penuh debu.

Karena sayang, saya ambil deh sikat sepatu dan menyikatnya. 

Kejadian itu mengingatkan saya di malam adik meninggal.

Bisa jadi ketika itu sepatu bapak memang penuh debu, dan beliau nggak punya sandal lain, jadinya hanya bisa mengenakan sepatu itu. Dan agar tak risih, tentu saja disikat dulu biar debunya hilang.

Jadi, bukan berarti bapak nggak peduli sama adik yang udah koma dan sekarat, tapi bapak berpikir terencana, nanti sampai di RS, terus butuh waktu rawat inap lama, kan pastinya ganti baju dan lainnya kan. 

Selain itu, ada banyak momen-momen yang menunjukan bahwa sebenarnya bapak peduli sama kami, hanya saja beliau tak mampu membahagiakan kami terus.

Nyatanya ada beberapa momen yang saya ingat, bagaimana bapak peduli dengan kami, anak-anak perempuannya. Misal bapak yang membelikan kami mukena, meski duitnya minta ke mama yang sudah punya gaji.

Bapak bahkan lebih peduli tentang pakaian dalam kami, anak-anak perempuannya ketimbang mama. Meskipun duitnya lebih banyak dari mama.

Oh bukan.

Bukan berarti mama nggak baik ya. Mama juga peduli kok. Hanya saja mama terbiasa hidup irit dan tak telaten mengasuh anak-anaknya.

Btw, mama adalah anak yang dimanja oleh bapaknya, sebelum bapaknya berpulang. Karena itulah mama tumbuh jadi perempuan yang kurang telaten terhadap anak.

Sementara bapak dengan sosok ayah yang super kejam dan ibu yang diam. Karenanya bapak sudah terbiasa mandiri sejak kecil, berbeda dengan mama.

Hal-hal begini memang harus banget sering-sering kita bahas dan tulis, lalu dibaca ulang. Dengan demikian tak menumpuk di hati, membuat maaf tak pernah bisa ada di hati kita yang terluka sejak kecil.

Di mana, orang tua tak selalu bermaksud jahat kepada anaknya, termasuk polemik serius yang sering terjadi antara ibu dan anak perempuannya.

Seringnya orang tua terlihat jahat dan tega karena mereka sendiri masih dalam tahap belajar memaafkan masa kecil mereka dan menerimanya.

Mereka hanya melihat dari bagaimana masa kecilnya, dan bagaimana mereka dibesarkan oleh ayah ibunya.

Jadilah, hal-hal konyol dan nggak masuk akal terjadi di antara orang tua dan anak-anaknya. Jika tak pandai melihat dari banyak arah, maka kebencian dan jarak akan selalu ada di hati anak-anak kepada orang tuanya.

Lagi pula, suatu saat nanti, akan tiba giliran kita yang akan (mungkin) menyakiti hati anak-anak kita. Lalu anak-anak akan bersedih, syukur-syukur bisa berpikir dengan bijak, sehingga bisa menerima dan memaafkan kita sebagai orang tuanya.

Bayangkan kalau mereka menolak memaafkan sikap kita yang mungkin menyakiti hati mereka. Bukankah itu sangat menyedihkan?


Baubau, 04-02-2026


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)