Akhir-akhir ini saya gerah banget dengan berbagai konten-konten yang terlihat keren tapi jadinya semacam toxic positivity.
"Pesan kepada perempuan, kalau sudah nikah, tetaplah bekerja, jangan pernah resign!"
Terdengar bijak, padahal mereka sedang mencari kata yang halus untuk berkata dengan terus terang, bahwa perempuan harus mengutamakan karir ketimbang anak.
Nyatanya kan hampir semua perempuan yang memilih jadi ibu rumah tangga setelah menikah itu, bukan karena nggak mau kerja lagi, tapi karena nggak ada pilihan lain.
Kesalnya lagi, yang sering bikin konten kayak gitu kalau bukan laki (which dia pastinya nggak merasakan langsung bagaimana jadi ibu yang serba dilema setelah punya anak). Kalau enggak ya, para perempuan yang punya privilege.
Privilege di sini beragam, entah karena punya orang tua atau mertua yang support ataupun nggak terlalu support, tapi sangat berperan dalam membantu mengawasi anaknya.
Atau juga punya privilege gaji yang besar, sehingga menitipkan anak di daycare terbaik dan terpercaya serta amanah itu bukanlah masalah.
Bisa juga beruntung karena menemukan orang yang menjaga anaknya dengan amanah dan terjangkau, minimal masih ketutup lah dari gajinya.
Atau bisa bayar nanny atau suster yang terbaik, serta hal-hal lain yang bisa mereka lakukan, karena punya pilihan. Termasuk dengan beruntung punya suami yang sangat bisa diajak kerjasama dalam hal menjaga anak (ini sebenarnya bisa banget loh, diupayakan keduanya cari kerja yang sekota, dan atur jadwalnya buat urus anak).
Sementara, kenyataannya kan nggak semua perempuan bisa merasakan hal itu. Ada banyak perempuan yang menjadi IRT karena terpaksa.
Terpaksa karena ternyata tantangan hidupnya dititipkan anak yang spesial, sehingga memerlukan penanganan spesial pula, yang lebih terpercaya dari siapapun ya ibunya.
Baiklah, kalau memang perkataan atau opini di tulisan ini akan dipatahkan dengan,
"Makanya, sebelum menikah dan punya anak, dipikirkan dengan benar!"
Masalahnya tidak sesederhana itu, seperti yang saya katakan, kalau saya yang generasi milenial ini memang saya akui kalau sebelum nikah, sama sekali nggak mikirin tentang siapa yang urus anak.
Well, saya pikirkan sih, masa iya saya nggak mikirin tentang masa depan. Cuman kesalahan saya nggak mengkomunikasikan dengan serius tentang ini.
Saya ingat, kami pernah bahkan sering berkomunikasi tentang masa depan kami ketika pacaran. Tapi memang saya nggak ingat si pacar memberikan solusi, seringnya yang saya ingat dia hanya mengatakan,
"Insya Allah ada jalan!"
Dan percaya atau enggak, awal-awalnya saya bersikeras memaksa bagaimana jalannya?. Tapi karena si pacar enggak kasih jalan, jadinya saya yang mengusulkan ini itu, dan dia selalu setuju aja.
Anyway, zaman saya pacaran dulu belum ada kecanggihan teknologi kayak sekarang. Saya menikah tahun 2009, setelah berpacaran sejak tahun 2001.
Dan selama pacaran, kami generasi yang belum direcokin dengan opini-opini terbuka macam sekarang karena media sosial. Jadi saya nggak punya masukan opini lain, selain diri sendiri atau melihat dari teman.
Nah, berbeda dengan sekarang, atau setidaknya bahkan sebelum pandemi Covid 19 melanda dunia, kecanggihan teknologi itu sudah booming.
Jadinya saya nggak percaya kalau perempuan-perempuan yang menikah di sekitar mulai tahun 2015an lah, nggak membaca banyak opini dan pengalaman yang berkembang di media sosial.
Dari opini dan pengalaman orang lain yang terbuka demikian kan seharusnya sudah lebih banyak perempuan yang menikah dengan penuh persiapan. Tapi jadinya gimana? banyak juga yang nggak berjalan sesuai rencana kan?.
Banyak juga yang terpaksa jadi IRT, dan ada juga yang ujungnya diselingkuhi, meskipun banyak juga yang Alhamdulillah punya suami yang amanah.
Meski demikian, saya setuju banget sih dengan anggapan kalau perempuan menjadi IRT itu berisiko tinggi terhadap dirinya dan anak-anaknya, selama UU perlindungan Perempuan dan Anak cuman menyasar kepada korban, bukan potensi korban.
Saya adalah perempuan yang merasakan semua opini menyebalkan di media sosial terkini.
"Perempuan kalau jadi IRT itu, nggak dihargai!"
Iya banget, saya nggak tahu apakah itu hanya pikiran saya yang sensitif, atau memang seperti itu adanya. Tapi saya merasakan bagaimana perilaku keluarga suami setelah saya jadi IRT, beda banget dengan ketika saya bekerja.
Bahkan bukan hanya keluarga suami, suami sendiri pun masya Allah sekali baiknya dan mengalahnya ketika kami berargumen, ketika saya bekerja.
"Perempuan kalau jadi IRT berisiko ditinggalkan suami dan bingung dengan masa depan!"
Nah ini saya banget nget nget.
Suami dengan tega meninggalkan bahkan kesannya menelantarkan saya dengan anak-anak di kota Surabaya, padahal dia sadar betul, kami nggak punya tempat tinggal, saya nggak punya penghasilan cukup untuk membayar tempat tinggal, makan dan rumah untuk saya dan 2 anak.
Dia pergi begitu saja, memblokir nomor kami, dan terakhir saya tahu, ternyata dia liburan di Bali. Wadefakk!.
Sementara saya hampir saya mengajak anak-anak terjun di gedung tinggi di Surabaya, pas banget ketika itu di tahun 2024 lalu, lagi booming fenomena orang bunuh diri melompat dari gedung tinggi.
Saya bahkan sudah mengkomunikasikan hal itu ke anak-anak, bertanya apa pendapat mereka kalau kita mengakhiri hidup saja, karena maminya bingung kami harus tinggal di mana, makan apa, bayar sekolah pakai apa, sementara nggak ada tempat mengadu?.
Pada akhirnya saya kembali semangat setelah berani speak up di media sosial, teman-teman banyak yang peduli, dan dari situ juga saya bertemu dengan UPTD PPA Surabaya dan dibantu mencari solusi.
Baca juga : Pengalaman Mengadukan Kasus Penelantaran Keluarga di UPTD PPA Surabaya
Meskipun sedemikian kerasnya perjuangan saya dalam menuntut hak anak-anak atas tanggung jawab papinya, toh semuanya berjalan lambat, sementara kami butuh makan, bayar tempat tinggal dan kebutuhan setiap harinya. Anak-anak udah nggak bisa ikut ujian karena belum bayar SPP, saya mau mindahin anak sekolah tapi bingung karena nggak tahu ke mana.
I told you, nggak semudah itu memutuskan hal-hal tentang anak seorang diri, tauk. Butuh banget teman diskusi yang solutif dan ikut bertanggung jawab, ya bapaknya seharusnya.
Ujungnya, saya akhirnya tetap harus mengurus 2 anak sendiri, yang tentu saja saya nggak bisa fokus dalam bekerja cari uang. Bahkan harus mulai bekerja lagi di kantoran dalam usia saya yang udah 40 plus plus.
Alhamdulillah bisa keterima kerja karena relasi, tapi gajinya Alhamdulillah banget, meski masih jauh dari cukup untuk biaya hidup sebulan kami bertiga.
Ini sangat tidak adil buat saya sebagai perempuan. Di usia saya yang seharusnya udah nggak perlu melakukan pekerjaan yang menyita tenaga seperti level entry, tapi masih harus berkutat dengan semua itu, disambi urus 2 anak yang seorang malah ngikutin saya ke manapun saya berada. Ditemani sakit pinggang, encok pegal linu, hahahahaha.
Itu belum ketambahan rasa kesal yang selalu menyeruak setiap kali keuangan saya menipis, dan rasa lelah teramat sangat menerpa tubuh, ditambah encok pegal linu yang menyelimuti diri.
Luar biasa pokoknya.
Terbayang papinya anak-anak, bisa bersantai di Bali, menikmati setiap waktunya dengan tenang. Nggak perlu direcokin sama jadwa sekolah anak, kebutuhan anak, masalah-masalah anak. Pokoknya bagaimana normalnya seorang ayah lah.
******
What i'm trying to say again adalah, i am banget.
Merasakan bagaimana ketidak adilan buat perempuan akibat dari tidak ada UU yang kuat melindungi perempuan dan anak dari ketidak adilan akibat ayah yang tidak bertanggung jawab.
Tapi, kalaulah hanya dikatakan,
"Makanya, sebelum menikah dipikirkan dulu!"
Atau,
"Sebelum punya anak dipikirkan dulu!"
Sudah terjadi.
Nggak guna ucapan itu.
Ya udah, itu kan pesan buat perempuan yang belum ada di posisi tersebut.
Nyatanya enggak bisa dikatakan solusi juga, karena nyatanya, nggak semua kenyataan berjalan sesuai rencana manusia!. Adakalanya, ketika ujian manusia di hal itu, ya mau diapain juga tetap hal itu yang terjadi.
Jika memang pesan seperti itu digaungkan, mengapa harus takut untuk mengatakan dengan terus terang, bahwa,
"PEREMPUAN, PILIHLAH KARIRMU, BARU ANAKMU!"
Ye kan, dari semua konten-konten yang terlihat manis, seolah membela hak perempuan, nyatanya bukanlah sebuah solusi untuk hidup di dunia yang normal.
Iya, hidup normal itu kan, menikah dan punya anak.
Karena Allah mendisain manusia dengan punya syahwat, dan syahwat tersebut hanya sehat disalurkan sesuai normalnya, dalam ikatan pernikahan. Lalu ketika punya anak, itu adalah kuasa Allah yang memilih hamba-Nya untuk dititipkan amanah-Nya.
Nggak semua hamba-Nya beruntung dititipkan hal itu loh, sebagian lainnya diamanahin hal lain, tapi bukan anak.
Lalu solusinya apa?
Undang-undang yang kuat, yang melindungi hal perempuan dan anak dalam hidup yang normal.
Itulah mengapa, alih-alih terinspirasi dengan konten pesan 'bijak' agar perempuan jangan resign setelah menikah, saya malah gemes dalam arti kesal membaca pesan-pesan tersebut.
Karena menurut saya itu bukan sebuah hal yang solutif, apalagi konten yang dibikin sedemikian panjangnya, tapi isinya cuman menjelaskan kalau perempuan setelah menikah, nggak ada yang tau bagaimana hari esok.
Mungkin suaminya meninggal, atau nggak bertanggung jawab malah menikah dengan wanita lain.
Lalu perempuan dihimbau jangan sampai resign setelah menikah.
I mean, mengapa sih nggak mau langsung aja nulis atau ngomong, perempuan pilih karirmu aja, anak belakangan!
Jadi kan jelas apa yang harus dilakukan, nggak perlu semua ikut-ikutan membahas tentang hal-hal yang terkesan menyudutkan dan tanpa empati buat para perempuan yang sedang berada di posisi seperti yang mereka ucapkan.
Rasanya, membaca hal itu seolah membaca ejekan,
"Makanyaaaa... makanyaaaa...!"
Tanpa solusi selain rasa kesal semakin bertambah atas ujian hidup yang dikenakan ke diri sendiri.
Bukankah dengan mengatakan secara jelas, bahwa perempuan jangan pernah punya anak, fokuslah berkarir. Itu jadi lebih solutif?.
Karena semua konten yang meminta perempuan jangan resign itu, hanyalah sebuah bahasa 'halus', agar tak disalahkan karena tidak peduli sama anak?.
Hanyalah sebuah konten yang meletakan kesalahan utama ke perempuan, padahal memilih mengasuh anak itu, bukanlah sebuah pilihan yang mudah dan bodoh.
Bagaimana bisa, pilihan bertanggung jawab ke anak adalah sebuah pilihan bodoh?. Lalu apakah anak-anak dibiarkan begitu saja di rumah, karena perempuan harus mengejar karirnya?.
Ini sama dengan kampanye perempuan berdaya, tapi nggak ada yang ngasih solusi atas masalah utama para perempuan untuk berdaya, yaitu anak?.
Ye kan, daripada hanya mengkampanyekan perempuan berdaya, akan lebih baik jika disediakan lapangan pekerjaan yang ramah anak.
Karena nyatanya kebanyakan perempuan tuh bukannya nggak mau berdaya menghasilkan uang, tapi memang nggak bisa fokus karena menghasilkan uang itu erat kaitannya sama fokus.
Atau, bagaimana caranya mengadakan daycare terjangkau dan amanah di beberapa lokasi, agar anak-anak bisa dititipkan ke daycare atau penitipan anak, sementara ibunya bekerja untuk berdaya menghasilkan uang.
Jangan lupa juga untuk memberlakukan undang-undang tenaga kerja, bahwa tak boleh ada diskriminasi gender dan status perempuan dalam dunia kerja.
Saya mengalami langsung bagaimana dikriminasi gender dan status ketika saya berusaha mencari pekerjaan setelah pindah ke Buton. Rata-rata tidak menerima pekerja perempuan untuk pekerjaan yang banyak lakinya, padahal saya lulusan teknik sipil, dan punya pengalaman bekerja di proyek, which is ya pekerjanya memang banyak laki, tapi saya sangat bisa bersaing dengan pekerja laki kok.
Dan diskriminasi status, sebagai single fighter mom, saya selalu ditolak bekerja karena statusnya sebagai perempuan yang tak bersuami. Menurut beberapa pendapat, karena orang-orang menghindari masalah yang timbul oleh status perempuan nggak bersuami.
Lah, apakah semua perempuan tak bersuami itu penyebab masalah?. Bukannya kebanyakan masalah yang timbul karena otak kotor lelaki?.
Baca juga : Bukan Pelakor, Bukan Perempuan Murahan, Ini Realita Seorang Single Fighter Mom
Kenyataannya, perempuan berdaya itu bukan hanya semata dihimbau, tapi butuh dibantu. Kalaupun dihimbau seperti itu, sekalian aja himbauannya yang jelas, bahwa perempuan harus mengutamakan karir ketimbang anak. Iya nggak sih?.
Kesimpulan dan Penutup
Pada akhirnya, yang ingin saya garis bawahi bukanlah soal perempuan harus bekerja atau harus menjadi ibu rumah tangga. Bukan juga soal siapa yang paling benar dalam memilih jalan hidupnya. Yang saya persoalkan adalah narasi yang terdengar bijak tapi minim empati. Seolah semua perempuan punya pilihan yang sama, privilege yang sama, dan peluang yang sama.
Kenyataannya, tidak semua perempuan berhenti bekerja karena malas atau tidak punya ambisi. Banyak yang berhenti karena keadaan. Karena anak yang butuh perhatian khusus. Karena tidak ada sistem pendukung. Karena suami yang tidak kooperatif. Karena realita hidup yang jauh dari teori motivasi di media sosial.
Mengatakan “jangan resign setelah menikah” tanpa membicarakan sistem pendukungnya hanyalah separuh kebenaran. Tanpa regulasi yang kuat, tanpa perlindungan hukum yang tegas bagi perempuan dan anak, tanpa lapangan kerja ramah ibu, tanpa daycare terjangkau dan amanah. Semua himbauan itu terdengar seperti pengingat yang menyakitkan, bukan solusi.
Perempuan tidak butuh dihakimi dengan kalimat,
“Makanya dipikirkan dulu.”
Perempuan butuh sistem yang adil.
Perempuan butuh dukungan nyata.
Perempuan butuh perlindungan hukum yang benar-benar melindungi, bukan sekadar mengurus korban setelah semuanya hancur.
Saya menulis ini bukan karena anti-karier. Saya juga bukan anti-perempuan berdaya. Justru saya sangat ingin perempuan berdaya, namun dengan cara yang manusiawi.
Berdaya bukan berarti memaksa diri kuat sendirian.
Berdaya bukan berarti mengorbankan anak demi pembuktian.
Berdaya bukan berarti menyalahkan diri sendiri atas ujian hidup yang tidak pernah kita rencanakan.
Kalau memang ingin jujur, mari jujur sekalian.
Jangan bungkus pesan dengan kata-kata manis yang ujungnya menyudutkan mereka yang sedang berjuang. Jangan seolah-olah semua perempuan punya peta hidup yang rapi dan bisa mengantisipasi setiap kemungkinan.
Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Dan ketika perempuan memilih mengasuh anak dengan penuh tanggung jawab, itu bukan kebodohan. Itu keberanian.
Kalau benar kita peduli pada perempuan, mari dorong perubahan yang nyata, regulasi yang kuat, lingkungan kerja yang ramah ibu, dan sistem sosial yang tidak diskriminatif.
Karena perempuan tidak butuh sekadar konten motivasi.
Perempuan butuh keadilan.
Setidaknya, demikianlah opini dan pemikiran saya, berdasarkan pengalaman pribadi.
Baubau, 12-02-2026

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)
Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)