Banyak Pikiran Hingga Terbawa Mimpi Kembali Bekerja Di Bidang Teknik Sipil Tanpa Direcokin Anak

banyak pikiran terbawa mimpi

Jadi beberapa hari terakhir ini saya lagi bad mood dan merasa sangat lelah. Sepertinya pengaruh hormon mamak-mamak, ditambah banyak masalah yang harus saya hadapi. 

Dan gegara itu, sampai kebawa mimpi dong semalam. Di mana, saya mimpi sudah kembali bekerja di bidang teknik sipil, dan anak-anak sudah dibawa ke papinya.

Semua ke-excited-an tersebut berakhir, setelah alarm ponsel saya berbunyi, menandakan masuk jam shalat subuh, dan tersadar saya masih di Baubau, yaelah. 

Baca juga : Bahasa Inggris itu Penting untuk Wanita


Bad Mood Gegara Berbagai Masalah

Saya memang lagi banyak pikiran, yang bikin saya bad mood banget karena kayaknya sih bertepatan dengan PMS.

Jadi, akhir-akhir ini saya memang nggak punya pemasukan yang cukup, memang keliatannya saya bekerja dan mendapatkan gaji. Tapi yang nggak terlihat dan diketahui orang, gaji saya minim banget, bahkan jauh di bawah UMK banget. 

Ditambah akhir-akhir ini tempat bekerja saya memang sepi, berdampak juga dengan gaji kami yang molor. Boro-boro bisa bayar kos di Baubau yang harganya lumayan juga, bahkan makan aja hampir nggak cukup.

Untungnya ada teman yang sangat berbaik hati meminjamkan saya kamarnya untuk ditempati sementara. Masalahnya teman tersebut kan tinggal di Bali, nah lebaran ini mereka bakal pulang ke sini. Dan dia tidak mengatakan dengan jelas, tapi saya juga paham kalau kamarnya mau dipakai.

Meanwhile, dengan keadaan saya sekarang, mana bisa saya mencari kos lain?. Si Kakak juga sudah bilang ke papinya, dan seperti biasa papinya jawab kalau nggak punya uang.

Lah, terus kalau nggak punya uang, sementara dia seorang ayah, mengapa semua dilimpahkan ke saya?.

Masalah besarnya kan, mengapa cari kos itu jadi terasa sulit, karena saya bawa anak. Coba kalau cari kos untuk diri sendiri, nggak ribet. Cari yang biasa dan kamarnya kecil juga nggak masalah, toh kan cuman buat saya sendiri. 

Masalah ini sama aja kayak saya di Surabaya, di mana susah cari kos karena harus yang agak luas, dan juga khusus keluarga, karena nggak semua kos mau menerima orang yang bawa anak. Apalagi anak dua ya, mereka berisik dan mengganggu tetangga kos.

Gegara hal tersebut saya makin kesal dan bad mood. Berpikir betapa tidak adilnya hidup saya di'bebankan' dengan anak-anak seorang diri, sementara bapaknya masih hidup.

Dari bad mood tersebut berkembang dengan rasa kesal mengingat keadaan diri sekarang.

Sudah setahun lebih loh saya di Buton, dan nggak ada perubahan sama sekali, bahkan kemunduran luar biasa.

Gimana enggak, kalau di Surabaya saya cuman butuh tempat tinggal semata, barang-barang udah lengkap. Tapi di sini, bahkan semua barang saya, habis terbakar.

Jujur saya muak dengan orang-orang yang bilang, 

"Sabar, nanti ada gantinya!"

Mana? mana? mana?

Baca juga : Kebakaran di Rumah Mama


Orang-orang nggak tahu, betapa saya butuh banget barang-barang tersebut. Saya nggak punya apapun, anak-anak terutama si Kakak yang lebih parah.

Dia kehilangan semua bajunya, bukunya dan semuanya.

Bahkan saya nggak mampu membelikannya baju koko, sementara puasa sudah di depan mata, dan si Kakak nggak tahu harus ke sekolah pakai baju apa ketika ramadan nanti.


Orang-orang cuman peduli sama mama yang kehilangan rumah, padahal sekarang rumahnya udah berdiri lagi, dibangun dengan uang bantuan pemerintah dan orang-orang yang nyumbang.

Secara keseluruhan, semua yang mama butuhkan sudah terpenuhi kembali. Tapi saya? kehilangan semuanya, dan nggak punya uang buat membeli kembali, sementara itu butuh.


Lantas, di tengah keadaan tersebut, saya kembali memikirkan diri yang nasibnya belum jelas juga. Saya kesulitan mendapatkan kerjaan, sementara karena jauh, papinya anak-anak makin seenaknya mau bertanggung jawab atau enggak.

Sementara di sini saya nggak bisa menghidupi anak-anak sendirian.


Orang-orang mungkin berpikir, kan enak dekat keluarga, tinggal aja di rumah mamanya.

Pertama dan gongnya, rumah mama itu akan diberikan ke kakak. Saya diberikan tanah di sebelah rumah itu.

Saya yang di usia 40an ini, masih berjuang untuk diri sendiri dan anak. Bahkan sudah dapat kerjaan dengan gaji minim, saya ke kantorpun digandolin anak.

Dan saya harus membangun rumah sendiri, di tanah yang belum siap bangun gitu?.


Ya karena itulah, untuk apa saya kembali ke Buton kan ye?.

Saya nggak punya pekerjaan di sini, skill menulis saya nggak bisa diharapkan di sini. Dan belum ada yang berubah dengan daerah ini. Semua keberhasilan manusia sangat bergantung dari 'orang dalam' atau bagaimana kita 'menjilat orang dalam'.

Jujur saya nggak terbiasa dengan hal itu, dan saya lelah banget melakukan hal itu.

Di sini, anak-anak juga makin terbelakang, karena fasilitas yang kurang. Si kakak terpaksa sekolah di pelosok, nantinya menjadi lulusan SMP di pelosok.

Bahkan setelah berpisah dengan saya, nilainya menurun. Saya nggak tahu bagaimana masa depannya, karena saya bukan pejabat, nggak punya rumah, bagaimana si Kakak bisa bertahan di daerah seperti ini.

*****


Itu adalah sekelumit masalah yang saya hadapi dan bikin saya nggak betah di sini. Kalau dijabarkan, buanyaaaaakkk, termasuk ketidak nyamanan saya berinteraksi dengan mama dan kakak, apalagi dengan kakak ipar.

Ditambah papinya anak-anak makin keenakan lepas tanggung jawab, lalu akhirnya saya menyesali mengapa dulu mau aja mengikuti ajakan mama untuk pulang ke Buton.


Fyi, ketika mama meminta saya pulang di bulan Desember 2024 lalu, saya sebenarnya nggak mau. Saya paham betul bagaimana kondisi di Buton ini sejak dulu, bahkan itulah penyebab mengapa saya nggak mau pulang ke Buton.

Sekarang, dengan usia saya yang udah 40an ini, disuruh pulang, terus ngapain?. Mau berkebun atau beternak di halaman rumah mama?.

Duh, saya yang bahkan nyuci baju aja udah hampir kena asma, mau melakukan pekerjaan demikian untuk menghidupi anak-anak?.

Dan masih banyak lagi sebenarnya yang berkecamuk di pikiran saya, yang nggak enak saya tuliskan semuanya, karena udah sangat over sharing, hahahaha.


Ingin Kembali Ke Surabaya dan Mengejar Ketertinggalan Karir

Intinya, dengan keadaan seperti itu, serta banyak lagi yang nggak bisa saya tulis secara detail di sini, karenanya saya berpikir untuk kembali saja di Surabaya. Akan tetapi, bukan kembali seperti sebelumnya, namun dengan cara yang baru.

Saya berencana ingin memberikan anak-anak ke papinya, terserah dia mau titipin bapaknya kek, kakaknya kek, pokoknya saya serahkan hak asuh anak-anak ke dia.

Saya pikir, sudah saatnya kami serius terhadap hidup ini, saya nggak bisa 'bergerak bebas' selama masih sama anak-anak, karena nggak ada 'modal'.

Anak-anak butuh tempat tinggal yang layak, karenanya kalau sama saya, bingung banget cari tempat tinggal kami, dan mahal.

Juga anak-anak butuh diurusin sekolahnya, antar jemputnya, kebutuhan lainnya, makannya. Selama ini waktu, tenaga dan energi saya habis terkuras untuk hal tersebut.

Sementara saya butuh uang, karena papinya nggak mau memenuhi semua hal tersebut. 

I know, ini akan terdengar sangat kejam, tapi memang nggak ada jalan lain. Saya harus hidup dulu, untuk bisa menopang anak-anak, bagaimana anak-anak bisa hidup dengan ibu yang hampir sekarat kebingungan dengan biaya hidup mereka.

Dan dengan cara tersebut, setidaknya papinya memahami, kalau dia tak bisa seenaknya lepas tanggung jawab begitu saja. Juga dengan demikian papinya juga bisa merasakan bagaimana struggling-nya saya selama ini mengasuh 2 anak dan bingung dengan kebutuhan hidupnya.

Termasuk juga keluarganya jika anak-anak dititipin ke keluarganya.

Sebenarnya mereka beruntung, anak-anak saya serahkan setelah mereka lebih mandiri. Si Adik udah nggak ngompol separah dulu lagi.

Mereka nggak tahu bagaimana susahnya hati saya mengasuh si Adik, yang suka ngompol, padahal kami selalu tidur di kasur orang.

Bagaimana saya selama bertahun-tahun tak pernah lagi merasakan tidur nyenyak, lantaran ketakutan kalau si Adik ngompol dan mengotori kasur orang.

Yang akan mereka hadapi hanyalah emosional anak-anak remaja yang berpisah dari ibunya. Tapi itulah hidup, ya memang harus dihadapi.

Saya udah memberikan banyak kesempatan untuk kami bisa bekerja sama, tapi toh dia terus menerus keenakan lepas tanggung jawab sesukanya.


Beberapa teman bertanya, 

"Bagaimana kalau papinya nggak mau peduli sama anak-anak?"

Ya nggak masalah, yang penting di Surabaya dan saya adalah seorang blogger.

Apa hubungannya?.

Begini.

Di Surabaya, lebih disorot media sosial ketimbang di kota kecil, kalau papinya nggak mau peduli sama anak-anak, ya saya bawa anak-anak di dinas sosial, lalu saya telpon radio Suara Surabaya untuk nitip anak-anak, karena papinya dan keluarganya nggak mau peduli.

Dan saya beruntung, data saya udah ada di UPTD PPA Surabaya. Saya hanya perlu mengirimkan pesan, bahwa saya nggak sanggup menghidupi anak-anak, dan terpaksa saya titip di dinas sosial.

Sebuah rencana yang luar biasa, bukan?.

Saking saya udah nyaris gila memikirkan nasib saya seperti ini, hahahaha.

Baca juga : Perempuan dan Stigma Masyarakat


Rencana Gila yang Terbawa Mimpi

Lalu, setelah urusan anak-anak selesai, saya akan fokus ke diri sendiri, cari kos yang murah entah di pinggiran Surabaya atau di Sidoarjo.

Btw, sebenarnya di Surabaya itu ada loh kos yang masih terjangkau, hanya memang agak pinggiran gitu. Apalagi kalau di pinggiran Sidoarjo.

Lalu, saya akan menghubungi teman-teman untuk cari lowongan kerja, apa aja deh yang penting bisa saya lakukan. Dan saya akan tetap menggeluti dunia menulis di blog dan bikin buku/e-book.

Intinya, kalau anak-anak sudah aman bersama papinya maupun keluarganya, saya bisa lebih leluasa dalam mencari duit. Syukur-syukur bisa mengejar ketertinggalan saya kan ye.

Sungguh rencana gila yang sempurna, hahaha.

Saking sempurnanya, semua yang saya pikirkan ini, sampai terbawa mimpi tadi malam.


Ceritanya, saya udah kembali bekerja di konsultan proyek drainase. Masuk akal sih, kebetulan ada teman saya yang punya usaha konsultan demikian. 

Saya agak lupa, tapi sepertinya hari itu saya sibuk menyelesaikan gambar di autocad, lalu teman saya datang meminta saya untuk menemui klien di kantornya keesokan harinya.

Happy banget diminta mengerjakan hal itu, dan saya pun pulang ke kos, beberes dan tidur. Sebelumnya semua hal sudah disiapkan, seperti biasanya ketika di dunia nyata saya setiap harinya.

Gambar, lembaran hitungan proyek dan lainnya, semuanya sudah dimasukan dalam map yang rapi dan diletakan di dalam tas. 

Setelah semua beres, saya pun tidur.

Saya terlalu lelap, sampai-sampai dalam mimpi tersebut, saya kembali bermimpi, tapi mimpinya nggak terlalu jelas. Hingga akhirnya saya tersadar ternyata jam di dinding sudah menunjukan hampir pukul 05.30 pagi, shalat subuh hampir terlewatkan.

Saya terperanjak, gelagapan dan melompat dari tempat tidur. Namun, karena saya buru-buru, saya malah hampir terjatuh di ranjang.

Belum juga saya menyadari semuanya, eh tiba-tiba saya mendengar alarm ponsel berbunyi. Dan kali ini, kesadaran saya benar-benar kembali di dunia nyata. Dan saya kecewa, ternyata saya masih di Buton, hahaha.

Namun, ketika saya mencoba berbalik, rasa hangat memenuhi hati, ketika menyentuh kepala si Adik yang sedang tertidur lelap, sedikitpun tak terganggu dengan suara alarm ponsel.

 

Tiba-tiba, hati yang kecewa ketika menyadari saya masih di Buton, terobati dengan kenyataan kalau saya masih bersama anak-anak, masya Allah.

Dan seketika saya istigfar, memohon ampun karena sudah berpikir macam-macam, sayapun sejujurnya nggak tahu, apakah saya tega meninggalkan anak-anak dengan papinya?.

Meskipun saya tahu, jika anak-anak diasuh oleh pakde budenya, akan lebih baik, ketimbang diasuh papinya.

Tapi saya yakin, hanya saya yang lebih baik dalam mengasuh anak-anak.  

Ah sudahlah, setidaknya mungkin ini bisa jadi sebuah strategi tersimpan. Yang sebenarnya strategi ini juga sudah saya pikirkan ketika masih di Surabaya.

Sayangnya saat itu, mama sudah keburu nelpon untuk pulang. Dan saya yang mengira hidup terasa berat karena nggak nurut ortu pun, segera nurut untuk pulang.

Nyatanya, sampai di sini, keadaan juga nggak berubah, malah semakin memburuk.

Ah sudahlah.


Rangkuman

Pada akhirnya, semua kegelisahan, kelelahan, dan rencana-rencana nekat yang berputar di kepala saya hanyalah tanda bahwa saya sedang berada di titik paling lelah dalam hidup. 

Tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, tanggung jawab sebagai ibu, serta rasa kehilangan arah membuat saya ingin lari, bahkan sampai merancang skenario ekstrem demi bisa bertahan hidup.

Namun mimpi semalam menyadarkan saya pada satu hal sederhana: seberat apa pun hidup di Baubau, hati saya tetap terikat pada anak-anak. Rasa hangat saat menyentuh kepala mereka jauh lebih nyata daripada semua rencana pelarian menuju Surabaya.

Mungkin saya belum menemukan jalan keluar, mungkin keadaan belum berubah, tetapi setidaknya saya tahu satu hal pasti, saya masih berjuang, masih berpikir, masih mencari cara. Dan selama itu masih ada, berarti saya belum benar-benar kalah oleh hidup.


Baubau, 14-02-2026

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)