Sore tadi saya dan si Adik keluar cari bahan makanan buat buka puasa. Tak lupa mampir di beberapa alamat kos yang sudah kami niatkan survey sejak pagi.
Yup, sudah beberapa hari terakhir ini, saya kembali berkutat dengan cari kos-kosan lagi. Aslinya saya capek banget dengan kegiatan keluyuran cari kos ini, rasanya kok setiap tahun nggak pernah absen dengan cari kos melulu, hiks.
Padahal, kegiatan pindah-pindah tempat tinggal ini sangat menyita waktu, tenaga dan juga duit. Kalau duitnya ada sih nggak apa-apa kali ya. Tapi, ini.... ah sudahlah.
Alasan mengapa saya cari kos (lagi) adalah, karena selama 7 bulanan ini saya tinggal di kamar seorang kakak sahabat yang baik hati. Jadi saya punya kakak kelas yang tinggal di Bali, dia punya kamar di rumah mertuanya di Baubau.
Ketika dia tahu saya kesulitan cari kos-kosan di Baubau, dia tawarkanlah kamarnya tersebut untuk saya pakai. Alhamdulillah ini benar-benar membantu banget selama beberapa bulan terakhir ini. Karena saya bisa lebih hemat nggak bayar kos, cuman bayar listrik doang.
Kamarnya juga lumayan lah buat saya dan si Adik, luasnya sekitar 9-10 m2, ada ranjang dan kasur di kamarnya. Dan di depan kamar ada ruangan tambahan buat shalat, beraktifitas lainnya. Ada pula dapur kecil dan sink di samping.
Kamar mandi juga persis di samping kamar tersebut, dan yang bikin saya betah tinggal di sini adalah, kamar mandinya, dapur dan ruangan kecil tambahan itu, berada di ruangan tertutup.
Airnya juga Alhamdulillah lancar, saya bisa nyuci setiap hari, terus pakaiannya ditetesin dulu dengan digantung di kamar mandi. Setelah airnya habis, baru deh saya gantung di ruangan tambahan tersebut, nggak perlu jemur di luar.
Dan iyes, over all yang bikin saya betah karena kamar ini cocok buat saya yang introvert. Parkir motor luas, beberapa kamar kos dihuni anak mahasiswa dan anak SMA. Yang laki cuman anak SMA, dan itupun mereka jarang terlihat apalagi berisik.
Pokoknya, meski sederhana, tapi kamar ini udah jadi kayak melekat sama saya dan si Adik selama beberapa bulan terakhir.
Meski demikian, sebenarnya saya malu tinggal di sini mulu tanpa bayar, tapi saya juga nggak bisa gimana-gimana. Keuangan saya sangat buruk sejak di Buton. Pemasukan dari kerja sama blog sudah jarang, apalagi kerjasama medsos.
Sekilas saya sih terlihat sudah aman karena bekerja di klinik medis. Tapi yang orang nggak ngerti adalah, gaji saya bahkan jauh banget di bawah rata-rata UMK Baubau.
Dan sedihnya, karena memang akhir-akhir ini klinik sepi, jadi kami bahkan belum digaji selama beberapa bulan.
Hanya karena saya suka banget bekerja, makanya saya masih semangat ke klinik, masih semangat bekerja. Sementara teman lainnya udah males.
Tapi, kebayang kan bagaimana kacaunya keuangan saya, hiks.
*********
Setelah berbulan-bulan merasa sungkan dengan terus tinggal di kamar kakak sahabat baik hati tersebut, sampai suatu hari kakak tersebut mengirimkan pesan. Pesannya sederhana, tapi bikin saya seketika lemes.
"Rey, rencananya kami mau pulang lebaran di Baubau, suami udah kangen kampung halaman soalnya!"
Deg!
Itu berarti kamar ini bakal dipakai, dan mau nggak mau saya harus keluar dari kamar yang udah berbulan-bulan bikin betah ini.
Masalahnya adalah, saya sedang di momen keuangan yang super kacau, dan masalah lainnya adalah, sangatlah sulit mencari kos-kosan yang sehat untuk mental saya dan fisik anak-anak di kota Baubau ini, dengan harga terjangkau.
Di akhir bulan Agustus 2025 lalu, saya udah sempat keliling di beberapa tempat kos di wilayah Lamangga, Baubau. Dan tak ada satupun yang sreg di hati.
Pertama kalinya, kami survey di sebuah rumah kos yang harga 700ribuan per kamar. Saya pikir harusnya kan lumayan ya itu, meski kamar kosong, tapi setidaknya lumayan lah bisa diisi dikit-dikit sendiri.
Nyatanya, kamar tersebut ada di sebuah rumah besar yang disulap jadi kos keluarga. Lebih mirip rumah susun tipe RSSS dah, huhuhu.
Tangganya kotor, banyak besi-besi bangunan yang tidak rapi, saya nggak bisa membayangkan jika tinggal di situ, dengan si Adik yang super aktif ini, duh.
Rumah kedua, terlihat rapi. Ternyata kamar yang di kos kan tuh ada di dalam rumah, menyatu dengan yang punya rumah. Harga kamarnya 450-600an.
Itu adalah kamar kosong yang dindingnya kotor banget, luasnya sekitar 7-9 m2, kamar mandi di belakang, gabung empunya rumah. Nggak ada dapur, ruang nyuci baju dipakai bersama.
Duh, nggak kebayang apa jadinya saya kos di situ, di tambah si Adik yang tentunya nggak betah di kamar mulu, tentunya dia bakal masuk ke ruang tamu empunya rumah.
Rumah-rumah selanjutnya hampir mirip seperti itu.
Harga 500, tapi kamarnya kecil, nggak ada plafon, sementara atapnya seng dan rendah banget. Kebayang tuh panasnya minta ampun.
Saya hampir menyerah kala itu, sampai kakak sahabat ini menawarkan kamarnya. Awalnya saya malu banget tinggal gratis di kamarnya. Tapi saya nggak punya pilihan.
Kala itu kakak dengan hasutan suaminya menyuruh saya segera pergi dari rumah mereka yang saya tinggali beberapa bulan, lantaran saya melaporkan sikap suaminya yang ganjen.
Akhirnya saya terima aja tawaran baik dari kakak sahabat tersebut. Dan semuanya baik-baik aja, meski awalnya memang penuh dengan adaptasi. Tapi karena memang kamar ini cocok banget buat introvert kayak saya, tetangga-tetangga kamarnya juga orangnya cuek, jadi saya betah.
Jadi, sungguh saya jadi punya kemelekatan dengan kamar ini.
Tapi, kali ini nggak bisa lagi saya berdiam diri, maka mulailah saya mencari kos-kosan baru di Baubau.
*********
Berbeda dengan di Agustus 2025 lalu, saya mencari di area seputar Lamangga, kali ini saya mencari di area sekitar jalan Erlangga (yang orang-orang menyebutnya Pos 1, Pos 2 dan Pos 3).
Alasannya, karena lebih dekat jika mengantar jemput si Adik sekolah. Dan alasan lainnya, karena saya udah cari di sekitar Lamangga, tapi nggak nemu.
Sebelumnya saya mencari di area Batulo, biar dekat dengan sekolah si Adik. Dan betapa shock-nya saya ketika menanyakan satu kos-kosan melalui WA.
Empunya kos adalah bapak-bapak, ketika saya WA, dia langsung menelpon saya, tapi enggak saya angkat. Dia lalu mengirimkan foto dan video kos-kosannya, yang ternyata punya fasilitas lengkap.
Ada ranjang, kasur, kompor, TV dan lainnya. Luas sekitar 4x7 m, dan ada 3 sekat ruangan terbuka.
Ketika saya tanya harganya?
1,8 juta untuk yang kecil, dan 2,25 juta untuk ukuran 4x7.
Uwwwoooowwwww!.
Ketika dikirimkan videonya, lagi-lagi saya shock, memang sih barang-barangnya terlihat lengkap. Tapi ya kayak rumah petak biasa, cuman disekat gitu, dan bangunannya juga lama, cuman dicat aja.
Sementara saya berpikir, kalau harga sampai 1,8 apalagi 2 jutaan gitu, harusnya kan bukan cuman fasilitas barang, tapi juga minimal bangunannya rapi lah, nggak jorok pula di sekitarnya, hiks.
Lalu hari ini ketika saya mengantar si Adik sekolah, karena cuman 2 jam di sekolah, saya putuskan nunggu dia di Kotamara.
Baca juga : Kotamara Green City Baubau, Simak Indahnya!
Sambil nunggu, saya mulai browsing-browsing kos-kosan di Baubau. Mulai dari googling, lalu dibawa ke beberapa grup FB tentang kos dan kontrakan Baubau.
Dari situ saya dapat beberapa nomor, yang ketika saya tanya ternyata semuanya sudah keisi. Ada 2 saja yang masih kosong, satu di wilayah Palatiga, di mana ini terletak di atas bukti, dan jujur saya kurang suka tinggal di atas bukit karena saya takut mendaki naik motor.
Di lokasi tersebut ada kos petak harga 750ribu, tapi kosongan.
Ada juga di gang atau lorong Kuda Putih, di sini harganya 400ribuan, dan ketika sore tadi saya survey, ya ampun baru di depannya saja, saya udah nggak minat mau liat kamarnya.
Intinya, kesemua tipe kos-kosan di Baubau ini, mirip-mirip. Yang 400ribu itu terletak di gang kecil, nggak ada tempat parkir motor, kalau malam motor harus dimasukin ke dalam depan kamar masing-masing. Kamarnya kecil, kosongan meski ada kamar mandi dalam, tapi pintunya hadap-hadapan dengan kamar lainnya.
Saya membayangkan kalau diri sendiri aja di situ mungkin nggak masalah, tapi ada si Adik, rasanya dia nggak mungkin betah seharian di kamar kecil tersebut mulu. Dan nggak mungkin juga keluar, nggak ada space buat si Adik bermain di luar kamar, karena udah ada motor penghuni kos, dan berhadapan dengan kamar kos lainnya.
Ada pula, kos seharga 950ribu, karena ber-AC. Tapi kamarnya sama aja kecil banget, dan yang parahnya adalah, alamatnya ada di gang super kecil, yang cuman bisa dilewati 1 motor doang.
Di tempat lain, ada seharga 400ribuan, ternyata kamar kosong kecil, yang letaknya menyatu di rumah empunya kos, ada suaminya pulak.
Kebayang banget bagaimana saya berinteraksi di kamar kecil tersebut, bingung mau ke kamar mandi harus jilbaban.
Ah udah pusing duluan rasanya.
Beberapa tempat yang kami survey lainnya juga sama, intinya jenisnya mirip.
Kalau yang kelihatan agak lumayan, itu harganya di atas 1 jutaan. Itupun ada jenisnya. Jika ber AC dan harganya 1 jutaan, bisa jadi kamarnya kecil, juga di dalam gang kecil.
Namun jika di jalan yang agak luas (bukan jalan umum), dijamin harganya mendekati 2 jutaan.
Kalau punya budget 500ribuan, harus pasrah dengan kamar super kecil, dindingnya syukur-syukur beton tapi kotor, nggak ada plafon sementara atapnya seng atau asbes.
Dan jika mau kos petak dengan luas 4x5 atau lebih besar lagi, harga masih di bawah 1 juta, itu berarti harus cari di atas bukit.
Auk ah, capek banget saya.
********
Di tengah stresnya memikirkan harus pindah ke mana, dan berkejaran dengan waktu karena bisa jadi kakak sahabat itu akan segera tiba di Baubau. Saya jadi berpikir banyak hal.
Beberapa di antaranya adalah.
Pertama, saya lelah banget menjalani hidup seperti ini, hidup hanya penuh dengan berpindah dari satu kos ke kos lainnya. Makin parah pula tempatnya, dengan harga yang tetap saja mahal.
Kadang berpikir, andai sejak awal ke Surabaya dulu, saya nggak terombang ambing dengan mengingat ortu. Mungkin saya akan ikut teman-teman nekat ambil rumah di Surabaya.
Harusnya, dengan bantuan kantor, saya bisa ambil rumah KPR di wilayah yang masih masuk wilayah Surabaya.
Tapi jujur, dulu tuh saya bingung, karena ortu masih berharap saya pulang ke Buton. Saya juga dulu bertahan mau pulang ke Buton, kalau udah ada kerjaan yang pasti.
Nyatanya kan terjadi sampai sekarang, ketika saya udah pulang, dan sudah setahun berlalu, saya nggak punya kerjaan yang bisa menghidupi di sini, hiks.
Kedua, sebenarnya cari kos atau tempat tinggal itu nggak terlalu repot, kalau untuk diri saya sendiri. Saya bisa cari kos yang murah, yang 300ribuan cukup kamar kosong juga bisa.
Saya kan cuman butuh kamar buat istrahat doang, nggak butuh ruang luas buat ini itu, nggak butuh lemari besar buat nampung baju-baju yang banyak.
Nggak perlu melihat lingkungannya gimana-gimana, mau gabung di kos laki atau campur juga nggak masalah, selama ada pintu yang aman.
Tapi beda lagi kalau sama anak, tentunya butuh kamar yang sedikit luas, lingkungan juga sehat, jangan jorok karena anak-anak sesekali bakal main ke luar kamar. Tentunya, mungkin akan sedikit mengganggu kamar tetangga.
Butuh lemari yang besar karena baju kami berdua aja banyak, apalagi bertiga sama si Kakak. Butuh air yang banyak, meanwhile kos di sini seringnya mengandalkan 1 tandon air saja untuk beberapa kamar.
Ah, pokoknya, kalau sama anak, tentunya butuh kos yang sedikit lebih ribet ketimbang nyari kos buat diri sendiri, dan tentunya butuh biaya yang lebih besar juga.
Ketiga, semua hal yang saya rasakan di sini, sebenarnya sama aja dengan yang saya rasakan ketika di Surabaya. Bedanya, di sana saya kalau nyari kos tuh penuh pemakluman.
Ye kan, kalau kos di Surabaya itu mahal ya wajar. Di sana kota metropolitan, banyak kampus bagus, tempat kerja dan lainnya, yang tentunya kos atau kontrakan itu banyak dibutuhkan orang dengan pendapatan yang juga sesuai UMK.
Lah di Baubau sendiri, UMK nya cuman 3 jutaan loh, tapi itupun jarang banget ada perusahaan yang bisa membayar gaji karyawan setara UMK tersebut. Seringnya di bawah UMK.
Tapi kos-kosannya, masya Allah sekali harganya.
Anehnya, tetap keisi juga loh, tauk deh yang isi tuh bekerja atau menghasilkan uang dengan ngapain?. Bekerja di mana sampai bisa membayar kos dengan harga fantastis?.
Tauk ah, intinya saya capek dan pusing, pengen rasanya balik ke Surabaya besok, lalu anak-anak saya suruh tinggal sama bapaknya, meanwhile saya cari kos di Surabaya atau Sidoarjo aja buat diri sendiri, biar lebih terjangkau dan saya mampu bayarnya..
Huhuhu.
Apapun itu, meski saya ngomel, meski saya terlihat mengeluh, selalu ada semangat yang terus bercokol di kepala. Always.
Semangat itu mendatangkan harapan, bahwa akan selalu ada jalan, insya Allah, aamiin.
Doain ya, agar urusan saya dipermudah ya Temans, dan semoga kalian semua juga dimudahkan urusannya, aamiin.
Baubau, 23-02-2026
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)
Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)