Semalam saya nggak bisa tidur hingga tengah malam, terus iseng buka instagram dan melihat postingan akun berita di Baubau. Tapi kali ini beda, yang diposting adalah berita gosip perselingkuhan.
Wao banget deh, berasa lambeh turah, hahaha.
Tapi lucunya, saya kepo juga dong. Dan berakhir dengan scroling di akun terduga korban perselingkuhan, plus terduga pelaku selingkuhan suaminya.
Astagfirullah banget ya si Rey ini, puasa-puasa gitu loh, bukannya tadarusan, malah liat gosip, maafkan ya Allah.
Tapi entah mengapa ya, tetep aja saya pantengin beberapa kontennya, plus bacain beberapa komentar, sampai tertarik pada satu komentar yang mengena di hati saya,
"Sabar ya, padahal saya masih ingat bagaimana dulu lakinya effort banget, bela-belain datang ke Kamaru dari Baubau!"
Kurang lebih demikian komentarnya, tapi pakai logat Buton.
Fyi, jarak Kamaru dari Baubau itu sekitar 100 KM, melewati jalanan yang berbelok-belok dan jurang. Cuman enaknya nggak macet kayak dari Surabaya ke Malang *eh, hahaha.
Tapi bukan masalah macetnya yang pengen saya bahas, melainkan masalah effort lelaki ketika mengejar cinta dan perhatian wanita. Lalu kemudian setelah menikah, berubah dan jatuh cinta lagi pada wanita lain.
Di-Effort-in Lelaki? Begini Ceritanya!
Been there, pernah merasakan bagaimana di-effort-in lelaki ketika masih pacaran. Bahkan setelah menikah juga sih.
Effort si pacar dulu tuh memang cuman untuk saya semata sih, nggak sampai ketemu ortu dengan kesadaran diri kayak orang-orang gitu.
Tapi,
Si kakak pacar yang bayarin kos saya, ketika saya belum bekerja dan menghasilkan uang sendiri. Dia juga yang setiap hari bawain makan siang ke kos. Biasanya kalau makan malam kami makan di luar, dia yang bayarin. Sering karena duit terbatas, saya aja yang makan, dia makan di rumah aja katanya, huhuhu.
Ketika saya keterima kerja, dan belum punya motor, kantor saya nggak dilewatin angkot, dia bela-belain pagi anterin saya ke kantor dulu, abis itu dia ke kantornya. Padahal lokasi kantor kami saling bertolak belakang.
Yang paling gong tuh ketika saya kerja di proyek pelebaran tol Waru Dupak, dia di proyek Suramadu. Itu tuh lokasinya dari ujung Surabaya Utara, ke ujung Surabaya Selatan.
Dan di zaman dulu, jalanan Surabaya masih sempit-sempit. Jalan A. Yani belum selebar sekarang. Jadi, ketika pagi dan sore hari, macetnya astagfirullah buanget, huhuhu.
Bayangkan, dia harus menembus kemacetan tersebut, agar segera tiba di proyek saya, nggak boleh telat karena biasanya pacarnya bakal ngambek *astagfirullah si Rey ya.
Saking seringnya pusing menembus macet, akhirnya dia sampai hafal jalanan tikus yang bikin dia bisa segera sampai dan nggak kejebak macet.
Pokoknya effort si pacar tuh buat saya, nggak main-main. Dia udah berasa bukan cuman pacar, tapi juga kakak, ayah, teman terbaik.
Setelah menikah, kesabarannya dan effort-nya juga masih menyertainya, meskipun udah bertambah dengan sikap 'nggak semua keinginan saya dia kabulkan'. Tapi kalau masalah effort menyenangkan dalam hal yang receh, dia juaranya banget.
Ketika saya jadi IRT, dan bosan karena biasanya saya bekerja di kantoran, tiba-tiba kok di rumah aja melulu. Setiap kali saya update status di medsos, sering dipantau.
Saya nulis 'bosan', eh sorenya ia bakal pulang cepat, lalu ngajak keluar jalan-jalan, sekadar makan malam di luar, atau sekadar jalan-jalan muter-muter kota aja. Setelah itu baru deh dia balik lagi ke proyek untuk lembur.
Di lain waktu, saya nulis 'pengen cokelat deh', dan hanya dalam 15-30 menit, dia bakal muncul di depan pintu, membawakan beberapa bungkus cokelat dan jajanan lainnya.
Favorit dia tuh beliin saya cokelat Silver Quin yang almond, trus Snicker (katanya saya rese kalau lagi laper, hahahaha), dan beberapa jajanan micin. Kadang juga sama buah apel atau anggur.
Ketika di rumah, effort-nya juga nggak main-main.
Nggak ada tuh yang namanya dia bermalas-malasan di rumah, pokoknya kalau pulang kantor dia bakalan cepat-cepat mandi yang bersih, pakai deodorant dan parfum, karena dia tau saya benci banget bau nggak enak.
Lalu dia segera ke dapur.
Kalau saya belum masak, dia tawarin makan di luar. Kadang juga dia tawarin apa mau dimasakin?. Jika dapur berantakan, dia segera cuci piring. Kalau semua sudah beres, dia segera makan, cuci piring, lalu nyapu dan ngepel di depan, kemudian ajak anak-anak main.
Nggak pernah tuh dia main HP ketika di rumah.
Ketika malam kami begadang nonton film, lalu tiba-tiba saya nyelutuk lapar, dia akan nawarin mau dibelikan apa?. Atau ditawarin bikinin mie.
Kagak ada tuh yang namanya istri soleha dan romantis adalah mengorbankan tidurnya demi masakin suami indomie. Kagak! yang ada dia yang bangun masakin saya indomie.
Sungguh sebuah gambaran istri beruntung yang beda tipis dengan istri males kebangetan, wakakakakaka.
Dia yang pijat saya, dia yang bersihin kepala, cabut rambut gatal, bersihin kuping, potongin kuku. Pokoknya semua hal-hal yang didambakan oleh para istri zaman now, yang katanya definisi 'diratukan' itu loh.
********
What i'm trying to say adalah, betapa saya pun paham, bagaimana di-effort-in seorang lelaki itu. Jadi saya paham banget gimana rasanya, ketika akhirnya semua effort-nya 'selesai' dengan 'kejam'.
Bukan Pelakor yang Ditakutkan, Tapi Ayah yang Tak Peduli Anak
Tapi di sisi lain, kalau dipikir-pikir ya, sebenarnya kita manusia ini, bakal diuji dengan hal-hal yang kita takutkan, jadi emang lebih baik nggak perlu takut pada apapun, selain murkanya Allah ya.
Maksudnya gini.
Saya merasa kalau nggak eh semoga jangan pernah, punya masalah sakit hati karena diduakan pasangan yang kepincut dengan wanita lain.
Ini bukan berarti saya nggak pernah punya masalah orang ke-3 ya. Pernah banget dong.
Baca juga : Ketika Suami Curhat Pada Mantan Pacarnya
Dan kejadiannya tuh beneran bikin mental down banget, karena bahkan kayaknya sampai detik ini, pasangan nggak merasa itu salah.
Akan tetapi, entah karena saya gengsian kali ya, atau memang sekarang udah ilfeel. Atau juga mungkin karena saya memang sejak kecil berprinsip, ogah banget rebutan laki. Dan mungkin juga karena pasangan nggak jadi nerusin hubungannya dengan mantannya.
Jadinya, semua kejadian tersebut nggak terlalu melekat di pikiran, apalagi sampai bikin trauma. Juga nggak bikin anxiety.
Akan tetapi, ketika menyangkut masalah duit, entah mengapa saya sering ketakutan kalau anak-anak sampai nggak bisa makan, apalagi merasakan kelaparan.
Saya kesal banget kalau papinya nggak bertanggung jawab dengan benar. Hanya berpedoman yang penting adalah dia bertanggung jawab kalau mampu dan punya duit.
Kalau nggak punya duit ya, dia cuek aja dengan segala kebutuhan anak-anaknya (jangan tanyakan mengapa dia bisa berubah 180 derajat gitu).
Dan demikian pula respon saya, ketika melihat berita perselingkuhan seperti yang saya baca semalam itu, saya biasa aja sambil membaca komentar-komentar kasar yang diluapkan banyak orang.
Sementara jika membaca curhatan perempuan tentang suami yang nggak bertanggung jawab, saya cenderung ketrigger sendiri. Dengan penuh semangat memberikan masukan ini itu, yang intinya harus melawan penelantaran keluarga.
Baca juga : Say No To Penelantaran Keluarga
Sabar Itu Kunci, Tapi Banyak Perempuan Terjebak Emosi Saat Suami Selingkuh
Di sisi lain, saya jadi punya insight baru eh tepatnya baru sadar sih, hahaha. Bahwa sebenarnya kunci ketenangan hati tuh ada pada sabar (lah, baru tahu, Rey?)
Enggak sih, i mean selama ini ujian kita tuh hanya akan terasa berat kalau kita terlalu takut akan hal itu. Misal, kayak saya yang ketakutan akan masalah duit. Padahal ya saya sadar betul, nggak sekali dua kali saya melewati masa-masa sulit ekonomi.
Meski udah berulang kali, setiap kali ada masalah keuangan, saya langsung panik bahkan anxiety dna meledak-ledak nggak karuan.
Yang kasiannya, anak-anak selalu jadi pelampiasan saya, huhuhu.
Berbeda dengan teman-teman lainnya yang punya ketakutan sendiri akan suaminya 'diambil' orang, padahal suami juga yang awalnya membawa dirinya ke orang lain *eh. Seringnya perempuan yang punya ketakutan tersebut, akan meledak-ledak ketika berhadapan dengan masalah lakinya kepincut wanita lain.
Sedihnya lagi, mereka bahkan melupakan kunci amarahnya sebenarnya ke suaminya, malah dilampiaskan ke perempuan yang dilirik suaminya itu.
Nggak sekali dua kali melihat fenomena ini, bahkan tak jarang kebanyakan perempuan yang diuji dengan suaminya 'menggatal' ke perempuan lain. Seharusnya kan perempuan yang jadi istrinya yang korban. Ujungnya dia juga yang jadi pelaku dan berurusan dengan hukum karena penganiayaan atau bahkan perlakuan tidak baik yang buktinya jelas-jelas ada, karena di-upload di media sosial.
Padahal ya, dengan semakin perempuan meledak-ledak pada perempuan lain itu, ada 2 kemungkinan yang akan dilakukan oleh suami pengkhianat itu.
Baca juga : Mengapa Istri Terlihat Lebih Melabrak Pelakor Ketimbang Suaminya
Pertama, dia akan menggunakan emosi sang istri sebagai alasan unttuuk meninggalkannya. Apalagi kalau suaminya gaslighther akut. Duh, itu celah terbaik untuk dia memindahkan kesalahannya ke istrinya.
Kedua, dia akan menggunakan emosi sang istri, untuk mencari celah agar istrinya memaafkannya, dengan alasan kalau dia yang digodain perempuan itu.
Ditambah, istri yang udah kemakan emosi diri menyerang perempuan tersebut, jadinya gengsi dong dan membuktikan ke perempuan itu, kalau suaminya tetap akan memilih dirinya, dan melupakan si perempuan lain tersebut.
Begitulah, awal mula mengapa perempuan sulit lepas dari suami yang suka berselingkuh.
Kesimpulan dan Penutup
Hidup seringnya penuh kejutan. Seperti lelaki yang dulu pernah memperjuangkan kita mati-matian, bisa saja berubah. Hubungan yang dulu terasa hangat, bisa saja dingin tanpa aba-aba. Dan rasa takut yang kita kira paling menyakitkan, ternyata bukan itu yang paling menguji hati.
Saya belajar bahwa bukan perselingkuhan yang paling menakutkan dalam hidup rumah tangga, melainkan ketika tanggung jawab mulai diabaikan. Ketika anak-anak harus menanggung dampaknya, dan ketika kita sendiri kehilangan ketenangan hati karena terlalu takut pada hal-hal yang belum tentu terjadi.
Memang benar, kunci dari semuanya adalah sabar. Bukan sabar yang pasrah tanpa batas, tapi sabar yang membuat kita tetap berpikir jernih, tetap berdiri tegak, dan tetap tahu mana yang harus diperjuangkan, dan mana yang harus dilepaskan.
Karena yang paling penting bukan hanya siapa yang dulu pernah memperjuangkan kita, tapi bagaimana kita menjaga diri, hati, dan masa depan anak-anak kita sekarang.
Baubau, 24-02-2025
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)
Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)