Sudah 7 bulanan saya menjalani kehidupan baru sebagai working mom, setelah bertahun-tahun jadi IRT atau Ibu Rumah Tangga. Dan saat ini Alhamdulillah saya udah bisa beradaptasi dan bekerja dengan baik seperti teman-teman lainnya.
Saya beruntung, meski sudah bertahun-tahun jadi IRT lalu kembali ke dunia kerja kantoran, tapi saya nggak perlu kagok banget menjalani dunia yang pernah saya geluti, dulu sebelum memutuskan di rumah saja.
Padahal dunia kerjanya berbeda dengan pengalaman kerja saya sebelumnya. Menjadi petugas yang melayani administrasi pasien di sebuah klinik medis swasta.
Sementara sebelumnya bekerja di bagian teknik, yang kerjaannya di seputaran teknik sipil, proyek jalan, jembatan hingga rumah tinggal.
Semua itu karena selama beberapa tahun di rumah saja, saya tidak benar-benar menjauhi pekerjaan-pekerjaan kantoran. Setiap hari masih berkutat dengan laptop, masih berkutat dengan excel dan word. Bahkan aktif menulis di blog setiap hari.
Baca juga : 6 Bulan Menulis di Blog Tanpa Henti, Begini Caranya
Akhirnya setelah kembali bekerja, semuanya terasa smooth. Nggak ada yang namanya gedebukan pagi-pagi mempersiapkan diri ke kantor dan anak berangkat sekolah. Toh setiap hari memang juga gedebukan meski jadi IRT, hahaha.
Juga nggak ada yang terlalu kagok untuk kerjaan kantor dan semacamnya.
Akan tetapi, memang sih ada beberapa hal yang benar-benar baru dan bikin saya lumayan kagok dalam beradaptasi. Lalu setelah beberapa bulan akhirnya jadi bisa dan biasa.
1. Familier Dengan Menghitung Uang
Wah ini mah another skill yang berarti banget buat saya ya.
Fyi, saya tuh paling takut berurusan dengan uang langsung, karena nggak pinter ngitung uang. Udahlah ngitunglah lambat banget, kadang sudah mau selesai ngitungnya, eh salah, hahaha.
Tapi, di kerjaan sekarang, karena tugas saya melayani administrasi pasien, ya mau nggak mau termasuk kasir juga, alias menerima uang pembayaran administrasi pasien.
Awalnya deg-degan banget dengan tugas ini, takut salah hitung, takut begini begitu. Jadinya, saya happy banget kalau pasiennya memutuskan melakukan pembayaran dengan QRIS atau debit.
Oh ya, melalui debit juga saya kagok, pernah sekali ada yang pakai debit card, saya bingung gimana caranya, akhirnya keluarga pasien sendiri yang ajarin saya, wakakakakaka.
Syukurlah, selama ini paling sering ya pembayaran melalui QRIS atau Cash. Dan saya juga happy ketika menerima pembayaran di bawah 1 jutaan, masih bisa lah saya hitung dengan cepat.
Tapi pernah juga ada pembayaran cash dengan jumlah di atas 5 juta, meskipun semua uang 100 ribuan, tapi saya sempat harus ngitung 2-3 kali, karena salah ngitung mulu.
Sampai-sampai keluarga pasiennya shock, karena katanya dia udah ngitung berkali-kali sebelumnya, kalau itu cukup. Ternyata, masalahnya ada pada si Rey yang salah ngitung, hahahaha.
Tapi setelah itu semuanya udah lebih baik, sekarang saya udah lebih pede kalau masalah ngitung-ngitung duit, meskipun belum selancar orang di bank, hahaha.
2. Bisa Cek TTV Pasien
Sebenarnya mengecek TTV atau tanda-tanda vital pasien, kayak tensi, nadi, suhu dan lainnya itu, adalah tugas perawat atau bidan. Akan tetapi, kadang perawat atau bidan sedang sibuk, dan saya kasian melihat pasien menunggu terlalu lama, maka tugas tersebut akhirnya saya ambil alih.
Tapi, ini hanya untuk pasien-pasien tertentu ya, misal pasien yang datang mengurus SKBS atau SKBN, atau semacamnya. Kalau pasien yang sakitnya serius, saya nggak berani sih, hahaha.
Gara-gara kerjaan ini, saya jadi semakin mahir mengecek tensi dan lainnya. Padahal sebelumnya, rasanya kagok banget, meskipun pakai alat tensi digital (kalau yang manual belum bisa ya).
3. Menulis Tangan
Ternyata bekerja di bidang kesehatan itu masih harus sering berhubungan dengan tulisan tangan dong. isi form rekam medis atau yang biasa disebut 'les pasien', pakai tulisan tangan dong.
Banyak pula yang diisi. Mulai dari nama, tanggal lahir, usia, pekerjaan, pendidikan dan lainnya. Apalagi untuk form pasien asuransi yang kebetulan klinik kami sebagai faskes 1-nya. Masya Allah, pegal tangan menulis banyak hal.
Saya jadi merasa bersalah, ketika melihat pelayanan di fasilitas kesehatan kok lama. Ternyata mereka kudu nulis banyak hal dulu dong. Dan nulisnya pakai tangan pulak.
Setelah bekerja di klinik medis ini, saya jadi paham hal itu. Dan sering juga jadi nggak enak sendiri ketika pasien numpuk dan ada yang nggak sabaran.
Apalagi kalau pasien asuransi ya, itu nginput datanya banyak banget dan nggak bisa ditunda. Jadi, tiap pasien itu panjang banget administrasinya. Dan sebagian besar ya nulis pakai tangan.
Awalnya saya kagok banget. Maklum ya, sudah lama banget nggak pernah nulis tangan, semua serba diketik. Jadi tulisan saya tuh saingan dah sama dokter, hahaha.
Tapi kan nggak enak ya, apalagi saya juga harus nulis surat rujukan, masa iya tulisan saya jelek banget. Jadinya saya latih untuk menulis dengan rapi dan cepat. Alhamdulillah sekarang udah lebih baik dan cepat dalam menulis.
I think ini hal positif banget ya, selain bisa kembali melatih jari saya menulis dengan tangan. Juga bikin jari lebih sehat karena motoriknya berfungsi dengan baik, nggak cuman dipakai buat ngetik.
4. Bisa Baca Lebih Banyak Tulisan Dokter
Oooomaigudnessss ya, kalau ngomongin tulisan dokter tuh, luar biasa banget. Jangankan orang awam, bahkan para perawat saja kesulitan membaca tulisannya.
Tapi, sejak bekerja di klinik medis ini, saya jadi terlatih membaca beberapa tulisan dokter. Nggak semuanya sih, bahkan sebagian saya nggak bisa baca sama sekali, perawat juga nggak bisa, akhirnya saya tanya si Jipi aka ChatGPT, eh ujungnya dijawab dengan detail, padahal salah, hahaha.
Akan tetapi lumayan lah, setidaknya untuk tulisan dokter mengenai diagnosa, saya udah sebagian besar paham lah.
5. Berhadapan Langsung Dengan Konsumen
Ini adalah pertama kalinya saya bekerja di bagian front office, di bagian pelayanan dan berhadapan langsung dengan costumer aka pasien dan keluarganya.
Jujur awal-awalnya kagok banget, takut nggak ramah, takut pasien atau keluarganya marah. Takut saya lelet dan bikin pasien numpuk. Takut juga kalau salah, hahaha.
Tapi lama kelamaan jadi terbiasa, yang penting terus melatih untuk ramah dan penuh senyum. Dan Alhamdulillah selama ini dengan menggunakan senyum dan ramah, saya masih bisa meredam kekesalan keluarga pasien yang merasa kurang puas atau semacamnya.
Btw, kerja di pelayanan medis itu, benar-benar harus bermental baja, mengingat kita nggak bisa memprediksi bagaimana keadaan pasien yang datang. Belum lagi kecepatan pelayanan adalah hal utama, dan ketika memang kami sudah berusaha bekerja cepat tapi belum secepat yang diharapkan, maka sebagai petugas di front office, saya harus bisa meredakan kekesalan pasien atau keluarganya.
6. Beradaptasi Dengan Rekan Kerja Perempuan
Ini tak kalah butuh adaptasi lama juga ya, karena ternyata bekerja dengan rekan mostly perempuan itu, berbeda dengan rekan laki. Bukan hanya selalu kedistraksi ngerumpi, tapi lebih dari itu.
Kadang saya yang sering merasa over sharing takut salah ngomong atau semacamnya. Dan ketika nggak sengaja salah ngomong, ternyata ceritanya bakalan panjang buanget.
Nggak cuman ketika salah ngomong, tapi hal-hal yang sebenarnya kecil aja, bisa jadi sangat panjang dan jadi pertengkaran loh, ampuunnn, hahaha.
Tapi over all, punya rekan laki atau perempuan, keduanya sama aja sih, ada plus minusnya. Dan untuk minusnya ala saya, cukup butuh waktu yang panjang untuk beradaptasi, dan Alhamdulillah lama-lama jadi terbiasa.
Baca juga : Bekerja Di Bagian Pelayanan Dengan Otodidak
Kesimpulan dan Penutup
Ternyata kembali bekerja kantoran setelah lama menjadi Ibu Rumah Tangga bukan sekadar soal berani melangkah keluar rumah lagi. Akan tetapi juga tentang belajar hal-hal baru, melatih diri untuk beradaptasi, dan menerima bahwa proses kagok itu wajar.
Selama 7 bulan bekerja di klinik medis ini, saya belajar bahwa kemampuan seseorang tidak benar-benar hilang hanya karena lama tidak dipakai. Justru, pengalaman hidup selama di rumah, kedisiplinan mengurus keluarga, dan kebiasaan mengelola banyak hal sekaligus, diam-diam menjadi bekal penting saat kembali ke dunia kerja.
Memang tidak semua berjalan mulus sejak awal. Ada rasa takut salah hitung uang, kagok menghadapi pasien, pegal menulis tangan, hingga bingung membaca tulisan dokter. Tapi pelan-pelan, semua itu berubah menjadi kebiasaan. Yang dulu terasa menegangkan, sekarang malah terasa biasa.
Pelajaran terbesarnya adalah, bahwa kita sering meremehkan kemampuan diri sendiri, padahal sebenarnya kita hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri.
Dan bagi siapa pun yang sedang mempertimbangkan kembali bekerja setelah lama di rumah, percayalah, prosesnya mungkin tidak selalu mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Kita hanya perlu mulai, lalu berjalan pelan-pelan sambil belajar lagi.
How about you, Temans?
Baubau, 25-02-2026

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)
Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)