Blogger Parenting Harus Bersertifikasi ?

Blogger Parenting Harus Bersertifikasi ?

Sharing By Rey - Blogger parenting, kadang sebutan itu saya tulis sebagai niche profesi saya saat ini (cieeehhh, niche profesi, eaaaa).

Meskipun itu jarang sih, hanya pada saat memilih tema untuk apply job.

Jujur, kalau ditanya, saya secara lengkap menjelaskan, bahwa, apa sih profesi saya saat ini?
Saya bakal menjawab mom blogger yang suka sharing pengalaman dan opini pribadi tentang pengalaman hidup dan keseharian.

Dan karena saat ini saya sebagai ibu rumah tangga, off course sharing saya kebanyakan di seputar kerjaan saya di rumah, yaitu mengasuh dan mendampingi anak-anak.

Karenanya, jika temans melihat tag atau label di blog ini, postingan terbanyak tuh di seputar parenting, di mana saya menulis dan bercerita, tentang pengalaman saya mengasuh anak-anak dan opini-opini berdasarkan pengalaman tersebut.

Jikalah orang bilang tema blog atau saya sebagai blogger parenting, ya bukan berarti saya seorang praktisi parenting yang punya sertifikasi.


Blogger Parenting Harus Bersertifikasi ?


Beberapa waktu lalu saya membaca postingan siapa ya? lupa! di story instagram.
Intinya, ada yang menuliskan bahwa, seharusnya kalau mau sharing sesuatu itu, dipastikan dulu ilmunya benar atau enggak, rujukannya tepat atau enggak, bukan hanya sekadar menuliskan opini berdasarkan pengetahuannya saja.

Blogger Parenting Harus Bersertifikasi agar tulisannya terpercaya

Jleb!

Apalagi ditambah dengan, keterangan bahwa ybs mati-matian mempelajari ilmu parenting, demi memberikan hal yang benar, bukan hanya asal comot.

Jleb jleb!

Kan saya jadi tercolek, biar bagaimanapun semua cerita saya di label parenting tersebut, sama sekali tidak ada ilmu khusus yang saya pelajari, kecuali saat saya berbagi ilmu yang saya baca, seperti kunci menetralkan emosi negatif dalam mengasuh anak, di mana tulisan tersebut sebagian besar adalah isi seminar parenting yang saya ikuti.

Atau berbagai seminar eh sebenarnya event blogger sih, yang saya ikutin dan erat kaitannya dengan dunia parenting.

Dalam menulis hal tersebut, kebanyakan saya memberikan opini berdasarkan pengalaman pribadi, bukan teori parenting yang praktisi pelajari, dan konon udah diteliti oleh para pakar parenting sedunia.

Lalu saya berpikir,
"Apakah hanya seseorang yang punya sertifikasi parenting, yang boleh sharing atau menulis tentang hal parenting?"
Saya paham, meskipun saya bukan influencer hebat yang bahkan noleh 1 derajat aja, bakal diikuti semua orang, jadi semacam trend setter.
Akan tetapi, memang, saat saya menulis atau posting, satu dua orang juga menunjukan kalau mereka tertarik dengan apa yang saya posting.

Demikian juga di blog.
Bahkan kadang apa yang saya tuliskan di blog ini, beberapa bulan kemudian saya lupa, tiba-tiba saja saya mendapatkan pesan, bahwa ada yang baca tulisan saya mengenai ini itu.

Saya kadang terkejut dan berpikir,
"Hah? benarkah saya pernah menuliskan hal tersebut?"
I told you, saya tuh pelupa banget,  bahkan kadang saya baper takut pikun saya ini gejala alzheimer *preett hahaha.
Tapi beneran, salah satu alasan saya rajin menulis ya karena saya pelupa.

Hal tersebut menyimpulkan, bahwa saya seharusnya memang kudu berhati-hati dalam menulis, karena ada banyak yang bisa baca, dan who knows kan ye, kalau pembacanya jadi terinspirasi?

Akan tetapi, saya lalu berpikir lagi, masa iya sih saya kudu bersetifikasi dulu, baru boleh menulis hal-hal parenting?

Sementara saya yakin, mengapa saya menyebut diri saya sebagai blogger, karena seperti dikutip dalam kamus oxford, di mana blogger adalah 'A person who regularly writes material for a blog' atau lebih umumnya, Blogger adalah seseorang yang secara teratur menulis materi untuk blog.

Jadi, seharusnya, blogger parenting adalah, seseorang yang secara teratur menulis materi parenting untuk blog.

Nah, saya menulis tema parenting, seminggu sekali, bukannya udah bisa dikategorikan blogger parenting ya? hahaha.

Dari pengertian tersebut, sesungguhnya sama sekali nggak ada keterangan bahwa blogger parenting adalah seseorang yang wajib punya sertifikasi.
Karena saya rasa, orang yang punya sertifikasi juga ogah menulis rutin semua ilmunya di blog, nanti nggak ada yang bisa diuangkan dong, hahaha.

Jadi menurut saya, siapapun sebenarnya bisa menjadi blogger parenting, even yang tidak punya sertifikasi di bidang parenting.

Asalkan, tentu saja dengan mempertimbangkan beberapa hal penting, agar apa yang ditulis sama sekali tidak menggiring opini pembaca untuk mengikuti secara plek, apa yang kita tuliskan just by opinion.

Pun juga, ada banyak hal yang bisa kita tuliskan, bukan semata teori yang sudah diteliti oleh para pakar tersebut.



Blogger Parenting Itu Berbagi Banyak Hal Mengenai Parenting


Menurut saya, blogger parenting itu adalah seseorang yang suka menulis atau berbagi melalui tulisan, tentang pengetahuan, pengalaman ataupun opini pribadi.

Blogger Parenting Harus Bersertifikasi agar tulisannya terpercaya

Seperti saya, 90% tulisan dalam tema parenting di blog ini adalah murni pengalaman saya pribadi, dan lainnya adalah teori yang saya dapatkan dari berbagai sumber dan diimplementasikan dalam pengalaman pribadi.

Hal itu sebenarnya tidaklah sulit, mengingat saya adalah seorang ibu dari 2 orang anak, yang kesehariannya mengasuh dan mengurus serta mendampingi anak-anak saya.
Ada banyak hal yang bisa saya tuliskan dalam pengalaman tersebut.

Jadi, meskipun saya jarang ikut, eh bentar, kayaknya belum pernah sama sekali saya ikutan seminar atau pelatihan parenting yang bersertifikasi, apalagi jadi pakar di bidang parenting.

Saya tetap bisa membagikan banyak pengalaman saya mengenai parenting.
Semudah saya menceritakan apa yang saya alami dalam keseharian saya.

Justru semua itu berdasarkan hobi saya membaca tulisan-tulisan pengalaman membesarkan anak dari mom blogger lainnya, yang mana tema yang paling saya sukai adalah murni sharing pengalaman, bukan teori.

Entahlah, tapi otak saya selalu panas kalau baca teori, sulit saya mengerti, kecuali langsung di implementasikan.

Entahlah, terlebih kalau teori yang selalu menggunakan kata yang (terkesan) men-judge, udah deh, baper duluan kayaknya yang ada.

Saya justru lebih suka membaca pengalaman teman-teman yang ditulis secara detail, apa masalahnya, lalu bagaimana cara mengatasinya, terlebih kalau dikasih tahu, bagaimana hasilnya.

Biasanya hal tersebut juga memang diselingi oleh teori, tapi semuanya bisa dengan mudah masuk ke dalam pikiran, dan bisa dengan mudah dilakukan.

Meskipun demikian, jangan lupa untuk memberikan keterangan, misal semua itu adalah opini pribadi, atau pengalaman pribadi atau mungkin hanya teori yang kita ketahui.
Sehingga pembaca bisa dengan bijak menentukan pilihannya, mau dicontek atau enggak?

Blogger Parenting Harus Bersertifikasi ?

Demikianlah, menurut saya blogger parenting tidak harus yang kudu bersertifikasi, menceritakan pengalaman pribadi juga udah bisa kok dikatakan sebagai blogger parenting.

Asalkan, ceritanya mengenai tulisan, bukan joged tiktok, hahahahaha.
Kalau joged tiktok mah namanya, tiktokers parenting :D

How about you, temans?


Sidoarjo, 15 Juli 2020

#RabuParenting

Sumber : pengalaman dan opini pribadi
Gambar : Canva edit by Rey

11 komentar :

  1. emm, blogger parenting cocok nya dibaca istri 80 persen , suami 20 persen. heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. salah dong, cocoknya di baca 100% suami dan istri :D
      kan menjadi parent ya ayah dan ibu :D

      Hapus
  2. Malah lebih nyaman dan enak kalau dibaca berdasarkan pengalaman seseorang, bukan cuma dari teori. Bener lho mbk rey, teori tu kebanyakan bikin pusing. Mending belajar dari yang udah dipraktekin aja.
    Lagipula, ilmu parenting dari blogger kan kebanyakan dari pengalaman pribadi. Jadi ya termasuk personal juga...
    Iya nggak sih😁
    Sotoy deh saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya say, kalau pengalaman itu kan udah terbukti, bukan teori doang :D

      Hapus
  3. Hem.. saya malah bingung kalau ada yang mengatakan bahwa harus bersertifikasi baru bisa sharing.

    Itu orang arogan banget padahal kelihatan bodohnya..hahahah

    1. Emang ada ilmu parenting yah? Yang ada itu ilmu psikologi
    2. Setiap orangtua memiliki cara pengasuhan yang berbeda dan tidak sama, lalu gimana bisa bikin sertifikasi yang memerlukan standar dan kriteria keahlian
    3. Blogger sendiri belum menjadi profesi bukan hanya di Indonesia, tetapi di dunia belum ada asosiasi profesi blogger, lalu kenapa butuh sertifikasi
    4. Apakah seorang blogger "harus" selalu merujuk pada sebuah referensi? Yang ngomong begini pasti kepalanya harus diperiksa..

    Saya pikir mah abaikan saja kalau ada orang keblinger seperti ini Rey. Manusia yang kayak gini akan membawa zaman kembali ke masa lampau dimana hanya mereka yang bergelar yang bisa berbagi, yang lain hanya bisa menerima.

    Buat saya sih yang mengatakan seperti ini sebenarnya orang bodoh, sombong dan takut tersaingi sehingga dia pakai cara merendahkan orang lain dan meninggikan dirinya sendiri.

    Berhati-hati ya perlu sekali.

    Tapi, berbagi itu tidak perlu sertifikasi...

    Kalau saya yang lihat itu insta story itu, saya mah langsung komentar

    "KALAU GOBLOK JANGAN DIPAMERIN! JANGAN DISOMBONGIN"

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau pak anton uda yang ngomong, rasanya ku cuma pengen komen sendiko dawuh pak ahahahha 🤣😆

      agree with u pak !

      Hapus
    2. hahahahahaha, bisaaaa ajah si bapak.
      Iyaaa, mungkin karena mereka menjual ilmu kali, jadinya brandingnya gitu, bikin kesal sih sebenarnya, karena gimana bisa menilai kualitas pola asuh berdasarkan materi mereka yang kalau diikuti butuh jutaan itu?

      Berarti, parenting orang yang nggak mampu, nggak bisa mengasuh anak yang baik dong?

      mmm... ya gitu deh :D

      Hapus
  4. selama ini aku mengartikan parenting versi aku adalah pengetahuan mendidik anak, mengasuh anak dan lika liku dunia orang tua dan anaknya. secara garis besar begitu.
    kalau blogger parenting harus punya sertifikasi, nggak setuju lah, macam guru aja :D
    semua orang bebas berpendapat mengenai pengalaman mengasuh anak yang dicombine dari ilmu ilmu yang didapat waktu ikut seminar atau baca buku dan menyesuaikan dengan kondisi si anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iyaaaa... mentang-mentang guru harus disertifikasi ya :D

      Hapus
  5. Sedih juga ya kak rey kalau orang biasa kayak kita (eh lau aja kali mbul yang orang biasa, kak rey mah kagak hahai) andai dilarang-larang cerita tentang cara mengasuh anak atau yang diistilahkan sekarang dengan sebutan niche parenting 😅

    Padahal aku yakin ga selamanya orang nulis tentang anaknya di blog karena bertujuan untuk mempengaruhi orang lain agar memperlakukan anaknya sama dengan apa yang ia tuliskan.

    Malah banyak diantara blogger yang aku kenal baik yang menuliskan anaknya hanya karena ingin mendokumentasikan aja tumbuh kembang anaknya bagaimana atau untuk numpang nyimpan kenangan anaknya biar bisa diceritakan kembali di masa yang akan datang #karena sejatinya waktu tidak akan pernah kembali dan banyak dari kita yang orangnya gampang lupa, jadi salah satu solusinya adalah digunakanlah media blog sebagai cara untuk membackup kenangan-kenangan itu 😆

    Nah, kalau aku memposisikan diri sebagai pembacanya, ya harusnya akulah yang kudu pintar-pintar memilah mana type kepengasuhan yang cocok untuk anakku mana yang ga...bisa samaan dengan blogger parenting yang biasa aku baca, bisa juga kagak...(dalam hal ini berlaku slogan kayak yang sering kak rwy tuliskan itu loh, yaitu yang bunyinya: bagimu anakmu, bagiku anakku) 🤣

    Sebenernya baca blog parenting itu ya sama juga seperti halnya ketika kita nanya ke ibu, nenek, teman, sodara, sesepuh atau siapapun itu yang kita pengen gali ilmunya lebih dalan tentang bagaimana caranya beliau-beliau ini mengasuh anaknya, ya bedanya kalau dulu bisa tanya langsung sama orangnya, sedangkan sekarang udah banyak ditransferkan ilmunya lewat ranah digital (salah satunya blog) yang bisa dibaca oleh siapa saja sehingga hal tsb menurutku malah jadi penambah referensi bacaan parenting yang which is bagus dong... bacaannya jadi ga seputar parenting as theory thok, tapi juga praktek nyatanya pegimane yang tentunya malah lebih gampang dipahami andaikata orang tua lainnya mengalami permasalahan yang sama terkait kepengasuhan anak 😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya say!
      Ge er banget semua blogger itu nulis postingan berbayar doang hahaha
      sayapun termasuk dalam "mendokumentasikan aja tumbuh kembang anaknya" itu say.
      Kalaupun saya masukin ke niche parenting, memang namanya masuk ke pengasuhan, bukan buat pengaruhi orang.

      Bagiku anakku dan bagimu anakmu bahahahahahaha

      Hapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)