Featured post

Menganggur Karena Efek Pandemi? Jangan Menyerah, Begini Cara Mendapatkan Pekerjaan

Sharing By Rey - Cara mendapatkan pekerjaan sesungguhnya merupakan hal yang banyak dilakukan orang di zaman sekarang. Karena bu...

Sunday, July 26, 2020

Teman Berantem Masa SD

Teman Berantem Masa SD

Sharing By Rey - Punya teman berantem masa SD?
Kalau saya, tentu saja punya, meskipun nggak sampai yang berantem drama a la anak sinetron sih ya.

Tapi yang namanya anak kecil, sama saudara sendiri bisa musuhan, apalagi sama orang lain.

Dan demikianlah, tema challenge dari komunitas Ning Blogger Surabaya ini memang anti mainstream banget.

Setelah kemaren disuruh nulis tema selingkuh, sekarang kudu buka kartu siapa teman yang kita benci atau tidak sukai.
Jujur, tema ini sebenarnya juga udah saya bahas menyerempet-nyerempet di beberapa tulisan saya terdahulu.

Tapi sekali lagi, saya lupa tulisan yang mana, hahaha.
Ya udah deh, mari kita bahas lagi.


Masa SD Yang Berpindah-Pindah


Setidaknya, saya pernah bersekolah di 3 SD berbeda sewaktu kecil.
Pertama kali masuk SD di kota BauBau, tepatnya di SD Negeri Wangkanapi.

Teman Berantem Masa SD

Saya masih ingat banget, padahal waktu itu masih berusia 5 tahunan deh, ketika saya dan kakak bangun pagi, langsung dimandiin mama, lalu dipakein baju merah putih.

Disuruh memakai tas yang isinya beberapa perlengkapan sekolah, lalu beberapa saat kemudian, om saya, suami dari kakaknya mama, datang menjemput saya dan kakak, lalu diantar ke sebuah SD.

Saya nggak tahu sih, mengapa kami harus di anter oleh om saya, sepertinya kami masuk SD agak telat dari jadwal penerimaan siswa atau gimana ya.
Kebetulan, om saya tersebut bekerja di kantor DikNas, jadi dengan kekuatan bulan eh salah kekuatan orang dalam, hahahaha, kami bisa masuk dengan mudah ke SD tersebut.

Saya nggak ingat berapa lama kami di SD tersebut, tapi kemudian saya ingat pertama kali kami harus masuk di SD lain lagi, SD Negeri I Lawele, dan lagi-lagi diantar pakai motor, cuman nggak ingat oleh siapa.

Ingatan saya memudar, entah berapa lama bersekolah di SD tersebut, lalu kemudian kami, saya dan kakak pindah sekolah lagi di SD 2 Batulo, sepertinya setelah saya terkena infeksi penyakit kulit yang lumayan parah di sekujur tangan saya.
Sementara, mama saya masih sekolah di Kendari.

Lalu kemudian, tak bisa saya mengingat, sejak kapan tepatnya, akhirnya saya dan kakak pindah lagi ke SD Negeri I Lawele, dan terus di sana sampai lulus, meski kakak saya, kemudian pindah lagi ke SD Negeri Wangkanapi setelah naik kelas 6 SD.

Dari sekolah yang udah kayak tamasya itu, hanya ada bayangan yang paling tersisa di ingatan saya, mengenai pertemanan sewaktu SD.


Teman Berantem Masa SD


Teman berantem masa SD saya, yang lebih melekat di ingatan saya adalah sewaktu di SD 2 Batulo.
Saya sudah pernah bahas sebelumnya, di mana teman yang paling melekat di ingatan saya, yang sering banget jahatin saya dan kakak ya si Fira itu.

Teman Berantem Masa SD

Untungnya, saya nggak mengingat dengan jelas, karena itu adalah kejadian 30 tahun lalu (soooo tuwah, hahaha) kami dijahatin kayak apa, tapi saya masih ingat rasanya menangis karena sakit hati dengan kelakuan si Fira itu.

Yang jelas si Fira itu memang terkenal agak bandel, kalau nggak salah dia anak orang penting juga di BauBau saat itu, berkulit putih dan cantik.
Di mana, zaman dulu itu, anaknya orang penting, apalagi cantik atau ganteng, selalu terkenal dengan kebandelannya, karena semua orang hanya tertawa gemas (meski kayaknya dalam hati pengen nampol) saat dijahatin anak tersebut.

Karena hak tersebutlah, kebanyakan anak-anak orang yang punya kedudukan penting, bahkan nggak penting-penting amat sebenarnya, yang penting anak PNS, selalu bandel bin minta dijitak.

Adik sepupu saya juga ada yang kayak gitu, mentang-mentang bapak ibunya PNS, jadilah semua orang memaklumi tingkahnya, dan dia tumbuh jadi anak yang suka nyakar orang.
Siapa sangka? setelah kuliah dia jadi anak yang paling manis, paling sabar dan baik hati kepada semua orang.

Teman berantem lainnya di masa SD yang saya ingat adalah, saat sekolah di SD Negeri I Lawele.
Ini mah sebenarnya bukan karena faktor yang gimana-gimana, hanya karena khas anak kecil, eh anak besar juga ding.
Apalagi kalau bukan PERSAINGAN, hahaha.

Namanya Suarni, mungkin dia bakal baca postingan saya ini, karena kami berteman baik setelahnya, dan sekarang berteman di facebook.

Dia tuh anak paling cerdas se kampuang tersebut kayaknya, sebelum saya dan kakak datang.
Sejak kami datang, julukannya sebagai anak cerdas jadi tersisihkan.
Ada saya dan kakak saya yang selalu membayangi prestasinya di sekolah.

Oh tahan pujiannya, jangan memuji saya dan kakak juga cerdas.
Bukaaannn...
Tapi bapak kami galaknya naudzubillah, kalau kami enggak (terlihat) cerdas, hehehe.

Pokoknya hanya ada satu cara agar kami nggak kena pukulan di betis oleh bapak, yaitu saya dan kakak harus menempati peringkat 1 dan 2 di kelas.
Yup, saya dan kakak, harus gantian menempati juara 1 dan juara 2, yang tentu saja secara otomatis menyingkirkan teman tercerdas tersebut, hingga ke peringkat 3.

Meskipun, ada juga beberapa kali yang saya di peringkat 3, teman tersebut naik ke peringkat 2, lalu saya kena pukul bapak, huhuhu.

Karena posisinya sering tergeser oleh kami, jadilah kami sering terlibat pertengkaran anak kecil, saling ngejek, bahkan saling pukul.

Teman Berantem Masa SD

Dan sepertinya, kali ini saya dan kakak yang jahat, hahaha.
Saya nggak ingat, apakah Suarni ini pernah mukul saya atau kakak.
Tapi saya ingat banget, kami sering banget membuat dia pulang dalam keadaan menangis, astagahhh hahatnyahhh diri kami.

Apakah teman saya tersebut anak yang lemah sehingga hanya bisa menangis?
Oh tentu saja tydak!
Justru dia menangis, buntut dari saling ejek kami di sekolah.

Entah apa yang kami ejekan, kayaknya sih dulu saling nyebut nama bapak, hahaha.
Iya, generasi jadoel itu ejekannya remeh yak, suka manggil nama teman pake nama bapaknya, hahahaha.

Nah, biasanya, kalau udah capek saling ejek di sekolah, dan saya atau kakak udah capek dan kesal, kami menangis deh, eh saya ding.
Saya mah terkenaaaalll banget cengengnya dahulu.
Sejak SD, SMP sampai STM, nggak pernah ada yang skip dari julukan si cengeng.

Nah, setelah saya nangis di sekolah, terbitlah dendam.
Kebetulan, kami tinggal dekat banget dengan sekolah.
Lalu, saat kami pulang sekolah, saya dan kakak cepat-cepat berlari pulang ke rumah.
HANYA UNTUK MENANTIKAN SI TEMAN TERSEBUT, BUAT DIJAMBAK DI DEPAN RUMAH KAMI.

Astagaahh, sungguh kami adalah jagoan kandang, hahaha.
Beraninya di depan rumah, soalnya hanya di depan rumah kami aja, semua teman nggak berani sama kami.
Terlebih, bapak saya terkenal galaknya waktu itu.

Demikianlah, sering banget si teman tersebut pulang sambil nangis.
Lalu saya dan kakak tertawa senang, hahaha.
Saya heran, mengapa teman saya tersebut nggak mau melawan, orang setiap kali kami menghadangnya dan menjambaknya, sama sekali nggak terlihat orang tua kami di depan rumah.

Dan untungnya, karena bapak galak, orang tuanya nggak berani datang melabrak kami.
Sungguh diri ini merasa soooo bad kalau mikirin hal itu.
 
Maafin teman cengengmu ini ya sobatku.

Meskipun kami melewati masa SD dengan penuh permusuhan, siapa sangka ternyata dia menjadi salah satu best friend saya sejak SMP.
Eh bahkan sejak kelas 6 SD sih.

Saat itu, kakak memang udah nggak sekelas dengan saya, dia pindah ke SD dekat rumah tante karena diajak tante tinggal di rumahnya menemani anak-anaknya.

Sepertinya, meski saya dan kakak bukanlah sibling yang kompak abis,  tapi ternyata hubungan kami membuat kami jadi merasa nggak butuh teman lainnya.

Setelah kakak saya nggak ada di situ lagi, saya jadi merasa kesepian, dan akhirnya membuka diri dengan teman lainnya.
Dan siapa sangka?
Justru yang jadi dekat dan akrab ya dengan teman berantem sejak kelas awal tersebut, hahaha.

Teman Berantem Masa SD

Oh ya, saya dan kakak beda setahun btw, dulunya kakak duluan yang masuk SD saat usianya 6 tahun.
Saya yang sejak orok cuman punya teman kakak aja, jadinya merajuk karena ditinggal sekolah oleh kakak.

Jadilah orang tua kami berinisiatif memasukan saya ke SD bareng kakak, dengan tujuan ikut-ikut kelas doang.

Siapa sangka? ternyata saya bisa dengan cepat menyerap pelajaran, bahkan bisa dapat peringkat kelas. Jadinya saya dinaikan kelas juga sama kayak lainnya.
Sehingga saya dan kakak, jadilah seangkatan.

Demikianlah cerita receh, teman berantem saya di masa SD.
Lucu ya kalau diingat-ingat.

Setelah sibuk berantem, saling ejek, saling jambak, eh jadinya malah best friend ketika beranjak remaja bahkan dewasa.

Kalau temans, punya teman berantem juga nggak waktu SD?
Share yuk :)


Sidoarjo, 26 Juli 2020

#DiaryRey

Artikel ini diikut sertakan dalam challenge 'Nulis Blog Bareng Ning Blogger Surabaya'
Dengan tema : Di SD, adakah teman yang kau benci / tidak sukai? mengapa?

Sumber : pengalaman pribadi
Gambar : Canva edit by Rey

26 comments:

  1. kami orang kampung dan untuk mencapai sekolah harus berjalan kaki turun gunung melewati sungai sawah sekitar 30 - 1 jam perjalanan baru sampai tergantung ada teman atau tidak, karena jika ada teman tentunya makin lama berbeda jika sendiri perjalanan akan lebih cepat karena lebih fokus dan tanpa ngobrol sedikit2 istirahat. Perjalanan yang jauh membuat kami saling bahu membahu untuk meraih masa depan, jadi mengingat masa SD membuat kami kangen dengan teman-teman karena sudah tak satu daerah lagi saling berjauhan dan hanya bertemu di hari raya, tetapi hari raya kemarin ada covid-19 sehingga kamipun tak dapat merayakan sebuah kebersamaan. Hampir tak ada pertengkaran atau memang kami yang tak mau mengingatnya karena kebersamaan bahu membahu dalam bermain dan bersekolah kami itu lebih menyenangkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya punya beberapa teman waktu SD dan SMP yang mana rumah mereka tuh jauuuhh banget, dan berangkat pulang jalan kaki.
      Salut banget.
      Mereka bangun masih gelap, mandi air dingin, lalu berangkat saat sekeliling masih gelap gulita.

      Dan memang sih, hal-hal demikian yang malah bikin lebih dekat satu sama lain ya :)

      Delete
  2. Wah seru ya Mba rey masa SD nya. Apalagi sampai pindah2 beberapa tempat. Tapi beda sama sekolah di tempatku dulu. sekolah di SD inpres, anak PNS apalagi cantik/ganteng, ditambah pintar lagi, pastu jadi kesayangan guru2. Ga sampe nge bully temen2nya kaya cerita Mba Rey, tapi paling mungkin temennya dalam hatin ngebatin aja ngerasa guru agak pilih kasih 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iyaaa, dulu tuh PNS dipandang terhormat banget, anak-anaknya dielu-elukan hahaha

      Delete
  3. Saya jarang ada tenan beranten pas SD, paling juga temain main bola sama perempuan yang ditaksir. Kadang, biar terlihat keren kami main bolanya harus bagus. Syukur-syukur bisa cetak gol dan selebrasi.

    Pas dengar kata Bau Bau, saya sudah ngga kaget lagi karena sudah tau asal-usul kak Rey. Pas dengar Kendari, tempat tinggal saya, saya jadi penasaran apakah kak Rey pernah ke sini? Selain mama yang sedang sekolah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pernahhh dong, pernah lebih sebulan kali ya tinggal di Kemaraya.
      Saya lupa tahun berapa, karena kami sakit-sakitan, akhirnya kami berhenti sekolah sementara dan ikut mama yang lagi sekolah di sana.
      Saya juga punya beberapa keluarga di sana.

      Dulunya mereka tinggal di Gunung Jati ya kalau nggak salah yang dekat pelabuhan itu, itu nenek saya, sodara tiri kakek saya.

      Beberapa anak nenek masih di Kendari kalau nggak salah, mereka keturunan Jepang, bapaknya Jepang.

      Sayangnya saya kurang dekat dengan keluarga besar, jadi nggak kenal dekat, yang saya ingat namanya tante Aciko, Mimiko, Fujita (kalau nggak salah), keluarga bapak juga ada, tapi sekali lagi saya lupa namanya.
      Maklum nih ortu selalu nggak bolehin kami bergaul, sampai keluarga sendiri nggak kenal huhuhu.

      Btw terakir kali saya lewat Kendari tuh tahun 2015, waktu transit naik pesawat, waktu tragedi air asia, sehingga Lion nggak diizinkan terbang dari BauBau, akhirnya saya lewat Kendari deh.

      Aaahh kan jadi kangen Kendari nih :D
      Kangen ikan bakar yang dijual di rumah makan dekat laut ya kalau nggak salah :D

      Delete
    2. Kemaraya dekat rumah saya, benu-benua. Gunung Jati apalagi, lewat Kota Lama. Kendari mah kecil. Bahasa orang sini, pendatangpun ngga akan tersesat kalo ke sini.

      Di sini, bisa makan ikan tiap hari karena yang jual banyak. Belakang rumah, teluk. Beberapa ratus meter dari rumah, pelelangan ikan. Makanya, keluarga di Jawa Timur kadang iri kalo liat foto ikan bakar saat buka puasa 😁

      Delete
    3. Waahh iyaaa, ikan bakar tuh yang paling ngangenin dari sana.
      Eh iya ya, sebenarnya Kendari nggak terlalu luas juga, meskipun kalau jalan kaki ya nggak memungkinkan hahaha.

      Delete
  4. Aku pun punya teman berantem pas jaman masih SD. Dan saat ini malah aku kangen dengan mereka karena mereka sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Mengingat masa SD memang lucu dan pengen bikin ketawa ya dengan segala tingkah laku saat itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaah padahal belum pada nikah semuanya ya, kenangan SD memang lucu :D

      Delete
  5. Sama ya Mba, saya juga beda setaon dari kk saya, dan sekelas dari SD sampe SMA, cuman bedanya, dia nilainya selalu tertinggi dan saya yang nilainya paling belakang,πŸ˜‚ wajah juga gak mirip sama sekali, banyak yang gak tau kalo saya sodaraan sm kk saya, begitu ketauan, pas SMP langsung dipisah kelas, entah kenapa (mungkin guru jadi cemas kalo kk saya nyontekin soal ujian ke saya kali yah. πŸ˜‚πŸ˜…

    Kalo sampe beranteman sih kayaknya gak ada saya dulu mba, paling cuma ada yang suka ngeledekin, soalnya saya dulu orangnya cuek πŸ˜‚. Paling sering itu ngejerin temen cowok yang suka jahil, trus pernah juga di gigit sepupu cowok, tapi gak sampe beranteman sih, nangis juga gak, mungkin belum ngerti tapi saya masih inget, karena besoknya kami main sama-sama lagi πŸ˜‚πŸ˜… dan sepupu saya ini juga sama mba, sekarang anaknya yang paling patuh sama orangtua, blom nikah demi ngurusin orangtuanya, padahal orangnya sekarang kalem dan cakep juga hihihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Astaga Mbaaaa, kalau baca-baca tulisan Mba Rini itu, kayaknya karakter Mba Rini itu feminim, keibuan.
      Lah kok ternyata kecilannya tomboy hahaha.

      berlawanan banget sama saya, cengeng, nangisan, kalau lewat dkat lapangan bola dan kena bola, langsung nangis kejer wakakakak

      Delete
  6. Aha...ha.. Malah jadi best friend ya mbk. Saya dulu jarang berantem sih karena saya anaknya pendiem, suka baca buku, main ke perpus, pokoknya asyik sendirian. Tapi saya inget saya tuh pernah nakal dan berantem sama temen saya yang badannya jauh lebih besar dari saya. Padahal saya yang salah, nggak mau mengembalikan pensilnyaπŸ˜‚
    Kalau inget saya jadi malu dan nggak nyangka, kok saya bisa kayak gitu.

    Tapi biasanya permusuhan di masa kecil itu nggak tahan lama, gedenya jadi biasa aja atau malah jadi temen deket kayak ceritanya mbk Rey.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaha si Astria bandel juga ya ternyata :D
      etapi suka bacanya itu sama banget, sayapun dulu langganan banget ke perpus, tapi pas SMP sih, kalau SD perpusnya kecil banget :D

      Delete
  7. baca ini kok jadi keinget waktu SD, aku heran waktu SD ada temen cewek yang kayak ngajak musuhan, lah wong aku aja nggak ngerti salahnya dimana.
    sampe lulus SD, kalau ga salah SMP kayak pernah nggak sengaja pernah ketemu, tapi karena aku lupa lupa ingat wajahnya,jadi ya antara sengaja nggak aku sapa sama kalau aku sapa nantinya dia yang cuekin. kan mending nggak usah disapa hahaha

    biasanya memang begitu mba, waktu masih kecil ada anak yang nakalnya minta ampun, gede gedenya ehhh jadi manis, lemah lembut dan pemalu

    iya samaan di kotaku sini mba, kalau ejek ejekan adalah nyebut nama bapaknya, aku heran kenapa dulu kok bisa nama bapak yang disebut sebut. kadang jengkel juga kalau nama bapaknya dibawa bawa gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. wwkwkwkwkwk, biasanya karena bersaing tuh Mba, dan iyaaa.. kenapa pula nama bapak yang dibawa-bawa hahaha

      Delete
  8. Memang ya mbak, salah satu alasan sebel sama teman jaman SD dulu gara-gara saingan rebutan peringkat kelas. Hahaha.. Saya juga gitu sih, suka sebal gara-gara dikalahin sama teman masalah peringkat kelas. Tapi akhirnya malah jadi teman baik sampai sekarang 🀣🀣🀣
    Ejek-ejekan nama bapak ternyata nggak di Jawa saja ya, saya kira hanya ada di Pulau Jawa. Hehehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe iya, dan saingan itu kayaknya sampe kuliah pun tetep masih ada persaingan ya :D

      Delete
  9. Wahahaha saling ejek nama bapak ini juga saya alami jaman sekolah, mba 🀣 sampai pernah one day sedang ada turnamen basket, terus salah satu playernya itu teman sekelas saya. Jadi saya dan teman-teman lainnya menyoraki dia (memberi semangat) dengan menyebut nama bapaknya hahaahahha. Ternyata bapaknya duduk di sebelah kami semua dan kami nggak sadar πŸ™ˆ baru sadarnya saat teman kami selesai pertandingan lalu menghampiri bapak-bapak di sebelah kami dan cium tangan sambil bilang, "Ini bapakku." πŸ˜… disitu kami semua malu kemudian bilang, "Maaf Om." Hahahahaahha. Kapok sekapok-kapoknya 🀭

    By the way, saya pribadi nggak pernah rasanya berantem sama teman sekolah, mba. Menangis karena teman sekolah pun nggak pernah hehehehe. Dan di sekolah juga nggak ada bully-bullyan seingat saya. Jadi nggak punya pengalaman menyangkut ribut sama teman πŸ˜† paling kalau kompetitif ada, sebatas karena nilai di sekolah tapi nggak sampai yang bagaimana banget πŸ˜„

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha memang kebanyakan tuh nilai di sekolah jadi bikin persaingan ya, banyak yang mengakui, meskipun akhirnya malah jadi sahabatan setelah lulus sekolah :D

      Delete
  10. Aku berusaha mikir keras, dulu siapaaa temen berantemku, tp kok ya ga inget Rey hahahahaha. Bukannya ga pernah ribut, pasti pernah, tp abis itu baikan lagi.

    Lah wong aku sekolahnya itu dari TK Ampe SMU, sekolah di tempat khusus yg hanya Nerima anak2 yg ortunya kerja di oil company PT Arun. Jd ketemunya dari TK Ampe SMU, ya itu itu ajaaa :p. Kekmana mau berantem :D. Udh kenal dr orok pun.

    Kalopun ribut, masalahnya sama, Krn nama ortu :p. Apalagi aku Batak, yg marganya PASARIBU. Paling seneng tuh temen2 cowo ngegodain nama papa jadi, punya pasar seribu.

    Pada dasarnya aku selalu santai anaknya. Kalo moodku LG bagus, aku biasanya senyum2 ato ikutan ketawa malah. Aku bls aja, 'ya dooong papaku kaya berarti, pasarnya banyak :p'

    Tp kalo moodku LG jelek, baru deh, dilibas dikiiit hahahaha.

    Eh tp pas pertengahan smu kls 3, aku pindah mendadak ke Medan, Krn Aceh waktu itu di serang pemberontak GAM. Jd sebagai anak non Aceh aku dipindahin ke Medan Ama papa. Naaaah di SMU baru itu, aku sempet bbrp kali dimusuhin Ama temen cewe sekelas, karenaaaa, aku LBH Deket Ama cowo2 di kelas itu hahahaha.ya secara aku LBH nyaman temenan Ama cowo drpd cewe :p. Tapiiii aku ga peduli waktu itu. Karena, aku ngekos di rumah guru Al Azhar yg terkenal killer dan suka nabokin murid hahahahaha. Mungkin cewe2 yg musuhin aku takut juga dilaporin ke si bapak killer td kalo macem2 Ama aku :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahahaha astagaa Mba, jadi ngakak sendiri bayanginnya.
      Anak-anak selalu aja suka saling ejek nama ortu ya.
      Jadi penasaran, apa anak zaman now juga kayak gitu kah?
      Tapi kayaknya zaman now lebih ke nama anak itu, karenanya kasian juga kalau anak dikasih nama aneh-aneh dan jadi bully an :D

      Nah kebanyakan tuh anak-anak cewek yang temenan ama laki selalu dimusuhin ya, apalagi kalau temenan dengan lelaki ganteng hahahaha

      Delete
  11. Teman berantem saya di SD siapa ya? Kok udah lupa. Kayaknya masa SD saya menyenangkan kali ya atau mungkin sayanya yang pelupa sehingga tidak ingat kalo pernah berantem.

    Yang saya ingat justru kalo sd itu tiap hari Senin pasti upacara, kegiatan yang menyebalkan menurutku, kenapa ngga langsung masuk kelas.πŸ˜‚

    Yang aku ingat lagi, sepertinya aku pernah dihukum guru keliling lapangan gara gara tidak mengerjakan pr. Tapi bukan aku saja tapi juga banyak murid lainnya.πŸ˜„

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha, upacara saya bete banget, soalnya panas dan saya sering ga kuat sama panas, tapi kalau udah dikasih tugas jadi salah satu petugas upacara, langsung semangat deh saya :D

      Delete
  12. Gw mah di sekolah anak baik mbak. Gak pernah jahad. Seringnya JUALAN, wkwkwkwk. Emang bakat gw dagang kayaknya dari kecil, semua gw dagangin. Dari permen, penghapus, pensil. Enak, dapat duit.

    Tapi kalo udah di rumah, baru gw bandel. Kalo ada anak yang gak mau main bareng gw pasti gw pukul, wkwkwkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Astagaaaa, enak banget loh anak-anak yang punya pengalaman waktu kecilnya pintar dagang, biasanya anak seperti itu mudah cari duit setelah gede :D

      Delete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Assalamu'alaikum :)

Selamat datang di blog personal Reyne Raea