Sunday, July 05, 2020

Film Korea I Can Speak, Kisah Nyata Seorang Nenek Menyuarakan Pelecehan Seksual Dalam Sejarah

review Film Korea I Can Speak, Kisah Nyata Seorang Nenek
  
Sharing By Rey - Film Korea yang berjudul I Can Speak ini, dibuat berdasarkan kisah nyata yang terjadi di Korea Selatan pada tahun 2007 lalu.

Iya, si mamak Rey memang lagi keranjingan nonton film yang based on true story.

Setelah lumayan emosional menonton film 'Han Gong Ju', lalu emosi sekali nonton film 'Don't Cry Mommy' , di mana filmnya nyaris sama, hanya pov saja.

Duh ya, serius saya nonton itu sambil ngomel-ngomel.
Untung anak-anak udah pada bobo waktu itu.

Makanya, saya lelah dengan film pemerkosaan anak di bawah umur, cari film lain, dan bertemulah dengan film Korea 'I Can Speak' ini, yang ternyata ada juga adegan pemerkosaan anak-anak di bawah umur zaman penjajahan Jepang.

Astagaaaa...
Mengapa coba saya dikelilingi film pemerkosaan gitu, huhuhu.


Sinopsis Film Korea I Can Speak


Di mulai dengan adegan yang bikin deg-degan, ada orang bawa palu, udah deh saya membayangkan bakalan ada adegan seram nih, palu-paluan kepala orang.

Bakalan sadis nih.
Dan ternyata, ya ampuunnn... cuman adegan orang rusakin dinding di pasar, ckckckck.



 Adalah seorang nenek bernama Na Ok-Boon (Na Moon Hee) yang begitu rajin datang dengan laporan segala pelanggaran di sekitar tempat tinggalnya yang mana sebuah kompleks pasar tradisional, ke sebuah kantor pengaduan.

Bukan hanya sekadar melapor, tapi dia juga mengumpulkan bukti-bukti pelanggaran tersebut dalam bentuk foto.
Dan si orang yang ngerusakin dinding malam-malam tersebut pun tidak luput dari laporannya, di mana malam itu si nenek rela berhujan-hujan mengintip dan mengambil foto si pelaku.

Si nenek seolah tidak rela sedikitpun ada sesuatu yang salah di sekitarnya.
Saking seringnya datang melapor, para pegawai PNS di kantor tersebut jadi bosan melayani dan merespon semua keluhannya.

Suatu hari, seorang Pegawai Negeri Sipil, Park Min Jae (Lee Je Hoon) yang dipindah tugaskan ke wilayah baru di Seoul bagian pelayanan publik, akhirnya bertemu dan terpaksa melayani keluhan si nenek.
Dan di situlah awal terjadinya mereka jadi sering bersama, untuk nenek dan cucu ya, coba kalau seusia, bisa jadi kisah cinta *eh :D

Suatu ketika, si nenek Na Ok-Boon janjian ketemu seorang sahabatnya dari masa kecilnya, nenek sahabatnya tersebut sangatlah pandai berbahasa Inggris, meski sudah sering pikun.
Karena hal itu, si nenek Na Ok-Boon juga ingin pandai berbahasa Inggris.

Si Halmonie (eh bener ya tulisannya?) lalu mendaftar di sebuah tempat kursus bahasa Inggris, namun sayangnya ditolak karena para pengajar khawatir, kelambatannya menerima pelajaran akan membebani siswa lainnya.

Halmonie atau nenek sedih, sampai akhirnya ketika dia hendak pulang, dia mendengar 2 orang bercakap-cakap dengan bahasa Inggris yang demikian lancarnya.

Salah seorang adalah bule, dan ketika didekati ternyata lawan bicara si bule adalah si Park Min Jae, PNS baru di kantor pelayanan publik yang biasa dia datangi.

Langsung saja si Halmonie meminta tolong agar Park Min Jae mau menjadi guru bahasa Inggrisnya, dan tentu saja Halmonie akan membayarnya.

Sayangnya Park Min Jae menolaknya.
Tidak menyerah, si nenek malah semacam menteror Par Min Jae, mulai dari menelponnya, di mana nomor telepon Min Jae didapatkan dengan mengintip data pegawai.

Film Korea I Can Speak, Kisah Nyata Seorang Nenek Menyuarakan Pelecehan Seksual Dalam Sejarah
Si nenek Na Ok-Boon mengejar-ngejar Park Min Jae agar mau menjadi guru bahasa Inggrisnya

Hingga mendatangi kantor Min Jae dan duduk di ruang tunggu sambil membaca buku bahasa Inggris dengan keras hingga mengganggu para pengunjung lainnya.

Park Min Jae yang risih melihat hal tersebut akhirnya mendatangi si Halmonie serta mengultimatum bahwa dia tidak akan pernah mau mengajari si nenek bahasa Inggris, sampai akhirnya si nenek memakai cara terampuhnya.

Dia lalu mendatangi kursi para pegawai di situ, dengan data pelanggaran yang segunung.
Para staf di situ akhirnya memohon pada Min Jae untuk menerima permintaan si nenek menjadi gurunya, ketimbang mereka harus merespon laporan seabrek gitu.

Park Min Jae akhirnya terpaksa menyetujui permintaan si nenek, namun dengan syarat si nenek kudu lulus test dengan nilai 85.

Dan mulailah Min Jae memberikan soal kepada si nenek, yang mana si Min Jae juga jahat banget, dimintanya si nenek untuk menjabarkan beberapa kata dalam bahasa Inggris, yang mana kata-kata tersebut, adalah kata-kata yang sulit.

Hasilnya udah bisa ditebak, si halmonie jelas saja tidak lulus ujian tersebut, namun tetap berlapang dada menerima hasil dari kesepakatan mereka.

Par Min Jae sendiri tinggal di kota tersebut bersama dengan adik lelakinya yang masih duduk di bangku SMU.
Suatu hari, saat pulang kantor dengan menaiki bus, di tengah jalan dia melihat sang adik yang sedang berjalan dan terlihat memasuki gang di sebuah pasar.

Min Jae lalu turun dari bus untuk membututi si adik, setelah melewati lorong-lorong kecil di pasar, Min Jae melihat adiknya masuk ke sebuah rumah yang dilihat ada plangnya bahwa itu adalah tempat jahit baju aka tailor.

Film Korea I Can Speak, Kisah Nyata Seorang Nenek Menyuarakan Pelecehan Seksual
Makan-makan bersama Park Min Jae dan adiknya

Perlahan Min Jae masuk mencari adiknya, namun betapa terkejutnya ketika dia nyaris saja bertabrakan dengan empunya tailor tersebut yang ternyata adalah si halmonie yang selalu menyebalkan tersebut.

Ternyata adiknya sering sekali main ke situ, makan bersama si nenek, dan akhirnya sejak saat itu Min Jae jadi terharu serta menawarkan akan menjadi guru bahasa Inggris si nenek secara gratis.
Asalkan si nenek selalu menerima saat adiknya main dan makan di situ.

Dan begitulah, sejak saat itu, selama 3 kali seminggu Park Min Jae menjadi guru si halmonie.
Dan cara belajar merekapun sederhana, lebih ke conversation.

Dari ngobrol harus pakai bahasa Inggris meski belepotan, sampai si nenek diajak nongkrong di cafe yang banyak bulenya, dan si nenek ditantang harus bisa berbaur ngobrol dengan para bule di sana.
Dan ajaibnya, si nenek bisa dengan mudah menaklukan tantangan tersebut.

Suatu malam, saat mereka sedang menghabiskan malam bertiga, si halmonie, Park Min Jae dan adiknya, makan-makan dan ngobrol.
Park Min Jae menanyakan alasan si nenek mau ngotot belajar bahasa Inggris.

Film Korea I Can Speak
Menikmati malam dengan halmonie serta tetangganya yang baik hati

Si nenek terdiam sejenak, namun akhirnya menjelaskan, kalau dia pernah punya adik yang sejak kecil diadopsi oleh orang Amerika.

Dia kangen sama adiknya, ingin ngobrol, bertanya kabar.
Si nenek punya nomornya, akan tetapi nggak tahu cara komunikasi, karena adiknya nggak ngerti lagi bahasa Korea, dan si nenek juga belum lancar berbahasa Inggris.

Park Min Jae akhirnya menyimpan nomor adik halmonie tersebut, lalu keesokan harinya dia menelpon nomor tersebut dan deg-degan menyampaikan bahwa si nenek rindu dengan adiknya dan ingin ngobrol dengan adiknya tersebut.

Namun di luar dugaan, si adiknya tersebut malah marah dan mengatakan untuk jangan pernah menelponnya lagi.

Park Min Jae jadi kasian pada si nenek yang sudah sedemikian semangat belajar bahasa Inggris tapi akhirnya nggak bisa ngobrol juga dengan adiknya, lantaran adiknya ogah berbicara dengannya.

Sampai di sini gimana?
Masih belum ngantuk untuk meneruskan sinopsisnya?
Jujur film ini memang lumayan panjang jalan ceritanya, mirip cerita film Way Back Home.

Jadi saya persingkat saja deh.

Long story short, sahabat si nenek yang pandai berbahasa Inggris tersebut akhirnya masuk rumah sakit dan keadaannya semakin memburuk.
Menurut orang yang selalu merawatnya, usianya bahkan tidak akan lama lagi.

Saat mengunjungi sahabatnya tersebut, seorang reporter datang menemuinya dan meminta kesediaannya untuk meneruskan perjuangan si sahabatnya yang sudah semakin menurun kesadarannya tersebut.

Film Korea I Can Speak, Kisah Nyata
Halmonie semangat belajar bahasa Inggris

Dan akhirnya semua terungkap.

Ternyata si nenek belajar bahasa Inggris bukan hanya karena ingin ngobrol dengan adiknya yang sudah lama tidak pernah ketemu.
Akan tetapi untuk menyuarakan pengalaman masa lalunya yang kelam kepada dunia.

Si halmonie ternyata merupakan salah satu dari sekian banyak wanita yang harus merasakan kekejaman pelecehan dari tentara Jepang saat zaman penjajahan.

Ketika itu, usianya masih 13 tahun, saat pertama kali mereka ditangkap dan dikurung serta dijadikan budak seks oleh tentara Jepang.
Ketika itu, si halmonie pernah berusaha mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

Akan tetapi, dia diselamatkan oleh si nenek sahabatnya tersebut.
Beberapa tahun setelah kemerdekaan Korea Selatan, pemerintah mendata nama-nama wanita yang pernah dijadikan budak seks pelacuran oleh tentara Jepang.

Sayangnya halmonie terlalu sakit mengingat kisah kelam tersebut dan memilih menyembunyikan kisahnya rapat-rapat.

Keberadaan para anak-anak di bawah usia yang dilecehkan oleh kekejaman Jepang, sama sekali tidak pernah diakui oleh Jepang.
Pihak Jepang mengklaim bahwa para pelacur yang mereka dapatkan adalah dari pihak swasta, jadi mereka sama sekali tidak melakukan hal tercela melecehkan anak di bawah umur.

Film Korea I Can Speak, Kisah Nyata
Diajak bergabung dengan para bule untuk memperlancar bahasa Inggrisnya

Karena itulah, sahabat si halmonie berjuang untuk bisa bersaksi pada dunia, bahwa Jepang berbohong tentang itu.
Sayangnya, saat itu sahabat si nenek belum bisa berbahasa Inggris, dan ketika bersaksi menggunakan bahasa Korea, lalu diterjemahkan dengan arti yang sebaliknya oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Sejak saat itulah si nenek sahabatnya tersebut belajar bahasa Inggris, agar bisa berbicara secara langsung kepada dunia.
Sayangnya, sebelum niatnya tercapai, kesadaran si nenek semakin menurun oleh penyakit pikunnya.

Melihat perjuangan sahabatnya, si halmonie akhirnya bertekat untuk meneruskan perjuangannya.
Setelah akhirnya membuka kedok masa lalunya di media.
Si nenek akhirnya bisa diberangkatkan ke Amerika untuk memberikan pernyataan di Kongres Amerika tahun 2007 melalui HR121 dengan kesaksian dan pesan yang menyentuh serta mengharukan.

Namun sebelum hal itu terjadi, berbagai halangan harus mereka hadapi, salah satunya adalah ketidak percayaan pihak Jepang atas identitas nenek Na Ok-Boon.
Hal tersebut, beralasan.
Karena sebelumnya pemerintah Korea sebenarnya sudah mendata semua tentang wanita budak seks tentara Jepang di zaman penjajahan.

Sayangnya, waktu itu, ibu dari nenek Na Ok-Boon memintanya untuk tetap diam dan menyimpan kisah tersebut rapat-rapat.

Dengan bantuan Park Min Jae dan segenap PNS di bagian pelayanan publik, halmonie berhasil mendapatkan legalitas dari pemerintah tentang identitasnya sebagai korban budak seks di zaman perang dunia II.

Film Korea I Can Speak, Kisah Nyata
Saat memberikan pernyataan di kongres Amerika tahun 2007

Akan tetapi, dengan alasan data yang dikumpulkan terkesan mendadak, membuat pihak Jepang tetap menolak mengakui dan meminta maaf kepada nenek Na Ok-Boon.
Bahkan menuduhnya melakukan kesaksian tersebut demi uang.


Review Film Korea I Can Speak


Movie: I Can Speak
Director: Kim Hyun-Seok
Writer: Yoo Seung-Hee, Kim Hyun-Seok
Producer: Lee Ha-Young, Kang Ji-Yeon
Cinematographer: Yoo Eok
Release Date: September 21, 2017
Runtime: 119 min.
Genre: Drama
Distributor: Lotte Entertainment, Little Big Pictures
Language: Korean
Country: South Korea


Film ini dirilis tahun 2017 lalu, di mana setelah 10 tahun dari kejadian aslinya.
Dan selama 10 tahun sejak tahun 2007 tersebut, pihak Jepang masih bergeming, tidak mau mengakui, apalagi meminta maaf karena itu.

Mungkin atas dasar itu juga yang membuat Kim Hyun-Seok memutuskan membuat film ini.
Selain pesannya yang mendalam dari film I Can Speak ini.

Jujur, film ini sungguh terasa panjang dan sedikit membosankan, terlebih karena saya menontonnya tanpa mengintip jalan ceritanya terlebih dahulu.

Kisahnya tuh jadi kayak baca buku sejarah yang berurutan, di mana konflik utamanya, baru ditunjukan di tengah film.

Saya malah mengira film ini bercerita tentang kisah nenek yang tidak kenal menyerah berlajar bahasa Inggris meski usianya sudah sangat tidak muda lagi.

Meskipun sudah diberi clue tentang sahabat si halmonie yang pandai berbahasa Inggris tersebut, namun sama sekali nggak ada bayangan tentang kisah film ini sebenarnya, sampai di pertengahan film.

Saya rasa, jika saya nontonnya secara acak, nggak memilih film ini karena iming-iming based on true story, kayaknya saya nggak bakal tahan nonton sampai selesai.
Karena ceritanya terkesan biasa.
Hanya kekonyolan si nenek aja yang sukses membuat saya tertawa di awal-awal.

Nantilah di pertengah film sampai terakhir, khususnya saat si nenek berdiri di depan kongres di Amerika dan memamerkan perutnya yang penuh dengan bekas luka akibat kekejaman tentara Jepang.
Seketika saya jadi mewek juga huhuhu.

Pun juga tentang bagaimana masyarakat menilai tentang masa lalu kelam seseorang.
Di mana si halmonie sebenarnya ingin ikutan sahabatnya menceritakan kisahnya, tapi ibunya melarangnya.

Bahkan adiknya pun jadi ikut-ikutan mau terhadapnya.

Memang sih, kebanyakan orang tua menganggap hal tersebut adalah aib.
Padahal, bahkan seandainya seseorang yang secara sengaja menjadi pelacur, lalu akhirnya bisa hijrah, dan memilih menceritakan kisah hidupnya sebagai pelacur.

Film Korea I Can Speak, Kisah Nyata
Na Ok-Boon dan sahabatnya ketika remaja

Sebijaknyalah kita mendukungnya, karena setidaknya dia bisa membagikan kisah yang bisa diambil hikmahnya buat lainnya.

Sayangnya kebanyakan hanya melihat aibnya saja.
Demikian juga ibu dari nenek Na Ok-boon.

Padahal, dengan menceritakan kisah masa lalunya, mungkin akan menyakitinya sementara waktu, namun setelah itu semuanya akan terasa lebih plong, seolah melepaskan beban yang senantiasa bertahun disembunyikan.

Seperti di akhir cerita digambarkan, dengan kemampuan berbahasa Inggrisnya, si nenek memilih sering traveling ke luar negeri.
Memilih menikmati hidupnya dengan lebih bahagia.

Oh ya, film ini mengingatkan saya akan sebuah postingan tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang diunggah di instagram.

Di mana diceritakan, para pejuang dahulu juga menggunakan para wanita sebagai budak seks penjajah sambil membawa virus bagi tentara penjajah.

Saya jadi berpikir, mengapa sampai saat inipun pihak Jepang belum mau menerima pernyataan nenek Na Ok-Boon apalagi meminta maaf.

Mungkin saja pihak Jepang berpikir kalau kisah yang diceritakan tidak seperti itu.
Karena sudah menjadi rahasia umum, para budak seks tentara Jepang dulu pun selalu disusupi oleh para pejuang yang memanfaatkan wanita untuk menyerang lawan.

Ah apapun itu, melihat hal tersebut, saya jadi banyak-banyak bersyukur lahir di era kemerdekaan da hidup di era bebas seperti sekarang.

Membayangkan perang saja saya bergidik, apalagi dengan pelecehan-pelecehan bagi anak di bawah umur oleh tentara penjajah.

Dan kalau baca kekejaman Jepang, kadang nurani semacam mati saat membaca berita boom atom yang dijatuhkan di Nagasaki dan Hiroshima dulu.
Meski masyarakat tak berdosa di sana yang menjadi korban, tapi bom tersebut sungguh semacam pintu kebebasan dari banyak negara dari kekejaman Jepang, termasuk Indonesia dan Korea.

Demikianlah.

Ada yang sudah nonton film Korea I Can Speak ini?
Share yuk :)

Sidoarjo, 5 Juli 2020

#SundayMovie

Sumber :

  • http://asianwiki.com/I_Can_Speak diakses Juli 2020
  • Film I Can Speak
Gambar : www.hancinema.net

12 comments:

  1. Huft ikutan sedih bacanya 🀧 saya pernah baca sejarah khusus soal wanita budak seks di Korea yang notabene memang sering diperjuangkan karena Jepang belum 100% mengakui kesalahannya sampai sekarang. Waktu baca itu, hati rasanya sakit, nggak kebayang kalau ortu kita atau nenek kita yang mengalaminya 😭

    Nggak heran kalau sampai sekarang banyak orang Korea nggak suka Jepang even nggak mau pergi ke Jepang, bahkan produk Jepang pun banyak yang diboikot karena segitu nggak sukanya. Karena penjajahan Jepang pada Korea itu cukup lama terjadi dan menyisakan sejarah tragis di sana πŸ˜“ saya ada satu tempat di Jeju yang saya suka datangi untuk duduk duduk melihat laut, dan dit tempat itu ada banyak gua-gua kecil tempat orang Korea bersembunyi waktu ada kapal Jepang datang. Melihat gua itu saja sampai sekarang saya makjleb rasanya πŸ₯Ί

    So, sinopsis film ini mengingatkan saya kembali pada banyak cerita sejarah yang sudah saya baca. Thank you for the review, mba πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jepang memang terkenal sedunia ya kekejamannya.
      Kasian juga sih sebenarnya, ditanggung anak cucu mereka nama buruknya.
      Bahkan, hanya dengan membaca sejarah kekejaman mereka, kadang hati kurang peka saja membaca kisah pengeboman di Jepang dulu.

      Sebanyak dan semengerikan apapun keadaan bom tersebut, tapi disyukuri oleh banyaaaakkk banget manusia di dunia, karena bom itu semacam dikirim Tuhan buat menghentikan kekejaman mereka di sleuruh penjuru dunia :(

      Delete
  2. Saya jadi inget film korea "snowy road" ceritanya juga tentang masa lalu seorang nenek yang pada masa remajanya jadi korban budak seks oleh tentara jepang.
    Bersyukur banget ya, hidup di era indonesia merdeka, walaupun ada banyak masalah juga tapi seenggaknya ada hak asasi yang lebih dijunjung.

    Saya pernah lihat cover film ini drakor id, saya kira waktu itu filmnya komedi. Dan emang komedi tapi juga ada kisah kelamnya ya.
    Btw, saya suka banget sama yang jadi min jae, tapi film pemeran min jae yang saya tonton genrenya "pergelutan" 😁
    Eh, lupa, mau ngingetin, kayaknya ada salah ketik di kata "kantor" mbk Rey😁
    Pada bagian "PNS di kantor"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah banyak ternyata ya kisah serupa.
      Btw thans yaaa... padahal sebelum publish udah saya cek sekali lagi loh, selalu aja ada kata typo yang terpublish hahaha

      Delete
  3. Iya, kalo ngga salah dulu di Indonesia juga ada nenek yang jadi korban budak seks saat penjajahan Jepang. Cuma aku lupa namanya siapa.

    Awal awalnya seperti cerita komedi yabak, nenek Na Ok-Boon ingin bisa berbahasa Inggris tapi ditolak oleh Min Jae. Beruntung setelah melihat adiknya akrab sama nenek itu mau mengajari bahasa Inggris dengan suka rela. Ternyata nenek itu ada tujuan lain dari keinginan belajar bahasa Inggris, untuk menunjukkan pada dunia tentang kekejaman tentara Jepang pada bangsa Korea saat perang dunia kedua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Indonesia juga banyak, bahkan para pejuang yang melumpuhkan musuh memakai tubuhnya juga banyak, sedih sih sebenarnya :(

      Delete
  4. Saya sudah nonton film ini Mba rey dulu, dan saya suka interaksi dan bagaimana mereka bisa bertemu, apalagi karena ini juga adalah based on true story, banyak pelajaran yang bisa kita petik dari alur cerita di film ini 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya Mba, saya lagi suka-sukanya nonton film gini, soalnya memang kejadian nyata ya :)

      Delete
  5. nonton ini rasanya gado-gado ya, ada komedi, ada dramanya juga.
    semangat si nenek ini luar biasa, maksud awal keinginan dia buat belajar bahasa inggris yang nggak dijelasin ke orang-orang, ternyata membuat si cowok ini jadi terharu.
    biasanya kalau nonton film yg based on true story, bikin yang nonton jadi pengen kepo lebih jauh. karena cerita yang nyata-nyata begini juga seru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, sampai awalnya kirain film thriller, jadi komedi, lalu drama, ternyata akhirnya menyentuh :D

      Delete
  6. Aku udah pernah nonton film ini, mbak Rey. Kira-kira satu atau dua tahun yang lalu. Sebenernya yang nonton adekku, karena iseng aku ikut nimbrung juga.

    Awalnya aku malah ngeremehin. Heleh paling drama romantis lagi. Eh ternyata film yang based on true story.πŸ˜‚

    Dan awalnya yang excited adek, eh malah adek kebosanan sampai ketiduran. Sementara aku yang awalnya ngeremehin, malah jadi kepo dan baper sampai nangis-nangis nonton sampai kelar.πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha bener kan, awalnya nyaris membosankan sebenarnya, soalnya kisahnya dicicil-cicil, nanti terakhir baru ketauan jelas :D

      Delete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)