Justice For Audrey, Antara Bullying Dan Maha Benarnya Netizen

bullying di sekolah

Sharing by Rey - Bullying di sekolah kembali terjadi, demikian berita yang berseliweran yang pertama kali saya baca di status seorang teman facebook.

Dan seketika saya buka instagram, mencari tagar #JusticeForAudrey , dan ketemu!



Viral lagi..
Lagi-lagi viral!

Kasus bullying kali ini lebih heboh, karena konon katanya korbannya seorang anak remaja putri masih duduk di bangku SMP, dan dikeroyok oleh 12 orang cewek anak SMU.



Wiiihhh sadis ya, saya belum baca semuanya aja jadi merinding membayangkan seorang anak SMP dikeroyok anak-anak SMU ala bandid di pilem-pilem gitu.

Meskipuuunn, dasar saya ya, amat sulit untuk langsung percaya sebuah berita, dalam hati saya malah sibuk bertanya.
"Lah emangnya di mana lokasinya? kok bisa anak SMP cewek, 1 orang dikeroyok ama 12 anak perempuan yang jelas-jelas lebih gede karena udah SMU??"
"Apa salahnya? kenapa sampai diperlakukan oleh pelaku yang mirip pengecut gitu"
"Mengapa gak coba lari? teriak? atau gimana?"
"Masa iya sih, 12 anak SMU itu pengecut banget sampai keroyok 1 anak SMP?"

Dan masih banyak lagi pertanyaan yang berkecamuk di pikiran saya, tapi gak berani saya tulis di status facebook, takut kejadian kayak kasus adek Safira dulu.

Mmm..
Maksudnya bukannya takut gimana-gimana sihhh..
Cuman... Pan kalau mau viralin saya, mending blog saya ini aja, meskipun juga takut kalau viral beneran nanti di banned Google pula, saya kan baperan karena Google asal mulu main banned muahahaha.

Bullying Di Sekolah Dan Maha Benar Netizen 


Jadi, gara-gara viral tersebut, seharian buka medsos isinya tagar #JusticeForAudrey semua.
Buka instagram, penuh dengan orang-orang yang ngamuk, marah-marah ke pelaku, menghujat bahkan menghakimi dan memaki.

Mengatakan pelaku itu binatang, dan semacamnya.

Yang saya cuman bisa tertegun membacanya!

Aneh aja gitu!

Saya rasa semua pelaku itu masih normal ya.
Minimal di antara ke 12 orang tersebut, masa sih semuanya gila??
I mean , cuman orang gila loh yang menyiksa orang yang tidak berdaya sampai babak belur, bahkan konon katanya sampai area vitalnya dikasarin sehingga mengakibatkan luka dan lebam.

Sungguh terlalu SANGAT TIDAK MASUK AKAL, karena pelaku bukannya meringkuk takut di rumah, malah sibuk jalan-jalan ke mall, senyum-senyum di kantor polisi, update instagram story di kantor polisi.

Bener, kalau sekilas liatnya BIKIN DARAH MENDIDIH.

Tapiiiiii...
Sekali lagi alarm RASA TIDAK PERCAYA saya berdering.
ADA YANG ANEH!

Mereka itu manusia loh, manusia ituuuu bukan malaikat, tapi juga bukan setan.
Dianugerahi Allah dengan akal sehat dan perikemanusiaan.
Masa iya sih mereka gak merasa salah sama sekali???

KECUALI???
MEREKA MEMANG GAK SEBERSALAH SEPERTI YANG DIBERITAKAN TERSEBUT????

Okeh, sampai di sini, saya siap menerima amukan massa, wkwkwkw.
Tapi plis, tolong baca perlahan opini saya, dengan hati yang tenang.
Singkirkan dulu pemandangan batin kita tentang adek Audrey yang trauma dan sekarat di RS serta kelakuan anak-anak SMU yang malah sibuk senyum-senyum di kamera.

Mari kita bahas hal ini secara damai dan kepala dingin.

Sama seperti kasus lainnya, jika ada berita viral yang lewat di medsos, saya malah sibuk melawan arus.
Alih-alih ikut memaki pelaku, saya hanya mendoakan korban, lalu AMAT SANGAT KEPO DENGAN PELAKU.

Iya, saya kepo banget, APA ALASANNYA SAMPAI TEGA BERBUAT SEPERTI ITU!
Karena HANYA DENGAN CARA ITULAH KITA BISA MENCEGAH BAHKAN MENGHILANGKAN BULLYING.

Ingat!

Meskipun anak-anak itu masih di bawah umur, dan status mereka (TERLIHAT) bersalah di mata netizen.
Tapi mereka juga punya hak untuk membela diri, untuk mengutarakan alasannya, MESKIPUN mungkin itu gak masuk akal.

LALU BAGAIMANA KITA BISA MEMUTUSKAN MENCEGAH HAL ITU?
KALAU KITA MAKSAIN CARA KITA UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH ORANG LAIN???

Duh maaf deh, postingan kali ini beneran bikin jebol keyboard muahahahaha.

Saya tuh ya, agak merinding aja gitu liat teman-teman yang meradang, ngamuk, bahkan memaki.
PADAHAL YA, KITA LOH GAK LIAT SEPERTI APA KEADAAN SI AUDREY ITU???
GAK TAU JUGA SEBENARNYA KAYAK APA MASALAHNYA?
BENER GAK DIKEROYOK?
BENER GAK DIPUKUL AREA VITALNYA??

Duh, bingung dah saya menulis dengan sistematis.

Saking bingungnya, saya hanya memandangi saja petisi yang berkali-kali lewat di beranda medsos saya.
Bahkan dikirim ke email saya!

Petisi itu sepertinya meminta kita menandatangani untuk meminta keadilan buat Audrey.
Namun, entah mengapa sampai detik ini saya belum sempat isi tuh petisi hahaha.

Meskipun tanpa saya ikutan, konon kata berita hanya dalam beberapa jam, sudah bisa mengumpulkan jutaan tanda tangan demi keadilan buat Audrey, wow ya netizen.


Saat Berita Mulai Berbalik


Sesuatu yang masuk akal mulai terlihat, meskipun tidak langsung membuat saya percaya begitu saja.
Ketika, seseorang meng-share postingan orang yang ngamuk di status facebook, karena habis kepo medsos si korban yaitu Audrey, yang ternyata... jejak digitalnyapun serem abis.

Saat pertama kali membaca hal itu, saya gak langsung percaya juga.
Atuh maaahh, si Rey orangnya sulit percayaan hahaha.

Soalnya, siang tadi saya sempat baca di Twitter, bahwa ortu salah seorang pelaku adalah seorang yang berpengaruh di Pontianak.
Bahkan ada yang mengatakan bakal menuntut dengan UU ITE jika terus dibahas hal tersebut.

Dan lagi-lagi netizen gak takut, malah makin beringas, hahaha

Dengan adanya status yang memojokan Audrey, saya malah sedikit curiga, jangan-jangan itu permainan pihak keluarga pelaku, agar anak-anak mereka bebas dari tanggung jawab yang dihadapinya dengan menganiaya anak orang.

Lah, jadi kamu tuh bela siapa sih Rey?
Si korban?
Atau
Si pelaku??

ENGGAK BELA SIAPA-SIAPA!
Saya bela anak sendiri, saya gak mau anak saya jadi tukang bully atau jadi korban bully, kalau anak saya diperlakukan seperti Audrey (dalam beritanya itu), dijamin saya datangin rumah ortunya lalu saya jerit-jerit di depan rumahnya muahahaha.

Saya yakin, ortu Audrey juga (SEHARUSNYA) melakukan hal itu, histeris! ya gak?
Tapi kok gak terdengar kabarnya ya? atau mungkin saya kurang greget nyari infonya?
Kurang lama stalkingnya? lol.

Oh ya, link status medsos yang membongkar jejak digital si Audrey gak bakal saya posting di sini ya.
Biarinnnn dibilang hoax.
Saya di sini lagi membahas opini saya, bukan menggibahin orang wakakkaka.

Saya sempat intip status yang ditulis tersebut, dan mau ngakak rasanya liat komen orang-orang yang katanya nyesal udah tanda tangan petisi, muahahaha.

Padahal, kalau saya pribadi gak bakal nyesal tanda tangan petisi.
YANG SAYA SESALI (JIKA SAYA JADI NETIZEN KAYAK LAINNYA) ADALAH SAYA UDAH MARAH-MARAH, NYAMPAH, MAKI-MAKI ANAKNYA ORANG, PADAHAL KENAL AJA KAGAK, SI PELAKU MALAH GAK PERNAH RUGIIN SAYA SAMA SEKALI, ATAS DASAR EMPATI SAYA MALAH MENGHAKIMI DAN MEMBULLY SI PELAKU??

LALU APA BEDANYA SAYA DENGAN PELAKU??

LALU, DI TARUH DI MANA MUKA SAYA, KALAU SEANDAINYA GENERASI MUDA MENGATAKAN SAYA EMAK-EMAK UDAH TUA, TAPI SUKA BULLY PEMBULLY, PAN ANAK MUDA BELAJAR BULLY DARI EMAK-EMAK KAYAK SAYA.

Amponnn, jebol capslock!! wakakakaka

Duh...
Saya jadi ingat kasus si adek Shafira deh.
Bisa-bisanya para netizen yang notabene emak-emak membully anak yang belum nikah.
IYAAA... DIA BELOM NIKAH!
APALAGI HAMIL??
TAU DARIMANA DIA KALAU ORANG HAMIL ITU BERAD! BUTUH DIDAHULUKAN???

DAN KITA MALAH NYALAHIN ORANG YANG BELUM TAHU RASANYA, KARENA DIA BELUM TAHU RASANYA??

Hadoooohhhhhh...
Logikaaaa.... mana logikaaaa huhuhu.

Sering terjadi, kita sibuuuukkk banget mengurusin orang lain, PADAHAL KITA SENDIRI YA MASIH GENDUT *eh wkwkwkwk.
I mean, Please lah, kenapa kita gak jadiin pelajaran saja sih?????



Ingin Menua Dengan Bijak


Sesungguhnya, mengapa saya terlihat seolah gak punya empati gini karenaaaa..
INGIN MENUA DENGAN BIJAK AJA.

Saya udah beneran kacau di dalam keluarga sendiri, saya masih sering marah-marahin anak, saya masih sering marah-marah ke suami.

Saya gak mau juga marah-marah ke orang yang saya gak kenal, kuraaaanggg kerjaan banget, padahal kerjaan saya banyak, saking banyaknya saya ngorbanin waktu tidur *eh malah curhat muahahaha.

Biarlah semua keburukan saya cuman keluarga yang tau, karena sesungguhnya keluarga adalah selimut bagi kita.

Gak mau juga saya mempresentasikan diri melalui rekam jejak digital sebagai emak yang sibuk urus anak orang, sibuk ngajarin cara anak orang berlaku, saking sibuknya sampai anak saya sendiri lupa saya siapkan diri menghadapi dunia yang kadang kejam ini.

Mari bijak bersosial media.
Marah boleh, tapi filterlah dengan baik.

KECUALIIIIII..
KALAU MARAH KARENA DIRI KITA YANG JADI KORBAN, SAYA BANTUIN DEH SHARE muahahahahaha.

Kalau saya pribadi, melihat kasus tersebut sebagai pelajaran dan cubitan keras buat saya untuk lebih memperbaiki bonding dengan anak.

Saya rasa, kuncinya adalah, biarkan anak bercerita, agar kita tahu jika dia punya masalah.
Dan kita bisa membantunya menghadapi masalah tersebut.

Saya tidak mau sibuk mengajari orang tua lain CARA MENDIDIK ANAK DENGAN BAIK.
Karena saya rasa, semua orang juga tau cara mendidik anak ala mereka.
Kita tidak punya hak sama sekali mengatur orang lain mendidik anaknya.

KITA INI MANUSIA
YANG AMAT SANGAT LEMAH TAK BERDAYA
KITA TAK BISA MENGUBAH DUNIA DALAM SEMALAM
TAPI KITA BISA MENGUBAH DUNIA MENJADI LEBIH BAIK LAGI
DENGAN MEMBIARKAN DIRI KITA JADI ORANG BAIK, DEMIKIAN PULA ANAK-ANAK KITA.

Itu jauh lebih mudah.


Kesimpulan


Saya sadar betul, apa yang saya tulis di sini bakalan mendapat banyak amukan dan ketidak setujuan dari teman-teman.

Menganggap saya tidak berempati, tidak punya hati.

Ya, saya terima saja.

Toh gak mungkin juga saya belah dada saya buat perlihatkan betapa hati saya masih sehat, insha Allah.

lol.

Saya hanya ingin mengeluarkan uneg-uneg saya, sekaligus mengetuk hati teman-teman untuk lebih bijak menyikapi sesuatu yang hanya kita lihat dari media sosial, yang katanya ini katanya ono.
Apalagi kejadiannya sudah lewat lama (katanya)

Mari kita sebarkan pesan damai kepada generasi muda, mengajari mereka hal baik dengan penuh lemah lembut.

MARI AJARKAN ANAK-ANAK KITA AGAR TIDAK MEMBULLY, MENGANIAYA, MENYAKITI ORANG LAIN, BUKAN KARENA TAKUT DIHUJAT NETIZEN YANG GALAK, TAPI KARENA MEMANG KARENA HAL ITU ADALAH DOSA BESAR!

Semoga Allah melindungi anak-anak kita dari bully membully yang GAK KEREN itu, juga dari pergaulan yang keluar batas, aamiin.


Semoga #RabuParenting ini bermanfaat


Sidoarjo, 10 April 2019

Reyne Raea untuk #RabuParenting

58 komentar :

  1. Saya hanya menyimak artikel ini mbak Rey belum bisa berkomentar apa pun coz saya belum baca kronologinya hanya sekilas dengar berita tentang ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lagi booming nih di sosmed, sedih aja jadi banyak yang menghujat seolah tau kejelasan perkaranya :(

      Hapus
    2. tadinya saya ga tau soal berita viral ini... tau hanya saat mengklik link petisi yg ternyata dah banyak disebar.

      Hapus
    3. hehehe ya gitu deh :D
      Banyak yang share tanpa cari tau terlebih dahulu

      Hapus
    4. Semoga kasus bullying seperti ini tidak terjadi lagi dan juga harus bijak dalam menggunakan sosmed agar tak memperkeruh keadaan, biarlah kasus ini ditangani sepenuhnya oleh pihak yg berwajib semoga bisa memberikan hukuman yg adil.

      Hapus
    5. Nah kan, sudah ada lembaga hukum, tapi orang2 tetep ribut sendiri hahaha

      Hapus
  2. Sedih,,,kenakalan anak-anak...!!
    Kejadian seperti ini membuat kita para ibu untuk lebih waspada terhadap pergaulan dan peers anak-anak kita...kita tidak ingin anak kita lemah dan dibully, kita juga tidak akan membiarkan anak kita membully...apalagi sudah kearah pemukulan seperti ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bangeeettt mbaaaa...
      Saya tuh deg-degan tiap hari melepas anak ke dunia luas ini, takut aja dengan kasus bully membully hiks

      Hapus
  3. yup betul itu teh rey, generasi jaman sekarang ini tidak begitu boleh dikeraskan, harus diajak secara baik-baik menuju perbuatan yang baik apalagi kasus bullying seperti ini, butuh perhatian serius dari semua kalangan

    BalasHapus
  4. sungguh mba rey skeptis syekalii..
    aku bahkan saat tau berita itu hanya ber "oh" saja dan mendoakan si korban.

    mbaca postingan mba rey aku jadi penasaran, siapa sih sebenernya si audrey ini, knp dia sampe bisa di bully sebegitunya (auto cari info) :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe, abisnya... kadang juga gimanaaaa gitu, melihat reaksi berlebihan dari netizen, padahal kenal aja kagak wkwkwkkw :D

      Hapus
  5. Setuju mba. Ada baiknya kita mendengar berita dari dua sisi. Memang tindakan pemukulan ataupun perkelahian bukan sesuatu yang pantas. Tapi sumber penyebabnya juga perlu diketahui.

    Saya sama dengan mb Rey nih. Saat pertama baca beritanya justru terpikir si korban ngapain sebelumnya sampe kemudian ada aksi balasan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada sebab ada akibat ya, meskipuuunnnnn jika benar terjadi pemukulan, itu amat sangat tidak dibenarkan.

      Justru hikmahnya aja yang harus kita ambil, biar anak2 kita sendiri bisa terlepas dari bully membully

      Hapus
  6. Sabar mbaaak, tarik nafas, buang nafas, bawa minum thai tea dulu, hihihi.

    Saya juga menulis tentang kasus ini tapi lebih dari sudut pandang saya sebagai petugas lapas yang pernah bertugas di LPKA.

    Saya juga sedih dengan brita ini, terbyang kalau menimpa keluarga saya sudah pasti saya seret ke kantor polisi. Tapi saya juga nggak setuju dengan mencaci maki pelaku. Lebih baik kita kawal kasusnya, serahkan kepada pihak berwajib sembari mendoakan kesembuhan fisk dan psikis korban.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwkwkwkw...
      huhuhuuuu syedihhhhh, kenapa pula diiming-imingin Thai Tea nih, kan saya jadi membayangkan dan bertahan untuk tidak tergoda order Chatime wkwkwkwkw

      Nah, keren nih, kalau kita melihat langsung dari sisi berlawanan, kita pasti bakal tau, bahwa tidak ada orang normal yang asal berbuat tanpa alasan ya.

      Sayangnya kadang netizen gak mau tahu bahkan yang bahas beginian, malah ikut kebully hahaha

      Hapus
    2. Saya juga udh baca artikel mbak @dudukpalingdepan, menarik sekali bisa menyimak kasus ini dari sudut pandang seorang petugas lapas yg pernah bertugas di LPKA

      Hapus
  7. Aku dh baca banyak beritanya, dri katanya pelaku kesel sama audrey krna ikutan nimbrung komen sosmed. Dri pelaku bkin boomerang dll. Aku pun gak nandatangani petisi. Mau nyimak ajah. Udah ada yg berwenang buat ngurus tuh masalah. Skrang mending jaga lisan sndiri supaya gak bully. Dan jaga sikap supaya gak kenal bully ihihihii iya kan ibun? Ibunda ehehe😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwk..

      Jaga lisan dari hal buruk, tapi bukan berarti kita takut berkata benar karena takut di bully.

      Itu yang ingin saya ajarkan ke anak-anak.
      Dan inginnya kita semua khususnya para ibu bisa sepakat, bahwa bully itu kejam, tapi jangan dibalas bully an juga, trus kapan dong bully bakal berakhir di dunia ini kalau bully di balas bully?

      Hapus
    2. Hihi kalo berkata benar mah udh tuntutan sebenarnya. Meski kita tau gak smua orng bsa nerima hal bner yg kita sampaikan. Kalo kaya gtu harus menggunakan kalimat yang super halus supaya sampai pada maksdnya dan hak salah paham.

      Hehe iya kak bner. Kalo ada yg bully ya dngerin aja. Tegur kalo berani. Kalo enggak ya biarkan aja hehe...

      Aku dh biasa di bully dlu pas SD. Tapi aku masa bodo banget orangnya hihi sampe skrang malah jd bahan becandaan. Dan krna aku suka becanda, jd semua baik" aha hehe

      Hapus
    3. wkwkwkwkw, kayaknya sama nih, saya juga suka becanda sejak kecil, mungkin karena itu saya jadi gak sadar kadang kalau saya di bully, bahkan sampai kuliah loh, saya cuek.
      eh bahkan sampai sekarang sih wakakka

      Hapus
  8. Hai Kakak...
    Artikelnya menarik sekali.

    Saya sendiri membaca, melihat, dan mendengar berita tersebut merasa marah tapi juga miris dengan kata-kata kotor yang dilontarkan oleh Netizen yang terkesan lebih buruk dari pada pelaku.

    Judgement mereka terlalu buruk. Jika para pelaku harus dihukum dengan cara yang sama seperti Audrey, berarti akan ada Audrey-Audrey lain yang akan datang.

    Alangkah baiknya para pelaku diadili oleh pihak berwenang, saya yakin hukum Indonesia bisa menangani dengan baik.

    Sukses dan semangat Kak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kan, kalau bully dibalas bully, terus gak bakal berakhir ya rantai bully an :)

      Makasih tanggapannya mba :)

      Hapus
  9. Lagi kepo-keponya sama Audrey tapi malas googling karena berita yang berseliweran semuanya meragukan! Baca komentar-komentar netizen pun, mereka yang pada awalnya simpati pada Audrey kemudian setelah melihat rekam jejak digital Audrey yang notabene suka menulis status dengan kata-kata kasar misalnya, jadi berkesimpulan pelaku dan korban sama-sama jahat.. Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha iyaaa, daripada sibuk sendiri, mending ambil hikmahnya aja ya :)

      Hapus
  10. iya mbak, saya juga tipe orang yang mikir berkali-kali setiap ada himbauan menandatangani petisi. entahlah. hehehe. adanya kasus kemarin saya juga tidak terlalu reaktif karena sama seperti pemikiran mbak Rey, saya tidak tahu kronologis yang sebenarnya. Saya tidak memang tidak sepakat dengan bentuk kekerasan tapi juga gak menghujat membabi buta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba, kecuali emang kita berada di lokasinya ya, kalau cuman katanya ini itu kan gak terkuti nyata gitu :)

      Hapus
  11. Wahhhh yang bully memang tidak tahu malu sekali, sudah salah tapi masih aja berekspos seperti tidak ada rasa bersalah sama sekali, benci sekali saya sama orang seperti itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe mungkin saja mereka punya alasan kuat sih, semoga tidak ada lagi generasi pembully

      Hapus
  12. Ini kasus yang katanya lagi viral itu ya dan menurut kabar berita kasusnya sudah ditangani pihak yang berwenang.

    BalasHapus
  13. saya merasa prihatin kak dengan peristiwa yang menimpa audry, pada khususnya, dan anak muda remaja pada umumnya. Mestinya kejadian tersebut tidak terjadi ya kak, karena masa remaja adalah masa dimana anak fokus belajar di sekolah, bukan malah cari masalah sehingga berujung ke proses hukum :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget, apa yang mereka lakukan udah beneran kelewat batas, jadi pelajaran banget buat saya seorang ibu untuk mendidik anak lebih baik lagi

      Hapus
    2. mantul itu kak, perlu pengawasan ekstra dari orang tua, kalau perlu di pasang cctv disemua sudut rumah, dan si anak dipasang gps biar bisa dipantau 24 jam, heehehe :D

      Hapus
    3. wkwkwkw sulit itu mah, mending diajarin aja bagaimana bijaknya menyikapi bully :)

      Hapus
  14. Beritanya digoreng, kan, Mbak. Ada yang sebar hoax supaya makin panas. Astaghfirullah.

    BalasHapus
  15. ada benernya juga sih mbak, cuman gue ngelihat ini lebih ke pengeniayaanya itu sendiri, okelah kita bilang si pelaku dan korban sama jahatnya, atau apalah, tapi kenapa harus sampe ke penganiayaan, dan mereka itu cewek, masih sma, gak seharusnya anak sekolah melakuka hal-hal kayak gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. tentang penganiayaan sih setuju banget.
      Cuman sebaiknya disikapi dengan bijak, toh kan kita ga liat kayak gimana keadaannya :)

      Hapus
  16. sudah sering main ke blog sobat, tapi ternyata ada yang kurang, yaitu ane belum follow blog sobat, izin follow ya kak ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah silahkan, nanti saya follow juga, tapi ga nemu tombol follow di blognya, kayaknya nanti bakalan add manual ya :D

      Hapus
    2. makasih banyak kak sudah bersedia follow blog saya yang jelek itu, semoga bisa terjalin persahabatan yang baik sesama blogger ya, sukses terus kak rey ;)

      Hapus
    3. Yaaaa, blognya keren kok, saya belajar banyak hal dari blog tersebut, sama-sama saling mendukung ya :)

      Hapus
  17. kasus ini beneran bikin heboh ya..
    yang jelas saya setuju sama yang mba bilang di paragraf terakhir bahwa ajarkan anak untuk tidak membully karena itu bukan perbuatan yg baik dan dosa besar..

    BalasHapus
  18. Kasus bullynya serem banget yah, apalagi ada kekerasan fisik dan hancurin masa depan anak, tapi saya juga curiga sama jejak digital korbannya sih kalau gak ada penyebabnya gak mungkin dia dibully kayak gitu ya, imho

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya juga sih, meski tetap simpang siur, semoga terselesaikan dengan baik :)

      Hapus
  19. Soal petisi, sejujurnya diriku masih belum paham fungsi petisi itu apakah bener-bener dipake di Indonesia ? apakah akan berdampak ke kasus tersebut dengan kita ttd petisi ?

    makanya saya kalo ada petisi-petisi tuh masih mikir berkali-kali untuk ikutan tanda tangan...apakah akan beneran ngaruh atau cuma biar makin hype aja

    Toh kalo suatu kasus udah kecium media, biasanya akan lebih cepet ditangani pihak berwajib dan kalo udah ditangan yang berwajib ya kita serahkan aja sama yang lebih ahli ya mbak karena kita posisinya cuma sebagai 'penonton' yang taunya dari media dan media itu gampang banget diplintir sana sini makanya harus hati-hati banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkw iya juga sih, dikit-dikit petisi, dikit-dikit bikin petisiii lagi.
      Kayaknya gak semua kepake sih, tapi mungkin ada beberapa yang kepake, menurut saya petisi tersbut sebagai lampiran saat menuntut sesuatu, dengan petisi tersebut, semacam kita mewakili banyak suara untuk itu :)

      Hapus
  20. Kejadian/berita semacam ini memang lekas membikin darah mendidih, Kak Rey. Makanya saya sendiri tidak begitu ikut mempeributkannya sampai dua hari lalu saya membikin status tentang batas 'di bawah usia' di dalam semua regulasi di Indonesia yang mengatur tentang anak-anak. 17, 18, atau 21? Menurut saya 15 lebih wajar menjadi patokan batas 'di bawah usia', jadi kalau 14 tahun, dia masih di bawah usia dan bisa diupayakan diversi. Itu kira-kira yang saya tulis, tanpa harus berkata kasar hahaha. Apalah kita ini jauh dari lokasi kejadian jadi tidak bisa mendengar dengan 'dua kuping' secara baik. Cuma ya perilaku anak-anak memang seperti itu, kadang tidak sesuai usia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah bener kak, kita gak tau menahu dengan jelas masalahnya, dan akhirnya kebongkar juga kan, kalau semuanya cuman terlalu dilebih-lebihin :)

      Hapus
  21. Berita ini viral banget ya mbak, awalnya saya kira cuma hoax lho, tapi kok muncul di IG, FB, di mana-mana.

    Dan sempet bikin saya kesel juga sama si pelaku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe iya mba, ternyata cuman masalah anak-anak remaja yang saling berkelahi :)

      Hapus
  22. Saya kala baca kasus itu di FB ikut marah. Soalnya dibilang tak tahu apa-apa tapi malah dikeroyok. Ternyata soal berbalas komen, ada yang bilang di WAG dan ada yang bilang di FB, jadi bingung sendiri. Berbalas komen soal apa? Gak ada kaitannya kata pengacara korban soal penyebab korban dikeroyok.
    Yah, berita gitu memang rawan dipelintir. Parahnya yang marah-marah di FB ternyata dari dulu tukang marah-marah dan kipas-kipas amrah. Sampai saya heran napa bisa temanan dengannya? Ha ha.
    Sekarang kepikiran untuk unfollow saja para tukang marah yang kalau komen selalu nyinyir dan bikin bising.
    Soal perisakan (bullying) saya sangat tidak setuju dan khawatir. Punya anak masih kecil yang pasif dan manis serta diajarkan agar tak merisak orang lain bisa jadi malah jadi sasaran risak dengan cara disuruh-suruh atau apalah di lingkungan sekolahnya.
    Memang tugas saya untuk membekalinya keberanian dan ketegasan, tetapi kalau anaknya baik dan pengalah lama-lama anak orang bisa main berani saja padanya. Kesal saya.
    Saya juga tak terlalu paham soal itu, cuma karena beritanya satu arah saja jadinya berkesan mengompori. Hal demikian memang perlu disaring.
    Yang jelas, saya sedih karena di masa remaja, SMP dan SMU kayaknya yang namanya perisakan dengan kekerasan tak dialami generasi saya di sekolah. Damai dan berkawan baik. Kalaupun ada yang merisak bisa dilawan dan dilaporkan ke guru kayak ada kakak kelas melecehkan teman kelas sebelah, langsung saja dilaporkan dan dibantu teman-teman. Rasa solidaritas besar dan nilai sosialisasinya baik. Sekarang berkesan sangat individualis, ya.
    Bagaimanapun, kekerasan tak dibenarkan. Peran orang tua sangat dibutuhkan agar anak bisa terjaga dan menjaga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di FB saya justru ga terlalu ekstrim, banyakan di instagram yang parah marah2nya hahahaha

      Bener mba, yangs edih itu kadang yang suka ribut2 itu orang yang sering mengkampanyekan hak 'Saring sebelum sharing' juga

      Hapus
  23. Sama nih, saya juga termasuk yang tidak mau berkomentar karena merasa aneh pas awal tau berita ini, karena saya lihatnya pas sudah viral ketika, adik-adik yang katanya pelaku tidak menunjukkan rasa bersalah. Disitu saya rasa ganjil saja.
    Lalu setelah berita berbalik, saya juga tetap tidak banyak berkomentar. Hanya mengobrolkannya secara ringan dengan teman-teman sambil memikirkan pelajaran yang bisa diambil dr kejadian ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benerrr, sebaiknya emang kita fokus di hikmahnya bukannya ikut membully hehehe

      Hapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)