Tuesday, July 03, 2018

Mendadak Traveling Keliling Pulau Jawa Bersama Bayi 8 Bulan (Part 1)


Episode, Jawa Timur - Jawa Tengah dan Jawa Barat

Assalamu'alaikum :)

Rasanya belum hilang pegal dan olengnya kepala, meski saat ini sudah seminggu berlalu dari kegiatan (sedikit) nekat dan mendadak kami, membawa bayi berusia 8 bulan keliling pulau Jawa.
Well, sebenarnya sih gak benar-benar mengelilingi pulau Jawa, hanya beberapa bagiannya saja.
Namun, karena kami berkendara dari wilayah Timur hingga ke Barat pulau Jawa, maka bisalah di kategorikan berkeliling pulau Jawa, lol.



Tersebutlah kami, si keluarga unplaned (bahasanya ngarang, lol) sama sekali, penyebabnya satu, kami bosan merencanakan sesuatu, dan berujung dengan gak jadi karena banyak pertimbangan.
Nah, di masa libur lebaran tahun ini, karena kami tetap gak mudik ke Buton, awalnya kami berpikiran akan menghabiskan masa liburan di rumah saja, kruntelan bermalas-malasan sambil nonton tivi bersama.
Eh siapa nyana? ternyata kami (tepatnya emaknya) bosan juga sodara. Alhasil, setelah masa liburan habis, yang mana orang-orang udah pada balik dari mudiknya, eh kami malah berpikiran untuk keluyuran. Persis seperti kisah kami di 3 tahun lalu.
Baca : Mendadak Jojga, Lalu Semarang!
Tersebutlah, pada hari Rabu, 20 Juni 2018 lalu.
Kami akhirnya keluar kandang juga dengan tujuan keluar dari Surabaya.
Lucunya, ide tersebut tercetus saat pukul 11 siang dan kami langsung packing dan meninggalkan rumah di pukul 14.00 serta saat meninggalkan rumah kami belum punya tujuan yang pasti.
Parah gak tuh?

Sambil jalan kami berembug, akan ke mana kah kami?
Saya mengultimatum harus ke tempat yang belum pernah kami datangin, jadi please forget about Malang dan Batu, terlalu eneg saya dengan kemacetannya, hiks.
Papi mengusulkan ke Jember, kebetulan saya memang belum pernah ke sana, tapi juga mikir, sampai di sana kami harus ke mana? masa iya keliling di kotanya doang?

Bagaimana dengan Bali?
Well, kami memang sudah pernah mengunjungi Bali 5 tahun lalu.
Baca : First Time I Meet You, #BALI (Denpasar)
Tapi setelah melihat status mba Dian Restu Agustina yang juga sedang berlibur di Bali, yang mana di sana sedang hujan, kamipun mengurungkan niat, terlebih saya masih ngeri dengan berita tenggelamnya Kapal di Danau Toba, yang mana untuk menuju Bali via darat kami harus menyeberangi Selat Bali juga.

Papi pun mengusulkan ke Jogja, dan saya menambahkan lanjut ya ke daerah-daerah menuju Jakarta, seperti Semarang dan ke sono-sono nya itu. Kali aja kuat bisa tembus di Jakarta, lalu memberi kejutan pada sahabat saya si Botet eh Butet alias Eva Siagian yang sekarang menetap di Tangerang.
Oke fix, kami mulai berangkat menuju ke arah Jawa Tengah via jalan Tol.

Sebelum masuk tol, kami mempersiapkan segalanya, BBM diisi full tank, maklum pakai premium biar irit hahaha. E-Toll Card juga di isi banyak biar gak kehabisan ditengah  perjalanan.
Jajanan kami, biskuit si bayi, perlengkapan obat juga sudah dipersiapkan.
Lalu masuklah kami di jalan tol Surabaya-Mojokerto dengan gembira saat waktu menunjukan pukul 15.30.

Oh ya, sebelumnya harus diceritakan nih, untuk persiapan si baby Adean, saya gak terlalu ribet, cuman bawa sisa buburnya buat makan malam, termos besar yang berisi air panas dan Alhamdulillah, termos kami, meski belinya murah di pasar dengan corak yang sedikit norak, tapi air panasnya bisa tahan sampai 2 harian.
Untuk makanan si bayi, saya berencana memberikan makanan instan biar gak ribet, meskipun sebenarnya selama ini si bayi belum pernah sama sekali merasakan makanan instan, selain biskuit Milna. Obat-obatan pun, cuman bawa sirup penurun panas plus termometernya saja.
Tidak lupa balsem bayi dan cairan pembersih hidungnya.

Syukur Alhamdulillah, jalan tol dari Surabaya - Mojokerto hingga Jombang lancar jaya, kami sempat diguyur hujan deras di daerah Mojo Agung (kalau gak salah) sejenak, tapi sukses membuat keadaan si mobil jadi kotor parah hahaha.
Setelah keluar dari jalan Tol daerah Jombang, kami masuk lagi di jalan Tol yang masih fungsional Kertosono - Madiun (CMIIW).
Agak tersendat di beberapa bagian, karena jalan yang masih benar-benar belum siap diakses alias dipaksakan demi titah ndoro boss, lol.

Gerbang Tol Bandar, si papi jadi mengenang masa lalu saat kerja di jalan tol ini

Sepanjang perjalanan semua happy, kakak Darrell anteng di bangku belakang, si bayi tertidur pulas di bangku tengah bersama emaknya, dan si papi menyetir sambil terkagum-kagum akan proyek jalan tol yang terkesan dipaksakan untuk dilewati.
Arus balik padat merayap, kami termasuk arus mudik yang telat, lol

Menjelang Magrib, kami berencana mampir sholat di rest area tol Madiun, sayang.. saat baru masuk lagi ke jalan tol Madiun - Solo, kami langsung disambut kemacetan panjang yang ternyata antri masuk di pintu tol nya.
Kami menemukan rest area tol tersebut saat waktu Magrib nyaris habis, dan ditambah sulitnya mencari tempat parkir, kami sampai rela parkir jauh banget dari mushola, lalu papi dan kakak Darrell lari-lari ke mushola mengejar waktu sholat Magrib.
Saya yang memang sedang libur sholat, harus rela anteng dalam mobil sambil menjaga si bayi yang terbangun dan mulai bertingkah macem-macem seperti biasanya.

Setelah sholat Magrib kami meneruskan perjalanan, waktu menunjukan pukul 18.45 dan kami sudah mulai kelaparan.
Namun di jalan tol bingung mencari tempat makanan, terlebih kami gak membawa bekal, cuman ada nasi putih yang kami bawa karena sebelumnya si papi sudah masak nasi banyak dan ternyata malah punya ide keluyuran hahaha.
Kami pun berembug dan memutuskan untuk berhenti sejenak di Solo untuk mencari tempat makan yang nyaman karena harus menyuapin si bayi juga.

Thanks to pemerintah, dengan adanya jalan tol, meskipun sebagian masih fungsional dengan kondisi masih sangat belum siap dilewatin, namun sangat berarti memangkas waktu perjalanan kami, hanya butuh waktu kurang dari 2 jam dari Madiun, kamipun sampai di Solo.
Setelah keluar jalan tol di Solo, kami memutuskan mengunjungi mall saja, meskipun sebenarnya kami ingin banget makan makanan di pinggiran jalan, sangat kepo dengan yang namanya timlo yang ada di sepanjang jalan.
Tapi mengingat kondisi si bayi butuh tempat nyaman dan bebas asap rokok, amannya sih ke mall saja, terlebih waktu masih memungkinkan untuk mengunjungi mall.

Dan mulailah saya mengandalkan Google Map untuk mencari mall terdekat.
Menurut Google, mall terdekat adalah Solo Paragon Mall.
Si papi nurut saja dan kamipun mengikuti perintah si mbak Google yang memandu kami meskipun sebenarnya was-was karena si mbak Google tersebut sering banget terlalu cerdas dalam memandu kami, sehingga seringnya kami dilewatin di jalan yang gak masuk akal.

Dan benar adanya, setelah kami dibuat berputar-putar semau si mbak Google, sampailah juga kami di sebuah gedung yang tinggi, dan betapa shock nya kami, bangunan itu adalah hotel dan apartemen sodara.
Si mbak Google ini gimana sih? diminta tolong pandu ke mall, eh malah dibawa ke hotel.
Jangan bilang kalau kami disuruh ke situ untuk nanya sama satpamnya, di mana mall terdekat, lol.

Meskipun konyol, si papi mutusin turun dan bertanya pada satpam, dan ternyata si mbak Google gak iseng kok, memang Solo Paragon Mall itu berada di samping bangunan Solo Paragon Hotel.
Kami hanya harus berbelok sedikit untuk sampai di pintu masuk parkirannya.
Dan dengan mengikuti petunjuk si bapak satpam yang ramah tersebut, sampailah kami ke parkiran mall yang dimaksud.

Setelah parkir kami bersegera masuk dan mencari tempat makan, dan ternyata tempatnya mirip Sutos sodara, tempat makanannya tersebar di luar mall, meskipun ada juga beberapa di dalam mall, si papi mengusulkan ke dalam saja mencari semacam foodcourt sekalian numpang toilet dan baby room buat gantiin popok si bayi.
Karena sudah hampir pukul 9 malam, foodcourt nya sudah lumayan sepi, meskipun masih saja ada kegiatan live music yang menurut saya malah bikin makin berisik, lol.
Kami makan nasi dan mie goreng dari Nasi goreng 69 kesukaan kakak Darrell.
Si bayi yang rencananya mau makan sisa bubur siangnya, jadi urung karena sudah kemalaman dan takutnya buburnya sudah agak basi dan malah bikin sakit perut.
Di Solo Paragon Mall. Wajah-wajah orang dewasa yang sudah kenyang vs Bayi yang masih lapar, lol

Di Solo Paragon Mall. Buru-buru mau check in Hotel, tapi gak menyurutkan hasrat pose dulu, lol

Terpaksa si bayi disuapin biskuit Milna yang dilarutkan pakai air dingin.
Sambil makan kami berunding, akan menginap di mana? jika mengikuti pengalaman 3 tahun lalu, kami nginap di mobil sambil menanti sunrise di Parangtritis.
Sayangnya sekarang keadaan sudah berbeda, ada bayi yang tidak memungkinkan untuk diajak tidur di mobil padahal sejak sore belum mandi.
Dengan pertimbangan hal itu kami memutuskan untuk menginap di Solo saja untuk malam tersebut.
Sayapun lagi-lagi mengandalkan Google Map mencari hotel terdekat dari mall tersebut dengan harga yang terjangkau pastinya.
Kalau yang harganya asal sih mending di Solo Paragon Hotel saja, mumpung kami juga sedang berada di dekatnya.
Tapi sayang cek aplikasi pesanan online kayak Traveloka, Agoda, Hotel Quickly dsbnya, rate per malamnya masih sekitar 600ribu ke atas.  Rasanya sayang banget mengeluarkan duit segitu terlebih kami chek in nya sudah malam banget.



Dan mungkin kami sudah berjodoh, bertemulah kami dengan Front One Hotel Brani Solo.
Saya males booking via aplikasi pemesanan online, dan memutuskan langsung ke hotelnya dan bertanya langsung.
Dan demikianlah, malam itu kami menginap di hotel tersebut.
Mengenai review hotel tersebut bakal saya buat di postingan tersendiri ya.
Penampakan Front One Hotel Brani Solo

Baca : Review Hotel Front One Boutique Brani Solo, Shock Saat Pertama Kali Masuk Kamar
Keesokan harinya, kami check out dari hotel sekitar pukul 08.30.
Dan seperti biasanya, kami belum punya rencana mau ke mana, si papi mengusulkan ke Keraton saja, terlebih si kakak Darrell ribut aja pengen ke Keraton Jogja namun kami terlalu malas untuk terus ke Jogja karena sudah berkali-kali ke sana.

Lagi-lagi dengan mengandalkan bantuan pemandu jalan si mbak Google, kami akhirnya sampai di Keraton, meskipun tetap kecele karena kami dipandu untuk parkir di tempat yang ampun jauhnya huhuhu.
Kami parkir di entahlah apa namanya, dari parkiran tersebut terlihat bangunan yang bertuliskan pasar Klewer.
Si papi bertanya apakah saya mau masuk window shooping, dan dengan mantap saya tolak.
Atuh mah, yang benar saja mau beli-beli di pasar sambil gendongin bayi, sigh.

Dengan menolak banyak ajakan bapak-bapak yang mengerubungi kami untuk menawari becak, kami memutuskan berjalan kaki.
Secara, kami berjalan sambil bawa stroller, masa iya bisa naik becak, aneh-aneh saja si bapak tersebut.
Meskipun akhirnya kami harus ngos-ngosan jalan kaki menuju bangunan Keratonnya, dan melewati jalan yang sempit dengan kendaraan yang banyak yang beberapa nyaris menyerempet kami, sampailah juga kami di tujuan dan disambut dengan super kecele, ternyata banyak dong yang boleh parkir di halamannya, terus ngapaiiinn kami parkir jauh amir sambil jalan kaki gendongi bayi dan dorong-dorong stroller di jalan yang ramai? huhuhu.
Tujuan utama sih cuman buat pose-pose aja, lol

Si kakak juga gak ketinggalan mau pose

Sampai di Keraton, suasana gak asyik langsung menerpa kami, belum juga hilang ngos-ngosan kami, beberapa bapak-bapak mulai mengerubungi kami menawarkan jasa becak dan pemandu.
Meskipun sudah saya jelasin berkali-kali, kalau kami gak mau keliling, cuman di halaman itu doang sambil foto-foto sesuka kami, para bapak-bapak ditambah mbak-mbak yang nenteng kamera gak berhenti mengganggu kami, hiks.
Atuh mahhh...
Saya tuh sedang rempong gendong bayi yang tertidur, gak mungkin banget bisa ikutan tur kayak orang-orang, yang mau kami lakukan adalah cuman foto-foto aja tanpa dikte dari orang lain, nantilah kalau anak-anak sudah besar dan ngerti, kami insha Allah bakal balik di situ dan mengambil jasa pemandu agar anak-anak lebih ngerti sejarahnya.

Hanya beberapa menit kami di situ, dan akhirnya memilih menjauh dari halaman keraton, sambil menempuh jalan baru yang akhirnya kami tersadar kalau jalan tersebut buntu adanya, alhasil kami ngos-ngosan kembali ke jalan awal hahaha.
Si emak dan kakak sibuk pose, si bayi mah anteng tidur

Banyak spot foto kece, sayang fotografernya kurang handal motret, lol

Pede aja gitu cari jalan tembusan, ternyata buntu hahaha

Mi, bau pipis kuda ya, hahaha

Tak menunggu waktu lama kami akhirnya kembali ke mobil, sebelum pergi saya tergoda dengan dawet ayu yang dijual di parkiran tersebut, kata papi biasanya enak dan unik, uniknya karena disajikan dalam mangkuk tanah liat.
Dan sayapun membelinya dengan harga 7 ribu rupiah, lucky us rasanya enak, mungkin juga efek matahari panas setelah gerimis kecil melanda sejenak.
Dawet ayu, enak banget karena isinya macem-macem, dari nangka dan sebagainya

Dari area Keraton, kami bingung lagi mau ke mana, saya ingin mengunjungi rumah bapak presiden kita, pak Jokowi, tapi pas liat di Google Map ternyata lokasinya masih jauh dari tempat kami saat itu berada, saya mengusulkan mencari bubur bayi dengan bantuan Google, sayangnya sudah berkali-kali kami bolak balik di jalan yang dituju, kami sama sekali gak menemukan bubur yang dimaksud.
Papi lalu mengusulkan mengunjungi Monumen Pers Nasional, dan hanya beberapa menit sampailah kami ke lokasinya, tentunya dengan bantuan panduan dari si mbak Google juga.

Gedung Monumen Pers Nasional Solo berada Jalan Gajahmada No.76, Timuran, Banjarsari, Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah.
Monumen ini adalah bangunan bersejarah dan museum yang menyimpan lebih dari satu juta surat kabar dan majalah sejak masa sebelum dan sesudah Revolusi Nasional Indonesia dari berbagai daerah di Nusantara.
Setelah mengisi buku tamu, kamipun masuk dan melihat-lihat isi musiumnya.
Suasana gedung tersebut sangat sepi di hari itu, mungkin karena orang-orang banyak yang sudah masuk bekerja di hari tersebut.
 
Para lelaki bahagia, kayaknya yang dewasa aja deh, yang bayi kelaparan, lol

Saat masuk, kami langsung disambut oleh pagelaran foto-foto yang berhasil dihimpun para wartawan saat peristiwa tragedi tahun 1998 lalu.
selain itu, ada banyak pajangan foto masa lalu, kamera jadul, lengkap dengan lensa yang segede gaban plus mesin ketik kuno dan semua hal yang berbau pers tentunya.
Di bangunan sayap kanan ada pajangan beberapa koran masa lampau dari berbagai daerah di seluruh penjuru nusantara. 

Sudah lama juga ya monumen ini

Sedang ada pameran Refleksi Peristiwa Mei 1998

Kok warnanya sama ya dengan patung, lol.

Kentongan (eh benar gak sih namanya) di depan gedung Monumen Pers
Setelah puas melihat-lihat di dalamnya, kami pun lalu mulai berkendara lagi, kali ini tujuannya jelas, yaitu mencari tempat makan, karena saya gak sempat sarapan di hotel.
Dalam perjalanan, kami menemukan sebuah warung Bakmi Jowo Areng di jalan Moewardi, Kotabarat, Solo yang menjual Es Teler lengkap dengan makanan semacam Chinese Food dan ayam goreng. Kami lalu memutuskan makan di situ saja, terlebih karena tempatnya masih sepi, jadi peluang terpapar asap rokok sangat sedikit.

Saya lalu menyiapkan makan siang si bayi, bubur instan Milna yang saya beli di Indomaret dekat Munomen Pers langsung saya seduh dengan air panas yang ada di termos yang kami bawa, Alhamdulillah airnya masih panas, setelah siap kamipun turun dan memesan makanan sambil menyuapin si bayi.

Saya memesan ayam goreng tulang lunak dengan es teler, si kakak memesan mie ayam yang dengan mengernyitkan dahi saya mengiyakan saja, sedang si papi pesan paket ayam goreng lengkap dengan minumannya.
Si papi memutuskan menyuapi si bayi dulu, karena saya memang belum makan sejak pagi, maka disuruh duluan makan, Alhamdulillah ayam gorengnya enak, ditambah sambal yang enak, sejenis sambal matah tapi disiram minyak panas gitu.
Si kakak Darrell terbelalak saat pesanannya datang, usut punya usut dipikir mie ayam tersebut kayak mie goreng ayam karena emang gambarnya mirip mie goreng hahaha.
Akhirnya dia makan pesanannya si papi dan papi makan mie ayam yang manis tersebut hahaha.

Saya makan dengan kilat (seperti biasanya) agar bisa menggantikan papi menyuapi si bayi.
Setelah itu papipun makan dan saya terus menyuapi si bayi yang sebenarnya dia ogah membuka mulut.
sampai akhirnya dia muntah sodara, ternyata dia gak suka bubur tersebut, dan barulah saya ngeh.
Si bayi ini sama sekali belum pernah mengenal makanan instan, sejak mengenal MPASI, dia hanya mencicipi makanan instan berupa biskuit Milna, bahkan saya belikan camilan berbentuk puff gitu dia gak mau, padahal rasanya enak kayak pisang goreng.

Sedih deh rasanya, semua isi perutnya keluar lagi hiks, untungnya kami selalu bawa tisue lumayan banyak di tas, sehingga muntahannya bisa kami bersihkan tanpa membuat si pemilik warung kesal hahaha.
Kami lalu bersegera membayar makanan, dan pergi dari situ. Si bayi terpaksa hanya puas dengan meminum ASI saja hingga akhirnya dia tertidur nyenyak.

Kami meneruskan perjalanan dengan bingung mau ke mana, saya pun akhirnya ngotot mau ke arah Jakarta, dan papi menyanggupinya dengan riang.

Waktu sudah menunjukan pukul 13.00, kami masih berkendara mencari jalan masuk ke jalan tol.
Setelah bertanya pada polisi dan kami di sarankan lewat jalan utama saja dulu menghindari penumpukan kendaraan yang biasa terjadi di entrace jalan tol.
Kami lalu berjalan lurus di jalan utama saja, melewati perjalanan yang panjang hingga kota Boyolali dan Salatiga.
Di Salatiga, ada keterangan masuk jalan tol, kamipun mengikuti petunjuk tersebut dan berhasil masuk jalan tol Semarang - Solo dengan gembira lalu tersadar, kami belum sholat Dhuhur sodara, sedangkan waktu sudah menunjukan pukul 13.45.

Pemandangan jalan Tol Solo Semarang sangatlah cantik, dikelilingi sawah yang menghijau serta beralaskan gunung yang membiru di kejauhan, membuat hati jadi adem banget rasanya.
Pemandangan tersebut dikacaukan oleh kami yang deg-degan mencari rest area untuk sholat.
Rest area yang kami temukan rata-rata hanyalah fungsional dengan tempat seadanya plus pengunjung yang seabrek.
Rasanya berhenti di situ malah menghabiskan banyak waktu untuk antri di tempatnya yang mungil, terpaksa kami terus lanjut dan akhirnya sampai Semarang dan berhenti di rest area yang lumayan besar di jalan tol Jatingaleh - Krapyak.
Salah satu pemandangan cantik di tepi jalan tol Solo - Semarang yang cantik

Setelah sholat Dhuhur, si papi baru tersadar kalau isi e-toll cardnya mulai menipis, dan sayapun juga baru sadar kalau isi dompet saya menipis, gak punya uang cash sama sekali, beruntung di jalan tol tersebut ada ATM BNI portable di sebuah bis.
Sayapun bisa tarik tunai dan mencari indomaret di sepanjang rest area buat top up.

Dan akhirnya kami berhasil top up e-toll cardnya di salah satu rest area tol fungsional Batang - Pemalang sambil sholat Ashar.
Satu hal yang patut diacungin jempol adalah, meskipun jalan tol fungsional yang dilewati masih sangat belum layak dilewati, namun semua dipersiapkan sedemikian rupa sehingga pemudik bisa melewati jalan tersebut dengan nyaman, salah satunya dengan disiapkan banyak rest area yang juga fungsional atau sementara yang mana meskipun sementara, tapi fasilitas urgent kayak toilet ada banyak banget dengan air yang melimpah.
Meskipun demikian, mental pemudik yang udik juga masih kita dapatkan di mana-mana, kata si papi banyak toilet yang juga kotor dan bau, padahal air melimpah, hanya butuh tangannya aja ambil air pakai gayung lalu siram bekas najisnya, ckckck.

Menjelang Magrib, kami mulai memasuki wilayah kota Pemalang, si papi mengusulkan keluar jalan tol sebentar mencari pom bensin, di sepanjang rest area sih ada banyak banget pom pensin Pertamina, tapi yang dijual semua jenis Pertamax, yang pastinya bakal mengorek dompet kami sebagai traveler sejati (baca irit, lol) lebih dalam.

Menjelang Magrib di exit tol Pemalang
Sampai di kota Pemalang, kami mulai mencari Pom Bensin, dan setelah beberapa KM kami menemukan Pom Bensin dan mengisi Premium sampai full tank sambil mampir sejenak untuk sholat Magrib di mushola nya.

Sholat Magrib sudah terlaksana, si mobil juga sudah kenyang dan saldo e-toll sudah aman, kami siap masuk ke jalan tol lagi.
Hari sudah mulai gelap, kami sedikit lapar, si bayi apalagi, namun apadaya, kami hanya bisa memberinya biskuit Milna yang dicemil dengan semangat sepanjang jalan sampai bajunya dan baju saya penuh remahan biskuit, hahaha.
Saya mengusulkan untuk menginap di sebuah kota saja, lihat di map kota Pekalongan yang terdekat, namun letaknya agak jauh dari Jakarta.
Kamipun sepakat menginap di daerah Cirebon, yang mana lokasinya lebih dekat dengan Jakarta.

Saya mulai searching hotel melalui Google, agar mudah saya mencari hotel yang dekat jalan tol biar kami gak ngabisin waktu banyak mutar-mutar, lalu bertemulah kami dengan Hotel Sapadia.
Mengingat waktu di Front One Hotel Brani Solo kami memesan langsung  dan ternyata liat harga di aplikasi jauh lebih murah.
Maka untuk booking hotel Sapadia tersebut saya memilih aplikasi Agoda karena terlihat lebih murah.
Meskipun melalui Google, aplikasi Booking juga lebih murah, tapi gak tau sayanya sudah puyeng karena sejak dari Solo sampai Pemalang saya baru keluar mobil sekali saja.
Saya akhirnya booking melalui Agoda saja, karena menurut aplikasi, kamar yang tersedia makin sedikit. Sepertinya banyak pemudik yang juga menginap di Cirebon karena kelelahan.

Setelah booking an sukses, papi pun menancap gas lebih cepat lagi agar cepat sampai di Cirebon.

Dan pukul berapakah kami sampai? Apa saja yang kami alami di Cirebon?
Bagaimana hotelnya? Bagaimana kagoknya saya mendengar logat orang yang akhirnya saya sadar, kami sudah gak di Jawa Timur atau Jawa Tengah lagi yang logat dan bahasanya nyaris sama.
Kami sudah di daerah yang mana saya bebas ngomong pakai bahasa Indonesia sepuasnya tanpa risih diliatin orang dengan tatapan aneh.

Nantikan postingan saya berikutnya ya, tentang semalam kami di Cirebon dan first time i meet Jakarta ...
Baca : Mendadak Traveling Keliling Pulau Jawa Bersama Bayi 8 Bulan (Part 2)
Punya pengalaman mengajak bayi traveling melewati berbagai propinsi lewat darat?
Share di komen yuk :)

Semoga manfaat.

TPJ AV - 03 Juli 2018

Love

12 comments:

  1. Waah..ikut merasa seru. Kami jg sering bepergian unplaned gitu. Tp blm pernh sepanjang ini. Eh ya saya Juga jd b3rasa nostalgia dg kota solo nih mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, sebenarnya kami pun suprised bisa kuat keliling sejauh ini mba :)

      Delete
  2. Mbaaak...bisa-bisanya unplaned sambil ajak baby yaaa..
    Keren ini, kadar nekatnya tinggi hihihi..
    Tapi sudah lumayan juga tuh itinerary, sempat mampir ke keraton Solo segala.
    Alhamdulillah juga lumayan lancar jalan ya..orang semua ke Timur, Mbak ke Barat arahnya..keren idenya:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. qiqiqiqi..

      Ini aslinya terinspirasi dari postingan mbak Dian loh, hampir aja kami mau ikutan ke Bali, tapi takut nyeberangnya, jadi road trip di darat aja pulau Jawa, ternyata sampai di Solo bosan karena udah pernah ke sana :D

      Delete
  3. Kalau mau sering2 bikin keputusan mendadak gini berarti fisik dan budget harus selalu siap sedia ya hehe....
    Oh ya, saya penasaran lho dengan corak termosnya😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar banget mba, terutama kalau bawa bayi, kalau cuman orang dewasa mungkin bisa di siasati dengan nginap di mobil dan mandi di pom Bensin hahaha.
      Wkwkwkw pokoknya norak deh, warnanya ngejreng pula, tapi membantu banget dan sampai 2 harian air tetep panas :D

      Delete
  4. Mba, pengalamanku pergi jauh bawa bayi cuman dari Bandung ke Sumedang aja, itu cuman 2-3 jam. Enggak kebayang kalau harus sampai Jateng atau Jatim xD Tapi kalau pakai mobil sendiri enak, kalau anak rewel bisa berhenti.

    Rencananya saya pengen jalan ke Jakarta nih naik kereta sambil bawa bayi. Tapi masih deg-degaaann.. x)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkw.. ini juga nekat kok mbaaa..
      kalau naik kereta belum berani, ampun si bayi banyak tingkah sekarang, belum lagi kalau dia pup bingung bersihinnya hahaha

      Delete
  5. seruuu yaaahh... Alhamdulillah ya bocah pada anteng aja di jalan.
    saya pengalaman bawa batita tapi masih seputaran Sulawesi aja sih, via darat lalu menyebrang laut lanjut darat lagi :D

    anyway, dari Sulawesi juga ya Kak? Itu baca Buton, heheheh.
    salam kenal dari Kendari :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waahh salam kenal ya, ortu saya dari Buton, tapi saya udah lama di Jawa hehehe.
      Kendari bagian mana nih? saya juga punya saudara dan teman di Kendari :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...