Wednesday, July 04, 2018

Traveling Bersama Bayi (Part 2) - Cirebon dan Jakarta


Episode First Time I Meet Jekardah

Assalamu'alaikum :)

Dari postingan part 1, tentang dimulainya traveling tak terencana alias mendadak ini dan membawa serta si bayi yang berusia 8 bulan.

Baca : Mendadak Traveling Keliling Pulau Jawa Bersama Bayi 8 Bulan (Part 1)
Kami menghabiskan hari kedua traveling dengan mostly di jalan tol, baik yang sudah jadi maupun fungsional.
Melewati ber KM-KM jalan yang membelah hutan jati, lalu disusul hutan pohon karet.
Takjub banget akan kekayaan alam Indonesia, semoga kekayaan tersebut menular ke seluruh masyarakatnya, aamiin.

Di sepanjang perjalanan kami berdiskusi, sebaiknya akan menginap di mana?.
Karena melihat peta di Google map, kota tujuan kami, Jakarta masihlah sangat jauh.
Saya menyebutkan kota-kota yang bakal kami lewati.
Ada kota Pemalang, di mana saya jadi teringat oleh sahabat saya, Bunda Anisa.
Atau di Pekalongan juga Tegal?

Semalam Di Cirebon


Di depannya ada pula kota Cirebon, namun jaraknya masihlah sangat jauh dari lokasi kami.
Papi mengusulkan agar menginap di Cirebon jika memungkinkan, jika enggak kami bakal mencari penginapan di daerah Tegal atau Pekalongan.
Karena itu, saya menunda mencari hotel di kota yang dimaksud, karena selain memang belum jelas mau nginap di mana, pun si bayi terbangun dan lumayan cranky karena kelaparan.
Sayapun memberikannya biskuit Milna, dan disambut dengan gembira langsung digigit meskipun bajunya dan juga saya penuh remahan biskuit hahaha.

Menjelang Magrib, kami mampir sejenak mengisi BBM di Pemalang serta tak lupa untuk sholat Magrib. Setelahnya kami melihat peta dan sepertinya Cirebon memungkinkan untuk dihampiri.
Kamipun memutuskan untuk menginap di Cirebon dan seperti biasanya, saya lalu mengutak-ngatik aplikasi mencari hotel di Cirebon yang dekat dengan jalan tol.

Dengan mengamati satu persatu bangunan hotel yang tertera di Map, saya menemukan hotel Sapadia yang paling dekat dengan exit/entrace tol.
Langsung deh saya booking via aplikasi Agoda, karena mengingat sebelumnya, saat di Solo saya kecele, saat booking langsung ke hotel eh harganya lebih mahal ketimbang booking melalui aplikasi online.

Hanya butuh kurang dari sejam, karena si papi fokus berkendara dengan kecepatan sedikit cepat, akhirnya sampailah kami di exit tol Cirebon. Dengan mengikuti petunjuk mbak Google, sampai jugalah kami ke hotel yang di maksud.
Mengenai review hotel Sapadia Cirebon ini, bakal saya tulis di postingan tersendiri ya.

Karena kami belum makan malam, setelah membersihkan diri di hotel, kami bersegera keluar mencari makan, agak sulit karena waktu sudah menunjukan pukul 20.30 malam, dan suasana sudah semakin sepi.
Gak jauh dari hotel ada sebuah warung penyetan di tepi jalan, si papi mengusulkan untuk makan di situ, saya mengiyakan dengan catatan tanya dulu berapa harganya.
Dan ternyata, ayam penyetnya 25ribu per porsi belum termasuk nasi sodara, hahaha.

Kamipun urung dan saya mengusulkan untuk mencari tempat makan lain saja, karena yang kami butuhkan adalah tempat yang nyaman karena juga akan menyuapi si bayi makan biskuit.
Saya pun teringat akan postingan mbak Dian Restu Agustina, saat berkunjung di Cirebon dan makan di tempat yang asyik dekat dengan hotel tempatnya menginap, kalau gak salah hotel Cordela.
Dengan bantuan Google Map, sampailah juga kami di hotel yang dimaksud dan benar adanya, tepat di samping hotel tersebut ada sebuah Pusat Kuliner bernama MARKAS yang masih buka dan makanannya terlihat menarik dengan harga yang ramah di dompet.
Suasana sudah sepi

Segini cuman 11,500 dong, es teh nya jumbo parah!

Kami memutuskan makan paket ayam goreng yang murah meriah, Rp 11,500 sudah termasuk minum es teh yang masha Allah se gelas gede banget hahaha.
Selama makan malam, saya masih agak terasa carlag (istilah sendiri terinspirasi dari jetlag) , lol.
Gimana enggak, saya masih kebawa suasana Jawa Tengah dengan bahasa Jawa medhok yang khas, sedang di Cirebon yang nyata-nyata masih di tanah Jawa, bahkan namanya saja Jawa Barat, tapi bahasa dan logatnya sangatlah beda.
Seketika saya merasa homey, bahagia rasanya karena saya bebas ngomong pakai bahasa Indonesia tanpa harus dilirik orang karena merasa aneh saya memakai bahasa Indonesia, just like in Jatim.

Kenyang makan, kamipun kembali ke hotel, setelah terlebih dahulu mencari pom Bensin untuk isi Premium, Alhamdulillah nya ketemu juga setelah muter-muter beberapa saat.
Tak lupa mampir minimarket untuk membeli roti buat sarapan (jaga-jaga sarapan di hotel hanya untuk 2 orang saja), cairan pembersih botol (semula ingin membeli cairan pembersih piring, namun karena berniat untuk mencuci baju dan saya gak menemukan detergen dengan kemasan kecil).

Lalu pulanglah kami ke hotel, di mana seharusnya saya istrahat karena sumpah pas turun dari mobil saya sudah bener-bener oleng, bahkan mandi di hotel berasa mandi di kapal Pelni, yang terasa oleng saat kapal dihempas ombak, sigh.
Nyatanya saya malah sibuk di kamar mandi untuk....
MENCUCI BAJU sodara hahaha.
Maapkeun wahai pengelola hotel Sapadia Cirebon, airnya nyaris habis gegara saya pakai nyuci baju hahaha.
Sebagai sabunnya saya gunakan sabun mandi dari hotel, karena kami memang selalu bawa toiletris sendiri saat bepergian.
Setelahnya, saya memenuhi toilet dengan jemuran baju muahahaha.
Pegimana lagi, orang saya gak bawa baju banyak, cuman 3 pasang doang termasuk di badan, mau mampir beli juga gak ada waktu karena kami memburu waktu agar segera sampai di Jakarta.

Kami tidur dengan nyenyak malam itu, sampai akhirnya terbangun di pukul 3 dini hari gegara si bayi nangis jerit-jerit.
Si papi sudah mulai khawatir, takut si bayi sawanan katanya, terutama saat itu adalah malam Jumat, tapi melihat wajahnya si bayi sepertinya kesakitan, dan saya mengira dia masuk angin gegara makan gak kenyang, hiks.
Maafkan mami ya bayi..
Kami sebenarnya ingin mampir membeli magic com di Cirebon lengkap dengan berasnya untuk membuat bubur, sayangnya kami sudah kemalaman dan semua toko sudah pada tutup.
Mau masuk mall juga parkirannya sudah mulai sepi.

Sekitar 15-20 menit si bayi cranky berat, dia menolak dikasih ASI. Saya hanya bisa memeluknya sambil bersenandung, Alhamdulillah setelah itu dia tertidur nyenyak.
Sayapun sudah gak bisa tidur lagi dan memutuskan segera mandi di pukul 4 pagi dan beberes agar bisa check out pagi-pagi setelah sarapan, menghindari kemacetan saat masuk ke Jakarta.

Alhamdulillah, pukul 07.00 kami sudah siap check out, saya masih berharap menemukan penjual bubur bayi atau minimal bubur ayam di jalanan, namun nihil.
Bahkan penjual buah-buahan seperti pisang pun gak kelihatan sama sekali, mungkin kami harus masuk lagi ke dalam pusat kotanya untuk menemukan hal tersebut, namun gak ada waktu lagi karena kami ingin mengejar waktu cepat sampai di Jakarta.

Alhasil, kami memutuskan masuk tol lagi, Alhamdulillah si bayi anteng tertidur nyenyak setelah minum ASI. Si kakakpun tertidur nyenyak di bangku depan.
Jalanan masih terasa sepi, hawa dingin masih menusuk, kami kembali membelah jalan tol Kanci - Palimanan yang panjangnya seolah tak berujung.
Sesekali saya mengintip lokasi kami dan melihat apakah tujuan kami masih jauh.

Papi menyetir dengan kecepatan sedikit kencang, karena berniat sholat Jumat di masjid Istiqlal.
Alhamdulillah jalan lancar, jalan tol Kanci - Palimanan terlewati berganti jalan tol Cipali.
Terus berjalan hingga satu persatu daerah di Jawa Barat terlewati, mulai dari Subang hingga masuk jalan tol Cikampek.
Karawangpun di depan mata, hingga akhirnya masuk ke Bekasi.

Jakarta oh Jakarta, Finally!


To be honest, saya sama sekali belum pernah ke Jakarta. Itulah mengapa saya ingin traveling kami ke daerah menuju Jakarta, semampu si papi nyetir.
Alhamdulillah papi mampu nyetir sampai ke Jakarta, waooo...
Meikarta

Saat memasuki daerah Bekasi, saya makin excited, meskipun agak ngeri melihat banyaknya kendaraan di jalan tol.
Alhamdulillah, keadaan gak sampai macet, hanya ramai lancar.
Saya gak henti-hentinya mengagumi proyek LTR yang belum jadi (CMIIW) yang ada di sepanjang jalan tol. Sambil membayangkan, seandainya saya bisa kerja di proyek tersebut, suka banget proyek dengan struktur seperti itu.
*oeeeee.... si bayi nangis, lalu khayalan buyar, sadar diri mak, terus anak-anak loe sapa yang jagain? hahaha 

Hingga akhirnya, yang dinanti berada di depan mata, kami sudah masuk Jakarta sodara.
JAKARTA!!!!
Alhamdulillah...
Impian yang sejak lama akhirnya tercapai.

Pertama kali yang bikin kami ternganga adalah, tol gate nya yang lebaaarrrr banget hahaha.
Bahkan si papi yang sudah pernah ke Jakarta pun ikutan ternganga.
Kami akhirnya bergantung sepenuhnya ke mbak Google, patuh banget ama semua perintahnya, belok kanan, belok kiri, sedikit ke kanan, sedikit ke kiri, semua diikuti dengan patuh.

Dan karenanya, saya jadi gak bisa istrahat sama sekali, si papi sangat amat bermasalah dalam membaca peta maupun memahami perintah si mbak Google, jadilah saya bagai navigator handal yang bertanggung jawab penuh akan jalur yang bakal di lewatin oleh si supir.

Tujuan awal kami adalah apa lagi kalau bukan MONAS hahaha.
Udik dan ndeso, biarin!
Pas liat di map, kalau Monas itu dekat dengan masjid Istiqlal, makin excited deh kami, karena itu berarti si papi dan kakak Darrell bisa sekalian sholat Jumat dulu di masjid Istiqlal.
Merekapun excited banget, secara masjid Istiqlal biasanya hanya bisa kami saksikan melalui tivi.

IYA NORAK! tapi biarin deh hahaha.

Oh ya, kami memasuki Jakarta di pukul 10.15 pagi, masih ada waktu buat ngejar sholat Jumat, dengan mengikuti titah si mbak Google kamipun keluar dari exit tol Cililitan 2 (kalau gak salah hahaha), lalu masuk ke jalan tol Cililitan 2 dan keluar melalui jalan Pramuka.
Dan saya terpana melihat apartemen Green Pramuka City, masih bagai mimpi, setelah beberapa bulan lalu saya mereview apartemen tersebut melalui websitenya, siapa sangka sekarang saya melihatnya langsung dengan warna bangunannya yang lucu-lucu.

Saya gak bisa menikmati keindahan kota Jakarta yang masih terbilang sepi, karena sibuk memelototin Google Map, jalur jalan yang bagai ular tangga bikin saya harus konsentrasi penuh agar si papi gak ngabisin waktu muter-muter karena salah jalur.
Dan benar adanya, karena si papi ikutan udik kayak saya melihat-lihat sana sini, kami salah ambil jalur dong saat melewati flyover Pramuka.

Bahkan sampai di depan masjid Istiqlal pun, kami harus muter lagi gegara salah mengerti perintah si mbak Google hahaha.
Dan akhirnya, setelah muter-muter berkali-kali, kami memasuki halaman parkiran masjid di pukul 11.00 kurang.
First time liat bajaj dari dekat :D

Suasana masjid masih terbilang sepi, sehingga kami masih bebas mencari parkiran di bawah pohon yang rindang, setelah parkir eh si bayi terbangun dong, dan si papi beserta kakak Darrell sudah gak sabaran pengen masuk masjid padahal waktu masih menunjukan pukul 11.05.
Mereka berdalih kalau sholat Jumat dimulai pukul 11.15, saya akhirnya membiarkan mereka masuk masjid meskipun masih agak gak konek, masa iya sholat Jumat mulai jam segitu.
Nantilah mereka sudah masuk baru saya sadar, bukannya di Surabaya sekarang mulai sholat Jumat pukul 11.45 menit? dan Jakarta lebih lambat mulainya dibanding Surabaya.
Terharu bisa sampai di depan masjid ini, meskipun gak sempat masuk :')

Benar adanya, saya harus menanti nyaris 2 jam dong di dalam mobil bertemankan si bayi yang cranky kegerahan.
AC mobil rasanya kurang oleh panasnya cuaca hari itu.
Sholat Jumat di masjid Istiqlal di mulai tepat pukul 12.00, dan berakhir di pukul 13.00.
Rasanya nyaris keluar tanduk saking bete menanti, hiks..

Sambil menanti saya berusaha mencari hotel yang terdekat daerah itu, alasannya biar gak harus muter-muter jauh lagi.
Sambil memegangin si bayi yang kebanyakan tingkah, saya mendapatkan bahwa Pop! Hotel Pasar Baru dan Red Planet Jakarta Pasar Baru adalah hotel dengan harga terjangkau dekat situ.
Sayangnya setelah melihat datanya melalui aplikasi booking online, ukuran kamarnya terlalu kecil dengan anak usia maksimal 5 tahun saja yang boleh stay gratis.

Sayapun mengurungkan niat untuk membooking lebih dulu dan bersama-sama menuju ke Monas saja terlebih dahulu.

Monumen Nasional atau Monas


Tidak mudah untuk memasuki kawasan dengan tugu yang menjulang tinggi tersebut.
Setidaknya kami harus nyasar dan mengulang kembali memutari depan masjid Istiqlal yang macetnya minta ampun akibat bubarnya jamaah sholat Jumat.
Pun setelah sampai di pintu bagian depan, ternyata mobil gak bisa parkir di situ, oleh petugasnya kami diarahkan parkir di samping yang ada tulisannya IRTI 3 (CMIIW).
Pas mau jalan si papi keder melihat keterangan ketentuan plat mobil Genap Ganjil yang melewati jalan tersebut.
(Atuh mah, rempong amir ya hidup di jekardah, lol)

Ternyata, menurut si petugas di daerah depan Monas, ketentuan tersebut belum berlaku, masih menanti Senin nanti. Dan si papipun melintasi jalan tersebut dengan plong.
Saat mencari tempat parkir IRTI tersebut, saya melihat seorang bapak-bapak berjualan es potong yang mirip banget dengan es potong yang biasa saya beli saat masih kecil dulu, sayangnya kami gak boleh menepi sembarangan, gak rela aja kalau nantinya kena tilang terus dimintai duit hehehe.
Jadilah kami melupakan si bapak penjual es potong tersebut dan masuk ke tempat parkir yang ternyata rame nya minta ampun.

Turun dari mobil disambut oleh kepala oleng dan sengatan sinar matahari yang terik.
Namun anehnya, seterik apapun mataharinya, gak juga menyengat kayak matahari di Surabaya.
Kami berjalan cukup jauh melewati penjual makanan hingga sampai di jalan menuju ke Monas.
Kamipun gak menanti lama, langsung berpose sebanyak yang kami bisa, kakak Darrell merengek pengen naik ke atas tugu, namun melihat antriannya emaknya langsung ngomel panjang kali lebar, lol.

Meskipun hanya sebentar di Monas, pun juga kami sama sekali gak terlalu mendekati tugunya, hanya dari jarak KM an juga, yang penting bisa mengambil gambarnya dalam foto hahaha.
Namun saya masih sempat bercerita tentang tugu tersebut pada si kakak.

Tugu Monas sekilas memang mirip tugu pahlawan di Surabaya.
Bedanya, kalau tugu pahlawan lebih kecil dan berbentuk seperti tiang dengan puncak yang lancip biasa. Sedangkan tugu monas lebih besar dengan bentuk seperti obor dan pada puncaknya terdapat bongkahan berbentuk api yang dilapisi emas.

Meskipun lebih besar, namun tugu monas sebenarnya merupakan 'adik' dari tugu Pahlawan.

Tugu pahlawan di Surabaya, dibangun pada tahun  1952 dengan tinggi 41,15 meter. Sedang tugu monas di Jakarta, dibangun pada tahun 1961 dengan ketinggian 132 meter.

Sayangnya kami gak punya banyak waktu untuk sekedar mendekati tugunya terlebih memasuki dalam musiumnya.
Menurut info, keadaannya hampir mirip dengan tugu pahlawan di Surabaya.
Semoga berikutnya bisa merencanakan liburan yang terencana di Jakarta lagi dan bisa menghabiskan banyak waktu di Monas, aamiin.
Monasnya masih jauh gak masalah, yang penting masuk frame, lol

Rasanya gak kuat kaki melangkah lebih dekat ke tugu monas :D

Bapak supir sekaligus fotografer yang selalu serba salah mengambil gambar model abal-abalnya :P

Ketika kakak Darrell masih anteng dimintain tolong ambil foto mami papinya

Capek, istrahat di taman sekitar monas yang rindang

Kakak Darrell mah gak bisa liat mainan nganggur

Ya ampun, bayiku sudah katcau tampangnya hiks
Setelah selesai mengambil foto dengan latar Monas, kamipun segera kembali ke mobil, perut sudah terasa keroncongan, terlebih juga kasian melihat si bayi yang terlihat kelaparan plus kelelahan plus kepanasan tersengat matahari di sekitar Monas.
Lalu, saat keluar parkiranpun kami meski drama lagi, si papi gak tau dong jalan keluarnya, lalu mengabiskan waktu nyaris setengah jam hanya untuk muter-muter lalu terhalang kemacetan di dalam parkiran hiks.

Setelah bebas dari parkiran Monas, kami pun berkendara tanpa arah, saya masih merindukan si penjual es potong yang membuat si papi keliling lagi muterin monas.
Sayangnya meski ketemu si tukang penjual es potong kami gak bisa berhenti seenaknya, lalu akhirnya papi mengambil jalan menjauhi daerah monas dan Alhamdulillah ketemu penjual es potong di pinggir jalan Kramat Raya (kalau gak salah).
Sayangnya, es potong yang papi beli gak sama dengan yang saya liat di pinggir jalan dekat Monas, yang ini bentuknya kayak es kue yang dicetak gitu, sayapun memakannya sambil manyun.

Namuuunnn, hanya dalam gigitan pertama, manyun saya menghilang dong, masha Allah... ENAK BANGET hahaha.
Saya kembali ngomel, mengapa papi pelit banget hanya beli 2, dan satunya saya kasih ke kakak Darrell yang meskipun agak batuk tapi gak tega juga kalau saya makan sendiri keduanya.
Saya kebagian rasa cokelat yang enak bangetttt, si kakak pun gak berhenti memuji kelezatannya padahal dia mendapatkan rasa nangka yang sebenarnya si kakak kurang suka rasa nangka.

Si papi berniat putar balik membeli es tersebut, tapi mengurungkan.
Waktu sudah menunjukan pukul nyaris pukul 15.00 dan kami belum makan siang sama sekali.
Pengen nyari tempat makan dulu, tapi keingat si bayi yang kayaknya lecek banget butuh mandi setidaknya ganti popok.
Sampai akhirnya kami lewat di sebuah hotel yang lumayan besar di jalan Kramat Raya, kami membaca kalau ada kolam renangnya, dan si kakak mulai ribut ngajak nginap di situ.

Lalu, bagaimana kah kelanjutannya?
Di manakah kami menginap hari itu?
Hotel apakah yang menarik meski sekilas terlihat seram di jalan Kramat Raya tersebut?

Nantikan postingan saya berikutnya yang bakal bercerita tentang malam hari kami nyasar ke mall yang salah lalu pulang dengan tetap kelaparan hahaha.
Lalu kegiatan besoknya yang mana kami kepo akan Kota Tua yang ternyata mirip gedung Grahadi di Surabaya hahaha.

Selengkapnya baca : Traveling Bersama Bayi (Part 3) - Dari Numpang Toilet di ITC Mangga Dua Hingga Foto Di Lorong IKEA


Ada yang sudah pernah naik ke atas tugu monas?
Share di komen yuk.

Semoga manfaat :)

TPJ AV - 04 Juli 2018

Love

4 comments:

  1. wah kebayang repotnya bawa Baby ya. sepertinya salah hari aja tuh mba ke monasnya. lain kali di hari yang lain lebih sepi, hari kerja gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget mba, tapi Alhamdulillah seru buat bonding keluarga.
      Emang kalau traveling itu goals nya lebih ke bonding :D

      Delete
  2. Ke Monas bolak balik nganter saudara cuma minta foto di depannya saja mereka, karena antrinyaaa..
    Untung sudah pernah sampai ke atas saya?
    Kapan? 10 tahun yang lalu hihihihi

    Alhmdulilah, sampai juga di Jakarta ya Mbak..Lain kali musti ketemuan kita!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah, sebenarnya saya juga mupeng mau naik, tapi enggak pakai antri gitu.
      Insha Allah kita meet up di Monas kayaknya seru ya mbak :D

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...