Saturday, July 07, 2018

Tentang Baby Adam Rayqal, SAHM dan Working Mom Serta Emak-Emak Hobby Ngebully

Sumber : Pixabay

Assalamu'alaikum :)

Sebenarnya pengen lanjutin nulis tentang liburan kemaren, tapi tetiba saya blank banget gegara nangis mewek pas baca kisah sedih si baby Adam Rayqal yang viral dan berkali muncul di timeline facebook saya seharian ini.

Adalah seorang bayi mungil yang lucu, yang hari itu dititipin di rumah pengasuhnya, yang entah  sang pengasuh  lagi bad mood atau lagi depresi, sehingga gak sabaran dan di getoklah kepala si bayi sehingga kepala bayi mungil tersebut retak dan menyebabkannya tiada (menurut berita yang beredar dari Google).
Astagfirullah, saya nangis nulis ini.



Konon kata berita yang berseliweran tersebut, baby Adam terpaksa dititipkan ke pengasuh karena ayah ibunya harus bekerja.
Ibunya, Farah Madi bekerja sebagai tenaga kesehatan di sebuah RS di Malaysia, dan kenyataan tersebut sukses membangunkan lagi tabuh genderang sindir menyindir antara Stay At Home Mom dengan Working Mom.

Meskipun sedih, naluri kepo ala emak-emak saya juga gak bisa diam, dari Google saya mengetahui akun facebook ibu dari baby Adam, dan masha Allah saya pikir cuman di Indonesia yang emak-emaknya norak suka membully, di Malaysia pun ternyata podho wae, *sigh.

Karena pekerjaan ibu baby Adam di RS, membuat banyak sindiran yang mengatakan, bahwa di saat dia (ibu baby Adam) menjaga anak orang, anak sendiri malah dititipkan ke orang lain untuk menjemput ajalnya.
Astagfirullah!!!

Gak bisa membayangkan deh.
Betapa panik sang ibu saat mendapatkan kabar (palsu) dari sang pengasuh bahwa bayinya dijemput oleh orang gak dikenal.
Dalam kalut teramat sangat memikirkan bayinya yang (kemungkinan) diculik orang, tiba-tiba mendapatkan kabar kalau bayinya telah diketemukan, akan tetapi dalam keadaan yang amat sangat dingin, kaku tersimpan di frezer sebuah lemari es.
Astagfirullah, ampuni kami ya Allah...

Begitu emosional bagi saya yang juga sedang memiliki seorang bayi, membaca kisah ini.
Sungguh patah hati teramat sangat.

Ketika Harus Menitipkan Bayi Ke Orang Lain


Jadi flash back beberapa tahun lalu, saat kakak Darrell masih bayi mungil yang suka nangis kejer karena kolik.
Menjelang usianya ke 2 bulan, kegalauan mulai melanda saya, Terpikir sebulan lagi saya bakalan masuk kerja. Kepada siapakah si bayi lucu tersebut bakal saya tinggalin?
Pilihan pertama adalah mencari seorang pengasuh yang bakal pulang pergi hanya untuk menjaga si baby Darrell.
Dan Alhamdulillah gak menunggu lama, kami akhirnya kedatangan seorang wanita usia sekitar 30 tahunan yang berniat membantu mengasuh baby Darrell selagi saya harus bekerja.

Perkenalan sudah dilakukan, gaji sudah deal, dan tatacara juga sudah deal.
Namun saya memintanya untuk tidak mulai bekerja dulu, sekalian saja ketika saya masuk baru dia mulai kerja.

Apakah masalah selesai?
Nope! Sepulang si mbak tersebut, tetiba saya makin galau saat melihat wajah baby Darrell yang tertidur nyenyak tanpa dosa tersebut.
Perasaan gak rela dan takut mulai menyelimuti.
Bagaimana bisa saya rela menitipkan bayi kecil tak berdaya ini ke orang lain yang baru saya kenal?
Bagaimana kalau si mbak gak sabaran menjaganya?
Bagaimana cara kami tau kalau si mbak ternyata galak?
Sungguh gak rela jika bayi yang kami cintai dengan nyawa, bakal diapa-apain oleh orang lain.

Perasaan tersebutlah yang membuat kami memutuskan kembali ke rumah mertua, dan akhirnya bisa lebih tenang meski juga gak melegakan banget saat meninggalkan bayi karena harus bekerja.
Baca : Tinggal Di Rumah Mertua? Asyik Aja Asal Memperhatikan Beberapa Hal Ini!
Terpaksa harus menitipkan bayi, akan bikin hati lebih tenang jika ada orang yang kita percaya seperti keluarga (kakek dan nenek). Agar tidak terlalu membebani, saya membayar seseorang untuk membantu pekerjaan mertua.
Meskipun demikian, semuanya bukanlah tanpa drama, ada masa saya galau gegara harus memilih antara pekerjaan dengan anak.
Karena memang lingkup pekerjaan saya di bidang kontraktor jalan, yang mana saat masa tender saya wajib lembur hingga malam.
Dan itu membuat mertua sedikit protes, karena mereka juga butuh istrahat dari menjaga bayi.

Hal tersebut belum terakumulasi dengan saat hari Sabtu yang mana saya tetap masuk kerja, sementara mertua harus ke sana ke mari menghadiri acaranya sendiri.
Seringnya saya terpaksa ngalah untuk bolos kerja, dan itu sungguh sangat membuat saya tertekan.

Karena itulah saya akhirnya memilih RESIGN!
 

Zaman Sekarang, Bahkan Seorang Ibupun Berpeluang Mencelakai Anaknya


Menurut berita berbahasa Melayu yang saya baca dari Google, baby Adam meninggal karena trauma di kepala, ada retak di kepala bagian belakang yang mengakibatkan pendarahan.
Dan menurut 'berita burung' yang berkembang, hal tersebut diakibatkan karena sang pengasuh berlaku kasar dengan menggetok kepala baby Adam, bahkan mengguncang-guncang badannya dengan keras karena si baby cranky.

Astagfirullah..
Membacanya saja saya jadi nangis, terlebih membayangkannya.

Rasanya ingin mendatangi si pengasuh, ingin menjambak rambutnya, menggetok kepalanya pakai centong biar kayak anak Roro Jongrang (eh bener gak sih cerita sang anak yang dipukul pakai centong itu Roro Jongrang?).
Biar dia rasakan kalau digetok itu sakit, terlebih buat bayi.
Ingin mengingatkannya sekali lagi, kalau dia tuh bekerja, DIBAYAR!!
Bukan jagain tanpa dibayar!
Sungguh sangat ingin menggetok kepala orang-orang yang mau terima uang saja tapi gak mau kerja pakai hati.

Tapi, setelah kemarahan sedikit berkurang, tiba-tiba saya terpikirkan.
Betapa sebenarnya bisa jadi si pengasuh itu gak sengaja melakukan hal sekejam itu.
Bisa saja memang kondisinya sedang depresi, tapi butuh duit sehingga kerja sebagai pengasuh.
Alhasil, sebagai wanita yang memang rentan depresi, jadilah berdampak buruk bagi anak yang diasuhnya.

Jangankan pengasuh yang mengasuh anak orang lain.
Zaman sekarang, seorang ibupun sangat berpeluang mencelakai anaknya.

Contohnya saya yang gak sabaran pada si kakak Darrell dan mendorongnya hingga giginya tanggal hiks hiks hiks..
Baca : Pengalaman dan Biaya Konsultasi Ke Dokter Spesialis Gigi Anak Di Surabaya
Bahkan di tahap yang lebih parah, adalah seorang ibu yang tega membunuh anaknya karena depresi.

Lalu, alasan apa yang membuat kita berharap, orang lain yang sama sekali gak punya hubungan darah terhadap sang anak, tidak akan berbuat hal yang lebih mengerikan?


Menjadi Working Mom VS Stay At Home Mom


Keputusan telah diambil, meskipun dengan jalan sedikit drama, Alhamdulillah semua bisa berlalu.
Berikutnya, bahagiakah saya dengan pilihan menjadi SAHM?

Tidak!

Kalau dibilang senang ya senang, tapi bahagia? saya rasa tidak!
Terlalu banyak tekanan.

Dari ungkapan kekecewaan orang tua maupun mertua.
Orang tua sih beralasan untuk kecewa, karena saya tau betapa mereka bekerja keras tanpa peduli dirinya sendiri hanya untuk menyekolahkan saya dan berharap saya bakal jadi wanita yang mandiri dalam hal keuangan.
Kalau mertua, entahlah!

Belum lagi masa-masa transisi dari yang biasanya sibuk dan teratur waktunya, menjadi independent dalam mengatur waktu yang seringnya sih gak keatur hiks.
Terlebih setelah memutuskan jadi SAHM, saya malah pindah ke luar Surabaya mengikuti suami, ke sebuah kota yang membuat saya kangen selalu akan Surabaya.
Baca postingan saya saat sedang di atas depresi : Feel Bad this Day (again) / Kadang sangat BOSAN hidup seperti ini / Benci Kota Jombang / Kangen Surabaya
Butuh waktu lama sehingga saya bisa menjadi orang normal dan menerima keputusan sendiri dengan bahagia.
Setidaknya saya harus meyakinkan hati sendiri, apakah salah keputusan saya menjadi SAHM dengan kembali menjadi Working Mom di tahun 2015 lalu.
Syukurlah, hanya berselang setahun, saya akhirnya sadar.
Menjadi SAHM itu bukanlah sebuah pilihan, tapi sebuah jalan hidup yang seharusnya.

Ada banyak banget hal-hal positif yang terjadi saat saya menjadi SAHM yang sebelumnya tidak terlihat oleh saya karena ditutup oleh kurangnya rasa syukur.

Anak yang akhirnya bisa tumbuh besar dengan sehat tanpa berkali-kali berurusan dengan dokter anak hingga professor karena sakit mulu.
Baca : Ketika Darrell Harus Mengkonsumsi Obat Rimstar Selama 6 Bulan
Sementara itu, di luaran sana, pertempuran sindir menyindir antara Working Mom dengan SAHM terus berjalan.
Khususnya di saat ada kejadian sedih seperti kisah tragis baby Adam Rayqal, maka dengan penuh 'bengis' para SAHM mengshare apa saja hal yang berkenaan dengan kisah tersebut.
Ditambah embel-embel
"Untung saya sudah resign dari kerjaan"
"Makanya anak itu diurus sendiri, jangan malah dititipkan ke pengasuh demi mengejar harta"
 "Alhamdulillah saya urus sendiri anak-anak"
Dan semacamnya.
Bahkan di Malaysia sendiri, negara tempat baby Adam berasal, lagi heboh banget pertarungan sengit antara ibu bekerja dan ibu rumah tangga.

Duhai Emak, Malulah Jika Kau Suka Bernafsu Mengurusi Urusan Orang Hingga Pada Tahap Membully


Seperti di Indonesia, di Malaysia pun juga sama, emak-emaknya pada hobi membully, entahlah.. sepertinya memang banyak banget emak yang lupa bersyukur hingga hidupnya gak bahagia seperti saya dulu dan melampiaskan dengan cara membully ibu lainnya.

Kalau sedih dan patah hati melihat baby Adam, bolehlah..
Tapi tahanlah jari kita untuk tidak membahas hal lain, misal menyalahkan ibunya karena tega menitipkan baby Adam ke orang lain, hanya demi bekerja mengumpulkan uang.

Plis deh, kita gak pernah tau apa alasan ibu baby Adam harus bekerja.
Karena menurut pengalaman saya, 99% ibu bekerja karena TERPAKSA oleh beberapa alasan.
Hanya 1% saja yang mengejar kekayaan demi sebuah eksistensi.

Jadi, bantulah sesama ibu untuk mengumpulkan hatinya yang terserak terbawa bayinya di alam Surga.
Bantulah dengan memberikan waktu untuk dia menangis karena memang sedih, jangan lagi tambah air matanya dengan penghakiman kita yang menuduh dia melakukan hal tersebut dengan sengaja.

Bantu ibu Farah Madi, untuk bangkit bersemangat dalam keterpurukannya.
Dengan cara menahan diri untuk mengupload foto-foto bayi nya, termasuk foto si pengasuh terlebih foto jenazah bayinya.

COBALAH TANYAKAN PADA HATI NURANI KITA.

SEANDAINYA, FOTO TERSEBUT ADALAH FOTO ANAK KITA, BAYI KITA, YANG TELAH MEMBUJUR KAKU DAN BEREBUT DI FOTO EMAK LAINNYA DEMI SEBUAH EKSISTENSI DUNIA MAYA YANG TANPA FAEDAH.

KIRA-KIRA BAGAIMANA PERASAAN KITA??

Duhai emak.
Kita sesama wanita, perasaan kita hampir sama karena gender kita sama.
Plis, berbaik hatilah kepada sesama kita.
Berdamailah dengan diri sendiri.
Agar waktu kita habis kita nikmati dengan bahagia bersama keluarga.
Bukannya menghabiskan waktu dan energi untuk sibuk membully wanita lainnya.

Allah..
Mohon lindungi anak-anak kami..
Dari kami, para ibu yang mungkin depresi kelelahan sehingga tak sadar mencelakai anaknya sendiri.
Dan dari kami, para ibu yang terpaksa menitipkan anak ke orang lain padahal kami tau, anak tersebut milikMu dan Kau titipkan pada kami para ibu.
Dari para pengasuh, yang sudah diamanahi menjaga milikMu yang tanpa dosa itu, dan ternyata juga gak sabaran hingga sabar depresi.

Semoga anak kita semua, selalu dilindungiNya, aamiin.

TPJ AV - 07 Juli 2018

Love

6 comments:

  1. Ahh sedih baca beritanya, apalagi komen sesama ibu yang menghujat semoga mom Adam diberikan kekuatan dan kesabaran aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin, iya bener banget ya, jadi semacam ikut merasakan kesedihannya yang mendalam :'(

      Delete
  2. Aku nangis baca berita baby adam itu.ga kebayang perasaan ibunya :(. Lgs meluk anakku yg bungsu abis baca berita ini mba. Tapi ttg bullyan yg terjadi, ato perang argumen yg ga bakal abis itu, sudahlah, aku ga mau ikut2an. Aku toh working mom juga. Aku nitipin anak2ku ke babysitter bukan tanpa alasan. Krn itu aku ga bakal menjudge ibunya baby adam ini, krn siapa aku yg ga tau latar belakang dia. Tuhan aja ga pernah mau judge hamba2nya. Kenapa malah manusia yang jd sombong seolah merasa paling benar :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedihnya berlipat mba, karena anaknya yang harus pergi dengan targis plus kelakuan orang-orang yang ga punya hati hiks

      Delete
  3. Ah ikut teriris baca kisah baby adam. Saya pun termasuk yang pernah nitipin anak ke pengasuh di rumah tapi sama tetangga saya minta tolong lihat-lihatin, dengar-dengar kalau anak tiba-tiba nangis kejer. Walau bgtu cuma tahan beberapa bulan aja, lebih nyaman ngajak mertua tinggal di rumah untuk bantu jaga.

    Bener banget mba, kita sesama ibu dan sesama perempuan harus saling support dan empati. Singkirkan ego untuk menghakimi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget mbaaaa...
      Saya paling takut ninggalin bayi berdua aja ama orang asing.
      Harus ada sodara atau mertua/ortu yang ngawasin.
      Thats way saya gak bisa kerja kantoran hiks, gak ada sodara atau ortu atau mertua yang bisa ngawasin anak.

      Tapi apapun itu, semoga Allah selalu menjaga anak-anak kita yaa, aamiin :)

      Delete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...