Monday, October 05, 2020

Gagal Masuk PTN Karena Nggak Pintar? Masa Sih?

Gagal Masuk PTN

Sharing By Rey - Jika PTN adalah tolok ukur kepintaran seseorang, saya rasa itu kurang bijak, karena sebagai alumni perguruan tinggi swasta, saya tahu banget, kalau bahkan di sebuah perguruan tinggi swasta yang kurang terkenal kayak kampus saya dulu, ada banyak kok orang-orang yang pintar.

Jadi, adalah hoax jika ada yang mengatakan, seseorang yang nggak lulus PTN karena ybs tidak pintar.
Btw tema tulisan ini udah lama ngendon di draft, dan ternyata bermanfaat banget, ketika saya lagi nggak ada ide yang bikin saya mood buat ditulis.

Saya buka draft dan menemukan judul ini, dan jadi teringat, ketika saya menuliskan judul ini, sesaat setelah telponan dengan kakak saya, dan kami rumpiin salah satu keponakannya yang sedang menanti berita kelulusannya di sebuah PTN di Jawa Tengah. 


Masa Kecil Penuh Prestasi Sekolah


Kakak saya bilang, katanya bakal terlihat jelas deh, benar nggak hal yang dibanggakan orang tuanya, yang selama ini begitu rajin membanggakan anaknya, yang katanya pintar di sekolah.

Gagal Masuk PTN Karena Nggak Pintar? Masa Sih?

Oke baiklah, saya mencium sebuah aura rasa tak nyaman, ya mungkin karena sikap berlebihan orang tuanya dalam pamer anaknya, atau juga sikap berlebihan si pendengar kata-kata orang tua yang membanggakan anaknya.

Dan semua itu bikin saya baper, teringat bagaimana kejadian puluhan tahun lalu, saat saya kecil, dan bagaimana prestasi saya di sekolah.

Saya nggak bakal mengatakan kalau saya pintar dari lahir, mungkin juga karena punya bapak diktator kali ya, di mana bapak hanya akan memberikan kami pilihan.

Sekolah dan harus pintar dengan bukti harus juara 1 terus, atau nggak usah pintar jadi nggak usah sekolah sekalian, hahaha.

Ya jelas saja saya memilih sekolah dan harus pintar.
Bukan karena saya sedemikian inginnya sekolah dan jadi orang pintar, tapi memang saya bosan dikurung mulu di rumah, saya butuh keluar ketemu teman-teman.
Dan itu hanya bisa saya lakukan kalau saya sekolah.

Dan jadilah, masa kecil saya dulu, khususnya di SD, penuh dengan hal-hal yang membanggakan orang tua. Di mana saya selalu saja menduduki tampuk juara, bahkan bisa dibilang langganan juara atau rangking 1. 

Ketika kelulusan SD pun, saya berhasil mengharumkan nama orang tua, khususnya bapak yang gemar memamerkan prestasi anak-anaknya di sekolah, dengan berhasil mendapatkan nilai tertinggi se wilayah rayon sekolah.

Bukan main senangnya bapak saya, dia bisa lebih sombong lagi memamerkan prestasi saya, dan hadiah untuk saya ada?
Ada dong, yaitu saya dibolehkan meneruskan sekolah di SMP, hahaha.

Di sekolah menengah pertama, prestasi saya sedikit menurun, saking udah kecanduan baca novel, hahaha. Saya bahkan pernah jadi juara 3, dan sukses bikin bapak marah dan memukul betis saya, lalu melarang saya sekolah.

Beruntung akhirnya dibolehkan lagi saya kembali bersekolah, meski prestasi yang saya dapatkan di sekolah nggak lagi secemerlang ketika SD.
Sungguh ya, godaan baca buku atau novel itu bikin saya kesulitan untuk kembali fokus ke pelajaran sekolah.

Karenanya, bukanlah hal yang aneh, jika saya setiap saat terlihat begitu rajin belajar, membaca buku pelajaran sekolah, padahal ya dibalik buku itu isinya novel, hahaha.

Walaupun demikian, saya masih bisa sih bersaing, hingga masuk STM, saya masih berada di antara siswa-siswa yang bisa diandalkan dalam hal pelajaran.

Sampai akhirnya di kelulusan STM, saya lulus meski nilainya tidak sebaik ketika SD.


Cerita Dua Kali Gagal Masuk PTN


Dan di sinilah perjuangan dimulai, ketika saya lulus STM.
Bapak yang galak tersebut sesungguhnya sekaligus bapak yang sangat baik dalam hal memberikan kebebasan bagi kami anak-anaknya, untuk memilih sendiri masa depannya gimana.

Gagal Masuk PTN Karena Nggak Pintar? Masa Sih?

Dan bapak membebaskan saya memilih di manapun saya kuliah.
Dan dasar ye dulu masih jadoel, informasi masih sangat terbatas, jadilah saya memilih sekolah lanjutan saya berdasarkan ikut-ikutan teman.

Begitulah, saya jadi ikutan teman untuk mendaftar di universitas negeri di Kendari, Universitas Halu Oleo (Unhalu), dengan jurusan D3 Tehnik Arsitektur.
Dulu adanya cuman D3, belum ada S1 (iyaaaaa, saya setuw eh sesenior itu, hahaha).
 
Tidak ada alasan mengapa saya memilih jurusan arsitektur, semua karena ikutan teman-teman, khususnya teman yang terbilang akrab buat saya.
Di mana mereka beranggapan, kalau jurusan Tehnik Arsitektur itu jauh lebih santai dari jurusan Tehnik Sipil yang isinya perhitungan melulu.

Ya sudah deh, saya ikutan mendaftar di jurusan tersebut, menjalani test UMPTN, dan hasilnya? 
Kagak lulus, hahahaha.

Saya ingat banget bagaimana berita ketidak lulusan saya tersebut, cukup menghebohkan daerah tempat saya bersekolah SD, hampir semua guru SD saya dahulu sangat tidak percaya, mengapa saya bisa nggak lulus UMPTN?

Meski jujur saya sedih, tapi saya bisa segera menepisnya, terutama di tahun itu adik saya meninggal dunia. Mama saya terpukul luar biasa, dan saya jadi mengerti mengapa saya nggak lulus UMPTN saat itu, mungkin agar disuruh nemanin mama sejenak dalam melewati kesedihannya.
Dan begitulah, setamat STM saya akhirnya menganggur setahun, sebelum akhirnya meneruskan kuliah.

Setelah beberapa bulan menganggur, mama jadi gerah dengan omongan orang yang mana mereka pikir saya nggak mau meneruskan kuliah dan ingin menikah saja.
Mama akhirnya memberikan hadiah agar saya berjalan-jalan ke Surabaya, dan bisa mengikuti bimbingan belajar agar siap masuk ke UMPTN berikutnya.

Keputusan mama memang beralasan, menganggur setahun cukup bikin otak saya cuman terisi dengan buku bacaan atau novel yang bisa saya pinjam dari sepupu saya, main sama anak ayam dan anak bebek, atau bantuin mama masak dan beberes, merawat bunga-bunga di halaman.

Pokoknya seputaran itu saja deh, dan mama saya ingin saya ikutan bimbel biar saya bisa kembali mengingat pelajaran dan siap lulus UMPTN.

Berangkatlah saya ke Surabaya, dan oleh om saya dipilihnya sebuah bimbel yang bikin saya esmosi, karena om saya milih lokasi bimbel yang mengharuskan saya naik angkot 2 kali baru nyampe.
Saya masuk di bimbel Teknos (kalau nggak salah) di daerah Kapas Krampung Surabaya.

Padahal yang lokasi bimbel lainnya dengan 1 kali naik angkot saja juga ada.
Sungguh om saya bikin bangkrut aja, hahaha.
Apalagi memang saat itu, nggak ada sama sekali yang bisa antar jemput saya, karena om sedang menjalani masa pendidikan Provost di Malang. 

Setelah beberapa waktu ikutan bimbel, tibalah juga saat mengikuti UMPTN, dan saya lupa (pikun amat sih, hahaha), tapi kalau nggak salah saya akhirnya memilih jurusan Teknik Sipil, dan menyalahi janji saya kepada mama untuk kuliah di Kendari.

Saya milih Teknik Sipil ITS (Surabaya), Teknik Sipil Unhas (Makassar) atau tetep di Surabaya ya? (lupa) dan IPS (kalau nggak salah hubungan luar negeri or something gitu) di Unibraw (Malang).

Dan hasilnya?
Sukses nggak lulus (lagi!), hahaha.

Saya ingat bagaimana sedihnya mengabarkan hal itu ke mama di Buton, saya tahu mereka pastinya sedih plus malu mengingat saya gagal untuk kedua kalinya masuk PTN, dan saya bersiap pulang ke Buton, entah nggak kuliah, atau kuliah di PTS di sana.

Tapi entah mama merasakan kesedihan saya, atau mungkin mereka malu karena saya 2 kali nggak lulus UMPTN, mama lalu menawarkan saya kuliah di PTS Surabaya saja.
Dan mama membebaskan saya milih jurusan maupun PTS mana saya yang mau saya masuki.

Uwow nggak sih?

Meski saya masih ternganga-nganga ketika mengabarkan saya memilih salah satu PTS yang biasa aja sebenarnya, tapi saya sadar dengan perekonomian orang tua yang sangat pas-pasan.
Tapi menurut saya, uang masuk serta SPP di kampus tersebut fantastika banget!

Ya maklum dah, sejak SD hingga STM, paling mahal bayar SPP 3ribuan atau seribuan ya, sebulan?

Sementara masuk PTS kudu bayar jutaan, dengan SPP ratusan ribu (waktu itu amat fantastik menurut saya). Dan suprised kata mama, boleh aja nanti diusahain duitnya.

Begitulah, meski saya sedih mengecewakan ortu kedua kalinya, tapi akhirnya saya bisa kuliah di Surabaya, kota yang sudah bikin saya jatuh cinta ketika pertama kali mengikuti bimbel.
Ya iyalaaaahhh, kapan lagi coba bisa bebas dari orang tua dan keluarga, hahaha. 

 

Tidak Masuk PTN Bukan Berarti Nggak Pintar


Lucky me, waktu masuk SD usia saya masih unyu-unyu.
Sehingga, ketika kembali ke bangku perkuliahan setahun kemudian, usia saya masih terbilang normal berbanding dengan teman-teman, bahkan masih ada beberapa orang yang lebih tua dari usia saya, padahal mereka nggak pernah nganggur.

kuliah di PTS bukan berarti nggak pintar

Hal itulah yang bikin saya sama sekali nggak tertarik dengan teman seangkatan.
Karena selain saya nggak suka menjalin hubungan dengan yang usianya sebaya, apalagi dengan brondong, mengingat kenyataannya sebenarnya, teman seangkatan saya itu adalah adik kelas saya.

Setelah kuliah di Teknik Sipil, saya baru ngeh, betapa sungguh konyol alasan saya ikutan teman-teman mengambil jurusan Teknik Arsitektur dulunya, hanya karena jurusan Teknik Sipil ngitung mulu.

Kenyataannya ya di jurusan Teknik Arsitekturpun tidak sesantai yang saya dan teman-teman bayangkan dulunya.
Dan meskipun saya kudu mengulang Kalkulus 1 (matematika dasar) sebanyak 3 kali, hahahaha.
Saya akhirnya bisa lulus kuliah dengan waktu yang normal, dan IPK yang lumayan membanggakan.

Dan selama kuliah, saya tahu betapa banyak teman-teman saya yang pintar-pintar, jadi kata siapa orang yang tidak masuk PTN adalah orang yang nggak pintar?

Karena saya nggak merasa secerdas para ilmuwan sih ya, tapi saya nggak merasa bodoh juga, dan terbukti dari nilai saya yang bisa bersaing juga (selain Kalkulus ya, hahaha).
Adalah mengherankan, mengapa Kalkulus 1 saya blank, sementara mata kuliah yang menurut semua anak Teknik itu sulit, seperti Mekanika Teknik atau Mekanika Rekayasa, saya lancar-lancar aja, hahaha.

So, adalah hoax jika nggak lulus PTN adalah nggak pintar, bisa jadi memang jalannya nggak ada di PTN. 
Kayak saya, entah gimana ya ceritanya saya jika masuk PTN, sementara saya ketemu jodoh ya ketika kuliah di PTS tersebut.

Tapi memang sih ya, stigma masyarakat yang menganggap, semua mahasiswa PTN adalah pintar, yang buangan semua di swasta, itu terus bertahan.
Apalagi di daerah-daerah kecil kayak di tempat kakak saya, di mana prestasi yang tampak itu nggak bisa diganggu gugat.

Di mana anak yang lulus PTN adalah pintar, apalagi bisa sekali test bisa lulus PNS, wah double pintarnya tuh (menurut mereka).

Sementara kenyataannya, mahasiswa PTS, even yang kurang terkenal juga bisa menunjukan kepiawaiannya dalam dunia kerja.
Meskipun untuk beberapa perusahaan udah kayak dikuasai alumni PTN, akan tetapi, alumni PTS juga banyak yang menorehkan prestasi, baik di perusaahan besar, baik dalam negeri maupun perusahaan asing, hingga mendirikan bisnis sendiri.

Jadi, kalau ada yang bilang gagal masuk PTN adalah nggak pintar.
Mungkin yang bilang itu yang nggak pintar *eh, hahaha.

How about you, temans?

PS : btw, maaf belom sempat balas komen dan berkunjung ya temans, mamak Rey lagi (sok) sibuk, hahaha.


Sidoarjo, 5 Oktober 2020

Sumber : pengalaman dan opini pribadi
Gambar : Canva edit by Rey

18 comments:

  1. Aku g sebebas itu Mbak Rey.
    Jadi bisa dibilang aku g punya pengalaman masuk PTN karena diarahkan untuk sekolah di sekolah pilihan mereka.
    To be honest ada rasa tertekan Mbak, kesannya aku tidak boleh memilih apa yang aku suka. Yah walaupun akhirnya aku cerna dengan baik bahwa niat mereka itu demi kebaikanku.
    Sekarang ketika aku bekerja, mereka tidak terlalu ikut campur, walaupun ada 1 atau 2 hal yang diharapkan, tapi setidaknya karena aku sudah lebih berdaya dari sebelumnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tetap semangat mbak Pipit, mungkin orang tua mengarahkan mbak masuk ke sekolah pilihan mereka agar masa depan mbak Pipit lebih baik walaupun kadang memang tidak sesuai dengan keinginan kita.

      Delete
    2. Semangat Pipit.. Jalan yang sudah ditempuh, tuntaskan. Pasti disana ada kebaikan yang belum terlihat.

      Buktinya sekarang Pipit sudah bekerja dan sedang menggapai kesuksesan. Kadang jalan berliku dan berat harus ditempuh.

      Delete
    3. Semangat Pipit sayang, sebenarnya mau dipilihkan atau pilih sendiri, semua ada plus minusnya.
      Kalau saya memang basicnya ortu pecinta kebebasan banget.
      Maklum mereka juga menikah dengan membangkang dari keluarga, jadi mereka udah tahu rasanya disetir itu nggak enak, makanya mereka selalu membebaskan kami memilih apa yang kami suka :)

      Delete
  2. Ada rasa haru baca cerita mbak Rey bahwa meskipun bapaknya galak tapi tetap memberikan kebebasan mbak mau pilih jurusan saja, bukan harus jadi dokter atau apapun, terserah anaknya ya.

    Oh ternyata pernah ditolak dua kali waktu mau masuk perguruan tinggi negeri ya mbak, pasti sedih ya apalagi orang tua yang membiayai. Tapi Alhamdulillah akhirnya diterima di PTS ya.

    Setuju mbak, kalo tidak diterima di PTN itu bukan karena kurang pintar tapi karena belum beruntung saja. So, buat yang belum diterima PTN tetap semangat.

    Kalo saya sih tidak di terima di PTN ataupun PTS karena kata bapak saya sekolah tidak perlu tinggi tinggi, yang penting bisa baca tulis dan berhitung, itu saja, karena untuk mengurus warteg tidak perlu kuliah katanya.😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas, sisi baiknya ortu saya, mereka diktator waktu saya kecil, tapi setelah gede, semua hal dibebaskan, makanya sungkan kalau mau ngeluh atau nyusahin mereka lagi, karena semua ini adalah pilihan sendiri :D

      Semangat Mas, nanti anaknya insha Allah bisa sekolah setinggi mungkin, aamiin :)

      Delete
  3. Sepertinya memang udah jalan hidup Kak Rey menempuh jalan kuliah seperti itu, kalau nggak seperti itu, kemungkinan nggak akan ketemu paksu kan 🤭

    Menurutku, lulus PTN itu juga ada faktor keberuntungan di dalamnya 😂. Ada anak yang nggak pintar juga bisa tembus PTN, begitu juga sebaliknya, jadi kesannya seperti ada faktor keberuntungan ketika ingin menempuh PTN 😂

    Oiyaa, nggak apa kalau Kak Rey belum sempat balas komentar. Take your time~ aku juga balas komentarnya lama banget 🙈

    ReplyDelete
  4. Sumpah Rey, gue anak PTN tapi sebenarnya jauh dari kata pintar... Rejeki dan keberuntungan saja yang bikin saya bisa masuk salah satu PTN.

    Saya juga berpandangan sama, bahwa PTN itu hanyalah opsi yang bisa diambil seseorang untuk kuliah. Tidak berarti apa-apa. Pandangan umum bahwa yang masuk PTN pasti orang pinter dan yang tidak masuk orang bodoh bentuk penyesatan saja.

    Pengerdilan cara berpikir.

    Paling banter juga karena masalah gengsi-gengsian antar orangtua.

    Banyak teman saya yang pinter masuk PTS dan kemudian sukses, tidak sedikit teman saya yang masuk PTN dan kemudian blangsak hidupnya.

    Karena itulah saya membebaskan si Kribo untuk memilih jalan hidupnya. Kebetulan dia memilih satu universitas swasta karena disana ada jurusan yang diminatinya. Dia sama sekali tidak mencoba untuk ikut tes masuk PTN jenis apapun.

    Dan, saya pikir dia enjoy dan menikmati kuliahnya.

    Apakah karena dia tidak pinter? Terserah kata orang saja.. saya mah ga peduli. Paling juga kalau ada yang ngomong di depan saya begitu, saya cuma nyengir sambil ngeloyor karena percuma berbicara dengan orang berpikiran sempit kayak gitu mah.. capeekk..

    Untungnya di rumah nggak ada yang berani bilang begitu tentang si Kribo karena mereka tahu kemampuan si Kribo.. hahahaha..

    So, yang ini saya setuju dengan pandangan Rey..

    PTN hanyalah opsi dari banyak opsi . Tidak menunjukkan apapun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan sebelum baca komen ini, saya liat videonya si Nash Daily di FB dong Pak, di mana dia mempekerjakan semua orang yang bukan sarjana.

      Semua pekerjanya itu pernah kuliah, tapi akhirnya DO dengan beberapa alasan, kebanyakan karena biaya.

      Jadi jangankan kudu harus PTN ya, bahkan yang nggak lulus juga bisa berkarya :D

      Delete
  5. aku nggak setuju kalau orang yang gagal masuk ptn karena nggak pintar, selama ini mindset orang "tersettingnya" seperti itu. aku dulu berhasil masuk PTN juga ketar ketir, ikut ujian "keterima apa enggak ini", alhamdulilah masuk
    dan pilihannya malah ada yang di Unhas sana, hahaha. Karena mikirnya nyari yang saingannya dikit. padahal semua universitas ternama di tiap provinsi pasti banyak saingan
    malah kalau nggak berhasil lulus, kemungkinan masuk ke swasta di surabaya. memang biayanya lebih gede.
    sekarang universitas swasta bagus bagussss kualitas dan kurikulumnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa, sekarang universitas swasta hampir menyamai negeri deh, apalagi sekarang negeri juga mahaaalll hahahahaa

      Delete
  6. Ternyata yg lulus PTN and lulus PTS, pas ketemu di kantoran kwalitasnya sama tuh...
    Bahkan bisa terbalik, yg lulus PTS, punya perusahaan, and yg lulus PTN malah nyari kerja/melamar kerja di kantornya hehe..

    Sekarang ada PTS yg untuk tes masuknya aja sulit. Trus isinya org2 pinter tuh.. jadi yg gak berhasil masuk PTN itu bukan nggak pinter, tapi, pas lagi gak hoki ajah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, saking hampir semua perusahaan liatnya PTN, alhasil yang PTS nggak keterima, lalu mereka buka perusahaan aja :D

      Delete
  7. Betoooool, yg bilang kurasa ga pinter Rey, makanya sampe bilang gitu :p. Masuk PTN itu menurutku ada faktor Luck juga. Bukan berarti ga pinter.

    Aku sempet ketrima PMDK, yg tanpa tes itu, di IPB jurusan ilmu nutrisi makanan ternak. Tapi ga kuambil. Yakaliiiii aku bakal mau jadi peternak ato yg berurusan Ama peternakan :p. 1-1 nya hewan yg aku cinta cuma kucing pula.

    Dulu yg ngedaftarin aku ikut PMDK guruku. Aku sih iya iya aja, mikirnya ga mungkin luluslah. Itukan hrs anak yg nilai IPA nya kuat. Lah aku kimia, fisika matematika aja tiarap semua :p. Ga ngerti juga tuh kenapa aku bisa lulus . Makanya ku bilang ada faktor luck pasti.

    Yg aku ambil malah PTN universitas Syiah Kuala (Unsyiah) di Banda Aceh, jurusan akuntansi. Itu juga cm 3 semester trus aku lgs dikirim papa ke Penang untuk sekolah sana aja, barengan adekku. Jd ktanya biar sekalian dikunjungin. Di Penang aku masuk swasta Krn pendaftaran murid baru utk negri udh tutup. Tp swasta msh buka.

    Intinya, tergantung murid lah yaaa :p. Kalo dasarnya memang pinter dan mau belajar, mau di swasta ato negeri ya pasti bisa lulus dgn baik :D. Kalo pinter, tp males2an, mau di universitas nomor 1 juga ga bakal lulus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbaaa, kok keren ya papanya, bukannya kirim ke Jakarta, malah keluar negeri hahaha.

      nah iya ya, semua itu ada faktor luck nya, bahkan dalam berbisnis sekalipun, meski kita udah kerja keras, kalau belum luck jadinya belom maksimal :D

      Delete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)