Tugas Istri Identik Dengan Patriarki ?

tugas istri identik dengan patriarki

Sharing By Rey - Apa sih tugas istri yang sebenarnya?
Kalau nanya lelaki egois, apalagi yang (katanya) paham agara Islam (khususnya), dijamin jawabannya bikin sakit hati perempuan.

Bukannya karena melawan hukum Islam, tapi cara pemahaman si lelaki itu mencerminkan Islam itu jahat pada wanita.

Kesannya patriarki banget.


Berbeda kalau menanyakan kepada seseorang yang mempelajari Islam karena Allah, bukan karena kepentingannya.
Insha Allah jawabannya bikin adem hati banget deh.
Meskipun tetap ada juga yang memahaminya sebagai patriarki.

Mengapa?

1. Kebanyakan lelaki yang paham agama Islam, menginginkan istrinya lebih banyak di rumah.


Ini bukan survey keseluruhan ya, tapi kebanyakan kalau saya ngobrol dengan teman lelaki yang (terlihat) alim, ye kan yang tahu hatinya alim atau enggak kan cuman Allah. Makanya saya tulis (terlihat) alim, lol.

Orang-orang seperti itu biasanya selalu menginginkan istrinya di rumah saja dengan berbagai alasan, di antaranya :

  • Agar bisa fokus mengurus anak dan suami.
  • Agar terjaga dari fitnah (ditaksir orang dan semacamnya)
Terbaca masuk akal kan ye, akan tetapi tidak sedikit juga, wanita di zaman sekarang yang mengaitkan hal itu semacam aroma-aroma patriarki.




Kebanyakan akan beralasan, bahwa perempuan bekerja di luar itu sah-sah saja, selama masih bisa mengurus anak dan suami, serta bisa menjaga diri.

Yang menjadi masalah adalah, kalau si wanitanya modelnya kayak saya, yang mana amat sangat tidak mungkin mengerjakan sesuatu dengan seoaruh-separuh, dijamin point penting tentang mengurus anak dan suami tentunya tidak bisa saya lakukan.

Jangankan kerja diluar ya, kerja dari rumah kayak gini juga ya sulit kalau harus sepenuhnya urus anak dan suami juga.

Lalu untuk point terjaga dari fitnah, sebenarnya bahkan dari rumah pun bisa kena fitnah, melalui selfie yang diposting di medsos, lol.


2. Kebanyakan lelaki yang paham Islam bahkan melarang istrinya cari uang meski dari rumah


Alasannya ya sama dengan sub point di atas, karena para suami tersebut menganggap, jika istrinya sibuk cari uang makan anak dan suami akan terbengkalai.

Well, untuk ini saya setuju sih.
Ya mungkin karena saya bukan tipe wanita yang bisa multi tasking dengan hebat, saya bisanya mono tasking dengan cepat.




Jadi nggak mungkin banget, bisa mengerjakan 2 sampai 3 hal secara bersamaan dengan hasil yang perfect, bisa sih, tapi ya nggak sempurna.
Dan kerjaan asal itu sungguh sulit dipakai buat bersaing di zaman now.

Tapi ada juga loh wanita yang menganggap bisa cari uang dari rumah tapi masih bisa mengurus anak dan suami.
Ya karena tiap wanita itu kan beda-beda.


Tugas Istri Identik Dengan Patriarki?


Kalau saya dengarin beberapa ceramah dari youtube (iyaaa, judge me, emang saya nggak pernah ikut pengajian lol), sebenarnya tugas istri itu ada 2, yaitu

1. Mematuhi suami.


Dalam hal ini juga termasuk dalam menyenangkan suami.
Serem ya, kita sebagai istri itu nggak ada sama sekali alasan, WAJIB patuh sama suami!
Makanya, itulah pentingnya taaruf yang kompeten.

Maksudnya, bukan cuman ketemu lalu setuju, tapi ada pengenalan lebih dalam, bagaimana visi misinya, sama nggak dengan visi misi kita? apa hobinya? apa kekurangannya?




Meskipun nggak dijawab dan diperlihatkan secara jujur banget, tapi minimal kan ada omongan, pun juga itu disaksikan pihak ketiga, secara taaruf itu nggak boleh dua-duaan aja.


Nah kalau kebetulan dapatnya suami yang identik kayak saya tuliskan di atas tadi, ya say babay deh ama kerjaan di luar rumah, say babay juga sama cari duit dari rumah.

Kecualiiii, memang sudah disepakati bersama bahwa istri masih bisa kerja di luar, asalkan batasnya jelas, misal suami dan anak tetap terurus, dan makna terurusnya di sini pun wajib dibahas sejelasnya, kayak gimana sih terurusnya.


2. Menjaga kehormatan keluarganya


Ini mah sudah jelas, wajiblah buat istri, menjaga kehormatan keluarganya, yaitu menjaga kehormatan dirinya dari fitnah yang nggak jelas, kehormatan dan aib suaminya juga.

Makanya duhai suami, bantu istrimu dengan menjadi lelaki terbaik, agar beban istri menjaga aibmu jadi lebih ringan!
Ye kan, berat tauk kita menahan beban aib suami yang hidupnya penuh aib dan sering menyakitkan.

So, jauhi aib ya!





Lalu, dari kedua tugas istri di atas, kita pasti bertanya, terus yang ngurusin rumah siapa? yang masak? nyuci? nyetrika dan sebagainya itu?

Entah, kayaknya sih mending ART yak, hahaha.
Kalau suaminya mampu!


Menurut saya!


Tugas istri itu menyesuaikan!
Iya, itu yang penting menurut saya.

Bagaimana kita patuh sama suami, misal suami minta diurusin, minta dilayani dengan raja, tapi tugasnya sendiri dalam hal ini mencari nafkah tidak dilakukan?

Terus mau makan apa?
Jual suami gitu? lol.

Saya amat sangat setuju jika tugas istri itu di rumah saja, (bagi saya ya Moms!, jangan baper! ini nggak berlaku buat semuanya, lol)




Iya, saya bahkan memutuskan nggak mau kerja bangun karir di luar, padahal saya yakin semua orang yang kenal dan pernah kerjasama dengan saya pasti amat sangat menyayangkan saya 'ngendon' di rumah saja.

Banyak yang meminta saya kembali bekerja, karena saya punya potensi untuk itu, terlebih keluarga kami butuh banget saya bekerja.
Tapi saya ogah, saya lebih memilih kerja dari rumah meski 'nggak keliatan kerja' demi kehormatan suami.

Selain itu, saya sudah pernah menjalani, nggak bisa banget saya fokus urus anak dan suami kalau saya kerja di luar, waktu saya terkuras untuk kerjaan.

Lalu bagaimana dengan anggapan patriarki?


Kalau untuk saya, saya tidak perlu keluar di luar untuk membuktikan kalau saya hebat bahkan bisa lebih hebat dari lelaki, dan saya benci patriarki.

Berkarya dari rumah, seperti keadaan yang mengharuskan saya saat ini ya sama sekali sudah membuktikan kalau itu bukan patriarki.

Menurut saya, tidak ada itu patriarki.
Yang ada hanyalah insecuritas kita sendiri yang menganggap pekerjaan di rumah itu sungguh tidak menarik.

Kuncinya sih pikiran positif.
Menjalani hidup dengan menikmatinya namun tetap 'awas'.
Mengemudikan pikiran agar selalu berpikir positif agar pikiran kita lebih tenang dan damai.

Biar nggak stres kayak Kim Ji-Young.
Coba deh baca banyaknya review tentang Kim Ji-Young, semua orang mengaitkan pada patriarki, padahal mah dia depresi itu ya karena pikirannya sendiri.

Memangnya siapa yang melarang dia kerja? nggak ada kan?
Keadaan yang membuat dia jadi ibu rumah tangga.
Dan nggak ada yang memaksanya untuk itu.

Meskipun...

Mungkin ada satu dua orang yang dikaitkan dengan patriarki beneran.
Contohnya mama saya.

Mama saya tuh aslinya dilarang keras sama bapak kalau keluar rumah.
Bapak bakalan marah kalau mama keluar nolong pasien, atau telat pulang kantor.
Tapi kesalnya, bapak nggak mau cari duit buat mencukupi kebutuhan kami, bisanya ngelarang doang.

Itulah patriarki yang sesuangguhnya.




So, mari kita mengendalikan pikiran kita, kita punya kendali penuh untuk itu.
Jangan biarkan hal-hal negatif seperti stigma patriarki membuat kita jadi merasa sedih hanya jadi ibu rumah tangga.

Kalau dari dulu kita pintar, lalu sekarang jadi IRT.
Tenang saja, sedunia juga tahu kita adalah IRT yang cerdas, dan betapa beruntungnya anak-anak kita diasuh langsung selama 24 jam oleh ibu yang secerdas kita.

Demikianlah, tugas istri, apapun itu, sama sekali nggak ada kaitannya dengan patriarki, menurut saya ya.
Punya opini yang berbeda? feel free buat diskusi ya temans.


Sidoarjo, 21 Februari 2020

@reyneraea untuk #FridayMarriage

Sumber : 
  • Pengalaman dan opini pribadi
  • https://www.islampos.com/22790-22790/ di akses 21 Februari 2020
Gambar : canva edit by Rey

16 komentar :

  1. Karena aku terbiasa di rumah dari kecil (sejak kecil sudah dipingit, wkwkwk) aku merasa berada di rumah terus adalah sesuatu yg biasa. Gak bosen karena dari dulu selalu bisa menemukan keasyikan sendiri di rumah, dan suami jg mendukung bwt me time. Salah sih kalau istri gk boleh kerja. Terus nanti dokter kandungan laki semua dong? perawatnya juga laki semua? Istri boleh kerja kok di Islam. Tapi kerjanya apa dulu, urgent gak dia untuk kerja. Gak selalu saklek gak blh kerja, karena ya itu td keadaan org beda2. Ini kok panjang amat ya, wkwkwk.

    Aku lihat beberapa ustazah di sekolah anakku suaminya mendukung istrinya kerja. Ya karena suaminya gak cuma paham Islam tapi menerapkan agamanya di dalam kesehariannya. Paham aja gak dilakukan ya mubazir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget!
      Kalau urgent malah sebijaknya kerja, kalau terjadi suami kenapa-kenapa terus gimana kan ya?

      Itu yang saya maksudkan dengan penyesuaian :)

      Hapus
  2. sebagai mana istri, ga harus stuck utk nurut terus juga sih mba. dan suami jg paham lah :D kan nanti bisa jadi lebih demokratis dalam hubungan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya ada loh (dan banyak) suami nggak paham.
      Saya sendiri aslinya dilarang ngeblog dengan ngotot demi uang.
      Tapi giliran suami nganggur, baru ngehek dia dan malu selama ini hanya bisa marah-marah saja tanpa mau bertanya apa alasannya saya ngotot cari duit hehehe

      Hapus
  3. Kalo saya sih setuju saja istri kalo mau kerja bantu ekonomi, tapi dengan syarat keluarga juga terurus.

    Nah, jika suami istri kerja, lalu misalnya anak kita itu diurus sama siapa, ngga mungkin kan bawa anak ke tempat kerja.

    Memang sih, bisa saja kita titipkan ke orang tua, tapi tegakah kita merepotkan lagi orang tua, yang mana sudah capek mnegurus kita saat kecil, sekarang disuruh ngurus cucunya? Padahal kalo sudah tua, badan sendiri juga pada sakit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kaannn!
      That's why saya sudah berusaha setengah mati untuk berdamai jadi IRT, kenyataannya masih kudu cari duit juga hahahaha

      Hapus
  4. Permasalahannya RUU Ketahanan Keluarga yang digagas PKS membuat tidak ada ruang untuk interpretasi lain.

    Istri pokoknya tugasnya ngurus rumah dan anak, suami cari nafkah. Pelanggaran terhadap interpretasi dari hukum tertulis ada sanksinya.

    Tidak ada lagi ruang untuk kompromi suami istri, tidak ada lagi ruang untuk menyesuaikan dengan sikon keluarga.

    Konsep RUU nya memang sangat patriarki kalau Rey coba baca dan telaah. Konsep wanita adalah dapur, kasur, itu saja.

    Konsep yang menurut orang alim Islami, tapi membelenggu karena kondisi masyarakat saat ini sudah berubah banyak sekali karena tuntutan jaman.

    Bagaimana kalau suami kena PHK dan lama nganggur kemudian istri tidak boleh bekerja karena melanggar hukum Ketahanan Keluarga? Pernah terpikirkan konsekuensi kalau RUU ini dijadikan hukum?

    RUU ini merupakan hasil pemikiran orang tolol bin stupid, sempit, kampungan, kuno.

    Jika Rey memilih di rumah mengurus anak, itu sih pilihan. Sama seperti yayang yang memilih berhenti bekerja.

    Tapi menyuruh semua orang menjadi sama seperti kita, jelas sebuah bentuk kebodohan yang paling tidak bisa terbantahkan.

    Bedakan antara pilihan pribadi dan ketika dijadikan hukum.

    Buat saya sendiri sih ga masalah kalau dibalik sekalipun, saya di rumah ngurus anak dan istri kerja si OK. Selama keluarga kebutuhan terpenuhi dan terurus. Selama keluarga bahagia..itu yang terpenting.

    Saya ga mau cara saya mengurus rumah tangga bersama istri diatur oleh UU buatan orang tolol bin konyol seperti yang ngusulin RUU Ketahanan Keluarga.

    Itu wilayah pribadi saya .. yang penting kan kami sekeluarga bahagia dan sejahtera.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha, jujur ini saya tulis sama sekali nggak mengaitkan dengan RUU ketahanan keluarga loh Pak, saya juga kaget pas artikel ini tayang, bersamaan dengan viral RUU itu.

      Ada link yang bisa dibaca kah Pak? saya pengen baca secara lengkap, penasaran juga mengapa sampai dibuat UU kayak demikian.

      Menurut saya sih nggak apa-apa kalau ditetapkan kayak gitu, hanya saja PKS menjamin kesejahteraan hidup berkecukupan semua keluarga, kalau ada apa-apa dengan suami, ya PKS kasih uang belanja bahahahahahahaha

      Hapus
  5. Tambahan

    Patriarki atau Matriarki pada dasarnya hanyalah konsep.

    Kenyataannya zaman sekarang konsep seperti ini sebenarnya sudah usang.

    Bagaimana menghandle RT seharusnya merupakan hasil kompromi dan keiklasan suami dan istri.

    Oleh karena itu, mau yang bagaimanapun, itu adalah sebuah pilihan.

    Bukan mengikuti hasil pemikiran orang udik yang menjadikannya hanya satu jenis saja.

    Itulah salah satu alasan kenapa Indonesia masih susah bergerak cepat untuk menjadi maju. Banyak wakilnya ayng terlalu sibuk ngurusin hal yang bersifat privat dibandingkan ngurus yang lain.

    Stay away from my family..buat mereka yang sangat bodoh menelurkan ide RUU ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha bikin penasaran Pak, ayo buat tulisan juga Pak, saya mau baca dulu draft nya baru saya tulis lagi :D

      Saya setuju banget!
      Sejujurnya, saya sama sekali udah sampai di tahap nggak peduli lagi dengan patriarki atau apapun itu.

      Saya cuman peduli sama anak-anak saya bisa makan, bisa sekolah, bisa berteduh dengan baik.

      Kalau diharuskan di rumah aja, ya gak apa-apa juga sih, asal semua impian saya itu kecapai.

      Masalahnya kan zaman now itu nggak bisa dijadikan patokan laki aja yang kerja :D

      Hapus
  6. Menurut saya baik ibu bekerja maupun ibu rumah tangga, keduanya sama-sama mulia. Dan sebenarnya, itu dilakukan atau dipilih berdasarkan kondisi masing-masing keluarga.

    Ada yang memang mungkin butuh ke dua orang tua bekerja agar perekonomian keluarga jalan, namun ada juga yang butuh hanya suaminya saja bekerja agar anak dapat terpantau kesehariannya. Jadi bukan semata-mata kalau jadi IRT langsung terkesan patriarki atau sejenisnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah bener, kadang orang cuman baper aja ya.
      Misal diminta suami untuk lebih peduli anak, terus dikaitkan dengan patriarki hahaha

      Hapus
  7. Topik kali ini related dengan isu yang lagi hangat diperbincangkan belakangan ini. Yaitu tentang RUU Ketahanan keluarga. Kurang lebih salah satu yang dibahas dalam RUU ini adalah kewajiban istri untuk mengatur urusan keluarga, menjaga keutuhan keluarga, dan memenuhi hak suami & anak. Atau kasarannya istri harus ada di dalam rumah dan mengurusi apa-apa yang ada di rumah sedangkan urusan cari uang adalah ranahnya suami.

    Kalau aku sih oke-oke saja, karena memang kondisi membuatku harus memilih untuk menjadi IRT. Tapi kondisi keluarga masing-masing orang kan berbeda. Ada banyak keluarga yang membutuhkan wanita untuk membantu menyokong ekonomi keluarga. Tentunya RUU tersebut tidak cocok dan bahkan menimbulkan banyak mudharat untuk mereka.

    Menurutku RUU tsb terlalu mencampuri urusan pribadi masing-masing orang. Masalah istri harus bekerja di dalam atau di luar rumah seharusnya merupakan pilihan mereka dengan suami mereka masing-masing. Tentunya juga disesuaikan dengan kondisi keluarganya masing-masing. Dan yang lebih penting lagi sih istri happy, anak happy, suami juga happy.😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ini sebenarnya saya tulis sebelum ada isue RUU itu loh, murni dari pemikiran saja, entah mengapa kok ya pas banget dengan viralnya RUU tersebut hahaha

      Hapus
  8. Kasian suami saya, karena terlihat alim (suka ngimam di masjid) dan saya enggak kerja kantoran, dikira tetangga2 tuh saya dilarang kerja sama suami... padahal saya sendiri yang ingin resign setelah punya anak, hihihi...

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)