Sunday, February 16, 2020

Viral Kasus Dedy Susanto Membuat Psikolog Kembali Berjarak Dengan Pasiennya ?

viral kasus dedy susanto

Sharing By Rey - Kesehatan mental, sesungguhnya sudah mulai mengalami peningkatan akhir-akhir ini, hal ini dikarenakan makin banyak orang yang ngeh dengan kesehatan mentalnya, dan makin banyak pula kampanye tentang hal tersebut.

Saya sendiri, mulai peduli dengan kesehatan mental ketika saya mencurigai diri kena gejala postpartum depression.

Iya, saya tahu banget, kalau sebijaknya kita jangan mendiagnosa diri tanpa berkonsultasi dengan seorang yang punya kapasitas di bidangnya. Makanya saya nyebutnya gejala, bukan diagnosa langsung.


Dari dugaan tersebut, saya jadi lebih banyak mencari tahu tentang mental illness, dengan rajin membaca artikel psikolog, bergabung dengan komunitas yang isinya tentang postpartum depression, hingga menonton video yang membahas terapi-terapi bagi mental illness.

Dari situlah, akhirnya saya jadi mantengin beberapa akun media sosial yang lebih sering membahas tentang kesehatan mental, salah satunya akun instagram milik seseorang yang sering memberikan terapi kesembuhan mental, yaitu milik seorang doktor psikolog (konon), Dedy Susanto.

Awalnya, saya follow akun instagramnya, dan selalu mengikuti semua postingannya, serta setia memberikan komentar, namun seingat saya memang nggak ada satupun komentar saya yang dibalas.

Seiring waktu, saya merasa ada yang kurang sreg dengan akun tersebut. Mulai dari beberapa statement yang sejujurnya saya kurang sependapat dan saya tanyakan lagi namun tidak digubris.
Sampai hobinya memajang foto selfie-nya dengan para wanita cantik dan seksi.


Viral Kasus Dedy Susanto


Kemaren pagi saya berselancar di Google trend dengan tujuan mencari tema artikel yang bakal saya posting di blog ini, dan merasa sedikit wow saat melihat nama Dedy Susanto ada di barisan google trend tersebut.

Awalnya saya pikir, si psikofluencer tersebut jadi trending karena videonya yang mengangkat tema viral wanita yang menikah hanya 12 hari lalu cerai di Malang.
Kebetulan, sayapun menuliskan opini tentang berita tersebut, berdasarkan video yang ada di channel youtube si Dedy Susanto itu.


Ternyata, pas saya klik, berita viralnya lain lagi, mengenai keabsahan latar belakang pendidikan psikolog sang psikofluencer tersebut.

Setali tiga uang, saat membuka facebook, langsung disuguhin postingan pengumuman di sebuah grup mental illness yang saya ikuti, di mana dalam pengumuman tersebut, secara terang-terangan menyuruh agar member di grup tersebut jangan lagi berhubungan dengan sang psikofluencer.

Makin kepolah saya, ada apa gerangan?

Setelah mencari tahu, ternyata masalahnya bermula dari kecurigaan seorang influencer terhadap ilmu psikolognya, saat mereka diskusi tentang masalah elgebeteh (sengaja saya plesetin, biar nggak bermasalah dengan komunitas pendukung itu) hihihi.

Saya memang pernah membaca postingan si Dedy yang menceritakan tentang masalah tersebut, bahwa dia menganggap eljibitih itu adalah penyakit, dan bisa disembuhkan.
Bahkan saat itu, dia mencoba memberikan therapy kepada seorang influencer lelaki tapi gemar berdandan wanita lebay, dan membagikan ceritanya melalui akun medsosnya.

Rupanya, si influencer ini memang pro elji-eljian itu, dan menganggap bahwa ilmu psikolog sudah menyetujui bahwa elij-eljian itu tidak bisa disembuhkan, karena itu bukan penyakit, jadilah mereka bersitegang, lalu merembet ke banyak hal.


Pertama, masalah basic ilmunya dan izin praktiknya.


Saya kurang ngeh juga sih, tapi menurut pencarian didapatkan kenyataan, bahwa si Dedy itumemang seorang lulusan psikolog S3.
Akan tetapi, dia melewati S1 dan S2 nya di bidang pendidikan yang sama sekali nggak ada kaitannya dengan psikologi.


Kalau nggak salah, dia malah lulusan S1 bisnis dan S2nya entah mana, lupa saya, lol.

Saya jadi teringat beberapa waktu lalu saya sempat pengen kuliah lagi (pengen doang, padahal kagak ada duitnya, lol) tapi ambilnya ilmu psikolog, alias S2 psikolog gitu.

Tapi setelah saya pikirkan, bukankah nggak nyambung banget kalau bidangnya lompat-lompat gitu, lah ternyata malah ada yang S3 dulu baru terjun ke psikolog, lol.

Bukan hanya basic ilmunya, diketahui pula, bahwa ternyata selama ini si Psikofluencer itu sama sekali nggak punya izin praktik, entah benar atau bohong.


Kedua, terungkap dugaan mesumnya.


Masalah semakin runyam, setelah akhirnya banyak orang yang ikutan curhat jadi korban mesum si Dedy, saya nggak mau bilang itu benar atau enggak.
Akan tetapi, insting saya sejak dulu juga udah sedikit memikirkan hal peluang mesum.

I mean, saya aja yang pernah sekali konsultasi di psikolog laki, berada dalam satu ruangan berdua saja dengan si bapak psikolog, i feel like awkward momen banget.
Call me wanita baheula, tapi saya sungguh seorang yang menganggap tabu hal-hal seperti itu.


Dan bukan tabu semata sih, tapi memang saya tahu kalau Allah pun melarang 2 orang bukan mahramnya dalam satu ruangan.

Beruntung, di ruangan konseling saya kemaren, bagian depannya itu kaca bening, sehingga orang bisa dengan leluasa melihat saya dan psikolog tersebut di dalam ruangan.

Yang kedua, saya melihat bahwa si Dedy Susanto itu juga memberikan sebuah terapi, saya sungguh tidak ada bayangan terapi apa yang dimaksud, karena saya sendiri belum pernah diterapi.
Cuman saya sungguh nggak nyaman dengan terapi yang menyentuh tubuh klien.

Saya pernah diruqyah saat kerja di proyek dahulu, dan meskipun si ustadz memakai sarung tangan untuk menyentuh saya, tetap saja saya risih dengan perintah,
"Tatap mata saya!"
Hadeh.... kalau matanya bagus terus saya jatuh cinta, gimana? lolololol.

Itu terapi ruqyah loh, berlandaskan asas Islam, apalagi terapi psikolog yang mungkin menganggap sentuhan itu wajar.

Pun juga, saya jadi membayangkan, si Dedy itu sering menterapi klien cewek cantik sekseh, yang sering dia ajak selfie itu, saya jadi berpikir, .... ah sudahlah, nggak mau terusin nanti nambah dosa, lol.

Intinya, mengenai dugaan mesum itu saya memilih tidak percaya hanya karena bukti curhatan, cuman sedikit mengingatkan agar sebaiknya jangan mau diterapi berdua aja dalam satu ruangan.
Oleh siapapun, TERMASUK DIRUQYAH OLEH USTADZ.
Apalagi hanya seorang psikolog, tanpa merendahkan psikolognya ya, karena biar bagaimanapun semua juga manusia biasa.


Pelajaran Penting Dari Viral Kasus Dedy Susanto, Psikolog Akan Dirugikan.


Saya rasa, merebaknya kasus ini bakal membuat pihak psikolog jadi dirugikan.
Betapa tidak? tahu sendiri kan bagaimana sulitnya mengedukasi orang awam terhadap kesehatan mental, bagaimana sulitnya mengenalkan psikolog agar orang awam mau datang dan curhat pada mereka.


Karena kesehatan mental itu, apalagi yang masih dalam tahap stres atau depresi, sangat sulit bisa diterima oleh orang awam bahwa itu penyakit, butuh diobati.
Apalagi, tahu sendiri kan, tarif para psikolog nggak murah juga.

Memang sih ada beberapa puskesmas yang menerima konseling dengan psikolog memakai BPJS, tapi dari beberapa curhatan yang saya baca di grup kesehatan mental yang saya ikutin, banyak juga yang kurang puas dengan pelayanannya.

Well, bahkan ke psikolog berbayar kayak saya aja juga tidak serta merta membuat saya puas, seandainya saya nggak mau open minded.

Dengan merebaknya kasus ini, terlebih banyak orang yang menyoroti basic ilmunya dan dugaan kemesumannya, saya mulai melihat banyak pasien dari psikolog jadi mulai kurang yakin dengan berobat pada psikolog.

Sungguh PR banget buat para psikolog, untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat, bukan hanya dengan basic ilmu saja, tapi juga dengan cara pelayanan yang terbaik dan ramah.

Jujur, meski mungkin basic ilmu si Dedy Susanto tidak sehebat psikolog lainnya, tapi saya suka loh beberapa sharing-nya, terlepas dari ilmu itu dia karang atau gimana, beberapa malah worth it dan membantu saya melewati rasa depresi yang saya rasakan sebelumnya.

Contohnya, sharing dia tentang luka batin masa kecil, mengingatkan bahwa janinpun bisa merasakan luka batin dan terbawah di alam bawah sadarnya sampai dia dewasa.
Entah memang itu ada ilmunya atau karangannya, saya setuju dengan itu.

Because, saya pernah menjadi anak, punya masa kecil yang sangat tidak indah dibanding yang lain, lalu sekarang saya adalah seorang ibu.

Bukan hanya itu, sharing si Dedy Susanto tentang bagaimana dia men-terapi pasiennya dengan mengajaknya berbicara pada diri sendiri, atas panduannya tentunya.
Saya rasa itu juga worth it buat saya.

Saya sering banget jadi ikutan berkomunikasi dengan diri saya, setiap kali saya sedang marah, kesal, emosi, selain saya istigfar, saya selalu ngomong sendiri,
"Rey, jangan marah, jangan dipikirkan apa yang bukan tugasmu!, fokus saja pada dirimu sendiri! Berbuat baiklah selalu, dan tak perlu menuntut orang membalas kebaikanmu, percaya sama Allah, semua yang kamu lakukan akan kembali ke dirimu sendiri"
Lalu tiba-tiba saya merasa lebih baik, merasa lebih tenang.
Kadang juga saat malam tiba, kebetulan saya memang sekarang jadi sering begadang, saya berbicara dengan diri sendiri.
"Rey, bukankah kamu setuju bahwa hidup itu adalah perjuangan? maka berjuanglah, itu tugasmu, jangan sibuk mengurusi tugas orang lain"
Hal itu sungguh membantu saya menjalani hidup dengan (sedikit) tenang bersama suami yang juga stres, lol.
Dan video-video Dedy Susanto, sedikit banyak membantu saya untuk itu.

Karenanya, terlepas dari basic pendidikannya yang absurd, saya merasa ilmunya tidak semuanya buruk, meskipun saya ogah kalau disuruh bayar ikut seminarnya, lol.

Mengapa Rey?
Sayang duitnya, saya mah mau ikut seminar kalau gratis, lololol.

Biar lebih berfaedah saya jadi ingin berbagi kesimpulan opini dari viralnya kasus ini, di antaranya :

  • Jadilah orang kritis, ngeyel tapi cerdas, jangan mudah percaya pada siapapun, terutama pada influencer, luangkan waktu untuk mencari tahu pembanding ilmu yang kita baca dan ketahui dari seorang yang mengobati kita, even itu dokter fisik maupun dokter psikis dalam hal ini psikolog. 
Ye kan, sehebat apapun mereka, tetap saja mereka itu manusia biasa.
  • Meski basic ilmu itu penting, tapi khususnya masalah mental, jangan abaikan masukan dari sumber lain, dan rasakan perbedaannya pada kita, khususnya bagi penderita depresi sedang kayak saya sih, hihihi.
  • Terus, kalau depresi berat? sebaiknya cari rekomendasi yang terpercaya, dan jangan lupa observasi perkembangannya, karena sama dengan dokter fisik, psikolog juga cocok-cocokan sih.
  • Jangan mau di-terapy di ruangan tertutup, meskipun oleh yang sejenis kelamin, zaman sekarang serem banget tauk dengan elji-eljian itu, saya baca di strories si Dedy, entah benar atau cuman karangannya, konon dulu ilmu psikolog itu menganggap bahwa elji-eljian itu adalah penyakit, lalu kenapa sekarang jadi berubah ilmunya dan mengatakan bahwa elji-eljian itu takdir?
Saya sependapat sama si Dedy, sejak kapan Allah salah menciptakan hambanya? Di dalam alquran bukannya disebutkan bahwa jenis kelamin itu ada 2 saja, lelaki dan perempuan.


Mengapa sekarang jadi banyak? dan bagaimana bisa Allah, sang maha sempurna itu menciptakan manusia dengan typo? maksudnya di kasih anunya laki-laki, tapi jadinya perempuan?
Lalu kenapa harus di ruangan terbuka? sementara mungkin sesama perempuan atau sesama lelaki?
Errr... kalian lupa kah sama si Reynhard? lol.
Zaman now, bukan hanya si mesum normal yang eror, si mesum nggak normal juga sama.
Tapi bagaimana caranya terapy di ruangan terbuka? ya nggak tebuka-terbuka amat sih, minimal ada kacanya yang terlihat dari luar, jadi terapi yang aneh-aneh nggak bisa dilakukan oleh si pemberi terapi. 

  • Fokus pada kasus perbuatannya yang viral ini, jangan ke orangnya!
Mengapa? saya serem banget sih baca stories si influencer yang membuka aib Dedy, soalnya berkali-kali dia menyebutkan tentang elji-eljian yang bukan penyakit, saya takut banyak orang awan secara tanpa sadar terinfluence dengan perkataan itu, lalu tiba-tiba ikutan pro elji-eljian, padahal sebelumnya enggak.
Tetaplah mengutuk dugaan kemesuman dan kebejatan si psikofluencer, bukan orangnya, dan pro serta memuja semua hal tentang si infuencer penyerang.
Fokus ke masalah utama, abaikan lainnya.

  • Speak up jika merasa dilecehkan
Jangan diam saja kalau dilecehkan, even dilecehkan sama Gong Yoo *eh.  Laporkan, insha Allah akan banyak yang mendukung kita kok.
  • Tentang terapi yang sering dilakukannya dengan orang seabrek? Well, yang ini mah bisa dijelaskan oleh orang yang pernah mengikuti seminar terapinya itu. Tapi saya pernah mengalami hal seperti itu, saat seminar parenting di sekolah anak saya.  Saya rasa, seminar seperti ini sekarang sangat banyak, baik dengan embel-embel psikolog maupun agama.


Oh ya, postingan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengarahkan opini pembaca untuk memaklumi dan percaya begitu saja ama si Dedy Susanto.

Sama sekali enggak, bahkan jujur secara personal saya kurang suka ama si psikofluencer tersebut, sejak lama, alasannya seperti yang saya jelasin di atas.

Justru sejak dulu saya rada-rada geli dengan tingkahnya di instagram, saya benci tingkahnya, tapi saya tidak menampik ilmunya sebagian worth it buat saya.

That's it!

Begitulah, mungkin ada yang ditambahkan.
Semua tulisan ini berdasarkan opini saya semata, bukan berarti hal yang paten benar, jadi feel free buat discuss di kolom komentar.

Surabaya, 16 Februari 2020

@reyneraea 


20 comments:

  1. Saya nggak mengikuti orang ini mba karena nggak begitu suka follow akun-akun yang isinya kata-kata motivasi, tapi saya sedikit tau permasalahannya karena banyak yang share di stories hehehe. Meski nggak mengikuti alurnya :>

    Kalau saya masih pegang prinsip, ambil positifnya dan buang negatifnya tanpa harus mengaitkan pada siapa individu yang melakukan hal positif dan negatif tersebut. Intinya kita harus pilah-pilih segala informasi yang ada :D dan belajar dari segala macam permasalahan yang mendadak muncul di depan mata ~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betullll, manusia adalah manusia ya, nggak ada yang sempurna, tapi juga nggak ada yang evil banget :)

      Delete
  2. Halo kakak, saya pernah lho ikut seminarnya pak DS (training atau apalah sebutannya itu haha) di kota saya. Wkt itu byr 250 rb. Pas dah mulai seminar jatuhnya kayak ESQ jaman sma wkt mau UN gitu hahaha, tapi ya gpp sih buat saya. Sedikit menolong saya wkt itu soalnya. Saya jga dah folow ig nya pak DS pasca sminar itu. Jujur saya sering setuju juga sama postingan pak DS, sering lho ya, gk selalu stuju jga (kadang risih juga haha).
    yang kdg msh bikin saya mikir smp saat ini adalah kejadian waktu seminar, wih banyak bgt cewek2 yg ngantri wktu selfie sama pak DS, udah kyk ngantri minyak tanah jaman krismon wkwkwk

    Saya setuju sama pandangan kakak dan komen di atas. Intinya ingat kata2 mister Tukul jalan jalan, ambil sisi positif dari tontonan ini yg jelek2 jangan... Ngefans boleh, berlebihan jangan (baik ke DS maupun RV)...

    Oya tv di rmh saya merk elji, ibu saya kalo masak pake elpiji, apakah saya termasuk elji eljian ? hahahaha.. Salam sehat selalu utk semuanya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha, betul bagaimana caranya kita memusuhi semua tentang manusia, kutuk sikap buruknya (jika memang benar), namun bukan berarti menjelekan semuanya :)

      Duh itu tv elji-eljian bisa dipinjam ga? hahaha

      Delete
  3. Sama sekali belum tau atau tentang orang satu itu Mbak. Tapi baca di sini.

    Jadi inget, dulu pernah nemenin klien ke psikolog, pas jadwal berikutnya, dia berusaha menolak untuk dibawa lagi, kemudian dengan sendirinya dia cerita, kalo terapisnya, suka mengelus pipi dia, pas dikonfirmasi si tetapis bilang buat mengecek, apa dia masih punya nafsu nggak ke pria. Kami bisa terima alasannya. Tetapi baca artikel ini bikin saya merasa ngeri juga ya efek dari berdua dengan lawan jenis. Rawan mesum.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah jangan ditinggal seharusnya ya, minimal terapinya di ruangan kaca, apalagi kalau bukan mahromnya :(

      Delete
  4. Sekarang ini banyak banget kejadian yang aneh2 ya Mbak. Jadi PR banget nih buat para psikolog yang cari nafkah dengan jujur. Gara2 nila setitik rusak susu sebelanga. Betul gak sih pribahasanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal citra psikolog itu masih jarang dipercaya pasien loh :(

      Delete
  5. Saya malah baru sekali tahu tuh pak Dedy Susanto yang psikolog, tahunya ya dari blog mbak Rey ini.

    Harus hati-hati ya memilih psikolog ya mbak?

    ReplyDelete
  6. Suamiku juga lulusan psikologi mbak, katanya memang kalau mau praktik ga sembarangan, harus ada sertifikat resmi dari semacam perhimpunan psikolog indonesia gitu dan ada gelarnya juga. Trus ga semua lulusan psikolog boleh buka praktek seperti itu. Cuma yang kasusnya DS ini juga masih abu2 sih, terkait benar tidaknya dia apakah sudah punya sertifikat training atau enggak atau punya izin melakukan training atau enggak. Cuma ya jadi ngeri sendiri ya kalo gini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya semua jurusan itu ada semacam perkumpulannya gitu, apalagi untuk jurusan yang efek sampingnya lumayan mengerikan gitu.
      Maksudnya mirip dokter kan ya, salah ngobatin nyawa taruhannya.

      Iya juga nggak jelas ya, sampai sekarang pun nggak ada kelanjutannya :)

      Delete
  7. Sy ngikuti DS udah dari lama, sejak buku pemulihan jiwa nya terbit hingga sekarang selalu nonton chanel youtube nya. Materi2nya sangat membantu sy. Malah sy kepikiran pengen ikut traningnya tp blum ksampaian. Waktu denger kasus itu sy langsung shock dan kecewa. Sy jadi hilang respect sekarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi terlepas dengan dugaan ini, sebenarnya ilmunya juga bermanfaat juga ya, sayangnya dia agak aneh hahahah

      Delete
  8. Saya pertama kali baca nama DS ini baru-baru ini lho, Mbak Rey. Itu juga di blognya Mbak Rey yang ngomongin tentang nikah 12 hari itu. Hehehe.

    Dan tidak lama setelah baca artikelnya Mbak Rey, aku menemukan berita yang berkaitan dengan DS ini di google. Karena aku gak tau dia siapa, akun ig nya apa, channel Youtube nya apa, jadi aku gak ambil pusing dengan kasus yang menimpa dia. Lebih patah hati pas tau Mario Super Sekali menterlantarkan anaknya dulu sih, aku. Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah kan, ternyata malah orang-orang demikian yang punya masalah sendiri :(

      Delete
  9. Beberapa hari lalu di beranda yutub saya ada si DS ini sama sesembak yang nikah 12 hari itu. daku tonoton lah tuh sampai habis, lalu share di IG. maksud hati pingin kasi tau penampakan sesembak tersebut kepada netijen. wkwkwk..

    Ealah, ternyata si netijen malah gagal fokus sama si DS ini yang katanya hobi mesum. alamak, langsung lah kepo cari infonya..

    ternyata mengerikan juga yaa pasien jadi korban kemesuman-nya. dan katanya dia sempet vakum beberapa minggu gitu yaa, sebelum akhirnya keluar lagi dan menayangkan video sama sesembak ituh?

    ah, semoga gak ada lagi korban-korbanya si DS ya mbaaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahahaha seriusss? diri saya juga kaget loh, kok bisa trending ternyata dugaan mesumnya :D

      Delete
  10. Gw gak pernah nonton youtube dia, apalagi ikutan seminar dia. Kenal aja enggak. Tapi gw sebagai lelaki bisa tau, mukanya muka mesum. Bingung deh jelasinnya, tapi yang laki-laki pasti tau deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihih, dengan berat hati saya mengiyakan, soalnya saya juga udah ngerasa gitu dari dulu, makanya enggak follow akun IGnya hihihi

      Delete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)