Featured

#UninstallKhawatir GOJEK, Solusi Bagi Pasangan Long Distance Marriage

Source : uninstallkhawatir.com Assalamu'alaikum :) Sharing  by Rey  ,  because sharing is caring   -  GOJEK  sudah menjadi sesuat...

Jumat, Mei 03, 2019

Menikah Dengan Selevel, Akan Lebih Bahagia ?

menikah dengan selevel

Assalamu'alaikum :)

Sharing by Rey - Menikah dengan selevel itu penting, setidaknya buat saya!

Waktu kecil, saya sering banget bermimpi, bakal menikah dengan lelaki yang mapan, punya masa depan yang cerah, lalu hidup saya tidak akan kekurangan lagi, setidaknya dalam hal materi.

Lalu, setelah dewasa saya sadar, bukankah setiap orang tua bakal cari 'yang terbaik' buat anaknya?.
Lalu, jika saya harus berhubungan dengan lelaki mapan, dari keluarga kaya.
Apa keluarganya bakal menerima saya? Yang notabene bukan dari keluarga kaya?


Senada dengan saya, mamapun tidak berhenti khawatir menanyakan, siapa calon saya? dari keluarga yang gimana? Mama berharap saya menghindari keluarga yang ekonominya di atas kami.
Mungkin mama tidak mau melihat saya dan keluarga kami dihina (sudah baper dan pesimis duluan, lol).



Harga Diri Itu Penting


Mungkin, karena saya dibesarin dalam keadaan tertekan, ditekan oleh sikap diktator bapak, dan haus kasih sayang oleh sikap cuek mama.
Membuat saya tumbuh jadi pribadi yang sensitif, mudah tersinggung terutama jika mengenai harga diri.

Thats way, ketika saya mulai mengerti kehidupan, saya mengubah impian saya.
Bukan lagi hidup berkecukupan dengan lelaki mapan, tapi saya harus mapan dan juga berjodoh dengan yang selevel.

Terus, tercapai Rey?
ENGGAK!
hahahahahaha.

Tapi di sini saya gak mau bahas tercapai atau enggaknya, saya mau bahas tentang mengapa memilih menikah dengan yang selevel, salah satunya ya karena harga diri itu penting bagi saya, juga keluarga saya.

Sudah bukan rahasia lagi, semua orang tua dan keluarga ingin anaknya mendapatkan jodoh yang terbaik, bukan mendapatkan jodoh buat beban hidup *eh.

Bahkan orang tua saya yang masuk golongan ekonomi menengah ke bawah, pasti juga gak sudi anaknya menikah dengan orang dari golongan ekonomi yang lebih ke bawah.

Loh, bukannya nikah itu bukan memandang ekonomi?
Yang penting kan mau usaha.

IYA BETUL!

Tapi, siapapun itu, hal pertama yang bakal dilihat tuh pasti ekonominya.
Karena latar belakang ekonomi itu selalu mempengaruhi banyak hal.

MESKIPUN!
Tidak terjadi di semua orang, ada juga yang dari ekonomi sulit, tapi bisa berkembang jauh lebih baik (Ada, tapi jarang, hahaha).

Nah, karena pemikiran seperti itu, yang entah mulai kapan bercokol di pikiran saya, mungkin karena terlalu banyak 'awas' dari orang tua.
"Awas Rey, nanti kamu dihina!"
"Awas Rey, nanti kamu dipermainkan!"
"Awas Rey, nanti kamu dimanfaatkan!"
Dan bermacam 'awas' lainnya.
Jadinya, membuat saya sukses tumbuh jadi seorang gadis yang 'alergi' ama lelaki kaya, tampan dan semuanya yang kesannya 'jomplang' banget dari saya, hahaha.


Ya karena itu tadi, udah parno duluan.
Dalam pikiran saya,
"Haduuhhh, hidup ini udah rempong, gak mau lagi saya tambahin rempong dengan sakit hati dihina orang
Sungguh sebuah pemikiran yang inferior banget yak, hahaha.


Mengapa Harus Menikah Dengan Yang Selevel


Kalau ditanya, mengapa?
Jawabannya selain demi harga diri tetap aman, ya...

Agar hubungan lebih mudah


Sungguh sebuah pemikiran yang cari aman saja ya.
Tapi suer deh, entah mengapa, untuk saya pribadi, sejak dulu semacam punya prinsip.

Ogah rebutan cowok!

Itu juga termasuk dalam ogah sakit hati karena cowoknya superior, misal kaya, ganteng, terkenal.
Terus saya sakit hati gara-gara si cowok tersebut selalu digoda mantannya, digoda wanita lain yang tergoda oleh apa yang dipunyainya.

Belum lagi sakit hati, jika keluarganya terlalu mengikatnya, atau mungkin keluarganya memandang rendah saya, dan keluarga saya.

Oh NO..NO...NO!

Thats way, waktu STM saya pernah suka ama kakak kelas, you can call my first love *eaaaaaa..
Tapi dia (dulunya) ganteng, dan dari keluarga berada jauh di atas saya.
Dan yang bisa saya lakukan hanyalah menatapnya dari jauh selama 2 tahun sejak masuk STM sampai dia lulus.

Awww.. sungguh ironis, saking ironisnya, kisah saya ini pernah saya tulis di kertas hingga panjang banget bisa tuh jadi novel.

Sayangnyaaaa..
Kertas tersebut saya simpan di dalam kardus di rumah mama, yang di dalamnya berisi barang-barang pribadi saya, termasuk foto suami kakak saya (sewaktu kakak ipar saya dulu agak eror sering banget ngirimin saya surat dan fotonya).

Dan setelah kakak saya tunangan dengan lelaki tersebut, kardus tersebut dibakar dong.
Atuhhh maaahh, mbok ya ambil aja surat tunangan ama fotonya, eh dibakar semuanya..

Hilang semua kenangan saya sewaktu STM, huhuhu


Eh ini kenapa malah bahas cinta monyet sih, hahaha.

Balik ke topik!

Jadi gitu, saya tuh paling males deh berjuang untuk sesuatu hal yang seharusnya gak perlu diperjuangkan.

I mean, masih pacar kan ya.
Belum nikah.
Ngapain jugaaa saya harus memulai dengan sakit hati?

Ya gitu deh, mending cari lelaki yang selevel.
Baik ekonomi keluarganya, tampangnya dan pikirannya, lol.
Eh satu lagi, tinggi badannya juga hahahaha (kebanyakan syarat kamu, REY!!! lol)


Agar mudah mendapatkan restu


Hampir sama dengan yang di atas, agar mendapatkan restu bisa lebih mudah. Tentunya jika semua selevel, restu dari orang tua dan kedua belah pihak bakal lebih mudah.

Ya kan, apalagi yang bisa jadi penghalang?
Kecuali para orang tua matre sih ya, pengen anaknya dapat yang lebih baik lagi.

Tapi Alhamdulillah..
Salah satu hal yang harus saya syukuri di dunia ini adalah, karena orang tua saya, khususnya bapak saya yang super galak itu.

SAMA SEKALI TIDAK PERNAH MEMAKSA SAYA MENJADI SEPERTI KEINGINAN BELIAU.

Yup betul!

Bapak saya cuman mati-matian mengancam saya agar saya tidak boleh salah langkah dan jadi orang pandai.
Thats way, saya hanya boleh belajar dan belajaaaarrr terus.
Bahkan keluar pagarpun gak boleh.

Saya tidak boleh berteman dengan orang yang nilainya rendah, biar saya gak ikutan turun nilainya, saya harus pintar dan dapat juara I (harus juara 1, kalau juara 2 dipukul betisnya, huhuhu), DAN SAYA SAMA SEKALI TIDAK BOLEH PACARAN! sampai saya lulus kuliah dan kerja!.

Ya tapi karena saya kuliahnya jauh dari bapak yang galak itu, saya bisa pacaran dong, muahahahaaha.

TAPI..
Dibalik sikap galaknya tersebut, saya dibebasin sebebas-bebasnya.

Mau sekolah di mana, selama orang tua mampu.
Mau menikah sama siapa juga oke.

Kata bapak, terserah.
Mau nikah ama 1 suku kek, suku lain kek, bahkan beda negara kek.
Bahkan beda agama sekalipun BEBASSSSS.

Asal, saya harus sudah lulus kuliah dan sudah kerja.
Jadi, masalah restu dari ortu saya mah gampil!

Apalagiiii, saya mencarikan calon mantu yang selevel, jadinya gak banyak drama minta restu.
Saking gak ada drama, sampai-sampai si pak suami itu, SAMA SEKALI GAK PERNAH IZIN AMA ORTU SAYA untuk menikahi saya, selain saat ijab qabul, ckckckck.

Enak banget ya dia, lol.


Agar mudah beradaptasi setelah menikah


Ye kan, kalau latar belakang keluarga selevel, gak jomplang banget, harusnya penyesuaian bakalan lebih mudah.

Gak ada adegan, satunya biasa tidur kudu pakai AC, satunya kudu pakai kipas tangan hahaha.
Satunya biasa tidur di kasur super empuk, satunya biasa tidur di ubin keras.
Satunya harus pup di kloset duduk, satunya harus jongkok.

Ya elah, bayanginnya aja ribet amat.
Masih banyak masalah lain yang harus diurus, hahaha.

Meskipun kehidupan gak sama persis, tapi jika selevel, harusnya gak bakal ada perbedaan yang jomplang.
HARUSNYA!


Apakah Menikah Dengan Selevel Jadi Lebih Bahagia Setelah Menikah


Kalau baca di atas, seharusnya sih sudah gak ada masalah berarti lagi, jika memilih menikah dengan selevel.

Nyatanya?

Tidak selamanya begitu!
Setidaknya dalam pengalaman saya.

Saya melupakan sesuatu, menikah itu bukan masalah selevel atau tidak.
Tapi se visi misi atau tidak?

Saya dan pak suami, meskipun mungkin secara kasat mata terlihat lebih di keluarga pak su, tapi kalau dihitung pakai kalkulator masih bisalah fifty fifty, hahaha.

Nyatanya?

Orang tua pak suami sempat gak setuju dengan saya.
It's not fair! rasanya.

Sedang ortu saya menerima semua hal tentang si pak suami, padahal kalau mau jujur, ortu saya berharap saya menikah dengan orang yang minimal punya kerjaan mapan (macam PNS).

Sebelum nikah ?

Saya sempat merasa minder karena mantan pacar si pak su itu cantik-cantik (((dulunya!))).
Soalnya dulu saya gak pintar dandan, saya maca Bety Lafea kata pak su.

Ih biarin ye, Bety Lafea mah cuman gak pinter dandan doang, tapi DIA CERDAS dan cantik juga kalau dandan.

Ye kan, sekarang Rey menjelma jadi wanita cantik dan tetap cerdas, jauh lebih cantik dari mantan-mantannya.
OKEH REY, SUDAHI GEJALA OVER NARSISISME MU!!!
Haahahahahahhaahaha.

Sewaktu mau nikah?

Hampir aja gak jadi nikah karena ortunya sempat gak setuju ama saya, entah karena apa, sampai sekarang si pak suami gak mau jujur.
Dia tahu saya mudah memaafkan
TAPI SULIT MELUPAKAN hahahaha.



Semoga, hal-hal yang mengecewakan terbawa semua oleh pikun saya, aamiin :D
Tetapkanlah ingatan yang manis saja :D

((Tapi saya tulis yang pahitnya, gimana mau lupa yak, hahahaha))


Setelah nikah??

Ya ampuuunnn, saya tuh pacaran 8 tahun sampai akhirnya menikah, tapi setelah menikah, saya seperti menikahi lelaki yang baru saya kenal.

Dari harus tinggal di rumahnya yang notabene saudaranya banyak, sementara saya biasa sepi karena cuman 2 bersaudara.

Ditambah, setelah menikah si pak suami langsung berubah dong.
Jika selama 8 tahun kami menjalani hubungan, saya sudah sangat tahu kepribadiannya, kemampuannya, kekurangannya, kelebihannya.

Eh setelah menikah, si pak suami mencoba melawan arus, dengan ingin memaksa saya menjalani hidup seperti yang dia inginkan.

Salah satunya pak su pengen kerja di proyek, biar sama kayak bapaknya dulu.

Padahal ye, dia tahu, istrinya ini cuman sebatang kara di pulau Jawa ini.
Dia kerja di proyek itu means harus ninggalin istrinya setiap saat.

Dia juga tahu, masa kecilnya kekurangan figur seorang ayah karena bapaknya sibuk mulu.
Lah kok pede betullll dia mengulangi semua itu buat anak-anaknya.

Apa yang kami impikan dan sering kami bahas selama 8 tahun, seolah hilang begitu saja.
huhuhu...


Kesimpulan


Menikah dengan selevel akan lebih bahagia??

BELUM TENTU!!!

Menurut saya, menikah akan lebih bahagia bukan karena levelnya sama.
Tapi saat kita menikah dengan pasangan yang begtu kuat memegang komitmen bersama.

Mau kitanya miskin, pasangan kita super kaya.
Mau kita kaya, pasangan kita super miskin

Mau kitanya putih, pasangan kita hitam legam.
Mau kita tinggi, pasangan kita pendek.

Mau kita pintar, pasangan kita gak nyambung.

Apapun perbedaan itu.
Jika memang keduanya selalu kokoh pada komitmen bersama.

Bahwa menikah itu ya tentang kita, bukan tentang mereka.
Insha Allah, cinta bakalan memperbaiki dan meng-smooth-kan jurang di antara kita dan pasangan.

Eaaaa...
Makan tuh cinta, REY!

CINTA MEMANG TIDAK MENGENYANGKAN.
Tapi..
CINTA MEMBUAT SEMUANYA LEBIH MUDAH DAN BAHAGIA.

TERLEBIH, JIKA CINTA ITU TERJADI KEPADA KEDUA PASANGAN, KARENA ALLAH!

Masha Allah...


Jadi, bagaimana dengan kisah temans?
Share dong, menikah dengan selevel atau enggak?

Semoga #FridayMarriage ini bermanfaat


Sidoarjo, 03 Mei 2019

Wassalam

Reyne Raea

FB : Reyne Raea
IG : @reyneraea
Twitter : @reyneraea

******

66 komentar:

  1. Yaa intinya tergantung tampang dan isi dompet juga mbak...?? ���� Kalau Selepel kantongnya bolong yaa sama saja dan juga kalau selepel mukanya ngepas yaa gimana juga..��������

    BalasHapus
    Balasan
    1. dulunya mungkin nganggap gitu, setelah nikah ternyata yang paling komitlah yang bikin bahagia :D

      Hapus
  2. alur ceritanya seru Mbak...! bikin ngakak ada, bikin senyum ada, bikin sedih ada, Penulisnya kok pinter banget yach mengaduk - aduk emosi pembaca...?

    Tapi..... saya ngak mau kepancing untuk membahas masalah pernikahan, hahahah....

    Mas Hima dan Mas Anyu...lojer..lojer, Come Here...Plisss....! " ungkapkan Perasaanmu disini, " hahahah....#peace.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak Ren...Intinya Kebahagian itu ada pada diri kita dan calon pasangan kita..

      Tinggal bagaimana kita mengatur atau menjaga kebahagiaan itu menjadi kekal abadi..

      Selebihnya siapapun pasangan Kita tuhan sudah menentukankanya sesuai cerminan diri kita.

      Dan Tuhan lebih tahu sama siapa lepelan kita atau jodoh kita sampai akhir...Meski terkadang banyak manusia yang merubah atau merasa tidak terima dengan pasangan yang telah tuhan tentukan..����

      Hapus
    2. Halo teh rey,..yang hatinya sedang berbunga-bunga,..ea,...walau jarang update artikel tapi akan tetap update komen,...ea,...ngomong-ngomong kang nata ini berisik ya,..wkwkckk,...

      Saya ingin berbicara tentang hati-kehati,..tentang kesetian,..tentang kehidupan dan tentang kenyamanan,....

      Ingin bahagia soal cinta,..maka bertanyalah pada yang diatas,..apakah ia pantas untuk kita dan apskah ia yang terbaik untuk kita,..lakukan niatkan dalam hati dan rangkailah kehidupan yang sebaik mungkin agar hidup bahagia,...ea 😀

      Hapus
    3. @cowok mysteri : setuju banget, apa yang sudah ditentukan yang maha penciptam itu yang terbaik :)

      @Kuanyu : eaaaa.. ternyata Kuanyu bijak juga ya hahaha

      Hapus
  3. menurut saya kalau menikah yang penting dengan yang berbeda jenis kelamin, karena jika sama maka akan sangat sulit sekali bahagia mbak, hihihih.......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju banget, yang penting beda jenis kelamin yaa...hihihihi

      Hapus
    2. hahahhaa, makanya heran banget ya ama yang kelaminnya sama tapi nikah, wkwkwkkwkw

      Hapus
    3. Walaupun kelaminnya sama, kok bisa ada yg berperan jadi suaminya dan istrinya wkwkwk

      Hapus
    4. menurut saya, mungkin mereka mau memusnahkan atau mengurangi Populasi manusia mbak dan mas sekalian,,
      kalau saya mah, tetep pilih yang beda jenis kelamin dan original bawaan pabrik, hihihhi

      Hapus
    5. hahahaha, bener banget.
      Yang berperan jadi ceweknya tuh, kayaknya yang merasa dirinya mirip cewek deh.
      Semoga kita dihindarkan dari orang2 seperti itu, aamiin :)

      Hapus
  4. saya malah lebih ekstrem, mbak. saya menikah tanpa rasa cinta, walaupun saya sendiri yang memilih calon istri. Si doi ternyata lha kok sama. Tapi Alhamdulillah,selama 12 tahun pernikahan tidak ada masalah yg berarti. Setiap masalah yg muncul cukup diselesaikan dalam 1 malam (^_^)b

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masha Allah, saya penasaran pak, gimana cara mengatasi masalah, terus sekarang apakah sudah saling cinta? atau ya jalanin aja? Tulis dong kisahnya :)

      Hapus
  5. Kan saya belum menikah hahaha jadi belum bisa share pengalaman. Cuma, melihat dari yang ada di sekitar, menikah itu karena Allah SWT/Tuhan jauh lebih baik hahahaha. Banyak yang menikah selevel kemudian pisah, banyak yang tidak selevel tapi langgeng, yah begitulah Kak Rey kehidupan yang fana ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah nah... bener banget kak.
      Ternyata selevel tidak selamanya indah hahaha

      Hapus
  6. Level itu makanan apa sih Rey.. ? Dijual dimana..

    Bahagia atau tidak dalam pernikahan, langgeng atau hancur, semua bukan pada masalah "Level". Yang terpenting adalah bagaimana sepasang manusia mau berusaha bersama untuk menjadi bahagia bersama.

    Entahlah, saya pikir dunia ini sebenarnya membebaskan manusia untuk memilih pasangannya masing-masing. Hanya ego manusianya saja sehingga ada "level" atau kasta dalam kehidupan mereka.

    Sesuatu yang sudah seharusnya dibuang jauh-jauh.. :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha level itu kayaknya makanan ringan pak wkwkwkwk :D

      Waahh makasih banget nasehatnya pak.

      Setuju banget, ego!

      Seandainya ego diturunkan, dunia bakal terasa jauh lebih damai ya pak :D

      Hapus
  7. benar banget nih...tapi begitu ingat dongeng Cendirella kok gak sama ya. Itulah idealisme dan begitulah terkadang jika realistis.

    BalasHapus
  8. Cinta yang terbaik itu bukanlah cinta yang bersumber dari USIA,...tapi dari hati,...

    Jika dua hati bersedia untuk memberi dan menerima maka yakinlah skan timbul,....benih-benih ikatan cinta yang luar biasa yang mana benih-benih tersebut tidak akan runtuh oleh badai dan kerasnya cuaca,...ikatan itu akan semakin bertambah kuat seiring besarnya benih-benih cinta tersebut menjadi cinta sesungguhnya

    Satu kata dari saya,...super #marioteguhjamannow,.,wkwkckk 😂

    BalasHapus
  9. terima kasih mbk rey nasehat pernikahannya. Saya catat baik baik sebagai bekal nikah nanti, kalau sudah ketemu mas jodohnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hiks saya sedih, my world ini blognya apa sih? saya tak menemukan di profilnya hiks :(

      Hapus
  10. saya gak selevel. suami dulu duda udah bawa anak tiga saya masih gadis masih wangi doong. ortu udah mencak2 kok saya mau jangan2 nanti dimanfaatin diapakan lah tapi ternyata gak terbukti dugaan bahwa suami mau manfaatin saya. nyatanya masih kerja masih bertanggung jawab sebagai kepala keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awwww... so sweet mbaaa, saya salut banget ama wanita2 yang bisa ikhlas menerima lelaki dengan masa lalu punya pasangan.

      Karena dibutuhkan kesabaran dan keikhlasan lebih ya.
      Semoga langgeng dan bahagia selalu yaa :)

      Hapus
  11. Artikel yang sangat bagus mbak.. Saya baca sampai selesai.. Dan saya setuju bahwa dalam menikah itu pasangan harus selevel, semisi-visi dan punya komitmen yang kuat..

    BalasHapus
  12. Aku pacaran 9 tahun, umur kami beda setahun aja, akhirnya sekarang happy ending udah nikah dan istri lagi mengandung 8 bulan,
    ternyata menikah itu lebih bahagia dari pacaran :D
    doakan mbak semoga rumah tangg selalu aman :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah, semoga berjodoh hingga ke surga nanti :)

      Hapus
  13. Cinta memang tidak buta yah mba. Bisa membedakan mana klakson BMW mana klakson bajaj hehehe.



    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwkw kalau masalah klakson kayaknya saya belum bisa membedakan deh, kecuali liat langsung hahahaha

      Hapus
  14. Mencari pasangan yg selevel sebenarnys hanya utk mengantisipasi munculnya banyak perbedaan, walaupun dpt yg selevel belum tentu banyak persamaannya. Contohnya sepele, si suami sebelum tidur suka baca buku dulu dgn lampu kamar tetap menyala, sedangkan si istri baru bisa tidur jika lampu kamar mati. Dan kalau si istri sangat pembersih sedangkan si suami biasa2 aja. Bisa jadi si suami bosen telinganya dengar omelan istrinya setiap hari. Kalo begini gimana ayo solusinya?
    Menurut pendapat saya, jangan pernah mengharapkan pasangan kita akan sempurna seperti yg kita harapkan krn kesempurnaan hanya ada di buku dongeng aja, jika tidak kita akan selalu kecewa dalam menjalani pernikahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahahahaha, meskipun ngakak bacanya, tapi suka banget baca ini.

      Saya sebenarnya senang membahas tema seputar rumah tangga agar memancing reaksi teman-teman untuk ikutan sharing di sini.

      Semua sharing teman2 amat sangat berarti bagi saya, karen sekecil apapun itu, saya selalu selami dan mencoba mempraktekan dalam kehidupan sendiri.

      Betewe, suami saya banget tuh, ampuunnn asal-asalannya, sedang saya dibesarkan oleh bapak saya, yang mengganggap debu setetes adalah aib hahahaha

      Bisa dibayangkan betapa mulut saya (dulunya) kek kereta api ngomelnya, sekarang masih sih, tapi Alhamdulillah, bisa sedikit demi sedikit mencoba bersabar dan berkomunikasi dengan baik.

      Salah satu penyebabnya ya karena komen2 positif kayak gini, makasih yaaa :)

      Hapus
  15. Saya nikah tepatnya seumuran :D cuma beda 3 bulan, tuaan suami 3 bulan. ya serunya meski beda negara tapi masa2 remajanya kan berada di level yang sama, bs berbagi cerita masa2 remaja dia dan versi di indonesia.
    Kalau dulu mutusin nikah---tau ya kesambet apa-- diajakin nikah lewat skype..ketawa2 aja..becanda kau..., gitu terus. Tapi nyampe pada 1 titik, bisa yakin gitu.Padahal waktu itu. Posisi dia abis tes ujian cpns terakhir, tapi gak lulus, video call orangnya curhat sampe nangis:D dengerin aja.kasih saran,orangnya mudah nerima masukan. ada yg bikin klik gitu, bismilah aja diajak nikah, datang ke indonesia. kalau ketemu ga cocok .kita pisah.hahah nekad bgt emang. ceritanya panjanga*bs baca di blog wwkwkw* tapi yang bikin yakin itu ,krn ngerasa dia bs jadi parthner hidup yang baik. selepas nikah malah jobless, dpt kerja di pabrik sebulanan, nyoba ujian pns lagi-dilimit umurnya-istri yang nekad nyuruh dia berhenti kerja:D tapi kita siapin planning lainnya. Qodarullah malah keterima,begitulah sampe akhirnya beranak 2. kalo dibilang selevel kyknya sih iya, sama2 dr keluarga biasa, dan sama2 punya tipe bapak yang sama: galak hahah..tapi kita sepakat belajar dr masa kecil kita berdua yang ngerasa kurang dpt kasih sayang figur bapak, sebisa mungkin anak2 ga ngalamin hal sama. Ngerubah pola asuh dr keluarga masing2, kita make metode kita berdua..mereka hrs lbh bahagia lg dr emak babehnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaahh saya pikir dulunya beda beberapa tahun loh ama suaminya:D
      Masha Allah, makasih sharingnya.

      Ternyata semua keluarga punya kisah tantangannya masing-masing ya.

      Tapi, saya salut mba, karena menurut saya, pasangan yang terbaik dalam mendidik anak adalah pasangan yang bisa sevisi dan semisi.

      Dengan begitu parenting yang baik bisa ditanamkan ya :)

      Hapus
  16. saya menikah anteng-anteng aja selama 14 tahun ini sampai tetangga nanya kok nggak pernah ribut sih nggak pernah ada masalah ya , padahal banyak masalah sih cuma ya cinta kami jauh di atas segalanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masha Allah, kapan2 share tipsnya dong pak :)

      Hapus
  17. Q beda 10thn loh..
    Alhasil Alhamdulillah bahagia...😁😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masha Allah, usia juga bukan masalah ya mba :)

      Hapus
  18. kalau orang jawa bilang sih perlu dipertimbangkan bibit bebet dan bobot kak :D
    tapi nggak tahu juga sih soalnya itu kata orang tua :D
    kalau menurut undang-undang sih menikah itu adalah sebuah ikatan janji suci dari 2 orang pasangan suami istri untuk membangun keluarga yang kekal abadi (UU no.1 thn 1974) tanpa ada paksanaan dan intimidasi dari pihak manapun :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya, kapan2 saya mau bahas tentang bibit bebet dan bobot.
      Ini sebenarnya sudah pernah ada di draft saya, tapi tenggelam hehehe
      Thanks udah semacam ingatin hahaha

      Betewe setuju banget tuh dengan UU :D

      Hapus
    2. wah ditunggu kak ulasannya, kebetulan saya juga nggak begitu paham sih sama bibit bebet bobot itu, hanya menirukan orang tua aja :D

      kalau uu itu saya baru belajar kemarin kak, lumayan pusing juga ternyata baca dan pahami undang2 ya hhhhh :D

      Hapus
    3. siaaapp, UU bikin puyeng karena bahasanya kadang menjebak :)

      Hapus
  19. alhamdulillah sudah menikah
    hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, semoga bahagia dan berjodoh selalu :)

      Hapus
  20. "Menurut saya, menikah akan lebih bahagia bukan karena levelnya sama.
    Tapi saat kita menikah dengan pasangan yang begtu kuat memegang komitmen bersama."

    Bener ini! Tapi, masalahnya adalah.. mana pasangan aneee :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahahah, ya ampun, udah saya baca seksama, ujungnya gitu wkwkwk
      Ayo dijemput pasangannya hahaha

      Hapus
  21. Membicarakan level, kadang ada yang berpendapat kurang baik memandang orang dari level (termasuk ekonomi). Tapi kenyataannya ini manusiawi, bahkan yang suka menasehati hal semacam itu pun belum tentu dalam hatinya menerima kehadiran orang lain dengan status dibawahnya untuk hadir kedalam kehidupannya. Kalaupun ada orang yang benar-benar tulus memandang kesamaan derajat semua manusia tanpa memandang keadaan keluarganya (terutama dalam memilih pasangan), itu merupakan sesuatu yang super langka.

    Memang tidak bisa diabaikan kalau menikah dengan dasar Lillahi Ta'ala pintu rezeki terbuka lebih lebar, jalan turunnya rizki bertambah. Tapi bukankah itu semua juga tergantung bagaimana menjalaninya, jadi saya setuju kalau komitmen dan saling melengkapi kekurangan pasangannya akan menciptakan harmonisasi yang berbuah kebahagiaan.

    Dan by the way, tulisan mbak Rey ini menarik karena terkesan jujur apa adanya dan mungkin juga dirasakan oleh kebanyakan orang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. awwww..awww..awwww...
      Makasih udah baca tulisan receh ini hahaha

      Sukaaa banget ama tanggapannya.

      Dan iyessssss, setuju banget!

      Kebanyakan orang hanya bisa berbicara, tapi kalau jalanin udah ogah duluan.
      Bilang jangan melihat level ekonomi, giliran didekatin ama orang yang beda level (khususnya di bawahnya) di jamin langsung kabur hahaha

      Manusiawi sih menurut saya.

      Sayapun demikian, setelah nikah baru sadar, level itu cuman awalnya, yang paling penting itu komit.

      Sesama /beda apapun level, kalau komit untuk saling bekerja sama hidup bersama selalu kuat, insha Allah bakal bisa bertahan selalu :)

      Hapus
  22. Waduh kisah mbak rey ini bikin saya jadi ingat waktu muda ehehe..skarang setelah hampir limabelasantahun menikah, entah sudah lupa apa itu selevel. Yang penting kita selalu mencoba untuk ada satu sama lain. Walaupun taksempurna.
    Semoga langgeng ya mba rey dengan pak su nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah, waahhh mbaaa, sharing tipsnya dong setelah 15 tahun berlayar bersama, saya yakin udah beragam ombak yang diterjangnya, masha Allah.
      Semoga langgeng dan berjodoh selalu ya mbaa :)

      Hapus
  23. Sebuah pencerahan yang sangat berarti untuk saya.
    Menikah itu cukup ribet ya. Saya masih suka bertanya-tanya pada kakak2 yamg sudah menikah, kok bisa akhirnya memutuskan menikah? Mikirin apa? Dll.
    Bookmark ah, kapan2 baca lagi. Heheheh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha bagus banget tuh, sebaiknya emang banyak bertanya, banyak membaca, agar minimal udah ada bayangan seperti apa dunia pernikahan itu.

      Sayapun sering berbagi kisah sendiri di dalam tulisan di blog ini, dengan harapan agar bisa dipetik hikmahnya buat adik2 yang belum menikah :)

      Hapus
  24. Cie mbak rey yang lagi mengenang masa-masa dahulu. Gw yakin ini nulisnya pasti sambil bayangin terus sambil ketawa cekikikan. Iya kan mbak?

    Wkwkwkwkk

    BalasHapus
  25. Belum nikah aku nih, Mbak. Baca ini kok aku jadi ketawa sendiri. Kalo emakku tetep pengennya punya mantu yang se-iman dan se-level. Wkwkwk. Malah curhat. Baca ini jadi keinget jaman-jaman penuh cinta pas masa SMK, 5 tahun yang lalu. Hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awww.. Faridaaa, kangen ih :D
      Hehehe seiman itu penting say!
      Kapan2 saya tulis deh, ini hampir sama dengan bibit bebet bobot :D

      Hapus
  26. Btw, aku belum menikah mbak. Tapi sepertinya aku harus mengakui bahwa "selevel" itu terkadang dibutuhkan. Setelah 3 tahun putus, tiba-tiba mantan aku datang dan yeah, dia sepemikiran sama mbak rey. Intinya dia bilang kalau kita selevel. Ehh, jadi curhat 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. eaaaa... eaaa

      Iya... kalau belum nikah, untuk memudahkan jalan ke pernikahan emang selevel yang paling mudah.

      Tapi setelah menikah semua jadi lebih komplek lebih dari sekadar selevel :)

      Hapus
  27. yang bener itu : "menikahlah dengan yang manis.."


    eh, itu mah berbuka yah?

    BalasHapus
  28. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Aamiin...

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, spam, link hidup dan unknown, auto klik spam :)