Menikah Saat Benar-Benar Siap (?)

Kapan wanita siap menikah

Sharing By Rey - Kapan nikah? pertanyaan yang bikin galau kan ya.

Di zaman sekarang, gaung para wanita melawan patriarki (katanya) terdengar di mana-mana, salah satu bentuk materi kampanye nya adalah, menyarankan pada semua wanita untuk menikah saat benar-benar siap.

Menurut kebanyakan wanita, tingginya angka KDRT dalam rumah tangga, depresi pada ibu, pelecehan seksual yang menempatkan wanita bak alat pemuas seksual dan juga perceraian, tidak lain dan tidak mungkin karena ketidak siapan lahir dan batin seorang wanita yang memutuskan menikah, karena hatinya tertutup oleh perasaan cintanya.


Tanda-Tanda Wanita Siap Menikah


Untuk itu, setiap wanita seharusnya mengenali tanda-tanda pada diri mereka, apakah mereka benar-benar siap lahir batin untuk menikah, atau hanya perasaan hati yang telah buta tertutup cinta sesaat.

Menurut idntimes.com, ada beberapa tanda seorang wanita telah benar-benar siap menikah, yaitu :

  • Selalu bisa menyelesaikan tanggung jawab yang ada, karena menikah adalah mengambil tanggung jawab sebagai seorang istri dan ibu, yang tiak akan mungkin bisa di 'pause' sejenak.
  • Bisa menentukan prioritas dan menjalaninya dengan baik, karena menikah berarti memiliki suami dan anak yang tudak mungkin bisa diabaikan demi ambisi lagi.
  • Menikah bukan hanya karena cinta, karena butuh kematangan diri, financial, dan lainnya.
  • Mengerti bahwa lelaki dan wanita itu berbeda, sehingga harus bisa menghargai satu sama lainnya.
  • Mampu mengendalikan emosi dan tidak mudah marah, karena menikah adalah komitmen seumur hidup dengan satu orang yang mungkin ada beberapa hal yang tidak akan kita sukai darinya. 
  • Tidak egois dan mengerti perasaan orang lain, karena ada pasangan yang juga harus dijaga perasaannya.
  • Tidak mudah terjebak jatuh cinta dengan lainnya lagi.

Wow, sounds bijak banget ya.
Dan saya baru sadar, jangankan dulu sewaktu memutuskan menikah, bahkan sampai sekarang, di usia saya yang 30 plus plus (banyak plusnya) ini, rasanya saya masih juga belajar memenuhi semua tanda-tanda di atas.

Lalu, apakah saya dulu belum siap menikah, namun memaksakan menikah?


Benarkah Kita Harus Menikah Saat Benar-Benar Siap ?


Jodoh, rezeki dan maut, semua adalah rahasia Allah yang tidak pernah bisa kita ketahui, kapan datangnya.

Lalu bagaimana mungkin kita bisa mengatakan hanya akan menikah saat benar-benar telah siap?

Sesiap apapun kita, mendewasakan diri kita, belajar lebih bijak, dan memenuhi semua tanda di atas, jika Allah belum memberikan jodoh, mau kita jungkir balik juga gak bakalan bisa menikah saat itu juga.

Gak heran kan, jika saat ini ada banyak yang sudah terlihat sangat pantas untuk menikah, usia cukup dewasa, finansial sudah stabil, emosi juga stabil, lebih bijak dalam bertindak, tapi masih jomblo.

Jangankan masih jomblo, yang terlihat mapan dan segala memenuhi tanda siap menikah, punya pasangan, tapi tetap (terlihat) seolah menunda pernikahannya, ada saja yang menghalangi niat suci mereka untuk menikah.

Begitulah kuasa Allah dalam mengatur hamba-hambaNya.

Sebaliknya, ada yang terlihat masih kekanak-kanakan, belum siap menikah, masih labil, dan segala hal belum memenuhi tanda menikah, tapi jika Allah menghendaki dia menikah, siapa yang sanggup mencegahnya?

Apakah itu termasuk menikah dipaksakan?
Saya rasa tidak!

Kapan Waktu Terbaik Untuk Menikah ?


Saya rasa, tidak akan ada yang tahu kapan waktu terbaik untuk menikah.
Hanya Allah yang tahu waktunya, karena Dialah Maha Tahu dan Dialah perencana terbaik kehidupan hamba-hambaNya.

Dan satu yang harus kita ingat, Allah tidak pernah memberikan hambaNya melebihi batas kemampuan hambaNya.

Daripada sibuk menunda pernikahan dengan berbagai alasan, entah itu karena 'i am not sure, he is the right one' atau mungkin 'i am not sure, i am ready for this (married)' , mending persiapkan diri sedini mungkin untuk menjadi seorang istri dan ibu.

Belajar dari pengalaman sendiri, sudah menjadi PR saya sebagai seorang ibu, untuk mendidik anak sebaik mungkin dalam menyiapkan diri menghadapi kehidupan sedari dini sesuai kemampuannya.

Bukan usia yang bakal mendewasakan dan menyiapkan mental seseorang dalam menikah.
Buktinya, saya menikah pada usia 27 tahun dan saya melewati masa awal rumah tangga bagaikan kucing dan tikus dengan suami, drama setiap hari, padahal sebelumnya saya sudah mengenal dekat si pak suami selama 8 tahun.

Bahkan, kami hampir saling menyerah di usia pernikahan yang ke-5.
Dan hingga hari ini, saya masih belajar banyak untuk menjadi seorang istri dan ibu yang ikhlas.
Iya..

Menurut saya, hal utama yang harus disiapkan sedini mungkin adalah ikhlas mengikuti aturan Allah, ikhlas menerima takdir Allah, sehingga lebih bisa menjalani hidup dengan damai.

Karena hidup sejatinya adalah perjuangan, yakin banget, meski seorang wanita sangat beruntung sudah memenuhi semua kriteria di atas lalu waktu menikah datang.
Bukan berarti dia bakal melewatkan pernikahannya tanpa tantangan.

Karena menikah adalah perjuangan.
Perjuangan untuk ikhlas berbagi selalu dalam menjalani hidup ini, hingga Allah perintahkan kita kembali kepadaNya

SEORANG DIRI.

Jadi, jangan menunggu siap baru menikah.
Tapi persiapkanlah diri sedini mungkin, karena kita tidak pernah tahu, kapan waktu jodoh menikah akan tiba, atau bahkan mungkin maut dulu yang menjemput kita

Wallahu alam.

Semoga bermanfaat :)

Sidoarjo, 15 Maret 2019

Reyne Raea untuk #FridayMarriage

34 komentar :

  1. Kalo nunggu siap, apalagi dari segi financial kayaknya gak akan siap mbak. hehe..
    tapi memang harus siap sih, dari segi mental dan juga tanggung jawab baik sebagai istri maupun suami. Akupun juga masih belajar menjadi istri yang baik itu gimana.. hehe..

    bener kata mbak rey, kunci nya ikhlas supaya hidup berjalan lebih damai.
    Ikhlas harus begadang ngurus anak-anak, ikhlas harus bekerja juga ngurusin segala urusan rumah tangga, ikhlas saat kita lagi sibuk nyuci baju, beberes rumah tapi suami malah asik main hp.. wkwkwk *kok curhat*

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakakka, kalau yang terakhir itu sulit ikhlasnya mah saya.
      Saya lagi sibuk sedang suami ikut sibuk bantuin saja saya kesal, apalagi saya sibuk dia main game hahaha

      Hapus
    2. wakakak.. serba salah dong mbaaa..
      "aku kudu piyeee?" kata pak suami.. hahaha

      lah saya mah seneng bingit lah mba kalo suami ikut sibuk bantuin.. sujud syukur kalo perlu. hahaha

      Hapus
    3. hehehe, iya mba, saya lebih suka kalau suami ngerjain hal lain, main sama anak, ajak main langsung bukan ngajak nonton yutub hahaha

      Hapus
  2. Kalau bicara masalah kesiapan.... setelah ngintip suka dan duka orang yang sudah menikah.*ingat cuma intip pengalaman mereka doang, hahahha.....bukan intip yg lain2, okehhh*

    Maka, mungkin orang akan lebih memilih menunda pernikahan, karena ngak kuat hadapi masalahnya.maunya ENAK-nya doang.hahaha...

    Tapi kalau sudah mendengar ceramah Ustadz tentang Pernikahan, mungkin orang akan buru - buru menikah, kenapa ?

    Karena Dalam pernikahan semua yg dilakukan jika niatnya karena Allah SWT , Insyaallah dihitung Ibadah dan mendapat Pahala.

    Suami memberi nafkah ke Istri adalah ibadah / pahala, Istri Pijiti Suami adalah Ibadah / pahala, Suami Masakin Istri adalah Ibadah.

    *tapi daripada Gosong*kayak saya masak*, biarin sich istri saja yang masak, kita tinggal duduk selonjoran saja sambil nonton Tivi atau main Game,hahahah...*

    Jadi semua yang di lakukan oleh istri dan suami yang diniatkan Untuk mencari ridho Allah SWT, maka Insyaallah adalah semuanya Pahala. KECUALI KDRT. :) penjara taukkkk!!!

    Jika suami berbuat amalan baik / sholeh , maka sang istri dapat bagian PAHALAnya JUga, NAMUN kalau Istri Berbuat Dosa, MAKA suaminya lah yang akan menangggung DOSA-nya.Sereeemmm yach nasib suami, kalau istrinya banyak dosa... :)

    Saya mohonkan kepada Ibu - ibu yang baik hati di Dunia ini, MOHON janganlah ada PRINSIP " Uang Suami adalah UangKU, UangKU bukan Uang Suamiku "

    Yang tepat menurut saya adalah UANG KITA BERSAMA, jadi jaganya harus bersama - sama, biar tidak ada PROBELM .

    so..Tujuan Menikah dan Motivasi menikah , biasanya akan menjadi pertimbangan untuk memutuskan Segera BERBULAN MADU secara SYAH atau TIdak.

    Menikah bukan untuk ditakuti, Jika Niatnya adalah IBADAH dan Mencari RIdho Allah. SWT.




    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkkwkw... kayaknya beberapa artikel2 saya di blog ini yang mungkin bikin para single jadi mikir untuk menikah.

      Memang benar, menikah itu adalah ibadah, dan ibadah gak ada yang mulus kayak jalan tol baru launching heheheh

      Btw, para wanita zaman now, jarang loh yang mau pakai prinsip uangku adalah uang kita.
      Apalagi kalau sang istri udah pernah dikhianati, jadinya lebih ekstrim.

      Uangku adalah uangku.
      Uangmu adalah separuh buatku, separu buat kita

      Langsung pengsan pak suaminya wakakakakkaka

      Tapi apapun itu, emang sebaiknya segala hal dalam rumah tangga dibuka atau diketahui berdua pihak.
      Jangan ada rahasia2an :D

      Hapus
  3. Ternyata panjang juga list tanda-tanda wanita yang siap menikah...
    Kalo di kampong, bila pasangan udah lengkeeet mulu dan umur cukup, langsung deh ditarik ke KUA, katanya sih daripada terjadi yang engga2....hihihi..beda-beda yaa

    BalasHapus
  4. ikhlas dan niatkan karena Allah itulah kunci utama namun apakah hal tersebut mudah dicapai apalagi di usia masih remaja , berpulang dri person masing-masing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua butuh perjuangan ya, jangankan remaja, bahkan orang dewasa aja banyak yang menyerah dan memilih berpisah :)

      Hapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Widih teteh rey membahas pernikahan,jadi keinget temen saya yang bentar lagi mau nikah wkwkckk

    Sebenarnya pernikahan adalah sebuah hal yang harus kita lakukan,tetapi ada baiknya sebelum menikah ada beberapa hal yang harus kita pertimbangkan,yaitu

    1.finansial,banyak orang yang menikah tanpa memperhatikan aspek ini,padahal aspek finansial adalah aspek yang paling penting dari aspek-aspek lainnya,karna dengan aspek inilah kita bisa membuat rumah,menyekolahkan anak,memberi asuransi untuk keluarga dll yang intinya aspek ini adalah aspek pertama yang harus kita wujudkan terlebih dahulu sebelum menikah

    2.cinta,cinta itu bisa hilang bisa muncul lagi,layaknya matahari yang terkadang bersinar terang dan terkadang redup dan tenggelam,untuk cinta jangan terlalu dipaksakan,jika memang belum saatnya menikah ada baiknya kita jadikan ia sebagai teman,he-he

    3.keseriusan,menikah bukan suatu permainan,untuk itu dibutuhkan keseiusan dari kedua mempelai untuk membina keluarga yang senang dan bahagia

    4.agama,ketika ingin menikah perhatikan agama dan ibadah pasangan anda,semakin tinggi niat beribadahnya maka bisa dipastikan ia bisa menjadi pendamping hidup yang luar biasa

    5.yang kelima silakan karang sendiri wkwkckk,tapi intinya,keempat hal duatas sudah menjadi kepantasan yang harus dipenuhi jika ingin menikah,oke mungkin itu saja dari saya dan sampai jumpa,he-he

    Kuanyu

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, teorinya emang gitu, sayangnya banyak yang kehilangan arah saat sudah terjun dalam dunia pernikahan langsung.

      Kalau menurut pengalaman saya, menikah itu berarti siap beribadah dengan ikhlas.

      Sekeren apapun finansial planning kita, akan ada masa-masa di mana kita diuji Allah dengan ekonomi.

      Apalagi gak ada planning ya hehehe

      Intinya, persiapkan mental selalu, jangan menunda untuk itu, karena jodoh hanya Allah yang tahu kapan datangnya :)

      Hapus
  7. Jadi ingat masa dulu kala muda, pengen nikah meski belum siap karena belum ada jodohnya, ha ha. Perkara jodoh itu memang misteri Illahi yang penting sudah ikhtiar.
    Apa yang telah terjadi di masa lalu mestinya jangan mengalangi seseorang untuk ragu melangkah mencari pasangan. Jalan terbaik adalah doa dan ikhtiar. Mempersiapkan diri dengan bekal ilmu pengetahuan. Ada banyak cara untuk belajar. Juga memahami pasangan. Kayaknya ada banyak hal yang harus dilakukan seseorang agar bisa menikah. Yang penting niat baik demi ibadah saja, lainnya akan menyusul sesuai proses kehidupan.
    Siap atau tidak siap, hatilah yang paling menentukan, mau condong ke mana? Arahkan ke kebaikan saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awww.. setuju pisan mbaaa..
      Menikah adalah ibadah, dan ibadah gak ada yang terlihat mudah-mudah saja :D

      Hapus
  8. Bisa menerima apa adanya dg bener" menerima dan mau usaha bareng, saling ngingetin dan ngertiin dan udah bareng" usaha sebelum menikah, hummm selanjutnya kayaknya tinggal nunggu ridho Allah hehe.
    Itu sih yg aku liat dri temn aku, bikin baper hihi.


    Iya kak bner. Kalo nunggu siap mah gak siap' juga. Butuh inilah itulah, onolah. Kurang ini itu dll. Masih berkarir, kerja sbuk, kwkw. Ada' aja yak jhehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awww... keren itu, meskipuunnn ada tapinya juga.
      Karena suer kehidupan setelah menikah itu beda banget ama sebelum menikah.

      hehehe kesempurnaan gak pernah ada di dunia ini ya, mau dikejar sebagaimana pun, hanya Allah sang pemilik kesempurnaan :)

      Kalau nunggu sempurna, ya gak nikah2, pas jodohnya datang, kacau deh hehehe

      Hapus
  9. Jodoh maut memang sudah tuhan yang menentukan..Tetapi manusia tetap harus berusaha dalam mencari pasangan. Dan harus lihat bibit, bebet, serta bobot demi masa depan nanti..😄😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bangettt, tapiii jangan lupa mempersiapkan diri juga, entar udah dapat bibit bebet bobot bagus, lah masalahnya malah ada di kita hehehe

      Hapus
  10. setuju rey, kalo menikah itu pastinya karena Allah memang sudah menentukan terlebih dahulu. Tp masalah siap ato ga nya, sbnrnya tergantung masing2 individu :D. Aku nikah pertama kali umur 20. Tapi bertahan hanya 4 thn. Aku menganggab wkt itu kita sama2 masih emosian dan egois. Aku egois krn keukeuh mau kuliah di Malaysia. dia egois krn ga bisa nahan napsu utk tidak selingkuh.memang lbh baik pisah. untung ga ada anak. kedua kali, aku nikah ama suami skr umur 30. Di sini belajar deh dr penglaman pertama. nahan emosi, lbh ngutamain keluarga, poin2 di atas itulah pastinya. tp jujurnya aku blm bisa semua ngejalanin dgn baik. masih butuh banyaaaaak bgt belajar utk nahan emosi,nahan ego. tp setidaknya, aku bertekad ga mau ngulangin kesalahan dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbaaa udah mau berbagi, saya tuh salut banget ama wanita-wanita yang mau bangkit dan belajar lebih baik lagi.

      Kalau saya di posisi mba Fanny, saya ga bisa bayangin bisa bangkit dan percaya lagi dalam membina hubungan.

      Hidup emang untuk terus belajar ya mba, demikian juga dengan pernikahan :)

      Semoga kita semua bisa lebih baik lagi, lebih dewasa dalam menyikapi kehidupan ini :)

      Hapus
  11. Bawr nih kalau bahas nikah.. Wkwkwk memang ya kiymta harus mempersiapkan sedini mungkin. Tapi mulai darimananya itu yang bingung mbakk haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau saya, lebih suka belajar dari pengalaman orang mba, membaca tantangan-tantangan menikah, thats way, saya sedikit lebih ekstrim buka-bukaan menulis tentang rumah tangga di blog ini, sebenarnya ingin berbagi ke banyak adik2 khususnya wanita, tentang bagaimana kehidupan berumah tangga itu sebenarnya.

      Memang gak bakal sama persis, tapi setiap pasangan pasti mengalami yang namanya tantangan dalam berumah tangga.

      Pernah liat gak saat ada yang nikah, diadakan dulu nasehat2 rumah tangga.
      Dulu saya bosan dengernya, setelah nikah baru deh sadar ternyata nasehat itu benar adanya hehehehe

      Hapus
  12. Kalimat terakhir yang berasa ditampol kenyataan, "persiapkan diri karena kita tidak tau kapan jodoh itu akan datang?"
    Kalau si jodoh sudah datang dan kita belum siap secara mental dan finansial yah gimana nantinya ya?

    Hhmmm jadi harus belajar mengatur keuangan dan emosi juga nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe sama dengan kematian ya, siap ga siap kita kudu siap, jangan sibuk terlena dengan alasan 'belum siap' karena dunia ini gak abadi :)

      Hapus
  13. Paling seneng kalo mbak Rey udah bahas soal pernikahan ^^b tulisannya mantoelll :D

    Kalo tanda siap nikah saya itu simple mbak :
    Ketika udah siap ikhlas ngalah adu argumen dan nurut semua perintah suami karena buat saya pernikahan itu lebih dari soal cinta-cintaan tapi udah jadi pengabdian ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awww... setujuuuhhh..
      Pada hakikatnya pernikahan sesuai Islam itu kudu seperti itu, terlepas dari kata orang yang tidak setuju karena aura patriarki menyelebungi hahahah

      Hapus
  14. wah motivasi buat cepet nikah nih, mantul mba rey

    BalasHapus
  15. Ini postingan yang memecut saya hahaha. Menikahlah karena iklhas mengikuti aturan Allah SWT. Insha Allah. Menikah memang bukan perkara mudah, tetapi siap tidak siap, jika Allah SWT sudah menentukan, niscaya menikah juga dan otomatis akan membiasakan diri/beradaptasi dengan segala urusan pernikahan dan rumah tangga. Akyu padamu Kak Reyyyyy :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe benar kak, mau setidak siap apapun kita, kalau jodoh udah di depan mata, gak bisa lagi kita menghindar :)

      Hapus
  16. Pelajaran banget nih buat yang masih jomblo, ternyata untuk jadi seorang istri itu gampang gampang susah ya....
    Apalagi kita harus bisa berkomitment dengan satu orang saja seumur hidup, nggak boleh egois juga karena udah ada pendamping.
    He..he... Yang belum ngrasain suka dukanya nikah, seperti saya ini, harus banyak-banyak doa dapet suami yang baik😁

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)