Minggu, Maret 17, 2019

Pengalaman Menonton Festival Rujak Uleg Surabaya 2019


Assalamu'alaikum :)

Minggu pagi 17 Maret 2019, kami sekeluarga sudah pada cantik dan ganteng-ganteng serta wangi.
Bukan mau olahraga pagi-pagi kok, masa iya olahraga tapi mandi dulu? hehehe
Kami ingin menonton acara keren yang diselenggarakan setahun sekali oleh Pemkot Surabaya, yaitu Festival Rujak Uleg Surabaya 2019. 

Sejujurnya, saya bukanlah pecinta makanan khas Surabaya, apalagi kalau yang di uleg adalah bumbu rujak yang warnanya hitam hahaha. Agak gimanaaa gitu liatnya.
Tapi pas dimakan, kok lumayan enak ya, meskipun tetep saya gak menjadikan rujak uleg sebagai makanan favorit juga.

Salah satu motivasi saya menonton festival tersebut adalah, karena KEPO! hahaha.
Sudah bertahun-tahun hidup di Surabaya, tapi sama sekali belum pernah melihat langsung seperti apa sih hebohnya acara tersebut?

Tentang Festival Rujak Uleg Surabaya 2019


Festival rujak uleg selalu diadakan setahun sekali dalam rangka memperingati hari jadi kota Surabaya ke 726 yang jatuh di bulan Mei nanti, namun karena tahun ini bulan Mei nanti bertepatan dengan bulan Ramadhan, serta bulan April bakalan sibuk dengan Pemilu, maka tahun ini, kegiatan yang biasa diadakan setiap bulan Mei ini, dimajukan ke bulan Maret.
 Baca : Tempat Makan Favorit Di Surabaya
Ada yang lebih menarik pada pelaksanaan festival rujak uleg Surabaya 2019 kali ini, karena bukan hanya sekadar merayakan makan bareng rujak uleg, tapi juga akan diikuti dengan memecahkan rekor MURI dengan kategori cobek terbesar serta peserta terbanyak.

Ibu Tri Rismaharini, walikota Surabaya bersiap di depan cobek raksasa, source : senayanpost


Hal ini sengaja dilakukan, mengingat tahun lalu, penyelenggaraan Festival Rujak Uleg batal diadakan karena adanya kejadian yang mencekam kota dengan bom bunuh diri yang terjadi di beberapa gereja dan kantor POLRESTA Surabaya.

Dalam perayaan festival rujak uleg kali ini disediakan cobek raksasa yang terbuat dari batu gunung dengan ukuran 250 cm, tinggi cobek 30 cm dan dudukan cobek 140 cm.
Berat cobek batu ini gak tanggung-tanggung yaitu seberat 1,5 Ton, sehingga tidak heran harus menggunakan alat berat excavator untuk memindahkan cobek tersebut di lokasi festival rujak uleg Surabaya.
Baca : Tentang Kota Kenangan
Karena besarnya diameter cobek tersebut, maka bisa digunakan oleh 25-30 orang dalam sekali menguleg, termasuk juga ibu walikota favorit masyarakat Surabaya, Ibu Tri Rismaharini.

hebohnya peserta festival rujak uleg Surabaya 2019, source : antaranews
Selain, memecahkan rekor MURI dengan cobek ulegan terbesar, festival rujak uleg Surabaya 2019 juga memecahkan rekor dalam hal peserta terbanyak, sekitar 1600 orang yang menjadi peserta festival tersebut, yang terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari Hotel, Restoran, sekolah, mahasiswa asing, komunitas, Rumah sakit hingga instansi lainnya.

Dan sudah pasti, karena pesertanya berjubel, maka kemeriahan sungguh lebih terasa.
Baca : Asal Usul Surabaya Dan Kota Penuh Pahlawan
Uniknya, pesertanya bukan hanya ikut lomba menguleg dengan meriah, namun mereka juga harus mengenakan pakaian yang unik serta berjoget bersama sambil menguleg bumbunya.


Kesan Mendalam Saat Menonton Festival Rujak Uleg Surabaya 2019


Kami sampai ke dekat lokasi festival rujak uleg Surabaya 2019 sekitar pukul 7.45 pagi.
Karena malas terjebak macet, kami memutuskan untuk parkir agak jauh dari lokasinya yang berada di jalan Kembang Jepun Surabaya.

Kami memilih JMP (Jembatan Merah Plaza) untuk parkir kendaraan, lalu berjalan kaki menuju lokasi sambil menggendong si bayi.

Cerah namun gerah hahaha

Meskipun masih tergolong pagi, karena acaranya di mulai pukul 8.00 pagi, namun ternyata pengunjung sudah banyak yang memadati lokasi.

Kami terpaksa berjubel mengikuti arus lautan manusia menuju ke lokasi agak tengah untuk melihat kemeriahan acaranya.
 Baca : Explore Surabaya, Antara Warung Aroma Makassar Dan House Of Sampoerna
Sayangnya, karena membawa bayi yang juga sedang pilek, saya jadi gak bisa leluasa bergerak untuk melihat dari dekat, saya malah fokus nyari tempat yang agak sejuk, meskipun juga sebal karena kebanyakan ada asap rokok yang mana saya parno banget kalau kena si bayi.

Selain asap rokok, pemilihan lokasi juga sepertinya kurang praktis, terlepas dari mungkin maksud pemerintah menyelenggarakan acara tersebut di jalan Kembang Jepun agar memperlihatkan keindahan bangunan kota lama Surabaya ke khalayak umum dalam acara ini, di sisi lain hal tersebut malah terasa gak nyaman buat pengunjung dan penonton, karena harus berjubel di pinggir  jalan yang sempit demi melihat kemeriahan acaranya.

lautan manusia dari peserta dan penonton

Meskipun si kakak akhirnya menyerah, gak kuat panas dan minta segera pulang karena gak kuat gerah dan panas, saya pantang menyerah pulang sebelum mencicipi rujaknya.

Dan meminta pak suami untuk keliling mencari rujak.

Butuh sekitar 15 menit, hingga pak suami kembali membawa 2 macam rujak yang ditaruh di sebuah wadah stereofoam dan daun pisang.
Kata si papi, dia dapat rujak tersebut dari Hotel Alana dan Hotel Grand Darmo Suite

Lalu bagaimana rasanya?

Penampakan rujak uleg yang diambil oleh si papi

hehehehehehe boleh ngakak dulu gak?
Karena menurut saya, lebih mantap rasa rujak uleg yang dijual di warung-warung kecil yang harganya kurang dari atau sama dengan 10ribu perak saja.
Baca : Bebas Keliling Surabaya
Yang lainsih gak tahu rasanya, karena setelah mencicipi rujak tanpa cingur tersebut, kami memilih pergi saja, sebelum anak-anak pada krenki kegerahan di sana.

lautan manusia :D

Beberapa tips yang harus di perhatikan jika ingin menonton festival Rujak Uleg Surabaya :
  • Sebelum menghadiri festival, ada baiknya mencari info mengenai acaranya di berbagai media sosial, bisa melalui akun-akun instagram yang membahas tentang Surabaya, dari situ kita bisa tahu waktu mulainya, letak parkiran, arus lalu lintas dan sebagainya, sehingga kita tidak akan terjebak macet sia-sia di sekitar lokasi.
  • Untuk menghindari kemacetan, usahakan datang sebelum mulainya acara, dan segera mengambil tempat berdiri di posisi yang strategis di dekat pesert.
  • Kenakan baju yang nyaman, sebaiknya dari bahas kaos atau katun, karena sumpah di sana gerahnya minta ampun, jangan lupa memakai alas kaki yang nyaman, sebaiknya memakai sepatu yang nyaman, bukan high heels
  • Sebaiknya hindari membawa stroller si kecil, kagak ada jalannya boookk, yang ada bakal dicelatuh orang sekampung karena dorong-dorong stroller sementara orang berjubel.
  • Sangat disarankan membawa gendongan, jika mengajak anak ke sana, karena anak bakalan keinjak-injak jika gak digendong, dan menggendong anak tanpa gendongan berpotensi bikin mamak pegal hahaha
  • Sangat disarankan memakai tabir surya, karena matahari di Surabaya lumayan menyengat meski di pagi hari, ya kecuali matahari yang di emol sih, dijamin adem hahaha. Btw, meski sinarnya menyengat, matahari yang cerah amat sangat kece dibuat foto-foto, hasilnya keren abis haha
  • Antri dengan tertib saat meminta rujak yang sudah disediakan, jangan rebutan, malu ah cuman rujak aja pakai acara rebutan hehehe.
  • Dan yang lebih penting, jangan buang sampah sembarangan yaaaa..., sayang sekali kemarin saya agak kesulitan mencari tong sampah dekat lokasi, sehingga saya rela gotong-gotong sampah sampai nemu tong sampah yang agak jauh dari lokasi

Lebih asyik buat foto-foto hahaha
Btw, selamat ulang tahun Surabaya yang ke 726 tahun, semoga semakin damai dan jadi kota untuke semua kalangan, aamiin :)

Jadi, siapa yang sudah pernah ikutan menonton Festival Rujak Uleg Surabaya?
Atau malah ikutan jadi pesertanya?
Sharing di komen yuk :)

Semoga bermanfaat :)

Sidoarjo, 17 Maret 2019

Wassalam

Reyne Raea

FB : Reyne Raea
IG : @reyneraea
Twitter : @reyneraea

******

25 komentar:

  1. Ya ampun emak Rey seterong banget, parkirnya aja di JMP :D bawa dua krucil pula, salut dagh. Lebih keren lagi, acaranya kemaren tulisan sudah tayang. Btw, cobek yang dibuat Rekor MURI, sudah dicuci belom ya? Hehe. Piye nyucine segede itu :D *pertanyaan apaan sih ini. Eh tapi seru banget yaaaa :D Ruame pol dipotonya.

    Aku mau kesana tapi bayangin panasnya, jadi belok kanan ngadem aja di museum Tugu Pahlawan :)

    Semoga taun depan bs ikutan serunya di Festival Rujak Ulek Lui khan udah rada gede, bayangin misal Lui kemaren kuajak kesana dan bilang "ma Lui pup" udah pingsan aku wakkaakak.


    Selamat ulang taun Suroboyoku :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sejujurnya, kemaren ke sana itu dengan harapan bertemu mama Lui dan Lui, karena biasanya si mama Lui itu selalu ada di acara-acara kayak gini, eh ternyata malah si Adeuny yang ke sana, itupun ga ketemu.

      Aslinya ga kuat sih, cuman emang juga mau balik belum ambil foto, kan sayang kalau ga diabadikan di blog, wakakakakkaka

      Tapi serius, kalau cuman ama anak2 aja mungkin saya juga angkat tangan, rameeee dan sumuuukkk, kasian Lui bisa krenki di sana :D

      Cobeknya kayaknya dilap aja deh, kebesaran nyucinya, abis air buat nyiram wakakakkaka

      Hapus
  2. Saya baru denger ada Festival Rujak Uleg. Kalau masaknya borongan gitu, emang mestinya enakan rujak uleg mas-mas di warung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwkw, kayaknya ada juga sih yang enak, tapi gak tau yang mana, kan dijadiin lomba, dari ribuan peserta dicari yang paling enak dan unik buat jadi juara :D

      Hapus
  3. Haii Kak Rey,
    Wah Kak Rey, kuat banget di Kota Surabaya yang panas bawa 2 anaknya ke tebgah Festival yang pastinya akan lebih panas lagi karena ramainya.

    Anyway, ini pertama kalinya aku tahu Fsstival Rujak Uleg. Apa kabar rasanya?
    Entah... Aku mungkin kenyang duluan sebelum makan.
    Apalagi diuleg ramai begitu, duh mending beli yang sebungkus kecil kayak kata Kak Rey. Eh, ternyata memang enakan yang kecil.

    Aduh, sayang banget tong sampahnya jarang ada ya. Memang, Indonesia banget. Sepi tong sampah. Selain itu, pengen berteduh, eh malah banyak asap rokok berterbangan. Bikin nggak nyaman buat yang nggak ngerokok dan terutama anak kecil.

    Kalau aku sih mending di rumah saja sih Kak.
    Karena nggak suka keramaian kayak gitu.
    Takut asap rokok juga.

    Tapi, nggak apalah sesekali ikut acara meriah gitu ya Kak.

    Semangat! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwkw, aslinya sih rada parno makannya, tapi demi sebuah liputan ala-ala hahaha

      Saya juga baru sekali ini ikutan kok, kepo aja tiap tahun kok meriah banget, ternyata seru meski ya gitu deh ada dramanya juga hahaha

      Hapus
  4. Mbak Rey, gimana caranya sedari pagi siapin krucil dilanjut ikut keseruan Festival Rujak Uleg, dengan parkir yang lumayan jauh dari tkp. Plus berdesakan dan kepanasan, yang mayan capek juga, kan ya? Koq masih bisa lgs update blog, ya? Hihi.
    Jempol lima buat Mb Rey nih, buat semangat ngeblog-nya. Perlu di tiru. ����

    Soalnya hari minggu bagi saya tuh mbak adalah hari-hari santai di rumah plus pe er bersih2 rumah Mbak Rey, hehe.
    Maklum hari-hari kerja, Mamak kejar setoran muter jalanan ikut orang nih mbak, hihi. Jadilah saya kalau minggu suka selonjoran di rumah saja.

    Btw acaranya bareng sama jalan-jalan di Suromadu berarti, ya mbak?
    Baru tahu saya kalau acara tersebut buat merayakan hari ultah Kota Surabaya yang dimajukan karena berdekatan dengan puasa.

    Meskipun saya enggak ikut nonton Festival Rujak Uleg, jadi berasa ikut keseruan dan kegerahan festival tsb loh. Berkat Mbak Rey, hihi.
    Thnaks sharing-nya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakakakak, tahan kagumnya mbaaaaaa..
      Karena ini cuman pencitraan hahaha.
      Aslinya, bisa posting cepet demi mengejar target ngeblog tahun ini plus biar bisa sajikan konten yang gak terlalu basi wakkakaka

      dan demi itu, SAYA TIDUR CUMAN 2 JAM SAJA huhuhu wakakakkaka

      Kalau mau pergi2 semalam udah sounding sih mba, lagian ada pak suami, jadi kami berbagi tugas, saya nyiapin segala perlengkapan, pak suami kebagian mandiin anak.

      Dan mengenai makannya ya terpaksa ditunda, wkwkwkw.
      Saya ga masak, jadi beli bubur buat bayi di jalan.kami sarapan beli juga.

      Kalau beberes saya setiap hari sih, meski ngantuk, lelah, tetep saya kudu beberes, jadi rumah ga berantakan banget.

      Tenang jugaaa..
      Semua itu karena terpaksa kok, soalnya anak2 saya sensitif banget ama debu, dijamin mereka gatal2 kalau banyak debu, jadi emaknya kudu lap2 sapu2 pel2 setiap hari huhuhu

      Iya mba, kemaren tuh acaranya bareng yang Suramadu, mau ikut yang di sana, tapi kebayang panasnya dekat laut, udah keder duluan.

      Minggu besok juga seru tuh, ada festival bunga lagi, sayang saya ada event pukul 11, kayaknya sih gak memungkinkan liat acara tersebut :D

      Hapus
  5. Wuaah ngga nyangka aku ketemu info festival rujak ulegnya disini ..., sebelumnya aku denger di salah satu stasiun radio tentang acara festival ini dan penasaran ngebayangin cobeknya katanya segede gaban.
    Ternyata benaar ...
    Dan kak Rey berhasil memotretnya, good job dan pengalaman nonton festival yang seru :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayoooo ke Surabaya, lagi banyak event bulan ini, memperingati ultah kota Surabaya yang dimajukan karena bertepatan dengan bulan Ramadhan :D

      Hapus
    2. Sayangnya bulan ini belum punya waktu ke Surabaya, kak :(

      Ngomong-ngomong, setelah festival rujak ulegnya usai .. cobek segede raksasa itu selanjutnya buat apaan ya ?.
      Dari situ aku muncul idenya, seandainya cobek besar itu nantinya dipajang buat taman terus dilukis mural ... apik juga ya buat spot fefotoan ya :)

      Foto kak Rey dan adik Darrel berdiri di gerbang Chinna apik .., kayak betulan berada di Tiongkok sana.

      Hapus
  6. widihhhhhh..... mamak Darrell, eksiss nich Fotonya. Hahahahh....

    Saya juga sedang nonton " festival " ditempat saya Mbak pada hari minggu, tapi bukan rujak yang dimasak, melainkan NASI GORENG, jumlah persertanya buanyakkkkk dan sesak penuh orang....

    pose si Darrel pada gambar no 4 dari atas, lucu tuch..... mungkin ia ingin bilang " emak gue kalau BERPOSE kerennnn bangett yach...." .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nasi goreng juga enak tuh hehehe, kalau di Surabaya emang makanan khasnya rujak cingur, makanya diadakan festival rujak uleg hehehehe :D

      Hapus
  7. Terima kasih Kak Rey untuk postingannya ini; bikin saya jadi bernostalgia dengan masa-masa #KakiKereta dulu. JMP itu tempat paling rajin juga yang saya kunjungi hehehe. Insha Allah pengen bisa menonton event ini, entah kapan, yang jelas saya juga KEPO sama seperti Kak Rey qiqiqiq :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha, taun berapa kak Tuteh di Surabaya?
      Saya juga dulu paling rajin ke sini, kayaknya satu2nya mall yang bersahabat bagi saya, karna rute angkot dari kos saya cuman melewati mall ini, padahal jaraknya jauh banget dari kos saya hahaha

      Hapus
  8. Makan bareng nih teh rey,he-he,rujaknya ituloh yang bikin ngiler,kalau dilihat sekilas mirip pecel ya teh,he-he

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahha, iya juga sih, tapi bumbunya lebih pekat dan pakai petis, kalau ga salah pecel ga pakai petis ya :D

      Hapus
  9. Awal baca pengen bikin rujak, ada pepaya mengkal dari pekarangan depan. Kabita da (ngiler karena) dikompori tulisan mengenai rujak, ha ha. Untuk acara sekelas festival memang akan tumpah ruah dengan lautan manusia dan macet yang ngejubileh. Ada benarnya untuk cari info lebih dulu. Saya saja tak nyaman kala nonton karnaval agustusan di kecamatan da lautan manusianya ngejubel gitu. syukurnya Balubur Limbangan tak sepanas Surabaya. Pengen nonton festivalnya juga agar berolleh rujak gratis, ha ha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha beda mba rujaknya, kalau di Surabaya yang terkenal rujak cingur, isinya sayur dan tahu tempe, kadang dikasih cingur atau hidung sapi :D

      Hapus
  10. Saya penghobi rujak uleg mbak, tapi kok warnanya gitu ya, enak nggak sih kalau bikinnya bareng2 dgn cobek raksasa.....tapi menyenangkan sekali bisa nonton acara beginian

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakakakkakaka.. iyaaa, bumbunya pakai petis :D
      Saya juga dulu rada gak selera makannya, apalagi kalau liat langsung yang uleg.
      Tapi kalau udah di makan enak kok :D

      Hapus
  11. Aduh auto ngiler baca judulnya, jadi pengen pulang dan cuss ke warung rujak cingur langganan tarcintah, hahhaha

    Tapi kalau ke tempat ramai yg super berjubel gt emang kudu antisipasi segala hal, ya.
    Mulai parkiran, sandal sampai gendongan, hehhe.

    Pengalaman nonton ogoh2 di Bali dulu, dtg awal tp parkir dkt lokasi, pulangny a jd paling terakhir. Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakakka, iyaaa, ga enaknya kalau parkir di dalam ya gitu :D

      Hapus
  12. Enak juga kayaknya nonton festival rujak uleg ya, tapi gak pas cuaca cerah, maunya semi2 mendung berawan gitu, jadi pengen makan rujak uleg deh abis baca ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, enaknya kalau cerah bisa foto2 kece mba :D

      Hapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, spam, link hidup dan unknown akan langsung dihapus :)