Thursday, July 05, 2018

Traveling Bersama Bayi (Part 3) - Dari Numpang Toilet di ITC Mangga Dua Hingga Foto Di Lorong IKEA


Episode Dari Jakarta ke Tangerang


Assalamu'alaikum :)

Lanjut lagi kisah petualangan traveling mendadak kami, yang di mulai dari ide dadakan bersama dan berjalan tanpa arah hingga sampai ke Solo.
Baca : Mendadak Traveling Keliling Pulau Jawa Bersama Bayi 8 Bulan (Part 1)
Hingga kisah kami semalam di Cirebon dan akhirnya bertemu dengan Jakarta, si ibu kota yang terkenal dengan tugu Monas nya.
Baca : Traveling Bersama Bayi (Part 2) - Cirebon dan Jakarta

Kami berempat masih dalam keadaan kelaparan lepas dari Monas, perlahan menyusuri jalan hingga gak sadar berada di jalan Kramat Raya dan melihat sebuah bangunan lumayan tinggi, setelah dekat tulisannya terbaca, HOTEL THE ACACIA.
Secepatnya saya membuka Google, untuk mencari nomor telepon hotel tersebut.
Belajar dari pengalaman yang sempat kecele berat saat booking tanpa telpon dulu saat di Hotel Sapadia Cirebon.

Ketika itulah saya tau kalau ternyata hotel tersebut punya fasilitas yang lumayan, ada kolam renangnya yang bikin kakak Darrell langsung minta nginap di situ.
Saya lalu menelpon ke nomor hotelnya, dan menurut resepsionis rate kamarnya adalah Rp. 650,000 include breakfast untuk 2 orang.

Ketika intip di Agoda, waooo ada kamar dengan rate  IDR 421,874 dong, udah include breakfast pula. Langsung papi setuju kami menginap di situ.
Mengenai reviewnya, seperti biasa bakal saya tulis secara terpisah ya, hehehe.

Long story short, kami akhirnya menginap di hotel Acacia tersebut, dan makan siang (tepatnya makan sore) di McD jalan Kramat Raya yang gak jauh dari lokasi hotel tersebut.
Malamnya, kami sepakat ke mall untuk makan malam serta membeli beberapa makanan buat si bayi yang terlihat sudah sangat kelaparan.
Sayangnya saya bingung harus ke mall mana? teringat beberapa teman instagram yang sering ke mall Grand Indonesia, papi setuju saja dan kami segera menuju ke sana berbekalkan panduan mbak Google.

Jalanan ramai namun lancar, hanya butuh kurang dari setengah jam, sampailah kami di mall yang lumayan bikin bingung di mana jalan masuk parkirannya.
Setelah masukpun sibuk mutar-mutar cari parkiran yang kosong, hingga akhirnya kami menemukan parkiran dan bersegera masuk ke mall, sebelumnya tidak lupa kami memotret lokasinya, biar gak kelimpungan ngabisin waktu kebingunan mencari tempat parkir kami.
Salah satu sudut parkiran Grand Indonesia

Setelah masuk ke dalam mall, kamipun tertegun.
Sejauh kaki berjalan gak ada tanda sedikitpun tempat makan yang familier buat kami, sebut saja Solaria, atau sejenisnya.
Dan setelah bertanya pada orang-orang, kami diarahkan ke tempat semacam food court gitu, dan sesampainya di situ lagi-lagi kami tertegun, gak ada sama sekali yang familier buat kami.

Sehingga kami memutuskan untuk keluar dari mall.

Waktu sudah menunjukan pukul 20.00, dan kami terbayang kenyangnya makan di Dcost.
Sayapun googling dan menemukan bahwa semua tempat yang ada Dcost nya bakal tutup sebentar lagi, kecuali satu tempat yang tutupnya sedikit lebih malam, yaitu Dcost VIP Pacific Place.

Langsung deh kami menuju ke sana dengan panduan mbak Google, dan sesampainya di mall yang ternyata bernama Pacific Place, sedikit terburu-buru kami segera masuk dan mencari tempat Dcost tersebut. Menurut Google, letaknya ada di lantai 4, dan setelah ketemu....
Saya terpaku, mengapa logonya beda ya?
Ternyata salah sodara...
Dcost yang dimaksud bukanlah Dcost restoran yang biasa kami datangi, melainkan Dcost VIP.
Atuh maaahh, saya pikir VIP itu nama mall nya hiks.

Mengitari lokasinya, kami gak menemukan makanan yang familier, lagi-lagi kami gak tertarik memasuki salah satu tempat makannya, malah segera turun mencari supermarket untuk membeli pisang buat si bayi.
Dan lagi-lagi terpaku, supermarketnya pun gak familier buat kami, yang ada cuman Kem Chicks.
Hadeehh, pusing hayati..
Kami hanya membeli pisang 3 buah lalu secepatnya keluar dari mall, sambil terlebih dahulu foto-foto di atrium nya yang sedang ada pameran penuh bunga yang cantik banget.


Setelah keluar dari mall, kami makin kebingungan, hari semakin malam namun kami masih tetap belum menemukan tempat makan yang sesuai selera kami.
Saat muter-muter gak jelas dengan harapan mendapat tempat makan yang masih buka, tetiba si bayi nangis jejeritan sambil badannya ngulet-ngulet gak jelas.
Gak lama kemudian tercium bau khas, dia poop dong hahaha. Tapi anehnya dia makin nangis jejeritan, seolah sangat kesakitan.
Karena bingung kami memutuskan balik ke hotel saja, sambil mampir ke McD (lagi) membeli makanan (ayam goyeng lagiiiii).

Sampai di hotel, papi menggantikan popok si bayi, setelah itu kami makan dan tidur.
Namun.. menjelang pukul 3 pagi, si bayi kembali cranky nangis-nangis jejeritan.
Saya hanya bisa bengong memeluknya dan bersenandung hingga akhirnya dia tertidur, lalu saya ikutan tidur lagi.

Kami terbangun di pukul 5 lebih, secepatnya papi dan kakak Darrell sholat Subuh, sedang saya sibuk mencari orang yang jualan bubur bayi.
Sayangnya tempatnya gak jelas, sehingga kami mengurungkan niat mencarinya.

Kami check out sekitar pukul 09.30 dengan tujuan Kota Tua, sebelumnya kami mampir sarapan di MCD (lagi, lol).
Si kakak Darrell lagi membuang sampah bekas makanan kami di MCD jalan Kramat Raya, Jakarta

Saya kepo banget dengan foto-foto cantik teman-teman yang main ke Kota Tua tersebut, dengan bantuan mbak Google, kamipun sampai ke lokasinya yang macetnya minta ampun plus mirip daerah Jembatan Merah Surabaya, lol.
Sayangnya, sewaktu di hotel saya gak menuntaskan hasrat BAB saya, dan dramapun di mulai.
Saat sibuk mencari parkir, saya merasa perut saya sedikit mules, si papi menawarkan mencari toilet dulu, namun saya menolak karena cuacanya sedang panas.
Saya pikir cuaca panas bakal bikin perut hangat dan mulesnya hilang.
Iya sih, memang hilang sejenak.

Kami bisa mengambil beberapa gambar dengan kualitas asal-asalan di depan bangunan Kota Tua.
Maklum, selain panasnya minta ampun, pun ramainyaaaaa gak karuan.
Kasian si bayi kepanasan

Semacam gedung grahadi di Surabaya hahaha

Selain itu si bayi yang sedang tidur jadi terbangun dan terlihat lemas.
Saya segera mengajak pergi dari tempat tersebut, daaann saat berjalan menuju kendaraan, drama mulai kembali.
Perut saya mules lagi dong, kali ini intensitasnya lebih parah, ampun sampai keringat dingin nahan pengen ke belakang.

Papi pun secepatnya meloloskan diri dari kepungan macet di sekitar Kota Tua dan mencari mall terdekat. Maka dipilihlah ITC Mangga Dua yang juga antri parkirannya bikin saya pengen keluar dan jongkok di situ saja, lol.

Akhirnya, setelah menahan sekitar 30 menit, sayapun bisa menuntaskan hasrat ke belakang di toilet ITC Mangga Dua yang Alhamdulillah terletak persis disebelah pintu masuk dari parkiran.
Dan beruntungnya kami, si papi gak salah memilih mall tersebut karena bangunannya lama, otomatis kloset di toiletnya pun jadul alias masih pakai kloset jongkok.
Dan saya suka hal tersebut, dengan air yang melimpah.

Tuntas melepaskan hasrat, kami langsung keluar dari mall tersebut, kali ini tujuannya adalah Tangerang.
Mengapa Tangerang? karena sahabat baik saya tinggal di sana, dan saya sudah memberitahukan bahwa saya sedang berada di Jakarta, sangatlah gak sopan jika kami gak muncul di rumahnya.
(semoga suatu saat dia baca tulisan ini, setidaknya anaknya yang baca, secara si Buted alias Eva Friskawati Siagian itu paling malas baca blog orang, lol)

Karena waktu sudah semakin siang dan melihat peta, letak Tangerang masihlah sangat jauh dari Jakarta, kami akhirnya sepakat untuk nginap di Tangerang saja, browsing melalui Agoda, ketemulah Paragonbiz Hotel Tangerang yang harganya ramah di dompet kami.
Atas patokan tersebut, kami mengandalkan mbak Google memandu kami menuju alamat tersebut.

Kami melewati jalan Tol di depan Ancol, ber puluh KM hingga akhirnya kejebak sedikit macet plus hujan di wilayah masuk Tangerang.
Saat di jalan tol, kami melihat bangunan kotak berwarna biru, dialah IKEA.
Saya langsung cari alasan untuk mengajak si papi mendatangi IKEA tersebut.

"Pi, nanti mampir situ yuk, kita beli baby chair"

Alasan saya sangatlah masuk akal, mengingat kami pernah masuk di IKEA Distributor Surabaya dan mupeng liat baby chairnya yang lebih murah dari Informa.
Papipun mengiyakan, dengan syarat terlebih dahulu kami check ini di hotel.
Paragonbiz Hotel Tangerang ternyata masih jauh dari lokasi IKEA, kami harus melewati jalan yang sedikit sempit untuk sampai ke lokasinya, dan setelah sampai kami masuk dalam parkirannya lalu tiba-tiba jadi galau.

Kegalauan kami karena melihat ukuran kamarnya yang lumayan kecil, sedang kami butuh beristrahat di tempat yang nyaman dengan barang kami yang lumayan banyak.
Selain itu, usia anak dibatasi hanya untuk sampai 5 tahun saja yang gratis menginap.

Karena galau, saya kembali mencari hotel dekat daerah tersebut, dan bertemulah saya dengan hotel ATRIA HOTEL GADING SERPONG, yang ukuran kamarnya fantastis sedang harganya gak bikin kantung jebol.
Gimana enggak, ukuran kamarnya 36 m2, dengan 1 kamar yang berisi 1 King bed, kamar mandi dengan pancuran dan ada bathub nya.
Rate nya cuman sekitar IDR 545,000 dong. Sudah include sarapan untuk 2 orang.
Tanpa berpikir lagi, papi mengiyakan dan kami segera menuju lokasi dengan lagi-lagi mengandalkan mbak Google.

Hanya butuh kurang dari 30 menit sampailah kami ke hotel yang di maksud, langsung masuk ke parkirannya dan dengan terhuyung karena kepala puyeng lagi entah karena kelaparan plus kurang tidur saya menuju resepsionis setelah terlebih dahulu nyasar di restorannya, hahaha.

Di resepsionis, seorang wanita cantik dengan senyum ramah menyambut saya, dia meminta nomor bookingan saya, dan dengan senyum paling manis dia memohon maaf karena ternyata bookingan saya bukan di hotel itu, melainkan di apartemennya yang mana bangunan dan resepsionisnya beda, hahaha

Long story short, saya ternyata booking di ATRIA RESIDENCE SERPONG, review di postingan tersendiri ya..
Baca : Review Atria Residences Serpong - Kenyamanan Istrahat Yang Hakiki

Setelah mandi dan berganti pakaian, kami segera keluar lagi dengan tujuan mencari makan siang karena hingga pukul 15.00 kami belum juga makan siang hiks.
Namun, karena waktu sudah semakin sore, dan lokasi IKEA masih jauh, serta kami harus ke rumah si Buted yang lihat dari map juga masih jauh lokasinya alias ada di Tangerang pinggir, maka kami memutuskan langsung ke IKEA dan bakal makan di restoran yang ada di IKEA saja.

Kurang lebih 45 menit kemudian, sampailah kami di IKEA.
Hal yang menarik perhatian kami pertama adalah, kami begitu heran mengapa ada banyaaakkk banget mobil yang parkir sedang lokasi IKEA masih jauh, serta gak ada bangunan lain yang menandakan kalau penghuni mobil-mobil tersebut sedang berada di gedung lain.

Kalaupun itu adalah taksi online, rasanya kok banyak banget.
Keheranan kami terjawab saat kami mulai masuk ke dalam parkiran IKEA, masha Allaaahh... RAMEEEEEEEE banget!
Nyaris saja saya mutusin untuk gak jadi mampir, tapi mengingat rumah kami ribuan KM dari IKEA, terpaksa mampir juga meski bahkan untuk cari parkir saja sulit banget, si papi sampai rela dorong-dorong mobilnya orang biar dapat space buat parkir.

Menyusui di sebuah sudut dekat kasir, parah deh kagak ada baby room nya

Setelah parkir, kamipun bergegas masuk, itupun tetap kebingungan, suasana yang penuh lautan manusia, sedang kami kelaparan dan tidak menemukan jalan masuk.
Di depan kasir kami melihat ada yang menjual kudapan berat seperti hotdog dan semacamnya dengan harga yang masih ramah di dompet, sayangnya antriannya lebih panjang dari sungai Musi *lebay!
Saat seorang satpam lewat, saya lalu menanyakan jalan masuk, dan ternyata semua pengunjung harus masuk dari atas sodara.

Langsung deh saya ajak si papi membatalkan antrian beli kudapannya, dan kami bersegera naik lift ke lantai atas.
Di atas, lautan manusia masih ada di mana-mana, berasa mau shoping di Matahari menjelang lebaran saja, masha Allah desak-desakan hiks.
Kami lalu mencari kursi yang di maksud, setelah mengikuti orang-orang, yang ternyata kalau mau belanja di IKEA itu harus mengikuti alur yang dibuat, jadi semacam tour ke jatim park gitu, semua barang harus kita lewati dulu.

Kami menemukan baby chair yang dimaksud di tempat kumpulan furniture ruang makan, namun sayang, kami bingung gimana cara angkat dan bawa ke kasir ya? sedang kasir ada 2 lantai di bawah kami, masa iya kami kudu gotong-gotong baby chair sambil tour liat produk lain yang dijual?

Saya lalu mengirim WA ke Buted menanyakan, kali saja dia pernah belanja di IKEA, ternyata dia juga belum pernah dan menyarankan untuk tanya saja ke petugasnya.
Masalahnya adalah, petugasnya entah sedang berada di mana??
Setelah berjalan beberapa lama, kami akhirnya menemukan petugas yang sigap di depan komputer, dari petugasnya si papi memperoleh info, kalau kami disuruh memilih barang yang bakal dibeli, dan baby chair ada di tempat perlengkapan baby.

Dan benar saja, kami menemukan lebih banyak model baby chair di tempat yang dimaksud, saya lalu mengambil gambarnya dan menanyakan ke petugas yang kebetulan berada di sekitar itu bagaimana cara membeli produk itu?

Ternyata, barang yang kami pilih cukup ditulis saja kode lorong dan raknya, nantinya barangnya kami ambil di gudang yanga da lorong-lorongnya seperti tempat yang selalu jadi tempat sejuta umat berfoto itu hahaha.
Kamipun segera turun mencari rak yang dimaksud, dan ternyata, rak nya ada di dekat kasir sodara hahaha.
Ngapain jugaaa kami touring ngabisin waktu keliling-keliling ya?

Karena penting, saya list deh cara belanja ke IKEA, kali aja ada yang belum pernah ke sana dan berencana mampir jika ke Tangerang.
  1. Jika tujuan ke IKEA hanya untuk membeli barang yang kecil, akan lebih baik jika naik taksi online saja, karena jika ke sana pas ramai kayak saya kemaren, ampun sulitnya cari parkir.
  2. Setelah sampai, segera naik hingga ke lantai 3, pintu masuknya ada di situ dan semua customer harus melewati semacam tour toko sampai menemukan barang yang diinginkan. TIPS : Luruskan hati, abaikan barang-barang lucu yang gak ada di list pembelanjaan, karena sesungguhnya barang lucu banyak banget di sana hiks.
  3. Jika sudah menemukan barang yang dicari, catat informasi yang ada di bagian bawah label barang (biasanya berwarna merah), di situ ada keterangan barang tersebut ada di rak berapa dan bagian mana.
  4. Jika sudah menemukan barang yang dicari, segera deh kabur ke lantai bawah, mengantisipasi pengeluaran membengkak karena godaan barang lucu, hahaha.
  5. Jangan lupa foto di lorong-lorong barang, tempat foto costumer IKEA sejuta umat, lol.
Baby chairnya murmer, di Informa sekitar 299 ribu
Alhamdulillahnya, saya tidak tergoda barang lain, meskipun terus terang sangat menggoda, mungkin karena kami kejar-kejaran dengan waktu karena hari sudah mulai gelap dan kami belum makan siang huhuhu.

Lepas dari IKEA, kami lalu mengikuti panduan mbak Google ke rumah si Buted, sebelumnya saya sudah meminta titik lokasinya agar lebih mudah kami datangi tanpa harus cari lokasinya sendiri.
Sepanjang jalan kami menajamkan mata untuk mencari tempat makan, namun sayang waktu sangatlah sempit, sehingga kami putuskan makan siangnya ditunda lagi sampai kami pulang dari rumah si Buted (makan siang belum, padahal udah malam huhuhu).

Bye bye IKEA, until we meet again
Rumah Buted terletak lumayan jauh dari IKEA, berada di daerah Cisauk yang membuat kami harus menempuh waktu sekitar 45-50 menit hingga sampai, terlebih lagi harus melewati kemacetan jalan gegara jalanan di sekitar rel kereta api yang rusak.
Sampai di rumah Buted, niat kami yang cuman sebentar saja jadi tinggal rencana, si Buted gitu loh, gak mungkin banget membiarkan kami cepat pulang.
Padahal kami kelaparan banget, dan pura-pura bilang sudah makan saat ditanya (salah sendiri hahaha). Abisnya sungkan sih, karena kebetulan di rumahnya ada mamanya.

Pukul 22.30 kami akhirnya pulang dari rumah Buted. Anehnya jalanan menuju pulang malah terasa lebih cepat. Dan niat ingin cepat beristrahatpun belum bisa dilakukan, karena kenyataannya kami muter-muter lagi cari makanan dan berakhir dengan membeli....
Ayam goreng KFC lagi huhuhu..

Demikian, kami lalu kembali ke hotel untuk beristrahat.
Nantikan kisah kami selanjutnya, saat perjalanan keluar dari Tangerang yang penuh drama, salah jalur di jalan tol, serta mampir di UI hanya untuk dipipisin si bayi yang pipis persis setelah popoknya mau diganti hahaha.
Baca : Traveling Bersama Bayi (Part 4) - Terungkapnya Penyebab Si Bayi Cranky
Ada yang belum pernah ke IKEA? share di komen yuk.
Semoga manfaat :)

TPJ AV - 05 Juli 2018

Love

6 comments:

  1. IKEA memang sering bikin kalap, pulang pulang udah banyak aja ngeborong. Hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, kayaknya kalau ga buru-buru, dijamin sayapun kalap :)

      Delete
  2. Hai mbak rey, aku baca tulisanmu aja berasa capeknya, hahaha. Emang tricky banget sih traveling sambil bawa anak-anak. Kebayang kearin sembilan hari aku muter2 di banjarmasin. Btw, aku pernah ke kota Tua yang panasnya memang so hoooott. Pernah ke ikea juga dan pusing serta pegal karena lagi hamil anak ketiga. Ikea itu enggak libur ja ramai, apalagi pas liburan, wuihh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaahhh 9 hari mbak?
      Saya aja 6 hari udah beneran jalan sambil sempoyongan.

      Iya nih, kayaknya salah waktu ke kota tua di siang bolong, maksudnya sih biar pas foto jadi bagus karena cahaya pas terang-terangnya hahaha

      Delete
  3. Ke IKEA memang jangan pas liburan banyak orang luar kota yang datang...Termasuk dari Surabaya kayak Mbak reyne raea hahaha

    Keren ah, meski sebentar dah sampai IKEA juga..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkw, iya mbak Dian, saya nambah-nambahin IKEA jadi sumpek kemaren ahahahha

      Delete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...