Monday, November 30, 2020

Cerita Setahun Mencari Pekerjaan Setelah Lulus Kuliah

Cerita Setahun Mencari Pekerjaan Setelah Lulus Kuliah

Sharing By Rey - Setelah lulus kuliah, terlebih setelah wisuda dengan nilai yang memuaskan, tentunya bakal disambut dengan sejuta angan bagi para sarjana baru.

Termasuk saya, di saat itu.
Meskipun ada rasa sedikit bete, ketika mama malah sibuk menanyakan, apakah bisa, setelah wisuda segera pulang ke Buton bersama mereka.

Hah pulang ke Buton?
Setelah berbagai kebebasan yang saya nikmati di Surabaya?

Tentu saja saya menolak, dengan alasan masih banyak yang harus saya lakukan, selain menunggu ijasah asli bisa diambil, tentunya.

Padahal mah alasan aja, biar diizinkan tinggal, karena sungguh saya nggak mau pulang, pengennya kerja di Surabaya saja.


Lulus Kuliah Dengan Nilai Memuaskan


Meskipun saat kuliah, saya kebanyakan asal-asalan, Alhamdulillah saya bisa lulus tepat waktu dengan nilai yang memuaskan.
Meskipun kurang nol koma nol sekian untuk angka yang super.

Dengan nilai seperti itu, berbagai impian memenuhi benak saya.
Salah satunya adalah dengan membayangkan bisa mendapatkan pekerjaan dengan cepat, dan bisa punya uang sendiri, secepatnya.

Rasanya udah nggak sabaran lagi, untuk memulai perjalanan membuat surat lamaran, untuk melamar pekerjaan di berbagai perusahaan di Surabaya.
Meskipun saya tahu, semua itu menyalahi janji saya ke mama.  

Cerita Setahun Mencari Pekerjaan Setelah Lulus Kuliah

Di benak saya cuman ada semangat mencari uang dengan memanfaatkan nilai yang saya peroleh.
Nilai yang sebenarnya saya peroleh dengan ajaib, saking sejujurnya saya kurang mengerti dengan beberapa pelajarannya, termasuk nggak ngerti dengan kesimpulan dari skripsi yang saya garap, hahaha.

Btw, dulu tuh di Teknik Sipil, ada semacam pilihan yang harus kita ambil untuk mengerjakan skripsi.
Ada pembangunan gedung, analisa teknik, hingga manajemen proyek (kalau nggak salah sih, saking udah lama banget hahaha).

Waktu itu, kebanyakan teman seangkatan saya, yang mengerjakan skripsi berbarengan dengan saya, memilih pembangunan gedung.
Kebanyakan juga memilih pembangunan gedung dengan minimal 4 lantai (beda banget ya kalau sekarang kayaknya skripsinya kudu pembangunan gedung di atas 10 lantai, hahaha.

Dan saya dong, milih analisa baja sodara, which is sebenarnya lebih ke rumus-rumus analisa gitu, di mana juga masih kurangnya referensi yang ada saat itu. 
Dosen pembimbing juga tidak banyak membantu dalam kesimpulannya, bahkan dosen penguji juga kayaknya sih juga bingung, makanya saya lulus, hahaha.


Menganggur Setahun Dan Mencari Pekerjaan


Setelah wisuda dan mama serta bapak balik ke Buton, saya lalu mengikuti jejak teman yang juga bersamaan wisudanyam untuk menggunakan surat keterangan lulus, untuk mencari pekerjaan.

Mulai deh saya bikin berbagai surat lamaran, liat lowongan di koran Jawa Pos setiap hari Sabtu, which is kalau Sabtu iklan lowongan lebih banyak.

Sayangnya, entah karena nggak jujur ke mama, sampai sebulanan setelah wisuda, sama sekali nggak ada panggilan atau kabar dari surat lamaran yang saya kirimkan.
Sampai akhirnya saya menyerah, dan nurut kata mama, untuk pulang ke Buton.

Udah deh, semua barang saya packing, dan beberapa barang, karena terlalu berat, saya titipin di sang pacar, yang lainnya saya kasih ke teman-teman kos saja.

Di hari yang ditentukan, berpisahlah saya dengan sang pacar dan teman-teman, sambil nangis-nangis ofkors.
Sampai di Buton, mama menyuruh saya untuk ke rumah tante, dan oleh tante serta om, saya disuruh melamar kerja jadi dosen aja di universitas swasta yang ada di sana, sambil menunggu waktu test CPNS yang memang udah ada 'bagiannya'.

Meski kesal karena i hate mengajar, pergi juga saya menemui rektornya, atas perintah om.
Ajaibnya, saya diterima dong, hanya karena alasan saya lulusan sarjana dari Jawa, hahaha.

Cerita Setahun Mencari Pekerjaan Setelah Lulus Kuliah

Dan saya diminta menunggu sampai mahasiswa masuk, dan kebagian mengajar sebagai asisten dosen di mata kuliah Teknik Pengendalian Proyek.
Langsung heboh deh beberapa teman saya di Buton, karena beberapa mahasiswanya ya teman-teman saya ketika STM, hahaha.

Nggak puas menyuruh saya melakukan hal yang saya nggak suka, om dan tante juga menyuruh saya melamar jadi guru di STM, sekali lagi saya nurut, berangkatlah saya ke STM, dan ajaib..
Saya diterima jadi asisten guru di mata pelajaran konstruksi batu, sebuah pelajaran yang sangat saya benci ketika STM, karena pelajarannya jadi kuli, bahahaha.  

Saya sempat ikutan mengajar sekitar 2-3 kali, mengawasi anak-anak praktik konstruksi batu, sekalian mengenang masa-masa jadi 'kuli' ketika STM itu.
Sampai setelahnya, saya bahkan malas masuk sekolah, dan mengabaikan telpon dari guru serta kepala sekolah.

Saya kesal, semua kemudahan itu rasanya tidak sesuai dengan 'saya' banget.
Saya nggak suka ngajar.
Terlebih, saya nggak suka didikte. 

Puncaknya, saya ngambek, dan mama dengan sangat terpaksa, membolehkan saya kembali ke Surabaya.

Betapa bahagianya saya, meski bete juga.
Karena setelah sampai di Surabaya, ibarat saya memulai semuanya dari nol.

Saya nggak punya kos-kosan lagi, terpaksa menginap di rumah om lagi, sampai akhirnya kembali lagi memaksa untuk bisa ngekos, karena selain rumah om memang agak di pinggiran kota, plus lagi saya nggak bisa bebas jika harus tinggal di sana.

Saya lalu kembali menemukan kos, nggak jauh dari rumah si pacar, karena semuanya bergantung kepada sang pacar.
Mulai lagi menata kehidupan, dengan bekal seadanya, karena kebanyakan barang saya udah saya bagi-bagikan ke teman-teman.

Dan juga dengan uang secukupnya yang mama berikan.
Setelah masalah kos selesai, saya mulai mengumpulkan info lowongan kerja sebanyak mungkin.
Dari yang awalnya cuman fokus di bidang teknik sipil saja, lalu akhirnya saya mendapatkan panggilang test dan interview pertama saya.

Saya ingat banget, saat itu di perusahan kecil yang berkantor di jalan Bali or sekitarnya (kalau nggak salah), saya datang tepat waktu, mengerjakan semua test dengan tepat waktu, hingga interview dengan gemetaran, hahaha.

Nyatanya, setelahnya saya disuruh kembali dan menanti kabar selanjutnya, di mana sampai detik ini nggak ada kabar lagi, hahaha.

Selanjutnya, kerjaan saya ya repeat gitu.
Bikin lamaran, sebarin lamaran diantar sang pacar.
Saya sengaja mengantarkan langsung, kadang sang pacar sih yang anterin, demi menekan biaya mengirimkan lewat pos.

Dari yang awalnya cari lowongan di koran, disebar dan beberapa mendapatkan panggilan, ikut test dan interview, dari yang awalnya tremor parah, sampai biasa aja saking terbiasanya.

Dari yang kantornya di sebuah rumah sederhana, sampai di perkantoran yang sebelumnya, saya hanya memandangi gedungnya dari luar saja.

Iya, saya jadi berkesempatan bisa masuk di banyak gedung perkantoran, gara-gara sering mendapatkan panggilan test dan interview kerja.
Dan saya jadi mengenal lokasi Surabaya, lengkap dengan gedung-gedung besar, yang masih bisa dihitung dengan jari di masa itu.

Sampai akhirnya saya inisiatif sendiri, bikin lamaran dan dianter ke proyek-proyek yang sedang dikerjakan, saya ingat betul saat itu saya mengantarkan sendiri ke proyek pembangunan gedung BG Junction dan ITC Mega Grosir Surabaya.

Hasilnya, keesokan harinya saya dapat sms dan telpon berkali-kali, dari orang yang iseng ngajak kenalan.
Dugaan saya, surat lamaran tersebut, nggak diserahkan ke pimpinannya, malah dibuka sama satpamnya, atau pekerja lainnya, hiks.

Sampai pernah juga ngalamin, ditolak mentah-mentah karena nggak mau disuruh buka jilbab, saya ingat banget, kantornya berada di daerah Jembatan Merah Surabaya sono.
Alasannya, penampilan saya, tidak sesuai dengan karakter perusahaan mereka, yang mana nggak ada yang berjilbab.

Cerita Setahun Mencari Pekerjaan Setelah Lulus Kuliah

Karena itu, bahkan ibu mertua saya meminta saya untuk melepas jilbab saja dulu, setelah keterima baru pake lagi.
FYI, saat itu memang saya baru saja berjilbab, baru beberapa bulan, dan saking saya orangnya idealis, tentu saja saya menolak.

Sungguh gaya sih si Rey saat itu.
Betapa tidak?
Saat itu sudah berbulan-bulan setelah pertama kali melamar kerjaan di mana-mana, sama sekali belum ada kabar membahagiakan, daaaannn... mama saya sudah berhenti mengirimkan uang ke saya, hiks.

Mama kesal, karena saya nggak mau nurut, jadi PNS di Buton saja, terlebih memang 'jatah' saya jadi PNS sudah disiapkan dengan susah payah.

FYI lagi, saat itu memang, penerimaan PNS belum seperti sekarang yang lebih terbuka, dulu mah hanya yang punya koneksi dan uang yang bisa punya kesempatan besar untuk jadi PNS.

Masalahnya adalah, saya males banget  tinggal di Buton, di mana saya selalu dikontrol oleh tante dan om saya, hiks.

Tidak terasa, waktu terus berlalu, hari berganti, minggu dan bulanpun demikian.
Dan nggak terasa lagi, saya sudah menganggur setahunan dong.

Ya ampuunn!
Sampai suatu siang, saya menerima panggilan interview, saya datang dengan malas-malasan, terlebih setelah melihat kantornya biasa saja.

Pengalaman saya setelah setahun interview sana sini, kantor seperti itu hanya mau menggaji karyawan dengan gaji sedikit, tapi maunya karyawan bisa semua hal, hahaha.

Ajaibnya, saya sama sekali nggak mengerjakan test tulis di situ, hanya langsung menemui pemiliknya, nanya-nanya ini itu layaknya interview biasanya, sampai akhirnya dijelasin mengenai fasilitas di sana.
Bahwa di sana dapat makan siang, tapi enggak uang transport.

SAYA DITERIMA! 
FINALLY!

Dan gajinya?
Bikin saya lalu nangis gulung-gulung di malam harinya.

Saya kesal, dilema.
Butuh waktu setahunan saya bersabar dan tetap semangat, demi mendapatkan kerjaan, tapi 'cuman' dikasih kerjaan dengan segitu?

Bahkan, buat bayar kebutuhan pribadi hampir nggak cukup, hiks. 

Tapi setelah saya puas nangis, sambil ditemani sang pacar keliling kota Surabaya, toh hari Seninnya, saya datang juga buat kerja.

Mencoba menerima jalan yang diberikan Allah.
Toh juga saya menunggu setahun demi bisa bekerja dan digaji.


Agar Tetap Semangat Mencari Pekerjaan 


Meski akhirnya saya yakin dan paham, penyebab dari sulitnya saya mendapatkan pekerjaan yang bagus di Surabaya, di mana tak lain dan bukan karena restu mama yang memang tak ada.

Tapi, saya tidak pernah mau menyerah.
Pantang bagi saya untuk balik ke Buton lagi, setelah dengan ngambek saya minta balik ke Surabaya.

Biar kata setahun hidup dengan pas-pasan dan kadang di bawah pas, hahaha.
Kadang saya hanya makan sekali sehari, atau 2 kali sehari, karena makanan siang saya bagi dengan malam, hahaha.

Dan untuk semua pengalaman tersebut, saya jadi pengen berbagi tips agar tetap semangat mencari kerjaan meski sulit, yaitu:


1. Yakin, niat baik akan berujung baik


Meski mungkin mama nggak mengizinkan saya kerja di Surabaya, namun sesungguhnya, masa depan saya kan sebenarnya milik saya sendiri, dan saya di Surabaya juga mencari kerjaan halal, karenanya saya tetap yakin bakal mendapatkan kerjaan, karena toh saya juga pengen sukses dengan jalan saya sendiri, untuk membahagiakan ortu.

Hal itulah, yang membuat saya tetap semangat, biar kata udah eneg banget, hahaha.
Saya yakin, niat saya baik, hanya beda cara aja dengan orang tua.


2. Berkali interview adalah pengalaman menarik


Setelah tahun berlalu, dan saya mengingat kembali masa itu, saya jadi tersenyum sendiri, karena sesungguhnya berkali-kali interview itu adalah sebuah pengalaman hidup yang menarik, plus amat sangat bisa melatih mental.

FYI, saya dulunya tuh pemalu dan penakut, interview pertama saya sampai pucat dibuatnya.
Gemetaran, salting, nggak tahu mau jawab apa.

Sampai akhirnya, saya bisa menjawab semua pertanyaan interview dengan lancar.
Dan bahkan, pengalaman itu bisa saya pakai buat menginterview karyawan baru, setelah beberapa tahun saya bekerja dan dimintai tolong bos buat interview karyawan, hahaha.

Cerita Setahun Mencari Pekerjaan Setelah Lulus Kuliah

Bayangin, saya nggak punya basic apapun dalam bidang psikolog yang biasanya para pewawancara kerja ditugaskan, tapi mengingat pengalaman saya setahun mencari kerja ini, saya jadi bisa tahu, pertanyaan apa yang harus saya lontarkan, dan juga bagaimana menanggapi selanjutnya.


3. Berkali interview sama dengan mengumpulkan data target market


Bertahun setelah tahun penuh kesedihan dan nyaris putus asa itu, saya akhirnya bekerja di sebuah perusahaan kontraktor, sering menangani tender, perencaraan dan pelaksanaan proyek.

Berkat saya keliling Surabaya selama setahun mencari kerja, saya jadi punya beberapa data perusahaan yang bisa saya kirimkan permintaan penawaran untuk bekerja sama.


See, selalu ada hikmahnya dibalik semua kehidupan yang kita alami di dunia ini.
So, bagi temans yang mungkin sedang berada di masa tersebut, terlebih sekarang pandemi, agak sulit mendapatkan pekerjaan, terlebih pekerjaan dengan target kita yang tinggi.

Tetap semangat ya.
Yakinlah, niat baik selalu berujung baik.

Demikianlah.
Punya pengalaman serupa?
Share yuk :)


Sidoarjo, 30 November 2020

#MondayBusiness

Sumber : pengalaman pribadi
Gambar : Canva edit by Rey

8 comments :

  1. bener sih mbak rey, sesuatu yang indah itu pasti dateng di akhir.. Dan ada aja rejekinya, keren ceritanya.

    ReplyDelete
  2. aku semester 7 nih kak.
    ngomong ngomong soal restu orang tua aku relate banget kak. paham banget perasaan kak rey yang memang nggak ada restu mama tapi kan ini masalah pilihan kak rey. jadi bimbang kayak serba salah. ikut mama gak bahagia. ikut diri sendiri harus kerja lebih keras lebih banting tulang.

    ReplyDelete
  3. Waduhm ternyata jadi anak rantau itu gak seindah yang kita bayangkan, mbak. Awalnya saya juga pingin jadi anak rantau alias anak kos-kosan sih, cuman karena letak kampus dan jarak rumah saya gak terlalu jauh terpaksa deh jadi mahasiswa kupu-kupu alias pulang pergi, wkwkw.


    Sekarang saya bersyukur karena bisa pulang ke rumah dan bisa dapat bantuan dr keluarga saya kalau misalnya terjadi ada masalah atau keperluan gitu, wkwkwk.

    ReplyDelete
  4. Saya baru tahu kalo Mbak nya alummi Teknik Sipil yaaa. Wooh keren nih.
    Salam #TeknikBersatu

    Kemudian, yaaa keadaannya mirip dgn saya skrg. Udah hampir 1 tahun jg nih jadi sarjana 😅

    ReplyDelete
  5. kayaknya aku dulu untuk dapet pekerjaan settle juga hampir setahun mbak, nggak semulus jalan tol
    bolak balik jember - surabaya, udah jadi makanan berbulan-bulan, karena ga hapal jalan surabaya, kadang pas nyampe surabaya dianter sepupu ke tempat kerja, atau sehari sebelumnya aku ditunjukin arah jalannya, besoknya naik motor sendiri ke tempat interviewnya.
    udah nggak keitung berapa banyak aku interview di surabaya, interview perusahaan sampe ikutan tes PNS dari jaman setelah lulus kuliah

    awal awal aku diinterview juga kagok, bingung gimana, nanti jawab gimana, padahal sebelumnya udah banyak baca baca di majalah juga waktu kuliah, lama lama udah biasa mau bersikap gimana, mau jawab apa, ya mengalir aja

    ReplyDelete
  6. Ternyata mbak Rey habis lulus kuliah tidak langsung kerja tapi nganggur dulu setahun ya. Eh, yang ngajar di Buton mah bukan kerja ya mbak, cuma jalan jalan saja.😄

    Setelah setahun pontang panting kesana kemari Alhamdulillah bisa diterima juga di perusahaan yang sesuai minat mbak biarpun gajinya pas pasan.

    Tapi sekarang sudah sukses ya mbak.🙂

    ReplyDelete
  7. Salut sih Ama kemauan dan keuletan mu Rey. Tapi mau gimana yaaa, akupun ga bisa juga kalo hrs kerja di tempat yg ga sesuai Ama Hati. Kalo emang ga kepengin jd pengajar, tapi tetep diterjunin ke situ, yg ada kerja ga bakal maksimal. Ga pake hati pula... Kan LBH baik kluar dan cari yg lain. Mungkin nih yaaaa, yg bisa aku jadiin pelajaran, sebagai ibu aku jgn maksain kehendak utk mendikte anak hrs menjdi apa. Biarkan itu sesuai keinginan mereka sendiri, asalkan ga bertentangan agama dan hukum. Aku sebaiknya ksh restu. Krn memang, sampe skr pun, aku percaya Rey, restu ortu trutama ibu, itu ngaruh :(. Mindsetku udh tertatam begitu juga sejak kecil.

    Yg paling aku inget saat melamar kerja yaaa, pas diterima di perusahaan sekuritas tapi ternyata kerjaannya jd bagian marketing yg mana aku ga suka utk jualan produk kasat mata gini :p. Ya iyalah, kalo barang2 kayak peralatan rumah tangga, ato apapun yg bisa terlihat jualnya LBH enak. Bisa jelasin lgs, barangnya ada. Lah kalo jualin saham, minimal usd20rb, lwt telp pula, trus ditambah aku ga tertarik dalam hal ini, gimana ga nyebelin :p. Padahal di awal aku pgnnya bagian admin :D. Lgs lah aku bertahan sehari, besoknya BHAAAAY :p.

    Pas kirim lamaran ke HSBC, itu ada lucunya juga. Aku di wawancara Ama HRD nya, trus setelah bagian yg penting2 selesai, dia ngajakin ngobrol biasa. Pas tau aku lulusan Malaysia, dia keceplosan, 'saya kemarin menginterview lulusan dari Malaysia juga, sama2 dari Penang.'

    Eh aku lgs ga sadar aja bilang, 'bukan dari adek saya kan? Dia juga lulusan penang, cm beda universitas Ama saya'. Eh ternyata beneeeer lamaran adekku yg dia baca kemarin hahahahah. Aku Ama si adek kan bareng kuliahnya, Krn aku sempet keluar dari kampus yg di Aceh.

    Ga ngerti deh, apa Krn si HRD akhirnya tau kami sodaraan, makanya salah satu dari kami ga diterima , yg pasti aku akhirnya di terima HSBC, dan si adek ga. Krn waktu itu HSBC ga ngizinin yg masih terkait sodara utk kerja di dept yg Sama. Tapi ya sudahlaaah :p, toh kmudian adekku bilang, dia jg ga sreg pas tau yg manggil itu perusahaan bank yg mana tugasnya hrs ketemu nasabah. Dia LBH suka di belakang layar juga, yg ga hrs ketemu klient :p.

    Memang yaaa pengalaman cari kerja di awal2 dulu, kalo diinget skr sih jd lucu :D. Ga nyangka aja dulu pernah ngalamin begitu :p.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Back to Top